A Night in Cakra Homestay, Solo

This is a story about a group of women who spent a night in a very old and full of history kind of place in their standard room. 

It all started in Stasiun Solo Balapan, almost late at night. Unfortunately, it rained, heavily. 

Sampai di luar stasiun, kami putuskan untuk menyewa mobil. Sayangnya, pelayanan yang kurang memuaskan dan mobil yang tak kunjung datang, membuat kami tak sabar. Kami pun memesan 2 grab car untuk membawa kami ke Cakra Homestay.

Di perjalanan, suasana malam nan gelap yang diselimuti hujan membuat kota Solo tampak lengang.

Kami pun tidak banyak berbicara selama perjalanan, sampai akhirnya tiba di depan gang dengan gapura bertuliskan Jl. Cakra II. Tidak terlihat oleh kami Cakra homestay.

Sepintas, saya pun teringat hasil surfing di dunia maya, dimana saya temukan bahwasanya Cakra homestay ini sudah berusia ratusan tahun dengan sejarahnya yang panjang. It was a batik factory, hundred years ago. It is a very old building, 200 years old to be precise. Dan bagi saya, bangunan tua berarti antik, penuh misteri, dan sedikit menyeramkan. Dan, lagi, saya merupakan salah satu orang yang memilih homestay ini sebagai tempat menginap kami di Solo, hahahaha.

Di tengah hujan yang semakin deras, kami pun beranjak masuk ke dalam gang. Sampai tiba-tiba kami tersadar, ada barang yang tertinggal di dalam grab car yg kami naiki tadi.

Alhasil, sebagian dari kami lanjut mencari Cakra homestay, sementara lainnya menunggu grab car tadi.

Hujan turun semakin deras. Suasana gang yang gelap dan juga sepi, udara yang dingin, ditambah kerlip halilintar sesekali, dan suara derap langkah kaki kami yang menginjak genangan air, membuat malam itu terasa ngeri.

Berada di dalam gang dengan tembok di kanan kiri, dan bangunan yang tampak tua, membuat suasana terasa semakin mencekam.

Sampai akhirnya kami tiba di depan gerbang besar yang tertutup rapat dengan tanda didepannya bertuliskan Cakra homestay, lengkap dengan tulisan jawa kuno.

Jujur, saat itu saya merasa ada semacam horror atau thriller vibes dari homestay ini.

Pintu itu akhirnya kami buka, kreeeeek…, gelap, dan sepi.

Kami pun masuk tanpa diundang dan menengok ke sana ke mari, mencari resepsionis, staff, atau siapapun yang bertanggung jawab di homestay ini.

Sampai akhirnya kami tiba di sebuah bagian rumah, semacam pendopo terbuka atau aula terbuka dengan penerangan lampu yang temaram.

Ketika tiba-tiba muncul seorang pria, sontak saya kaget, terlebih lagi pria ini tidak seperti bayangan saya akan seorang resepsionis yang ramah.

Sementara Mitha berbincang dan bernegosiasi dengannya (karena ternyata kamar kami belum siap), saya menyempatkan diri melirik kesana-kemari.

Bangunan tua. check!
Furniture kental budaya Jawa, bisa dibilang barang antik. check!
Lampu remang-remang. check!
Ruangan yang katanya sudah berusia ratusan tahun. check!
Foto-foto lama yang masih hitam putih (sepertinya keluarga pemilik homestay atau pekerja pabrik batik dulunya). check!

Dan saya pun diam seribu bahasa. Rasa tak tenang pun membuncah di dada.

Setelah perjuangan Mitha yang keren abis, walaupun membuat sedikit deg-degan karena sikap Mitha yang tegas ke staff homestay (Makasih Mith), akhirnya kami pun diantar menuju kamar.

3 kamar bersebelahan, hanya dipisahkan oleh kamar mandi. Dan saya penasaran akan seperti apa kamarnya (maklum kami memesan kamar yang harganya ekonomis).

Begitu masuk kamar, rasa deg-degan belum hilang. Bahkan jujur, saya merinding. Ruangannya sih cukup luas, berisi 2 tempat tidur (dengan seprai warna coklat dan 1 bantal), 1 meja rias, 1 lemari, 1 jemuran handuk, dan 1 kipas angin dengan jendela khas bangunan jawa tua (jangan harap untuk membuka jendela karena nyamuk akan menyerbu anda).

Ketika tiba waktunya mandi, dengan kondisi kamar mandi yang seadanya (walaupun kondisinya masih bisa diterima, mengingat saya pernah menginap di tempat yang kondisinya lebih mengenaskan, bahkan tidak ada MCK), saya pun masih tak tenang. Terbayang oleh saya, bahwa kamar mandi ini sudah ada sejak 200 tahun yang lalu. Merinding.

Selepas itu, saya pun sholat dan berdoa, sempat juga saya berdzikir dan membaca ayat kursi karena entah kenapa deg-degan dan merinding masih begitu terasa. Setelahnya, saya pun menjadi jauh lebih tenang.

Ketika akhirnya saya sendirian di kamar, di malam nan gerimis itu, saya pun memutar murrotal dan memasang earphone erat-erat di telinga. Dan perlahan-lahan tertidur pulas.

Pagi pun menjelang.

Rasa penasaran membuat saya sempat berkeliling sekitaran homestay. Terlihat kolam renang yang cukup jernih, kamar-kamar antik di lantai atas, pendopo, serta semacam menara antik di tengah homestay. Sayangnya saya tidak sempat menaikinya.

Dan cakra homestay pun, tidak terlalu terasa mencekam lagi.

Sungguh pengalaman luar biasa unik. Seakan-akan saya syuting adegan dalam sebuah film bergenre thriller kalo bukan dibilang horor, namun sekarang syutingnya telah selesai.

Tapi, entah apakah perasaan itu akan sama rasanya kalau saja saya datang di pagi hari atau saat terang benderang. Saya rasa, tidak akan semencekam saat datang di malam hari kala diguyur hujan. Pun begitu dengan kamar, entah apakah akan sama rasanya kalau saya menginap di VIP.

Tapi jujur, menurut saya pribadi, homestay ini memiliki potensi menjadi homestay yang unik dan menarik, andai saja dikelola dengan lebih baik lagi (dalam hal pelayanan, kebersihan, fasilitas dll.) Terlebih lagi, untuk turis mancanegara atau turis lokal yang mencari suasana khas Jawa yang didukung dengan lokasi yang strategis.

Akhirnya, kami pun menyudahi pengalaman menginap kami di Cakra homestay ini untuk kembali ke rutinitas kami di Ibukota Jakarta.

 

Advertisements

Coba Move On Sejenak di Cafe Move On

Finally, took a bit rest in a cozy cafe called Cafe Move On. Should I move on from this short trip...

Cafe Move On akhirnya menjadi tambatan terakhir kami di Yogyakarta setelah menikmati sunrise di Punthuk Setumbu, Mengagumi Borobudur di Magelang, dan kembali ke masa lampau di Taman Sari.

Seperti banyak cafe yang kini bertebaran di seantero kota besar di Indonesia, Cafe Move On ini pun menawarkan tempat yang cozy dan instagrammable dengan pilihan makanan, minuman, serta gelato yang lumayan rasanya.

Sambil menunggu waktu keberangkatan kami naik KA WijayaKusuma ke Solo, kami pun menikmati gelato, menyeruput kopi taro, dan sekadar bincang sana-sini sambil sesekali melirik hp. Mencoba untuk move on dari liburan kali ini yang akan segera berakhir…

Sekejap di Taman Sari Water Castle, Yogyakarta

Taman sari water castle was a royal garden for Sultan of Yogyakarta. It was mostly known as places for the Sultan’s wife and princesses.

Tempat ini menjadi perhatian para wisatawan setelah foto-fotonya tersebar di berbagai media sosial dan setelah menjadi lokasi foto Pre-Wedding putri Presiden Jokowi.

Saya sendiri termasuk ‘clueless’ tentang taman sari, kalau saja Mega tidak memberi pencerahan kepada saya saat itu juga. Yang ada dibayangan saya kala itu adalah sebuah taman yang dipenuhi bebungaan atau semacam tradisional spa khas yogyakarta.

Sesampainya disana, saya pun bingung, hendak menuju ke arah mana. Tidak ada peta yang jelas yang bisa mengarahkan kita. Tapi, tidak usah khawatir tersesat karena banyak masyarakat lokal yang bersedia menjadi guide untuk mengantar dan mengitari kawasan taman sari ini. Sementara kami memutuskan untuk mengandalkan diri sendiri dan google maps.

Tempat ini terasa sekali kesan sejarahnya. Bangunan-bangunan tua yang berdebu, dipenuhi lumut disana-sini ditambah dengan teriknya matahari.

Konon katanya, kolam di atas dulunya adalah tempat para permaisuri dan putri-putri raja mandi. Sementara di bawah ini adalah kamar mereka. 

Setelah puas menjelajahi tempat pemandian, kami pun mengikuti kemana langkah kaki membawa, secara kami tidak menggunakan jasa guide. 

Kami pun sampai di sebuah gedung tua yang dulunya merupakan masjid bawah tanah. 

Dan berakhirlah perjalanan kami, dikarenakan suatu dan lain hal. Kami pun bergegas menuju destinasi selanjutnya, yaitu Cafe Move On. 

 

 

Borobudur oh Borobudur

Setelah mengagumi keindahan sunrise alias matahari terbit di Punthuk Setumbu, kami melanjutkan perjalanan ke candi Borobudur yang dahulu kala pernah menjadi 1 dari 7 keajaiban dunia.

Saya pun bertanya-tanya, seperti apakah tampakan candi ini sekarang. Masih samar dalam ingatan saya, betapa megah dan menakjubkannya bangunan candi yang terbesar di seantero Indonesia ini.

Sesampainya di lokasi, kami dibuat terkejut dengan banyaknya rombongan anak sekolah di depan loket tiket. Perasaan sudah mulai tak enak. Ah, mungkin ramai di luar saja, mengingat hari masih pagi sekali.

Dengan berseri-seri, kami berjalan penuh arti menuju borobudur.

Dan langkah kami pun sempat terhenti. Bukan karena keindahan candi, tetapi karena tertutupnya keindahan candi oleh ratusan anak sekolah berbagai usia dengan baju seragam mereka yang berwarna-warni.

Sungguh waktu yang tidak tepat untuk mengunjungi candi borobudur. Borobudur oh borobudur… 

Karena teramat penuhnya pengunjung candi, sampai-sampai sulit sekali menemukan spot untuk sekadar mengabadikan kami dan candi.

Alhasil, kami harus mengeluarkan jurus-jurus pencarian angle terbaik yang bisa menghalau tampakan anak sekolah sebagai latar belakang foto kami.






After Sunrise: Bayangan, Kopi item, dan Gorengan

Setelah mengagumi sunrise di puncak bukit Punthuk setumbu, kami berniat untuk melanjutkan ke Gereja Ayam yang sedang nge-Hits akibat kisah asmara Rangga dan Cinta di Film Ada Apa Dengan Cinta 2.

Apa mau dikata, kostum dan waktu tidak mengijinkan. Kostum yang kami pakai tidak memungkinkan untuk melalui trek terpendek ke Gereja Ayam via Puncak Punthuk Setumbu.

Kami dihadapkan dengan 2 pilihan, yaitu lanjut ke Gereja Ayam melalui trek yang lebih ramah tapi memakan waktu lama atau segera turun bukit dan menuju candi Borobudur. Sepakat, kami memilih candi Borobudur dan mengambil langkah seribu menuruni bukit.

Bayangan kami ketika berjalan pun menjadi pemandangan yang tak kalah indahnya dengan sunrise.

Melihat ke kanan kiri, sebuah warung kecil di pinggir jalan menarik perhatian kami. Terbayanglah oleh kami untuk sebentar saja beristirahat.

Duduk, menyeruput kopi item berteman pisang goreng, tahu, dan mendoan sembari dihujani hangatnya sinar mentari.

Nikmat.

Tak terasa, puluhan gorengan habis dilahap lengkap beserta cabe rawitnya.

Kenyang? Tidak juga. Tapi kami harus segera menuju destinasi selanjutnya, Candi Borobudur.