The Perks of Being a Highscope Preschool Teacher

dscn2424Di Highscope, menjadi guru Preschool atau yang lebih dikenal orang awam sebagai guru TK, merupakan sarana saya dan anak didik saya saling belajar dan saling menginspirasi untuk menjadi pribadi yang lebih baik di masa depan.

Banyak orang memandang sebelah mata terhadap profesi saya, terlebih bagi lulusan UI seperti saya, hanya karena ketidaktahuan mereka terhadap pendidikan usia dini. Sebagian besar dari mereka hanya tahu bahwa guru TK adalah ‘teman bermain’ anak-anak. Entah berapa banyak orang yang mengatakan, “enak ya jadi guru TK, kerjanya main terus donk ya. ga perlu mikir.”

Benar!

Jelas sekali enak. Setiap saat bisa melihat senyum dan tawa yang tulus dari anak-anak. Betapa membahagiakan.

Pasti enak. Setiap hari bisa melihat bahagianya anak-anak ketika mereka bisa melakukan sesuatu yang baru secara mandiri. Betapa membanggakan.

Tidak diragukan lagi memang enak. Siapa sih yang tidak suka bermain? Anak-anak ataupun orang dewasa, semua suka bermain-main. Apalagi kalau kita dibayar untuk bermain. Betapa menguntungkan.

Kalau guru TK tidak bermain ketika menjalani profesinya, justru perlu dipertanyakan. Karena pada hakikatnya, anak-anak usia dini belajar dengan cara bermain.

Bagi guru TK, seperti saya, semakin banyak ‘bermain’ maka semakin banyak pengetahuan dan keahlian yang kami (saya dan anak didik saya) temukan dan kuasai.

Saya percaya bahwa proses jauh lebih bernilai daripada hasil yang terkadang hanya sekadar angka. Saya menilai mereka berdasarkan kemampuan mereka sendiri, sebagai pribadi yang unik.

Tidak membandingkan mereka dengan teman sebayanya, apalagi dengan diri saya di masa lampau, semasa kanak-kanak. Sungguh tidak adil rasanya.Tidak ada anak yang sama. Tidak ada zaman yang sama.

Kami melihat mereka bukan dari seberapa bagus mereka menulis dan mewarnai. Bukan dari seberapa cepat mereka menghapal angka dan huruf, terlebih lagi berhitung atau membaca kata-kata.

Kami hanya melihat mereka sebagai seorang anak. Anak yang layaknya selembar kertas putih bersih. Anak yang dengan antusiasnya ingin mengenal dunia dari ‘kacamatanya.’

Seorang anak yang kelak kami titipkan dunia ini padanya. Seorang yang kami persiapkan untuk menghadapi dunia dengan segala perubahannya. Dengan pekerjaan yang bahkan belum ada. Dengan semua permasalahan yang bahkan belum terlihat bentuknya.

Seorang anak yang memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Seorang anak yang berpotensi menjadi seseorang di masa depan, apapun pilihannya.

Tidak benar!

Kalau kami ‘ga perlu mikir’

Lantas, apakah dengan bermain maka kami tidak perlu berpikir ketika mendidik mereka? Apakah bisa disebut mendidik jika kami tidak berpikir bagaimana mendidik mereka?

Salah besar jika ada yang berpikir demikian. Meskipun kami selalu bermain, bukan berarti kami bermain tanpa ada tujuan. Kami selalu memikirkan apa yang bisa kami ajarkan melalui setiap permainan yang kami lakukan.

Bahkan, saya pribadi baru menyadari bahwa tantangan terbesar adalah ketika kita mengajar anak usia dini. Bayangkan saja, sebagian dari mereka bahkan belum lancar berbicara. Belum mengerti banyak perbendaharaan kata. Belum bisa mengontrol pergerakan. Belum bisa mengekspresikan dan mengontrol emosi mereka. Bahkan belum bisa berinteraksi dengan teman sebaya dan orang dewasa yang bukan keluarganya.

Lantas, masihkah kami dianggap mendidik tanpa perlu berpikir?

 

A Very Rare and Unforgettable Moment with Cheryl Polk, PhD. (President of HighScope Educational Research Foundation, USA)

20160816-cheryl polk (2)These past two days (August 15-16, 2016) was quite days for us, Highscope teacher in Sekolah Highscope Indonesia, TB. Simatupang. Why is it so? Because we have been visited by the one and only, Cheryl Polk, PhD. or as we called her Dr. Polk also Marianne. Dr. Polk is the President of Highscope Educational Research Foundation in Ypsilanti, Michigan, USA. While Marianne is one of the Director in the foundation.

Dr. Polk has a long record of success in translating research knowledge about the first five years of life into programs that address the continuum of young children’s needs, from high-quality childcare to mental health consultation and treatment. Most recently she served as the executive director of the Lisa and John Pritzker Family Fund where her dual expertise in early childhood development and philanthropy advanced the creation of groundbreaking intervention programs for children exposed to community and interpersonal trauma. Dr. Polk was president of the board of directors of Zero to Three: National Center for Infants, Toddlers, and Families and has been a board member of that organization for more than 10 years. [source: highscope.org]

We were so nervous but excited at the same time. Well, who won’t. It might be a chance once in a lifetime, to meet such a great and amazing person, even though I only knew her from the internet.

On the first day, I didn’t get a chance to meet them during our school hours. But after school, I had a chance to Meet and Greet with Marianne, Ibu Antarina SF. Amir, some owner of Sekolah Highscope in Indonesia, parents also some of colleagues from Preschool to Highschool level. What a very rare chance to be in there, especially for a preschool teacher like me.

On the second day, unpredictable of me, Dr. Polk, Marianne and also our ECEP team principal took a glimpse of our classroom, Grey Room.

Surprise. Nervous. Excited. Speechless. Worried.

All were my feeling at that time. Even though it only for a very short time. I really appreciated of her being in our classroom. Being in the same room and breathe the same air as her, lastly being in one frame with her, with them. How lucky I am.

Thank you for your visit. Hopefully, me and my partner will become as great as you, well, almost as great as you. Well, at least, being a great preschool teacher more than today.

Belajar Itu Tidak Mudah!

Dulu, ketika saya masih sekolah, seringkali saya mendengar orangtua bilang kalau belajar itu mudah alias gampang. Masalahnya cuma kita ingin belajar atau tidak dan bagaimana usaha kita untuk belajar.

Yang susah itu, menghasilkan uang untuk membiayai kita sekolah. Intinya, bekerja lebih susah ketimbang cuma belajar.

Dari sudut pandang orangtua, tentu saja hal itu benar.

Tapi, pernahkah kita menempatkan diri sebagai anak-anak (usia dini terutama). Bagi mereka,

Belajar jelas bukan hal yang mudah.

dscn2979Bayangkan ketika kita pertama kali masuk sekolah. Entah itu TK, SD, SMP, SMA, bahkan Universitas. Pasti ada perasaan takut tersembunyi di dalam hati kita.

Sekarang, bayangkan kita adalah seorang anak berusia 1,5 – 2,5 tahun di hari pertama kita masuk sekolah.

Kita datang ke tempat yang baru, gedung yang baru pertama kali kita datangi, penuh oleh anak-anak dan orang dewasa yang asing bagi kita.

Kemudian masuk ke dalam ruangan yang penuh mainan, buku, dan fasilitas lain yang jelas bukan milik kita. Banyak sekali yang harus kita pelajari.

Bagaimana caranya supaya bisa kenal semua orang ini?

Bagaimana bergaul dengan mereka?

Bagaimana cara memainkan semua mainan ini?

Bagaimana cara membaca buku itu?

Bagaimana cara memakai semua fasilitas itu?

Bisakah kita melakukan semua itu?

Dan jutaan pertanyaan lain yang berkeliaran bebas di kepala kita, persis di hari pertama kita menginjakkan kaki di sekolah.

Untuk menjawab semua pertanyaan di atas. Cuma satu jawabannya.

Belajar.

Kita harus belajar.

Bagaimana caranya? Untuk belajar, kita harus memberanikan diri untuk masuk sekolah dan mencoba segala sesuatu yang baru di sepanjang perjalanan sekolah kita.

Belajar adalah kerja keras, dan mengambil resiko… akan kemungkinan untuk ditertawakan, disalahkan, tidak diacuhkan, atau ditolak. (Hyson, 2004)

Sekarang, siapa sih yang dengan sengaja berani untuk ditertawakan, disalahkan, tidak diacuhkan dan ditolak. Saya rasa tidak ada.

Selama kita tidak memiliki fondasi emosional yang kuat maka kita semua pasti akan menghindari hal tersebut. Yang berarti, kita tidak akan bisa mempelajari apapun juga.

Jadi, siapa bilang kalau belajar itu mudah?

Ya, belajar itu mudah. Belajar bisa dilakukan di mana saja dan kapan saja. Belajar tidak dibatasi oleh umur, kekayaan, ataupun jarak.

Akan tetapi, belajar itu juga tidak mudah. Belajar membutuhkan usaha dan kerja keras. Belajar juga membutuhkan keberanian, bahkan hanya untuk sekadar memulainya.

Dan bagi saya, bahkan untuk punya keberanian saja bukanlah perkara yang mudah.

Meskipun belajar bukan hal yang mudah, lantas bukan berarti kita jadi berhenti belajar atau malas belajar. Ini berarti kita harus menghargai sekecil apapun pengetahuan dan keahlian yang kita dapat melalui proses belajar.

Kita harus bersyukur bahwasanya kita masih diberi kesempatan untuk belajar sesulit apapun itu. Karena, percayalah, kalau banyak orang di luar sana, yang ingin belajar namun tidak punya kesempatan untuk belajar, melainkan hanya menjadi sebatas impian.

 

A Miracle: My Card Holder is Back!

After almost 2 weeks that felt incredibly longer than usual. Finally, a miracle happened: My Card Holder is Back!

Seperti yang sudah saya ceritakan sebelumnya di postingan I have been Robbed! bahwa saya kehilangan dompet kartu berisi hampir semua kartu penting. Pada awalnya, saya ikhlas dan entah mengapa benar-benar percaya dan berharap masih ada orang baik yang akan mengembalikannya.

Sambil pasrah dan mulai mengurus hampir semua kartu saya yang hilang, di dalam hati kecil saya, masih percaya, dompet saya itu akan kembali. Kalau memang masih milik, pasti Allah akan mengembalikannya ke saya melalui jalan apapun itu.

Sampai pada akhirnya, 2 hari menjelang Tahun 2016, terdengar suara “ding dong ding dong” bel rumah pun berbunyi. Aaah, paket saya datang, pikir saya yang memang sedang menunggu paket hasil belanja online di mataharimall.com.

Ketika saya melihat pengirimnya adalah TIKI kemudian saya lihat amplopnya, saya raba, saya rasa, saya genggam, dan saya telisik, 100% saya saya yakin, INI DOMPET KARTU SAYA. Huaaaaaa… benar saja. Langsung sontak saya sujud syukur.

My card holder is back!

My london berry by Huer Card Holder is back!

Almost all my cards is Back!

Masih ada orang baik di dunia ini.

Meskipun adik saya tetap skeptis dengan berkata, “ini cuma one in a million.” Meskipun, semua kartu yang berhubungan dengan BANK raib tak berbekas * which is fine, since I already block them all. * Meskipun saya sudah mengurus semua kartu yang tadinya hilang itu. Meskipun dompet yang satunya lagi tidak mungkin kembali * since there is no ID or address whatsoever for someone to return it back to me *

Alhamdulillah…

Siapapun pengirimnya, * sayangnya alamatnya kurang jelas dan tidak ada nomor telepon * saya berterima kasih dan mendoakan semoga Allah membalas kebaikan anda. Aamiin…

 

 

Cara Mengurus NPWP yang hilang

29 Desember 2015,

Masih melanjutkan mengurus kartu yang hilang, saya pun segera meluncur ke Kantor Pelayanan Pajak Pratama Pondok Aren untuk mengurus kartu NPWP (Nomor Pokok Wajib Pajak) saya yang hilang.

Alamat:

Jl. Bintaro Utama Sektor V

Kampus Stan Bintaro Jaya

Sehari sebelumnya, saya menyempatkan diri mendatangi kantor tersebut setelah mengurus SIM di Serpong. Tapi sesampaiya disana, petugas menyampaikan kalau untuk layanan pembuatan NPWP sudah tutup. Mereka hanya membatasi 100 kartu yang diterbitkan setiap harinya.

Hari ini, saya sengaja datang pagi sekitar jam 7 agar bisa mendapat nomor antrian paling awal. Pelayanan memang dimulai pukul 08.00 pagi, namun pengambilan nomor antrian sudah dibuka sejak jam 07.00 pagi.

Jadilah saya mendapat nomor urut 8. Setelah itu, cukup banyak orang yang datang untuk mendapatkan layanan dari Kantor Pajak Ini. Belum tepat jam 8, seluruh bangku tunggu sudah dipenuhi manusia.

Kantor ini cukup nyaman, bersih dan dingin * karena masih baru kali ya. * Interior dan furniturnya pun masih bagus. Ditambah lagi disediakan Aqua gelas gratis bagi kami yang menunggu.

Sabar menunggu, akhirnya tiba giliran saya. Loket 1, 2, dan 3 membuka layanan untuk NPWP.

Dokumen yang harus dibawa:

  1. Surat Keterangan Kehilangan dari kepolisian.
  2. Fotokopi KTP atau surat keterangan KTP.
  3. Fotokopi NPWP yang hilang.
  4. Formulir Permohonan Cetak Ulang yang sudah diisi (bisa diambil dilokasi).
  5. Formulir Perubahan Data Wajib Pajak * karena alamat saya sudah berubah alias pindah alamat * yang sudah diisi (bisa diambil di lokasi).

Semua dokumen sudah lengkap, petugas pun mengecek dan siap mencetak kartu saya. Hingga tiba-tiba…

Petugas: “maaf, tapi NPWP yang ibu berikan, di dalam data kami, statusnya telah dihapus.”

Saya: “maaf, kenapa mas? ” masih mencerna kata ‘hapus’

Petugas: “iya, jadi, kartu NPWP ibu yang hilang itu sudah dihapus, sudah tidak berlaku lagi.”

Saya: “apa!!! sejak kapan dihapusnya mas. Saya masih pakai NPWP saya itu loh mas.”

Petugas: “O gitu ya bu. Ibu pernah lapor-lapor pajak ga selama ini.”

Saya: *dalam hati saya, hellloooow* “Saya masih bayar pajak dan lapor SPT tahunan dengan nomor itu loh mas. Gimana cara, Kok bisa dihapus,”

Petugas: “iya bu, statusnya terhapus. Jadi kalau ibu mau, ibu jadinya buat kartu NPWP baru. Jadi ibu mengajukan pembuatan NPWP baru.”

Saya: “lah, gimana ceritanya mas. Nanti laporan pajak saya gimana? Pajak saya yang kemarin-kemarin kemana?”

Petugas: dia terdiam. “iya bu, tidak apa-apa ko bu. Cuma ibu jadinya harus bikin yang baru saja”

Wajar sih, dia mana tahu soal beginian, dia kan hanya petugas yang barusan mengecek data saya di computer.

Saya: menghela napas panjang. “ya sudah mas, apa yang saya butuhkan untuk buat yang baru.”

Petugas: mengambilkan formulir permohonan pembuatan KTP dan Surat keterangan bekerja. “Ibu hanya perlu mengisi ini, disertakan materai 6000. dan fotokopi KTP. nanti ibu langsung saja ke sini.”

Saya: “kalau gitu nanti saya kembali mas. makasi.”

Saya pun kembali mengambil nomor antrian dan hendak membeli materai. Sampai di luar. Entah kenapa kesalnya tak tertahan. Bagaimana bisa terhapus, selama saya kerja saya bayar pajak dan lapor pajak dengan nomor NPWP tersebut. Lantas, kemana semua uang pajak saya.

Akhirnya, saya batalkan niat untuk membuat NPWP baru. Saya akan konsultasikan dulu ke HRD tempat saya bekerja mengenai perubahan ini.

 

 

Cara Mengurus SIM yang Hilang

28 Desember 2015,

Melanjutkan perjuangan saya mengurus kartu-kartu yang hilang, SIM alias Surat Izin Mengemudi adalah nomor 2 yang krusial setelah KTP. Bagaimana tidak, saya tidak berani mengendarai si jagoan merah saya tanpa SIM di tangan.

Jadi, setelah selesai mengurus KTP, saya langsung meluncur menuju Serpong untuk Mengganti SIM yang hilang.

Ingat, pakai baju yang ‘pantas’. Untuk kaos, pakai yang berkerah dan pakai sepatu atau sepatu sandal. Dilarang keras pakai kaos oblong dan sandal jepit. Nanti kena tegur Pak Polisi dan disuruh pulang. nah lo.

Bagi saya yang berdomisili di Tangerang Selatan, saya sangat bersyukur dengan adanya kantor Satuan Administrasi Pelayanan SIM (Satpas) Polres Tangerang.

Alamat:

Pertigaan Jalan Raya Cisauk dan Jalan Raya Serpong, Tangerang Selatan.

Kantor ini bisa dicapai dengan menggunakan moda transportasi KRL alias commuter Line jurusan Tanah Abang-Serpong atau Tanah Abang-Maja. Dari stasiun Serpong, kita tinggal menyebrang jalan dan naik angkutan umum. Lokasinya tidak jauh dari stasiun, dengan membayar 3k sampai sudah kita di lokasi.

 

Yang harus dibawa:

  1. Surat Keterangan Kehilangan dari Kepolisian (1 lembar).
  2. Fotokopi KTP atau dalam kasus saya, fotokopi surat keterangan KTP dalam proses (3 lembar).
  3. Fotokopi SIM yang hilang (1 lembar).
  4. KK (Kartu Keluarga) untuk kasus saya yang KTP-nya tidak ada (1 lembar fotokopi ). Tapi bawa saja untuk berjaga-jaga.
  5. Uang sebesar 175k.
  6. Pulpen (mengingat ada formulir yang harus kita isi).
  7. Handphone atau buku novel (untuk mengusir kebosanan karena menunggu antrian yang puanjang).
  8. Kipas, mengingat kantornya bisa dibilang tidak luas sementara peminatnya membludak * agak lebay sih, tapi seriusan panas banget. Penuh banget. Apalagi kalau musim liburan gini. bikin SIM udah kaya ngantri mau nonton konser artis kenamaan *

Yang harus dilakukan di Satpas:

1. Cek Kesehatan

Setelah berkas-berkas siap dan dijadikan 1 (bawa paper klip biar tidak tercecer), langsung saja masuk ke ruangan bagian cek kesehatan (ada tulisannya di pintu).

Berkasnya terdiri dari 1 lembar surat kehilangan, 1 lembar fotokopi SIM, I lembar fotokopi KK, 1 lembar fotokopi surat keterangan KTP)

Serahkan semua berkas ke petugas dan ia akan menanyakan perihal kesehatan, mulai dari tinggi badan dan berat badan dll.

Oleh karena saya tidak membuat SIM baru dan saya menyertakan fotokopi SIM yang hilang, cek kesehatan bisa dibilang merupakan formalitas saja.

Setelah itu, petugas akan mengembalikan berkas berikut hasil cek kesehatan. Berkas ini sudah diatur dan distaples sedemikian rupa oleh petugas, sehingga kita tidak perlu khawatir akan tercecer.

Biaya: 20k

2. Pembuatan kartu Asuransi Kecelakaan Diri Pengemudi (AKDP)

Keluar dari ruang cek kesehatan, langsung saja berikan berkas ke loket paling kiri, sebut saja loket 1 (ada 3 loket, namakan saja loket 1, 2, dan 3, secara berurutan).

Di sini, kita akan diminta 1 lembar fotokopi surat keterangan KTP (fotokopi KTP). Kemudian, berkas akan dikembalikan ke kita beserta dengan Kartu asuransi (AKDP).

Biaya: 30k

3. Registrasi Mengurus SIM yang Hilang (sama dengan perpanjangan SIM).

Lanjut ke loket 2. Serahkan berkas ke petugas berikut 1 lembar fotokopi surat keterangan KTP (fotokopi KTP). Saya tidak terlalu memperhatikan apa yang dilakukan petugas (mengingat penuh sesak).

Biaya: 75k

4. Pengambilan formulir pendaftaran.

Lanjut ke loket 3, kita akan diberikan berkas berikut formulir pendaftaran yang harus di isi. Disini saya dikenakan biaya 45k.

Bodohnya, saya tidak bertanya untuk apa biaya tersebut * yang kepikiran cuma cepat selesai, apalagi ruangannya panas dan penuh sesak. * Tapi saya positif thinking saja, mungkin karena saya pindah alamat, entahlah. Pas browsing2 setelah selesai, baru ngeh, untuk apa ya biaya tersebut.

5. Mengisi formulir pendaftaran.

Untuk mengisinya disediakan meja besar di luar kantor Satpas dengan tata cara pengisian yang jelas dan lengkap. Di sinilah pulpen yang kita bawa melakukan perannya * daripada susah-susah cari pinjeman *

6. Kembalikan berkas tersebut ke loket 3.

Tunggu hingga nama kita dipanggil petugas. Disinilah buku novel, handphone, dan kipas berperan besar. Lamanya menunggu tidak bisa diprediksi. Kalau beruntung, kita bisa mendapatkan kursi untuk duduk, kalau tidak, ya terpaksalah berdiri.

7. Proses Identifikasi.

Disini, kita tetap akan menunggu giliran, duduk harus sesuai urutan. Petugas akan memverifikasi data kita * penting untuk didengarkan, karena bisa jadi ada kesalahan. * Lanjut dengan merekam sidik jari jempol kanan dan kiri juga tanda tangan.

Terakhir, say cheese! Foto asal-asalan buat SIM * saya bilang asal-asalan karena kebayang donk ya penampakan wajah kita setelah melalui proses di atas dan menunggu lama. Belum lagi posisi kita saat difoto yang pastinya ga akan seindah kalo kita selfie. Belum lagi pada saat difoto ada puluhan mata memandang, aih aih. Belum lagi, proses foto yang begitu cepat (mungkin sekitar 1 detik) tanpa ada kesempatan untuk melihat hasilnya dan mengulangi *

8. Pengambilan SIM.

Finally, all is done. Kita tinggal keluar kantor kemudian menuju sebuah tempat * tepatnya sih di luar sebuah ruangan tepat di depan sebuah jendela * dan tunggu nama kita dipanggil. Ambil SIM yang baru dan TTD.

Pastikan semua data yang tertera di SIM adalah benar.

Supaya kalau ada kesalahan bisa langsung diperbaiki saat itu juga.

 

And yeay, we are done!

Tidak susah dan tidak ribet, masih terjangkau pula.

 

 

 

 

 

Cara Mengurus Kartu AEON Express Card yang Hilang

23 Desember 2015,

Meskipun kartu AEON ini tidak dapat digunakan pihak lain * karena selalu akan ada verifikasi data setiap kali kita hendak melakukan transaksi * namun, tidak ada salahnya jika saya menginginkan penggantian kartu.

[Photo Credit: www.aeon.co.id]

Kartu AEON express card akan mempermudah saya untuk membeli barang-barang melalui pembiayaan AEON.

  1. Hubungi Customer Service AEON di (021) 2971 1000 untuk menginfokan kehilangan kartu.
  2. Buat Surat Pernyataan Kehilangan Kartu dan Permohonan Penggantian Kartu Baru.
  3. Scan Surat Keterangan Kehilangan dari Kepolisian.
  4. Scan Fotokopi Kartu AEON Express Card.
  5. Kirim email ke customercare@aeon.co.id dengan melampirkan poin 2, 3, dan 4 di atas dalam email tersebut.
  6. Hubungi Customer Service AEON di (021) 2971 1000 untuk mengonfirmasi email yang telah kita kirim.
  7. Kartu baru akan dikirim dalam jangka waktu 14 hari kerja.