Air Terjun Jumog

Perjalanan 7 kurcaci ini pun terus berlanjut. Setelah melihat jejak peninggalan jaman dahulu melalu Candi Sukuh dan Candi Cetho, kami pun berhenti di sebuah lokasi yang konon katanya terdapat air terjun bernama Jumog.

Masih berada di daerah Karanganyar, Jawa Tengah, air terjun ini belum seterkenal air terjun lainnya di seputaran Jawa Tengah.Untuk mencapai air terjun ini, kami tidak perlu mendaki ratusan tangga atau menyusuri jauhnya jalan setapak maupun menembus hutan. Cukup berjalan beberapa langkah, indahnya air terjun Jumog dan derasnya suara jatuhnya air pun telah terdengar. Segar…

Indah bukan? Ingin rasanya berlama-lama berada di sini dan menikmati rindangnya pepohonan disertai gemericik suara air mengalir.

Di tempat ini juga, kita bisa berenang di kolam yang sudah disediakan pengelola. rasanya sangat tepat jika anak-anak diajak ikut serta dan berenang di tempat ini.

Dan saatnya kami berpisah dengan air terjun Jumog.

Dan perjalanan 7 kurcaci ini pun terus berlanjut menuju Yogyakarta melalui Stasiun Solo Balapan.

 

 

Advertisements

Walk Around Bogor Botanical Garden (Kebun Raya Bogor)

Malam itu, kami mendadak berencana ke Kebun Raya Bogor (Bogor Botanical Garden). Keesokan harinya, kami pun bergegas mengejar kereta pagi menuju kota hujan, Bogor.

Sepanjang perjalanan dari Stasiun Sudimara hingga stasiun Bogor, saya habiskan untuk menikmati sepinya gerbong-gerbong kereta dari sesaknya manusia. Sesekali saya berseluncur di dunia maya untuk sekadar mencari tahu mengenai Kebun Raya Bogor (KRB). Saya pun terpaku pada salah satu website andalan saya mengenai Bogor, yaitu Lovely Bogor.

Sesampainya di kota Hujan, kami pun menyempatkan diri untuk sarapan sebelum melanjutkan perjalanan ke Kebun Raya Bogor. Sempat terpikir untuk mengikuti saran dari Lovely Bogor, yaitu berjalan kaki menuju pintu masuk kebun raya bogor sembari menikmati pemandangan dan gedung-gedung bersejarah di sepanjang perjalanan. Namun apa daya, terik matahari sungguh tidak bersahabat sehingga kami terpaksa naik angkutan umum.

Tak lama berselang, angkutan umum yang kami naiki tiba di pintu utama. Kesan pertama, “Waah, kapan ya saya dan keluarga terakhir kali mengunjungi tempat ini?” Tanpa mengingat jawaban atas pertanyaan saya itu, kami pun memasuki KRB dengan membayar tiket masuk sebesar 15 ribu per orang.

Memasuki KRB, saya pun menghirup udara sebanyak mungkin ke dalam paru-paru saya. Segarnya. Sejauh mata memandang, yang tampak hanyalah rimbunnya pepohonan yang menghijau.

What a lovely sight. Green scenery are everywhere.

Kalau Singapore punya Garden by the bays dan Singapore Botanic Garden, sementara Inggris punya Garden of England, maka Indonesia punya Bogor Botanical Garden (Kebun Raya Bogor) yang tidak kalah menarik, indah, dan penuh kenangan bersejarah. Hal itu bisa kita lihat dari usia KRB tahun ini yang menginjak usia 200 tahun.

WOW. Just WOW!

Berikut adalah sedikit dari banyak sudut-sudut indah di Kebun Raya Bogor.

Sesekali, kami pun mengabadikan keberadaan kami di KRB. Truly beautifully scenery. Dimulai dari Taman Meksiko di tengah KRB.

LAnjut ke sebuah jembatan yang tampak sepi dari lalu-lalang pengunjung. Ternyata jembatan merah nan cantik ini dikenal sebagai Jembatan Pemutus Cinta.

What a myth.

Terus berjalan dan berjalan lagi… Di dalam KRB juga terdapat Istana Presiden yang dikenal dengan nama Istana Bogor. Di kejauhan, tampak istana bogor berdiri dengan gagahnya.

Mengingat KRB ini sangat luas, sangat mudah bagi kita untuk tersesat. Tapi jangan takut, di sini terdapat banyak penanda jalan yang menunjukkan ke mana kita harus pergi.

Terakhir, this is from where I stand.

 

Sejenak Menghampiri Baturraden

Masih dalam rangka libur lebaran, kami menghampiri lokawisata Baturraden walaupun hanya sejenak saja.

Sudah terlalu lama rasanya sejak saya menginjak Baturraden. Terakhir kali saya ke sini ketika saya masih SD bersama dengan keluarga besar H. Djayadih (keluarga almarhum Bapa). Saat itu, almarhum bapa dan almarhum kaka saya masih bersama kami.

Ketika akhirnya saya sampai ke tempat ini lagi, rasanya tak sabar dibalut dengan penasaran. “Seperti apa ya penampakan baturraden saat ini?” pikir saya.

Setelah melewati antrian panjang menuju pintu masuk, kami pun terpaksa memarkirkan mobil di sebuah Hotel mengingat hampir semua tempat parkir penuh, sampai-sampai bahu jalan pun digunakan sebagai area parkir. Kenapa? Karena waktu berkunjung bertepatan dengan libur lebaran yang berarti banyak pengunjung berdatangan dari berbagai daerah.

Kami pun berjalan menanjak menuju pintu masuk dengan pemandangan Gunung Slamet yang menjulang tinggi dengan gagahnya.

Sampai di pintu masuk, rasa tidak sabar dan penasaran tadi mulai terjawab. Ramai, kesan pertama saya.

Memasuki kawasan wisata baturraden, saya pun terkejut.

Wow! Just Wow!

Bukan karena tumpah ruahnya manusia, melainkan karena betapa banyak perubahan di tempat ini. Sungguh amat sangat teramat berubah.

 Baturraden yang begitu alami dalam ingatan saya, berubah menjadi lebih modern, family friendly, colorful, and instagramable. Bagus sih, tetapi bagi saya yang menyukai suasana alam nan alami, rasanya agak disayangkan. Saya sungguh lebih menyukai tampakan Baturraden yang terekam alami dalam memori masa kecil saya.Meskipun begitu, Baturraden tetap merupakan salah satu destinasi wisata alam yang patut dikunjungi. Terlebih bagi warga perkotaan yang merindukan kesejukan dan keindahan alam pegunungan.

Di Baturraden ini banyak sekali lokasi yang bisa dikunjungi. Mulai dari pancuran 1 sampai 7, jembatan putus cinta, kebun raya, water park, dan lainnya. Sayang sekali saya tidak bisa mengunjungi semua tempat tersebut karena keterbatasan waktu.

Menuju jembatan putus cinta. Ketika saya masih SD, jembatan ini masih berupa jembatan gantung. Namun, semenjak peristiwa putusnya jembatan ini, pihak pengelola akhirnya membangun jembatan permanen untuk menggantikan jembatan gantung.

Pemandangan Baturraden dari atas jembatan. Such a beauty.Lanjut ke pancuran 7. Untuk menuju pancuran 7 dibutuhkan waktu lebih dari sejam dengan perjalanan yang terus menanjak. Sayang sekali saya dan keluarga tidak sampai hingga ke pancuran 7 karena masih harus mengejar waktu untuk balik ke Jakarta.

Next time, I’ll make sure to comeback to Baturraden. From morning till noon and explore every inch of what Baturraden can offered.

Kenyataan Dibalik Indahnya Taman Wisata Air Panas Guci

Lesson learned! No visitation during Eid or long holiday. A really bad timing to visit the place. It turned out, what we expected is far from reality.

Masih dalam rangka libur lebaran. Dalam perjalanan pulang kembali ke Jakarta, kami meyempatkan mampir ke objek wisata yang belakangan ini sungguh terkenal dibicarakan di berbagai sosial media. Ribuan foto berlatar belakang tempat ini pun sudah bertebaran di jagad instagram

Indah. Tampak indah.

Setelah perjalanan yang cukup menguji nyali karena berkelok-kelok, naik turun, ditambah dengan ramainya kendaraan. Kami pun tiba di Taman Wisata Air Panas Guci, Tegal  yang tepat berada di kaki gunung Slamet, Jawa Tengah.

Kesan pertama, jalan menuju lokasi masih belum tertata rapi. Hal ini membuat saya tersenyum bahagia. Mengapa, berarti tempat ini masih alami, which is very good.

Memasuki lokasi, kami disambut dengan cukup banyaknya sampah berserakan di sepanjang jalan dan banyak pengunjung yang lalu-lalang.

Semakin jalan ke dalam, suasana alami semakin terasa. Tapi entah kenapa, ada perasaan tidak nyaman di hati kecil saya.

Kami pun mengikuti jalan di sepanjang pinggir sungai yang mengalirkan air panas. Sesampainya di taman wisata, tepatnya di jembatan gantung, saya pun semakin merasa tak nyaman.

Betapa tidak, di jembatan jelas-jelas tertulis jalan satu-satu dan agar tidak berlama-lama di jembatan. Kenyataannya, jembatan penuh sesak oleh pengunjung yang menyebrang, bahkan banyak di antara mereka yang sibuk ber-selfie, wefie, dan –fiefie lainnya.

I guess, rules are meant to be broken. And that safety just flew out of the window at time like this (means holiday).

Dari ujung jembatan, terlihat kolam pemandian air panas yang dipenuhi pengunjung. Dan perasaan tak nyaman semakin menggebu-gebu di dalam hati saya.

Oh my. Oh my. Oh my God.

So this is an uncomfortable feeling I feel along the way. It is so crowded. Overly crowded. Gosh! I got a sudden headache.

Lihatlah betapa ramainya taman wisata air panas Guci di kala libur panjang lebaran. Benar-benar waktu yang sangat tidak tepat untuk mengunjungi tempat ini.

Jangankan menikmati keindahan alam, untuk sekadar berjalan pun kesulitan. Seakan-akan saya sedang dalam antrian panjang untuk menonton konser atau bola.

Tidak hanya di jalan, tetapi juga di sungai air panas, di air terjun, di jembatan, di kolam pemandian, di tempat souvenir, di tempat makan, semuanya dipenuhi manusia. Lebih tepatnya, lautan manusia.

Saya pun merasa kasihan dengan kuda-kuda yang berada di lokasi. Sejatinya, mereka cukup sensitif dengan keramaian dan kebisingan. Namun, apalah daya mereka.

Belum lagi, sampah-sampah yang berserakan di jalan, di pinggir sungai, bahkan di aliran sungai. Tempat sampah yang disediakan sungguh sudah tidak mampu menampung sampah dari ribuan orang yang datang bersamaan pada saat itu.

Saya pun segera mengurungkan niat saya untuk berlama-lama di tempat ini. Meskipun begitu, saya sempatkan untuk mengabadikan momen ini bersama keluarga. Kapan lagi bisa melihat Guci dalam keadaan seperti ini. Jauh dari bayangan. Sungguh, kenyataan lebih kejam dari harapan.

Bye-bye Guci. I’ll make sure to visit you again during weekdays in the near future. No more visiting during long holiday for I can not witness your beauty.

Hujan pun tiba-tiba datang tanpa diundang. Lengkap sudah perjalanan saya di Guci. Kami pun melipir sejenak di warung untuk sekadar menikmati pop mie dan menanti hujan reda.

Indahnya Desa Tlaga Kecamatan Punggelan, Banjar Negara

Salak day! After more than an hour climb up a mountain like, definitely worth it. Happiness is having a family living in a mountain with a field of salak, avocado trees, bananas, and a pond full of fishes.

 

Dalam rangka Lebaran, kami sekeluarga mudik ke Banjar Negara. Saya pun menyempatkan diri untuk mengunjungi sanak keluarga yang rumahnya tidak jauh dari rumah mbah saya.

Jadilah saya dan keluarga mengunjungi rumah lilik (om/tante) yang katanya berada di pegunungan, bahkan hampir di puncak gunung. Tepatnya di desa Tlaga Kecamatan Punggelan.

Ditambah iming-iming memetik salak, makan salak sepuasnya, memetik alpukat, dan memancing ikan untuk kemudian dimasak. Wah, saya sangat excited.

Maklum saja, saudara yang sudah pernah ke sana selalu menceritakan betapa indahnya pemandangan dan betapa ‘mengerikan’nya perjalanan ke sana. Ditambah lagi dengan cerita bahwa Punggelan termasuk daerah yang rawan longsor.

Benar saja. Jalan yang berkelok-kelok, naik dan turun, dan bisa dibilang hanya cukup untuk 1,5 ukuran mobil saja harus kami lalui. Mereka bilang jalannya menyeramkan. Saya bilang, jalannya cukup menantang. Mereka sungguh harus mencoba jalanan menuju pantai pegadungan gigi hiu, pikir saya.

Sepanjang jalan, saya disuguhi dengan hijaunya pepohonan, segarnya udara pegunungan,dan keindahan alam sepanjang mata memandang.

Sesampainya di rumah lilik saya, kami pun langsung disuguhi salak, keripik salak, pisang, ikan goreng, dan sebagainya. Ternyata semua iming-iming itu benar adanya, bahkan lebih.

Sungguh nikmat berada di pedesaan. Untuk sementara, saya lupa akan kesibukan dan kemacetan di ibukota.

 

A Walk to Discover in Singapore: Henderson Waves

Singapore! When I heard Singapore, shopping and Merlion came first at my mind. Most of people I know went to Singapore for shopping or discovered Universal Studios then taking mandatory picture with the famous Merlion.

Rarely I heard of them visit Singapore to enjoy their garden, parks or nature. So, when my cousin told us that we will do our morning run in the Southern Ridges, especially in the Henderson Waves, I was beyond thrill.

As we arrived late at night in Changi Airport, we only had few hours to sleep. And that made us woke up late in the morning. We went straight to the Mountbatten MRT station and took the train (Circle line) headed to Harbourfront station.

It was work day, so the train was full of Singaporean who were going to work or school. It was so quite in the train (remind me of how noisy it will be if it was in Indonesia) and very comfortable being inside of the train. I was impressed.

From the Harbourfront station, we planned to hike through Marang trail. But, after some thinking, we decided not to because of many reasons. So I took my phone out and reserved Uber to take us to Henderson road.

Not long after, a long and high stairs welcomed us, a stairway to heaven if I may call it. Well, I might be over exaggerated. At the end of the stairs, green scenery and a mountain trail were ahead of us, along the way to the Henderson Waves.

Finally, Henderson Waves right in front of our eyes. As we were getting ready to run along the waves, we took some snapshot here and there.

Henderson waves is the highest pedestrian bridge in Singapore which standing 36 meters above the Henderson road. It said as one of the best spots in Singapore to enjoy panoramic views of the city, harbour and the Southern Islands. And I couldn’t agree more.

It was so refreshing and relaxing. Fresh and nice air combined with beautiful scenery surely made us wanted to spend more time in here. Sadly, we had to force our self moved to another destination which is HarbourFront Centre and VivoCity also Coldplay Concert.

So, bye-bye waves. See you when I see you.

 

 

Merindukan Kesejukan di Desa Susukan, Banjar Negara

It’s been some time since we went to my mom’s hometown in Susukan Village, Central Java. Been missing the morning scenery of the sunrise, paddy fields, mountain, and hills.

short-getaway-21short-getaway-14short-getaway-23

Pulang ke kampung halaman mama selalu menjadi momen yang selalu saya tunggu. Membayangkan sejuknya udara yang bisa saya hirup, hijaunya hamparan padi, rimbunnya pepohonan di bukit, dan damainya suasana pedesaan membuat kami semakin tak sabar untuk segera kembali ke sana.

Beruntungnya saya, mama dilahirkan di sebuah desa bernama Susukan, yang masih kental dengan suasana pedesaan hingga saat ini.

Lihat saja, hamparan sawah mengapit jalanan menuju rumah Mbah saya. Betapa indah dan alami.

short-getaway-13

short-getaway-12

short-getaway-22

short-getaway-9 short-getaway-8

Aliran sungai pun ada disini. Jembatan ini merupakan jembatan bersejarah dan telah menjadi bagian dari keluarga besar kami, keluarga Sanrusdi. Entah sudah berapa lama sejak dibangunnya jembatan ini.

Yang pasti, saya melihat jembatan ini di dalam foto masa kanak-kanak Mama, masa remaja beliau, masa pernikahan beliau, masa saya masih bayi, hingga saya sekarang ini.

short-getaway-15short-getaway-20

short-getaway-18

short-getaway-17

Kepulauan Seribu: Sejarah Panjang Pulau Onrust

Pulau ke-2 yang kami sambangi setelah Pulau Kelor adalah Pulau Onrust.

Penjajahan terhadap Indonesia selama 350 tahun dimulai di Pulau yang kecil ini. Pada tahun 1619 armada dan tentara VOC berkumpul di sini untuk mempersiapkan penyerangan kota Jayakarta. Sejak itulah satu persatu kerajaan di nusantara jatuh oleh Belanda.

[Tulisan yang tertera di depan kantor pengelola Pulau Onrust]

Pulau ini memiliki sejarah yang amat panjang. Dikenal dengan sebutan Pulau Unrest atau Pulau Sibuk pada masanya dulu karena kondisi pulau ini tak pernah berhenti membongkar muat barang-barang komoditi dan kegiatan perbaikan kapal-kapal.

Memasuki Pulau Onrust, kami mendapat kesempatan belajar sejarah dari guide yang ada di Pulau Onrust. Ia mengajak kami berkeliling Pulau Onrust dan menceritakan kembali kejayaan dan kejatuhan Pulau Onrust.

Setelah mendengar sepenggal kisah sejarah tersebut, muncullah rasa ingin tahu saya hingga saya menemukan rentetan sejarah Pulau Onrust di website Jakarta.go.id

Pada zaman dahulu Pulau Onrust pernah menjadi tempat peristirahatan keluarga raja-raja Banten. Namun kemudian terjadi sengketa antara Kerajaan Banten dan Jayakarta hingga tidak pernah ada upaya penyelesaian. Jayakarta merasa memiliki pulau ini karena lokasinya dekat (di hadapan Kota Jayakarta), sedangkan Banten mempunyai hak atas pulau tersebut sebab seluruh Kepulauan Seribu merupakan bagian dari teritorial kekuasaannya. Saat Belanda datang dan gagal memonopoli perdagangan di Banten kemudian mengalihkan perhatiannya ke Jayakarta dengan menggunakan salah satu pulau di Teluk Jakarta, yakni Pulau Onrust.

Tahun 1610, terjadi perjanjian antara Belanda (diwakili L. Hermit) dan Jayakarta (diwakili Pangeran Jayakarta) yang isinya memperbolehkan orang-orang Belanda mengambil kayu untuk pembuatan kapal-kapalnya di Teluk Jakarta. Melihat banyak kapal yang berlayar ke Asia terutama Asia Tenggara dan tinggal beberapa lama, sering memerlukan perbaikan kapal akibat perjalanan panjang, maka VOC berniat untuk membangun sebuah galangan kapal di Teluk Jakarta. Niat tersebut diijinkan oleh pangeran dengan menggunakan Pulau Onrust.

Tahun 1613, VOC mulai membangun Pulau Onrust.

Tahun 1615, VOC mendirikan sebuah galangan kapal dan sebuah gudang kecil. Selain sebagai galangan kapal, Jan Pieterzoon Coen mengharapkan Onrust menjadi koloni sehingga VOC mengirim keluarga Cina ke Onrust dengan segala fasilitasnya.

Tahun 1618, Coen menjadikan Onrust sebagai pulau pertahanan terhadap akibat memuncaknya ancaman Banten dan Inggris. Pembangunan sarana fisik terus dilakukan.

Tahun 1656, dibangun sebuah benteng kecil bersegi empat dengan 2 bastion (bangunan yang menjorok keluar berfungsi sebagai pos pengintai).

Tahun 1671, diperluas menjadi benteng persegi lima dengan bastion pada tiap tahap sudutnya namun tidak simetris yang semuanya terbuat dari bata dan karang.

Tahun 1674 dibangun gudang-gudang penyimpanan barang, gudang penyimpanan besi dan dok tancap yang semuanya dikerjakan oleh 74 tukang kayu dan 6 tukang lainnya. Pada tahun yang sama dibangun sebuah kincir angin untuk keperluan penggergajian kayu.

Tahun 1691–1695, dibangun sebuah kincir angin yang kedua, terdapat 148 abdi kompeni dan 200 budak.

Tahun 1800, Inggris melakukan blokade terhadap Batavia, dan pertama kali mengepung Onrust dan sekitarnya. Semua bangunan yang terdapat dipermukaan Onrust tersebut dimusnahkan.

Tahun 1803–1810, Belanda merencanakan pembangunan kembali atas Onrust sesuai dengan rencana DM. Barbier.

Tahun 1810, selesai dibangun, Pulau Onrust dihancurkan lagi oleh Inggris dan menduduki Onrust sampai 1816.

Tahun 1827, Pulau Onrust baru mendapat perhatian lagi dan pada tahun 1828 pembangunan dimulai dengan mempekerjakan orang-orang Cina, dan tahanan. Dan 1848 kegiatan berjalan kembali.

Tahun 1856 arena pelabuhan ditambah lagi dengan sebuah dok terapung yang memungkinkan perbaikan kapal laut. Setelah Pelabuhan Tanjung Priok dibangun tahun 1883, Onrust hilang perannya dalam dunia perkapalan dan pelayaran.

Tahun 1905, Onrust mendapat perhatian lagi dengan didirikannya stasiun cuaca di pulau ini dan Pulau Kuyper (Cipir).

Tahun 1911–1933, Onrust diubah fungsinya menjadi karantina Haji bagi orang-orang yang hendak berangkat ke mekah dan kembali dari Mekah.

Tahun 1933–1940, Onrust dijadikan tempat tawanan para pemberontak yang terlibat dalam “Peristiwa Kapal Tujuh” (Zeven Provincien).

Tahun 1940, Onrust dijadikan tempat tawanan orang-orang Jerman yang ada di Indonesia, diantaranya Stenfurt, mantan Kepala Administrasi Pulau Onrust.

Tahun 1942, setelah Jepang menguasai Batavia, Onrust dijadikan penjara bagi para penjahat kriminal kelas berat.

Tahun 1945, Pada masa Indonesia merdeka, pulau ini dimanfaatkan sebagai Rumah Sakit Karantina terutama bagi penderita penyakit menular di bawah pengawasan Departemen Kesehatan RI hingga awal 1960-an.

Tahun 1960–1965, Onrust dimanfaatkan untuk penampungan para gelandangan dan pengemis, selain itu juga dimanfaatkan untuk latihan militer.

Kemudian, Pulau ini terbengkalai, dianggap tak bertuan. Pada tahun 1968 terjadi pembongkaran dan pengambilan material bangunan secara besar-besaran oleh penduduk atas ijin kepolisian setempat.

Tahun 1972, Gubernur KDKI Jakarta mengeluarkan SK yang menyatakan Pulau Onrust sebagai pulau bersejarah.

What an interesting and hurtful stories of Onrust.

Di pulau Onrust, fasilitas yang disediakan sangat lengkap. Mulai dari Musholla, toilet, restoran, hingga museum dimana kita bisa melihat kisah pulau onrust.

Kepulauan Seribu: Benteng Martello di Pulau Kelor

Kali ini kami mencoba ikut Open Trip untuk pertama kalinya. Instagram telah mengenalkan kami dengan Airis Project, yang membanggakan dirinya sebagai perintis EO yang melakukan pelepasan lampion pada saat sunset di kepulauan seribu.

Pulau pertama yang kami sambangi adalah Pulau Kelor yang dahulu dikenal dengan nama Pulau Kherkof . Pulau ini merupakan 1 dari 3 pulau di Kepulauan seribu yang menjadi benteng pertahanan kolonial Belanda pada masa penjajahan di Indonesia.

Pulau Kelor juga disebut sebagai Pulau Kuburan. Pada masa itu, banyak tahanan politik ataupun pribumi yang dihukum mati atau sakit dan dikubur di pulau ini.

Sesuai dengan namanya, Kelor, pulau ini luasnya terbilang kecil, persis seperti daun pohon kelor yang memang berukuran kecil.

Di pulau ini terdapat reruntuhan benteng Martello yang dibangun pada tahun 1849. Martello itu sendiri merupakan menara untuk tujuan militer yang biasanya dilengkapi dengan senjata yang bisa bermanuver 360 derajat. Martello ini sebenarnya bagian dalam dari benteng yg didirikan di Pulau Kelor.

Benteng ini digunakan Belanda untuk menahan serangan Portugis di abad ke-17. Bata merah yang menyusun benteng ini batanya berasal dari Tangerang dan bahannya lebih kuat dari bata sekarang. Bahkan benteng ini disebut sebagai benteng anti meriam.

Luas pulau kelor ini semakin hari semakin menyusut karena abrasi laut. Oleh karena itu, pemerintah membangun tanggul di sebagian sisi pulau dan juga menaruh pilar-pilar pemecah ombak untuk menjaga kelestarian pulau ini.

Fasilitas di pulau kelor ini terbilang cukup lengkap dan bersih. Musholla dan Toilet atau kamar mandi bilas tersedia di sini dan cukup bersih. Next time coming here, I’ll make sure to swim in the beach.

Air Terjun Situmurun atau Air Terjun Binangalom

Setelah makan siang dan puas berbelanja oleh-oleh di Tomok, Pulau Samosir. Kami pun melanjutkan perjalanan menggunakan kapal motor ke salah satu air terjun terunik di Danau Toba. Disebut unik karena air terjun ini jatuh langsung ke Danau Toba, sementara air terjun lainnya hanya bermuara di Danau Toba. Untuk menikmati keindahan air terjun ini pun, kita hanya bisa menggunakan kapal alias tidak bisa melalui jalur darat.

Air Terjun Situmurun berada di Kecamatan Lumban Julu, Pulau Samosir, Sumatera Utara. Air terjun setinggi lebih kurang 70 meter dan memiliki 7 tingkatan ini juga dikenal sebagai air terjun Binangalom karena airnya berasal dari sungai di desa Binangalom.

Saat ini, pemerintah telah membangun dermaga kecil di dekat air terjun sehingga kapal bisa berlabuh dan para pengunjung bisa puas menikmati air terjun dari dekat atau bahkan berenang di bawah aliran air terjun * sayangnya kami tidak bawa perlengkapan berenang, well next time. *

IMG-20160713-WA0024

Sejuknya Air Terjun Janji (Waterfall of Janji)

Salah satu destinasi wisata yang wajib dikunjungi di Danau Toba adalah Air terjun janji atau Waterfall of Janji.  Air terjun ini merupakan satu dari banyak sekali air terjun di kawasan danau Toba.

Air terjun ini berada di Desa Marbun Toruan, Kecamatan Baktiraja, Kabupaten Humbang Hasundutan (Humbahas), Provinsi Sumatera Utara

Air terjun setinggi lebih kurang 30 meter ini bermuara langsung ke Danau Toba. Pada saat kami menginjakkan kaki di dermaga, kami sudah disambut dengan aliran air terjun ini. * kebetulan saya dan teman-teman sudah disewakan kapal untuk menuju lokasi ini. meskipun jalur darat juga bisa dilalui untuk sampai di sini. *

Untuk menikmati air terjun janji tidak dipungut biaya alias gratis. Namun, di air terjun ini tidak diperbolehkan untuk mandi atau bermain air langsung di bawah air terjun. Bagi pengunjung yang ingin mandi atau bermain air, disediakan bilik khusus untuk pria dan wanita tepat di bagian bawah aliran air terjun.

Baca ini juga:

 

Menikmati Keindahan Danau Toba dari Tugu Toga Aritonang

Selagi kami menikmati perjalanan menuju Danau Toba, Tulang pun mengajak kami untuk berhenti sejenak di kawasan Tugu Toga Aritonang. Sebuah tugu yang Nampak dari kejauhan dan dengan gagahnya berdiri tegak menjulang hingga seakan-akan mencapai langit. 

Tugu ini berada di Desa Dolok Ambar atau Desa Aritonang, Kecamatan Muara, Kabupaten Tapanuli Utara, Provinsi Sumatera Utara. Tugu ini dibangun atas gagasan dan kesepakatan keturunan Toga Aritonang di Bona Pasogit (di Sumatera Utara) maupun di perantauan.

Toga Aritonang adalah salah satu anak dari Raja Lontung. Mereka tujuh bersaudara; Toga Sinaga, Tuan Situmorang, Toga Pandiangan, Toga Nainggolan, Toga Simatupang, Toga Aritonang dan Toga Siregar. Toga Aritonang ini memiliki tiga anak yakni Simaremare, Rajagukguk dan Ompusungguh (ketiga anak ini yang kemudian dibuatkan patungnya dan diletakkan di dalam tugu Toga Aritonang). Turunan Toga Aritonang ini kemudian memakai ketiga marga itu.

Raja Lontung sendiri adalah anaknya Guru Tatea Bulan, yang tinggal di Sianjurmulamula di bagian barat (hasundutan) Pussubuhit (gunung Toba yang meletus 78 ribu tahun lalu) sebagai anak pertama si Raja Batak.

Tugu ini diresmikan pada bulan Maret 2016. Tugu berbiaya 5 Miliar dan setinggi 33 meter ini bisa dibilang merupakan ikon Tapanuli Utara. Tugu ini juga diharapkan bisa mempererat persatuan antara sesama marga Aritonang dan sebagai salah satu upaya melestarikan budaya Tapanuli Utara.

Berikut adalah pemandangan Danau Toba dilihat dari kawasan Tugu Toga Aritonang * what a sight! *

danau toba trip 2016 (69) danau toba trip 2016 (70)

 

Menarik untuk dibaca:

 

 

Dari Silangit ke Danau Toba, Sumatera Utara

It was one of many unforgettable moment in life. When I can see how beautiful my country is. North Sumatra, one of province in Indonesia which have lots of places to visit with their uniqueness and amazing view.

danau toba trip 2016 (63)Tujuan kami kali ini adalah Danau Toba dengan Pulau Samosirnya. Perjalanan dimulai dengan menaiki pesawat Sriwijaya Air dengan rute Soekarno Hatta (CGK) – Silangit (DTB). Bandara Silangit terletak di Siborong-borong, Tapanuli Utara, Sumatera Utara.  Jarak dari pusat kota sekitar 7 km.danau toba trip 2016 (51)

Bandara Silangit dibangun pada masa penjajahan Jepang. Pembangunan kembali bandara ini mulai dilakukan sejak tahun 1995 dengan menambah landas pacu sepanjang 900 meter menjadi 1.400 meter. Pada Maret 2005, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono meresmikan pengoperasian Bandara Silangit. Sejak saat itu pembangunan Bandara pun mulai dilakukan dengan gencar. Pada tahun 2011, Bandara Silangit akhirnya memiliki landas pacu sepanjang 2.400 meter. Pada tanggal 18 Januari 2011, Bandara Silangit didatangi oleh Presiden RI beserta rombongan yang menggunakan pesawat Boeing 737-500. Dengan kedatangan Presiden tersebut, dinyatakanlah bahwa Bandara SIlangit telah sanggup melayani pesawat sekelas B737. [Sumber: Silangit-airport.co.id]

Sebagai info tambahan, pesawat Sriwijaya Air yang kami naiki memberikan makan pagi di pesawat, * which is amaze me since we only have to fly for 2 hours. Well, good service if I may say.

Sesuai dengan namanya, Silangit, berada di bandara ini serasa kita dekat dengan langit. Udara yang amat dingin menyusup ke dalam kulit esaat kita menapakkan kaki di bandara ini. Hampir seperti dinginnya Dataran Tinggi Dieng di pagi hari atau Gunung Prau di siang hari.

Untuk menuju Danau Toba, tepatnya Kecamatan Muara, kami pun harus menempuh perjalanan lebih kurang 1 jam. Perjalanan yang dipenuhi dengan pemandangan indah di kanan kiri atas dan bawah. Sesekali, kami pun berhenti untuk mengabadikan momen ini.

See!

What a beautiful view, eventhough we taking it from the side road on our way to danau Toba.

Perjalanannya seharusnya memakan waktu lebih kurang 1 jam, terpaksa menjadi lebih lama karena saya terkagum-kagum dengan apa yang ada di depan mata saya * maklum, biasa lihat kemacetan dan gedung-gedung kaca beton menjulang ke langit *

Ekowisata Hutan Mangrove: Taman Wisata Alam Angke Kapuk

Taman Wisata Alam (TWA) Angke Kapuk merupakan salah satu objek ekowisata yang cukup ngehits di kalangan warga Jakarta. Puluhan bahkan ratusan foto-foto selfie, preWedding dan lainnya beredar di dunia maya dengan berlatang belakang pemandangan nan indah di TWA ini.

Saya pribadi menganggap bahwa tempat wisata ini sangat cocok untuk bernarsis ria dan sangat instagramable. Selain tentunya, sangat cocok untuk menambah pengetahuan kita yang dangkal ini mengenai hutan mangrove.

Taman Wisata Alam Angke menjadi satu-satunya kawasan hutan mangrove terluas di Jakarta. Pepohonan mangrove yang rimbun, jalan setapak yang tersusun rapi dari batang pohon mangrove dan juga bambu, ditambah lagi dengan pemandangan pantai serta hembusan angin laut yang sepoi-sepoi membuat tempat ini cukup tepat untuk sekadar melepas lelah dan penat akibat kesibukan dan kemacetan Kota Jakarta.

Tempat wisata ini berada di ujung utara Jakarta, tepatnya di Pantai Indah Kapuk. Berdasarkan data dari Direktorat Pemanfaatan Jasa Lingkungan Hutan Konservasi, diketahui kalau Taman Wisata Angke Kapuk ini seluas 99.82 Ha.

Taman ini dipenuhi oleh berbagai jenis tanaman mangrove, diantaranya adalah Api-api (Avicenia sp), Bidara (Sonneratia caseolaris), Bakau (Rhizophora mucronata, Rzhizophora stylosa), dll.

Lokasi

Untuk mencapai lokasi, bisa dengan kendaraan pribadi maupun transportasi umum. Saran saya, jika menggunakan transportasi umum, lebih baik naik Taxi, Gojek, Grab, Ojek, Bajaj, atau Bus Kota Terintegrasi Busway (BKTB) dari halte Monas (rute Monas – PIK), jadi tidak perlu naik turun angkot yang berarti hemat ongkos dan tenaga. BKTB akan mengantarkan kita tepat hingga depan Yayasan Budha Tzu Chi. Kemudian, cukup berjalan menyusuri Yayasan tersebut (ke arah belakang) dan sampailah kita ke lokasi.

Kesan pertama saya dalam perjalanan menuju TWA ini adalah, wow… miris! Betapa tidak, TWA ini dikelilingi perumahan mewah, bahkan bisa dibilang sangat mewah. Saya seakan berada di dunia lain (setelah sebelumnya melewati lorong-lorong sempit dan kumuh di kawasan Duri dan Tanah Abang).

Belum lagi tampilan kompleks Yayasan Budha Tzu Chi yang sangat teramat luas dan indah, tidak bisa saya jelaskan dengan kata-kata. Seakan-akan saya sedang berada di negeri Cina.

Wow, sekali lagi wow… takjub! Pintu gerbang TWA tepat di depan gedung Yayasan ini. Mereka hanya dipisahkan oleh sebuah jalan raya.

Kok bisa ya? Untuk sesaat, ingatan saya melayang mundur ke belakang saat kawasan PIK belum dipenuhi bata, beton, dan baja.

Tiket

  • Dewasa: IDR 25.000
  • Anak-anak: IDR 10.000
  • Wisatawan Asing: IDR 250.000
  • Mobil: IDR 10.000
  • Motor: IDR 5000
  • Bus: IDR 50.000

Setelah membayar tiket, kita harus berjalan menuju pos pemeriksaan. Kemudian, kita bebas mengeksplorasi Taman Wisata Alam ini. Selain kita dapat dengan puas mengamati pohon mangrove, kalau beruntung, kita juga bisa mengamati biawak, burung, bahkan kera.

Yang paling membekas bagi saya adalah ketika berjalan di sepanjang titian kayu-kayu ditengah desahan daun-daun pohon mangrove yang saling bergesekan. Sesekali, terpaan angin laut menyentuh kulit saya. Sementara sinar mentari dengan malu-malu mencoba menyelusup dan mengintip di antara dedaunan.

Taman Wisata Alam Agke kapuk (12)Fasilitas

  • Wisata Air. Disini kita bisa mengelilingi perairan di dalam Taman Wisata Air dengan menggunakan kano, perahu dayung, ataupun perahu motor dengan harga mulai dari IDR 100.000/ orang
  • Wisata Hutan. Untuk wisata hutan, kita bisa berkemah, outbound, pemotretan, wisata alam, dan juga penelitian.
  • Penginapan. Bagi yang ingin menikmati taman wisata ini lebih dari satu hari, bisa menginap di Pondok Alam, berkemah dengan tenda, ataupun berkemah dengan Pondok Permanen yang berbentuk mirip tenda.
  • Konservasi. Bagi yang ingin berperan serta dalam konservasi hutan Mangrove, kita dapat menanam pohon mangrove dengan membayar IDR 150.000/orang dan IDR 500.000/orang jika ingin tanaman mangrove diberi papan nama.

Penting untuk diketahui sebelum berkunjung:

  1. Tidak diperbolehkan membawa kamera selain kamera dari handphone, ipad, smartphone dan kawan-kawan sejenisnya. Akan ada pemeriksaan di pos setelah pintu masuk. Jika terpaksa harus membawa kamera digital atau DSLR, maka kita harus membayar IDR 1.000.000.
  2. Tidak diperbolehkan membawa makanan dan minuman dari luar. Jangan khawatir, di dalam TWA terdapat kantin dengan suasana alam dan harga kuliner yang terjangkau. Kalau terlanjur membawa, harus dititipkan di pos atau ‘disimpan’ di dalam tas. * saya memaklumi hal ini, mengingat kesadaran masyarakat untuk tidak membuang sampah sembarangan masih sangat minim. Terbayanglah oleh saya, jika diijinkan membawa makan dan minum, pasti banyak sampah di mana-mana *
  3. Membawa kantong untuk sampah. Yuk, kita menjadi traveler yang cerdas. Dilarang keras untuk membuang sampah sembarangan. Kita bisa menyimpan sampah kita kemudian membuangnya di tempat sampah yang memang tersedia di beberapa area. *saya malah kepengen membawa trash bag rasanya ketika melihat perakaran pohon mangrove yang terbelit tumpukan sampah. Ingin rasanya memunguti sampah-sampah tersebut. Miris *
  4. Sebaiknya datang di pagi hari atau di sore hari menjelang matahari undur diri. Selain menghindari teriknya sengatan matahari, juga menghindari ramainya pengunjung taman wisata ini * saat saya menulis ‘ramai,’ percayalahbahwa itu benar-benar ramai, terutama di saat hari libur * Saya pribadi datang di pagi hari, sehingga saya nyaman dan puas berjalan menyusuri rimbunnya hutan layaknya menikmati hutan pribadi. btw, TWA ini buka jam 8.00-18.00.
  5. Jangan sampai salah kostum. Sangat tidak disarankan memakai high heels, wedges, platform ataupun sandal jepit mengingat akses alias jalanan untuk menyusuri TWA ini terbuat dari bambu atau kayu gelondongan yang berjajar rapi. Jangan memaksakan mengenakan pakaian yang ‘super kece yang lagi ngehits’ hanya demi mode dan foto OOTD kalau tidak ingin menderita karena kepanasan dan kegerahan. Pakailah pakaian yang nyaman dan mudah menyerap keringat * misalnya yang terbuat dari bahan katun dan linen *
  6. Membawa peralatan tempur guna melawan teriknya matahari. Topi atau scarf, handuk kecil atau sapu tangan, tissue, tabir surya alias sun lotion * ini wajib hukumnya *
  7. Memakai minyak atau lotion anti nyamuk bagi yang sensitive terhadap gigitan nyamuk. Maklum, namanya hutan Mangrove, lebat, lembab, berair yang berarti tempat yang cukup disukai para nyamuk.
  8. Bagi solo traveler, wajib hukumnya membawa tongsis agar tidak merepotkan orang lain, selain juga karena mungkin tidak bertemu dengan orang lain.

Taman Wisata Alam Agke kapuk (7)

Freedom for Orangutans

There was saying that “we can see the greatness of a country by seeing how they treated their animals.” If that is so, then what happen with my country? My country is great in every way. It is. But in this kinds of animal things or even nature, we still need to improve, A LOT.

One of concerns that’s been playing in my mind is orangutan. I used to learn about them during my college day. We did some activity and also observation on how they lived in their habitat, which is Gunung Halimun-Salak National Park. The view of them living happily in their habitat with their families was an unforgettable experiences.

A century ago there were probably more than 230,000 orangutans in total, but the Bornean orangutan is now estimated to number about 41,000 (Endangered) and the Sumatran about 7,500 (Critically Endangered). How sad.

So now, the question is, “WHAT CAN WE DO?”

Are we going to sat down and just watch them extinct over the time? 

Are we going to adopt them and bring them home as a PET?

Are we going to shut our eyes and ear to every news about them?

For me, the answer is a BIG NO!

As a start, by doing a little thing, such as attended Sound For Orangutan organized by COP (Center for Orangutan Protection (COP) and donate to support their rehabilitation center. The center starts to built in September. It located in Labanan, North Kalimantan and has 7.900 hectares of forest.

Sound for Orangutan adalah konser amal dan edukasi tentang orangutan yang digelar oleh Centre for Orangutan Protection (COP) setiap satu tahun sekali. 100% Dana yang dihasilkan dari Sound for Orangutan akan dikelola oleh COP untuk kepentingan orangutan yang menjadi korban kekejaman dan kejahatan.

Sound for Orangutan adalah kombinasi yang unik, antara musik, pameran, dan juga penyadartahuan tentang orangutan dan habitatnya.

What is COP aka centre for Orangutan Protection? COP was formed in 2007 by Hardi Baktiantoro, specifically to tackle the cause of the deforestation and the deaths of tens of thousands of orangutans. COP is the only all-Indonesian group of  its kind to take on these issues. 

Address:
Centre for Orangutan Protection
WTC II Lt. 18 Jl. Jend. Sudirman Kav. 29 Jakarta 12920
email: info@orangutanprotection.com

Website:
http://www.orangutanprotection.com
http://www.sound4orangutan.com

Facebook:
Centre for Orangutan Protection
SoundForOrangutan

Twitter:
orangutan_COP
sound4orangutan
Instagram:
sound4orangutan

Menjejakkan Kaki di Pasir Pantai Seminyak, Bali

Tidak lengkap rasanya kalau tidak bermain-main dan menikmati deburan ombak di pantai manapun di Bali. Begitu juga dengan kami. Pagi itu, kami luangkan waktu berjalan menuju Pantai Seminyak. Maklum, jaraknya hanya beberapa ratus meter dari tempat kami menginap.

img_4665img_4652

Sesampainya di sana, mata dimanjakan oleh hamparan pasir dan pantai yang luas.

img_4668

Pantai Seminyak memiliki pasir yang sangat halus. Pantainya pun bersih dan terbilang sepi. Sementara Pantai Kuta ataupun Pantai Sanur yang sudah terkenal seantero dunia ramai dikunjungi sehingga terkadang terlihat agak kotor.

img_4658img_4671-2img_4653

How to Educate Young Learners to Love Our Nature

Nature is part of life that couldn’t be forgotten. Since we were born to this world, we already live with it. There should be balance between nature and modernization. Which, it seems, some of us might have been forgotten or perhaps, just ignore it.

I, myself, could not imagine how my life would be without natural things surround me. How my life would be, with only buildings, vehicle, machine, and else surrounds. I don’t even want to imagine it, because nature is part of me. Breathe fresh air, while looking at the clear sky, surrounds by the green trees, and feel the wind breeze is such a luxury. These kind of feeling which I want to past down to my great great great grandchild in the future.

So, the most important things to do now is, educate young learners about how to love and take care our nature. And how will I ever do that? Will they understand if I teach them? Well, I hardly believe that they will. The word ‘nature’ itself is not quite understandable for them. But, I do remember that they learn using their five senses. They see, hear, smell, touch, and taste it. They might not understand it yet, but they unconsciously construct knowledge about it inside their mind. Hopefully, later, they will love our nature and took care of it.

So, I think, I just need to expose them with natural things as much as possible. Let them engage with it during their everyday life. I did it, most of the time with my student during our play in outside. We observe the plant, watering the plant, look at the sky, the clouds, touch the sand, soil, feel the wind, and smell leaves or flower.

We also expose them with animals, lot kinds of animals. From the tiny caterpillars, pets,  snakes to baby crocodiles. What do you think they would react to all these animals? Scared, doesn’t want to get near of it even touch it? Nope, that is not the way they would react, not for my student. Although they was a bit afraid at first (which that is the time for me to encourage them to not be scared), at the end, they love it, and keep talking about it on the next day.

They explore the morphology by touch the skin, feel the texture of it, and observe the body parts. They also listen to our explanation about how they live, what they eat, and where could we find them. At the end of the day, lets hope that these memory and knowledge will last forever. That someday in the future, they will show more respect  and love to nature more than their former does.

We do not inherit the earth from our ancestors, but we borrow it from our children. So, it’s time for us to keep reminding ourselves to love and take care of our earth for our children’s sake.

 

Menyambangi Konservasi Penyu Sisik di Pulau Pramuka, Kepulauan Seribu

dsc00037dsc00036dsc00045

Berawal dari Muara Angke, kami naik perahu menuju Pulau Pramuka. Di pulau ini, kami mengunjungi tempat konservasi penyu.

Kala itu, beberapa penyu dewasa sedang dalam perawatan, ada juga penyu yang mengalami cacat sehingga tidak dapat dilepas lagi ke lautan. Petugas konservasi mengatakan kalau penyu ini tidak akan bisa bertahan hidup jika dilepas ke laut terbuka.

dsc00059

Selain penyu dewasa, disini juga ada banyak bayi-bayi penyu atau biasa disebut tukik. Tukik-tukik ini dipersiapkan untuk nantinya dilepas ke lautan. Mengapa penyu dikonservasi? Karena penyu merupakan salah satu hewan yang terancam punah.

dsc00051

Mendengar penjelasan dari petugas konservasi dan memandangi penyu-penyu yang kian sulit ditemui di lautan ternyata telah memakan waktu cukup lama. Kami pun segera beranjak dan berjalan-jalan di Pulau Pramuka ini.

Pulau Pramuka merupakan pusat administratif (Ibukota) Kabupaten Kepulauan Seribu. Jadi jangan heran jika di pulau ini kita bisa menemukan gedung pemerintahan, sekolah, masjid, rumah makan, serta fasilitas umum lainnya.

dsc00092

Di Pulau Pramuka, kami juga mengunjungi rumah salah satu penjaga taman nasional kepulauan seribu. Bagaimana kami mengenal beliau? Rupanya teman-teman seperjalanan saya ini yang mengenal beliau.

Pembicaraan pun menjadi panjang, terlebih lagi sembari menikmati hidangan seafood. Mulai dari cerita pengalaman beliau sebagai penjaga taman nasional, apa saja yang dikonservasi, kesulitan yang dihadapi, sampai kisah-kisah mistis yang beredar di kepulaun seribu. Semua dibahas habis. Sampai-sampai tak terasa waktu menunjukkan pukul 12 malam.

What a nice visit. Terima kasih sudah menjaga dan mengawasi kelestarian lingkungan di daerah kepulauan seribu ya pak. Respect!

Bagaimana dengan Anda?

Sudahkah menjaga kelestarian lingkungan dengan cara Anda sendiri?

Berlabuh Sejenak di Nusa Keramba, Kepulauan Seribu

dsc00204

Selain mengunjungi berbagai pulau yang ada di Kepulauan Seribu dan memuaskan diri snorkeling di sekitaran kepulauan seribu, tidak ada salahnya jika kita berlabuh sejenak di suatu tempat bernama keramba.

snorkeling di pulau seribu4-001Keramba ini berada di tengah laut dan sebagian bahkan mengapung di laut. Tidak jauh dari lokasi konservasi dan budidaya terumbu karang. Di kawasan ini, kita bisa menikmati indahnya lautan luas, karena sejauh mata memandang, ke manapun kita memandang, birunya laut menjadi perhatian.

dsc00185

snorkeling di pulau seribu6-001Di keramba ini kita bisa santai sejenak di restoran Nusa Keramba dan menikmati hidangan seafood yang disajikan sebagai menu utama. Kita juga bisa mencoba bermain jetski. Atau sekadar berkeliling keramba untuk melihat berbagai jenis ikan yang memang diternakkan di sini.

img_20130519_141613

Ikan yang menarik perhatian saya adalah ikan yang saya lihat di film finding nemo yang bersama-sama membentuk panah demi menunjukkan arah jalan bagi Dori dan Marlin. Lalu, yang menjadi favorit pengunjung, yaitu ikan hiu, atau tepatnya, bayi ikan hiu. Puluhan bayi ikan hiu memang berada ditangkar di keramba ini.

Meskipun tergolong bayi, hiu tetap saja hiu, sebagai carnivora yang paling ditakuti di sejagad lautan luas, memiliki gigi yang super tajam yang siap memangsa siapapun yang mengusik ketenangannya. Lihat saja kondisi ikan yang menjadi makan siang mereka saat itu, dagingnya bersih tak bersisa, hanya menyisakan tulang belulang saja.

snorkeling di pulau seribu5-001Pernahkah Anda berlabuh di Nusa keramba?
Berenang bersama bayi-bayi hiu?
Beranikah Anda?

Mengelilingi Pulau Semak Daun, Kepulauan Seribu

dsc00065

Pulau Semak Daun menjadi salah satu destinasi wisata di Kepulauan Seribu. Terakhir kali saya menginjakkan kaki di sini, tidak ada dermaga indah yang menyambut saya, terlebih lagi warung makanan. Pulau ini bisa dibilang tak berpenghuni.

dsc00064

Akan tetapi, sekarang telah dibangun dermaga yang rapi dan terdapat pula warung penjaja makan dan minum.  Pulau ini jadi terlihat ‘terawat.’ Penasaran dengan kondisi pulau semak daun terkini, saya pun mengelilingi pulau mengikuti garis pantai.

Kaget bukan main, di salah satu sudut pulau ini, terdapat tumpukan bahkan bisa dibilang gunungan sampah yang sebagian besar berisi sampah kardus makanan dan minuman. Sungguh amat disayangkan, pulau yang indah ini ternodai dengan keberadaan sampah.

Hal ini mengingatkan saya untuk menjadi wanderer yang bertanggung jawab. Wanderer yang tidak meninggalkan ‘jejak’ yang memberikan dampak negatif terhadap lingkungan yang dikunjunginya.

Salah satu caranya adalah dengan tidak membuang sampah di tempat yang saya kunjungi terutama tempat yang tidak mempunyai tempat pembuangan sampah akhir atau pengolahan sampah. Solusinya adalah bawa kembali sampahmu!