BLIBLI INDONESIA OPEN 2018: An Amazing Atmosphere

That week was exceptional. It was a week that full of enthusiasm, passion, and love for badminton. It was Indonesia Open 2018. It was a world class badminton competition and one of the most prestigious Super Series 1000, along with All England and China Open.

I am a huge fan of badminton. My whole families are. We never skipped to watch any match that was live on TV, at least as long as I remember. So, when I knew that Indonesia Open finally here, I was very excited to watch it in Istora Senayan.

Hari itu, tanpa rencana tanpa persiapan, saya mengajak mama menyaksikan Bibli Indonesia Open secara langsung di Istora Senayan. Maklum, saya tahu benar kalau beliau adalah penyuka badminton. Pada masa mudanya dulu, beliau suka ikutan main badminton di lingkungan RT. Beliau pun penggemar Rudy Hartono dan Icuk Sugiarto. Maka, saat itu juga beliau langsung berkata, Ayo!

Jadilah kami mengistora (istilah yang digunakan kalau kita nonton langsung di istora). Target saya hari itu adalah mendukung pasangan ganda putra Indonesia, Marcus Fernaldi Gideon dan Kevin Sanjaya Sukamuljo. Makanya saya tenang-tenang saja ketika kami sampai di lokasi sekitar pukul 2.

Karena kami tidak planning sebelumnya, saya pun segera mencari tiket on the spot. What a surprise, almost all ticket sold out. Padahal ini baru hari ke-2 yang bisa dibilang baru babak pertama. Amazing.

Memasuki Istora Senayan, kami disambut dengan gapura besar bertuliskan BLIBLI ARENA. Setelah melewati pengecekan oleh sekuriti, kami pun memasuki arena.WOW, JUST WOW!

Diluar ekspektasi saya. Jauh melebihi ekspektasi saya.

Area Istora Senayan, setelah di renovasi menjadi jauh lebih baik dari sebelumnya. Pihak penyelenggara pun menyulap Istora layaknya sebuah sportedutainment.

Saya serasa masuk ke dalam sebuah perhelatan akbar macam Asian Games atau Olimpiade. Semua ada di sini. Mulai dari dekorasi yang instagramable, hiburan berupa live music and game, info mengenai badminton,stand-stand sponsor, food court, atm sampai kids zone. Mau cari apa disini, just named it. It’s all here.

Membanggakan.

Dari luar Istora saja, atmosfer badminton sudah kental terasa. Sayapun tak sabar untuk segera masuk ke dalam istora.

Memasuki Istora, terdengar riuh renyah teriakan supporter sedang mendukung para pemain badminton kelas dunia. Saya pun tepat hadir di saat tunggal putri Indonesia, Gregoria Mariska Tunjung bertanding melawan Ratchanok Intanon (Thailand).

Ketika Gregoria memasuki lapangan, suara supporter memenuhi seisi Istora. Padahal, istora belum semuanya terisi penuh.Semakin sore, istora semakin dipadati penonton dan mendadak penuh. I wonder why?

Ahhhh I see. Ah iya, sebentar lagi pertandingan ganda putra nomor 1 di dunia, Marcus dan Kevin. Dan benar saja, sesaat menjelang pertandingan ganda putra kebanggaan Indonesia itu, hampir seluruh kursi, baik di kelas 2, 1, maupun VIP sesak oleh penonton yang mulai berteriak dengan yel-yel khas mereka, termasuk saya.

IN-DO-NE-SIA! Dung dung dung dung dung.

IN-DO-NE-SIA! Dung dung dung dung dung.

Dan ketika nama Marcus dan Kevin dipanggil untuk memasuki lapangan, sontak saja riuh gemuruh suara supporter memenuhi Istora.

Merinding.

Atmosfer penuh rasa nasionalisme dan bangga seakan membuncah di setiap penonton yang hadir kala itu. Ini baru hari ke 2. Apa kabar nanti ketika semifinal bahkan final. Merinding bulu kudukku hanya dengan sekadar membayangkannya.

Pertandingan pun dimulai, lautan supporter tak henti-hentinya memberikan dukungannya terhadap pasangan ajaib ini. Dan dalam waktu singkat, yang hanya 27 menit saja, mereka berhasil menumbangkan pasangan lawan dari Malaysia, yaitu Ong Yew Sin dan Teo Ee Yi.

What an amazing match. Amazing skill,spirit, smash, netting. I am speechless.

No wonder they are number 1 men double in the world of badminton. They definitely deserve it. The hard work had been paid.

They were playing in lightning speed. Not that I am exaggerate, but it is fact. I can’t even see the shuttle cock movement. Well, maybe I am a bit exaggerated. I was busy yelling “Marcus-Kevin and  Eeeaaa-Eeeaaa” while keeping my eyes on their movement.

Tepat rasanya kalau suporter badminton memberi julukan Kevin si pendekar bersenjata raket bertangan petir dengan kecepatan cahaya. Begitu pula dengan Marcus, yang bisa dibilang sebelas dua belas dengan Kevin. “Jenius. Ajaib. Super” kalo kata Oma Gill dan Steen.

What a player.

Selain pasangan Marcus dan Kevin, kami sempat juga melihat pertandingan Shi Yuqi, Tommy Sugiarto, Agatha Imanuela dan Siti Fadia Silva Ramadhanti, Fajar Alfian dan Muhammad Rian Ardianto, Li Jun Hui dan Liu Yuchen, Akane Yamaguchi, Takuto Inoue dan Yuki Kaneko.Intinya, ga rugi banget buat ngistora. Ga rugi banget buat dukung atlit kita secara langsung. Menang atau kalah, itu biasa. Dukungan yang tak hentinya atas perjuangan mereka, itu yang luar biasa.

Jadi, mari kita dukung atlit Indonesia berlaga di turnamen selanjutnya, yaitu Asian Games 2018. Sampai jumpa lagi!

IN-DO-NE-SIA!

 

 

 

Advertisements

Surga Buku: Big Bad Wolf Books Sale 2018

Kalau selama ini saya mengira toko buku ataupun perpustakaan sebagai surganya para penikmat buku, maka kali ini saya tambah satu lagi daftar surga bagi para penikmat buku, yang tidak lain dan tidak bukan adalah BIG BAD WOLF BOOKS SALE.

Gema even ini memang sudah lama terdengar di telinga saya dan sudah sering sliweran di timeline beberapa medsos saya. Akan tetapi, baru pada tahun ini saya akhirnya berhasil mengajak adik saya untuk mengunjungi even ini.

Kata-kata sale tentu saja yang menjadi daya tarik utama, terlebih lagi SALE BUKU LOKAL dan IMPOR. Tidak tanggung-tanggung, sale yang ditawarkan bisa mencapai 80%. WOW. Just WOW. Yang lebih gila lagi, even ini berlangsung 24 jam nonstop. Penasaran kan gimana rasanya baca buku, belanja buku jam 1-4 pagi dini hari. Saya, jelas penasaran.

Ketika sampai di lokasi, ICE BSD, saya yang notabene kutu buku dan ngaku-ngaku proud bookworm pun langsung terkesima dan tidak bisa berkata-kata melihat gundukan buku-buku di sejauh mata memandang. NEW BOOKS. EVERYWHERE! LITERALLY!

Rasanya ingin menangis. Sungguh.

Dan saya pun langsung menghirup dalam-dalam bau buku-buku baru, yang rasanya ingin saya masukkan semua ke dalam trolley saya, kalau saja saya tidak ingat harus melewati kasir untuk membawanya pulang.

Sayangnya, kepergian saya kali ini tidak terencana. Jadi, saya datang tanpa persiapan dana yang memadai. Alhasil, saya pun hanya bisa gigit jari dan bersumpah, bahwasanya tahun depan saya akan lebih siap lagi.

 

[JFW2018 Day 7] Amazon Tokyo Fashion Week presents ROGGYKEI and UJOH

Last but not least, the most memorable and the hardest effort for a fashion show in my life, so far… 

Perjuangannya buat liat show Amazon Tokyo Fashion Week @roggykei dan @ujoh.official ini benar-benar tidak terbayangkan sebelumnya. 

Dari mulai persiapan di rumah lanjut perjalanan ke sency alias senayan city yang penuh drama. Bahkan bisa dibilang ngalahin drama korea. Sampai perjuangan hingga bisa duduk didalam fashion tent.

Bayangkan saja, mulai dari rencana pulang tenggo (dari sekolah) yang gagal. Kemudian, tepat sebelum kita berangkat, tersadar kalau invitationnya ketinggalan di loker sekolah. Alhasil saya jadi print undangan. Bagusnya lagi, printer di rumah sedang rusak. 

Mengingat waktu yang semakin dekat, kami putuskan untuk naik kereta ke palmerah baru lanjut taksi atau grab atau gojek. 

Sampai di palmerah, kami disambut kemacetan yang luaaarr biasa. Disaat kami siap memesan gojek (karena jam sudah menunjukkan 30 menit sebelum show), hujan turun dengan derasnya. 

Saat hujan mereda, aplikasi gojek saya error. Saya tidak bisa meng-cancel gojek yang memang keberadaannya masi jauh dari lokasi. 

Akhirnya memesan grab sambil terus mencoba cancel gojek. Saya pun pasrah, ketika akhirnya abang grab membawa saya entah lewat mana demi menghindari kemacetan yang menggila. 

Saat tiba di sency, saya pun didera rasa malu luar biasa. Kenapa? Karena saya lari dengan helm grab masih terpasang dengan manisnya di kepala saya, sementara si abang teriak-teriak meminta helm-nya. Malu… 

Disaat saya merasa lega, karena akhirnya sampai di lokasi dan mendengar kabar bahs show nya tertunda, saya dikejutkan dengan penuhnya fashion tent. Sampai-sampai sulit bagi saya hanya untuk sekadar masuk ke fashion tent. 

Mungkin karena ini show terakhir di Jakarta Fashion Week 2018 sebelum finale, yaitu Dewi Fashion Knights 2018, jadinya penontonnya super membludak. 

Plus, show ini mengusung tema Jepang.  Penasaran donk pastinya. Jadiiii, mau itu jalur VIP atau reguler, sama antri dan penuhnya. 

Saking penuhnya, AC yang biasanya super dingin itupun tak berasa.

Jadi makin penasaran donk ya. Bakalan kaya apa shownya. Dengan dalih mau bertanya, berhasil merangsek ke depan, percis pas di pintu scan. Tapi, antri lagi donk yaaa.

Pas pintu dibuka, baru kali ini mau liat fashion show kaya mau nonton apaan dah, grasak grusuk dorong-dorongan saking penuh dan antusiasnya plus kayanya pada takut ga dapat tempat duduk — Ini pada ga pernah liat fashion show live apa ya. Pikir saya. 

Hellooo, pasti dapet kali. 

And then, the show begin. Too fast, I think. Can’t get enough. 


Entah kenapa, show ini terasa sangat singkat. Seakan-akan terburu-buru. 

Apakah konsepnya seperti itu atau karena jadwal show yang sudah ngaret, sementara show final DFK 2017 sudah di depan mata. 
Atau karena perjuangan saya yang teramat berat dan penuh drama, sehingga membuatnya terasa sangat singkat. 

Entahlah… 

Padahal saya suka sekali dengan koleksi mereka. Lots of linen and cotton. Layer and oversize clothes. Love it! 

View this post on Instagram

Dear @jfwofficial . . Last but not least, the most memorable and the hardest… . Perjuangannya buat liat show #amazontokyofashionweek @roggykei @ujoh.official ini bener2 dah. Dari mulai perjalanan ke sency yang penuh drama yang bisa ngalahin drama korea, sampai perjuangan hingga bisa duduk didalam fashion tent. . Mungkin karena ini show terakhir di #jfw2018 sebelum finale, yaitu DFK2018, jadinya penontonnya super membludak. Plus katanya dari negri bunga sakura itu. Penasaran donk pastinya. Jadiiii, mau itu jalur VIP atau reguler, sama antri dan penuhnya, sampai pintu masuk tent mak. Saking penuhnya, AC yang biasanya super dingin itupun tak berasa. Jadi makin penasaran donk ya. ya. ya. Bakalan kaya apa shownya. Dengan dalih mau bertanya, berhasil merangsek ke depan, percis pas di pintu scan. Tapi, antri lagi donk yaaa. Pas pintu dibuka, baru kali ini mau liat fashion show kaya mau nonton apaan dah, grasak grusuk dorong-dorongan saking penuh dan antusiasnya plus kayanya pada takut ga dapat tempat duduk. Hellooo, pasti dapet kali. And then, the show begin. Too fast, I think. Can't get enough. . JFW2018 pun ditutup dengan penuh kenangan. #myJFWmoments #jfw10yrs

A post shared by Melly (@mel_ces) on

Dan, momen saya di JFW2018 pun ditutup dengan penuh kenangan.

See you next year dear Jakarta Fashion Week! 😘

[JFW2018 Day 6] Top White Coffee presents “Color Deconstructed” featuring Major Minor

Show yang paling saya tunggu di hari ke-6 ini, yaitu Major Minor. Kenapa? Tidak lain dan tidak bukan karena saya penasaran akan seperti apa koleksi yang ditampilkan salah satu brand yang masuk sebagai Dewi Fashion Knights 2017 di JFW 2018.

Meskipun kondisi badan tidak maksimal (saya sampai harus minum panadol), saya pun rela mengantri begitu panjang. 

Maklum, penontonnya membludak. Mungkin mereka sama penasarannya seperti saya. Mungkin juga mereka penggemar top white coffee. Atau loyal customer dari Major Minor. 

Ditambah lagi, banyaknya selebritis yang ikut menyaksikan show ini menjadi daya tarik tersendiri.

Begitu show dimulai, rasa penasaran hilang sudah. Major minor menampilkan koleksi pakaian mereka dengan detail kain yang dirangkai bak anyaman tikar dengan warna dominan putih.

Terakhir, kami dikejutkan dengan munculnya Ayushita dan Abimana yang turut menjadi model Major Minor di atas runway — Well, ga terlalu terkejut sih. Mengingat keduanya adalah brand ambassador top white coffee. Dan juga mengingat saat mengantri kami sempat bersebrangan dengan mereka. Bahkan Hanny sempat berfoto bersama Abimana. 

[JFW2018 Day 6] VIVO presents “VIVO V7+ Beyond Fashion” featuring Ats The Label and Monday to Sunday

Setelah melihat fashion show Major Minor di fashion tent, kami pun bergegas ke fashion atrium untuk melihat show Ats the Label dan Monday to Sunday.

Namun, sangat disayangkan kami terlambat sampai di lokasi — akibat show di fashion tent yang cukup telat dari jadwal.

Kami hanya sempat melihat finale dari fashion show kali ini. Padahal, saya ingin sekali melihat koleksi pakaian ready to wear mereka. 


[JFW2018 Day 6] Dekranasda present Artina, Batik Chic, Khanaan, dan Tandamata

Melaju ke Fashion Atrium di Senayan City, kami pun tiba tepat waktu – sebenarnya sudah telat kalau dari jadwal – untuk menyaksikan fashion show dari Dekranasda DKI Jakarta.

Pada kesempatan ini, kami pun melihat sosok Ibu Gubernur dan Ibu Wakil Gubernur DKI Jakarta yang ikut menyaksikan show ini. Makanya tidak heran kalau fashion atrium penuh sesak oleh para penonton dan juga jurnalis.

Show pun dimulai. Mengingat show in melibatkan beberapa brand binaan Dekranasda DKI Jakarta, maka dari itu kental sekali terasa suasana DKI Jakarta di dalam fashion Atrium. Hal ini dapat dilihat dari MC yang notabene abang dan none jakarta, pembukaan show oleh kepala dekranasda, hingga musik khas DKI Jakarta yang mengiringi  para model berjalan di catwalk.

Sementara brand binaan yang menampilkan karyanya adalah Artina,Batik Chic, Khanaan, dan Tandamata. Dari semua brand tersebut, I must say I love them all.

Masing-masing mempunyai keunikan tersendiri. Batik Chic yang didesain Novita Yunus dengan kebaya encim yang modern, 3D look, dan colorful. Khanaan hasil karya Khanaan Shamlan dengan warna nude dan aksen bulu-bulu – ditambah lagi diperagakan oleh Dwi Handayani Syah Putri dan Sarah Sofyan.

Berikut ini beberapa gambar yang berhasil tertangkap kamera kami.

Batik Chic

Khanaan

TandamataFinale…Lihat videonya dibawah ini,

 

 

 

 

 

[JFW2018 Day 6] Cherryn Lim

Setelah melewatkan hari ke-3, 4, dan 5 Jakarta Fashion Week 2018 karena kondisi kesehatan yang kurang baik dan juga padatnya kegiatan di sekolah, akhirnya saya berhasil mengajak Dwi dan Hanny untuk menghadiri JFW2018 hari ke-6.

Kali ini, fashion tent dipenuhi para penggemar karya desainer Caroline Lim yang dikenal dengan merk Cherryn Lim. Selama 30 menit, kami disuguhi sederetan gaun malam dan gaun pernikahan yang indahnya bukan main.

Mulai dari gaun malam berwarna pastel hingga berwarna yang lebih berani, seperti merah. Terakhir, gaun pengantin berwarna putih yang bertahtakan detail payet yang dipakai para model terlihat sangat indah dan bersahaja.

Lihat videonya di bawah ini,

[JFW2018 Day 2] Avenue A, Yogiswari Pradjanti, and GEE Batik

Dapat posisi duduk yang tidak menguntungkan karena telat antrinya dan juga karena sangat antusiasnya orang-orang melihat karya 3 desainer unik ini (alias penuh).

Show terakhir yang saya saksikan di hari ke-2 JFW 2018. Salah satu show yang saya tunggu-tunggu karena line up desainer yang memang saya suka – meskipun kelihatannya saya suka hampir semua desainer Indonesia. Dengan tema origin diversity, kebayang kan pasti akan Indonesia sekali.

AVENUE A

Hasil karya desainer Indonesia bernama LUthfi Madjid, yang lama tinggal dan berkiprah di New York ini benar-benar menginspirasi. Betapa tidak, pakaian ready to wear yang unik dan tak biasa, namun sepertinya tampak nyaman dipakai.

Lebih gilanya lagi, pakaian tersebut bisa dipakai oleh pria maupun wanita baik tua maupun muda. Kalau kata orang dulu Unisex tapi sekarang lebih dikenal dengan nama gender bender.

YOGISWARI PRADJANTI

Melihat karya desainer satu ini melalui instagram beliau membuat saya terpana. Kreatif. Nyeni. Kata-kata yang tepat untuk karya beliau. Kali ini saya melihat secara langsung koleksi “Cerita Para Nyonyah” yang terbilang etnik dan unik dan yang pasti, ready to wear.

Lihat videonya dibawah ini.

GEE BATIK

Koleksi batik cantik karya Sugeng Waskito patut saya acungi 2 jempol. Konsep fashion show yang Jawa sekali terasa kental. Mulai dari bahan batik (yang sepertinya sutra) dengan motif tradisional ditambah aksara jawa, aksesoris yang berupa ikon Jawa, dan juga musik gamelan jawa modern semakin memperkuat tema Jawa sepanjang fashion show.

Love it to the max!

Saksikan videonya di bawah ini.

 

 

[JFW2018 Day 2] ARVA School of Fashion presents BOBABABE, FARA OFFICIAL, IVAN KI, ONE & ONLY, and SUSANNA ANDRIYANTO

Kali ini di fashion tent menghadirkan para desainer muda yang mendalami ilmu fashion di ARVA School of Fashion.

Fashion tent mendadak penuh sesak oleh para pendukung desainer-desainer muda berbakat ini.

Jujur, dari semua karya desainer muda ini, yang paling membuat saya menginginkannya adalah BOBABABE. Sementara yang paling membuat saya takjub adalah  karya dari FARA OFFICIAL – just love their concept. Unique and at the same time futuristic.

BOBABABE

Koleksi kali ini memberikan kesan berada di negeri Cina. Suka sekali dengan warna-warnanya yang soft dan bergradasi.FARA OFFICIAL

Desain yang unik nan futuristic seakan membawa kami yang melihatnya menuju ke masa depan.

IVAN KI

Menjadi satu-satunya desainer pria di fashion show kali ini, tidak membuat Ivan Ki lantas meredup di antara karya para desainer wanita. Detail seperti jaring laba-laba mempertegas saya bahwa koleksi pakaian ini di desain oleh seorang pria, tidak lain dan tak bukan adalah Ivan Nurul Huda.

ONE & ONLY

SUSANNA ANDRIYANTO

 

[JFW 2018 DAY 2] The Goods Dept. presents “Transit In Analog” in PIA ALISJAHBANA AWARDS 2017

Postingan ini sebagai kelanjutan dari postingan saya sebelumnya mengenai PIA ALISJAHBANA AWARDS 2017.

Di ajang penghargaan ini, The Goods Group sebagai penerima Pia Alisjahbana Awards 2017 kategori institusi menampilkan fashion show yang mengangkat tema Transit in Analog.

Barisan model berjalan di runway membawakan koleksi The Goods Dept. Seketika terdengar gemuruh para hadirin, begitu terdengar background musik disertai para model berbusana 70-80an yang membuat kita serasa kembali ke masa lalu. Masa di mana teknologi sebagian besar masih bersifat analog (dibandingkan sekarang yang semuanya serba digital).

A youthful and vintage vibe.

Simak saja videonya berikut ini. ps. I really like the song.

Dan kami pun ikut menangkap momen kami di Pia Alisjahbana Awards 2017.

 

 

[JFW 2018 DAY 2] PIA ALISJAHBANA AWARDS 2017

A moment in a lifetime.

It was Sunday, October 22, 2017. Felt so lucky to witness Biyan and The Goods Group received Pia Alisjahbana Awards 2017.

Kenapa saya anggap momen ini sebagai salah satu moment yang akan saya ingat sepanjang hidup saya? Tidak lain dan tidak bukan karena ajang penghargaan ini hanya diadakan setiap 5 tahun sekali. Belum tentu 5 tahun mendatang saya berkesempatan hadir di ajang ini lagi.

Pada ajang penghargaan ini pula, saya berkesempatan berada dalam satu ruangan dengan para desainer terkenal Indonesia, para petinggi Femina Group, para petinggi perusahaan yang berhubungan dengan dunia fashion, para model, sertatokoh-tokoh industri mode dan kreatif Indonesia.

Semakin merasa beruntung, karena saya duduk tepat dibelakang para founder The Goods, Founder Femina Group, Biyan, Ibu Pia Alisjahbana, Oscar Lawalata dan lainnya.

Can you believe that. Even I hardly believe it.

Bagi kalian yang belum tahu apa itu Pia Alisjahbana Award, saya akan jelaskan sedikit saja mengenai ini.

Pia Alisjahbana Awards 2017 memberikan penghargaan bagi individu dan institusi yang memberikan banyak kontribusi dan pengaruh terhadap perkembangan industri mode Indonesia. Tahun ini, penghargaan diberikan kepada desainer kenamaan Indonesia Biyan Wanaatmadja (kategori individu) dan The Goods Group (kategori institusi) sebagai penggerak mode terbaik di Indonesia.

Berikut beberapa momen di Pia Alisjahbana Awards 2017 yang bisa saya abadikan.

Selamat kepada Biyan dan The Goods Group. Teruslah berkarya untuk bangsa dan mengharumkan nama Indonesia di kancah Internasional.

Di ajang ini pula, saya dapat menyaksikan fashion show The Goods Dept. yang bertajuk Transit in Analog yang akan saya bahas di postingan selanjutnya.

[JFW 2018 DAY 2] The Goods Dept. presents “Transit In Analog” in PIA ALISJAHBANA AWARDS 2017

[JFW2018 DAY 1] Embassy Of Sweden and Swedish Fashion Council present “Sustainable Swedish Fashion” featuring HOUSE OF DAGMAR, UNIFORMS FOR THE DEDICATED, and HOPE STOCKHOLM

When I saw JFW2018 schedule and noticed word “Sustainable” from one of the fashion show, I definitely had to watch. Just because, I supported the idea of sustainable clothing.

Ketika mendengar kata “berkelanjutan,” saya pun langsung membayangkan pakaian yang terbuat dari bahan-bahan alami, seperti wool, katun, dan linen. Pasti nyaman dan pastinya cocok sekali dipakai saya yang tinggal di daerah tropis ini.

Sambil menunggu, kami pun jeprat sana jepret sini di area fashion tent.

Dan fashion show pun dimulai.

HOUSE OF DAGMAR

UNIFORMS FOR THE DEDICATED

 

HOPE STOCKHOLM

Watch the video down here,

[JFW2018 DAY 1] Fashion Design Council of India present Nitin Bal Chauhan, Novita Yunus and Nisha

Jakarta Fashion Week 2018 (JFW 2018) is finally here. Well, it was.

It was Saturday, October 21, 2017 which means the first day of JFW 2018. I was so excited more than ever because I had some of invitation for the fashion show.

Rasanya sungguh tidak sabar untuk melihat fashion show dari berbagai desainer kenamaan, baik luar negri maupun dalam negri. Di hari pertama ini, saya berkesempatan melihat karya dari desainer muda India Nitin Bal Chauhan dan Nisha bersama dengan desainer Indonesia Novita Yunus.

Ketika lampu mulai meredup, penutup runway ditarik oleh beberapa orang pria, dan musik mulai terdengar, rasa penasaran pun semakin membuncah. “Seperti apa ya karya mereka,” pikir saya dalam hati.

Nitin Bal Chauhan

Sekilas, pakaian yang ditampilkan terkesan biasa. Tampak seperti gamis atau gaun panjang dengan tidak banyak detail. Akantetapi, begitu diperhatikan, gaun tersebut tampak luar biasa dengan tambahan detail embroidery yang sangat indah dan artistik.

Entah bagaimana dia membuatnya. Bagi saya, gaun-gaun yang ditampilkan tampak seperti rentetan karya seni. Ditambah lagi dengan musik yang mengiringinya. Sangat indah.

I can see myself wear one of those long dress. Wanna have one of those artworks T_T

Lihat videonya dibawah ini,

View this post on Instagram

A glimpse of @nitinbalchauhan for #JFW2018

A post shared by Melly (@mel_ces) on

NOVITA YUNUS X NISHA (NY x ashaane)

Kedua desainer ini menampilkan karya bertajuk WARNA. Dan sayapun berharap warna-warni busana akan muncul dihadapan saya. Benar saja. Berlatang belakang musik etnik, berbagai busana yang kental dengan nuansa tradisional Indonesia dan India dengan penuh warna-warni memanjakan mata saya. Aksesoris yang dikenakan para model pun menambah kesan tradisional yang memang sudah kentara.

So colorful and wearable. Super want it!

Dengar dan lihat videonya dibawah ini,

Selanjutnya,

[JFW2018 DAY 1] Embassy Of Sweden and Swedish Fashion Council present “Sustainable Swedish Fashion” featuring HOUSE OF DAGMAR, UNIFORMS FOR THE DEDICATED, and HOPE STOCKHOLM

[Indonesia Modest Fashion Week 2017] Wardah x Itang Yunasz

Etnik.

Indonesia sekali.

Itulah kesan pertama saya terhadap koleksi Itang Yunasz yang ditampilkan di Indonesia Modest Fashion Week 2017 ini. Dengan mengangkat ragam kain khas daerah Sumba, Nusa Tenggara, membuat saya semakin cinta pada karya desainer yang satu ini. Yang paling saya suka adalah pakaian yang memadukan kain sumba dengan brokat (lace) dengan dominasi warna hitam.

Lihat videonya di bawah ini,

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

[Indonesia Modest Fashion Week 2017] Wardah x Malik Moestaram

Oh my God!

Those clothes are very super duper pretty.

Malik Moestaram menampilkan karyanya yang tampak seperti boneka-boneka cantik bak peri nan feminim.

Indah banget.

Permainan bahan, warna, detail, aksesoris, dan tentu saja desainnya yang modest sungguh membuat saya jatuh cinta.

Lihat videonya di bawah ini dan terpukaulah…

[Indonesia Modest Fashion Week 2017] Wardah x Jeny Tjahyawati

Black is a very happy bold color.

Jeny Tjahyawati menampilkan karyanya yang didomininasi warna hitam. Pemakaian penutup kepala berbahan organza (sepertinya) yang diatur sedemikian rupa – sangat unik menurut saya – dengan warna-warna seperti merah dan biru menambah kesan bold.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

[IFW 2017] “Passion” Part 2

Fashion show bertema ‘Passion’ digelar di Plenary Hall, Jakarta Convention Center pada hari ke-3 Indonesia Fashion Week 2017, Jumat, 3 Februari 2017.

Setelah kami menyaksikan fashion show part 1 lalu dihibur oleh penampilan Maria Calista, fashion show pun dilanjutkan. Deretan desainer kenamaan Indonesia memamerkan koleksi terbaru mereka. Part 2 diisi oleh Susan Zhuang, Harry Ibrahim, Chossy Latu, Acakacak by LPTB Susan Budihardjo, dan Dinara Abdullina from Kazakhstan.

Susan Zhuang

Show dimulai dengan koleksi terbaru Susan Zhuang. Busana yang didominasi oleh warna hitam dan putih dengan sedikit bahan brokat dan berkesan feminim.

[Photo by @mikhaelandraias]

[Photo by @mikhaelandraias]

Harry Ibrahim

One of my 2 favorite in these show part 2. Koleksi Harry Ibrahim sangat indah, elegan, dan mewah. Tepat seperti tema yang diusungnya yaitu Royale Glamorous.

Saya bisa membayangkan gaun-gaun tersebut dipakai para selebritis dalam moment awards atau red carpet. What a very beautiful dress and look awfully expensive. Kunjungi www.harryibrahim.com untuk tahu lebih banyak.

[Photo by @panjulnew]

[Photo by @panjulnew]

Chossy Latu

The other favorite from 2. As much as I love Batik, I also love Songket. Songket member kesan mewah dan glamor. Selama ini songket dikenal masyarakat hanya sebagai kain yang difungsikan sebagai rok.

Akan tetapi, koleksi terbaru Chossy Latu ini memberi inspirasi baru bagaimana memanfaatkan songket menjadi busana elegan yang bisa dipakai oleh orang-orang di perkotaan. Dengan tema ‘Songket in The City’ (which remind me of Sex & the City series). Dan saya, langsung memutar otak bagaimana memodifikasinya agar bisa dipakai wanita berhijab seperti saya.

In this show, I just love the whole package. Glamour collection, perfect background music and beautiful accessories, and perfect atmosphere.

ifw-2017-20

[Photo by bajadams]

[Photo by bajadams]

 Acakacak by LPTB Susan Budihardjo

Para desainer alumni LPTB Susan Budihardjo ini menampilkan koleksi terbaru mereka bertema Camio 2. Kesan ‘acak-acakan,’ minimalis, kaku, dan futuristik terasa kental di semua koleksinya. Menyaksikan fashion show acakacak ini seakan-akan membawa kita jauh ke suatu tempat masa depan.

[Photo by irvandyyulius]

[Photo by irvandyyulius]

Dinara Abdullina

Fashion show passion ini ditutup oleh koleksi terbaru dari Samidel Dinara Abdullina yang berasal dari Kazakhstan. Busana yang ditampilkan sebagian besar berupa gaun berpotingan A-line atau babydoll dengan warna putih, hitam, biru dan merah. Yang paling menarik perhatian saya adalah motif kain yang digunakan, pola berlubang-lubang namun bukan brokat. Unik, If I may say.

ifw-2017-21

ifw-2017-22

[Photo by mikhaelandarias]

[Photo by mikhaelandarias]

Berakhirlah sudah Fashion Show yang mengusung tema Passion ini. Show yang menarik dan memanjakan mata penikmat fashion seperti saya. Yang lebih penting lagi, show yang menginspirasi untuk membuat karya yang sama atau bahkan lebih baik dari yang sebelumnya.

See you in Indonesia Fashion Week 2018.

See you when I see you.

 

[IFW 2017] “Passion” in Between with Maria Calista

Fashion show bertema passion ini memang dibagi menjadi 2 bagian. Selagi menanti bagian ke-2, kami dihibur oleh suara merdu seorang Maria Calista yang menyanyikan lagu singlenya berjudul “Satu kali lagi” dan cover lagu “Closer”.

maria

Seorang penyanyi yang sosoknya sedikit mengingatkan saya kepada Agnes Monica, baik dari wajah maupun kemampuan menyanyinya (kebetulan saya pernah menonton penampilan live Agnes Monica).

Selama ini mendengar single “Satu kali lagi” melalui radio atau via youtube. Kali ini menyaksikan langsung penampilannya yang ternyata sungguh memukau. Menurut saya, suara live Maria lebih bagus daripada rekamannya.

What a talented singer.

Next, Fashion Show: “Passion” Part 2

[IFW 2017] “Passion” Part 1

Fashion show bertema ‘Passion’ digelar di Plenary Hall, Jakarta Convention Center pada hari ke-3, Jumat, 3 Februari 2017.

Deretan designer muda Indonesia dan beberapa desainer kenamaan Indonesia memamerkan koleksi mereka di gelaran Indonesia Fashion Week 2017. Part 1 diisi oleh Hanny Lovelly, Wid/Lid, Gita Orlin, Kanzi Collection by Liza Yahya, Gee Batik by Sugeng Waskito, Anwar Dani, dan Uzy Fauziyah.

Hanny Lovelly

Show dimulai dengan busana rancangan Hanny Alamsyah. Bagi saya, yang menjadi highlight adalah penggunaan bahan utama sifon dengan warna-warna pastel dan detail yang mengingatkan saya kepada busana para wanita Eropa di masa lalu, totally feminim. Koleksi Hanny bias dilihat di http://WWW.HANNYLOVELLYFASHION.COM.

ifw-2017-12

Wid/Lid

Busana Wid/Lid memberikan kesan minimalis, casual, dan wearable. Saya bisa melihat diri saya memakai busana keluaran mereka dalam keseharian saya. Warna dominan putih dan hitam dengan detail fringe berupa tassel menjadi ciri khas koleksi terbaru Wid/Lid.

ifw-2017-13

Gita Orlin

Warna hitam mendominasi koleksi terbaru Gita Orlin. Penambahan bordiran di beberapa bagian dengan warna terang membuat busana tersebut lebih eye-catching.

ifw-2017-14

Kanzi Collection by Liza Yahya

Busana koleksi Liza Yahya ini merupakan satu diantara 2 favorit saya di Passion Fashion Show Part 1. Kesan kulturnya sangat terasa, etnik. I really would love to have one of those as my outfit. Koleksi lengkap mereka bisa dilihat di www.kanzicollection.com.

ifw-2017-15

Anwar Dani

Koleksi pertama Anwar Dani bertema Summer of Love memadukan kombinasi lace dan bahan berwana metallic. Koleksi Anwar Dani bias dilihat di www.anwardaniatelier.com.

ifw-2017-16

Gee Batik by Sugeng Waskito

For I’m so in love with batik, I’m definitely really fall in love for his collection, for sure. This one is my other favorite from the show. Seluruh koleksi Sugeng Waskito memperlihatkan busana yang dibuat dari bahan sutra. Batik dan sutra, perpaduan yang membuat busana tampak elegan dan mewah, kental nuansa budaya Jawa. Want to know more, visit www.geebatik-jogja.com

ifw-2017-17

Uzy Fauziyah

Koleksi Uzy memberikan kesan maskulin namun feminim, seperti pejuang-pejuang wanita Cina bernuansa Indonesia. Koleksi ini mengingatkan saya akan tokoh Chun Li dalam balutan kain tenun.

ifw-2017-18

Dan Passion Fashion Show Part 1 pun ditutup dengan penampilan apik Maria Calista untuk kemudian dilanjutkan dengan Fashion Show: “Passion” Part 2.

Not So Fashionable Presence at Passion Fashion Show, Indonesia Fashion Week 2017

Finally, the Indonesia Fashion Week is here. Finally, we could present in one of the fashion show.

ifw-2017-25

Excited, as we see the designer line up in the invitation. I mean, Susan Zhuang, Harry Ibrahim, Chossy Latu, and Dinara Abdullina from Kazakhstan are in the line up.
Curious, as there were also new young designer show their first collection in IFW.
Worried, if there will be a PD or another meeting at work that make us late for the show.
Last but not least,
Wondering, if our outfit will be fashionable enough to attend this show.

By the time we should leave to the venue, straight from the workplace, the feeling that remains only excitement and curiousity. Worries is long gone since there was no PD whatsoever. Wondering also vanish through the air since we actually don’t have choice to change into another outfit. So there we were, wearing our work outfit.

I was presentable enough but not so fashionable enough. I kind of laughed at myself by the time I looked at the mirror. I remember of a line in the invitation, “We request your fashionable presence at Passion feat…” Hahaha, fashionable presence.

ifw-2017-1

ifw-2017-2 ifw-2017-3

Well, at least we were full of smile, felt comfortable, and confidence enough to come. There some said, confidence and smile is what makes you more beautiful. And our fashion, let’s just called it effortless fashion.

The show must go on. So did we. Take our own moment outside and inside the venue.

ifw-2017-4 ifw-2017-5

ifw-2017-7

ifw-2017-10 ifw-2017-8 ifw-2017-9

And let the show begins.

Fashion Show: “Passion” Part 1, Passion Show: “Passion” In Between with Maria Calista, and Fashion Show: “Passion” Part 2.

 

Gala Premiere Warkop DKI Reborn, Jangkrik Boss! Part 1

Dono, Kasino, Indro. Trio yang dikenal dengan nama Warkop DKI. Trio yang telah meramaikan dunia komedi Indonesia untuk puluhan tahun lamanya. Legenda. Kalau boleh dikatakan.

Dono, Kasino, Indro. Ketiga anggota Warkop DKI tersebut kini dilahirkan kembali melalui sosok 3 pemuda, aktor berbakat indonesia.

Abimana Aryasatya sebagai Dono, Tora sudiro sebagai Indro, dan Vino G. Bastian sebagai Kasino. Mereka hadir dalam kemasan Warkop DKI Reborn. Bukan sebagai pengganti Warkop DKI asli, namun sebagai penerus atau pewaris.

Tujuannya, agar generasi muda dan generasi seterusnya mengenal komedi yang ditawarkan sang trio legenda komedi Indonesia ini.

Malam itu, Hari Jumat, tanggal 2 September 2016, saya dan Dwi berkesempatan menghadiri Gala Premier Film Warkop DKI Reborn. Jangkrik Boss! Part 1. Bertempat di CGV Blitz Grand Indonesia, Lt. 8. Kemeriahan dan keseruan pun dimulai.

Acara yang dimulai pukul 18.00-22.30 malam ini pun dipenuhi sesak oleh para undangan serta fans setia Warkop DKI. Suasana CGV Blitz pun kental dengan nuansa Warkop DKI. Mulai dari photobooth, panggung, poster, toko merchandise hingga para pendukung acara yang berdandan ala Chips.

Pukul 18.00, kami pun menukar undangan dengan tiket. Setelah itu, kami menghabiskan waktu di restoran Warjok Asli (Warung Pojok Asli) hingga pukul 19.00 tiba. Tak lama, mulailah acara. Diawali dengan Red Carpet para pemain utama, temu ramah pemain yang dipandu oleh Imam Darto, Bernyanyi lagu Warung Kopi bersama, serta Flash Mob Chicken Dance yang menjadi salah satu ciri khas Warkop DKI.

Tibalah saat yang dinantikan. Penayangan perdana film Warkop DKI reborn. Alangkah beruntungnya kami, mendapat undangan di Auditorium 1 (bersama para aktor dan aktris pendukung), di posisi yang nyaman pula. Tepat dibelakang kami, putra ke-2 Almarhum Dono, sementara puluhan pekerja seni lainnya mulai memadati Auditorium 1.

Sebut saja BCL serta suami, Nino Fernandes, Omesh, Paramitha Rusady, Morgan Oey, Dewi Sandra, Tantri ‘Kotak,’ Miing, Christine Hakim, karina Suwandi, Mieke Amalia, Ari tulang, Tarzan, seluruh aktor dan aktris yang terlibat di film ini beserta keluarga mereka dan banyak lainnya.

Yang paling mengharukan adalah hampir seluruh keluarga besar Dono, Kasino, dan Indro juga hadir disini.

Sebelum film ditayangkan.  Para pemain, sutradara, produser, perwakilan Falcon Pictures dan juga kerabat Dono, Kasino, Indro melakukan stage greeting. Kami pun berkesempatan melihat mereka dari dekat serta mendengar kesan dan pesan mereka.

Akhirnya. Lampu pun dimatikan dan Warkop DKI Reborn siap mengocok perut kita semua. Meskipun ada beberapa adegan yang menurut saya tidak perlu, namun secara keseluruhan film ini sungguh menghibur.

Salah satu adegan favorit saya adalah ketika Trio Warkop ini mengunjungi Paman Dono (Tarzan) dalam rangka meminjam uang. Percakapan serta akting mereka semua sungguh mengundang gelak tawa yang tiada hentinya. Ditambah lagi dengan kehadiran para komika Indonesia, makin mengocok tawa kita.

Abimana, Tora, dan Vino sukses menghidupkan kembali sosok Trio Warkop di era masa kini. Jadi, jangan ragu untuk menyaksikan film ini di bioskop terdekat mulai 8 September 2016.

Ingat.

Tertawalah sebelum tertawa itu dilarang.

Menengok Indonesia Travel Fair 2016

Di Sabtu pagi yang Alhamdulillah cerah itu, akhirnya saya dan Dwi memutuskan untuk menengok Indonesia Travel Fair 2016, yang berlangsung di JCC. Setelah sehari sebelumnya tergoda dengan harga-harga tiket pesawat yang terpampang jelas dalam poster di atas.

Untuk dapat masuk ke dalam area pameran, kita diwajibkan membayar tiket masuk IDR 20.000 atau gratis kalau kita mempunyai kartu kredit keluaran BRI. Mengingat saya dan Dwi mengajukan diri untuk membuat KK BRI on the spot, jadilah kami gratis dapat tiket masuk.

Saat kami memasuki area pameran, terlihat lapang dan ‘agak sepi’ entah karena masih pagi atau memang seperti ini atmosfernya. Sambil berkeliling, kami sibuk tengok kanan kiri, depan belakang, mencari promo tiket, hotel atau trip murah.

Pada akhirnya, yang paling menarik perhatian kami adalah tujuan Pahawang Lampung, Belitung, Bali, Lombok, Pulau Komodo, Cruise ke beberapa negara, dan pastinya UMROH. Kami memang planning untuk umroh tahun depan jadi semoga dimudahkan ya Allah, Aamiin.

Kami pun segera beranjak pergi setelah puas mengelilingi, bertanya, dan mengumpulkan brosur untuk dikemudian hari. Walaupun bisa dibilang kurang puas juga karena tenant yang mengisi pameran, menurut saya hanya sedikit dan kurang beragam.

Dari pengamatan, booth yang dipenuhi pengunjung adalah booth yang menawarkan Air Asia dan City Link. So, goodbye ITF, waiting for GTF di bulan April dan promo Air Asia selanjutnya.

Travelling and Umroh, here we come…

 

 

Gerakan Indonesia Bebas Sampah 2020

21 Februari 2005 pukul 02.00. Timbunan sampah di TPA Leuwigajah, Cimahi, Jawa Barat, longsor dan mengubur 2 kampung dari peta, yaitu Kampung Cilimus dan Kampung Pojok. 157 orang terkubur sementara ratusan lainnya kehilangan keluarga juga harta bendanya.

Oleh karena itu, pada hari Bumi, 5 Juni 2005, Kementerian lingkungan Hidup menetapkan 21 Februari sebagai Hari Peduli Sampah Nasional.

21 Februari 2016, 11 tahun kemudian, terbersitlah sebuah gerakan yang bertajuk “Indonesia bebas sampah 2020” untuk menyebarkan dan meningkatkan kepedulian masyarakat terkait masalah sampah di negeri ini. Harapannya adalah terwujudnya Indonesia yang bebas dari sampah di tahun 2020.

Berbekal rasa peduli kami terhadap masalah sampah di Indonesia, pagi itu, sekitar pukul 6 pagi, saya, Dwi, dan mama bergabung dengan ratusan orang lainnya di Taman Untung Suropati di kawasan menteng untuk ambil bagian dalam gerakan tersebut.

Bersama relawan Turun Tangan, kami melakukan operasi semut memungut sampah, memilahnya, kemudian menukarkan sampah yang berhasil dikumpulkan dengan bibit pohon.

Kemudian, kami bersama-sama bergerak menuju Bundaran Hotel Indonesia untuk menaruh sampah di truk-truk sampah yang sudah disiapkan.

kemudian, kami semua berkumpul untuk mendeklarasikan Indonesia Bebas Sampah 2020 bersama ribuan orang lainnya yang berasal dari hampir semua lapisan masyarakat, secara serentak di Seluruh Indonesia.

Deklarasi Indonesia Bebas Sampah 2020

 

Sebagai upaya menjaga lingkungan demi generasi mendatang yang lebih baik, Kami, masyarakat Indonesia bertekad mewujudkan Indonesia Bebas Sampah 2020.

Kami siap untuk bersama-sama:

 

  1. Mengurangi, memilah, dan meletakkan sampah pada tempatnya.
  2. Mengelola sampah secara bertanggung-jawab.
  3. Aktif berperan serta dalam kegiatan pengelolaan sampah yang diselenggarakan oleh pemerintah.

Rakyat Indonesia, 21 Februari 2016.

 

Mengingat Indonesia sudah darurat sampah, semoga deklarasi ini tidak hanya menjadi deklarasi yang hanya berakhir di bibir saja atau sekadar euforia trending topik di berbagai media sosial belaka. Indonesia bebas sampah 2020 memerlukan aksi nyata dari setiap masyarakat, termasuk saya, agar bisa terwujud.

Saat ini, Indonesia merupakan negara penyumbang sampah plastik ke laut terbanyak kedua di dunia setelah Cina.Kita menghasilkan sampah plastik sebanyak 1 juta plastik per menitnya.

Bayangkan apa jadinya lingkungan hidup bagi anak cucu kita ke depannya jika kita membiarkan permasalahan sampah ini berlalu begitu saja.

Jadi, mari mulai dari diri kita sendiri dengan hal-hal yang terlihat kecil namun bayangkan jika setiap orang melakukannya. Misalnya dengan cara:

  1. Buang sampah pada tempatnya. Kalau tempatnya tidak ada, simpan dululah sampahnya di tas atau kantong pakaian kita. Kalo memang sampahnya basah atau lengket, ya bisa lah diakalin dibungkus pakai tisu baru dibuang kalau sudah menemukan tempat sampah. Terutama kalau naik kendaraan, plis jangan buang sampah dengan cara membuka kaca mobil dan melempar sampahnya ke jalanan.
  2. Tidak usah menggunakan kantong plastik jika barang belanjaan yang kita beli masih bisa masuk di dalam tas atau kantong pakaian. Masa beli coklat 1 masih minta kantong plastik. Pliss deh.
  3. Bawa kantong belanja sendiri dari rumah, misal tas kain atau tas kanvas atau taruh di dalam kardus bekas jika belanja bulanan.
  4. Kurangi minum dari botol kemasan, mulailah bawa botol minum sendiri, kan sekarang banyak tumblr yang kece-kece model dan size nya.
  5. Mulai pilah sampah kita, at least sampah di rumah. Plastik sama plastik, sisa makanan, sayuran dll jadi satu, kertas sama kertas, dll. Abang-abang yang suka mengambil sampah di rumah juga pasti seneng deh ngambilnya.
  6. Tegur orang-orang disekitar kita yang membuang sampah sembarangan.
  7. Ajarkan anak-anak di sekitar kita budaya menjaga kebersihan.
  8. Konsistensi. Ya, harus konsisten. Kuatkan niat. Semua pasti bisa. jangan lengah, “ga papa deh, sekali aja buang sampah di sini, dikit ini.” buang jauh-jauh pikiran itu dari dalam kepala kita. Sekali kita ga konsisten, bakalan tergoda untuk melakukannya lagi.
  9. dan lain sebagainya (isi saja sendiri ya…)

A Well Spent Saturday at Dea Club: Sport, Business, & Leisure

Finally, holiday is coming. Since it is term break in our school, I got a chance to finally do whatever I plan during holiday.

Jadi, ceritanya saya ingin sekali berenang. Sejak operasi sinus, saya belum pernah ‘benar-benar’ berenang. Jadi, semangat sekali rasanya waktu geng Bugar (bukan bundar) menawarkan ide untuk berenang.

FYI, geng ini didirikan karena saya dan teman-teman berniat kurus dan bugar. Biasanya, kegiatan kami sekadar jalan or lari ketka CFD (Car Free Day). Sesekali menyambangi gym, sauna, or swimming pool. Lalu diakhiri dengan wisata kuliner alias makan yang emmbuat olahraga kami tidak berpengaruh tampaknya.

Akhirnya weekend ini saya join mereka buat berenang. Kami memutuskan ke Menara Dea (Dea Tower) di Mega Kuningan. Di lantai 16, ada Dea Club dengan slogannya; Sports, Business & Leisure.

Cukup bermodalkan Rp 50.000 kita bisa sepuasnya berenang di rooftop, berjemur, nge-Gym, bersauna ria, dan mencicipi makanan di Dea café.

Ukuran kolam renangnya memang tidak besar, tapi karena tidak terlalu ramai, cukuplah buat memenuhi hasrat berenang saya dan teman-teman. Selain itu, fasilitas penunjang yang tersedia pun cukup memuaskan.

Tempat bilas yang cukup nyaman, loker yang berukuran besar, kamar ganti dan toilet yang bersih, serta Air hangat untuk bilas juga hairdryer.

Ah, how refreshing. Swimming in a rooftop with the sky as our view. 3 hours of swimming dengan mencoba berbagai gaya, mulai dari gaya bebas, gaya katak, gaya punggung, sampai gaya batu.

Practice how to duck dive teach by our master Dini who already have a diving license. Which is still unsuccessful. For almost 3 hours of swimming, without feeling tired at all.

Continue being in the sauna sambil rumpi ngalor-ngidul about our life and ended with filling our tummy in Domino’s Pizza, Bellagio.

It was definitely a well spent Saturday. Will be coming again to DEA club or even trying other rooftop swimming pool in Jakarta.

Operation Hours:

Sport club :
monday – friday : 06.30 a.m – 08.00 p.m
saturday : 06.30 a.m – 04.00 p.m
Cafe :
monday – friday : 08.00 a.m – 08.00 p.m
saturday : 08.00 a.m – 04.00 p.m

 

 

 

AYO Sehat Indonesiaku: Menjadi Bagian dari Rekor MURI Peserta Yoga Terbanyak

Kali ini, saya dan keluarga berkesempatan mengikuti kegiatan yang diprakarsai oleh AXA Mandiri. Dengan tema AYO Sehat Indonesiaku! AXA mengampanyekan gaya hidup sehat dikalangan masyarakat Indonesia. Salah satunya dengan cara berolahraga senam Yoga.

Tahun 2015 ini, Yoga serentak dilakukan di 3 kota, yaitu Jakarta (di pelataran Monas), Yogyakarta (di pelataran Candi Prambanan) dan di Bali (Tanah Lot). Kegiatan ini akan memecahkan Rekor MURI dengan peserta yoga terbanyak. Dan kami sekeluarga menjadi bagian dari Pemecahan Rekor MURI tersebut.

Tadinya sempat ragu-ragu untuk ikut mengingat saya pernah mendengar adanya Fatwa Haram yang dikeluarkan Majelis Ulama Indonesia (MUI) terhadap Yoga. Tetapi, setelah saya tanya mbah gugel, ternyata saya ketemukan fakta ini:

Pada Tahun 2009:

Forum Ijtima Ulama Komisi III Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) se-Indonesia III mengeluarkan fatwa yang terbagi dua mengenai yoga seperti halnya rokok. Hanya yoga yang mengandung meditasi, murni ritual, dan spiritual agama lain yang hukumnya haram bagi umat Islam.

“Fatwa tersebut dibutuhkan agar umat Islam tidak mencampuradukkan yang hak dengan yang batil,” kata Ketua MUI Pusat Ma’ruf Amin di Padangpanjang, Minggu (25/1). Namun, MUI juga mengeluarkan Fatwa bahwa yoga yang murni olahraga pernapasan untuk kepentingan kesehatan hukumnya mubah (boleh).

Menurut dia, landasan hukum atas fatwa MUI itu adalah Al Quran dalam surat Muhammad ayat 33 yang mengamanatkan orang Islam agar menaati Allah SWT dan Rasul, serta jangan merusak (pahala) amal-amal yang telah diperbuat. Ayat yang mengisyaratkan larangan mencampurkanadukkan yang hak dengan yang batil terdapat dalam Surat Al Baqarah ayat 42.

(sumber: nasional.kompas.com)

Pada Tahun 2014:

Bagi mereka yang muslim, Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengingatkan soal fatwa yoga yang dikeluarkan pada 2009 lalu.

“Ini hasil ijtima ulama komisi fatwa se-Indonesia di Padang panjang Sumatera Barat 2009,” kata Sekretaris Komisi Fatwa MUI Asrorun Niam, Rabu (24/12/2014).

Menurut Niam, ada sejumlah keputusan terkait yoga yang ditelurkan dalam ijtima ulama itu, yakni:

1. Yoga yang murni ritual dan spiritual agama lain, hukum melakukannya bagi orang Islam adalah haram.
2. Yoga yang mengandung meditasi dan mantra atau spiritual dan ritual ajaran agama lain hukumnya haram, sebagai langkah preventif (sadd al-dzari’ah).
3. Yoga yang murni olahraga pernafasan untuk kepentingan kesehatan hukumnya mubah (boleh).

“Olahraga dianjurkan, tapi Umat Islam harus memegang kaidah agama,” tutup dia.

(sumber: news.detik.com)

So, karena saya dan keluarga senam yoga dengan niat MURNI hanya ingin berolahraga, maka saya tarik kesimpulan kalau Yoga dibolehkan alias TIDAK HARAM. Lalu, didaftarkanlah kami semua sama Dta.

Jujur, ini adalah kali pertama saya mengikuti senam Yoga yang sebenarnya. Beberapa kali pernah mengikuti secara otodidak saja, berbekal video dari Youtube atau sekadar gambar-gambar pose yoga.

Jadi, saya excited sekali untuk acara ini. Berangkat Jam 5 pagi dari Bintaro sampai di lokasi jam 6. Saya pikir sudah telat, ternyata masih sepi. Langsung saja kami registrasi dan mencari posisi paling yahud. Tapi tidak dibarisan paling depan mengingat saya masih peyoga amatiran.

yoga axa mandiri (8)yoga axa mandiri (9) yoga axa mandiri (12)Lucunya, sebelum mulai, para MC memberi kesempatan untuk berselfie, “1 2 3 selfieeee” ribuan peserta di 3 kota pun serentak taking selfie. Puas ber- selfie dan -wefie ria, Ronald sebagai MC pun mengingatkan untuk bersiap-siap.

And the Yoga begins!

We did many yoga poses, but only few that I remember the name of, such as down dog, tree, side plank, cobra, tortoise and apa lagi ya.

Kalau mau lihat videonya ada di bawah ini:

For the yoga poses, here are some of, I think.

At the end, we feel refreshed. Bagaimana tidak, kami ber yoga ria selama 1 jam tanpa henti. Secara pribadi, saya jatuh cinta sama olahraga ini.

Secara gerakannya dilakukan perlahan-lahan dan lebih seperti stretching, namun keringat dan rasa lelahnya bisa dibilang hampir sama seperti kita habis lari atau aerobik. So, I indeed love it!

Discovering Food in Market Museum: Surprise Kitchen Vol. 2 At Lippo Mall Kemang

For you who don’t know about Market Museum. It is Thematic market for young entrepreneurs!

And here I am, in their event called Surprise Kitchen Vol.2 at Lippo Mall Kemang. I have never been to Kemang Village  also to Market & Museum. So, when my dear cousin * Dta * told me about it and asked me to go with her * in the end, we went with our family. My uncle, aunty, and my mom * I was like, whoaaaa, so excited.

My first impression of this event was like. Oh My God. I’m so dead. RIP DIET * although I’m not really on diet * Can you imagine, food and drinks everywhere. Not just ordinary one. A cute, unique, luscious, yummy food all over the place. Deep down in my heart, I kept praying, “Dear God, phewlisss… don’t let my tummy be greedy today.” But hey, I can keep on prayer, but the reality has been really harsh to me. God know how much I gain more weight that day.

So, we started by taking our picture * off course we are. The social media are waiting for our upload. hehehe * Pose here and there. And then off we go.. to Discovering food * this is my former little student slogan every time she want to tried eating new food or drinks during Snack Time *

And the journey of discovering food begun. The crowd is amazing. They all craving for food and drinks * we are included *

(Photo credit: marketmuseum instagram)

We made a round trip first and marks which one we’re gonna try. We were like, “Aah that is so cute. Aah this one looks yummy. I want that one. This one too. How about that one over there? Let’s see that. Here, here too. Ooowhh Me, want it want it. Definitely going to buy that.” By the time we finished our trip, we can not decided which one we are going to buy first * hahaha *. So, we went outside to see what’s on the food truck. Although it is really not helping since they all sell food too * another hahaha, poor us *

Finally we decided to taste the sweet ice cream roll from zibbibo. The making process and the outlook of the end product really catch our eyes. Mine was vanilla ice cream with strawberry and peach while Dta’s was chocolate ice cream with ovomaltine. Yummy to the bone. Ice cream is always the best!

Next, we grabbed some soft, sweet, and luscious pannacotta from the jeyoux bakes.

Refreshing thai tea and coffee tea from addictea.

Healthy plant based milk, the almond milk from au lait.

Lidi with double spicy and cheese flavor from lidi geli.

Crunchy and yummy yakitori.

V-cone shape with vanilla and chocolate ice cream filling from the one and only seoul cane ice cream from yi.kon.

Mie yamin fresh from Baim Wong * he, himself, literally serve us with the yamin * mie & you. And there Dta, standing next to Pevita Pearce with Baim Wong serve the Yamin for both of them * wow, what a sight. Dta is as pretty as Pevita, if you ask me *

Delicious nachos tutup merah with salsa and cheese sauce.

End it with kebab from the kebab wagen food truck. Yumm…

And the journey end…

We leaved with happy tummy. Thank you Market Museum for hosting such an event. Will be waiting for your next event.

 

 

 

[IFW 2015] “Andalucia Belezza” by Irna La Perle

Indonesia Fashion Week 2015, Day 3

Irna La Perle!

When I saw the Fashion Show line up on the IFW 2015 schedule, Irna La Perle quickly got my attention. I love almost all collection from this brand. Keep following their update on the website, instagram, even stalked the designer instagram. Which none other than Irna Mutiara.

Irna Mutiara dalam bukunya “Hijrah Story” secara tersirat mengatakan bahwa Irna La Perle ini muncul karena keinginannya membuat baju pengantin muslimah yang syar’i (sesuai kaidah yang diajarkan agama Islam).

Ketika banyak orang bertanya-tanya mengapa brand-nya memakai bahasa Perancis, mba Irna menjawab dalam bukunya “bukan karena tidak cinta Indonesia tetapi karena kota mode di Paris, Perancis dan kami ingin busana pengantin ini disukai oleh muslimah di seluruh dunia.” Well, I hope her dreams will come true.

Dari sekian banyak perancang busana muslimah, bisa dibilang, Irna Mutiara satu-satunya perancang busana pengantin muslimah yang syar’i namun tetap indah, mewah, dan elegan.

Dengan ukurannya yang tidak ketat di tubuh, penggunaan bahan yang flowy dan teknik layering menjadi signature Irna la perle. Koleksi baju pengantinnya mengingatkan saya pada pakaian para putri-putri dalam buku cerita anak-anak. Hanya saja, putri-putri tersebut memakai hijab.

So, how come I am not curious and excited o watch the show. After all, this is the first time for me to see the collection on the runway.

Koleksi Irna La perle kali ini terinspirasi dari sebuah daerah yang bernama Andalusia.  Andalusia adalah sebuah daerah otonomi di Spanyol dimana pengaruh budaya Islam masih tampak pada bangunan arsitekturnya, seperti Alhambra di Granada dan Mezquita di Cordoba.

Ah, Do I love Irna La Perle? (Kim Tan style). Love the espanola influence mix with Indonesian and off course Islam. Really want to have one of the collections as my wedding gown.

Another standing applause for Irna Mutiara. So grateful that I could congratulate her in person and even took a picture with her. Thanks God, I was not freezing, trembling and speechless in front of her like the day before (read here).

[IFW 2015] “Aku dan Sophie: Colors of Summer” by Sophie Paris

Indonesia Fashion Week 2015, Day 3.

I kinda hesitated, at first, to visit the Indonesia fashion Week 2015, for the 3rd time in a row. Not because it was not interesting enough, but more because I felt kinda exhausted. The weekdays were quite crazy. Somehow worked in that week felt much tougher than usual.

But then it hit me again, it is Sophie Paris and Irna La Perle Fashion Show that I will be attending. THE Sophie Paris and THE Irna La Perle which I adore so much. Plus, I already asked my aunty to join us (me and Mom) and she was so excited  (she had some of  sophie paris products at hand). So, I will feel guilty over her.

Then it decided. Let’s Go!

At the venue, we almost late. At least, we thought so. Thanks God, the show was kind of delayed. It means, we’re definitely safe. Inside the main stage, it was very full.

I think it is because there will be 2 show in a row. 1st is from Sophie Paris and 2nd is from Irna La Perle. So it was not a surprise. Not to mention, this is the first time, ever, Sophie Paris had their Fashion Show at Indonesia Fashion Week.

Then it’s all start…

The background picture and music made us felt like we were in Paris. It was summer in Paris, to be exact. Then, one by one, fresh, bright, young, and colorful outfit shown to the audience.

464777838

Okay, I can definitely wear this with my hijab. (Photo credit: as tagged)

464777808

This one is my aunty’s favorite. Decided to buy it. Definitely wearable for hijaber like us. (Photo credit: as tagged)

Then here comes the end of the show. I guess, after the show, some of the audience will jump aboard to their booth. Since they kindly share goodie bag with a catalog, beautiful flowery pouch, and a voucher inside.

Happy shopping!

[IFW 2015] “Miracle of The Sun” by Irna Mutiara and SMK NU Banat Kudus

Indonesia Fashion Week 2015, Day 2

This is one of the fashion show that I’ve been waiting for. Why? Because I am a huge fans of Irna Mutiara as designer and also as a person herself.

Sudah lama sekali saya menyukai karya-karya mba Irna Mutiara dengan brand-nya Irna La Perle. Karya yang dihasilkan mba Irna selalu terlihat elegan, anggun, flowy, and soft. It just so beautiful.

So when Dwi told me she got the invitation for her show, I was like, “Oh my gosh. Kyaaaa…. Mba Irna. The brain behind Irna La Perle. Kyaaaa..” and Dwi just stunned with my reaction. She didn’t know my love for her before.

Jadi, kali ini, Irna Mutiara berkolaborasi dengan anak-anak SMK NU Banat Kudus program Tata Busana dengan didukung penuh oleh Djarum Bakti Pendidikan menampilkan 45 busana muslim yang bergaya syar’i.

Mba Irna sendiri dalam instagramnya menyatakan bahwa rancangannya kali ini menampilkan busana muslim yang syar’i namun berbeda dengan yang sudah banyak di pasaran.

Ia ingin mempresentasikam sesuatu yang sesuai dengan kaidah tapi memiliki unsur kebaruan, berkesan elegan melambangkan Islam yang luhur, menghindari pakaian yang akan menimbulkan cemooh (pertentangan), berbahan sesuai kaidah (tidak mencetak badan, tidak tipis), dan merupakan pakaian yang tidak mubadzir dalam hal ini wearable, bisa dipake dalam keseharian.

A kind woman offered to take our photograph while waiting for the show.

A kind woman offered to take our photograph while waiting for the show.

Jadi, tema fashion show mba Irna ini adalah “Miracle of the Sun.” Fortunately, I sat in the third row, so it will definitely spoils my beautiful eyes. Even though the show was delayed almost an hour (even the press a little bit annoyed by the delayed time (guessed from noises they made) but, I guess all the feeling is gone out the window right after the music in the background started to sound and first 3 models walk out in the runway.

The first 3 models that make us fascinated. (photo credit: http://www.vemale.com)

I was like, “Oh My Gosh, Subhanallah… they were beautiful.” I mean whole package. The music, the lights, the story, the background picture, the clothes, the shoes, the accessories, the choreography.

Bisa dibilang saya, Dwi, dan mama terdiam membisu, speechless. Bagus banget, keren banget, indah banget! Bajunya kece badaiiii!!

Kisah ini dimulai ketika sang fajar datang hingga malam menjelang. It really is a “Miracle of the Sun.” the theme really did do the justice.

(Photo credit: m.liputan6.com)

(Photo credit: wolipop.detik.com)

After a long minutes fascinated by the show. Then we started to pour what we had in mind about the show. I told Dwi that I felt like watching some kind of fairy tale or even a movie (it actually reminds me a lot of Lord of The Ring).

Saya merasa sedang berada di sebuah negeri peri. Di awal, peri-peri nan ‘ayu’ dan rapuh memperlihatkan diri mereka, seakan-akan mereka hendak mulai keluar di saat pagi menjelang.

Kemudian, saat mentari makin tinggi, semakin bermunculan peri-peri dengan penuh kesegaran dan keceriaan, yang terwakili dengan pakaian mereka yang bernuansa kekuningan.

(photo credit: http://possore.com)

(Photo credit: m.liputan6.com)

Lalu, saat mentari bersembunyi dibalik gelapnya malam, giliran para peri yang kuat dan berani bermunculan, menguasai saat malam. They really did look like some kind of fairy that so strong, brave, and fierce that actually can protect all the other fairy.

(Photo credit: www.lintas.me.com)

Just look at how they positioned themselves at the almost end of the show. They stood there on each side. It was like guarding all the other fairy safely.

(Photo credit: www.lintas.me.com)

IFW 2015 - day 2 (25)

End of the show.

IFW 2015 - day 2 (28)

The brain behind the amazingly stunningly incredibly beautiful show. Irna Mutiara and anak-anak SMK NU Banat Kudus.

And, all the applause for them. For me, it was absolutely standing applause. Saya rasa, apa yang ingin direpresentasikan oleh mba Irna terwujud sudah. Saya juga merasa, setelah menyaksikan show ini, banyak muslimah tergerak hatinya untuk mulai berbusana lebih syar’i. Because, we definitely will look more gorgeous with these kinds of clothes.

It really is the miracle (I wonder how many times I’ve said this before). Keterlambatan selama hampir selama 1 jam terbayar sudah. What a perfect show.

And lastly, we had a very rare chance to congratulate mba Irna. Dwi dan mama malah sempat cipika-cipiki plus foto bareng.

While me, I am stunned, freezed and trembling when I actually met her in person. I couldn’t even utter some word from my own mouth. That showed how much I like her then. See you later in Irna La perle Fashion Show ya mba Irna.

[IFW 2015] “The Executive” by The Executive Collaboration With Hannie Hananto, Ria Miranda, and Jenahara

Indonesia Fashion Week 2015, Day 2

(Photo credit: http://www.tempo.co)

Melanjutkan cerita dari postingan Waiting For Indonesia Fashion Week 2015 dan Indonesia Fashion Week 2015: D-Day . Saya dan Dwi serta mama dapat kesempatan untuk menyaksikan Fashion Show karya 3 desainer muda Indonesia, yaitu Hanie Hananto, Ria Miranda, dan Jenahara yang berkolaborasi dengan The Executive.

Kami excited sekali sampai-sampai kami sudah planning jauh-jauh hari how to dress up and how to get there, fast. Maklum saja, waktu antara mulainya fashion show dengan berakhirnya jam kerja kami sangat mepet.

So, we are carefully think how to manage our time so we won’t be late. Yah, tapi benar kata orang tua, “Kita boleh berencana tapi Allah juga yang menentukan.”

Saat D-Day, rencana kami buyar semua. Betapa tidak, di hari yang sama, di sekolah kami diwajibkan memakai pakaian Local Brand. Belum cukup, ditambah dengan adanya sesi pemotretan untuk Buku Tahunan yang mewajibkan kami memakai kostum favorit (kebayang donk gembolan yang kami bawa seperti apa.)

Last but not least, Setelah school hours, Professional Development about Teamwork and Meeting for Field Trip pun sudah menanti. What an unpredictable full day.

Alhasil, rencana kami pun terbang jauh out of the window. Kami pun tak sempat touch up apalagi dress up. We just hope, we can get out of the school ASAP. Not to mention, saya lapar tingkat dewa.

Anyway, Allah Maha Baik. Kami langsung dapat Taxi (biasanya kalau almost weekend gini susah dapetnya) dan lalu-lintas tidak sepadat biasanya. Sampai di lokasi, kami bertemu dengan mama yang memang sudah sampai di JCC.

Dengan penampilan yang seadanya dan tampang lusuh tak terkira, kami pun dengan FULL CONFIDENCE memasuki venue IFW 2015. Sambil menengok jam di tangan, kami melangkahkan kaki secepat kilat menuju Main Stage which is quite far from the front gate. Sampai di sana, eng ing eng, waktu Fashion Show mundur lebih kurang 1 jam.

Sejam menunggu (lumayan untuk bernarsis ria, either selfie or wefie or candid shot) akhirnya, fashion show dimulai juga. The gate is open. Penuh, sampai-sampai dorong-dorongan sudah seperti mau menonton konser saja. Seperti takut tidak kebagian tempat duduk.

IFW 2015 - day 2 (1)

Finally, the show started.

The Executive x Hannie Hananto

Sepertinya, koleksi Hannie Hananto ini cocok sekali dengan image The Executive yang dikenal luas sebagai brand untuk “orang kantoran.’ Saat satu-persatu peragawati berlenggak-lenggok di atas runway, saya benar-benar bisa membayangkan kalau busana itu dipakai bekerja, baik kalangan eksekutif muda maupun pekerja kantoran biasa.

Ciri khas Hannie Hananto (beliau berlatar belakang arsitek) adalah monochrome, black and white, bold, and clean cut. Benar-benar elegan dan sophisticated. I can even imagine myself wearing one of those clothes.

Definitely my favorite. (Photo credit: www.tribunnews.com)

(Photo credit: http://tribunnews.com)

The Executive x Ria Miranda

IFW 2015 - day 2 (9)

Warna-warna pastel dan feminim yang terkesan shabbychic memang menjadi signature dari Ria Miranda. Tidak terkecuali dengan koleksinya kali ini.

Suka sekali dengan earthy feeling dari koleksi Ria Miranda with The Executive.

The Executive x Jenahara

IFW 2015 - day 2 (10)

Koleksi jenahara yang terkenal muda dan edgy juga terlihat dalam koleksinya untuk The Executive. Saya bisa membayangkan para wanita muda, pekerja, yang ingin tampil muda, dinamis, dan stylish tapi tetap professional memakai busana karya Jenahara ini.

(Photo credit: http://tribunnews.com)

Setelah acara selesai, kami pun tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk berfoto di atas runway. Sayang sekali kami tidak sempat menyelamati ketiga desainer kebanggaan dunia muslim Indonesia tersebut. Walaupun akhirnya ketemu juga di booth mereka masing-masing.

Kalau ditanya koleksi siapa yang paling membekas di hati saya. Jujur, no offense (ini cuma masalah preferensi tiap orang yang beda saja), saya super in love with Hannie Hananto collection.

I mean, I can imagine myself wearing those clothes, walk around the office, proudly, fierce, and act like a boss. Although, Ria Miranda and Jenahara will be best fitted also in another kind of office and another occasion.

Lastly, I am wondering if all these collection will be available in The Executive store around Indonesia. I should really save some money to grab one of those in the near future.

Indonesia Fashion Week 2015: D-Day

So, as I post before, I will share about my experiences throughout Indonesia Fashion Week 2015. Amazingly, for this 4 days event, I came 3 days in a row, day 1 until day 3.

Indonesia Fashion Week, Day 1

I am pretty much not enjoy it. Not because of the event, but mostly because I went there with a friend after our long working hours.

Not to mention, the venue was quite far from our office (or may I say school, since I am a teacher). Even when we took a cab and the traffic are quite friendly (it was bad, but not as bad as other day other hours).

The front gate of the venue. (photo credit: http://berita.maiwanews.com).

When we arrived, I was quite surprise, the venue is not as crowd as I imagined it would be. It indeed full of fashion people but exhibition hall and booth were quite spacious, which is good, so we can freely do a window shopping. I think it was due to the fact that it was a 1st day and already night time.

First thing to do was to find Hannie Hananto booth called Anemone to get our invitation for The Executive fashion show. Then we excitedly looked around.

Oh my gosh… speechless…

I was almost cry (too exagerated). Too many beautiful clothes, shoes, bag, jewellry, accesories, dress, abaya, veil, sandals and many more.

And most of them are LOCAL BRAND which means The Brands is Made In Indonesia. Can you imagine, the website did their justice by saying 700 more local brands joined this event.

The exhibition hall. Photo credit: http://www.satuharapan.com)

If you are a fashion lover, fashionista, fashion people, fashion blogger, or simply people who love to wear locals product then this is it. The most perfect event to attend.

You can spoils your eyes or even your closet at home with brands from newbie designer to very famous designer here in Indonesia. Just name it, Ivan Gunawan, Deden Siswanto, Poppy Darsono, Lulu Lutfilabibi, Dian Pelangi, Irna Mutiara and many more.

To add more, you can met themselves, THE Designer at their booth. Also you can just walk across lots of Fashion Blogger.

I, well, we could not take it any longer. We suddenly get dizzy (literally) after a few sightseeing, and trust me we just strolled for maybe an hour. Not because it was not to our liking, but it was because I couldn’t help myself, my heart, body, and soul to just grab them all and brought them all to my closet at home.

So, rather than stayed and strolled some more, we decided to go home and buried our desire deep inside. With a mission in mind, “I’ll BE BACK.”

Waiting For Indonesia Fashion Week 2015

Indonesia Fashion Week is one of the event that I’ve been waiting for. Why? Because I love the main idea of this event which is to make Indonesia as one of the world’s center for fashion. Who knows maybe one day, Indonesia will be as Famous as France, Italy, America, or Japan in terms of fashion.

This event will features 2,522 outfits from 747 Indonesian and international brands (including from Japan, Korea, India, and Australia) and 32 fashion shows on two runways. Among Indonesia’s top designers showcasing their masterpieces are: Poppy Dharsono, Anne Avantie, Lenny Agustin, Bintang Mira, Itang Yunasz, and Ivan Gunawan.

This 4 days event will surely satisfied me. But, that can only happened if I attend the whole 4 days. Too bad, reality won’t let me. Got some works to do. Must collects some money to spent for this event. Well, at least, 2 days is on my plate. Hopefully enough to feed my passion in fashion.

Other than designer mention above, I actually eager to see some collections from Moslem Fashion designers, such as Hannie Hananto, Jenahara, Ria Miranda, Nuniek Mawardi, Missmarina, Vivi Zubedi, Rani Hatta, and my favorite one, Irna Mutiara.

Ria Miranda with her shabbychic style.

Jenahara.

I wish to see their fashion show in 4 more days. But, I guess I have to be satisfied with only 2 shows from The Executive (Hannie HanantoJenahara Ria Miranda) and Irna Mutiara. Unfortunately I was late to get invitation for Moshaic by Itang Yunasz, Andalusia Belezza by Irna La Perle also L’officiel FASHION FIRST feat Ek Thongprasert, Lulu Lutfi Labibi, and etc. I guess, I just need to visit their booth to fullfill my eagerness.

Now, let’s count down to the D-Day. I’ll share my experience in this event right after it ended (hopefully the paperworks won’t be too pile up by the end of the week).

HighScope 5k Fun Run

Just a little throwback. Since I love some challenge. I was kind of excited when a friend asked me to join this highscope fun run.

At first, I was think, 5k? hm… could I get through the finish line. Well, I’m not as strong as I was. But hey, what is to be afraid of. Even my doctor told me to do some sports at least thrice a week, which I rarely done it.

Here is the route.

So, there we were, planned to run along the way. I convinced my cousin, Dhila, to join me.

Ok, dengan bermodalkan semangat 45. Saya yang pede bakal kuat lari 5k, secara setiap hari salah satu kerjaannya adalah berlari bersama balita, ternyata….

1 km pertama, saya dan dhila berlari dengan penuh semangat namun tidak terlalu cepat. Menuju km 2, napas mulai terengah-engah tapi semangat masih membara.

Sampai saya liat Dhila memperlambat larinya, ngos-ngosan, dan mulai memucat wajahnya. Ckckckckc, anak jaman sekarang, fisiknya tidak sekuat anak jaman dulu (FYI, dhila masih SMP). Wajah memutih, bibir mulai membiru, dan napas memburu.

Menuju km 3, kami putuskan untuk berhenti berlari daripada anak orang pingsan. Kamipun berjalan perlahan mengatur napas. Menuju km 4, kami tambah kecepatan kaki kami walaupun intinya masih jalan juga.

Menuju km 5, Semangat kembali membara, Dhila pun sudah jauh membaik, maka perlahan-lahan tapi  pasti, mulailah kami berlari menuju garis finish.

Finally, we did it! yeay!

And here she was, catches her breath after struggled for almost an hour. Well, at least she can smile now.

Trienal Seni Patung Indonesia #2 “Versi”

Ini kali kedua saya menyambangi GalNas alias Galeri Nasional dalam rangka menikmati karya seni setelah puas menikmati Jakarta ceramics biennale. Waktu itu, saya melihat beritanya di website resmi GalNas.

Pameran Seni patung Indonesia ini bisa dilihat dari tanggal 22 Oktober 2014 sampai dengan 10 November 2014. Ada 53 perupa Indonesia yang turut berpartisipasi dalam pameran ini.

Akhirnya, tanpa planning yang matang, Jumat kemarin, kami melaju menuju GalNas dengan memanfaatkan transportasi Commuter Line dan Bajaj.

Sampai di lokasi, malam sudah mulai menjelang. Mengingat waktu pameran yang hanya sampai pukul 19.00, jadilah kami terburu-buru masuk ke dalam galeri.

Wow! is my first reaction when I started to explore the exhibition.

Why? karena ketika masuk, kami langsung disambut oleh pemandangan seekor kuda putih yang bagian depan tubuhnya tertutup tumpukan pakaian.

Trienial Seni Patung Indonesia (21)Setelah puas memandangi the horse ass, mata saya tertuju pada sebuah objek bercorak hitam putih (secara saya suka sekali klub juventus dengan motif hitam putihnya) yang ternyata berjudul “melihat lebih dalam.”

Well, I did as it told me to, “looking at it more deeper.”

Trienial Seni Patung Indonesia (19)Semakin ke dalam, semakin saya terpana dengan hasil karya seni perupa kita. Terutama sebuah “bola besar” berwarna kuning terang yang berada di tengah galeri. Bak selebriti, bola tersebut menjadi pusat perhatian dan juga infamous spot for taking selfie.

Trienial Seni Patung Indonesia (25)Trienial Seni Patung Indonesia (24)So, I am kind of hoping this (Volkswagen) VW beetle in front of me turn into bumblebee, the small autoBot in the transformer.

Do you know that, VW beetle IS the original form of bumblebee? Not the chevy Camero we know now from the movie. Well, I kind of miss the old bumblebee VW beetle.

Anyway, this is VW bola, bug Volkswagen buatan tahun 1953 karya Ichwan Noor. Meskipun bentuknya bola, kita pasti langsung ‘ngeh’ kalo itu Mobil VW kodok.

I am still wondering, curious, on how VW became completely smooth sphere like a ball.

Move on to other object. This one is kind of my favorite. Took some time just standing there and gazed at it. I’m feeling myself in there. Judulnya ‘Sepi Yang Membunuh’ karya Djoni Basri.

Trienial Seni Patung Indonesia (20)Trienial Seni Patung Indonesia (3)Lanjut ke seni rupa berbahan dasar logam.

Love the quote, “Only a life lived for others is a life worthwhile.” I couldn’t agree more.

Trienial Seni Patung Indonesia (22) Trienial Seni Patung Indonesia (4)And, finally, another infamous spot for taking picture. It’s okay to be mainstream, so I decided to line up waiting for my turn. If only I had wings, it would be like this? maybe.

Trienial Seni Patung Indonesia (17)

Giliran pun tiba, saya tarik napas dalam-dalam, menutup mata, membayangkan kedua sayap yang selama ini tersembunyi di balik pakaian, perlahan-lahan memaksa keluar dan muncul dengan megahnya. What a beautiful sight.

Sayup-sayup saya seperti mendengar suara Miyamoto Sunichi  menyanyikan True Light (lagu soundtrack anime berjudul D.N. Angel)

Kanashii hodo hikaridashita shiroi yami kirisaku tsubasa ni nare

Become as wings that outshine your sadness, cutting through the white darkness.

 

Somehow, it reminds me also of Asian Kung-Fu Generation ‘After dark’ music video.

After the infamous, here are some other that I’m quite love.

Trienial Seni Patung Indonesia (10)Trienial Seni Patung Indonesia (1)Trienial Seni Patung Indonesia (15) Trienial Seni Patung Indonesia (8)

Trienial Seni Patung Indonesia (11)Somehow, I felt sad when I look at this. Keluar keinginan untuk menemaninya dan sekadar menghiburnya (disclaimer: I DIDN’T TOUCH THE ARTWORKS. Cuma angle-nya saja yang membuat saya seolah-olah menyentuh ‘dia’)

Trienial Seni Patung Indonesia (14)Last but not least… sebelum mengakhiri kunjungan kali ini…

Trienial Seni Patung Indonesia (28)Puas sudah kami menjelajahi galnas. Nikmat sudah menatap karya seni dari 53 perupa. Waktu makan malam pun tiba. Lanjutlah kami, menemui abang bajaj yang sudah siap menanti sedari tadi menuju Djakarta Cafe.

Freedom for Orangutans

There was saying that “we can see the greatness of a country by seeing how they treated their animals.” If that is so, then what happen with my country? My country is great in every way. It is. But in this kinds of animal things or even nature, we still need to improve, A LOT.

One of concerns that’s been playing in my mind is orangutan. I used to learn about them during my college day. We did some activity and also observation on how they lived in their habitat, which is Gunung Halimun-Salak National Park. The view of them living happily in their habitat with their families was an unforgettable experiences.

A century ago there were probably more than 230,000 orangutans in total, but the Bornean orangutan is now estimated to number about 41,000 (Endangered) and the Sumatran about 7,500 (Critically Endangered). How sad.

So now, the question is, “WHAT CAN WE DO?”

Are we going to sat down and just watch them extinct over the time? 

Are we going to adopt them and bring them home as a PET?

Are we going to shut our eyes and ear to every news about them?

For me, the answer is a BIG NO!

As a start, by doing a little thing, such as attended Sound For Orangutan organized by COP (Center for Orangutan Protection (COP) and donate to support their rehabilitation center. The center starts to built in September. It located in Labanan, North Kalimantan and has 7.900 hectares of forest.

Sound for Orangutan adalah konser amal dan edukasi tentang orangutan yang digelar oleh Centre for Orangutan Protection (COP) setiap satu tahun sekali. 100% Dana yang dihasilkan dari Sound for Orangutan akan dikelola oleh COP untuk kepentingan orangutan yang menjadi korban kekejaman dan kejahatan.

Sound for Orangutan adalah kombinasi yang unik, antara musik, pameran, dan juga penyadartahuan tentang orangutan dan habitatnya.

What is COP aka centre for Orangutan Protection? COP was formed in 2007 by Hardi Baktiantoro, specifically to tackle the cause of the deforestation and the deaths of tens of thousands of orangutans. COP is the only all-Indonesian group of  its kind to take on these issues. 

Address:
Centre for Orangutan Protection
WTC II Lt. 18 Jl. Jend. Sudirman Kav. 29 Jakarta 12920
email: info@orangutanprotection.com

Website:
http://www.orangutanprotection.com
http://www.sound4orangutan.com

Facebook:
Centre for Orangutan Protection
SoundForOrangutan

Twitter:
orangutan_COP
sound4orangutan
Instagram:
sound4orangutan

The 3rd Jakarta Contemporary Ceramics Biennale

Ini merupakan salah satu event yang sudah saya tunggu-tunggu. Berbekal surfing di dunia maya, I finally found info about it.

Been waiting for almost a month. Been bookmarking their website and stalked their instagram just to get the latest update.

And here I am, the day finally came when I can feed my sight with so many beautiful and impresive art based on ceramics.

Jakarta Contemporary Ceramics Biennale atau disingkat JCCB ini adalah event tahunan yang diadakan untuk ketiga kalinya di Jakarta. Bertempat di Galeri Nasional yang berada tepat di depan stasiun Gambir.

Untuk menuju lokasi galeri ini terbilang cukup mudah. Saya pribadi menggunakan transportasi umum. Tentunya setelah saya bertanya kepada mbah google maps.

Saya memulai perjalanan dengan naik motor hingga ke stasiun Sudimara. Dari Sudimara naik kereta api jurusan Parung Panjang – Tanah Abang. Lalu lanjut naik bajaj seharga 25 ribu rupiah.

Excited sekali untuk naik bajaj, setelah sekian lama, sampai-sampai tidak menawar lagi. Dan, sampailah kami di Galeri Nasional.

Sampai disana, rasanya familiar ya. Ternyata eh ternyata, saya pernah kesini saat jaman SMA dahulu kala. Waktu itu saya dan beberapa teman mewakili sekolah SMUN 70 Jakarta untuk mengikuti semacam seminar yang pembicaranya waktu itu adalah Ibu Khofifah Indar Parawansa.

Sesampainya di galnas, kami langsung menuju TKP. Ah, betapa senangnya saya, galeri tampak sepi. Mungkin karena hari selasa itu hari kerja plus kami datang sekitar jam 11 an.

Kenapa senang? Jadi kami bisa menikmati setiap hasil karya seni dengan santai dan tenang, tanpa berdesakan atau banyak yang menyela sekadar untuk take a selfie.

Sungguh tidak sabar ingin segera masuk ke dalam. Tapi, kita harus mengisi buku tamu terlebih dahulu dan menitipkan tas atau jaket. Agak kaget karena kami tidak ada persiapan membawa tas kecil untuk menaruh hp, kamera, dan dompet.

Tapi, ketika sudah masuk, kami sadar kenapa harus dititip. Selain mencegah pencurian, yang paling penting adalah, supaya kita bebas bergerak tanpa takut menyentuh atau menyenggol barang yang dipamerkan.

Ingat, semuanya terbuat dari keramik alias barang pecah belah. Pecah berarti mengganti. Hiiiy sereeem, berapa coba harga sebuah karya seni. Kalau barang pecah belah di mall saja mahal apalagi disini.

Begitu masuk, kami di sambut oleh tulisan JAVA yang terbuat dari kotak-kotak berisi patung logam berbentuk kepala dan tumpukan kepala yang terbuat dari tanah liat. What an art from Dadang Christanto.

Lanjut ke dalam galeri. Mata saya terpana dengan hasil karya Yoichiro Kamei. Ia terkenal melalui karya instalasi keramik yang terstruktur secara rapi. Tipikal jepang. Detail dan presisi. Keren abis.

“Lattice receptacle” yang terbuat dari porcelain.

Puas melihat dari dekat bagaimana kubus-kubus itu menyatu menjadi karya yang sangat indah. Kami menjelajah lebih ke dalam.

Below is the one from Arghya Dhyaksa Nindita. This is very popular spot for taking selfie. I have to wait quite long time just to get my turn.

Yang menarik adalah karyanya yang unik. Coba saja baca tulisan yang ada disana. “Get whale soon. Notice me senpaii. Placard. Merokok membunuhmu. Born to be.  Obat wc. Bugil tapi sopan. Crows zero.”

Another famous spot for taking selfie is this one from Geoffrey Tjakra. So many beautiful ocarina arranged into circle shape.

Tergoda untuk mencoba meniup ocarina-nya, tetapi pasti tidak boleh. Sayang sekali kami tidak sempat ikut workshop yang bersama sang Geoffrey.

Oiya, di galeri ini juga ada orang yang selalu menjaga dan mengingatkan kita untuk berhati-hati. Jika kebetulan pergi sendiri, mereka juga bisa dimintai tolong untuk menjadi tukang foto dadakan. Kalau saya sih, untungnya membawa fotografer pribadi alias mama tercinta.

jccb3 (39)Karya di bawah ini, gabungan antara art and technology. Tangan saya sungguh gatal untuk memencet tombol-tombol itu sekadar untuk mendengar alunan suara dari sendok yang menyentuh cangkir keramik.

Interesting. Can you believe that the one who made this installation is a young man from Indonesia. I’m so proud, man!

Beberapa karya yang lain.

Nah, kalo yang ini, sungguh menyentuh saya. Entah kenapa. Art yang dibalut teknologi. Flood of tears dan Untitled #13

jccb3 (23)Before my teary eyes turns into completely cried eyes, I better move away and enjoy another piece of arts.

Jak-Japan Matsuri 2014

 

Akhirnya, saya berkesempatan juga menyambangi event jepang yang cukup terkenal ini, Jak-Japan Matsuri 2014. Setelah 5 kali event ini diadakan, baru di yang ke-6 ini saya bisa hadir. Senang dan excited bukan main rasanya. Maklum, saya ini salah satu pecinta Jepang. Bukan berarti saya tidak cinta Indonesia loh. Indonesia still number one.

Apa sih JJM alias Jak-Japan Matsuri? bagi kalian yang belum tahu, JJM itu diawali pada tahun 2008 bertepatan dengan diselenggarakannya event peringatan 50 tahun hubungan diplomatik Indonesia-Jepang. Pada saat itu ada pemikiran bagaimana agar nyala api persahabatan yang berkobar selama ini dapat terus terjaga dengan baik.

Dari niat tersebut berkumpullah warga Jepang yang mencintai Indonesia diikuti dengan munculnya simpati dari warga ibu kota Jakarta dan pemerintah DKI Jakarta, sehingga dengan berpijak pada persahabatan yang telah terbina selama 50 tahun lalu itu, lahirlah ”Jak-Japan Matsuri” yang di dalamnya terkandung harapan bahwa sekalipun zaman berubah namun kizuna, ikatan persahabatan kedua negara, akan semakin lebih luas dan kuat. (Sumber: http://www.id.emb-japan.go.jp).

Nah, tema Jak-Japan Matsuri tahun ini adalah INDONESIA-JAPAN ONE TEAM, maju bersama sambil bergandeng tangan. Dan, baru pertama kali ini pulalah, acara penutupan Jak-japan matsuri bertempat di Parkir Timur Senayan setelah selama 5 tahun ke belakang selalu diadakan di Monas. Jak-Japan Matsuri ini berlangsung dari tanggal 14-21 September 2014. Unfortunately, saya cuma bisa ikutan di hari penutupannya saja.

Siang itu, saya, Dwi, dan mama sengaja bela-belain datang pagi supaya lebih puas, alias bisa berkelilling sampai kaki pegel. Berangkat dengan naik kereta dan disambung dengan taksi, maka sampailah kami dengan sangat cepat di lokasi kejadian.

Benar saja, saking paginya, sampai-sampai pintu belum dibuka. Degan tiket seharga 30 ribu/ orang yang sudah berada di tangan, kami pun mengantri dengan sabarnya.

Ting Tong! tepat pukul 9.45 pagi, persis seperti yang tertera dalam jadwal acara, pintu pun dibuka. Bener-bener on time. Tidak heran orang jepang terkenal akan kedisiplinannya.

Masuklah kami ke lokasi dengan sebuah kipas di tangan yang dibagikan di pintu masuk. Lumayan juga dapat kipas mengingat panasnya udara kala itu.

Karena suasana tidak terlalu ramai, maka kami putuskan untuk menuju panggung utama dan menikmati pertunjukan disana. Tidak disangka, saya takjub dan terkesima, keren bingits kalo kata anak sekarang mah. Maklum baru pertama kali ke JJM jadi agak norak dan lebay.

Ketika acara dimulai, masuklah MC nya. Yang wanita orang Indonesia, yang laki-laki orang Jepang (aktor, penyanyi, MC, host acara TV Indonesia Banget, Translator) yang pernah lama tinggal di Indonesia, namanya Hiroaki Kato.

Bagi saya, si Kato ini cakep bener, dengan gaya rambut panjangnya yang dicepol ke atas dan kostumnya yang casual summer. Kereeen, mirip Zambrotta pemain bola favorit saya. Agak-agak keliatan kaya samurai jepang gitu. Squeeeel.

Ia juga yang menerjemahkan novel Laskar Pelangi ke Bahasa Jepang untuk diterbitkan di Jepang. kalau yang wanita namanya Puti Chitara (Pernah kuliah di Jepang, Penyanyi, MC). Gokil sekali mereka berdua.

Back to the show.

Genderang Jepang Oedo SukerokuTaiko Jakarta. Sumpah keren abis. Saya dan Dwi tidak henti-hentinya mengabadikan pertunjukan ini. Gemuruh suara genderang yang ditabuh dengan piawai ini benar-benar menyentuh relung hati.

Sampai-sampai, saya bilang ke dwi, “Uwieee… ikutan yuuu sama komunitas mereka, biar bisa mukul-mukul genderang kaya gitu. Lumayan buat ngecilin lengan hehehehe.”

Tarian Kochi Yosakoi & Tarian Okinawa Eisa. Tadinya saya pikir, tarian ini semacam tarian tradisional Jepang yang benar-benar tradisional. Ternyata lebih seperti genre pop. Secara, musik yang digunakan lebih catchy dan enerjik. Ditambah lagi, ada kalanya mereka memakai musik soundtrack anime.

Gerakannya sih simple tapi jumlah penari yang banyak membuat tarian ini menarik untuk dilihat. Apalagi di tarian yang terakhir, penonton di ajak untuk ikut bergabung menari bersama. Sayang posisi saya dibelakang para tamu undangan, jadi menyulitkan saya untuk gabung. Padahal kepengen tuh secara dulunya mantan penari jadi-jadian.

Tarian Yosakoi Soran. Nah ini dia. Tarian yang bikin saya penasaran pengen nonton Live. Penasaran karena belum lama ini saya sempat membaca mengenai Festival Yosakoi Soran di Sapporo, Jepang Utara dan menonton tarian ini di youtube. Tarian ini biasanya diikuti oleh puluhan orang hingga ribuan orang.

Telusur punya telusur, Yosakoi adalah tarian khas daerah Kouchi yang menggunakan Naruko, semacam alat perkusi, sebagai alat musiknya sehingga dikenal sebagai Kouchi Yosakoi. Tarian ini pertama kali ditampilkan pada tahun 1954.

Yosakoi Soran pertama kali muncul pada tahun 1992. Jadi, bisa dibilang Yosakoi Soran adalah turunan dari Kouchi Yosakoi. Kalo Kouchi Yosakoi menggunakan Yosakoi Bushi, maka Yosakoi Souran menggunakan Souran Bushi.

Soran Bushi merupakan tarian nelayan yang berasal dari Hokkaido, bagian utara Jepang. Di laut utara, Perahu kayu para nelayan berhadapan dengan gelombang besar musim dingin.

Dalam kondisi seperti itu, mereka menyanyikan lagu Soran Bushi untuk membangkitkan semangat dan membantu mereka supaya terjaga sepanjang malam yang dingin. Makanya ga heran, kalo di setiap tarian akan ada bendera berkibar dengan gambar ikan disana.

Alhamdulillah, bisa lihat secara langsung tarian ini. Keren, kata-kata “SOURAN SOURAN” yang diteriakkan sang penyanyi benar-benar memompa semangat saya.

Setelah menonton tarian Yosakoi Souran yang keren itu. Kami akhirnya beranjak dari panggung utama dan langsung mengambil langkah seribu menuju booth-booth yang ada di JJM ini.

Jadi, kami melewatkan penampilan Ren-Ai Project, No Generation Gaps (NGG) Band, “Nyanyi yuk!” Lomba Nyanyi Indonesia – Jepang, dan Paduan Suara En-Juku.

Sementara itu, JJM ini mulai dipenuhi oleh para pengunjung yaaang sepertinya sebagian besar ABG.

Penasaran seperti apa hujan salju? Ini dia rasanya. Tadi sempat mendengar bahwa akan ada hujan salju di JJM. Hujan salju buatan pastinya. Mesin pembuat salju katanya khusus didatangkan dari Jepang sana. Yah, lumayanlah, bisa merasakan hujan salju, membuat snowman, sampai seluncuran.

Setelah semua booth dikelilingi. Perut mulai meronta-ronta berteriak kelaparan. Tidak sah rasanya kalau ke acara Jepang semacam ini tetapi tidak memakan yang namanya Takoyaki sama Okonomiyaki.

Kami membeli keduanya di booth Osaka Soul Food. Harganya memang lebih mahal dibandingkan booth yang menjual makanan yang sama. Tapi sumpah, worth it.

Enaaaaak. Nomnomnomnom. Dibanding makanan sama yang pernah saya makan. Ini yang terenak. Bikin nagih. Ditambah lagi makan bareng es serut rasa strawberry dan lychee. Segeeeer…

Sudah kenyang, lanjut lagi berkeliling. Semakin siang semakin ramai. Para cosplayer pun mulai berdatangan. Jepret sana jepret sini, para cosplayer laku diminta foto bareng bak diri mereka selebriti.

Termasuk saya dan dwi yang tidak mau kalah ikutan minta foto bareng. Tapi sayang, para cosplayer ini, kalau menurut saya, masih kurang mirip dengan penampakan karakter aslinya. Kalau untuk cosplayer, saya masih takjub dengan yang pernah saya lihat di Motto festival Pluit Village dahulu kala.

Ketika lagi bingung mau ngapain lagi, sayup-sayup terdengar suara nyanyian soundtrack anime. “Kyaaaaaa… ayo kesana wie, ma” teriak saya. Ternyata benar saja, di depan panggung sudah penuh sesak.

Well, it turned out, Jakarta KEI ON is on the stage!

JAKARTA KEI-ON atau Jakarta Keion Club (“Keion”) adalah kelompok band musik yang dibangun oleh beberapa orang Jepang yang tinggal dan bekerja di DKI Jakarta dan sekitarnya. Semua anggotanya bukan musisi profesional, tetapi musisi Amatir yang bekerja sebagai karyawan atau lainnya pada hari kerja.

Mereka menyanyikan lagu kebangsaan yang selalu dibawakan di event yang berbau Jepang. Apa lagi kalau bukan Sobakazu dari Judy & Mary (Samurai X OST) dan Pegasus Fantasy (Saint Seiya OST) yang animenya super booming kala disiarkan di TV Indonesia.

COSPLAY Show oleh CLASH. Cosplay ini lumayan seru. Sayangnya saya merasa lelah setelah semangat ikut bernyanyi, teriak, dan jingkrak-jingkrak bareng jakarta Kei On. Makanya, kami cuma nonton dari jauh sambil duduk dan sekadar beristirahat.

Pertunjukkan yang dipersembahkan oleh DKI Jakarta. Sayangnya, pertunjukkan dibatalkan. Entah apa alasannya. Tapi, namanya juga acara yang diprakarsai orang Jepang, bener-bener disiplin. The show must go on. Jadilah kedua MC mendadak didaulat untuk menyumbangkan 1 lagu. Untung dua-duanya emang asli penyanyi.

Kato menyanyikan lagu laskar pelangi berbahasa Jepang, sedangkan Puti menyanyikan lagunya Ayumi Hamazaki berjudul sakura.  Berhubung sudah seger lagi, kami bertiga merangsek lagi ke depan panggung. Penasaran melihat penampilan Kato dan Puti.

Akrobat lompat tali (double dutch) oleh Fusion of Gambit dari Universitas Ritsumeikan. Well, ini dia hal baru bagi saya. Baru tahu kalau ada yang namanya Double Dutch. Keyeeeeeen. Jadi, sebenarnya, seperti hiphop dance, hanya saja memakai props 2 tali yang diayun.

Intinya, mereka ngedance sambil main lompat tali. Anggota team Fusion of Gambit ini cakep-cakep, mirip orang Korea.

Kelompok “Lagu-Lagu-Kai.” Oke, kalo yang ini, sesuai banget sama mama. Akhirnya ada juga yang genrenya cocok sama mama. Kelompok orang Jepang yang sudah kakek nenek yang menyanyikan lagu-lagu Indonesia. Bukan sembarang lagu Indonesia loh, melainkan lagu wajib, lagu nostalgia sampe lagu daerah.

Lagu-lagu yang mungkin sudah jarang juga dinyanyikan sama anak jaman sekarang. Yang bikin haru apa coba? Para penonton yang notabene sebagian besar anak muda, ABG, tidak beranjak dari depan panggung. Kita semua mengapresiasi mereka. Sudah seperti menonton kakek nenek sendiri.

Galaxy Jazz Band. Ini dia penampilan terakhir yang bisa kami tonton karena harus pulang untuk menjenguk om yang habis operasi di RS. Karena saya suka jazz , begitu pula dengan mama, berat rasanya meninggalkan penampilan mereka.

Jadilah diputuskan kami mendengarkan 1 lagu saja. Pas banget suasananya. Sudah sore, mulai mendung, mulai berangin, ditemani alunan musik jazz. Adeeeem rasanya.

Aaaaaah… akhirnya selesai 1 lagu. Dengan berat hati kami harus mengakhiri keseruan hari ini. Sayang sekali tidak bisa mengikuti sampai selesai. Penasaran sekali dengan yang namanya Bon Odori. But it’s okay, there will always be another chance. Next Year maybe.

So, we said goodbye to Jak-Japan Matsuri 2014. Meskipun melewatkan penampilan Mr. Kuriya Makoto, Angklung, Mikoshi, Jrocks, JKT 48, pesta kembang api, dan Bon Odori. Bisa dibilang kami sudah sangat puas. Dijamin bakal balik lagi tahun depan.

So, Mari Maju Bersama Bergandeng tangan!

Indocraft 2013

Waktu saya mendengar mengenai pameran ini, ingin sekali segera meluncur ke JCC. Penasaran dengan produk apa saja yang akan dipamerkan di sana. Dalam bayangan saya, pastinya banyak sekali produk Indonesia yang akan muncul di pameran ini. Apa yang bisa dikatakan, I LOVE INDONESIA.

After we arrive there, my eyes were spoiled with all te beautiful and artistic craft. Started with batik, tenun ikat, chopper, painting, accessories, jewelry etc. Ahhh… how I love Indonesia with all its culture and craft.

A beautiful handmade craft made of chopper

A beautiful handmade craft made of chopper

Clutch made of tenun ikat and crocodile leather. One piece for one design. How exclusive it is.

Clutch made of tenun ikat and crocodile leather. One piece for one design. How exclusive it is.

indocraft 2013 1 (3)

Would love to all this art

indocraft 2013 1 (4)

It is very colorful and soul free.

indocraft 2013 1 (7)

indocraft 2013 1 (9)

Craft made of sand, sea shell etc

indocraft 2013 1 (11)

Javanese Bride made of ceramics. Cute as a pie.

indocraft 2013 1 (6)

 

Anlene Generasi Bergerak 2013

Finally, me and my mom could join this event, since we are anleners. We couldn’t make it last year, so my mom curiously always waiting for this year event.

Pada dasarnya, acara anlene generasi bergerak ini adalah acara tahunan dimana kita berjalan kaki bersama, berolahraga.

Sedangkan menurut website resminya, Anlene Generasi Bergerak adalah Parade Jalan Sehat Lintas Generasi Pertama yang diadakan oleh PT. Fonterra Brands Indonesia, dalam rangka merayakan hari Osteoporosis Nasional tahun 2013.

Jalan sehat diselenggarakan di Monumen Nasional Jakarta menuju Bundaran HI dengan rute sepanjang 8 Km.

“Jalan kaki dari Monas ke Bundaran Hotel Indonesia kemudian kembali lagi ke Monas? keciiiil,” kata mama. Maklum, kami berdua ini memang tukang jalan. Kemana-mana seringnya jalan kaki alias ngetug.

Jadi, rute 8 km itu tidaklah seberapa. Lagipula, kalau dipikir-pikir, seandainya kami seharian keliling di mall, rasanya lebih dari 8 km. Apalagi jalan sehat ini dilakukan bersama ribuan orang lainnya, pastilah tidak terasa lelahnya.

Pertama-tama yang kami lakukan adalah mendaftarkan diri secara online di http://www.tulangsendisehat.com/anlene-generasi-bergerak. Kemudian ke Radio Cosmopolitan di Sarinah untuk mengambil goodie bag. Nah, pada hari H, kita registrasi ulang, sekaligus mendapatkan snack dan nomor dada plus mengisi kupon doorprize.

Sayangnya, menurut saya panitia kurang siap. Saya saja sampai dioper beberapa kali hingga diarahkan ke tenda untuk penukaran snack bagi peserta registrasi online. Berhubung saya masih muda jadi tidak masalah, kebayang kan kalau pesertanya sudah kaki nini,kasian!

Anyway, we did finish all the registration and waiting for main event. Oleh karena kami tidak sempat sarapan, jadi snack yang disediakan panitia sangatlah berguna untuk sekadar mengganjal perut saya dan mama.

 

Akhirnya, setelah meleset dari jam yang kami perkirakan (diwebsite ditulis kalau acara mulai jam 6.00 am) acara pun dimulai. Para peserta diarahkan untuk berbaris. Jadi ingat kembali masa-masa saya dipaskibra dulu.

Lalu, dibukalah acara oleh bapak menpora Roy Suryo. Yang didampingi osteofighter  (Tya Ariesta’s mom), taekwondoin Tya Ariesta, Ketua Perwosi, Perwakilan dari Fonterra dll.

Intinya, dalam rangka memperingati Hari Osteoporosis Nasional yang jatuh pada tanggal 3 November 2013, Jakarta membuat komitmen yaitu, Jakarta Bebas Osteoporosis.

Seperti yang kita tahu, osteoporosis dianggap sebagai salah satu silence killer. Penyakit mematikan yang tidak tahu kapan datangnya dan tak terlihat gejalanya, setidaknya bagi orang awam seperti saya dan mama.

Jadi, mari tingkatkan awareness terhadap osteoporosis dan lakukan pencegahan sedini mungkin.

Jalan santai sudah, senam osteoporosis sudah, foto-foto sudah. Sekarang giliran menonton pengisi acara dan menanti doorprize.

For your info, the guest star is Yovie n Nuno and RAN. Personally, I was really waiting for RAN. They are such a talented musician. In fact, listening them live is way better than the record in CD, DVD, or TV. That showed how good they are.

Okey, while the crew preparing RAN equipment, they ask us to exercise, again! Senam osteoporosis, that wahat they called. Jujur, senamnya sulit di ikuti, seharusnya buat gerakan yang sesuai dengan perkembangan bapak-bapak dan ibu-ibu.

Setelah penampilan RAN sebenarnya ada doorprize sepeda motor. Tapi, tapi, tapi, sayang kami harus segera beranjak pergi. Sayang sekali tidak bisa menyaksikan RAN hingga selesai. Karena kami ada kondangan ke BEKASI. hiks.

Bye RAN, kalian keren abizzzz!!!

Bye anlene…. thank you for making this event. See you next year, hopefully.

[JFW 2014] Dewi Fashion Knights

This is the story of one awesome night in Jakarta Fashion Week 2014. A show that will last forever, at least in my own memory. It’s all about Goddes, Tales of The Goddes.

It was the last show in Jakarta Fashion Week 2014. So many people wee waiting for this show. How can’t they? There’ll be masterpiece of some of young and talented designer from Indonesia which is Oscar Lawalata, Bai Soemarlono, Toton Januar, Priyo Oktaviano, and the one and only Tex Saverio.

I was so lucky to be one of those who honored to see such an awesome and remarkable show. There, I got to see lots of designer, lots of models, and off course lots of beautiful clothes. I was impressed, by the atmosphere of the show that night.

The invitation to Dewi Fashion Knights (DFK)

When the show begins, everyone was stunned and silenced by the beauty of ‘Goddes’ which have been interpreted by all 5 designer. For me, it even started right after the master of ceremony, the stunningly gorgeous Sari Nila open the show.

Then the it starts. First, it was Optik Seis and followed by Oscar Lawalata with his collection “My Name is Andromeda.”

Bai Soemalono, a designer for Populo Batik with his batik collection.

Toton Januar with his collection “The Sulthan and The Mermaid Queen: Abyss.” And here is my favorite for the night, Priyo Oktaviano with his collection “Galore.” Love the music, the show, the fabric he used, all of them.

And last but not least is the magnificent young and talented Tex Saverio with his haute-couture collection “Exoskeleton.” I guess this is definitely something that Lady Gaga will love to wear.

Since that was my first time saw him, I’m quite surprised. He looks pretty much like a character in anime that comes to live. And since I love anime, off course I’ll love him too, well, I mean his collection.

jakarta fashion week 2014 - 13

Bermain, Belajar, dan Bergembira di Festival Taman 2013

Festival Taman? Apaan tuh? Di mana? Kapan? Emang ada yah?

Setidaknya, begitulah pertanyaan orang-orang di sekitar saya ketika saya mengajak mereka menyambangi Festival Taman 2013 di Taman Cattleya, Jakarta Barat.

Jujur, ini juga kali pertama saya mendengar dan excited sekali untuk datang ke festival taman ini. Apalagi setelah melihat beritanya di TV, dibuka oleh Bapak Jokowi. Bahkan mama pun, semangat sekali untuk datang ke sana.

Nah, tengah hari bolong, tepatnya sehabis zuhur, saya dan mama naik busway jurusan PGC-Gogol. Kami turun di halte Rumah Sakit Harapan Kita.

Bermodalkan semangat 45, kami berjalan kaki menelusuri trotoar mencari Taman Cattleya. Patokan saya saat itu hanya, Mall Taman Anggrek. Katanya, background pemandangan taman cattleya adalah Mall Taman Anggrek.

Alhasil, teruslah kami berjalan, hingga akhirnya menemukan titik terang. Sebuah Tembok bertuliskan “Taman Cattleya.” Alhamdulillah…

Lanjut menuju ke bagian dalam taman, kami melihat banyak kendaraan terparkir, sebuah panggung, tenda dan kelompok orang di beberapa bagian taman. Penasaran, kami pun menjelajahi taman dan berkeliling.

Sesaat, kami berhenti untuk melihat sepeda yang bisa menghasilkan listrik. Bayangkan saja, kita bisa nge-charge hp dengan syarat mengayuh sepeda untuk menghasilkan listrik.

Sambil berolahraga, sambil nge-charge hp, sambil menghemat bayar listrik. Kira-kira, seperti itulah idenya.Sayang saya lupa memfoto mama yang sedang mencoba sepeda tersebut.

Selesai dengan sepeda, kami mengunjungi komunitas penyayang ular. Tidak lain dan tidak bukan adalah Yayasan Sioux Ular Indonesia. Lembaga Studi Ular Indonesia yang berkembang menjadi Yayasan Ular Indonesia, lembaga swadaya, swadana, dan swakarsa yang lahir dan terbentuk dari rasa kecintaan terhadap ular.

Puas bertanya kesana-kemari mengenai ular, kami pun berkeliling melihat pameran yang diadakan berbagai komunitas yang ada di indonesia, jakarta khususnya.

Mulai dari komunitas 1001 buku, greeneration ID, HAAJ, KHI, MKI (masyarakat komik indonesia), PHJ (Peta hijau Jakarta) dan masih banyak yang lainnya. Setelah itu, kami berjalan masuk ke bagian dalam taman, untuk melihat beberapa workshop yang diadakan panitia.

Ada workshop di area belajar, area bergembira, dan area bermain. Senang rasanya melihat sekeliling saya saat itu. Taman yang hijau nan rindang, dipenuhi orang yang berkegiatan bersama.

Sayup-sayup terdengar gelak tawa, derap kaki berlari, dan celotehan anak-anak kecil. Bahkan saya sempat melihat ada cosplay yang sedang melakukan pemotretan. Seruuu.

Dipikiran saya, beginilah seharusnya apa yang disebut sebagai taman. Bukan tempat untuk tinggal sementara, tempat buang sampah sembarangan, apalagi tempat pacaran alias bermesra-mesraan.

Tapi seperti inilah seharusnya, tempat berolahraga, bermain, belajar, bergembira, menambah pertemanan, dan sekadar untuk melepas lelah juga kepenatan dari kesibukan ibukota.

Semoga, festival seperti ini rutin dan sering diadakan. Semoga semua taman di Indonesia, di Jakarta khususnya, dapat dijaga dan difungsikan sebagaimana mestinya. Mengingat ruang terbuka hijau sudah langka di Jakarta.

Mau tahu lebih lanjut mengenai festival taman 2013, klik saja http://festivaltaman.com/

Indonesia Islamic Fashion Fair 2013

Akhirnya jadi juga saya nge-post mengenai IIFF 2013 atau yang dikenal dengan Indonesia Islamic Fashion Fair 2013 dengan jargon Style Unlimited. Meskipun latepost, tapi saya ingin sekali share mengenai pengalaman saya di IIFF 2013 ini.

One thing for sure, my prayer for that day was “God, please, don’t let me be greedy today.”

Jadi, kami beangkat ke JCC pagi-pagi, berharap kalau datang pagi maka tidak akan terlalu ramai pengunjung. Terlebih lagi, hari itu merupakan hari terakhir IIFF 2013. Saya bersama saudara dan teman berniat menjelajahi seluruh booth yang ada di IIFF. Harapannya sih begitu, tapi kenyataan berkata lain.

Tapi betapa kagetnya saya, sesampainya di sana, antrian pengunjung sudah mengular. Berarti, bukan hanya saya yang berpikir bahwa datang pagi akan sepi. Ratusan orang punya pikiran yang sama,  maka beginilah jadinya, antrian panjang di loket tiket masuk padahal loket baru saja dibuka.

Indonesia islamic fashion fair 2013-2

Begitu berhasil masuk, sambil menunggu teman yang masih dalam perjalanan, kami sempatkan diri untuk berfoto dahulu. Lumayan daripada diam menunggu. Jepret sana jepret sini, mumpung masih sepi.

Teman datang, bukannya kita langsung ke pameran, malahan foto-foto lagi. Sudah puas berfoto, barulah kami menjelajahi booth yang ada di pameran.

Oiya, di bawah ini merupakan hasil karya beberapa perancang berbakat dari Indonesia.

Indonesia islamic fashion fair 2013-5Indonesia islamic fashion fair 2013-6

Puas melihat baju nan indah, mulailah saya mampir ke beberapa booth yang memang sudah direncanakan untuk dikunjungi. Sebut saja, dian pelangi, shafira, elzatta, kivitz, mocca, vania, zoya, gda’s by ghaida,sellitoes, hingga irna la perle. They all very recommended brand for moslem fashion.

Terutama yang terakhir, Irna la Perle, yang sungguh menarik perhatian saya. Sejak dulu saya memang suka dengan koleksi mereka. Walaupun belum mampu untuk membelinya. Mulai dari modelnya yang sederhana, warna pastel dan earth color yang jadi ciri khasnya, serta bahan yang ringan dan melayang. Pokoknya, benar-benar indah.

Indonesia islamic fashion fair 2013-8

Look at my face. Mupeng alias muka pengen. Ini dia saya persembahkan, Irna La Perle collection.Setelah puas berkeliling ke booth-booth yang ada, akhirnya kami pamit juga. Walaupun pada akhirnya, tidak semua booth kami kunjungi. Takutnya saya jadi greedy alias rakus, pengen belanja sana-sini.

Untung ada mama dan sepupu yang setia menjadi ‘satpam’ saya. Senantiasa mengingatkan untuk membeli apa yang dibutuhkan alias tidak berlebihan.

Selesailah perjalanan kami kali ini. Sungguh berharap pameran ini, IIFF akan selalu hadir setiap tahunnya. Selain menambah pengetahuan untuk para hijaber di Indonesia, jakarta khususnya, pameran ini juga sebagai ajang untuk mendorong perancang muslimah muda berbakat untuk berkarya jauh lebih baik lagi.

Art for You (Life and Love) Karya R. Sigit Wicaksono.

Beruntungnya saya, ketika mengunjungi museum bank mandiri, saya berkesempatan melihat lukisan hasil karya R. Sigit Wicaksono.

Meskipun saya tidak ahli dalam hal lukisan, namun saya sangat menikmati setiap lukisan yang dipamerkan, dengan total 97 lukisan.

Pameran Tunggal R. Sigit Wicaksono ini termyata berlangsung sejak tanggal 11-20 Oktober 2013 di Museum Bank Mandiri.

Pameran ini bertajuk “Art for You (Life & Love).” Sejatinya, lukisan yang dipamerkan merupakan ungkapan cinta kepada keluarga dalam tampilan abstraksi.

Abstraksi berarti meminimalisir bentuk. Oleh karena itu Sang Pelukis  mengekspresikan ungkapan cintanya dalam bentuk-bentuk yang sederhana, seperti persegi, persegi panjang, segitiga, lingkaran dan elips.

Pameran tunggal R. sigit Wicaksono art for you 10

Pameran Peralatan Tempur TNI AD 2013

Bermula dari Pameran alutsista TNI AD tahun 2012 , yang saya pikir tidak akan diadakan lagi setelahnya, saya dan keluarga memastikan bahwa kami akan mengunjungi pameran ini tiap tahunnya. Maka jadilah, ketika kami melihat iklan di atas, kami putuskan untuk segera meluncur ke lokasi.

Menurut saya pribadi, pameran tahun lalu jauh lebih menarik. Mungkin karena alutsista nya lebih banyak dan lebih lengkap, sejauh ingatan saya.

Mungkin juga karena saat itu, saya datang ke pameran dihari kerja, sehingga pengunjung tidak terlalu padat dan saya bisa menikmati pameran lebih puas. Atau juga karena perasaan saya saja, hehehe.

Tapi, biar bagaimanapun juga, saya sangat menghargai dan berterima kasih kepada TNI AD karena adanya pameran ini.

Masyarakat jadi lebih tahu dan merasa lebih dekat dengan TNI AD. Anak-anak kecil menjadi bangga dan bermimpi bisa jadi anggota TNI AD.

Masyarakat awam, bisa lebih mengenal dan bertambah pengetahuannya mengenai TNI AD. Para fotografer bisa puas mengabadikan momen ini.

Dan para prajurit bisa sedikit bersantai dan menjadi selebritis dadakan dalam beberapa hari. Maklum, kayanya ribuan orang minta foto bareng para prajurit TNI AD, termasuk saya.

Gayanya yang imut-imut aja ya. chibi chibi chibi!!!! cheeeseee!

Sebelum pulang, Ini dia yang paling berkesan buat saya. Salut buat para TNI AD! Rompi yang terlihat ringan ini sungguh teramat berat, belum lagi senjata yang saya pegang ini menambah berat.

Now, waktunya pulang… belum puas rasanya…

Boooooooom!!!

Ga lengkap kalo ga berpose dengan background MONAS.

 

Pameran Peranti Tata Saji Indonesia 2013

Mungkin tidak banyak orang Jakarta mengetahui even ini. Jujur, saya saja baru tahu ketika pameran telah menginjak hari ke 3. Itupun dari feed sebuah akun instagram milik williamwongso, yang dengan setia saya follow. He is such an inspirator, especially for his love through Indonesian food and Indonesian traditional market.

Bergegaslah saya mengajak partner in crime saya alias my mom, menyambangi pameran tersebut. And what a surprise! Sesampainya di sana, my eyes were spoiled with sooo many beautiful things. And it’s all made in Indonesia. How proud I am to be Indonesian. This exhibition is really worth it.

Pertama kali saya dimanjakan dengan penataan meja untuk jamuan makan dari beberapa daerah di Indonesia. And, damn, I just know it. Each province had their own table arrangement for special occasion. Can you imagine how many there are, since we have lots of provinces. Dan pastinya tidak kalah dengan penataan meja makan ala western.  Just look at these pictures.

Tata saji dari daerah Jawa Timur

Tata saji dari daerah Riau. cantik banget, sudah seperti gaya eropa.

Tata saji dari daerah Jambi.

Tata saji dari DKI Jakarta.

Tata saji dari daerah Papua. Can’t you believe that the dark brown one is served as a plate.

Puas dengan keindahan peranti tata saji beberapa daerah, saya lanjut ke bagian peranti saji koleksi beberapa kolektor di Indonesia. Mulai dari peranti untuk menyajikan sirih, peranti memasak daerah Jawa dari puluhan tahun silam, hingga peranti untuk cuci tangan. Bahan pembuatnya pun berbeda, mulai dari kayu, rotan, bambu, kuningan, tembaga, bahkan emas!

It is from Bali.

Made of bamboo.

Tikar mendongdari Kalimantan.Sebelum beranjak pergi ke bagian pameran yang lain, sempatkan diri untuk befoto. Tetap eksis bin narsis.

Look at her, she is soo happy.

Beranjak ke bagian hasil kerajinan tangan hampir semua daerah di Indonesia. Sekali lagi dimanjakan dengan berbagai pernak-pernik cantik  khas Indonesia. Oh God, please don’t let me be greedy today, that is my prayer.  Bagaimana tidak, mulai dari peralatan rumah tangga, tas, sepatu, baju, kain tikar, makanan, just name it. It’s all there.

Ini hasil kerajinan dari Kalimantan. See, my mom really want to have tikar mendong.

Rattan and bamboo made. Okay, this one is definitely in my shopping list,

Ada juga hasil kerajinan yang berupa hasil daur ulang sampah.

Kalau yang ini, hasil kerajinan yang rasanya pengen saya bawa pulang.

 

Mom: “mama mau ni dibeliin yang ini” yeee, anaknya juga mau kali maa.. hehe

See, how rich our county are, with its culture. Make me love Indonesia, more and more. Sungguh saya sangat tidak menyesal mengunjungi pameran ini. Berharap tahun depan bisa datang lagi. Semoga pemerintah bisa mengadakan banyak pameran seperti ini. Gratis untuk masyarakat.

Dan semoga publikasinya lebih gencar lagi, sebab sayang sekali jika banyak orang masih tidak tahu ada pameran semacam ini. Karena ini merupakan media pembelajaran yang sangat baik agar masyarakat umum, Indonesia khususnya, lebih mencintai negaranya dan produk dalam negrinya sendiri.

Selesai menjelajahi pameran, saya menyeberang ke pameran tetangga alias di sebelah. Kali ini adalah pameran produk dalam negri. Mulai dari perhiasan mutiara, giok, batu kristal, batu alam, kain tenun, kain batik, kain serat alami lainnya, kerajinan yang terbuat dari kulit, logam dll, bisa ditemukan di pameran ini.

Support Children With Cancer: Shave For Hope 2013

Now I really wanted to share about a very precious moment from last week. Why I said precious, because I did something that I would not dare to do it, not even dare to think about it before.

Which is, to be bald.

I mean, as a woman, hair is like a crown, right? Couldn’t imagine how I looks like without it. And it all change because of charity event called SHAVE FOR HOPE.

Suddenly, courage rushed all over me. I decided to be bald. Not because of fashion, but because of a reason. And the reason is, I want to be part of people who support children with cancer.

I mean, if you want to be bald, then bald for a reason. And how is being bald, had anything to do with it? Well, it did. For each bald, money will be donated straight to YPKAI who will use the money to help children with cancer in Indonesia. So, I just went straight to Shave for Hope website and register myself.

Shave for Hope is the first and biggest charity event done through hair-shaving act in Indonesia. Everyone who participated has one exact purpose, to help and support childhood cancer. It is hoped that this event will raise both people’s awareness as well as highly valued funds.

The idea of Shave for Hope comes from the fact that the incidence rate of childhood cancer in Indonesia keeps increasing, where at the same time the awareness of people towards cancer keeps on decreasing. Statistics show that every year, more than 4100 new cases of childhood cancer arise (credit: shave for hope website)

How wonderful isn’t it. The fact that we could do something to our society, to the children, who will became our future. Furthermore, in an easy way. Some people might think it is just a small contribution.

But you know what, something big, first came from something small. And sometimes, being a hero doesn’t mean to do something big, but doing something small that will bring a big change in others life.

For me, I really have to say thank you to Shave for Hope, and to all beloved children who fight against cancer. Because all of you, give me the courage to be bald. Just to remind myself that kids should be smiling not fighting cancer.

And that being bald, especially because of the treatment for cancer is something that should not be scared of or embarassed about.

Being bald, doesn’t mean that you are ugly or different from others.

Being bald, means that you are brave enough, more than the others.

Just look at us! We are proud to be bald, and we are still as pretty and handsome as we are before. And for your info, there are people that became even more pretty and more handsome with their bald head.

So, I join Shave for hope in Jakarta, Gandaria City to be exact. I came at noon with my mother which turns out to be interested being a shavee and register herself on the spot.

We wait almost for one hour until our turn while listening to Delon singing and also the Nelwans. Then when it was our turn, we still have to line up. And it was a really really really long line for sure.

Here are what we do since arrived on the spot and finish it all almost at 9 pm.

  1. Register
  2. Sign a permission letter
  3. Got number
  4. Wait for our turn
  5. Lining up
  6. Took a picture in the booth
  7. Took a “before shave” picture
  8. Waiting in line again (thanks God it is not as long as before, because I’m wearing veil, so I had to shave in a special tent)
  9. Being shave by Johnny Andrean Salon crew (thank you for being so gently and quite neat)
  10. Lining up, again
  11. Took “after shave” picture (not really works for me, since I’m wearing veil. There is no different, except maybe for my veil is not as neat as before)
  12. Lining up, again
  13. Get the certificate and goodie bag

Lining up to take “before shavee” pic.

Somehow, me and mom felt relieve and so happy that we did it. Not even a shred feeling of regret.

Well, actually we did regret. That we did not encourage other family members to join us. But hey, we still have next year. I definitely will do it again.

And now, I’m officially a social angel.

Kadang menjadi pahlawan bukan dari tindakan besar,

namun dari tindakan kecil

yang dapat membuat sebuah perubahan bagi orang lain.”

While on the way home, heal the world sung by Michael Jackson started to play in my handphone playlist.

 

Padusi, Story of Three Strong Women

That day, I got a rare chance to watch a remarkable musical theater titled “Padusi.” The story is about a women legend in Minang (Padang), Indonesia.

Padusi itself, means woman in Minang language.  It was a story about tradition that still live in there until today. It is about 3 different story, 3 women, 1 fight.

So it was all about the power of women. Women are not that weak, we are a strong person, not differ than men. But we do realize our destiny as woman.

Padusi

Just like Puti Bungsu who live her life as human as best as she can as Malin Deman wife, but not gave up her dream to go back to the place where she was coming from, as a fairy.

Or like Siti Jamilan who really respect her husband (Lareh Simawang), trust him, and loyal to him until the very end of her life.

Or just like Sabai Nan Aluih who strongly  refused to be married to some old man named Rajo nan Panjang, eventhough he had a great power and feared by others (somehow it reminds me of the story Siti Nurbaya and Datuk Maringgih).

Even in the end, Sabai is bravely confronted him and took revenge on him for the death of his father Rajo Babandiang.

IMG-20130511-WA0003What impress me is the show was awesomely beautiful and simply touching. A simple decoration, a colorful songket (a traditional fabric from Padang), a meaningful dance, and a very touching music were completed by a strong performance from the actors, actresses, and dancers.

My feeling is being like on a rollercoaster throughout the show. I felt lots of emotion in the same time. All the cast and crew were doing great for turned me like that.

Padusi made me want to watch some more.

This is one of short review which I like from The Jakarta Post:

In the story, the titular character Padusi arrives in Padang on a plane from Jakarta. She is recently widowed and wants to rediscover her cultural heritage in the land of her ancestors.

During her visit, she encounters legends from local folktales, which are represented by three vignettes in the play.

 

The first is about Puti Bungsu, a fairy who is stranded after her wings are stolen and hidden by Malin Deman, while she bathes at a pond with her sisters.

 

Puti Bungsu is later forced into marriage with Malin Deman, a man dependent on his mother. Even after giving birth to her son, Malin Duano, Puti Bungsu never stops looking for her stolen wings.

 

The second story, which is related to the first, follows Malin Deman, who leaves his village to look for Puti Bungsu. He meets the womanizing Lareh Simawang, who intends to marry another woman despite already having an expectant wife, Siti Jamilan, and two children.

 

After discovering that her husband wishes to marry a younger woman, the pregnant Siti Jamilan decides to kill herself and her two children. Lareh Simawang is deeply shocked by his wife’s actions and loses his mind.

 

In the third and final encounter with the legends, Padusi observes the story of the beautiful and kindhearted Sabai Nan Aluih, who refuses to be betrothed to an elderly aristocrat, Rajo Nan Panjang. Her betrothal was demanded as a payment for the debts of her father, Rajo Babandiang.

 

In the final scene, Padusi talks with Malin Deman and Lareh Simawang. She imparts the lesson she has learned from the women.

 

I am not a woman that can be bought with wealth and power, or can be judged,” Padusi says, both to herself and the men.

 

dsc_6601dsc_6603There is a well said from Tom Ibnur (Padusi choreographer) which I strongly agreed,

We, as artist can not walk alone.

We need partner and support…

So, rather than being angry when our culture is claimed by others,

lets support each other to conserve our culture.

If it’s not us, who else?

If It’s not now, when will?

 

 

Stories from Minangkabau Through the Ages

Padusi, Tiga Kisah Legenda Ranah Minang

Sneak Peek at Motto Festival 2012

At Saturday, October 13, 2012. I went to Pluit Village to see Motto festival. It was a loooong journey to get there, since I live in another part of Jakarta.

Thank God there is busway, so I just need to take 2 vehicle to get there. And finally, after almost 2 hours trip, I was in the BIGGEST J-INDO Band Festival.

img_0994img_1012After some window shopping in Pluit Village. I felt absolutely hungry. Look around and decided to eat takoyaki. Since I love cheese, I pick Cheese takoyaki. Rp. 15.000 for 6 pieces takoyaki. While it was very hot, I impatiently ate one of them. Waaa… it’s definitely a bad idea. But then, I enjoyed eating, especially the octopus slice inside it. LOVE IT!

For you who still don’t know, yet. Takoyaki or octopus balls is a ball-shaped Japanese snack made of a wheat flour-based batter and cooked in a special takoyaki pan. It is typically filled with minced or diced octopus, tempura scraps, pickled ginger, and green onion. It brushed with takoyaki sauce, then sprinkled with green laver (aonori) and shavings of dried bonito or cheese (just like the one I ate). 

After that, I try this tea called Prendjak Tea. Apparently, this tea is produced in Tanjung Pinang. It has quite different taste with some tea that I already tasted before. Kind of Unique. Especially when I drink it cos I am very thirsty. 2 big cups of these tea still not enough for this hot sunny day.

While we were enjoying our food and drink, some band performed on stage. Then, it was time for COSPLAY COMPETITION.  Cosplay,  short for “costume play,” is a type of performance art in which participants wear costumes and accessories to represent a specific character or idea.

Then suddenly, the venue was crowded. I hardly sneaked into the crowd to get in front of the stage. Prepared to capture great moments of cosplay performances.

img_0955 img_0960 img_0965 img_0975 img_0981 There was also a battle between the cosplayer.

img_0966 Now, these looks like some meccha costume. I wonder how they made those costume. It’s not broken eventhough they made such a movement. Not to think that it was a very hot day. It must be pretty hard and hot wore those costume.

img_0950 img_0988 img_0998 img_1004And last but not least, it was the end of the cosplay performances. And I decided to go home. Remember, my house is far away from Pluit. Even so, I am pretty delight with this festival. So excited being there. Hoping there will be more of these kind of festival. And hopefully I could be there, again.

img_1006

The Exhibition of Alutsista TNI AD (Indonesian Army)

I finally decided to see the famous exhibition from TNI AD called Alutsista Arhanud TNI AD. For me, I think this is once in a lifetime experience. When will I see many weapons and army vehicle and even explore it in and out.

First, some of you might be wondering what is Alutsista Arhanud TNI AD? Well, after did some browsing and asked a friend of mine, finally know the answer. Alutsista Arhanud TNI AD is Alat Utama Sistem Persenjataan Artileri Pertahanan Udara Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat. Wow, that is a long one.

Anyway, this is the first exhibition that was held by TNI AD. Kasubdis Penum TNI AD Letkol Zaenal M explained that this is a part of their responsibility to the citizen. It was a part of their wish to be more close with citizen.

This exhibition was held on October 6-8, 2012 in Monas. It came from Kecabangan Perhubungan, Kecabangan Kavaleri, Kecabangan Penerbad, Kecabangan Zeni, Direktorat Kesehatan, Kopassus, Direktorat Perbekalan dan Angkutan, Industri Pertahanan Nasional, Kecabangan Peralatan, Kecabangan Infanteri, Kostrad, dan peralatan yang baru, Kecabangan Armed, and Kecabangan Arhanud.

OK, so I was very excited when I got there even though that day was so damn hot. And Thanks GOD, I had an off day from work, and since Monday is workday, so I hope there won’t be too much visitors. And I’m right. Well, not as many as Sunday, I guess.

At first, I was like… OMG. This is not what I am expected. Not this many vehicle and weapons. Not to mention there are soldiers everywhere.

Then I started to walk around, and I was like… Oowwww… woooow… Helicopter, panzer, tank, hover…. and I can explored them inside and outside? Woooooww….

Then I, got crazy with my camera. Take picture here, there, and everywhere. While asking the soldier about all these things.

Cobra Modular air defense system (Battery Command Vehicle, 3D Multi-beam Search Radar, Missile Launcher) and Giraffe Radar. He explained how to operate this defense system.

Merriam 155 MM Caesar.

Multiple Launcher Rocket System (MLRS) ASTROS II MK 6 (Made in AVIBRAS AEROSPACIAL Brazil]. These guys are the representative from the manufacturer from Brazil. After I asked them to have a picture with me, lots of people join in after me. I guess they are shy to asked them before.

This one is the “celebrity” in this exhibition. This is the newest weapons that we just bought from Brazil. And these guys were Brazil representative. It cost 405 million rupiah for each. Wow…
Rappiers, Bofors

Rapiers, Bofors

It’s quite scary to see all these ammo. Couldn’t imagine these things blow up right in front of us. Then I started to think about our brothers and sisters who still live with war around them. May God granted their live with PEACE.

The helicopter was visitors favorite. Just look at the crowd around it. Most of them are Kindergarten children. I even had no chance to go inside. The soldier who helped to go inside, looked very tired. They said, “it’s been three days now….” Well, take a rest then, change shift with other soldier. Then the problem is solved :p

These all real ammo. That is why the pilot was quite strict and scary when children approach and touch it or even try to play with it. They said, “please stay away, just look at it, it is dangerous.” Then I was like, “hush, hush, go, go, children… play in somewhere else...”

* Pfiuuuhh… * After all day long, I discover and explore almost all alutsista, It’s time to say goodbye. I am very satisfied, I even forgot how tired I am to walk around Monas. Quite proud with our TNI AD. We do have weapons, but I really hope that we won’t use it for real.

Since I prayer for PEACE, always. NO good things came from war. No matter how sophisticated and deadly our weapons are, It will be much better if We saw them for exhibition only. PEACE all the way.Thank you TNI AD, for protected our country and off course all of us all this time. I believe it is not an easy task.

Hopefully see you all in Next Year….