Lengkapnya Fasilitas di Skyworld Taman Mini Indonesia Indah

Akhirnya saya berkesempatan mengunjungi Skyworld di Taman Mini Indonesia Indah dengan 2 anak murid saya (Zada dan Gema) beserta ibunya dan adiknya Gema, yaitu Gemi.

Memasuki skyworld yang tiketnya dibanderol seharga 70 ribu rupiah ini, kami pun sangat tak sabar.  Di depan pintu masuk, kami disambut oleh manekin astronot yang tinggi menjulang. Pintu masuk pun didesain ala-ala pintu masuk space station atau stasiun antariksa.

Masuk ke dalam, standee astronot pun siap digunakan untuk berfoto ria.

Meneruskan perjalanan ke dalam skyworld, kami dimanjakan dengan suasana antariksa dan berbagai informasi yang berkaitan dengan antariksa. Mulai dari info mengenai bintang, galaksi, planet-planet, satelit, roket, dan lainnya.

Gema dan Zada pun dengan antusiasnya mengobservasi dan bertanya tentang apa yang dilihatnya.

Belum puas kami menjelajahi skyworld, petugas skyworld mengingatkan kami kalau pintu planetarium sudah dibuka dan kami bisa segera menyaksikan ‘pertunjukan’ mengenai antariksa.

Planetarium ini bisa dibilang seperti planetarium yang ada di TIM, namun versi mini. Ruangannya jauh lebih kecil, tapi cukup nyaman dan memuaskan. Di sini, mulailah anak-anak merasa tidak nyaman, terutama pada saat benda-benda antariksa ukurannya semakin membesar tepat di hadapan mereka.

Usai menikmati planetarium, kami pun segera menuju lokasi cinema 5D. Jujur, saya sedikit khawatir kalau Gema dan Zada akan mundur atau menangis di tengah pertunjukan. Meskipun sedikit merasa takut, tapi Gema dan Zada bisa menonton film 5D tersebut sampai akhir.

I am so proud of you both.

Maklum saja, film yang ditampilkan memberikan sensasi seakan-akan kita sedang naik pesawat dan rollercoaster, yang notabene, saya sebagai orang dewasa pun sedikit ter-challenge dan merasa adrenalinnya meningkat.

Lanjut menjelajahi skyworld,  sambil menuju pintu keluar untuk makan siang. Sebagai info, di skyworld ini sayangnya tidak ada food court atau restoran. Hanya ada semacam minimarket tempat membeli souvenir, minum, snack, atau sekadar pop mie. Yang pastinya, ga akan cukup untuk makan siang anak-anak ini dan juga kami.

Makan siang, sudah. Perut kenyang, pasti.

Kami pun kembali memasuki skyworld supaya anak-anak bisa bermain di climbing wall, playground, trampolin, dan pastinya berenang. Jangan lupa menunjukkan tiket skyworld supaya petugas mengizinkan kita masuk lagi.

And it’s time for children to have fun.

And the fun is over.

Jadi, bagi siapapun yang belum pernah ke skyworld, silakan datang dan menikmati segala fasilitas yang ada. Fasilitas yang terbilang cukup lengkap dan memuaskan untuk anak-anak.

Hanya saja, pilihlah waktu yang tepat untuk berkunjung. Karena biasanya dimanapun tempatnya, kalau musim liburan akan penuh dan ramai sehingga kurang nyaman bagi anak-anak.

Advertisements

A Night in Cakra Homestay, Solo

This is a story about a group of women who spent a night in a very old and full of history kind of place in their standard room. 

It all started in Stasiun Solo Balapan, almost late at night. Unfortunately, it rained, heavily. 

Sampai di luar stasiun, kami putuskan untuk menyewa mobil. Sayangnya, pelayanan yang kurang memuaskan dan mobil yang tak kunjung datang, membuat kami tak sabar. Kami pun memesan 2 grab car untuk membawa kami ke Cakra Homestay.

Di perjalanan, suasana malam nan gelap yang diselimuti hujan membuat kota Solo tampak lengang.

Kami pun tidak banyak berbicara selama perjalanan, sampai akhirnya tiba di depan gang dengan gapura bertuliskan Jl. Cakra II. Tidak terlihat oleh kami Cakra homestay.

Sepintas, saya pun teringat hasil surfing di dunia maya, dimana saya temukan bahwasanya Cakra homestay ini sudah berusia ratusan tahun dengan sejarahnya yang panjang. It was a batik factory, hundred years ago. It is a very old building, 200 years old to be precise. Dan bagi saya, bangunan tua berarti antik, penuh misteri, dan sedikit menyeramkan. Dan, lagi, saya merupakan salah satu orang yang memilih homestay ini sebagai tempat menginap kami di Solo, hahahaha.

Di tengah hujan yang semakin deras, kami pun beranjak masuk ke dalam gang. Sampai tiba-tiba kami tersadar, ada barang yang tertinggal di dalam grab car yg kami naiki tadi.

Alhasil, sebagian dari kami lanjut mencari Cakra homestay, sementara lainnya menunggu grab car tadi.

Hujan turun semakin deras. Suasana gang yang gelap dan juga sepi, udara yang dingin, ditambah kerlip halilintar sesekali, dan suara derap langkah kaki kami yang menginjak genangan air, membuat malam itu terasa ngeri.

Berada di dalam gang dengan tembok di kanan kiri, dan bangunan yang tampak tua, membuat suasana terasa semakin mencekam.

Sampai akhirnya kami tiba di depan gerbang besar yang tertutup rapat dengan tanda didepannya bertuliskan Cakra homestay, lengkap dengan tulisan jawa kuno.

Jujur, saat itu saya merasa ada semacam horror atau thriller vibes dari homestay ini.

Pintu itu akhirnya kami buka, kreeeeek…, gelap, dan sepi.

Kami pun masuk tanpa diundang dan menengok ke sana ke mari, mencari resepsionis, staff, atau siapapun yang bertanggung jawab di homestay ini.

Sampai akhirnya kami tiba di sebuah bagian rumah, semacam pendopo terbuka atau aula terbuka dengan penerangan lampu yang temaram.

Ketika tiba-tiba muncul seorang pria, sontak saya kaget, terlebih lagi pria ini tidak seperti bayangan saya akan seorang resepsionis yang ramah.

Sementara Mitha berbincang dan bernegosiasi dengannya (karena ternyata kamar kami belum siap), saya menyempatkan diri melirik kesana-kemari.

Bangunan tua. check!
Furniture kental budaya Jawa, bisa dibilang barang antik. check!
Lampu remang-remang. check!
Ruangan yang katanya sudah berusia ratusan tahun. check!
Foto-foto lama yang masih hitam putih (sepertinya keluarga pemilik homestay atau pekerja pabrik batik dulunya). check!

Dan saya pun diam seribu bahasa. Rasa tak tenang pun membuncah di dada.

Setelah perjuangan Mitha yang keren abis, walaupun membuat sedikit deg-degan karena sikap Mitha yang tegas ke staff homestay (Makasih Mith), akhirnya kami pun diantar menuju kamar.

3 kamar bersebelahan, hanya dipisahkan oleh kamar mandi. Dan saya penasaran akan seperti apa kamarnya (maklum kami memesan kamar yang harganya ekonomis).

Begitu masuk kamar, rasa deg-degan belum hilang. Bahkan jujur, saya merinding. Ruangannya sih cukup luas, berisi 2 tempat tidur (dengan seprai warna coklat dan 1 bantal), 1 meja rias, 1 lemari, 1 jemuran handuk, dan 1 kipas angin dengan jendela khas bangunan jawa tua (jangan harap untuk membuka jendela karena nyamuk akan menyerbu anda).

Ketika tiba waktunya mandi, dengan kondisi kamar mandi yang seadanya (walaupun kondisinya masih bisa diterima, mengingat saya pernah menginap di tempat yang kondisinya lebih mengenaskan, bahkan tidak ada MCK), saya pun masih tak tenang. Terbayang oleh saya, bahwa kamar mandi ini sudah ada sejak 200 tahun yang lalu. Merinding.

Selepas itu, saya pun sholat dan berdoa, sempat juga saya berdzikir dan membaca ayat kursi karena entah kenapa deg-degan dan merinding masih begitu terasa. Setelahnya, saya pun menjadi jauh lebih tenang.

Ketika akhirnya saya sendirian di kamar, di malam nan gerimis itu, saya pun memutar murrotal dan memasang earphone erat-erat di telinga. Dan perlahan-lahan tertidur pulas.

Pagi pun menjelang.

Rasa penasaran membuat saya sempat berkeliling sekitaran homestay. Terlihat kolam renang yang cukup jernih, kamar-kamar antik di lantai atas, pendopo, serta semacam menara antik di tengah homestay. Sayangnya saya tidak sempat menaikinya.

Dan cakra homestay pun, tidak terlalu terasa mencekam lagi.

Sungguh pengalaman luar biasa unik. Seakan-akan saya syuting adegan dalam sebuah film bergenre thriller kalo bukan dibilang horor, namun sekarang syutingnya telah selesai.

Tapi, entah apakah perasaan itu akan sama rasanya kalau saja saya datang di pagi hari atau saat terang benderang. Saya rasa, tidak akan semencekam saat datang di malam hari kala diguyur hujan. Pun begitu dengan kamar, entah apakah akan sama rasanya kalau saya menginap di VIP.

Tapi jujur, menurut saya pribadi, homestay ini memiliki potensi menjadi homestay yang unik dan menarik, andai saja dikelola dengan lebih baik lagi (dalam hal pelayanan, kebersihan, fasilitas dll.) Terlebih lagi, untuk turis mancanegara atau turis lokal yang mencari suasana khas Jawa yang didukung dengan lokasi yang strategis.

Akhirnya, kami pun menyudahi pengalaman menginap kami di Cakra homestay ini untuk kembali ke rutinitas kami di Ibukota Jakarta.

 

Coba Move On Sejenak di Cafe Move On

Finally, took a bit rest in a cozy cafe called Cafe Move On. Should I move on from this short trip...

Cafe Move On akhirnya menjadi tambatan terakhir kami di Yogyakarta setelah menikmati sunrise di Punthuk Setumbu, Mengagumi Borobudur di Magelang, dan kembali ke masa lampau di Taman Sari.

Seperti banyak cafe yang kini bertebaran di seantero kota besar di Indonesia, Cafe Move On ini pun menawarkan tempat yang cozy dan instagrammable dengan pilihan makanan, minuman, serta gelato yang lumayan rasanya.

Sambil menunggu waktu keberangkatan kami naik KA WijayaKusuma ke Solo, kami pun menikmati gelato, menyeruput kopi taro, dan sekadar bincang sana-sini sambil sesekali melirik hp. Mencoba untuk move on dari liburan kali ini yang akan segera berakhir…

Awas Jamuran di jeJamuran

It’s all about mushrooms. Here, there, everywhere, all is mushroom.



Bagi pecinta kuliner, penikmat makanan unik, vegetarian, dan yang sedang kelaparan, jeJamuran menjadi pilihan yang pas dan tepat.

Bagaimana tidak, semua menu yang disajikan di restoran ini berbahan dasar jamur. Begitupun dengan minumannya. Mulai dari rendang jamur, sate jamur, soto jamur, nasi goreng jamur, jamur kriuk, dan banyak lainnya.

Penasaran kan apa rasanya? Setidaknya saya penasaran. Lihat saja betapa lahapnya saya memakan jejamuran. Nyam. 

Berikut menu yang bisa dinikmati dijeJamuran. 

Di restoran ini pula, kita bisa membeli berbagai macam keripik atau olahan jamur yang dikemas dengan sangat baik, sebagai oleh-oleh.

Kita pun bisa melihat Jamur hidup yang dibudidayakan oleh si pemilik restoran. 

Jadi, jangan takut jamuran ya kalau makan dan minum di jeJamuran. 

Sekejap di Taman Sari Water Castle, Yogyakarta

Taman sari water castle was a royal garden for Sultan of Yogyakarta. It was mostly known as places for the Sultan’s wife and princesses.

Tempat ini menjadi perhatian para wisatawan setelah foto-fotonya tersebar di berbagai media sosial dan setelah menjadi lokasi foto Pre-Wedding putri Presiden Jokowi.

Saya sendiri termasuk ‘clueless’ tentang taman sari, kalau saja Mega tidak memberi pencerahan kepada saya saat itu juga. Yang ada dibayangan saya kala itu adalah sebuah taman yang dipenuhi bebungaan atau semacam tradisional spa khas yogyakarta.

Sesampainya disana, saya pun bingung, hendak menuju ke arah mana. Tidak ada peta yang jelas yang bisa mengarahkan kita. Tapi, tidak usah khawatir tersesat karena banyak masyarakat lokal yang bersedia menjadi guide untuk mengantar dan mengitari kawasan taman sari ini. Sementara kami memutuskan untuk mengandalkan diri sendiri dan google maps.

Tempat ini terasa sekali kesan sejarahnya. Bangunan-bangunan tua yang berdebu, dipenuhi lumut disana-sini ditambah dengan teriknya matahari.

Konon katanya, kolam di atas dulunya adalah tempat para permaisuri dan putri-putri raja mandi. Sementara di bawah ini adalah kamar mereka. 

Setelah puas menjelajahi tempat pemandian, kami pun mengikuti kemana langkah kaki membawa, secara kami tidak menggunakan jasa guide. 

Kami pun sampai di sebuah gedung tua yang dulunya merupakan masjid bawah tanah. 

Dan berakhirlah perjalanan kami, dikarenakan suatu dan lain hal. Kami pun bergegas menuju destinasi selanjutnya, yaitu Cafe Move On. 

 

 

Borobudur oh Borobudur

Setelah mengagumi keindahan sunrise alias matahari terbit di Punthuk Setumbu, kami melanjutkan perjalanan ke candi Borobudur yang dahulu kala pernah menjadi 1 dari 7 keajaiban dunia.

Saya pun bertanya-tanya, seperti apakah tampakan candi ini sekarang. Masih samar dalam ingatan saya, betapa megah dan menakjubkannya bangunan candi yang terbesar di seantero Indonesia ini.

Sesampainya di lokasi, kami dibuat terkejut dengan banyaknya rombongan anak sekolah di depan loket tiket. Perasaan sudah mulai tak enak. Ah, mungkin ramai di luar saja, mengingat hari masih pagi sekali.

Dengan berseri-seri, kami berjalan penuh arti menuju borobudur.

Dan langkah kami pun sempat terhenti. Bukan karena keindahan candi, tetapi karena tertutupnya keindahan candi oleh ratusan anak sekolah berbagai usia dengan baju seragam mereka yang berwarna-warni.

Sungguh waktu yang tidak tepat untuk mengunjungi candi borobudur. Borobudur oh borobudur… 

Karena teramat penuhnya pengunjung candi, sampai-sampai sulit sekali menemukan spot untuk sekadar mengabadikan kami dan candi.

Alhasil, kami harus mengeluarkan jurus-jurus pencarian angle terbaik yang bisa menghalau tampakan anak sekolah sebagai latar belakang foto kami.






After Sunrise: Bayangan, Kopi item, dan Gorengan

Setelah mengagumi sunrise di puncak bukit Punthuk setumbu, kami berniat untuk melanjutkan ke Gereja Ayam yang sedang nge-Hits akibat kisah asmara Rangga dan Cinta di Film Ada Apa Dengan Cinta 2.

Apa mau dikata, kostum dan waktu tidak mengijinkan. Kostum yang kami pakai tidak memungkinkan untuk melalui trek terpendek ke Gereja Ayam via Puncak Punthuk Setumbu.

Kami dihadapkan dengan 2 pilihan, yaitu lanjut ke Gereja Ayam melalui trek yang lebih ramah tapi memakan waktu lama atau segera turun bukit dan menuju candi Borobudur. Sepakat, kami memilih candi Borobudur dan mengambil langkah seribu menuruni bukit.

Bayangan kami ketika berjalan pun menjadi pemandangan yang tak kalah indahnya dengan sunrise.

Melihat ke kanan kiri, sebuah warung kecil di pinggir jalan menarik perhatian kami. Terbayanglah oleh kami untuk sebentar saja beristirahat.

Duduk, menyeruput kopi item berteman pisang goreng, tahu, dan mendoan sembari dihujani hangatnya sinar mentari.

Nikmat.

Tak terasa, puluhan gorengan habis dilahap lengkap beserta cabe rawitnya.

Kenyang? Tidak juga. Tapi kami harus segera menuju destinasi selanjutnya, Candi Borobudur.

 

 

Mengagumi Sunrise di Bukit Punthuk Setumbu

Setelah hanya kurang dari 3 jam kami tertidur lelap di The Packer Lodge Yogyakarta, dengan tampilan muka bantal, kami bersiap untuk mengejar sunrise di bukit Punthuk Setumbu. Meskipun lebih enak kalau mengejar jodoh. eeeaaa.

Rencana awal yang hendak berangkat jam 3-an pun mundur menjadi setelah Subuh. Bagus juga sih, jadi kami sempat sholat subuh di hostel.

Perjalanan menuju bukit punthuk setumbu yang kesohor itupun kami lalui dengan tertidur, separuh perjalanan maksud saya (menolak dibilang pelor).

Saat kami tiba di lokasi, pagi sudah menjelang. Kami bersegera ‘mendaki’ bukit menuju titik pengamatan sunrise terbaik di puncak bukit Punthuk Setumbu.

Tiba di puncak, kawasan ini sudah dipenuhi puluhan orang. Sang mentari pun sudah menunjukkan dirinya di kejauhan.

Indah. Sangat indah.

Sunrise, dengan pemandangan hijaunya hutan dan backsound suara burung serta owa di kejauhan membuatnya semakin terasa indah. Terlebih lagi ketika candi Borobudur masih terlihat nun jauh di sana.

Kagum.

Selama mentari perlahan bergerak naik semakin ke atas, saya dan entah berapa puluh pasang mata disana menganguminya.

The best sunrise I’ve seen it so far. Better than the feeling of watched sunrise from Puncak Prau, Bromo Mountain, Banjar Negara, or other places I’ve been visited before.

Di satu spot, saya dan Mega sibuk mengunci keindahan sunrise dengan mata dan video handphone ala kadarnya (dikarenakan cita-cita terpendam untuk membuat video timelapse sunrise).

Sementara Dwi, Shirley, Mitha, Irin, dan Nisa mengeksplor keindahan bukit Punthuk Setumbu dari spot yang berbeda.

Dan cerita pun berlanjut ke “After Sunrise: Bayangan, Kopi Item, dan Gorengan.”

The Packer Lodge Yogyakarta

Sesampainya di Stasiun Tugu, Yogyakarta dari Stasiun Solo Balapan, kami langsung mengandalkan google maps untuk mencapai lokasi The Packer Lodge Yogyakarta (Terima kasih Mitha sudah booking hostel ini untuk kami).

Konon katanya, hostel ini (The Packer Lodge Yogyakarta) merupakan salah satu hostel terbaik pilihan backpacker lokal dan internasional. Jadi, kami sedikit penasaran bagaimana rasanya menginap di hostel ini.

Beruntungnya kami, hostel ini dekat dari stasiun dan bisa dijangkau hanya dengan berjalan kaki. Ditambah lagi, lokasinya yang dekat dengan Jl. Malioboro yang terkenal seantero jagad raya itu. Jalan kaki pun menjadi pilihan yang terbaik, sambil menikmati pemandangan malam di sepanjang jalan Malioboro.

Dan saya pun tertegun. Entah sudah berapa lama sejak terakhir kali saya berada di jalan ini. Dan sungguh sangat amat berubah. Sangat padat dan ramai dengan lalu-lalang orang.(untung saya pernah merasakan Malioboro yang tidak terlalu ramai dan masih terasa sekali nuansa tradisionalnya).

Tak lama kemudian, The Packer Lodge Yogyakarta tepat berada di hadapan kami. Tampak sederhana dan minimalis. Benar-benar mencirikan hostel para backpacker.

Memasuki hostel, saya langsung jatuh cinta dengan tempat ini. Tampak minimalis dan sangat bersih disertai pelayanan yang sangat ramah.

Mengingat malam yang semakin larut dan mata yang sudah mulai meredup, ingin rasanya saya segera menuju ke kamar dan merebahkan diri untuk sekadar meluruskan badan.

Dan, inilah kamar kami. And I must say, I love it!!!

Hanya saja, berhati-hatilah kalau kita dapat tempat tidur yang posisinya di atas.  Pastikan kalau kita sudah benar-benar segar dan melek 100% baru turun ke bawah. Salah-salah atau lupa atau masih mengantuk sekali, kita bisa terjatuh.

Hostel ini patut saya acungi jempol 2. Karena apa? Karena membuat saya merasa seperti di rumah sendiri atau seperti anak kos.

Ditambah lagi dengan bersihnya area hostel, mulai dari front office, dapur, kamar, hingga kamar mandi (padahal ini kamar mandinya bareng-bareng dengan tamu lainnya). Sangat bersih. Dan bagi saya, kebersihan adalah yang paling utama, terutama kebersihan kamar mandi.

Jadi, saya pasti tidak segan untuk kembali menginap di hostel ini suatu saat nanti.

A very recommended one.

Sayangnya, kami hanya sempat menginap satu malam. Bahkan tidak bisa disebut satu malam juga, karena kami baru tidur jam 12 malam dan bangun jam 3 pagi untuk mengejar sunrise di Punthuk Setumbu.

 

 

 

Sejenak di Stasiun Solo Balapan

Salah satu stasiun yang paling terkenal seantero Indonesia adalah Stasiun Solo Balapan. Nama stasiun ini semakin terkenal ketika Didi Kempot menyanyikan lagu campur sari berjudul setasiun balapan.

Saya pun, ketika menjejakkan kaki di stasiun ini, spontan bersenandung, “Nang setasiun balapan, kuto solo sing dadi kenangan… kowe karo aku…” Ah… mendadak darah Jawa saya membuncah dan kemampuan berbahasa Jawa saya yang pas-pasan ini menjadi kebanggaan tersendiri.

Sambil menunggu kereta yang akan membawa kami ke Yogyakarta, saya pun sempat berkeliling dan mengagumi stasiun ini.

Lama kemudian, kereta kami tiba di stasiun dan siap membawa kami ke perjalanan selanjutnya.

Dan bahagianya kami, karena kereta kami tampak lengang alias kosong. Serasa 1 gerbong milik sendiri. Tetapi sungguh disayangkan, durasi perjalanan dengan kereta ini sangatlah singkat (kurang dari 2 jam).

Yogyakarta! Here we come!

Air Terjun Jumog

Perjalanan 7 kurcaci ini pun terus berlanjut. Setelah melihat jejak peninggalan jaman dahulu melalu Candi Sukuh dan Candi Cetho, kami pun berhenti di sebuah lokasi yang konon katanya terdapat air terjun bernama Jumog.

Masih berada di daerah Karanganyar, Jawa Tengah, air terjun ini belum seterkenal air terjun lainnya di seputaran Jawa Tengah.Untuk mencapai air terjun ini, kami tidak perlu mendaki ratusan tangga atau menyusuri jauhnya jalan setapak maupun menembus hutan. Cukup berjalan beberapa langkah, indahnya air terjun Jumog dan derasnya suara jatuhnya air pun telah terdengar. Segar…

Indah bukan? Ingin rasanya berlama-lama berada di sini dan menikmati rindangnya pepohonan disertai gemericik suara air mengalir.

Di tempat ini juga, kita bisa berenang di kolam yang sudah disediakan pengelola. rasanya sangat tepat jika anak-anak diajak ikut serta dan berenang di tempat ini.

Dan saatnya kami berpisah dengan air terjun Jumog.

Dan perjalanan 7 kurcaci ini pun terus berlanjut menuju Yogyakarta melalui Stasiun Solo Balapan.

 

 

Candi Cetho: Serasa di Atas Awan

Usai mengeksplorasi candi sukuh, kami segera menuju candi Cetho. Untuk mencapai lokasi candi, kami harus melalui perjalanan yang lebih berkelok-kelok, mendaki, dan cukup curam. Bahkan di kiri jalan tampak jurang yang dalam siap menyambut, kalau saja supir tidak berhati-hati.

Dari kejauhan, tampak gerbang candi Cetho menjulang tinggi. Kami pun terpaksa meninggalkan Mitha dan Shirley kemudian menuju loket pembelian tiket serta memakai kain khas kotak hitam putih yang biasa kita pakai saat memasuki kawasan candi Hindu.

Bentuk utama candi Cetho tidak terlihat dari depan. Hal ini dikarenakan bagian utama candi terletak dibagian paling tinggi dan paling belakang (mendekat ke puncak gunung). Klik di http://candi.perpusnas.go.id untuk mengetahui lebih detail mengenai sejarah candi Cetho.

Gerbang candi Cetho ini mengingatkan saya pada candi-candi yang kerap saya lihat di pulau Bali.

Memasuki komplek candi, semakin ke dalam, saya pun semakin kagum. Mengapa? Arsitektur candi sungguh memukau, tingkat presisi dan simetri setiap gerbang candi membuat saya terpana. Lurus sekali.

Sejenak mengingat kembali bahwasanya candi ini dibangun pada jaman Kerajaan Majapahit dan di daerah pegunungan pula. Bagaimana mereka mengukur serta membangunnya, pikir saya.

Kami pun menikmati setiap sudut, arca, dan relief dari candi ini. Sesekali berpikir kembali mengenai kisah yang ada dibalik sejarah candi ini.

Sampai kami dikejutkan dengan susunan bebatuan yang sekilas tampak seperti kelamin pria dan wanita, tepat dihadapan kami. Sontak saya pun kaget campur penasaran, ketika Mega membawa topik ‘itu.’ Ternyata oh ternyata, memang benar adanya, apa yang kami lihat adalah lambang kelamin pria dan wanita.

Menurut candi.perpusnas.go.id, susunan bebatuan tersebut melambangkan kesatuan wanita dan pria, dua makhluk yang berlawanan sifatnya namun tidak dapat dipisahkan satu sama lain sebagai perlambang jagad kecil (mikrokosmos) dalam diri manusia.

Semakin ke dalam dan ke atas, suasana mulai terasa ‘hening dan senyap.’ Sekelebat bau kemenyan pun merangsek kedalam hidung kami.

Maklum saja, candi ini masih aktif digunakan sebagai sarana beribadah umat beragama Hindu. Jadi, diharapkan para pengunjunh untuk menjaga penampilan, sikap, serta ucapan selama berada di lokasi.

Sebelum kami menuju tempat Shirley dan Mitha (yang dengan sangat terpaksa kami tinggal duluan),  kami pun menyempatkan diri untuk sekadar berfoto di hadapan gerbang yang menjulang tinggi berlatar belakang kabut (yang menutupi pemandangan di bawahnya). Suasana yang membuat candi ini serasa di atas awan.

So, bye-bye candi Cetho. One of a must-visit temples in Indonesia. Would love to comeback here again, after learning the history behind you.

Dan kami pun beranjak turun, bersegera menemui Shirley dan Mitha yang tampak sedang berisitirahat.

 

 

Melihat “Jejak Peradaban Inca dan Maya” di Candi Sukuh

Setelah menghabiskan semangkuk soto gading khas Solo (yang akan saya ceritakan nanti), dan dibuat terkejut dengan keberadaan sate brutu, kami pun segera meluncur menuju Karanganyar, tepatnya ke kewasan Candi Sukuh.

Perjalanan yang berkelok-kelok dan penuh tantangan disertai pemandangan yang tampak hijau membuat kami seakan lupa dengan segala penat di ibukota Jakarta.

Sampai di lokasi, loket penjualan tiket pun masih tutup — maklum kami tiba terlalu pagi. Tidak lama kemudian, kami pun diijinkan memasuki kawasan Candi yang tidak terlalu luas itu.

Di dalamnya, terlihat candi sukuh yang entah mengapa tampak mirip luar biasa dengan bangunan-bangunan peninggalan peradaban suku Inca dan Maya yang kerap saya lihat di TV maupun di buku-buku sejarah. Tetiba, saya ingin belajar sejarah lagi.

Berdasarkan apa yang saya baca, sampai saat ini belum diketahui apakah keberadaan candi sukuh ada hubungannya dengan peradaban Inca dan Maya. Jika ingin mengetahui lebih lanjut mengenai candi ini, silakan klik http://candi.perpusnas.go.id

Berikut penampakan kompleks candi sukuh yang berhasil kami abadikan.

Kami pun sempat menaiki candi sukuh dan menikmati indahnya pemandangan sekitar dari ketinggian.

Dan inilah aksi 7 kurcaci di sekitaran kompleks candi.

Dan kami pun dengan berat hati meninggalkan keindahan sebuah mahakarya peninggalan peradaban yang hadir jauh di masa lalu menuju mahakarya lainnya yang dikenal dengan nama candi Cetho.

 

Soto Gading Langganan Presiden RI

Ketika kami menjejakkan kaki di Solo, hal pertama yang kami lakukan adalah mencari sarapan pagi khas Solo. Tibalah kami di kedai soto yang konon katanya terkenal di seantero Solo karena seringnya kedai ini dikunjungi para pejabat serta beberapa Presiden RI.Kedai soto ini terlihat sangat sederhana dan sangat membumi. Tidak ada kesan restoran mewah maupun terkenal. Saya pun agak ragu-ragu pada awalnya. Lama-kelamaan, setelah saya mengamati kedai ini, mulailah saya percaya bahwa ini memang kedai soto langganan Presiden.

Foto-foto para pejabat dan presiden terpampang di dinding kedai. Suasana yang tradisional khas Solo pun terasa ketika kita memasuki bagian dalam kedai. Furniture serta perangkat makan beserta masaknya pun kental akan rasa tradisional. Bahkan kompor yang digunakan pun masih menggunakan bara api atau kayu bakar.

Kami pun tak sabar untuk segera mencicipi soto gading mereka. Dan ketika soto kami akhirnya disajikan, saya pun terkejut karena porsinya yang terbilang kecil. Mungkin karena saya memang porsi makannya yang besar. Dua mangkok pun tak akan kenyang, pikir saya. Untungnya ada banyak ‘cemilan’ tambahan model sate-satean. Nyam.

Dan kami pun segera menyantap soto gading dengan sangat sigap dan cepat. Sedap. Gurih dan nikmat.

 

Dimulainya Sebuah Kisah di Stasiun Jebres, Solo

Sore itu, hari terakhir sebagian dari kami menunaikan tugas sebagai seorang guru. Kami pun bergegas menyudahi rapotan tepat pada waktunya.

Dari kami bertujuh (saya, Dwi, Shirley, Irin, Mega, Mitha, dan Nisa), 3 melaju dari tempat yang sama. 1 dari Kelapa Gading. 1 dari kuningan. 1 dari sebuah kantor penerbitan.

Abang gojek pun menjadi pilihan. Ditemani hujan rintik-rintik, saya pun berpacu dengan waktu menuju titik pertemuan di stasiun senen.

Pasrah, jikalau saja saya tertinggal kereta. Mengingat saya paling akhir berangkat menuju lokasi.

Benar saja, sebagai orang terakhir yang tiba, lega rasanya. Kami pun menunaikan kewajiban sebagai muslim sebelum akhirnya menaiki kereta yang akan membawa kami ke dalam sebuah kisah singkat perjalanan di Solo – Jogja.

Berbekal tiket KA ekonomi (maklum ceritanya backpackeran alias penghematan). Saya pun tidak merasa ketidaknyamanan (1 kursi isi 3 orang) karena lelap tertidur akibat minggu yang melelahkan sebelumnya.

Matahari belum nampak di kejauhan ketika kami tiba di stasiun Jebres.

Menunggu. Satu-satunya yang bisa kami lakukan sampai driver menjemput kami semua.

Dan disinilah kisah kami bertujuh (sudah semacam 7 kurcaci) dimulai, di Stasiun Jebres, Solo, Jawa Tengah.

 

 

Kisah kami berlanjut menuju Kedai Soto Gading I (yang konon katanya sering disambangi Presiden Jokowi) kemudian Candi Sukuh dan Candi Cetho.

Jungleland Adventure

Although it is called Jungle, it is not really a jungle, off course. Many often confuse between this jungleland in sentul and the other jungle in Bogor which is completely different. One is a theme park while the other is a water park.


Our adventure begins early in the morning. Me and my cousins joined my brother’s company gathering (thanks bro!) so it was absolutely free (happy me). At least, not until we arrived.

 It was full pack. We even parked in jungleland employees parking lot. So, we didn’t get the mandatory post in front of the jungleland’s globe because we entered through the employee’s gate. 


Inside, we were thrill, excited, and very aticipated. But, reality is almost always cruel than our hope. 

There were thousands peoples in bright blue clothes as far as we can see. My brother’s company gathering is not even close to the bluers. Much later on, we got information from the jungleland worker that there are also another company gathering. He made count and said, more than 9000 peoples in jungleland now.

Oh. my. God.

We are screwed.

All plans went through the air. Vanish. 

Many peoples only meant one thing though. A very long queque in each and every ride out there.

Did the fact made us backed off. Naaah. Whatever had to happen, so be it. 

We waited for almost one hour for each ride. And that made us afford only 6 rides from morning to afternoon. What an adventure it was.

Firstly, we rode an octopus. Not quite challenging, but quite okay.


Next, we met dinosaurs in a jurassic park vibe. Well, kind of. 






Okay, the ride make us giggling much since this is more appropriate for kids rather than us.

Next, we excitedly went to the ferris wheel.



The queque was unbelieveable so we skipped it first to ride the plane looks like. 

Off course, we had to wait, again for almost an hour. But, it was worth the wait. So freaking awesome ride.




Move forward, we wanted to play water related rides, high adrenalin rides, and off course a swing ride.

Much to our dissapointment, there were many rides did not operate. So, we decide to just capture the view around which was quite fun and stunning.










Lastly, right before we went home. We ride a water ship. The only kind of ride in Indonesia. As if we were in an ocean battlefield, we use water gun to shoot another ship. 

Love it, like pirates of carribean. As if I was Keira Knightley though.




Fortunately we went home after this. Because it made us all wet, literally. And just at the right time, rains started to pouring down, heavily.

Run run run run to the car. And that was how we ended our adventure in Jungleland.


Walk Around Bogor Botanical Garden (Kebun Raya Bogor)

Malam itu, kami mendadak berencana ke Kebun Raya Bogor (Bogor Botanical Garden). Keesokan harinya, kami pun bergegas mengejar kereta pagi menuju kota hujan, Bogor.

Sepanjang perjalanan dari Stasiun Sudimara hingga stasiun Bogor, saya habiskan untuk menikmati sepinya gerbong-gerbong kereta dari sesaknya manusia. Sesekali saya berseluncur di dunia maya untuk sekadar mencari tahu mengenai Kebun Raya Bogor (KRB). Saya pun terpaku pada salah satu website andalan saya mengenai Bogor, yaitu Lovely Bogor.

Sesampainya di kota Hujan, kami pun menyempatkan diri untuk sarapan sebelum melanjutkan perjalanan ke Kebun Raya Bogor. Sempat terpikir untuk mengikuti saran dari Lovely Bogor, yaitu berjalan kaki menuju pintu masuk kebun raya bogor sembari menikmati pemandangan dan gedung-gedung bersejarah di sepanjang perjalanan. Namun apa daya, terik matahari sungguh tidak bersahabat sehingga kami terpaksa naik angkutan umum.

Tak lama berselang, angkutan umum yang kami naiki tiba di pintu utama. Kesan pertama, “Waah, kapan ya saya dan keluarga terakhir kali mengunjungi tempat ini?” Tanpa mengingat jawaban atas pertanyaan saya itu, kami pun memasuki KRB dengan membayar tiket masuk sebesar 15 ribu per orang.

Memasuki KRB, saya pun menghirup udara sebanyak mungkin ke dalam paru-paru saya. Segarnya. Sejauh mata memandang, yang tampak hanyalah rimbunnya pepohonan yang menghijau.

What a lovely sight. Green scenery are everywhere.

Kalau Singapore punya Garden by the bays dan Singapore Botanic Garden, sementara Inggris punya Garden of England, maka Indonesia punya Bogor Botanical Garden (Kebun Raya Bogor) yang tidak kalah menarik, indah, dan penuh kenangan bersejarah. Hal itu bisa kita lihat dari usia KRB tahun ini yang menginjak usia 200 tahun.

WOW. Just WOW!

Berikut adalah sedikit dari banyak sudut-sudut indah di Kebun Raya Bogor.

Sesekali, kami pun mengabadikan keberadaan kami di KRB. Truly beautifully scenery. Dimulai dari Taman Meksiko di tengah KRB.

LAnjut ke sebuah jembatan yang tampak sepi dari lalu-lalang pengunjung. Ternyata jembatan merah nan cantik ini dikenal sebagai Jembatan Pemutus Cinta.

What a myth.

Terus berjalan dan berjalan lagi… Di dalam KRB juga terdapat Istana Presiden yang dikenal dengan nama Istana Bogor. Di kejauhan, tampak istana bogor berdiri dengan gagahnya.

Mengingat KRB ini sangat luas, sangat mudah bagi kita untuk tersesat. Tapi jangan takut, di sini terdapat banyak penanda jalan yang menunjukkan ke mana kita harus pergi.

Terakhir, this is from where I stand.

 

Sejenak Menghampiri Baturraden

Masih dalam rangka libur lebaran, kami menghampiri lokawisata Baturraden walaupun hanya sejenak saja.

Sudah terlalu lama rasanya sejak saya menginjak Baturraden. Terakhir kali saya ke sini ketika saya masih SD bersama dengan keluarga besar H. Djayadih (keluarga almarhum Bapa). Saat itu, almarhum bapa dan almarhum kaka saya masih bersama kami.

Ketika akhirnya saya sampai ke tempat ini lagi, rasanya tak sabar dibalut dengan penasaran. “Seperti apa ya penampakan baturraden saat ini?” pikir saya.

Setelah melewati antrian panjang menuju pintu masuk, kami pun terpaksa memarkirkan mobil di sebuah Hotel mengingat hampir semua tempat parkir penuh, sampai-sampai bahu jalan pun digunakan sebagai area parkir. Kenapa? Karena waktu berkunjung bertepatan dengan libur lebaran yang berarti banyak pengunjung berdatangan dari berbagai daerah.

Kami pun berjalan menanjak menuju pintu masuk dengan pemandangan Gunung Slamet yang menjulang tinggi dengan gagahnya.

Sampai di pintu masuk, rasa tidak sabar dan penasaran tadi mulai terjawab. Ramai, kesan pertama saya.

Memasuki kawasan wisata baturraden, saya pun terkejut.

Wow! Just Wow!

Bukan karena tumpah ruahnya manusia, melainkan karena betapa banyak perubahan di tempat ini. Sungguh amat sangat teramat berubah.

 Baturraden yang begitu alami dalam ingatan saya, berubah menjadi lebih modern, family friendly, colorful, and instagramable. Bagus sih, tetapi bagi saya yang menyukai suasana alam nan alami, rasanya agak disayangkan. Saya sungguh lebih menyukai tampakan Baturraden yang terekam alami dalam memori masa kecil saya.Meskipun begitu, Baturraden tetap merupakan salah satu destinasi wisata alam yang patut dikunjungi. Terlebih bagi warga perkotaan yang merindukan kesejukan dan keindahan alam pegunungan.

Di Baturraden ini banyak sekali lokasi yang bisa dikunjungi. Mulai dari pancuran 1 sampai 7, jembatan putus cinta, kebun raya, water park, dan lainnya. Sayang sekali saya tidak bisa mengunjungi semua tempat tersebut karena keterbatasan waktu.

Menuju jembatan putus cinta. Ketika saya masih SD, jembatan ini masih berupa jembatan gantung. Namun, semenjak peristiwa putusnya jembatan ini, pihak pengelola akhirnya membangun jembatan permanen untuk menggantikan jembatan gantung.

Pemandangan Baturraden dari atas jembatan. Such a beauty.Lanjut ke pancuran 7. Untuk menuju pancuran 7 dibutuhkan waktu lebih dari sejam dengan perjalanan yang terus menanjak. Sayang sekali saya dan keluarga tidak sampai hingga ke pancuran 7 karena masih harus mengejar waktu untuk balik ke Jakarta.

Next time, I’ll make sure to comeback to Baturraden. From morning till noon and explore every inch of what Baturraden can offered.

Kenyataan Dibalik Indahnya Taman Wisata Air Panas Guci

Lesson learned! No visitation during Eid or long holiday. A really bad timing to visit the place. It turned out, what we expected is far from reality.

Masih dalam rangka libur lebaran. Dalam perjalanan pulang kembali ke Jakarta, kami meyempatkan mampir ke objek wisata yang belakangan ini sungguh terkenal dibicarakan di berbagai sosial media. Ribuan foto berlatar belakang tempat ini pun sudah bertebaran di jagad instagram

Indah. Tampak indah.

Setelah perjalanan yang cukup menguji nyali karena berkelok-kelok, naik turun, ditambah dengan ramainya kendaraan. Kami pun tiba di Taman Wisata Air Panas Guci, Tegal  yang tepat berada di kaki gunung Slamet, Jawa Tengah.

Kesan pertama, jalan menuju lokasi masih belum tertata rapi. Hal ini membuat saya tersenyum bahagia. Mengapa, berarti tempat ini masih alami, which is very good.

Memasuki lokasi, kami disambut dengan cukup banyaknya sampah berserakan di sepanjang jalan dan banyak pengunjung yang lalu-lalang.

Semakin jalan ke dalam, suasana alami semakin terasa. Tapi entah kenapa, ada perasaan tidak nyaman di hati kecil saya.

Kami pun mengikuti jalan di sepanjang pinggir sungai yang mengalirkan air panas. Sesampainya di taman wisata, tepatnya di jembatan gantung, saya pun semakin merasa tak nyaman.

Betapa tidak, di jembatan jelas-jelas tertulis jalan satu-satu dan agar tidak berlama-lama di jembatan. Kenyataannya, jembatan penuh sesak oleh pengunjung yang menyebrang, bahkan banyak di antara mereka yang sibuk ber-selfie, wefie, dan –fiefie lainnya.

I guess, rules are meant to be broken. And that safety just flew out of the window at time like this (means holiday).

Dari ujung jembatan, terlihat kolam pemandian air panas yang dipenuhi pengunjung. Dan perasaan tak nyaman semakin menggebu-gebu di dalam hati saya.

Oh my. Oh my. Oh my God.

So this is an uncomfortable feeling I feel along the way. It is so crowded. Overly crowded. Gosh! I got a sudden headache.

Lihatlah betapa ramainya taman wisata air panas Guci di kala libur panjang lebaran. Benar-benar waktu yang sangat tidak tepat untuk mengunjungi tempat ini.

Jangankan menikmati keindahan alam, untuk sekadar berjalan pun kesulitan. Seakan-akan saya sedang dalam antrian panjang untuk menonton konser atau bola.

Tidak hanya di jalan, tetapi juga di sungai air panas, di air terjun, di jembatan, di kolam pemandian, di tempat souvenir, di tempat makan, semuanya dipenuhi manusia. Lebih tepatnya, lautan manusia.

Saya pun merasa kasihan dengan kuda-kuda yang berada di lokasi. Sejatinya, mereka cukup sensitif dengan keramaian dan kebisingan. Namun, apalah daya mereka.

Belum lagi, sampah-sampah yang berserakan di jalan, di pinggir sungai, bahkan di aliran sungai. Tempat sampah yang disediakan sungguh sudah tidak mampu menampung sampah dari ribuan orang yang datang bersamaan pada saat itu.

Saya pun segera mengurungkan niat saya untuk berlama-lama di tempat ini. Meskipun begitu, saya sempatkan untuk mengabadikan momen ini bersama keluarga. Kapan lagi bisa melihat Guci dalam keadaan seperti ini. Jauh dari bayangan. Sungguh, kenyataan lebih kejam dari harapan.

Bye-bye Guci. I’ll make sure to visit you again during weekdays in the near future. No more visiting during long holiday for I can not witness your beauty.

Hujan pun tiba-tiba datang tanpa diundang. Lengkap sudah perjalanan saya di Guci. Kami pun melipir sejenak di warung untuk sekadar menikmati pop mie dan menanti hujan reda.

Indahnya Desa Tlaga Kecamatan Punggelan, Banjar Negara

Salak day! After more than an hour climb up a mountain like, definitely worth it. Happiness is having a family living in a mountain with a field of salak, avocado trees, bananas, and a pond full of fishes.

 

Dalam rangka Lebaran, kami sekeluarga mudik ke Banjar Negara. Saya pun menyempatkan diri untuk mengunjungi sanak keluarga yang rumahnya tidak jauh dari rumah mbah saya.

Jadilah saya dan keluarga mengunjungi rumah lilik (om/tante) yang katanya berada di pegunungan, bahkan hampir di puncak gunung. Tepatnya di desa Tlaga Kecamatan Punggelan.

Ditambah iming-iming memetik salak, makan salak sepuasnya, memetik alpukat, dan memancing ikan untuk kemudian dimasak. Wah, saya sangat excited.

Maklum saja, saudara yang sudah pernah ke sana selalu menceritakan betapa indahnya pemandangan dan betapa ‘mengerikan’nya perjalanan ke sana. Ditambah lagi dengan cerita bahwa Punggelan termasuk daerah yang rawan longsor.

Benar saja. Jalan yang berkelok-kelok, naik dan turun, dan bisa dibilang hanya cukup untuk 1,5 ukuran mobil saja harus kami lalui. Mereka bilang jalannya menyeramkan. Saya bilang, jalannya cukup menantang. Mereka sungguh harus mencoba jalanan menuju pantai pegadungan gigi hiu, pikir saya.

Sepanjang jalan, saya disuguhi dengan hijaunya pepohonan, segarnya udara pegunungan,dan keindahan alam sepanjang mata memandang.

Sesampainya di rumah lilik saya, kami pun langsung disuguhi salak, keripik salak, pisang, ikan goreng, dan sebagainya. Ternyata semua iming-iming itu benar adanya, bahkan lebih.

Sungguh nikmat berada di pedesaan. Untuk sementara, saya lupa akan kesibukan dan kemacetan di ibukota.

 

A Magical Coldplay: A Head Full of Dreams Tour in Singapore

Finally, after discovering the Henderson Waves and strolling around malls, the reason of us being in Singapore, A Magical Coldplay: A Head Full of Dreams Tour in Singapore.

It was sudden and unplanned. As if one of dream comes true. It never crossed in my mind that I would be fulfilling one of my dream, now.

So, bucket list: Watch Coldplay Concert Live, check!

Back then, I fell in love with “Yellow,” so hard. Since then, Coldplay became one of my favorite all time bands. All of their album are never disappointed me.

The first time I heard Chris Martin voice all over the Singapore national stadium singing A head full of dream as their first song that night, I felt goosebumps all over my body.

And when I heard them singing Yellow and Fix you, right in front of my eyes, I was totally speechless and freeze, literally.

The rest of the night felt magical, very unreal. It was surely an adventure of a lifetime. I was like in a rollercoaster of emotion. From thrill to pure bliss to heart flutters to tears.

What. An. Amazing. Concert. Ever.

Along the concert, I screamed, I sang, I jumped, I cried, and I freeze. The venue, the light, the laser, the xyloband, the crowd, the confetti, the balloon, the music, the song, the sound system, and the band itself were beyond perfect.

I may not be in the best spot as all I could see was Coldplay members as small as ants. But, being physically there in one place as them and sang along with them made me couldn’t ask for more at the moment.

Most of the time, I hardly recorded them with my handphone (like many others did), but I did record them clearly in my head as an unforgettable memory. I thought, THIS IS A MUST WATCH WITH MY OWN TWO EYES.

So here were some of moment before the magical concert begins.

 

 

Strolling Around The HarbourFront Centre and VivoCity Singapore

After enjoyed nature in Southern ridges, we strolled around the mall called HarbourFront Centre and VivoCity. It wasn’t intended, but because they attached to the Harbourfront station, I guess it was not wrong to do some window shopping.

As they all said, it was heaven to shop in Singapore. The price is quite tempted,pretty much lower than in Indonesia not to mention, added with some discount. Charles & Keith, Cotton On, Kate Spade, Sketchers, Adidas, Nike, Uniqlo, and many more.

The mall it selves is the same as in Indonesia. The most different things I observed were some of the worker, such as janitor or cleaner, a fast food crew, the cashier of some store was old. I mean they were grandma and grandpa, literally. I was very surprise.

So, when we ate in one of the restaurant, I hardly chewed and enjoyed mine. How can I, when an old grandpa was mopping the floor next to me (sobbing inside for they reminds me of my grandpa or grandma).

Quickly out of the restaurant, we strolled around. Lastly, we ended up in Garret Popcorn store to had some taste of their famous popcorn before we went back to hotel and prepared ourselves for the Coldplay Concert.

A Walk to Discover in Singapore: Henderson Waves

Singapore! When I heard Singapore, shopping and Merlion came first at my mind. Most of people I know went to Singapore for shopping or discovered Universal Studios then taking mandatory picture with the famous Merlion.

Rarely I heard of them visit Singapore to enjoy their garden, parks or nature. So, when my cousin told us that we will do our morning run in the Southern Ridges, especially in the Henderson Waves, I was beyond thrill.

As we arrived late at night in Changi Airport, we only had few hours to sleep. And that made us woke up late in the morning. We went straight to the Mountbatten MRT station and took the train (Circle line) headed to Harbourfront station.

It was work day, so the train was full of Singaporean who were going to work or school. It was so quite in the train (remind me of how noisy it will be if it was in Indonesia) and very comfortable being inside of the train. I was impressed.

From the Harbourfront station, we planned to hike through Marang trail. But, after some thinking, we decided not to because of many reasons. So I took my phone out and reserved Uber to take us to Henderson road.

Not long after, a long and high stairs welcomed us, a stairway to heaven if I may call it. Well, I might be over exaggerated. At the end of the stairs, green scenery and a mountain trail were ahead of us, along the way to the Henderson Waves.

Finally, Henderson Waves right in front of our eyes. As we were getting ready to run along the waves, we took some snapshot here and there.

Henderson waves is the highest pedestrian bridge in Singapore which standing 36 meters above the Henderson road. It said as one of the best spots in Singapore to enjoy panoramic views of the city, harbour and the Southern Islands. And I couldn’t agree more.

It was so refreshing and relaxing. Fresh and nice air combined with beautiful scenery surely made us wanted to spend more time in here. Sadly, we had to force our self moved to another destination which is HarbourFront Centre and VivoCity also Coldplay Concert.

So, bye-bye waves. See you when I see you.

 

 

Merindukan Kesejukan di Desa Susukan, Banjar Negara

It’s been some time since we went to my mom’s hometown in Susukan Village, Central Java. Been missing the morning scenery of the sunrise, paddy fields, mountain, and hills.

short-getaway-21short-getaway-14short-getaway-23

Pulang ke kampung halaman mama selalu menjadi momen yang selalu saya tunggu. Membayangkan sejuknya udara yang bisa saya hirup, hijaunya hamparan padi, rimbunnya pepohonan di bukit, dan damainya suasana pedesaan membuat kami semakin tak sabar untuk segera kembali ke sana.

Beruntungnya saya, mama dilahirkan di sebuah desa bernama Susukan, yang masih kental dengan suasana pedesaan hingga saat ini.

Lihat saja, hamparan sawah mengapit jalanan menuju rumah Mbah saya. Betapa indah dan alami.

short-getaway-13

short-getaway-12

short-getaway-22

short-getaway-9 short-getaway-8

Aliran sungai pun ada disini. Jembatan ini merupakan jembatan bersejarah dan telah menjadi bagian dari keluarga besar kami, keluarga Sanrusdi. Entah sudah berapa lama sejak dibangunnya jembatan ini.

Yang pasti, saya melihat jembatan ini di dalam foto masa kanak-kanak Mama, masa remaja beliau, masa pernikahan beliau, masa saya masih bayi, hingga saya sekarang ini.

short-getaway-15short-getaway-20

short-getaway-18

short-getaway-17

Menembus Hujan dan Kabut di Perkebunan Teh Gunung Mas

Menikmati suasana kebun teh di daerah Gunung Mas, Puncak mungkin terdengar biasa. Berjalan-jalan ditengah hamparan kebun teh, memanjakan mata dengan hijaunya dedaunan teh, sembari menghirup sejuknya udara pagi. Sesekali seorang guide menjelaskan perihal Perkebunan Nusantara 8 saat kita berhenti sejenak. Sungguh hal yang teramat biasa, setidaknya bagi saya.

Tapi, tidak pernah terbayangkan oleh saya untuk menikmati suasana kebun teh di Gunung Mas dalam keadaan hujan dan berkabut, di pagi hari pula. Dingin, sensasi utama yang paling saya rasakan.

Saat itu, Puncak diguyur hujan yang tak hentinya. Kabut pun turun menemani sang hujan. Rencana semula untuk tea walk sepanjang lebih kurang 4 km sambil menikmati hijaunya kebun teh pun terasa akan gagal. Suasana terasa gloomy dan membuat kami mager. Jarak pandang yang hanya beberapa meter saja semakin membuat kami ragu untuk melanjutkan rencana awal.

gunung-mas-15

Kalau saja, warung-warung di Gunung Mas tidak menjual jas hujan, enggan rasanya beranjak menuju perkebunan teh. Kenapa jadi jas hujan? Karena jas hujan itulah saya menjadi lebih bersemangat untuk melanjutkan rencana semula (maklum, saat itu saya sedang kurang sehat karena sehari sebelumnya, saya sempat demam dan flu berat).

Namun, ternyata Ide untuk ‘main hujan-hujanan’ sungguh membuat saya excited. Kapan lagi hujan-hujanan di tengah perkebunan teh di ketinggian 800-1200 m di atas permukaan laut yang dipenuhi kabut, pikir saya dalam hati. It will be so much fun!

gunung-mas-1

Benar saja, sangat menyenangkan.

Menembus hujan dan kabut, melawan udara dingin yang menusuk kulit, melewati sungai yang alirannya sangat deras, dan sesesekali berhenti untuk selfie, wefie, mendengarkan penjelasan sang Guide, atau hanya sekadar menikmati keindahan alam di perkebunan Gunung Mas.

gunung-mas-4 gunung-mas-16 gunung-mas-7 gunung-mas-12 gunung-mas-10 gunung-mas-14

gunung-mas-17 gunung-mas-2gunung-mas-23

Mempesona. Breathtakingly beautiful. Natural art.

Ditambah lagi dengan jalanan yang terbilang tidak biasa. Perjalanan kali ini lebih tepat disebut sebagai mountain tracking daripada tea walk. Menyenangkan!

Perjalanan turun pun tidak kalah mempesona. Melalui jalanan berbatu yang diapit rumah-rumah penduduk Gunung Mas. Masih ditemani hujan dan kabut. Saya merasa sedang berada di sebuah Negri di Atas Awan.

gunung-mas-18 gunung-mas-19 gunung-mas-20

Di salah satu rumah itulah kami beristirahat untuk melepas lelah dan sholat zuhur. Di sini pula kami menikmati sebungkus cilok terenak yang pernah saya makan, semangkuk mie rebus, dan secangkir teh putih panas hasil perkebunan teh gunung mas.

gunung-mas-38

Perjalanan berlanjut, dan kami pun bersiap untuk kembali ke penatnya dan panasnya Ibukota tercinta, DKI Jakarta.

gunung-mas-3

Kami pun sempat bernarsis ria dengan jas hujan kebanggaan kami. Sungguh berwarna. Kami tampak seperti para Hobbit. Tapi kalau dipikir-pikir kembali, kami pun tampak seperti para Teletubbies.

gunung-mas-35 gunung-mas-36 gunung-mas-26 gunung-mas-33 gunung-mas-32 gunung-mas-31

Pantai Pegadungan Gigi Hiu yang Tak Akan Pernah Terlupakan

Pertama kali mengetahui tentang “surga tersembunyi” ini dari sebuah majalah keluaran maskapai Sriwijaya rute Silangit (DTB)—Jakarta CGK). Saat itu, spontan kami (saya dan Dwi) terkesima dengan foto penampakan Pantai Pegadungan Gigi Hiu berlatarbelakang matahari tenggelam alias sunset.

Indah. Begitu pikir kami.

Sangat Indah.

Sangat teramat indah dan memesona. Hingga akhirnya kami meniatkan diri untuk mengunjungi pantai itu di trip kami selanjutnya.

Senin, mentari pagi pun menjelang namun enggan menunjukkan batang hidungnya. Teluk Kiluan diguyur hujan. Langit pun menghitam. Deburan ombak pun semakin keras terdengar karena angin yang cukup kencang.

Sedih. Kecewa.

Setelah menghabiskan hari Minggu di lokasi homestay karena cuaca yang sama, kami pun berandai-andai akankah hari Senin ini berakhir sama. Tapi apa mau dikata, cuaca bukanlah perkara manusia. Maka, doa menjadi satu-satunya pilihan kami saat itu.

20161003_061315

Menanti redanya sang hujan

Setelah menikmati sarapan pagi ditemani dengan kopi item khas Lampung hasil gilingan sendiri dan dibumbui dengan obrolan bersama pak Khairil (pemilik homestay dan orang yang membantu trip kami di Teluk Kiluan), hujan pun mereda. Dan tibalah saatnya kami menuju Pantai Pegadungan Gigi Hiu atau Batu layar yang kami impi-impikan dahulu.

Untuk menuju pantai ini, Pak Khairil menyarankan kami untuk naik ‘ojek.’ Saat itu, kami ber-5 sama sekali tidak membayangkan jalur seperti apa yang akan kami tempuh. Yang kami tahu hanyalah lokasinya cukup jauh, terpencil dan jalannya berbatu.  Dibutuhkan sekitar 1,5–2 jam untuk mencapai lokasi. Maka, bersemangatlah kami.

Selama ini, para traveler, para fotografer, para blogger, dan para jurnalis yang mengangkat cerita mengenai Keindahan Pantai Pegadungan Gigi Hiu ini luput dari menjelaskan bagaimana perjuangan mereka hingga akhirnya bisa menikmati keindahannya.

Awalnya, rute yang kami lalui sama seperti rute ketika kami datang ke teluk Kiluan. Setelah keluar dari gapura teluk Kiluan, dimulailah perjuangan kami. Awal dari perjalanan yang sungguh tak terbayangkan, menantang, dan mamacu adrenalin, sekaligus memacu jiwa religious saya. Bagaimana tidak, sepanjang perjalanan, tak henti-hentinya saya berdoa atau berdzikir dalam hati.

Sungguh tak terbayangkan. Speechless.

img-20161004-wa0263-1Jalan yang semestinya untuk didaki. Jalan yang semestinya diperuntukkan bagi motor-motor off road atau mobil-mobil off road. Kali ini kami lalui bersama pengendara motor yang sebagian masih anak SMU beralaskan sandal jepit, sandal gunung, dan sepatu bot dengan motor andalan mereka yang sangat amat jelas adalah motor biasa, bukan motor off road.

20161003_125307Berbagai jenis jalan kami lalui. Mulai dari yang penuh batu besar, batu kecil, jalanan aspal, beton, tanah, lumpur, rumput, sebut saja. Semua jalanan ada di sini. Mulai dari yang di tengah-tengah perkampungan, di pinggir pantai, ditengah hutan hingga menyeberang jembatan pun kami lalui.

20161003_131414Ditambah kondisi cuaca yang tidak bersahabat. Alhasil, kami pun ditemani hujan, kabut, dan angin dingin.

Jalanan mendaki, menurun, dan berliku-liku terus berulang hingga kami sampai di lokasi. Dan ketika saya tuliskan mendaki juga menurun, bayangkan dengan sudut kemiringan lebih dari 45 derajat dengan kondisi jalan yang saya sebutkan di atas. Menegangkan dan melelahkan.

Berkali-kali kami tergelincir, ada yang terjatuh, saling mendorong, hingga terpaksa kami ‘minta atau diminta’ turun dari motor karena sulitnya medan yang kami tempuh.

Bahkan bagi Mega, yang notabene saya nobatkan sebagai anak gunung sejati (entah sudah berapa banyak gunung di Indonesia yang ia daki) merasa ‘sangat terkesan dan seru’ dengan perjalanan ini. Padahal ia sudah pernah menjejakkan kaki di trek Semeru dan Rinjani.

Ketika akhirnya kami diyakinkan oleh para bikers bahwa kami sudah tiba di lokasi, rasa lega dan haru pun membuncah dihati. Kami selamat sampai di sini.

Namun tampaknya perjuangan belum usai. Kami masih harus berjalan kaki melalui pinggir pantai. Melewati karang, bebatuan, dan pinggir hutan.

20161003_103334 20161003_103822 20161003_104454 20161003_105301Hingga akhirnya, dihadapan kami, terpapar dengan jelasnya, susunan batu karang yang Nampak layaknya Batu Layar atau Gigi Hiu. Sesekali dihantam keras oleh deburan ombak.

20161003_110146 img-20161005-wa003620161003_115356Indah. Begitu pikir kami.

Sangat Indah.

Sangat teramat indah dan mempesona. Sampai-sampai kami lupa sejenak perjalanan menegangkan tadi.

img-20161004-wa026720161003_110434Tak mau kembali, pikir kami.

Mengingat kami harus melalui jalan yang sama tadi.

Dan kami pun, menikmati hasil perjuangan hari ini, dari puncak salah satu karang di gugusan karang Gigi Hiu atau batu Layar ini. Mencoba mensyukuri dan merekam semua keindahan di sejauh mata memandang untuk kemudian diawetkan menjadi memori Pantai Pegadungan Gigi Hiu yang Tak Akan Pernah Terlupakan.

img-20161004-wa026520161003_113605img-20161005-wa003420161003_115749

 

Terima kasih saya ucapkan untuk biker yang terpaksa saya percayakan keselamatan saya selama perjalanan, yaitu Wawan. Cerita mengenai Wawan akan ada di lain kesempatan. Respect saya buat kamu. Pelajar kelas 2 SMUN bertubuh kecil namun sekuat dan setangguh baja. terima kasih tidak membuat saya jatuh, meskipun lebam biru biru tak terhindarkan di sekitaran telapak kaki saya.

Dari Merak ke Kiluan

Term Break! Akhirnya hari yang kami tunggu-tunggu tiba juga. 3 Bulan yang lalu tepatnya, kami berencana mengunjungi destinasi wisata yang ada di Lampung. Target kami kala itu adalah Teluk Kiluan, Laguna, Pantai Pegadungan Gigi Hiu, dan Pulau Pahawang serta pulau-pulau kecil di sekitarnya dalam waktu 3 hari 2 malam.

Hari itu, Sabtu dini hari, kami ber-5 bertemu di depan loket tiket ASDP Indonesia ferry di Pelabuhan Merak. Waktu menunjukkan pukul 3 lewat. Telat 1 jam dari rencana kami semula. Akhirnya, kami pun membeli tiket seharga IDR 13.000 untuk sekali jalan. Mengingat kondisi cuaca yang tidak begitu baik dan proses bongkar muat yang cukup memakan waktu, kapal ferry yang kami tumpangi pun berlabuh sekitar pukul 4 pagi dan bersandar di Pelabuhan Bakauheni sekitar pukul 7 pagi.

img-20161002-wa0004

20161002_070905

Pelabuhan Bakauheni, Lampung

Sesampainya di Pelabuhan, mobil jemputan kami pun siap mengantarkan kami ke Teluk Kiluan. Perjalanan dari Pelabuhan menuju Teluk Kiluan terbilang cukup jauh. Belum lagi jalanan yang kami lalui penuh tantangan. Mulai dari jalanan yang rusak, penuh, air, berlumpur, berbatu, hingga berlubang, dan percayalah itu bukan lubang biasa. Jika anda berniat ke Teluk Kiluan menggunakan mobil sedan atau mobil yang rendah alias ceper, sebaiknya lupakan saja. Ada baiknya anda menggunakan mobil yang kuat untuk off road.

Mendekati Teluk Kiluan, perjalanan kami bagaikan perjalanan ke Puncak, atau perjalanan dari Bandara Silangit ke Danau Toba. Berliku-liku, di sepanjang pinggir bukit, dihiasi pemandangan pepohonan yang rimbun nan hijau. Tidak tampak penerangan di beberapa bagian. Di Kejauhan, teluk kiluan pun dengan sombongnya memamerkan keindahannya.

Tak lama kemudian, kami disambut oleh gerbang atau gapura yang menandakan tibanya kami di teluk kiluan. Di sepanjang perjalanan menuju homestay Iril (sang pemilik bernama Pak Khairil), kami mendapati sejumlah rumah khas Bali. Dengan gapura batu dan tempat ibadah di dalamnya. Sempat terpikir, “apakah saya di Bali atau di Lampung ya?”

20161002_142241img-20161004-wa0105Kami pun tiba di homestay yang letaknya tepat di depan teluk Kiluan. Suara ombak dengan nyaringnya menggetarkan pendengaran saya. Hembusan angin sepoi-sepoi dengan halusnya menerbangkan ujung kerudung saya. Nikmatnya. Ademnya. Ucap hati saya.

20161002_142533 20161002_142617 Dan kami pun, tak sabar untuk menjelajahi indahnya salah satu bagian bumi Indonesia ini selama 3 hari 2 malam. What a short getaway.

Baca juga:
Pantai Pegadungan Gigi Hiu yang Tak Akan Pernah Terlupakan

Warna-Warni Lampion di Langit Pulau Cipir, Kepulauan Seribu

Perjalanan kami di kepulauan seribu tidak hanya berakhir sampai belajar sejarah di Pulau Cipir. Airis project menawarkan paket di mana kami bisa mendapat pengalaman menerbangkan lampion ke langit Pulau Cipir. Seperti yang kami tuliskan sebelumnya di postingan Kepulauan Seribu: Benteng Martello di Pulau Kelor bahwa Airis membanggakan dirinya sebagai perintis EO yang melakukan pelepasan lampion pada saat sunset di kepulauan seribu.

Sunset pun mulai terlihat di kejauhan dari dermaga kecil Pulau Cipir.

Kami pun bersiap-siap menyalakan lampion dan melepaskannya ke udara. Tapi ternyata, tidak semudah yang ada di bayangan. Kegagalan pun terjadi, 2 lampion gagal kami terbangkan. Dibutuhkan 2-3 orang untuk menyalakan lampion hingga ia siap dilepas ke udara. belum lagi kesabaran untuk menunggu hingga udara panas memenuhi bagian dalam lampion.

Dan lampion pun dilepaskan terbang menjauh terbawa angin. Warna-warni lampion seketika memnuhi langit Pulau Cipir di atas lautan.

Dan berakhirlah perjalanan kami di kepulauan seribu untuk hari itu. Until next time, in another island.

Kepulauan Seribu: Pulau Cipir

Pulau ke-3 atau pulau terakhir yang kami kunjungi setalah Pulau Kelor dan Pulau Onrust adalah Pulau Cipir.

Pulau ini dikenal juga dengan nama Pulau Kahyangan atau Pulau Kuyfer merupakan 1 dari 3 pulau yang menjadi benteng pertahanan Belanda.

Selain itu, pulau ini juga difungsikan sebagai tempat perawatan dan karantina penyakit menular bagi para jemaah haji. Sebelum berangkat haji mereka dikarantina untuk cek kesehatan dan setelah pulang dari ibadah haji pun dikarantina kembali untuk cek kesehatan lagi.

Pada zaman kolonial, Belanda-lah yang memberi gelar Haji. Orang-orang yang pulang dari ibadah haji, dikarantina, dan jika kemudian lulus cek kesehatan maka mereka akan mendapat gelar Haji dari kolonial Belanda. Oleh karena itu, gelar Haji hanya ada di Indonesia. * Baru tahu kalau ternyata sebutan Haji merupakan warisan penjajahan belanda *

Di pulau ini banyak sisa reruntuhan Rumah Sakit dan kamar-kamar rawat pasien.

Selain itu, telah dibangun dermaga dan menara pengamatan di pulau ini.

Kepulauan Seribu: Sejarah Panjang Pulau Onrust

Pulau ke-2 yang kami sambangi setelah Pulau Kelor adalah Pulau Onrust.

Penjajahan terhadap Indonesia selama 350 tahun dimulai di Pulau yang kecil ini. Pada tahun 1619 armada dan tentara VOC berkumpul di sini untuk mempersiapkan penyerangan kota Jayakarta. Sejak itulah satu persatu kerajaan di nusantara jatuh oleh Belanda.

[Tulisan yang tertera di depan kantor pengelola Pulau Onrust]

Pulau ini memiliki sejarah yang amat panjang. Dikenal dengan sebutan Pulau Unrest atau Pulau Sibuk pada masanya dulu karena kondisi pulau ini tak pernah berhenti membongkar muat barang-barang komoditi dan kegiatan perbaikan kapal-kapal.

Memasuki Pulau Onrust, kami mendapat kesempatan belajar sejarah dari guide yang ada di Pulau Onrust. Ia mengajak kami berkeliling Pulau Onrust dan menceritakan kembali kejayaan dan kejatuhan Pulau Onrust.

Setelah mendengar sepenggal kisah sejarah tersebut, muncullah rasa ingin tahu saya hingga saya menemukan rentetan sejarah Pulau Onrust di website Jakarta.go.id

Pada zaman dahulu Pulau Onrust pernah menjadi tempat peristirahatan keluarga raja-raja Banten. Namun kemudian terjadi sengketa antara Kerajaan Banten dan Jayakarta hingga tidak pernah ada upaya penyelesaian. Jayakarta merasa memiliki pulau ini karena lokasinya dekat (di hadapan Kota Jayakarta), sedangkan Banten mempunyai hak atas pulau tersebut sebab seluruh Kepulauan Seribu merupakan bagian dari teritorial kekuasaannya. Saat Belanda datang dan gagal memonopoli perdagangan di Banten kemudian mengalihkan perhatiannya ke Jayakarta dengan menggunakan salah satu pulau di Teluk Jakarta, yakni Pulau Onrust.

Tahun 1610, terjadi perjanjian antara Belanda (diwakili L. Hermit) dan Jayakarta (diwakili Pangeran Jayakarta) yang isinya memperbolehkan orang-orang Belanda mengambil kayu untuk pembuatan kapal-kapalnya di Teluk Jakarta. Melihat banyak kapal yang berlayar ke Asia terutama Asia Tenggara dan tinggal beberapa lama, sering memerlukan perbaikan kapal akibat perjalanan panjang, maka VOC berniat untuk membangun sebuah galangan kapal di Teluk Jakarta. Niat tersebut diijinkan oleh pangeran dengan menggunakan Pulau Onrust.

Tahun 1613, VOC mulai membangun Pulau Onrust.

Tahun 1615, VOC mendirikan sebuah galangan kapal dan sebuah gudang kecil. Selain sebagai galangan kapal, Jan Pieterzoon Coen mengharapkan Onrust menjadi koloni sehingga VOC mengirim keluarga Cina ke Onrust dengan segala fasilitasnya.

Tahun 1618, Coen menjadikan Onrust sebagai pulau pertahanan terhadap akibat memuncaknya ancaman Banten dan Inggris. Pembangunan sarana fisik terus dilakukan.

Tahun 1656, dibangun sebuah benteng kecil bersegi empat dengan 2 bastion (bangunan yang menjorok keluar berfungsi sebagai pos pengintai).

Tahun 1671, diperluas menjadi benteng persegi lima dengan bastion pada tiap tahap sudutnya namun tidak simetris yang semuanya terbuat dari bata dan karang.

Tahun 1674 dibangun gudang-gudang penyimpanan barang, gudang penyimpanan besi dan dok tancap yang semuanya dikerjakan oleh 74 tukang kayu dan 6 tukang lainnya. Pada tahun yang sama dibangun sebuah kincir angin untuk keperluan penggergajian kayu.

Tahun 1691–1695, dibangun sebuah kincir angin yang kedua, terdapat 148 abdi kompeni dan 200 budak.

Tahun 1800, Inggris melakukan blokade terhadap Batavia, dan pertama kali mengepung Onrust dan sekitarnya. Semua bangunan yang terdapat dipermukaan Onrust tersebut dimusnahkan.

Tahun 1803–1810, Belanda merencanakan pembangunan kembali atas Onrust sesuai dengan rencana DM. Barbier.

Tahun 1810, selesai dibangun, Pulau Onrust dihancurkan lagi oleh Inggris dan menduduki Onrust sampai 1816.

Tahun 1827, Pulau Onrust baru mendapat perhatian lagi dan pada tahun 1828 pembangunan dimulai dengan mempekerjakan orang-orang Cina, dan tahanan. Dan 1848 kegiatan berjalan kembali.

Tahun 1856 arena pelabuhan ditambah lagi dengan sebuah dok terapung yang memungkinkan perbaikan kapal laut. Setelah Pelabuhan Tanjung Priok dibangun tahun 1883, Onrust hilang perannya dalam dunia perkapalan dan pelayaran.

Tahun 1905, Onrust mendapat perhatian lagi dengan didirikannya stasiun cuaca di pulau ini dan Pulau Kuyper (Cipir).

Tahun 1911–1933, Onrust diubah fungsinya menjadi karantina Haji bagi orang-orang yang hendak berangkat ke mekah dan kembali dari Mekah.

Tahun 1933–1940, Onrust dijadikan tempat tawanan para pemberontak yang terlibat dalam “Peristiwa Kapal Tujuh” (Zeven Provincien).

Tahun 1940, Onrust dijadikan tempat tawanan orang-orang Jerman yang ada di Indonesia, diantaranya Stenfurt, mantan Kepala Administrasi Pulau Onrust.

Tahun 1942, setelah Jepang menguasai Batavia, Onrust dijadikan penjara bagi para penjahat kriminal kelas berat.

Tahun 1945, Pada masa Indonesia merdeka, pulau ini dimanfaatkan sebagai Rumah Sakit Karantina terutama bagi penderita penyakit menular di bawah pengawasan Departemen Kesehatan RI hingga awal 1960-an.

Tahun 1960–1965, Onrust dimanfaatkan untuk penampungan para gelandangan dan pengemis, selain itu juga dimanfaatkan untuk latihan militer.

Kemudian, Pulau ini terbengkalai, dianggap tak bertuan. Pada tahun 1968 terjadi pembongkaran dan pengambilan material bangunan secara besar-besaran oleh penduduk atas ijin kepolisian setempat.

Tahun 1972, Gubernur KDKI Jakarta mengeluarkan SK yang menyatakan Pulau Onrust sebagai pulau bersejarah.

What an interesting and hurtful stories of Onrust.

Di pulau Onrust, fasilitas yang disediakan sangat lengkap. Mulai dari Musholla, toilet, restoran, hingga museum dimana kita bisa melihat kisah pulau onrust.

Places to Stay in Danau Toba: Sentosa Lake Resort

Saying goodbye doesn’t always mean the end. It is definitely the beginning of another adventure. Thank you #sentosalakeresort for the hospitality, comfort, great background view, and satisfying service. Would love to come back soon in the near future * my thought before leaving lake Toba *

Selama liburan kami di Danau Toba, Sumatera Utara, kami menginap di hotel di daerah Muara, Danau Toba. Hotel ini dikenal dengan mana Sentosa Lake Resort atau Hotel Sentosa. Hotel ini berada di Jl. Sisingamangaraja No.12, Muara Nauli, Tapanuli Utara, Sumatera Utara.

Hotel ini menyediakan fasilitas yang cukup lengkap. Mulai dari mobil yang bisa mengantar jemput kita dari bandara silangit hingga berbagai permainan air yang bisa kita coba tepat di halaman belakang hotel ini.

Sebagai info, sebagian danau toba terutama yang terletak dekat Tomok atau Parapat dan juga dekat tambak ikan Nila, kondisi airnya sangat memprihatinkan. Tidak jernih, terdapat banyak pakan ikan, beberapa sampah dan bau amis. * saya melihat sendiri dan mencium sendiri bau amis tersebut dalam perjalanan menuju tomok *  Nakhoda kapal feri yang kami tumpangi mengisahkan kalau sebagian besar keramba tersebut milik PT Aqua Farm Nusantara yang dimiliki pengusaha asal Swiss.

Di satu sisi, hal itu membawa nilai positif karena meningkatkan daya hidup masyarakat tapi di sisi lain membawa kerugian bagi ekosistem danau toba dan industri pariwisata danau toba karena mencemari danau. Semoga Pemerintah bisa segera menangani masalah ini sebelum pencemaran meluas ke seluruh danau toba.

Oleh karenanya saya merasa sangat beruntung bisa menginap di hotel di daerah Muara yang notabene airnya masih sangat jernih, jauh dari budidaya ikan keramba.

Kamar hotel yang disediakan juga beragam, mulai dari yang standar hingga VIP yang pemandangannya tepat mengarah keindahan Danau Toba.

Untuk makan, tidak perlu khawatir karena di hotel ini juga ada restorannya. Makanan yang disediakan pun beragam, tapi akan lebih baik kalau kita mencoba menu khas Sumatera Utara seperti sambal tombur,berbagai ikan bakar dan lainnya.

Lokasi hotel ini pun sangat strategis, tidak jauh dari bandara Silangit, berada tepat di bibir danau toba, dekat dengan pasar desa Muara sehingga ada ATM BRI di sini * maklum, agak sulit untuk menemukan ATM di sekitar danau toba kecuali di pasar atau kota yang ramai penduduk. *

Pemandangan indah yang tampak dari halaman belakang hotel ini yang paling membuat saya terkesan. Selain itu, air Danau Toba yang masih sangat jernih juga menarik perhatian saya.

Air Terjun Situmurun atau Air Terjun Binangalom

Setelah makan siang dan puas berbelanja oleh-oleh di Tomok, Pulau Samosir. Kami pun melanjutkan perjalanan menggunakan kapal motor ke salah satu air terjun terunik di Danau Toba. Disebut unik karena air terjun ini jatuh langsung ke Danau Toba, sementara air terjun lainnya hanya bermuara di Danau Toba. Untuk menikmati keindahan air terjun ini pun, kita hanya bisa menggunakan kapal alias tidak bisa melalui jalur darat.

Air Terjun Situmurun berada di Kecamatan Lumban Julu, Pulau Samosir, Sumatera Utara. Air terjun setinggi lebih kurang 70 meter dan memiliki 7 tingkatan ini juga dikenal sebagai air terjun Binangalom karena airnya berasal dari sungai di desa Binangalom.

Saat ini, pemerintah telah membangun dermaga kecil di dekat air terjun sehingga kapal bisa berlabuh dan para pengunjung bisa puas menikmati air terjun dari dekat atau bahkan berenang di bawah aliran air terjun * sayangnya kami tidak bawa perlengkapan berenang, well next time. *

IMG-20160713-WA0024

Sejarah Huta Siallagan dan Boneka Sigale-gale di Pulau Samosir

Hari kedua kami di Danau Toba, Tulang pun membawa kami mengunjungi salah satu destinasi wisata paling terkenal di Pulau Samosir, yaitu Huta Siallagan.

Huta Siallagan berada di Kampung Siallagan, Desa Ambarita, Kecamatan Simanindo, Pulau Samosir, Provinsi Sumatera Utara. Untuk memasuki objek wisata ini dikenakan tarif idr 2000/orang.

Menurut penuturan guide kami dari Sentosa Lake Resort, Huta Siallagan ini menyimpan sejarah kelam di masa lampau. mengapa kelam? Karena hukum adat-istiadat Batak pada masa itu terbilang cukup sadis.

Memasuki Huta Siallagan, kita akan disambut oleh sederetan rumah adat Batak yang konon katanya sudah berusia ratusan tahun. Semakin kita berjalan ke dalam kampong ini, terlihatlah sebuah rumah Raja batak, Pohon besar yang disebut Hau Habonaran, dan Batu Kursi (persidangan dan eksekusi) Pertama.

Batu kursi pertama, di bawah pohon kayu Habonaran, tepat di tengah Huta Siallagan  sebagai tempat rapat atau pertemuan Raja dan tetua adat membicarakan berbagai peristiwa di huta Siallagan dan sekitarnya, juga menjadi tempat persidangan atau tempat mengadili sebuah perkara kejahatan. Jenis hukuman yang diberikan oleh Raja Siallagan adalah Hukuman denda, penjara (pasung) dan hukuman mati (dipancung).

Lanjut berjalan ke bagian luar Huta Siallagan, kita bisa melihat Batu Kursi Kedua. Disini terdapat Kursi untuk Raja, para Penasehat Raja dan tokoh adat, dan masyarakat yang ingin menyaksikan pelaksanaan hukuman mati.

Penjahat dibawa oleh hulubalang raja ke tempat eksekusi dengan mata tertutup menggunakan Ulos, kemudian ia ditempatkan diatas meja batu besar setelah bajunya ditanggalkan. Kemudian, tubuhnya disayat dengan pisau tajam sampai darah keluar dari tubuhnya. 

Selanjutnya Sang Datu (eksekutor), sambil membacakan mantra-mantra, ia mengambil pedang dan dengan sekali tebas, kepala penjahat dipenggal hingga terpisah dari tubuhnya. Untuk memastikan penjahat sudah mati, sang Datu kemudian menancapkan kayu Tunggal Panaluan ke jantung penjahat. Jantung dan hati dikeluarkan dari tubuh penjahat dan darahnya ditampung dengan cawan lalu diminum bersama. Hati dan jantung penjahat dicincang dan kemudian dimakan oleh Raja dan semua yang hadir. MEnurut keprcayaan mereka dahulu, memakan bagian tubuh penjahat akan menambah kekuatan mereka.

Bagian Kepala dibungkus dan dikubur di tempat yang jauh dari Huta, sementara bagian tubuhnya dibuang ke danau. Raja kemudian memerintahkan warganya untuk tidak menyentuh air danau selama 1-2 minggu karena air masih dianggap berisi setan atau kekuatan gaib.

Selain batu kursi atau batu persidangan, di dalam hutta siallagan juga kita bisa melihat dan menari tor-tor bersama boneka sigale-gale.

Menurut sejarah, boneka sigale-gale dibuat ketika seorang raja kehilangan anaknya. Boneka kayu ini merupakan perwujudan anak sang raja. Boneka tersebut menemani sang raja hingga akhir hidupnya, dan pada saat kematiannya, boneka sigale-gale menari di samping jenazah sang raja.

Seiring waktu, boneka sigale-gale menari ketika ada anak laki-laki yang meninggal atau keluarga yang berduka karena tidak punya anak laki-laki. Mereka percaya bahwa arwah yang meninggal akan bersemayam di dalam sigale-gale.

Konon katanya, setiap orang yang membuat boneka sigale-gale harus menyerahkan seluruh jiwanya agar boneka itu bisa bergerak layaknya manusia hidup. Karena itu, siapapun yang membuat boneka sigale-gale akan meninggal sebagai tumbal setelah pembuatannya selesai.

Serunya Bermain Banana Boat di Danau Toba

Bermain banana boat mungkin terbilang biasa jika kita melancong ke destinasi wisata yang dipenuhi air, macam pantai, danau maupun waduk. Namun, akan menjadi luar biasa bila bermainnya di Danau Toba, salah satu danau terbesar dan terdalam di dunia * Tulang bilang kedalaman danau toba lebih kurang 1000 meter. *

Beruntungnya, hotel tempat kami menginap, Sentosa Lake Resort, menyediakan fasilitas permainan air. Mulai dari banana boat, donut boat, bebek-bebekan, speed boat dll.

Sore itu, setelah kami puas menikmati Air Terjun Janji kami pun bersemangat main banana boat. Pelampung pun segera dikenakan. Speedboat bernama GNB * singkatan dari Grace Ben Nuel yang merupakan murid kami di Sekolah Highscope Indonesia * pun sudah siap untuk menarik banana boat kami menyusuri  indahnya danau toba.

Pengalaman yang benar-benar indah. Berada di tengah-tengah danau toba, dimanjakan dengan pemandangan perbukitan yang hijau, sejuknya udara yang kami hirup, dinginnya air yang sesekali membasahi kami…

Meskipun Tulang sengaja melakukan manuver-manuver ajaib sehingga menyebabkan kami jatuh terhempas ke dalam danau toba, sebanyak 3 kali * 3x cukup yaaa Tulang, pleaseee… Jatuhnya si enak, usaha naik ke speed botany itu yang butuh perjuangan * Kami sangat menikmati permainan ini. Ingin rasanya terus bermain air. Ingin rasanya mencoba semua fasilitas permainan air yang ada, namun apa daya, sunset pun mulai terlihat di kejauhan.

Mau tidak mau, rela tidak rela, kami pun harus keluar dari sejuknya mengapung di danau toba.

 

Sejuknya Air Terjun Janji (Waterfall of Janji)

Salah satu destinasi wisata yang wajib dikunjungi di Danau Toba adalah Air terjun janji atau Waterfall of Janji.  Air terjun ini merupakan satu dari banyak sekali air terjun di kawasan danau Toba.

Air terjun ini berada di Desa Marbun Toruan, Kecamatan Baktiraja, Kabupaten Humbang Hasundutan (Humbahas), Provinsi Sumatera Utara

Air terjun setinggi lebih kurang 30 meter ini bermuara langsung ke Danau Toba. Pada saat kami menginjakkan kaki di dermaga, kami sudah disambut dengan aliran air terjun ini. * kebetulan saya dan teman-teman sudah disewakan kapal untuk menuju lokasi ini. meskipun jalur darat juga bisa dilalui untuk sampai di sini. *

Untuk menikmati air terjun janji tidak dipungut biaya alias gratis. Namun, di air terjun ini tidak diperbolehkan untuk mandi atau bermain air langsung di bawah air terjun. Bagi pengunjung yang ingin mandi atau bermain air, disediakan bilik khusus untuk pria dan wanita tepat di bagian bawah aliran air terjun.

Baca ini juga:

 

Menikmati Keindahan Danau Toba dari Tugu Toga Aritonang

Selagi kami menikmati perjalanan menuju Danau Toba, Tulang pun mengajak kami untuk berhenti sejenak di kawasan Tugu Toga Aritonang. Sebuah tugu yang Nampak dari kejauhan dan dengan gagahnya berdiri tegak menjulang hingga seakan-akan mencapai langit. 

Tugu ini berada di Desa Dolok Ambar atau Desa Aritonang, Kecamatan Muara, Kabupaten Tapanuli Utara, Provinsi Sumatera Utara. Tugu ini dibangun atas gagasan dan kesepakatan keturunan Toga Aritonang di Bona Pasogit (di Sumatera Utara) maupun di perantauan.

Toga Aritonang adalah salah satu anak dari Raja Lontung. Mereka tujuh bersaudara; Toga Sinaga, Tuan Situmorang, Toga Pandiangan, Toga Nainggolan, Toga Simatupang, Toga Aritonang dan Toga Siregar. Toga Aritonang ini memiliki tiga anak yakni Simaremare, Rajagukguk dan Ompusungguh (ketiga anak ini yang kemudian dibuatkan patungnya dan diletakkan di dalam tugu Toga Aritonang). Turunan Toga Aritonang ini kemudian memakai ketiga marga itu.

Raja Lontung sendiri adalah anaknya Guru Tatea Bulan, yang tinggal di Sianjurmulamula di bagian barat (hasundutan) Pussubuhit (gunung Toba yang meletus 78 ribu tahun lalu) sebagai anak pertama si Raja Batak.

Tugu ini diresmikan pada bulan Maret 2016. Tugu berbiaya 5 Miliar dan setinggi 33 meter ini bisa dibilang merupakan ikon Tapanuli Utara. Tugu ini juga diharapkan bisa mempererat persatuan antara sesama marga Aritonang dan sebagai salah satu upaya melestarikan budaya Tapanuli Utara.

Berikut adalah pemandangan Danau Toba dilihat dari kawasan Tugu Toga Aritonang * what a sight! *

danau toba trip 2016 (69) danau toba trip 2016 (70)

 

Menarik untuk dibaca:

 

 

Dari Silangit ke Danau Toba, Sumatera Utara

It was one of many unforgettable moment in life. When I can see how beautiful my country is. North Sumatra, one of province in Indonesia which have lots of places to visit with their uniqueness and amazing view.

danau toba trip 2016 (63)Tujuan kami kali ini adalah Danau Toba dengan Pulau Samosirnya. Perjalanan dimulai dengan menaiki pesawat Sriwijaya Air dengan rute Soekarno Hatta (CGK) – Silangit (DTB). Bandara Silangit terletak di Siborong-borong, Tapanuli Utara, Sumatera Utara.  Jarak dari pusat kota sekitar 7 km.danau toba trip 2016 (51)

Bandara Silangit dibangun pada masa penjajahan Jepang. Pembangunan kembali bandara ini mulai dilakukan sejak tahun 1995 dengan menambah landas pacu sepanjang 900 meter menjadi 1.400 meter. Pada Maret 2005, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono meresmikan pengoperasian Bandara Silangit. Sejak saat itu pembangunan Bandara pun mulai dilakukan dengan gencar. Pada tahun 2011, Bandara Silangit akhirnya memiliki landas pacu sepanjang 2.400 meter. Pada tanggal 18 Januari 2011, Bandara Silangit didatangi oleh Presiden RI beserta rombongan yang menggunakan pesawat Boeing 737-500. Dengan kedatangan Presiden tersebut, dinyatakanlah bahwa Bandara SIlangit telah sanggup melayani pesawat sekelas B737. [Sumber: Silangit-airport.co.id]

Sebagai info tambahan, pesawat Sriwijaya Air yang kami naiki memberikan makan pagi di pesawat, * which is amaze me since we only have to fly for 2 hours. Well, good service if I may say.

Sesuai dengan namanya, Silangit, berada di bandara ini serasa kita dekat dengan langit. Udara yang amat dingin menyusup ke dalam kulit esaat kita menapakkan kaki di bandara ini. Hampir seperti dinginnya Dataran Tinggi Dieng di pagi hari atau Gunung Prau di siang hari.

Untuk menuju Danau Toba, tepatnya Kecamatan Muara, kami pun harus menempuh perjalanan lebih kurang 1 jam. Perjalanan yang dipenuhi dengan pemandangan indah di kanan kiri atas dan bawah. Sesekali, kami pun berhenti untuk mengabadikan momen ini.

See!

What a beautiful view, eventhough we taking it from the side road on our way to danau Toba.

Perjalanannya seharusnya memakan waktu lebih kurang 1 jam, terpaksa menjadi lebih lama karena saya terkagum-kagum dengan apa yang ada di depan mata saya * maklum, biasa lihat kemacetan dan gedung-gedung kaca beton menjulang ke langit *

Menikmati Wisata Malam di Monas

Monumen Nasional atau yang lebih dikenal dengan nama Monas kini telah dibuka hingga malam hari. Bahkan, para pengunjung bisa menikmati keindahan dan gemerlap kota Jakarta di malam hari dari Puncak maupun Cawan Monas.

Wisata malam di Monas resmi dibuka pada tanggal 5 April 2016 oleh Gubernur DKI, Basuki Tjahaya Purnama atau Ahok. Harapannya, agar Monas bisa setenar Empire State Building di New York, Amerika yang ramai dikunjungi oleh wisatawan hingga dini hari.

Untuk wisata Monas ini, pihak pengelola menjual 1.800 tiket untuk siang hari (pukul 08.00–16.00) dan 700 tiket untuk malam hari (pukul 19.00–22.00). Khusus untuk malam hari, loket tiket tutup pukul 21.00 dan dibuka setiap hari dari Senin hingga Minggu.

Mengingat wisata malam monas ini baru pertama kali diadakan, saya dan keluarga pun tertarik untuk mencobanya. Penasaran untuk menikmati Monas di malam hari, terutama melihat Jakarta dari ketinggian puncak monas.

Jadi, malam itu, tepatnya di salah satu malam di Long Weekend, kami meluncur ke lokasi. Pasti ramai sekali, pikir saya dalam hati. Benar saja, lahan parker pun menjadi penuh sesak oleh kendaraan, baik motor maupun mobil. Kami bahkan harus berkeliling 2 kali untuk mendapatkan parkir mobil.

Langsung saja kami menuju Monas. Ramai. Super ramai. Monas dipenuhi ribuan orang. Sayangnya sesampainya di loket tiket, tiket untuk menuju puncak monas sudah habis terjual, padahal saat itu jam baru menunjukkan pukul 19.30. Saya rasa antusiasme masyarakat untuk menikmati Monas di malam hari, apalagi di long weekend ini begitu tinggi. Alhasil, kami hanya mendapat tiket masuk hingga ke cawan Monas.

Monas ini begitu indah, setidaknya Monas yang sekarang. Dengan permainan lampu berwarna-warni, Monas kini tampak jauh lebih hidup dan indah.

Kami pun bergegas menuju cawan Monas. Betapa kagetnya saya melihat antrian super panjang bak ular. Ternyata antrian itu adalah antrian untuk menuju puncak Monas. Well, setidaknya, mereka mengantri di malam hari dalam keadaan tidak panas * coba saja kalau mengantri di siang hari seperti yang pernah saya alami *

Samapailah kami di cawan Monas. Subhanallah. Indahnya kota di mana saya dibesarkan ini. Kota Jakarta, kota yang tak pernah tidur. bahkan hingga malam selarut ini, masih terlihat mobil, motor, kereta, dan manusia berlalu-lalang. Suara klakson, suara deru mobil, dan suara kereta pun masih terdengar jelas di telinga saya.

IMG-20160507-WA0051 Setelah puas menikmati pemandangan dari Cawan Monas, kami pun menyempatkan diri untuk melihat diorama-diorama di Museum Sejarah Nasional. Wow, menikmati museum di malam hari entah kenapa memberikan sensasi tersendiri bagi saya * saya jadi teringat film Ben Stiller yang judulnya Night At Museum. *

IMG-20160507-WA0046 Entah mengapa, ketika melihat diorama dan membaca penjelasannya, lebih berasa. Saya seakan dibawa kembali ke masa itu. Rasa pedih pun mendadak muncul mengingat menderitanya bangsa kami saat penjajahan dahulu. Saya pun membuat catatan tersendiri. Lain kali kami mengunjungi Monas di malam hari, pastikan untuk melihat kembali semua diorama di museum ini.

Waktu sudah menunjukkan pukul 21.30 yang berarti tanda untuk kami beranjak pergi. Wisata malam kali ini sungguh berkesan sekali. Meskipun ada ketidakpuasan karena tidak bisa sampai ke puncak Monas dan menikmati kota Jakarta dari ketinggian.

Tips untuk wisata malam Monas:

  • Jika memang berniat untuk naik hingga ke Puncak Monas, lebih baik datang sebelum jam 19.00 sehingga begitu loket tiket untuk wisata malam dibuka, kita sudah di depan loket. Mengingat hanya tersedia 700 tiket. Apalagi jika di weekend atau musim liburan. Belum lagi waktu yang dibutuhkan untuk mencari tempat parkir dan jalan menuju loket tiket * kayanya bisa sejam-an *
  • Jika sudah mendapatkan tiket untuk ke Puncak Monas, sesegera mungkin menuju antrian lift agar tidak terjebak dalam antrian panjang yang mengular. Kalau untuk melihat bagian lain monas, bisa dilakukan setelah menikmati Puncak Monas. Maklum saja, hanya ada 1 lift ke dan dari Puncak Monas.
  • Bawa tissue basah or kering dan masker kalau perlu. Jika terpaksa ingin ke belakang. Maklum saja, toilet yang tersedia hanya beberapa dan di malam hari di musim liburan, bayangkan saja berapa ribu manusia yang sudah menggunakan toilet tersebut.
  • Pastikan sudah makan dan minum, karena jelas di dalam Monas tidak ada jualan makanan. Kalaupun ada, mahal. Tapi jangan khawatir, di sekitaran monas, dan dekat tempat parkir ada food court. Info tambahan, untuk membeli makanan di sini diutamakan penggunaan e-money dari Bank mandiri.
  • Bagi yang membawa anak-anak, siapkan uang lebih. Karena banyak permainan, jajanan, souvenir, dan mainan yang dijamin bakal menarik perhatian anak-anak.

Ekowisata Hutan Mangrove: Taman Wisata Alam Angke Kapuk

Taman Wisata Alam (TWA) Angke Kapuk merupakan salah satu objek ekowisata yang cukup ngehits di kalangan warga Jakarta. Puluhan bahkan ratusan foto-foto selfie, preWedding dan lainnya beredar di dunia maya dengan berlatang belakang pemandangan nan indah di TWA ini.

Saya pribadi menganggap bahwa tempat wisata ini sangat cocok untuk bernarsis ria dan sangat instagramable. Selain tentunya, sangat cocok untuk menambah pengetahuan kita yang dangkal ini mengenai hutan mangrove.

Taman Wisata Alam Angke menjadi satu-satunya kawasan hutan mangrove terluas di Jakarta. Pepohonan mangrove yang rimbun, jalan setapak yang tersusun rapi dari batang pohon mangrove dan juga bambu, ditambah lagi dengan pemandangan pantai serta hembusan angin laut yang sepoi-sepoi membuat tempat ini cukup tepat untuk sekadar melepas lelah dan penat akibat kesibukan dan kemacetan Kota Jakarta.

Tempat wisata ini berada di ujung utara Jakarta, tepatnya di Pantai Indah Kapuk. Berdasarkan data dari Direktorat Pemanfaatan Jasa Lingkungan Hutan Konservasi, diketahui kalau Taman Wisata Angke Kapuk ini seluas 99.82 Ha.

Taman ini dipenuhi oleh berbagai jenis tanaman mangrove, diantaranya adalah Api-api (Avicenia sp), Bidara (Sonneratia caseolaris), Bakau (Rhizophora mucronata, Rzhizophora stylosa), dll.

Lokasi

Untuk mencapai lokasi, bisa dengan kendaraan pribadi maupun transportasi umum. Saran saya, jika menggunakan transportasi umum, lebih baik naik Taxi, Gojek, Grab, Ojek, Bajaj, atau Bus Kota Terintegrasi Busway (BKTB) dari halte Monas (rute Monas – PIK), jadi tidak perlu naik turun angkot yang berarti hemat ongkos dan tenaga. BKTB akan mengantarkan kita tepat hingga depan Yayasan Budha Tzu Chi. Kemudian, cukup berjalan menyusuri Yayasan tersebut (ke arah belakang) dan sampailah kita ke lokasi.

Kesan pertama saya dalam perjalanan menuju TWA ini adalah, wow… miris! Betapa tidak, TWA ini dikelilingi perumahan mewah, bahkan bisa dibilang sangat mewah. Saya seakan berada di dunia lain (setelah sebelumnya melewati lorong-lorong sempit dan kumuh di kawasan Duri dan Tanah Abang).

Belum lagi tampilan kompleks Yayasan Budha Tzu Chi yang sangat teramat luas dan indah, tidak bisa saya jelaskan dengan kata-kata. Seakan-akan saya sedang berada di negeri Cina.

Wow, sekali lagi wow… takjub! Pintu gerbang TWA tepat di depan gedung Yayasan ini. Mereka hanya dipisahkan oleh sebuah jalan raya.

Kok bisa ya? Untuk sesaat, ingatan saya melayang mundur ke belakang saat kawasan PIK belum dipenuhi bata, beton, dan baja.

Tiket

  • Dewasa: IDR 25.000
  • Anak-anak: IDR 10.000
  • Wisatawan Asing: IDR 250.000
  • Mobil: IDR 10.000
  • Motor: IDR 5000
  • Bus: IDR 50.000

Setelah membayar tiket, kita harus berjalan menuju pos pemeriksaan. Kemudian, kita bebas mengeksplorasi Taman Wisata Alam ini. Selain kita dapat dengan puas mengamati pohon mangrove, kalau beruntung, kita juga bisa mengamati biawak, burung, bahkan kera.

Yang paling membekas bagi saya adalah ketika berjalan di sepanjang titian kayu-kayu ditengah desahan daun-daun pohon mangrove yang saling bergesekan. Sesekali, terpaan angin laut menyentuh kulit saya. Sementara sinar mentari dengan malu-malu mencoba menyelusup dan mengintip di antara dedaunan.

Taman Wisata Alam Agke kapuk (12)Fasilitas

  • Wisata Air. Disini kita bisa mengelilingi perairan di dalam Taman Wisata Air dengan menggunakan kano, perahu dayung, ataupun perahu motor dengan harga mulai dari IDR 100.000/ orang
  • Wisata Hutan. Untuk wisata hutan, kita bisa berkemah, outbound, pemotretan, wisata alam, dan juga penelitian.
  • Penginapan. Bagi yang ingin menikmati taman wisata ini lebih dari satu hari, bisa menginap di Pondok Alam, berkemah dengan tenda, ataupun berkemah dengan Pondok Permanen yang berbentuk mirip tenda.
  • Konservasi. Bagi yang ingin berperan serta dalam konservasi hutan Mangrove, kita dapat menanam pohon mangrove dengan membayar IDR 150.000/orang dan IDR 500.000/orang jika ingin tanaman mangrove diberi papan nama.

Penting untuk diketahui sebelum berkunjung:

  1. Tidak diperbolehkan membawa kamera selain kamera dari handphone, ipad, smartphone dan kawan-kawan sejenisnya. Akan ada pemeriksaan di pos setelah pintu masuk. Jika terpaksa harus membawa kamera digital atau DSLR, maka kita harus membayar IDR 1.000.000.
  2. Tidak diperbolehkan membawa makanan dan minuman dari luar. Jangan khawatir, di dalam TWA terdapat kantin dengan suasana alam dan harga kuliner yang terjangkau. Kalau terlanjur membawa, harus dititipkan di pos atau ‘disimpan’ di dalam tas. * saya memaklumi hal ini, mengingat kesadaran masyarakat untuk tidak membuang sampah sembarangan masih sangat minim. Terbayanglah oleh saya, jika diijinkan membawa makan dan minum, pasti banyak sampah di mana-mana *
  3. Membawa kantong untuk sampah. Yuk, kita menjadi traveler yang cerdas. Dilarang keras untuk membuang sampah sembarangan. Kita bisa menyimpan sampah kita kemudian membuangnya di tempat sampah yang memang tersedia di beberapa area. *saya malah kepengen membawa trash bag rasanya ketika melihat perakaran pohon mangrove yang terbelit tumpukan sampah. Ingin rasanya memunguti sampah-sampah tersebut. Miris *
  4. Sebaiknya datang di pagi hari atau di sore hari menjelang matahari undur diri. Selain menghindari teriknya sengatan matahari, juga menghindari ramainya pengunjung taman wisata ini * saat saya menulis ‘ramai,’ percayalahbahwa itu benar-benar ramai, terutama di saat hari libur * Saya pribadi datang di pagi hari, sehingga saya nyaman dan puas berjalan menyusuri rimbunnya hutan layaknya menikmati hutan pribadi. btw, TWA ini buka jam 8.00-18.00.
  5. Jangan sampai salah kostum. Sangat tidak disarankan memakai high heels, wedges, platform ataupun sandal jepit mengingat akses alias jalanan untuk menyusuri TWA ini terbuat dari bambu atau kayu gelondongan yang berjajar rapi. Jangan memaksakan mengenakan pakaian yang ‘super kece yang lagi ngehits’ hanya demi mode dan foto OOTD kalau tidak ingin menderita karena kepanasan dan kegerahan. Pakailah pakaian yang nyaman dan mudah menyerap keringat * misalnya yang terbuat dari bahan katun dan linen *
  6. Membawa peralatan tempur guna melawan teriknya matahari. Topi atau scarf, handuk kecil atau sapu tangan, tissue, tabir surya alias sun lotion * ini wajib hukumnya *
  7. Memakai minyak atau lotion anti nyamuk bagi yang sensitive terhadap gigitan nyamuk. Maklum, namanya hutan Mangrove, lebat, lembab, berair yang berarti tempat yang cukup disukai para nyamuk.
  8. Bagi solo traveler, wajib hukumnya membawa tongsis agar tidak merepotkan orang lain, selain juga karena mungkin tidak bertemu dengan orang lain.

Taman Wisata Alam Agke kapuk (7)

Menengok Indonesia Travel Fair 2016

Di Sabtu pagi yang Alhamdulillah cerah itu, akhirnya saya dan Dwi memutuskan untuk menengok Indonesia Travel Fair 2016, yang berlangsung di JCC. Setelah sehari sebelumnya tergoda dengan harga-harga tiket pesawat yang terpampang jelas dalam poster di atas.

Untuk dapat masuk ke dalam area pameran, kita diwajibkan membayar tiket masuk IDR 20.000 atau gratis kalau kita mempunyai kartu kredit keluaran BRI. Mengingat saya dan Dwi mengajukan diri untuk membuat KK BRI on the spot, jadilah kami gratis dapat tiket masuk.

Saat kami memasuki area pameran, terlihat lapang dan ‘agak sepi’ entah karena masih pagi atau memang seperti ini atmosfernya. Sambil berkeliling, kami sibuk tengok kanan kiri, depan belakang, mencari promo tiket, hotel atau trip murah.

Pada akhirnya, yang paling menarik perhatian kami adalah tujuan Pahawang Lampung, Belitung, Bali, Lombok, Pulau Komodo, Cruise ke beberapa negara, dan pastinya UMROH. Kami memang planning untuk umroh tahun depan jadi semoga dimudahkan ya Allah, Aamiin.

Kami pun segera beranjak pergi setelah puas mengelilingi, bertanya, dan mengumpulkan brosur untuk dikemudian hari. Walaupun bisa dibilang kurang puas juga karena tenant yang mengisi pameran, menurut saya hanya sedikit dan kurang beragam.

Dari pengamatan, booth yang dipenuhi pengunjung adalah booth yang menawarkan Air Asia dan City Link. So, goodbye ITF, waiting for GTF di bulan April dan promo Air Asia selanjutnya.

Travelling and Umroh, here we come…

 

 

Museum Nasional: “Untuk Kepentingan Masyarakat Umum”

Museum Nasional atau yang juga dikenal dengan nama Museum Gajah ini menyimpan dan memamerkan ratusan koleksi sejarah Indonesia, yaitu benda-benda yang mengandung nilai sejarah Indonesia dan benda-benda peninggalan dari masa pendudukan bangsa Eropa di Indonesia, antara abad ke-16 Masehi hingga abad ke-19 Masehi.

Koleksi tersebut meliputi benda-benda berupa perabot, meriam, gelas, keramik, textil dan aksesoris. Textil, ukiran, pola, dan aksesoris inilah yang cukup menarik rasa ingin tahu saya mengingat passion terhadap fashion.

Museum Nasional terletak di Jalan Medan Merdeka Barat No. 12. Museum ini merupakan salah satu ikon kota Jakarta, jadi tidak ada salahnya kalau kita menyempatkan diri untuk berkunjung ke Museum ini.

Selain arsitekturnya yang indah, koleksi sejarah yang tertata rapi, tiketnya pun terbilang murah, hanya . Kita bisa belajar sejarah Indonesia secara lengkap. Sesuai dengan tagline Museum, “Ten Nutte Van Het Algeemen” yang artinya, “Untuk Kepentingan Masyarakat Umum.”

Sebelum ke Museum, sebaiknya kita melihat website resmi Museum ini di www.museumnasional.or.id. Di website resminya, terpapar dengan jelas dan lengkap berbagai informasi mengenai Museum ini.

Mulai dari harga tiket, peta lokasi, peta area pameran, rute transportasi menuju lokasi hingga penjelasan mengenai koleksi sejarah yang disimpan dan dipamerkan Museum Nasional.

Saya pribadi, sudah lama sekali sejak kunjungan terakhir saya ke Museum ini. Betapa takjub melihat museum yang kini lebih lengkap dan lebih bagus menurut ingatan saya.

Terlebih lagi dengan ditambahnya satu bangunan lagi di kompleks museum ini untuk menambah koleksi yang dipamerkan, membuat saya makin terpana. Karena saya dan dwi pergi di hari Sabtu, pengunjung yang datang pun cukup banyak, termasuk turis mancanegara.

?

?

Pagi di Eco Art Park dan Pasar Ah Poong Sentul

MAYDAY! It means Holiday!

Finally, we had a 3 days break from our daily routine. So we (saya, Dwi, dan Irin) decided to get out from Jakarta and runaway to Bogor.

Rencana awal kami cuma ke Bogor. Entah mau ke mana sesampainya di Bogor. Sampai pada akhirnya, surfing di dunia maya dan terpaku sama yang namanya Eco Art Park Sentul.

Aneh juga sebenarnya. jauh-jauh naik kereta ke Bogor tapi balik lagi ke arah Sentul. Sebenarnya, kami ingin naik kereta saja. Sok gaya menjadi Walang alias Wanita-wanita petualang.

 

Berbekal persenjataan smartphone, power bank, dompet, dan tongsis. Meluncurlah kami ke Bogor. Sehubungan dengan rumah kami yang saling ‘berdekatan’ jadilah kami ketemuan di stasiun Bogor.

Selama perjalanan di kereta, saya mencoba mencari info transportasi ke Eco Art Park Sentul dari Stasiun Bogor. Klik! ketemulah saya dengan blog otakotakbule yang pada akhirnya menjadi pegangan saya menuju TKP.

Untuk menuju taman ini, dari stasiun Bogor, keluar kemudian belok kiri sampai ke depan Matahari department Store. Lalu naik angkot hijau bernomor 03 menuju Terminal Baranang-siang (Rp. 4000). Turun di depan pool bis Trans Pakuan (di depan terminal). Naik Trans Pakuan turun di depan Mall Bellanova (Rp. 6000). Kemudian kita menyeberang, belok kiri dan berjalan menuju lokasi.

Wah, sesampainya di sana, kami langsung disambut berbagai patung yang ‘naked.’ Beruntungnya kami, taman masih dalam keadaan sepi. Maklum, kami berangkat saja balapan sama bangunnya ayam. So, it really fresh to be there. Fresh air. Inhale… Exhale… Deep…

We start our refreshing morning walk from Taman Patung.

Taman Patung ini terletak di belakang kantor pemasaran Sentul City. Sesuai namanya, di bagian taman ini dapat kita temui belasan patung yang konon katanya dibuat oleh perupa dari beberapa negara, di antaranya Salvador Dali dari Spanyol dan Botaro dari Korea.

Selain patung, ada juga bangku taman yang unik. Yang membuat jiwa narsis kami membuncah untuk berfoto bak model. Lumayanlah untuk melatih keahlian kami memakai tongsis biar makin gape. Maklum masi awam.

Puas berfoto ria, kami menaiki jembatan penuh kelok menuju Taman Sains.

Pemandangan dari atas jembatan sungguh memanjakan mata. Setidaknya, masih ada hamparan berwarna hijau di sana-sini. Sekali lagi maklumi saja, kami biasa melihat beton di kanan-kiri jembatan kalau di jakarta.

Mumpung sepi, kami putuskan beristirahat sejenak di pojok jembatan sambil menikmati pemandangan pepohonan nan hijau dan gemericik sungai di kejauhan.

Sampai di ujung jembatan, kami melewati restoran Mang Kabayan. Ah, saya jadi teringat kangkung ngebul khas mang Kabayan. Laper. Sayang-disayang, kami cuma lewat doank.

Lalu sampailah di Taman Sains. Seru juga belajar sains dengan cara yang menyenangkan, penuh warna-warni dan dikelilingi taman yang indah. Untuk mengetahui lebih lengkap peralatan sains apa yang ada di sini, silakan klik liburananak.com.

Disini juga ada Mini Open Theatre. Sayangnya, tidak ada kegiatan di teater tersebut pada saat kedatangan kami ke sana.

Kemudian, Dwi dengan semangatnya, mencari robot yang menjadi salah satu trademark di taman ini. Ketemu juga pada akhirnya.

Hmm… di mana ya Pasar Ah Poong-nya? Ternyata sudah ada di depan mata, sambil melewati restoran Warung tekko yang cantik, Saung madu, dan jembata, sampailah kami di pasar Ah Poong.

Ternyata Pasar Ah Poong ini semacam Food Court. Dulunya, benar-benar ada Pasar Apung di sini, tapi entah kenapa sekarang sudah tidak ada lagi. Puas dari food court kami melewati Jembatan Merah yang ternyata adalah Jembatan Gantung. Seru. Sengaja kami goyang kanan goyang kiri bak anak kecil amin di Outdoor Playground-nya Highscope biar makin goyang jembatannya.

Oke, ada jembatan. Lagi. Jembatan berwarna biru, tapi kami lewati saja. Kami lebih tertarik menaiki perahu untuk sekedar mengelilingi Pasar Ah Poong.

Berkenalanlah kami dengan Mang Ajay, yang dengan semangat dan ramahnya menjadi pendayung perahu kami. FYI, untuk naik perahu ini bayar sukarela loh. Enak kan. Kami memang suka yang gratisan dan sukarela.

Setelah perahu kami berlayar meninggalkan daratan, mulailah kami bernyanyi.

Row row row your boat

Gently down the stream

Merrily merrily merrily

Life is but a dream

Sambil berimajinasi, kami sedang berlayar di dalam kota Venezia, Italia. Ah, indahnya. Padahal mah, puanas bo! payung mana payung! sunglasses mana sunglasses! sunblock mana sunblock! teriak kami dalam hati masing-masing.

Teriknya sang mentari, membangunkan kami dari mimpi. Mang Ajay pun kembali membawa kami menepi. Dengan sedikit menggoda sesekali, meninggalkan kami sendiri dalam perahu ini. Aaah, mang ajay… Jangan biarkan kami mengapung sendiri… lebayyy.

Dan selesailah kami ngebolang di taman yang indah dan lengkap ini. Sepanjang perjalanan pulang, bersyukurlah kami datang di pagi hari. Karena semakin siang, pengunjung semakin ramai.

Sampai di sini, pulanglah kami. Nope! matahari masih tinggi menjulang kawan, perjalanan Walang pun masih panjang. Lanjut ke… Kota Tua di tengah Jakarta.

Lee Min Ho’s New Mini Album: Song For You

Who in the world doesn’t know this one particular guy. The man himself, Lee Min Ho, Male God of Asia * trust me, I’m not the one give him this title. It just show how famous he is in Asia. *

905396_440644686066168_2073742231_o_zps50b6bb2e.jpg~originallmh_heirs0tumblr_nd2yujqXpV1r3n4xoo1_500

Me, myself not really into him. Like him but not as much as hardcore fans. When the whole world around me get crazy over him, I just don’t. Don’t know exactly why. I do watched some of his drama, such as Boys over Flower, Personal Taste, and City Hunter but not making me dare to call myself his fans. Some of my friends think I’m weird those days, for not fanning him.

But that was before “The Heirs” I am Park Shin Hye fan in terms of I love her acting despite the fact that I am noona to her. She is just too cute, have an angelic face, and great in doing aegyo or crying scene. So, when I watch The Heirs, which Min Ho was in there, to be his male lead exactly, I was being drown by his acting through all episodes. I was being one of his fan nowadays. And now, whenever I talk about him in front of my friends, they just like “what? just just realize now, after all those years we’ve been talking about him IN FRONT of you and YOU not interested. Pleaseeee” with all their gaze dagger at me.

So, here I am, writing about him and his new Mini Album. He might not be the best singer out there, but he definitely one of the best entertainer. And his deep and hoarse voice really help him in singing. His singing skill maybe average * compared to other singer or actor be singer * but he definitely nailed it, in terms of bringing the soul and emotion into his song.

After listening to his song, such as Painful Love. I guess, his voice finally captured my heart * tsaah, melted * So when his new mini album finally released, I was so excited to hear what kind of song and how he will represent the song. Well, I’m surprised, it turns out very good. he really nailed the pop rock type of song. I love the beat, the music, the melody, the lyric, and off course the voice. My most favorite will be Burning Up * keep replaying it in my phone *

BzmKfzeIIAIi9Tz

 

So here it is, his brand new Mini album titled Song For You

  1. Song For You
  2. Paradise in Love
  3. Stalker
  4. Travel
  5. Burning Up

BzjhScgCYAAsIXO.jpg large BzkxMITCUAAq5D0.jpg large BzmDRH9CEAArzwI Bzn3priCQAAvsCo Bzo3BveCEAEHgmj.jpg large Bzo23w5CQAAFaIh.jpg large Bzo2851CEAAN8_j.jpg large BzoW0S9CQAASQX5.jpg large Bztg7dqCIAEf7iS

 

Song for You

The Lyric

In my eyes that are blacker than the night sky
My path was getting farther away
My heart was filled up all the way with the world, oh my dream

Your eyes shined closer and clearer when I was tired
You are my sunshine, like a strange ray of light
Shine on my heart that is hidden

As I follow the stars, follow the path
Because you’re there, because you came to me
I am living one more day

You shine on me, you fill me up
Only you are my everything in this world

I will sing
A song for you

Words are not enough
I just look into your eyes, in my love

For you

 

Paradise In Love

The Lyric

Darling, close your eyes, let’s leave together for a bit
Darling, can you feel this sweet love song?

Darling, lean on me, won’t you come with me?
Darling, think about it, oh paradise in love

Water flowing on soft sand, you and I at that place
Can you hear the wind spells for love?
Your eyes and smile are as clear as the sky

Darling, open your eyes and look at me
Oh paradise in love

Water flowing on soft sand, you and I at that place
Can you hear the wind spells for love?
Your eyes are as clear as the sky
Our kiss is as deep as the ocean

Darling, I love you, my love, you’re as beautiful as the sunset
Let’s make love, oh paradise in love

 

Stalker

The Lyric

Good Night
Words that comforted me
At that last moment, your smile felt deeper to me

Let’s leave, let’s leave farther away
Waiting for you is good for me

You want me now, it’s time now
I love you, I need you, tonight
Before the night is over, before it’s too late
Tell me you love me again
Hold tight to my hand and tell me you always waited for me

I’m the only one
I’m the only one for you

Don’t tell me to give up on you
It’s meaningless to me
It’s alright, you’re prettier like that

The reason you left me
Yes, so I can forget it
I can be better, better than that other person

You want me now, it’s time now
I love you, I need you, tonight
Before the night is over, before it’s too late
Tell me you love me again
Hold tight to my hand and tell me you always waited for me

I love You, I need you

 

Travel

The Lyric

No words can express how I feel
We’re looking at the same place
We’ve thought the same things from the start
Everything is in your eyes

Hold my hand tight right now
The sky looks good
With you, I’ll Travel Travel Travel (Travel Travel Travel)

You and me, just like this, all right, the dazzling sunlight
This happy moment, toward your heart, I’ll travel travel travel
You and I, forever, all right, the shining moonlight
This endless moment, toward your heart, I’ll travel travel travel

I’m confident Uh-ho Yeah

No one can take your place
We both have similar feelings
We thought similar things from the start
I see everything in you

Hold my hand tight right now
The sky looks good
With you, I’ll Travel Travel Travel

You and me, just like this, all right, the dazzling sunlight
This happy moment, toward your heart, I’ll travel travel travel
You and I, forever, all right, the shining moonlight
This endless moment, toward your heart, I’ll travel travel travel

Throw away your worries and get up to love
It’s a new beginning

Our love is all right, the sunlight shines on you
This happy moment, toward your heart, I’ll travel travel travel
You and I, forever, all right, the shining moonlight
This endless moment, toward your heart, I’ll travel travel travel

I’m confident Uh-ho

Travel Travel Travel

 

Burning Up

The Lyric

Forget about the lover who left you
Tears don’t suit you
Erase the bad memories
Only look at me, hold me and feel me

When he says it’s for you, it’s all a lie
Don’t listen to anything but what I tell you
When he says he loves you, that you’re the only one, it’s a lie

On at this moment
Come into my heart
I wanna feel your love
There’s no need for tears for you and me
Come on get closer
Make tonight hot

Listen, you’re the only one for me, you’re always my love
So I can burn up your painful scars from your break up
I’m burning up now

Throw away your past lover
Lingering feelings don’t suit you
Wash away his traces
Now fill up your heart with me

When he says it’s for you, it’s all a lie
Don’t listen to anything but what I tell you
When he says he loves you, that you’re the only one, it’s a lie

On at this moment
Come into my heart
I wanna feel your love
There’s no need for tears for you and me
Come on get closer
Make tonight hot

Listen, you’re the only one for me, you’re always my love
So I can burn up your painful scars from your break up
I’m burning up now

Baby girl, close your eyes
And when you open them again
You and I, just us two, forever

On at this moment
Come into my heart
I wanna feel your love
There’s no need for tears for you and me
Come on get closer
Make tonight hot

Listen, you’re the only one for me, you’re always my love
So I can burn up your painful scars from your break up
I’m burning up now

I’m burning up now

 

 

All pics are not mine, credits as tagged or written in the pics

Lyrics from: https://tuneuplyrics.wordpress.com

 

Mengenal Eksistensi Suku Tionghoa di Indonesia melalui Taman Tionghoa

Kali ini saya ingin memperkenalkan Taman budaya Tionghoa yang berada di Taman Mini Indonesia Indah. Mungkin belum banyak pengunjung yang mengetahui keberadaan taman ini. Terlebih lagi letaknya yang berada di bagian belakang kompleks taman mini.

Bagi saya yang biasanya jalan kaki menjelajahi taman mini, bisa dibilang jarang sekali saya mencapai bagian belakang taman ini. Hingga suatu hari, saya memanfaatkan penyewaan sepeda dengan maksud mengelilingi seluruh bagian dalam kompleks taman mini. Dan berhentilah saya, di sebuah taman yang khas sekali dengan budaya Tionghoa.

dsc05474dsc05493

Tujuan dibangunnya taman ini sebenarnya agar masyarakat luas menyadari bahwa suku Tionghoa merupakan bagian dalam sejarah dan budaya bangsa Indonesia. Taman ini memamerkan berbagai artefak, foto-foto, arsitektur, taman, dan lain-lain yang berkaitan dengan eksistensi suku Tionghoa di Indonesia.

dsc05475dsc05481dsc05479dsc05486dsc05489

Baca juga:
Taman budaya tionghoa
Perkembangan taman Budaya Tionghoa di TMII
Taman Budaya Tionghoa Indonesia

One Stop Holiday di Taman Mini Indonesia Indah

Taman Mini Indonesia Indah. Sesuai dengan namanya, taman ini merupakan bentuk mini atau miniatur Indonesia yang kaya budaya dan indah alamnya.

Taman ini merupakan lokasi wisata wajib dikalangan pelajar Indonesia. Bahkan, taman ini menjadi salah satu destinasi utama para wisatawan lokal dan mancanegara.

dsc055232september07cimg1240

Kalau kita mengenal jargon one stop shopping untuk beberapa mall yang ada di Jakarta, maka TMII saya tetapkan sebagai one stop holiday. Alasan utamanya adalah, di TMII, kita bisa menemukan banyak pilihan untuk rekreasi atau sekadar memanjakan mata dengan kekayaan rumah adat yang ada di setiap provinsi di Indonesia.

dsc05517

Di tengah-tengah taman, terdapat miniatur kepulauan yang ada di Indonesia. Ada juga anjungan yang mewakili setiap provinsi di Indonesia. Bagi penyuka permainan air, ada Snowbay. Bagi petualang museum, di TMII-lah tempatnya berdiri sebagian besar museum. Bagi anak-anak, terdapat Istana anak-anak dan juga Taman Legenda.

dsc05460dsc05453dsc05466

Bagi yang suka nonton film, ada teater keong mas dan teater untuk menonton film 4 dimensi. Bagi penyuka hewan, ada taman burung dan reptil. Bagi penyuka tanaman dan bunga, ada taman anggrek dan taman keong mas.

dsc05501

Bagi yang senang menonton pertunjukan budaya, di beberapa pengelola anjungan hampir setiap minggunya mengadakan pertunjukan budaya. Bagi yang suka olahraga, setiap minggu pagi ada yang namanya minggu ria. Bagi yang ingin beribadah sesuai dengan agamanya masing-masing, TMII pun menyediakan rumah ibadahnya.

Terakhir, bagi pengunjung yang hendak menikmati pemandangan Taman Mini Indonesia Indah bisa memanfaatkan kereta aeromovel, kereta biasa, mobil keliling, skylift, ataupun berbagai jenis sepeda.

dsc05447
dsc05450dsc05521

Tidak lupa, puluhan toko souvenir yang menjajakan cendera mata khas Taman Mini Indonesia Indah dan juga setiap provinsi di Indonesia bisa dengan mudah kita temui di sini.

Untuk lebih jelasnya, ini dia tempat yang bisa kita kunjungi di TMII. Meskipun sebagian besar tempat tersebut belum semuanya saya jelajahi.

Bangunan keagamaan 

  • Masjid Pangeran Diponegoro
  • Gereja Katolik Santa Catharina
  • Gereja Protestan Haleluya
  • Pura Penataran Agung Kertabhumi
  • Wihara Arya Dwipa Arama
  • Sasana Adirasa Pangeran Samber Nyawa
  • Kuil Konghucu Kong Miao

Sarana rekreasi

  • Istana Anak-anak Indonesia
  • Kereta gantung
  • Perahu Angsa Arsipel Indonesia
  • Taman Among Putro
  • Taman Ria Atmaja
  • Desa Wisata
  • Kolam renang Snow Bay

Taman

  • Taman Anggrek
  • Taman Apotek Hidup
  • Taman Kaktus
  • Taman Melati
  • Taman Bunga Keong Emas
  • Akuarium Ikan Air Tawar
  • Taman Bekisar
  • Taman Burung
  • Taman Ria Atmaja Park, panggung pagelaran musik
  • Taman Budaya Tionghoa Indonesia
  • Taman Legenda

Museum

  • Museum Purna Bhakti Pertiwi
  • Museum Indonesia
  • Museum Purna Bhakti Pertiwi
  • Museum Keprajuritan Indonesia
  • Museum Perangko Indonesia
  • Museum Pusaka
  • Museum Transportasi
  • Museum Listrik dan Energi Baru
  • Museum Telekomunikasi
  • Museum Penerangan
  • Museum Olahraga
  • Museum Asmat
  • Museum Komodo dan Taman Reptil
  • Museum Serangga dan Taman Kupu-Kupu
  • Museum Pusat Peragaan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
  • Museum Minyak dan Gas Bumi
  • Museum Timor Timur (bekas Anjungan Timor Timur)
  • Museum Peranakan Tionghoa

Teater atau bioskop

  • Teater IMAX Keong Emas
  • Teater Tanah Airku
  • Teater 4D

Jadi, sudahkah Anda mengunjungi TMII? Butuh berapa lama bagi Anda untuk menjelajahi seluruh bagian di dalam TMII?

Baca juga:
Excursion to Taman Mini Indonesia Indah – Week 11 (aisyear2.wordpress.com)
Miniatures In Jakarta Land: A Dream-Within-A-Dream (igneousbomb.wordpress.com)
Taman Mini: I held a snake edition (teachingtravelingwriting.wordpress.com)

Rafting: Nothing To Be Afraid Of

Rafting. It’s been such a long time since I want to try this kind of experience. Before, I just watched it from TV or vids, but now, it’s my chance to feel it by myself. How excited that will be. On the other hand, A little bit scary. There is some fear creep through my mind.

That day, we gathered in Bogor. For someone who live in Jakarta, I should take the train to get there. Then, I leave the rest to others who knew the route.

It was arrange by my friend, Tari. She is very familiar with adventurous things like this. She loves outdoor activities and engages with nature. It really nice to befriend with someone like her.

Anyway, we went to the site… got our gear, put them on, and brought it to the river downhill. Since it was a first time for me, guides were there to explain some things that we need to know and do it during rafting. We listened well, and be ready for whatever ahead of us in the river.

 

After the brief explanation, I kept things in mind for next rafting. In the future, I have to wore a comfortable outfit, sport shoes, swimming cap, for I wore hijab, and physical preparation before the D-Day. Because that time, I missed all that.

rafting2

Enjoy every moment of it!

Once I got on board, I just can’t wait. Rafted along the river, waited for big stream, avoided some big rocks or crashed between team and enjoyed the surrounding view

It was sooo thrilled and full of excitement. Couldn’t describe how I felt that day. The view is so beautiful. The cliffs, the trees, the rocks, and the waterfall. I just couldn’t ask for more. During this kind of excitement and admiration, I felt very grateful to GOD, for giving me such amazing view in the world where I live in.

29663_1385061399320_1615568976_899599_5756457_n

The waterfall…

Before going home, last but not least, trying to raft using banana boat. Wow, it was so hard to handle it. I felt like I was going to fall to the river. And yes, I did.

The banana boat was upside down, I was afraid, and I was like just lying there on the surface of the river, drifted by the stream while avoiding branches and rocks around me. Waiting for someone to rescue me.

But, it was not as scary as I thought it will be. If I got another chance to try it again, I am  definitely gladly said YES, off course!

Rafting in a banana boat. Sooooo fun!

Rafting in a banana boat *me, in front * Sooooo fun!

There is nothing to be afraid of. There is no fear that can’t be resolved. As long as I have positive mindset. And take challenge as a new way to learn new things.

Mengelilingi Pulau Semak Daun, Kepulauan Seribu

dsc00065

Pulau Semak Daun menjadi salah satu destinasi wisata di Kepulauan Seribu. Terakhir kali saya menginjakkan kaki di sini, tidak ada dermaga indah yang menyambut saya, terlebih lagi warung makanan. Pulau ini bisa dibilang tak berpenghuni.

dsc00064

Akan tetapi, sekarang telah dibangun dermaga yang rapi dan terdapat pula warung penjaja makan dan minum.  Pulau ini jadi terlihat ‘terawat.’ Penasaran dengan kondisi pulau semak daun terkini, saya pun mengelilingi pulau mengikuti garis pantai.

Kaget bukan main, di salah satu sudut pulau ini, terdapat tumpukan bahkan bisa dibilang gunungan sampah yang sebagian besar berisi sampah kardus makanan dan minuman. Sungguh amat disayangkan, pulau yang indah ini ternodai dengan keberadaan sampah.

Hal ini mengingatkan saya untuk menjadi wanderer yang bertanggung jawab. Wanderer yang tidak meninggalkan ‘jejak’ yang memberikan dampak negatif terhadap lingkungan yang dikunjunginya.

Salah satu caranya adalah dengan tidak membuang sampah di tempat yang saya kunjungi terutama tempat yang tidak mempunyai tempat pembuangan sampah akhir atau pengolahan sampah. Solusinya adalah bawa kembali sampahmu!

Menyusuri Kota Tua-Pasar Asemka-Masjid Istiqlal

Kali ini, libur akhir pekan kami habiskan dengan menyusuri Kota TuaPasar AsemkaMasjid Istiqlal. Saat itu, cuaca cukup bersahabat, panas berawan, panas yang tidak terlalu menyengat di kulit.

img_20130209_105120img_20130209_104944

Akan tetapi, suasana di Kota Tua sungguh tidak bersahabat. Di sana pengunjung memenuhi setiap sudut Kota Tua, hingga agak sulit rasanya untuk menikmati atau sekadar bernostalgia  dengan bangunan kuno khas Belanda yang ada di sana.

img_20130209_105321dsc05434Pasar Asemka

Puas berjalan-jalan di Kota Tua, kamipun melanjutkan perjalanan menuju Pasar Asemka. Pasar ini sangat terkenal dikalangan masyarakat luas. Di pasar ini kita bisa membeli alat tulis dan kantor (ATK), tas, souvenir, mainan anak-anak, serta aksesoris dengan harga yang jauh lebih murah daripada di toko atau tempat lainnya. Modelnya pun sangat beragam.

[credit: gogirlmagz.com]

[credit: gogirlmagz.com]

Terlebih lagi kalau kita membelinya dalam jumlah grosiran, harga yang ditawarkan benar-benar miring. Hanya saja, kondisi pasar ini memprihatinkan. Jangan berharap kalau kondisi pasarnya bakal nyaman. Apalagi kalau pasar ini diguyur hujan. Selain becek, macet pula.

Masjid Istiqlal

Selesai berkeliling dan berbelanja di pasar Asemka, kamipun memanfaatkan Busway untuk menuju perhentian terakhir kami, yaitu Masjid Istiqlal (Istiqlal = Kemerdekaan).

[credit: indonesiakaya.com]

[credit: indonesiakaya.com]

Selain memang sudah waktunya beribadah, kamipun hendak mengingat kembali sejarah Masjid yang menjadi salah satu ikon di ibukota Jakarta.

Masjid Istiqlal berdiri di atas lahan seluas 9,5 Hektar yang meliputi bangunan masjid, taman, tempat parkir, dan kolam air mancur.

Bangunan masjid sendiri terdiri dari beberapa bagian, antara lain gedung utama, gedung pendahuluan, teras raksasa, menara, dan lantai dasar.

2013-05-10-00-02-20_deco dsc05853

Lantai utama Masjid Istiqlal mampu menampung jamaah hingga 16.000 orang. Sementara, pada sisi kanan, kiri, dan belakang terdapat lantai bertingkat 5 yang mampu menampung jamaah hingga 61.000 orang.

[credit: indonesiakaya.com]

[credit: indonesiakaya.com]

Menapaki Lantai Masjid Kubah Mas (Masjid Dian Al Mahri)

Akhirnya, saya bisa menapakkan kaki di lantai masjid Kubah Mas. Sejak terdengar gegap gempita pembangunan masjid ini, rasa ingin tahu sudah timbul di dalam diri saya. Kelak, saya pasti akan melihatnya dan merasakan bersujud di masjid yang terkenal megah ini.

Yang membuat saya bersemangat hari ini, bukan hanya karena Masjid Kubah Mas, tapi karena saya mengunjunginya dengan orang-orang terkasih, Mama dan Mbah Putri. Dua sosok wanita terhebat dalam kehidupan saya. Saya sisakan kisah keduanya untuk diceritakan nanti dalam tulisan tersendiri.

 

 

Sesampainya di Masjid Kubah Mas (Masjid Dian Al-Mahri) Jarak yang harus kita tempuh dari gerbang utama menuju Masjid itu sendiri terbilang cukup jauh. Terlebih lagi jika kita berjalan kaki.

Beruntung bagi saya, karena keluarga kami membawa kendaraan pribadi. Ketidakberuntungan saya adalah saltum alias salah kostum. Maklum saja, kunjungan ke Masjid Kubah Mas merupakan hasil spontanitas alias tidak terencana.

Saltum. Mas ke masjid pakai kostum bola T_T

Sebelum mencapai masjid Kubah Mas, ada baiknya mampir sejenak di sebuah gedung yang tampak seperti aula. Gedung ini merupakan tempat berisitirahat, makan, dan minum para pengunjung masjid Kubah mas. Mengingat di dalam masjid, pengunjung tidak diperbolehkan membawa makanan dan minuman.

Gedung ini sangat luas dengan pengamanan yang cukup terjaga. Sayangnya, banyak sekali sampah berserakan atau ‘bersembunyi’ di setiap pojokan.

 

Lanjut menuju Masjid Kubah Mas. Kami pun memasuki masjid melalui pintu khusus wanita. Harap diingat bahwa tempat masuk ke dalam masjid, terpisah untuk pria dan wanita. Ikuti saja petunjuk yang ada di masjid.

Sementara itu, alas kaki, makanan, dan minuman harus dititipkan di tempat penitipan. Jangan coba-coba untuk berpura-pura lupa menitipkannya, karena di pintu masuk ada beberapa wanita penjaga yang senantiasa mengingatkan dan mengecek pengunjung.

 

Lolos dari pemeriksaan, kami pun akhirnya menapaki lantai masjid Kubah Mas. Entah karena matahari begitu terik atau lantainya yang terbuat dari batu khusus penyerap panas, sehingga lantainya terasa begitu menyengat.

Bahkan mbah putri yang biasanya berjalan perlahan dan terkadang harus dituntun, dalam sekejap berlari terbirit-birit menuju dalam masjid. Aksi mbah saya ini membuat kami kalang kabut mengejar beliau karena khawatir dan was-was.

 

Ketika kami semua mengingatkan beliau, dengan santai dan singkat beliau membalas, “panas koh.” Sontak saja kami tertawa saat itu juga, yang langsung terhenti karena di “stttttt…” wanita penjaga masjid. Mbah, mbah, kau telah berhasil membuat kami spot jantung.

Berhubung tidak boleh berfoto di dalam masjid, maka saya memfotonya dari luar saja. Saya pun memaklumi peraturan ini. Demi menjaga kedamaian dan kekhusyuan beribadah. Bukankah itu hakikat dari rumah ibadah? Tidak terkecuali Masjid Kubah Mas ini.

Terbayang oleh saya jikalau tidak ada peraturan tersebut, akan penuhlah masjid dengan pengunjung yang sibuk ber-selfie or ber-wefie ria sebelum dan sesudah beribadah lengkap dengan balutan mukena.

Selesai sholat dan berdoa, kami sedikit mengabadikan momen kami di Masjid yang megah ini sekaligus mengagumi arsitekturnya.