Walk Around Bogor Botanical Garden (Kebun Raya Bogor)

Malam itu, kami mendadak berencana ke Kebun Raya Bogor (Bogor Botanical Garden). Keesokan harinya, kami pun bergegas mengejar kereta pagi menuju kota hujan, Bogor.

Sepanjang perjalanan dari Stasiun Sudimara hingga stasiun Bogor, saya habiskan untuk menikmati sepinya gerbong-gerbong kereta dari sesaknya manusia. Sesekali saya berseluncur di dunia maya untuk sekadar mencari tahu mengenai Kebun Raya Bogor (KRB). Saya pun terpaku pada salah satu website andalan saya mengenai Bogor, yaitu Lovely Bogor.

Sesampainya di kota Hujan, kami pun menyempatkan diri untuk sarapan sebelum melanjutkan perjalanan ke Kebun Raya Bogor. Sempat terpikir untuk mengikuti saran dari Lovely Bogor, yaitu berjalan kaki menuju pintu masuk kebun raya bogor sembari menikmati pemandangan dan gedung-gedung bersejarah di sepanjang perjalanan. Namun apa daya, terik matahari sungguh tidak bersahabat sehingga kami terpaksa naik angkutan umum.

Tak lama berselang, angkutan umum yang kami naiki tiba di pintu utama. Kesan pertama, “Waah, kapan ya saya dan keluarga terakhir kali mengunjungi tempat ini?” Tanpa mengingat jawaban atas pertanyaan saya itu, kami pun memasuki KRB dengan membayar tiket masuk sebesar 15 ribu per orang.

Memasuki KRB, saya pun menghirup udara sebanyak mungkin ke dalam paru-paru saya. Segarnya. Sejauh mata memandang, yang tampak hanyalah rimbunnya pepohonan yang menghijau.

What a lovely sight. Green scenery are everywhere.

Kalau Singapore punya Garden by the bays dan Singapore Botanic Garden, sementara Inggris punya Garden of England, maka Indonesia punya Bogor Botanical Garden (Kebun Raya Bogor) yang tidak kalah menarik, indah, dan penuh kenangan bersejarah. Hal itu bisa kita lihat dari usia KRB tahun ini yang menginjak usia 200 tahun.

WOW. Just WOW!

Berikut adalah sedikit dari banyak sudut-sudut indah di Kebun Raya Bogor.

Sesekali, kami pun mengabadikan keberadaan kami di KRB. Truly beautifully scenery. Dimulai dari Taman Meksiko di tengah KRB.

LAnjut ke sebuah jembatan yang tampak sepi dari lalu-lalang pengunjung. Ternyata jembatan merah nan cantik ini dikenal sebagai Jembatan Pemutus Cinta.

What a myth.

Terus berjalan dan berjalan lagi… Di dalam KRB juga terdapat Istana Presiden yang dikenal dengan nama Istana Bogor. Di kejauhan, tampak istana bogor berdiri dengan gagahnya.

Mengingat KRB ini sangat luas, sangat mudah bagi kita untuk tersesat. Tapi jangan takut, di sini terdapat banyak penanda jalan yang menunjukkan ke mana kita harus pergi.

Terakhir, this is from where I stand.

 

Advertisements

Sejenak Menghampiri Baturraden

Masih dalam rangka libur lebaran, kami menghampiri lokawisata Baturraden walaupun hanya sejenak saja.

Sudah terlalu lama rasanya sejak saya menginjak Baturraden. Terakhir kali saya ke sini ketika saya masih SD bersama dengan keluarga besar H. Djayadih (keluarga almarhum Bapa). Saat itu, almarhum bapa dan almarhum kaka saya masih bersama kami.

Ketika akhirnya saya sampai ke tempat ini lagi, rasanya tak sabar dibalut dengan penasaran. “Seperti apa ya penampakan baturraden saat ini?” pikir saya.

Setelah melewati antrian panjang menuju pintu masuk, kami pun terpaksa memarkirkan mobil di sebuah Hotel mengingat hampir semua tempat parkir penuh, sampai-sampai bahu jalan pun digunakan sebagai area parkir. Kenapa? Karena waktu berkunjung bertepatan dengan libur lebaran yang berarti banyak pengunjung berdatangan dari berbagai daerah.

Kami pun berjalan menanjak menuju pintu masuk dengan pemandangan Gunung Slamet yang menjulang tinggi dengan gagahnya.

Sampai di pintu masuk, rasa tidak sabar dan penasaran tadi mulai terjawab. Ramai, kesan pertama saya.

Memasuki kawasan wisata baturraden, saya pun terkejut.

Wow! Just Wow!

Bukan karena tumpah ruahnya manusia, melainkan karena betapa banyak perubahan di tempat ini. Sungguh amat sangat teramat berubah.

 Baturraden yang begitu alami dalam ingatan saya, berubah menjadi lebih modern, family friendly, colorful, and instagramable. Bagus sih, tetapi bagi saya yang menyukai suasana alam nan alami, rasanya agak disayangkan. Saya sungguh lebih menyukai tampakan Baturraden yang terekam alami dalam memori masa kecil saya.Meskipun begitu, Baturraden tetap merupakan salah satu destinasi wisata alam yang patut dikunjungi. Terlebih bagi warga perkotaan yang merindukan kesejukan dan keindahan alam pegunungan.

Di Baturraden ini banyak sekali lokasi yang bisa dikunjungi. Mulai dari pancuran 1 sampai 7, jembatan putus cinta, kebun raya, water park, dan lainnya. Sayang sekali saya tidak bisa mengunjungi semua tempat tersebut karena keterbatasan waktu.

Menuju jembatan putus cinta. Ketika saya masih SD, jembatan ini masih berupa jembatan gantung. Namun, semenjak peristiwa putusnya jembatan ini, pihak pengelola akhirnya membangun jembatan permanen untuk menggantikan jembatan gantung.

Pemandangan Baturraden dari atas jembatan. Such a beauty.Lanjut ke pancuran 7. Untuk menuju pancuran 7 dibutuhkan waktu lebih dari sejam dengan perjalanan yang terus menanjak. Sayang sekali saya dan keluarga tidak sampai hingga ke pancuran 7 karena masih harus mengejar waktu untuk balik ke Jakarta.

Next time, I’ll make sure to comeback to Baturraden. From morning till noon and explore every inch of what Baturraden can offered.

Kenyataan Dibalik Indahnya Taman Wisata Air Panas Guci

Lesson learned! No visitation during Eid or long holiday. A really bad timing to visit the place. It turned out, what we expected is far from reality.

Masih dalam rangka libur lebaran. Dalam perjalanan pulang kembali ke Jakarta, kami meyempatkan mampir ke objek wisata yang belakangan ini sungguh terkenal dibicarakan di berbagai sosial media. Ribuan foto berlatar belakang tempat ini pun sudah bertebaran di jagad instagram

Indah. Tampak indah.

Setelah perjalanan yang cukup menguji nyali karena berkelok-kelok, naik turun, ditambah dengan ramainya kendaraan. Kami pun tiba di Taman Wisata Air Panas Guci, Tegal  yang tepat berada di kaki gunung Slamet, Jawa Tengah.

Kesan pertama, jalan menuju lokasi masih belum tertata rapi. Hal ini membuat saya tersenyum bahagia. Mengapa, berarti tempat ini masih alami, which is very good.

Memasuki lokasi, kami disambut dengan cukup banyaknya sampah berserakan di sepanjang jalan dan banyak pengunjung yang lalu-lalang.

Semakin jalan ke dalam, suasana alami semakin terasa. Tapi entah kenapa, ada perasaan tidak nyaman di hati kecil saya.

Kami pun mengikuti jalan di sepanjang pinggir sungai yang mengalirkan air panas. Sesampainya di taman wisata, tepatnya di jembatan gantung, saya pun semakin merasa tak nyaman.

Betapa tidak, di jembatan jelas-jelas tertulis jalan satu-satu dan agar tidak berlama-lama di jembatan. Kenyataannya, jembatan penuh sesak oleh pengunjung yang menyebrang, bahkan banyak di antara mereka yang sibuk ber-selfie, wefie, dan –fiefie lainnya.

I guess, rules are meant to be broken. And that safety just flew out of the window at time like this (means holiday).

Dari ujung jembatan, terlihat kolam pemandian air panas yang dipenuhi pengunjung. Dan perasaan tak nyaman semakin menggebu-gebu di dalam hati saya.

Oh my. Oh my. Oh my God.

So this is an uncomfortable feeling I feel along the way. It is so crowded. Overly crowded. Gosh! I got a sudden headache.

Lihatlah betapa ramainya taman wisata air panas Guci di kala libur panjang lebaran. Benar-benar waktu yang sangat tidak tepat untuk mengunjungi tempat ini.

Jangankan menikmati keindahan alam, untuk sekadar berjalan pun kesulitan. Seakan-akan saya sedang dalam antrian panjang untuk menonton konser atau bola.

Tidak hanya di jalan, tetapi juga di sungai air panas, di air terjun, di jembatan, di kolam pemandian, di tempat souvenir, di tempat makan, semuanya dipenuhi manusia. Lebih tepatnya, lautan manusia.

Saya pun merasa kasihan dengan kuda-kuda yang berada di lokasi. Sejatinya, mereka cukup sensitif dengan keramaian dan kebisingan. Namun, apalah daya mereka.

Belum lagi, sampah-sampah yang berserakan di jalan, di pinggir sungai, bahkan di aliran sungai. Tempat sampah yang disediakan sungguh sudah tidak mampu menampung sampah dari ribuan orang yang datang bersamaan pada saat itu.

Saya pun segera mengurungkan niat saya untuk berlama-lama di tempat ini. Meskipun begitu, saya sempatkan untuk mengabadikan momen ini bersama keluarga. Kapan lagi bisa melihat Guci dalam keadaan seperti ini. Jauh dari bayangan. Sungguh, kenyataan lebih kejam dari harapan.

Bye-bye Guci. I’ll make sure to visit you again during weekdays in the near future. No more visiting during long holiday for I can not witness your beauty.

Hujan pun tiba-tiba datang tanpa diundang. Lengkap sudah perjalanan saya di Guci. Kami pun melipir sejenak di warung untuk sekadar menikmati pop mie dan menanti hujan reda.

Indahnya Desa Tlaga Kecamatan Punggelan, Banjar Negara

Salak day! After more than an hour climb up a mountain like, definitely worth it. Happiness is having a family living in a mountain with a field of salak, avocado trees, bananas, and a pond full of fishes.

 

Dalam rangka Lebaran, kami sekeluarga mudik ke Banjar Negara. Saya pun menyempatkan diri untuk mengunjungi sanak keluarga yang rumahnya tidak jauh dari rumah mbah saya.

Jadilah saya dan keluarga mengunjungi rumah lilik (om/tante) yang katanya berada di pegunungan, bahkan hampir di puncak gunung. Tepatnya di desa Tlaga Kecamatan Punggelan.

Ditambah iming-iming memetik salak, makan salak sepuasnya, memetik alpukat, dan memancing ikan untuk kemudian dimasak. Wah, saya sangat excited.

Maklum saja, saudara yang sudah pernah ke sana selalu menceritakan betapa indahnya pemandangan dan betapa ‘mengerikan’nya perjalanan ke sana. Ditambah lagi dengan cerita bahwa Punggelan termasuk daerah yang rawan longsor.

Benar saja. Jalan yang berkelok-kelok, naik dan turun, dan bisa dibilang hanya cukup untuk 1,5 ukuran mobil saja harus kami lalui. Mereka bilang jalannya menyeramkan. Saya bilang, jalannya cukup menantang. Mereka sungguh harus mencoba jalanan menuju pantai pegadungan gigi hiu, pikir saya.

Sepanjang jalan, saya disuguhi dengan hijaunya pepohonan, segarnya udara pegunungan,dan keindahan alam sepanjang mata memandang.

Sesampainya di rumah lilik saya, kami pun langsung disuguhi salak, keripik salak, pisang, ikan goreng, dan sebagainya. Ternyata semua iming-iming itu benar adanya, bahkan lebih.

Sungguh nikmat berada di pedesaan. Untuk sementara, saya lupa akan kesibukan dan kemacetan di ibukota.

 

A Walk to Discover in Singapore: Henderson Waves

Singapore! When I heard Singapore, shopping and Merlion came first at my mind. Most of people I know went to Singapore for shopping or discovered Universal Studios then taking mandatory picture with the famous Merlion.

Rarely I heard of them visit Singapore to enjoy their garden, parks or nature. So, when my cousin told us that we will do our morning run in the Southern Ridges, especially in the Henderson Waves, I was beyond thrill.

As we arrived late at night in Changi Airport, we only had few hours to sleep. And that made us woke up late in the morning. We went straight to the Mountbatten MRT station and took the train (Circle line) headed to Harbourfront station.

It was work day, so the train was full of Singaporean who were going to work or school. It was so quite in the train (remind me of how noisy it will be if it was in Indonesia) and very comfortable being inside of the train. I was impressed.

From the Harbourfront station, we planned to hike through Marang trail. But, after some thinking, we decided not to because of many reasons. So I took my phone out and reserved Uber to take us to Henderson road.

Not long after, a long and high stairs welcomed us, a stairway to heaven if I may call it. Well, I might be over exaggerated. At the end of the stairs, green scenery and a mountain trail were ahead of us, along the way to the Henderson Waves.

Finally, Henderson Waves right in front of our eyes. As we were getting ready to run along the waves, we took some snapshot here and there.

Henderson waves is the highest pedestrian bridge in Singapore which standing 36 meters above the Henderson road. It said as one of the best spots in Singapore to enjoy panoramic views of the city, harbour and the Southern Islands. And I couldn’t agree more.

It was so refreshing and relaxing. Fresh and nice air combined with beautiful scenery surely made us wanted to spend more time in here. Sadly, we had to force our self moved to another destination which is HarbourFront Centre and VivoCity also Coldplay Concert.

So, bye-bye waves. See you when I see you.

 

 

Merindukan Kesejukan di Desa Susukan, Banjar Negara

It’s been some time since we went to my mom’s hometown in Susukan Village, Central Java. Been missing the morning scenery of the sunrise, paddy fields, mountain, and hills.

short-getaway-21short-getaway-14short-getaway-23

Pulang ke kampung halaman mama selalu menjadi momen yang selalu saya tunggu. Membayangkan sejuknya udara yang bisa saya hirup, hijaunya hamparan padi, rimbunnya pepohonan di bukit, dan damainya suasana pedesaan membuat kami semakin tak sabar untuk segera kembali ke sana.

Beruntungnya saya, mama dilahirkan di sebuah desa bernama Susukan, yang masih kental dengan suasana pedesaan hingga saat ini.

Lihat saja, hamparan sawah mengapit jalanan menuju rumah Mbah saya. Betapa indah dan alami.

short-getaway-13

short-getaway-12

short-getaway-22

short-getaway-9 short-getaway-8

Aliran sungai pun ada disini. Jembatan ini merupakan jembatan bersejarah dan telah menjadi bagian dari keluarga besar kami, keluarga Sanrusdi. Entah sudah berapa lama sejak dibangunnya jembatan ini.

Yang pasti, saya melihat jembatan ini di dalam foto masa kanak-kanak Mama, masa remaja beliau, masa pernikahan beliau, masa saya masih bayi, hingga saya sekarang ini.

short-getaway-15short-getaway-20

short-getaway-18

short-getaway-17

Mengenal Danau Toba

Setelah mengunjungi Danau Toba, terbersit keinginan saya untuk mengenal lebih jauh mengenai danau ini. Ternyata selain kisah nyata alias sejarah terbentuknya danau ini, ada juga cerita rakyat (legenda) mengenai danau ini yang bisa dibaca di ceritarakyatnusantara.com.

danau toba trip 2016 (69)danau toba trip 2016 (68)

Sekilas mengenai Danau Toba

Dilihat dari proses pembentukannya, Danau Toba tergolong danau vulkano-tektonik.

Menurut pusat Limnologi LIPI, Luas permukaan air Danau Toba adalah 1.124 km2. Luas daratan DTA (Daerah Tangkapan Air) adalah 2.486 km2. Permukaan danau berada pada ketinggian 903 m dpl (di atas permukaan laut). Panjang maksimumnya kurang lebih 50 km dan lebar maksimumnya sekitar 27 km. Danau Toba adalah danau terbesar di Indonesia  dan di Asia Tenggara.

Karakteristik morfologi (tampak luar) dasar Danau Toba yang membentang dari barat-laut ke tenggara membentuk dua cekungan besar yakni cekungan utara dan cekungan selatan yang dipisahkan oleh adanya Pulau Samosir.

Kedalaman maksimum Danau Toba adalah 508 m (yang merupakan danau terdalam ke-9 di dunia) terdapat di cekungan utara, sedangkan di cekungan selatan kedalaman maksimumnya mencapai 420 m. Kedalaman rata-ratanya adalah 228 m.

Volume air keseluruhan danau diperkirakan 256,2 km3.

Di tengah Danau Toba terdapat Pulau Samosir dengan luas 630 km2, yang merupakan pulau terbesar di dunia yang berada di dalam suatu pulau.

Berdasarkan data dari Badan Pelaksana Kordinasi Pengelolaan Ekosistem Kawasan Danau Toba, dalam wilayah DTA Danau Toba terdapat 205 sungai yang bermuara ke Danau Toba. Dari daratan Sumatra terdapat 142 sungai sedangkan Daratan Samosir menyumbang 63 sungai.

Sementara itu satu-satunya pintu keluar (outlet) air dari Danau Toba hanyalah melalui Sungai (Sei) Asahan yang bermuara di pantai timur Sumatra.

danau toba trip 2016 (4) danau toba trip 2016 (5) danau toba trip 2016 (3)

danau toba trip 2016 (20)Sejarah Terbentuknya Danau Toba

Sejarah Danau Toba dimulai sekitar 75.000 tahun lalu, yang dari sudut geologi masih termasuk baru (recent). Sesar Semangko yang dalam, mendorong magma (molten material) mencuat ke permukaan bumi. Hal ini menimbulkan tekanan yang sangat besar yang membentuk gunung api maha besar (super volcano) yang dikenal sebagai Tumor Batak.

Kemudian gunung api raksasa ini mengalami erupsi dahsyat. Sekitar 1.500 hingga 2.000 km3 material dimuntahkan. Dengan sedemikian banyaknya material yang dimuntahkan dari kantong magma, puncak gunung api itupun runtuh dan membentuk danau kawah.

Beberapa seri erupsi lebih kecil menyusul kemudian yang membentuk gunung api kedua di dalam kawah, dan ketika ini pun kemudian runtuh, gunung api itu pun terpecah menjadi dua bagian, yang sebelah barat membentuk Pulau Samosir, dan lereng sebelah timur kemudian membentuk semenanjung antara Parapat dan Porsea. Erupsi kedua itu terjadi sekitar 30.000 tahun lalu.

Kejadian erupsi Gunung Toba purba itu dinyatakan sebagai erupsi gunung berapi terdahsyat di bumi yang pernah diketahui. Debu yang disemburkan pada kejadian erupsi menyebar ke seluruh bumi. Ketebalan debu yang mengendap di India mencapai 15 cm dan di sebagian Malaysia bahkan mencapai ketebalan 9 m.

Bumi yang bertahun-tahun diliputi debu 3,5 oC. Bencana ini dinyatakan sebagai penyebab terjadinya zaman es.

Tak hanya dipengaruhi oleh aktivitas vulkanik dari dapur magma, Danau Toba ternyata juga sangat dipengaruhi oleh kegiatan tektonik yang mengimpitnya, sehingga kalangan geology menyebutnya sebagai danau vulkano-tektonik.

20160712_113321 danau toba trip 2016 (64) danau toba trip 2016 (59) danau toba trip 2016 (58) danau toba trip 2016 (50) danau toba trip 2016 (30)

 

Sumber :

tulisan: Penelitian mengenai danau toba dari Limnologi LIPI

foto: pribadi