The K2 Kdrama OST

After being hiatus from kdrama world (the last one was Doctors), I decided to take a peek of currently airing kdrama. Then I bumped into this one drama from TVN called The K2. As always, TVN made always made a great drama (eventhough the ending not always as we wanted to be). Named it, Cheese In The Trap, Reply series, Signal, Another Oh Hae Young, Let’s Fight Ghost, Dear My Friends, Cinderella and Four Knights, Oh My Ghost, Let’s Eat, Misaeng, Flower Boy next Door, and Queen In Hyun’s man.

I’ve been hearing about this drama even before the drama airing. I was kinda interested because I heard Ji Chang Wook will be in it, the genre is action, and the writer is the same as the Yong Pal’s. Furthermore it will be in TVN. So yes, I’m in.

the-k2-korean-drama-2016-posterI finally watched it when it already in episode 6. So far, I like it. It just a matter of preferences. Many viewer don’t like it because of Yoona’s (SNSD) acting. But for me, she is not bad for an Idol Actress. In fact, she is much better. She is improving a lot (trust me, I’ve watched all of her dramas back then) in terms of acting. So I’m gonna give her credit for her role as Anna.

k2As for other cast, they are great. Loving the action scene and an intense conversation between the cast. Also loving a shred of comedy from Anna’s bodyguard. The truth is, I like the story line, unpredictable. I don’t know who is the true culprit as I think that every one in the drama could be the one. Have to watched it till the end to know about it then. And I did. Love this drama to the bone. Great cast, great act, great action, great plot, and great ending.

Now, talking about kdrama always involve its original soundtrack (OST). Since it is TVN, I am fond of the OST. Most of OST from TVN’s dramas never dissapoint me. Including The K2 drama which I am currently watching, now. Awesome OST, if I may say.

1. Kim Bo Hyung (Spica) – Today [OST Part 1]

2. Kim Bo Hyung (Spica) – Today [OST Part 1 instrumental]

3. Yoo Sung Eun – Sometimes [OST Part 2]

4. Yoo Sung Eun – Sometimes [OST Part 2, instrumental]

5. Yoona – Amazing Grace [episode 6 at the church, OST Part 2]

6. Min Kyunghoon – Love you [OST Part 4]

7. Min Kyunghoon – Love you [OST Part 4, instrumental]

8. Fight Theme scene of ji Chang Wook

9. Kevin Oh – Baby Blue [episode 8 at the cafe when a girl wrote in her SNS to look for the ‘angel’]

10. Frankie Valli – Can’t take my eyes of you [episode 5, Ramen couple, when Anna enjoy her ramen prepared by Je Ha]

11. The K2 Ep 12 – My Angel

12. Park Kwang Sun – As time stop by [OST Part 5]

13. Yang Sun Mi – Wolf’s Song [Track 12, episode 9 when Jeha and Anna play catch on the beach]

14. Yang Sun Mi – Wolf’s Knight [Track 10, episode ]

15. Various Artist – The Witch and The Girl [Track 8, episode ]

16. Yang Sun Mi – Anemone (Female Version) [Track 20, episode 15 when Jeha leave Yoo Jin and Cloud 9]

17. Various Artist – Anemone (Male Version) [Track 7, episode ]

18. Kim Min Young – The Witch Advice [Track 15, episode ]

19. Yang Sun Mi – Mirror Mirror [Track 9, episode ]

20. Various Artist – Quando Corpus Morietur [Track 11, episode ]

21. Various Artist – Witching Hour [Track 14, episode ]

22. Various Artist – Der Rosenkavalier [Track 16, episode ]

23. Various Artist – Against The Odds [Track 17, episode ]

24. Various Artist – A Queen of Forest [Track 18, episode ]

25. Various Artist – Anna’s Appassionata [Track 19, episode ]

26. Yang Sun Mi – Serenade [Track 13, episode ]

27. various Artist – The K2 main theme [track 1, Jeha fighting scene ]

 

Read also:
The K2 Soompi forum

 

Melepas Kepenatan di Pulau Kelagian Lunik

Hari semakin sore. Setelah beramah tamah dengan nemo dan teman-temannya, kami melanjutkan petualangan menuju Pulau Kelagian Lunik. Lunik adalah bahasa Lampung yang berarti Kecil, makanya Pulau Kelagian Lunik juga dikenal sebagai Pulau Kelagian Kecil.

img-20161004-wa0220 img-20161004-wa0227Sesaat setelah perahu bersandar, kami serta-merta berpencar mencari spot terbaik untuk menikmati pemandangan di sekitaran Pulau Kelagian Lunik.

img-20161004-wa0239Pulau ini hampir seperti Pulau Kiluan, pulau kecil dengan hamparan pasir putih yang halus. Air laut yang biru transparan karena teramat jernihnya. Ombak yang tenang dan bukit-bukit di kejauhan.

img-20161005-wa0021

20161004_163224Indah. Sangat Indah.

Entah sudah berapa kali saya menyebut kata indah sejak pertama kali menjejakkan kaki di Lampung. Mulai dari di Bakaheuni, Teluk Kiluan, Pantai Gigi Hiu, Pulau Kiluan, dan Pulau Pahawang kecil. Tapi sungguh, benar-benar indah. Mungkin karena saya terbiasa melihat kemacetan di Jakarta, pemandangan gedung-gedung bertingkat, orang-orang yang berdesakan di angkutan umum, atau gemerlap mall-mall mewah yang bertebaran di Jakarta yang saya anggap tidaklah indah.

img-20161005-wa0027img-20161005-wa0016 Maka, tepat rasanya jika Pulau Kelagian Lunik ini kami manfaatkan sebagai tempat terakhir kami di Lampung untuk melepas segala kepenatan dari kesibukan dan rutinitas kami di kota Jakarta.

Mengingat kami ke pulau ini di hari Selasa, maka tidak ada pengunjung lain di pulau ini selain kami. Serasa pulau pribadi. Seperti halnya di Pulau Kiluan.

img-20161005-wa0011img-20161004-wa0240 Kami bebas bermain, berlari kesana-kemari. Bahkan tiduran di hamparan pasir pantai yang putih nan halus dengan sesekali diserbu ombak yang seakan menggelitik tubuh kami.

img-20161004-wa0255 img-20161004-wa0258Ingin rasanya waktu berhenti sesaat dan biarkan kami menikmati keindahan dan ketenangan ini sedikit lebih lama lagi. Membayangkan esok hari, kembali ke rutinitas kami di kota Jakarta, rasanya sungguh tak ingin beranjak pergi tuk kembali.

Pada akhirnya, mentari pun mulai meninggalkan kami. Memperingatkan kami untuk kembali ke kenyataan hidup yang harus kami jalani. Dan kami pun, dengan berat hati, meninggalkan Pulau ini untuk snorkeling terakhir kali sebelum meninggalkan Lampung.

img-20161004-wa0228Pak Parto kemudian membawa kami menuju tempat yang disebut sebagai Cukuh Bedil. Disini kami pun disambut dengan berbagai ikan arna-warni. Bahkan saya sempat menemukan dan memegang bintang laut indah berwarna ungu. namun, kasihan rasanya jika ia harus berlama-lama dengan kami, maka secepatnya kami kembalikan ia ke habitatnya.

Disini kami tidak bisa berlama-lama snorkeling, selain karena semakin senja, ubur-ubur pun mulai menunjukkan batang hidungnya. Banyak sekali ubur-ubur kecil yang dengan baiknya menyapa kami dengan sengatan-sengatannya.

Maka, kami anggap itu peringatan terakhir bagi kami untuk meninggalkan kawasan ini.

 

Sesaat di Pulau Pahawang Kecil

Setelah memaksimalkan waktu mengeksplorasi Teluk Kiluan, kami melanjutkan perjalanan ke Pulau Pahawang. Bermodalkan kenalan dari Pak Khairil yang bernama Pak Muchsin, kami pun bersiap memanjakan mata untuk merekam keindahan Pahawang.

Kami diantar Pak Harahap dan ditemani Wawan. Yup, ini Wawan yang sama dari Teluk Kiluan. Ia akan menemani kami bersnorkeling ria di sekitaran Pahawang dan Kelagian.

Sesampainya di rumah Pak Muchsin, kami sempatkan diri untuk sholat Dzuhur. Ternyata, kamar tempat kami sholat berada di atas perairan, dengan pemandangan langsung ke arah Pulau pahawang. Adem dan Indah sekali pemandangannya, meskipun rumahnya terbilang sangat sederhana. Pak Muchsin ini adalah anggota TNI, tepatnya marinir. Marinir yang hidup dalam kesederhanaan dan kesahajaan.

Setelah selesai sholat dzuhur dan berganti pakaian (maklum, pakaian kami sudah tidak ada lagi yang kering mengingat kami selalu kehujanan di Teluk Kiluan), kami pun bersiap menuju Pahawang. Makan siang, check! Snorkel dan life vest, check!, air minum, check!, hp, check! Sunblock, check! And we ready to go.

Dermaga tempat kapal kami bersandar tepat berada di sebelah rumah Pak Muchsin. Di sana, Pak Parto, sang kapten kapal sudah menunggu kami.

20161004_143953img-20161005-wa0009 img-20161005-wa0008 Sejam kemudian, kami sampai di Pulau Pahawang Kecil. Lagi-lagi, pulau yang sangat indah. Sayangnya, pulau ini ternyata pulau pribadi seseorang, sehingga kita tidak bisa mengeksplor seluruh bagian pulau. Amat disayangkan. Kok bisa yah pulau ini jadi pulau pribadi alias dibeli.

img-20161004-wa020320161004_152135 20161004_152124Di pulau ini, kita bisa berjalan menuju Pulau Pahawang Besar. Ketika air laut surut, akan terlihat ‘jalan’ berpasir (kerap dipanggil tanjung putus) yang menghubungkan kedua pulau. Maka, tidak heran jika kita melihat banyak orang seakan-akan berjalan di tengah laut di antara kedua pulau ini.

20161004_152439 20161004_153316Pasir di pulau ini dipenuhi oleh pecahan karang atau kerang. Ada baiknya jika kita tetap memakai alas kaki ketika mejejakkan kaki di pulau ini. Tidak seperti saya yang terlanjur bertelanjang kaki dan merasakan pedihnya menginjak pecahan karang tersebut.

20161004_151959 20161004_153000img-20161005-wa0086 img-20161005-wa0085Tak lama berselang, kami pun meninggalkan Pulau Pahawang kecil untuk menuju tempat dimana kami bisa snorkeling dan menemui Nemo, sang ikan yang terkenal seantero jagad raya akibat boomingnya film Finding nemo dan Finding Dory.

Pak Parto membawa kami ke daerah yang disebut Galangan. Disini, kami pun snorkeling selama lebih kurang setengah jam. Begitu kami menceburkan diri ke laut, kami langsung disambut oleh pemandangan bawah laut yang luar biasa indahnya. Setidaknya bagi saya yang baru pernah snorkeling di sekitaran Kepulauan Seribu saja.

Puluhan ikan wara-wiri di hadapan saya. Mereka seakan tidak takut akan kehadiran kami. Berenang kesana-kemari dengan santainya. Di sini pulalah saya akhirnya bertemu dengan Nemo. Sang superstar di kalangan anak-anak. Nemo ini adalah jenis ikan badut (clown fish).

Sungguh, pemandangan bawah laut yang indah sekali. Padahal, banyak terumbu karang yang sayangnya sudah mati dan mengapur. Namun, jumlah ikannya masih banyak sekali dan berbagai jenis pula.

Saya jadi berandai-andai, jika saja terumbu karangnya masih hidup, entah seperti apa keindahan yang saya saksikan sekarang.Pastinya akan membuat saya terpana. Semoga terumbu karang yang mati tidak bertambah lagi di kemudian hari.

Dry Rice Grain Necklace from Environmental Jewelry

Suka banget sama brand satu ini. Unik dan ramah lingkungan. Bagaimana tidak, perhiasan yang mereka tawarkan terbuat dari butiran beras kering. Yup, beras. Sama seperti beras yang setiap hari kita makan.

20161007_065204As someone who graduated from Biology major and love fashion, I really  have a soft spot in my heart for a sustainable fashion, ecofashion, or  fashion with nature-based.

When I encountered this brand from one of fashion week event in Jakarta, I just fall in love at first sight. Environmental Jewelry, that what was written there. A jewelry brand which all their jewelry carefully handcrafted using dry rice grain. Yup, rice, the same rice that we used to see everyday, ate every single day.

Unique. Timeless. Interesting.

My first impression of their jewelry at the first sight. While thinking how pretty it will be to wear the necklaces, bracelets, or even rings. Unfortunately not the earrings since I wear hijab.

And they are, very uniquely pretty to wear. Pretty much as a statement add to any simple outfit. Now, they are one of my favorites.



Lumba-lumba Teluk kiluan, Dimanakah kalian?

Masih dalam rangkaian petualangan kami di Lampung, tepatnya di Teluk Kiluan. Setelah seharian kemarin ke Pantai Pegadungan Gigi Hiu atau Batu Layar dan Snorkeling serta eksplor Pulau Kiluan, esoknya kami pun bersiap menjelang petualangan kami selanjutnya.

Pagi itu, cuaca masih tidak juga bersahabat. Mendung yang diikuti dengan gerimis seakan membujuk kami untuk tetap bersemedi di dalam pondok penginapan atau homestay. Menggoda kami untuk setidaknya menambah 1 hari lagi di Teluk Kiluan.

Dengan enggan, kami bersiap-siap dan packing perlengkapan untuk melanjutkan perjalanan ke Pulau Pahawang dan Pulau Kelagian.

Setelah sarapan habis kami santap, tiba-tiba Pak Khairil menginfokan kami untuk segera bersiap-siap menuju Samudera Hindia untuk berjumpa dengan sang lumba-lumba. Jujur, kami agak meragukan pertemuan ini. Entah mengapa di dalam hati kecil saya, rasanya kami belum berjodoh dengan sang lumba-lumba.

Bagaimana tidak, saat itu waktu sudah menunjukkan pukul 8 lewat. Sementara umumnya, kawanan lumba-lumba terlihat sekitar pukul 6 pagi. Ditambah lagi dengan hujan dan angin yang membuat ombak menjadi tidak tenang, rasanya akan sulit menemukan mereka. Saya saja, kalau jadi lumba-lumba mungkin akan tetap berdiam di rumah dan menghabiskan waktu dengan keluarga atau teman.

Namun, rasanya memang tidak lengkap jika kami tidak mencoba menemui mereka. Setidaknya kami sudah berusaha dan tidak lagi penasaran. Karena Teluk Kiluan memang terkenal akan lumba-lumbanya. Bayangkan saja, lumba-lumba yang hidup di habitat liar atau habitat aslinya hanya bisa di lihat di Pulau Tangalooma Moreton di Australia dan di Teluk Kiluan, dari seluruh laut yang ada di dunia.

Akhirnya kami pun berangkat menuju laut lepas, Samudera Hindia. Jukung yang kami gunakan kini hanya ditumpangi oleh 4 orang saja. Jaket pelampung pun dengan senang hati saya kenakan mengingat ombak yang akan kami hadapi nanti dan cuaca yang tidak bersahabat.

20161004_103356Another challenging and high adrenalin trip.

Satu lagi perjalanan yang sepertinya akan terpatri kuat di memori saya. Kalau Gigi Hiu mewakili perjalanan darat, maka kali ini, pertemuan dengan lumba-lumba mewakili perjalanan laut.

20161004_07503120161004_075632 Bismillah.

Jukung mulai melaju dengan cepat menembus hujan dan menerjang ombak yang masih tenang.

20161004_084708Hingga tiba satnya kami meninggalkan kawasan Teluk Kiluan dan masuk ke laut lepas. Sungguh perjalananan yang sekali lagi memacu adrenalin. Sepanjang mata memandang, 360 derajat jarak pandang, yang terlihat hanyalah lautan luas.

20161004_083752Ombak yang besar dan tinggi (akibat hujan dan angin kencang) sesekali membuat Jukung melambung tinggi dan air laut menerjang kami, terlebih saya yang posisinya tepat di paling depan. Saya berasa seperti sedang arung jeram di Dufan, hanya saja kali ini 1000x lipat dahsyatnya.

Disinilah saya merasa sangat kecil. Kecil sekali dibandingkan dunia ini. Apalagi di hadapan Sang Pencipta dunia ini.

Highly respect for all the fisherman.

Respek banget buat para nelayan. Meskipun profesi nelayan adalah pilihan mereka dan sudah mendarah daging bagi mereka, tetap saja dibutuhkan keberanian dan nyali yang besar.

Terlebih lagi untuk nelayan seperti di teluk Kiluan ini yang perahunya kecil, tanpa atap, dan umumnya hanya digunakan oleh 1 orang nelayan. Membayangkan terombang-ambing di tengah lautan lepas, sendiri, di malam atau pagi hari, membuat saya takjub setengah mati.

Saya pernah menaiki kapal betok ketika di Pangandaran atau kepulauan seribu. Menaikinya di pagi hari, siang, bahkan malam hari. Tapi sungguh, belum pernah merasakan yang seperti ini. Di laut lepas. Mengerikan sekaligus membuat saya penasaran.

Lumba-lumba Teluk Kiluan, dimanakah kalian?

Setelah beberapa jam berputar-putar mencoba peruntungan, kami pun menyerah. Kami pun ikhlas menyatakan kalau kami belum berjodoh dengan sang lumba-lumba. Suatu hari, ya, mungkin suatu hari nanti. Kami akan bertemu. Seperti kata pepatah, kalau sudah jodoh tak akan kemana.

Matahari mulai menampakkan batang hidungnya meskipun masih malu-malu. Menandakan bahwa kami harus segera kembali dan melanjutkan perjalanan ke Pahawang.

20161004_102844 20161004_102811 20161004_102747-1Jadi, selamat tinggal lumba-lumba, selamat tinggal Teluk Kiluan.

We see you when we see you.

Baca Juga:
Kiluan Bay

Menjejakkan Kaki di Pulau Kiluan

Sepulang dari perjalanan yang tak terlupakan ke dan dari Pantai Pegadungan Gigi Hiu atau Batu Layar, kami pun berisitirahat sejenak dan menyantap makan siang.

Sungguh, rasanya bak mimpi. Muncul rasa tidak percaya atas apa yang kami lalui dan saksikan beberapa jam ke belakang. “Beneran yah tadi ke Gigi Hiu? Beneran ya naik motor melalui jalan ga jelas itu?” terbersit dalam pikiran saya.

Kalau saja saat itu saya tidak menatap pilu namun penuh ikhlas ke HP dan kamera yang terbujur kaku di kedua tangan saya, perjalanan ke Gigi Hiu rasanya seperti mimpi saja. Seakan tidak pernah terjadi.

Sambil menyantap makan siang, rasa sedih dan kecewa kami kemarin sudah lenyap tak bersisa. Bahkan kami merasa tak akan ada lagi rasa kecewa jikalau cuaca menghadang dan membuat kami tidak bisa kemana-mana di sisa waktu kami di Teluk Kiluan.

Tapi Allah Maha Baik, disimpannya berkah hujan dari Teluk Kiluan untuk sementara.

Lepas Makan siang, kami pun bergegas menaiki Jukung (kapal tradisional nelayan Teluk Kiluan) menuju Pulau Kiluan. Semangat untuk menjejakkan kaki di pulau yang tampak indah dari kejauhan itu dan tak sabar untuk snorkeling di sekitaran pulau.

Mengingat jaraknya yang dekat, jukung yang biasanya dinaiki 2-3 orang pun mendadak jadi penuh sesak karena berisi 8 orang. Untungnya kami semua bertubuh ‘mungil dan singset.’

Sesampainya di Pulau Kiluan, jernihnya air laut dan halusnya pasir pantai menyambut kaki kami.

Indah, sungguh Indah.

img_20161005_162429 20161003_15561820161003_155631Apalagi, hanya kami ber-7 yang ada di pulau ini. A privat island just for us.

Berjalan di sepanjang garis pantai di atas pasir putih yang sangat halus dan sesekali ombak menyapu kedua kaki ditambah dengan terpaan angin laut yang dengan manjanya menyentuh setiap senti kulit kami. What an amazing feeling.

img-20161004-wa0261img-20161004-wa0264img-20161004-wa0273Tak lama kemudian, kami menyempatkan diri untuk snorkeling di sekitar pulau. Ombak yang cukup besar menyulitkan kami untuk menikmati keindahan bawah laut Pantai Pulau Kiluan. Namun saya cukup beruntung karena menjadi saya satu-satunya yang masih sempat melihat keindahan bawah laut sebelum ombak semakin besar dan hujan deras datang mengguyur.

Dingin.

Untunglah di Pulau Kiluan ini ada homestay dan juga warung yang dijaga oleh 1 orang saja. Ketika akhirnya sang penjaga datang bersama dengan kapten kapal kami. Kami pun berbahagia.

Semakin bahagia ketika Ia mengatakan bahwa kami bisa membeli dan menikmati semangkuk Indomie berkuah panas dengan telur dan cabe rawit sebagai toppingnya. Mulailah kami mengumpulkan recehan dari berbagai sempilan.

Maklum, kami sungguh tidak berencana mengindomie di pulau seindah ini. Siapa juga yang menyangka akan ada warung di pulau kecil dan terpencil ini. Maka membawa uang tidak masuk dalam daftar bawaan kami.

Disinilah kami pertama kalinya menikmati makan indomie kuah dengan telur, namun telurnya diceplok ditambah taburan irisan cabe rawit.

Dengan kondisi seluruh tubuh basah dan air menetes dari ujung pakaian kami, ditemani suara gemericik hujan, nyanyian burung dalam sangkar, deburan ombak dari sisi lain pulau, maka semangkuk indomie berkuah panas merupakan kenikmatan yang tiada tara. Apalagi ketika Wawan membawakan senampan gelas berisi the manis panas. Alhamdulillah.

“Maka, Nikmat Tuhan mana lagikah yang kau dustakan?”

20161003_17552220161003_17555920161003_175553Dan petualangan kami kali ini pun diakhiri dengan menyaksikan sisa-sisa sunset di kejauhan.
img_20161005_164316img-20161004-wa0140

The Perks of Being a Highscope Preschool Teacher

dscn2424Di Highscope, menjadi guru Preschool atau yang lebih dikenal orang awam sebagai guru TK, merupakan sarana saya dan anak didik saya saling belajar dan saling menginspirasi untuk menjadi pribadi yang lebih baik di masa depan.

Banyak orang memandang sebelah mata terhadap profesi saya, terlebih bagi lulusan UI seperti saya, hanya karena ketidaktahuan mereka terhadap pendidikan usia dini. Sebagian besar dari mereka hanya tahu bahwa guru TK adalah ‘teman bermain’ anak-anak. Entah berapa banyak orang yang mengatakan, “enak ya jadi guru TK, kerjanya main terus donk ya. ga perlu mikir.”

Benar!

Jelas sekali enak. Setiap saat bisa melihat senyum dan tawa yang tulus dari anak-anak. Betapa membahagiakan.

Pasti enak. Setiap hari bisa melihat bahagianya anak-anak ketika mereka bisa melakukan sesuatu yang baru secara mandiri. Betapa membanggakan.

Tidak diragukan lagi memang enak. Siapa sih yang tidak suka bermain? Anak-anak ataupun orang dewasa, semua suka bermain-main. Apalagi kalau kita dibayar untuk bermain. Betapa menguntungkan.

Kalau guru TK tidak bermain ketika menjalani profesinya, justru perlu dipertanyakan. Karena pada hakikatnya, anak-anak usia dini belajar dengan cara bermain.

Bagi guru TK, seperti saya, semakin banyak ‘bermain’ maka semakin banyak pengetahuan dan keahlian yang kami (saya dan anak didik saya) temukan dan kuasai.

Saya percaya bahwa proses jauh lebih bernilai daripada hasil yang terkadang hanya sekadar angka. Saya menilai mereka berdasarkan kemampuan mereka sendiri, sebagai pribadi yang unik.

Tidak membandingkan mereka dengan teman sebayanya, apalagi dengan diri saya di masa lampau, semasa kanak-kanak. Sungguh tidak adil rasanya.Tidak ada anak yang sama. Tidak ada zaman yang sama.

Kami melihat mereka bukan dari seberapa bagus mereka menulis dan mewarnai. Bukan dari seberapa cepat mereka menghapal angka dan huruf, terlebih lagi berhitung atau membaca kata-kata.

Kami hanya melihat mereka sebagai seorang anak. Anak yang layaknya selembar kertas putih bersih. Anak yang dengan antusiasnya ingin mengenal dunia dari ‘kacamatanya.’

Seorang anak yang kelak kami titipkan dunia ini padanya. Seorang yang kami persiapkan untuk menghadapi dunia dengan segala perubahannya. Dengan pekerjaan yang bahkan belum ada. Dengan semua permasalahan yang bahkan belum terlihat bentuknya.

Seorang anak yang memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Seorang anak yang berpotensi menjadi seseorang di masa depan, apapun pilihannya.

Tidak benar!

Kalau kami ‘ga perlu mikir’

Lantas, apakah dengan bermain maka kami tidak perlu berpikir ketika mendidik mereka? Apakah bisa disebut mendidik jika kami tidak berpikir bagaimana mendidik mereka?

Salah besar jika ada yang berpikir demikian. Meskipun kami selalu bermain, bukan berarti kami bermain tanpa ada tujuan. Kami selalu memikirkan apa yang bisa kami ajarkan melalui setiap permainan yang kami lakukan.

Bahkan, saya pribadi baru menyadari bahwa tantangan terbesar adalah ketika kita mengajar anak usia dini. Bayangkan saja, sebagian dari mereka bahkan belum lancar berbicara. Belum mengerti banyak perbendaharaan kata. Belum bisa mengontrol pergerakan. Belum bisa mengekspresikan dan mengontrol emosi mereka. Bahkan belum bisa berinteraksi dengan teman sebaya dan orang dewasa yang bukan keluarganya.

Lantas, masihkah kami dianggap mendidik tanpa perlu berpikir?