A Night in Cakra Homestay, Solo

This is a story about a group of women who spent a night in a very old and full of history kind of place in their standard room. 

It all started in Stasiun Solo Balapan, almost late at night. Unfortunately, it rained, heavily. 

Sampai di luar stasiun, kami putuskan untuk menyewa mobil. Sayangnya, pelayanan yang kurang memuaskan dan mobil yang tak kunjung datang, membuat kami tak sabar. Kami pun memesan 2 grab car untuk membawa kami ke Cakra Homestay.

Di perjalanan, suasana malam nan gelap yang diselimuti hujan membuat kota Solo tampak lengang.

Kami pun tidak banyak berbicara selama perjalanan, sampai akhirnya tiba di depan gang dengan gapura bertuliskan Jl. Cakra II. Tidak terlihat oleh kami Cakra homestay.

Sepintas, saya pun teringat hasil surfing di dunia maya, dimana saya temukan bahwasanya Cakra homestay ini sudah berusia ratusan tahun dengan sejarahnya yang panjang. It was a batik factory, hundred years ago. It is a very old building, 200 years old to be precise. Dan bagi saya, bangunan tua berarti antik, penuh misteri, dan sedikit menyeramkan. Dan, lagi, saya merupakan salah satu orang yang memilih homestay ini sebagai tempat menginap kami di Solo, hahahaha.

Di tengah hujan yang semakin deras, kami pun beranjak masuk ke dalam gang. Sampai tiba-tiba kami tersadar, ada barang yang tertinggal di dalam grab car yg kami naiki tadi.

Alhasil, sebagian dari kami lanjut mencari Cakra homestay, sementara lainnya menunggu grab car tadi.

Hujan turun semakin deras. Suasana gang yang gelap dan juga sepi, udara yang dingin, ditambah kerlip halilintar sesekali, dan suara derap langkah kaki kami yang menginjak genangan air, membuat malam itu terasa ngeri.

Berada di dalam gang dengan tembok di kanan kiri, dan bangunan yang tampak tua, membuat suasana terasa semakin mencekam.

Sampai akhirnya kami tiba di depan gerbang besar yang tertutup rapat dengan tanda didepannya bertuliskan Cakra homestay, lengkap dengan tulisan jawa kuno.

Jujur, saat itu saya merasa ada semacam horror atau thriller vibes dari homestay ini.

Pintu itu akhirnya kami buka, kreeeeek…, gelap, dan sepi.

Kami pun masuk tanpa diundang dan menengok ke sana ke mari, mencari resepsionis, staff, atau siapapun yang bertanggung jawab di homestay ini.

Sampai akhirnya kami tiba di sebuah bagian rumah, semacam pendopo terbuka atau aula terbuka dengan penerangan lampu yang temaram.

Ketika tiba-tiba muncul seorang pria, sontak saya kaget, terlebih lagi pria ini tidak seperti bayangan saya akan seorang resepsionis yang ramah.

Sementara Mitha berbincang dan bernegosiasi dengannya (karena ternyata kamar kami belum siap), saya menyempatkan diri melirik kesana-kemari.

Bangunan tua. check!
Furniture kental budaya Jawa, bisa dibilang barang antik. check!
Lampu remang-remang. check!
Ruangan yang katanya sudah berusia ratusan tahun. check!
Foto-foto lama yang masih hitam putih (sepertinya keluarga pemilik homestay atau pekerja pabrik batik dulunya). check!

Dan saya pun diam seribu bahasa. Rasa tak tenang pun membuncah di dada.

Setelah perjuangan Mitha yang keren abis, walaupun membuat sedikit deg-degan karena sikap Mitha yang tegas ke staff homestay (Makasih Mith), akhirnya kami pun diantar menuju kamar.

3 kamar bersebelahan, hanya dipisahkan oleh kamar mandi. Dan saya penasaran akan seperti apa kamarnya (maklum kami memesan kamar yang harganya ekonomis).

Begitu masuk kamar, rasa deg-degan belum hilang. Bahkan jujur, saya merinding. Ruangannya sih cukup luas, berisi 2 tempat tidur (dengan seprai warna coklat dan 1 bantal), 1 meja rias, 1 lemari, 1 jemuran handuk, dan 1 kipas angin dengan jendela khas bangunan jawa tua (jangan harap untuk membuka jendela karena nyamuk akan menyerbu anda).

Ketika tiba waktunya mandi, dengan kondisi kamar mandi yang seadanya (walaupun kondisinya masih bisa diterima, mengingat saya pernah menginap di tempat yang kondisinya lebih mengenaskan, bahkan tidak ada MCK), saya pun masih tak tenang. Terbayang oleh saya, bahwa kamar mandi ini sudah ada sejak 200 tahun yang lalu. Merinding.

Selepas itu, saya pun sholat dan berdoa, sempat juga saya berdzikir dan membaca ayat kursi karena entah kenapa deg-degan dan merinding masih begitu terasa. Setelahnya, saya pun menjadi jauh lebih tenang.

Ketika akhirnya saya sendirian di kamar, di malam nan gerimis itu, saya pun memutar murrotal dan memasang earphone erat-erat di telinga. Dan perlahan-lahan tertidur pulas.

Pagi pun menjelang.

Rasa penasaran membuat saya sempat berkeliling sekitaran homestay. Terlihat kolam renang yang cukup jernih, kamar-kamar antik di lantai atas, pendopo, serta semacam menara antik di tengah homestay. Sayangnya saya tidak sempat menaikinya.

Dan cakra homestay pun, tidak terlalu terasa mencekam lagi.

Sungguh pengalaman luar biasa unik. Seakan-akan saya syuting adegan dalam sebuah film bergenre thriller kalo bukan dibilang horor, namun sekarang syutingnya telah selesai.

Tapi, entah apakah perasaan itu akan sama rasanya kalau saja saya datang di pagi hari atau saat terang benderang. Saya rasa, tidak akan semencekam saat datang di malam hari kala diguyur hujan. Pun begitu dengan kamar, entah apakah akan sama rasanya kalau saya menginap di VIP.

Tapi jujur, menurut saya pribadi, homestay ini memiliki potensi menjadi homestay yang unik dan menarik, andai saja dikelola dengan lebih baik lagi (dalam hal pelayanan, kebersihan, fasilitas dll.) Terlebih lagi, untuk turis mancanegara atau turis lokal yang mencari suasana khas Jawa yang didukung dengan lokasi yang strategis.

Akhirnya, kami pun menyudahi pengalaman menginap kami di Cakra homestay ini untuk kembali ke rutinitas kami di Ibukota Jakarta.

 

Advertisements

Coba Move On Sejenak di Cafe Move On

Finally, took a bit rest in a cozy cafe called Cafe Move On. Should I move on from this short trip...

Cafe Move On akhirnya menjadi tambatan terakhir kami di Yogyakarta setelah menikmati sunrise di Punthuk Setumbu, Mengagumi Borobudur di Magelang, dan kembali ke masa lampau di Taman Sari.

Seperti banyak cafe yang kini bertebaran di seantero kota besar di Indonesia, Cafe Move On ini pun menawarkan tempat yang cozy dan instagrammable dengan pilihan makanan, minuman, serta gelato yang lumayan rasanya.

Sambil menunggu waktu keberangkatan kami naik KA WijayaKusuma ke Solo, kami pun menikmati gelato, menyeruput kopi taro, dan sekadar bincang sana-sini sambil sesekali melirik hp. Mencoba untuk move on dari liburan kali ini yang akan segera berakhir…

Sekejap di Taman Sari Water Castle, Yogyakarta

Taman sari water castle was a royal garden for Sultan of Yogyakarta. It was mostly known as places for the Sultan’s wife and princesses.

Tempat ini menjadi perhatian para wisatawan setelah foto-fotonya tersebar di berbagai media sosial dan setelah menjadi lokasi foto Pre-Wedding putri Presiden Jokowi.

Saya sendiri termasuk ‘clueless’ tentang taman sari, kalau saja Mega tidak memberi pencerahan kepada saya saat itu juga. Yang ada dibayangan saya kala itu adalah sebuah taman yang dipenuhi bebungaan atau semacam tradisional spa khas yogyakarta.

Sesampainya disana, saya pun bingung, hendak menuju ke arah mana. Tidak ada peta yang jelas yang bisa mengarahkan kita. Tapi, tidak usah khawatir tersesat karena banyak masyarakat lokal yang bersedia menjadi guide untuk mengantar dan mengitari kawasan taman sari ini. Sementara kami memutuskan untuk mengandalkan diri sendiri dan google maps.

Tempat ini terasa sekali kesan sejarahnya. Bangunan-bangunan tua yang berdebu, dipenuhi lumut disana-sini ditambah dengan teriknya matahari.

Konon katanya, kolam di atas dulunya adalah tempat para permaisuri dan putri-putri raja mandi. Sementara di bawah ini adalah kamar mereka. 

Setelah puas menjelajahi tempat pemandian, kami pun mengikuti kemana langkah kaki membawa, secara kami tidak menggunakan jasa guide. 

Kami pun sampai di sebuah gedung tua yang dulunya merupakan masjid bawah tanah. 

Dan berakhirlah perjalanan kami, dikarenakan suatu dan lain hal. Kami pun bergegas menuju destinasi selanjutnya, yaitu Cafe Move On. 

 

 

Borobudur oh Borobudur

Setelah mengagumi keindahan sunrise alias matahari terbit di Punthuk Setumbu, kami melanjutkan perjalanan ke candi Borobudur yang dahulu kala pernah menjadi 1 dari 7 keajaiban dunia.

Saya pun bertanya-tanya, seperti apakah tampakan candi ini sekarang. Masih samar dalam ingatan saya, betapa megah dan menakjubkannya bangunan candi yang terbesar di seantero Indonesia ini.

Sesampainya di lokasi, kami dibuat terkejut dengan banyaknya rombongan anak sekolah di depan loket tiket. Perasaan sudah mulai tak enak. Ah, mungkin ramai di luar saja, mengingat hari masih pagi sekali.

Dengan berseri-seri, kami berjalan penuh arti menuju borobudur.

Dan langkah kami pun sempat terhenti. Bukan karena keindahan candi, tetapi karena tertutupnya keindahan candi oleh ratusan anak sekolah berbagai usia dengan baju seragam mereka yang berwarna-warni.

Sungguh waktu yang tidak tepat untuk mengunjungi candi borobudur. Borobudur oh borobudur… 

Karena teramat penuhnya pengunjung candi, sampai-sampai sulit sekali menemukan spot untuk sekadar mengabadikan kami dan candi.

Alhasil, kami harus mengeluarkan jurus-jurus pencarian angle terbaik yang bisa menghalau tampakan anak sekolah sebagai latar belakang foto kami.






After Sunrise: Bayangan, Kopi item, dan Gorengan

Setelah mengagumi sunrise di puncak bukit Punthuk setumbu, kami berniat untuk melanjutkan ke Gereja Ayam yang sedang nge-Hits akibat kisah asmara Rangga dan Cinta di Film Ada Apa Dengan Cinta 2.

Apa mau dikata, kostum dan waktu tidak mengijinkan. Kostum yang kami pakai tidak memungkinkan untuk melalui trek terpendek ke Gereja Ayam via Puncak Punthuk Setumbu.

Kami dihadapkan dengan 2 pilihan, yaitu lanjut ke Gereja Ayam melalui trek yang lebih ramah tapi memakan waktu lama atau segera turun bukit dan menuju candi Borobudur. Sepakat, kami memilih candi Borobudur dan mengambil langkah seribu menuruni bukit.

Bayangan kami ketika berjalan pun menjadi pemandangan yang tak kalah indahnya dengan sunrise.

Melihat ke kanan kiri, sebuah warung kecil di pinggir jalan menarik perhatian kami. Terbayanglah oleh kami untuk sebentar saja beristirahat.

Duduk, menyeruput kopi item berteman pisang goreng, tahu, dan mendoan sembari dihujani hangatnya sinar mentari.

Nikmat.

Tak terasa, puluhan gorengan habis dilahap lengkap beserta cabe rawitnya.

Kenyang? Tidak juga. Tapi kami harus segera menuju destinasi selanjutnya, Candi Borobudur.

 

 

Mengagumi Sunrise di Bukit Punthuk Setumbu

Setelah hanya kurang dari 3 jam kami tertidur lelap di The Packer Lodge Yogyakarta, dengan tampilan muka bantal, kami bersiap untuk mengejar sunrise di bukit Punthuk Setumbu. Meskipun lebih enak kalau mengejar jodoh. eeeaaa.

Rencana awal yang hendak berangkat jam 3-an pun mundur menjadi setelah Subuh. Bagus juga sih, jadi kami sempat sholat subuh di hostel.

Perjalanan menuju bukit punthuk setumbu yang kesohor itupun kami lalui dengan tertidur, separuh perjalanan maksud saya (menolak dibilang pelor).

Saat kami tiba di lokasi, pagi sudah menjelang. Kami bersegera ‘mendaki’ bukit menuju titik pengamatan sunrise terbaik di puncak bukit Punthuk Setumbu.

Tiba di puncak, kawasan ini sudah dipenuhi puluhan orang. Sang mentari pun sudah menunjukkan dirinya di kejauhan.

Indah. Sangat indah.

Sunrise, dengan pemandangan hijaunya hutan dan backsound suara burung serta owa di kejauhan membuatnya semakin terasa indah. Terlebih lagi ketika candi Borobudur masih terlihat nun jauh di sana.

Kagum.

Selama mentari perlahan bergerak naik semakin ke atas, saya dan entah berapa puluh pasang mata disana menganguminya.

The best sunrise I’ve seen it so far. Better than the feeling of watched sunrise from Puncak Prau, Bromo Mountain, Banjar Negara, or other places I’ve been visited before.

Di satu spot, saya dan Mega sibuk mengunci keindahan sunrise dengan mata dan video handphone ala kadarnya (dikarenakan cita-cita terpendam untuk membuat video timelapse sunrise).

Sementara Dwi, Shirley, Mitha, Irin, dan Nisa mengeksplor keindahan bukit Punthuk Setumbu dari spot yang berbeda.

Dan cerita pun berlanjut ke “After Sunrise: Bayangan, Kopi Item, dan Gorengan.”

The Packer Lodge Yogyakarta

Sesampainya di Stasiun Tugu, Yogyakarta dari Stasiun Solo Balapan, kami langsung mengandalkan google maps untuk mencapai lokasi The Packer Lodge Yogyakarta (Terima kasih Mitha sudah booking hostel ini untuk kami).

Konon katanya, hostel ini (The Packer Lodge Yogyakarta) merupakan salah satu hostel terbaik pilihan backpacker lokal dan internasional. Jadi, kami sedikit penasaran bagaimana rasanya menginap di hostel ini.

Beruntungnya kami, hostel ini dekat dari stasiun dan bisa dijangkau hanya dengan berjalan kaki. Ditambah lagi, lokasinya yang dekat dengan Jl. Malioboro yang terkenal seantero jagad raya itu. Jalan kaki pun menjadi pilihan yang terbaik, sambil menikmati pemandangan malam di sepanjang jalan Malioboro.

Dan saya pun tertegun. Entah sudah berapa lama sejak terakhir kali saya berada di jalan ini. Dan sungguh sangat amat berubah. Sangat padat dan ramai dengan lalu-lalang orang.(untung saya pernah merasakan Malioboro yang tidak terlalu ramai dan masih terasa sekali nuansa tradisionalnya).

Tak lama kemudian, The Packer Lodge Yogyakarta tepat berada di hadapan kami. Tampak sederhana dan minimalis. Benar-benar mencirikan hostel para backpacker.

Memasuki hostel, saya langsung jatuh cinta dengan tempat ini. Tampak minimalis dan sangat bersih disertai pelayanan yang sangat ramah.

Mengingat malam yang semakin larut dan mata yang sudah mulai meredup, ingin rasanya saya segera menuju ke kamar dan merebahkan diri untuk sekadar meluruskan badan.

Dan, inilah kamar kami. And I must say, I love it!!!

Hanya saja, berhati-hatilah kalau kita dapat tempat tidur yang posisinya di atas.  Pastikan kalau kita sudah benar-benar segar dan melek 100% baru turun ke bawah. Salah-salah atau lupa atau masih mengantuk sekali, kita bisa terjatuh.

Hostel ini patut saya acungi jempol 2. Karena apa? Karena membuat saya merasa seperti di rumah sendiri atau seperti anak kos.

Ditambah lagi dengan bersihnya area hostel, mulai dari front office, dapur, kamar, hingga kamar mandi (padahal ini kamar mandinya bareng-bareng dengan tamu lainnya). Sangat bersih. Dan bagi saya, kebersihan adalah yang paling utama, terutama kebersihan kamar mandi.

Jadi, saya pasti tidak segan untuk kembali menginap di hostel ini suatu saat nanti.

A very recommended one.

Sayangnya, kami hanya sempat menginap satu malam. Bahkan tidak bisa disebut satu malam juga, karena kami baru tidur jam 12 malam dan bangun jam 3 pagi untuk mengejar sunrise di Punthuk Setumbu.

 

 

 

Sejenak di Stasiun Solo Balapan

Salah satu stasiun yang paling terkenal seantero Indonesia adalah Stasiun Solo Balapan. Nama stasiun ini semakin terkenal ketika Didi Kempot menyanyikan lagu campur sari berjudul setasiun balapan.

Saya pun, ketika menjejakkan kaki di stasiun ini, spontan bersenandung, “Nang setasiun balapan, kuto solo sing dadi kenangan… kowe karo aku…” Ah… mendadak darah Jawa saya membuncah dan kemampuan berbahasa Jawa saya yang pas-pasan ini menjadi kebanggaan tersendiri.

Sambil menunggu kereta yang akan membawa kami ke Yogyakarta, saya pun sempat berkeliling dan mengagumi stasiun ini.

Lama kemudian, kereta kami tiba di stasiun dan siap membawa kami ke perjalanan selanjutnya.

Dan bahagianya kami, karena kereta kami tampak lengang alias kosong. Serasa 1 gerbong milik sendiri. Tetapi sungguh disayangkan, durasi perjalanan dengan kereta ini sangatlah singkat (kurang dari 2 jam).

Yogyakarta! Here we come!

Air Terjun Jumog

Perjalanan 7 kurcaci ini pun terus berlanjut. Setelah melihat jejak peninggalan jaman dahulu melalu Candi Sukuh dan Candi Cetho, kami pun berhenti di sebuah lokasi yang konon katanya terdapat air terjun bernama Jumog.

Masih berada di daerah Karanganyar, Jawa Tengah, air terjun ini belum seterkenal air terjun lainnya di seputaran Jawa Tengah.Untuk mencapai air terjun ini, kami tidak perlu mendaki ratusan tangga atau menyusuri jauhnya jalan setapak maupun menembus hutan. Cukup berjalan beberapa langkah, indahnya air terjun Jumog dan derasnya suara jatuhnya air pun telah terdengar. Segar…

Indah bukan? Ingin rasanya berlama-lama berada di sini dan menikmati rindangnya pepohonan disertai gemericik suara air mengalir.

Di tempat ini juga, kita bisa berenang di kolam yang sudah disediakan pengelola. rasanya sangat tepat jika anak-anak diajak ikut serta dan berenang di tempat ini.

Dan saatnya kami berpisah dengan air terjun Jumog.

Dan perjalanan 7 kurcaci ini pun terus berlanjut menuju Yogyakarta melalui Stasiun Solo Balapan.

 

 

Candi Cetho: Serasa di Atas Awan

Usai mengeksplorasi candi sukuh, kami segera menuju candi Cetho. Untuk mencapai lokasi candi, kami harus melalui perjalanan yang lebih berkelok-kelok, mendaki, dan cukup curam. Bahkan di kiri jalan tampak jurang yang dalam siap menyambut, kalau saja supir tidak berhati-hati.

Dari kejauhan, tampak gerbang candi Cetho menjulang tinggi. Kami pun terpaksa meninggalkan Mitha dan Shirley kemudian menuju loket pembelian tiket serta memakai kain khas kotak hitam putih yang biasa kita pakai saat memasuki kawasan candi Hindu.

Bentuk utama candi Cetho tidak terlihat dari depan. Hal ini dikarenakan bagian utama candi terletak dibagian paling tinggi dan paling belakang (mendekat ke puncak gunung). Klik di http://candi.perpusnas.go.id untuk mengetahui lebih detail mengenai sejarah candi Cetho.

Gerbang candi Cetho ini mengingatkan saya pada candi-candi yang kerap saya lihat di pulau Bali.

Memasuki komplek candi, semakin ke dalam, saya pun semakin kagum. Mengapa? Arsitektur candi sungguh memukau, tingkat presisi dan simetri setiap gerbang candi membuat saya terpana. Lurus sekali.

Sejenak mengingat kembali bahwasanya candi ini dibangun pada jaman Kerajaan Majapahit dan di daerah pegunungan pula. Bagaimana mereka mengukur serta membangunnya, pikir saya.

Kami pun menikmati setiap sudut, arca, dan relief dari candi ini. Sesekali berpikir kembali mengenai kisah yang ada dibalik sejarah candi ini.

Sampai kami dikejutkan dengan susunan bebatuan yang sekilas tampak seperti kelamin pria dan wanita, tepat dihadapan kami. Sontak saya pun kaget campur penasaran, ketika Mega membawa topik ‘itu.’ Ternyata oh ternyata, memang benar adanya, apa yang kami lihat adalah lambang kelamin pria dan wanita.

Menurut candi.perpusnas.go.id, susunan bebatuan tersebut melambangkan kesatuan wanita dan pria, dua makhluk yang berlawanan sifatnya namun tidak dapat dipisahkan satu sama lain sebagai perlambang jagad kecil (mikrokosmos) dalam diri manusia.

Semakin ke dalam dan ke atas, suasana mulai terasa ‘hening dan senyap.’ Sekelebat bau kemenyan pun merangsek kedalam hidung kami.

Maklum saja, candi ini masih aktif digunakan sebagai sarana beribadah umat beragama Hindu. Jadi, diharapkan para pengunjunh untuk menjaga penampilan, sikap, serta ucapan selama berada di lokasi.

Sebelum kami menuju tempat Shirley dan Mitha (yang dengan sangat terpaksa kami tinggal duluan),  kami pun menyempatkan diri untuk sekadar berfoto di hadapan gerbang yang menjulang tinggi berlatar belakang kabut (yang menutupi pemandangan di bawahnya). Suasana yang membuat candi ini serasa di atas awan.

So, bye-bye candi Cetho. One of a must-visit temples in Indonesia. Would love to comeback here again, after learning the history behind you.

Dan kami pun beranjak turun, bersegera menemui Shirley dan Mitha yang tampak sedang berisitirahat.

 

 

Melihat “Jejak Peradaban Inca dan Maya” di Candi Sukuh

Setelah menghabiskan semangkuk soto gading khas Solo (yang akan saya ceritakan nanti), dan dibuat terkejut dengan keberadaan sate brutu, kami pun segera meluncur menuju Karanganyar, tepatnya ke kewasan Candi Sukuh.

Perjalanan yang berkelok-kelok dan penuh tantangan disertai pemandangan yang tampak hijau membuat kami seakan lupa dengan segala penat di ibukota Jakarta.

Sampai di lokasi, loket penjualan tiket pun masih tutup — maklum kami tiba terlalu pagi. Tidak lama kemudian, kami pun diijinkan memasuki kawasan Candi yang tidak terlalu luas itu.

Di dalamnya, terlihat candi sukuh yang entah mengapa tampak mirip luar biasa dengan bangunan-bangunan peninggalan peradaban suku Inca dan Maya yang kerap saya lihat di TV maupun di buku-buku sejarah. Tetiba, saya ingin belajar sejarah lagi.

Berdasarkan apa yang saya baca, sampai saat ini belum diketahui apakah keberadaan candi sukuh ada hubungannya dengan peradaban Inca dan Maya. Jika ingin mengetahui lebih lanjut mengenai candi ini, silakan klik http://candi.perpusnas.go.id

Berikut penampakan kompleks candi sukuh yang berhasil kami abadikan.

Kami pun sempat menaiki candi sukuh dan menikmati indahnya pemandangan sekitar dari ketinggian.

Dan inilah aksi 7 kurcaci di sekitaran kompleks candi.

Dan kami pun dengan berat hati meninggalkan keindahan sebuah mahakarya peninggalan peradaban yang hadir jauh di masa lalu menuju mahakarya lainnya yang dikenal dengan nama candi Cetho.

 

Soto Gading Langganan Presiden RI

Ketika kami menjejakkan kaki di Solo, hal pertama yang kami lakukan adalah mencari sarapan pagi khas Solo. Tibalah kami di kedai soto yang konon katanya terkenal di seantero Solo karena seringnya kedai ini dikunjungi para pejabat serta beberapa Presiden RI.Kedai soto ini terlihat sangat sederhana dan sangat membumi. Tidak ada kesan restoran mewah maupun terkenal. Saya pun agak ragu-ragu pada awalnya. Lama-kelamaan, setelah saya mengamati kedai ini, mulailah saya percaya bahwa ini memang kedai soto langganan Presiden.

Foto-foto para pejabat dan presiden terpampang di dinding kedai. Suasana yang tradisional khas Solo pun terasa ketika kita memasuki bagian dalam kedai. Furniture serta perangkat makan beserta masaknya pun kental akan rasa tradisional. Bahkan kompor yang digunakan pun masih menggunakan bara api atau kayu bakar.

Kami pun tak sabar untuk segera mencicipi soto gading mereka. Dan ketika soto kami akhirnya disajikan, saya pun terkejut karena porsinya yang terbilang kecil. Mungkin karena saya memang porsi makannya yang besar. Dua mangkok pun tak akan kenyang, pikir saya. Untungnya ada banyak ‘cemilan’ tambahan model sate-satean. Nyam.

Dan kami pun segera menyantap soto gading dengan sangat sigap dan cepat. Sedap. Gurih dan nikmat.

 

Dimulainya Sebuah Kisah di Stasiun Jebres, Solo

Sore itu, hari terakhir sebagian dari kami menunaikan tugas sebagai seorang guru. Kami pun bergegas menyudahi rapotan tepat pada waktunya.

Dari kami bertujuh (saya, Dwi, Shirley, Irin, Mega, Mitha, dan Nisa), 3 melaju dari tempat yang sama. 1 dari Kelapa Gading. 1 dari kuningan. 1 dari sebuah kantor penerbitan.

Abang gojek pun menjadi pilihan. Ditemani hujan rintik-rintik, saya pun berpacu dengan waktu menuju titik pertemuan di stasiun senen.

Pasrah, jikalau saja saya tertinggal kereta. Mengingat saya paling akhir berangkat menuju lokasi.

Benar saja, sebagai orang terakhir yang tiba, lega rasanya. Kami pun menunaikan kewajiban sebagai muslim sebelum akhirnya menaiki kereta yang akan membawa kami ke dalam sebuah kisah singkat perjalanan di Solo – Jogja.

Berbekal tiket KA ekonomi (maklum ceritanya backpackeran alias penghematan). Saya pun tidak merasa ketidaknyamanan (1 kursi isi 3 orang) karena lelap tertidur akibat minggu yang melelahkan sebelumnya.

Matahari belum nampak di kejauhan ketika kami tiba di stasiun Jebres.

Menunggu. Satu-satunya yang bisa kami lakukan sampai driver menjemput kami semua.

Dan disinilah kisah kami bertujuh (sudah semacam 7 kurcaci) dimulai, di Stasiun Jebres, Solo, Jawa Tengah.

 

 

Kisah kami berlanjut menuju Kedai Soto Gading I (yang konon katanya sering disambangi Presiden Jokowi) kemudian Candi Sukuh dan Candi Cetho.

Pantai Pegadungan Gigi Hiu yang Tak Akan Pernah Terlupakan

Pertama kali mengetahui tentang “surga tersembunyi” ini dari sebuah majalah keluaran maskapai Sriwijaya rute Silangit (DTB)—Jakarta CGK). Saat itu, spontan kami (saya dan Dwi) terkesima dengan foto penampakan Pantai Pegadungan Gigi Hiu berlatarbelakang matahari tenggelam alias sunset.

Indah. Begitu pikir kami.

Sangat Indah.

Sangat teramat indah dan memesona. Hingga akhirnya kami meniatkan diri untuk mengunjungi pantai itu di trip kami selanjutnya.

Senin, mentari pagi pun menjelang namun enggan menunjukkan batang hidungnya. Teluk Kiluan diguyur hujan. Langit pun menghitam. Deburan ombak pun semakin keras terdengar karena angin yang cukup kencang.

Sedih. Kecewa.

Setelah menghabiskan hari Minggu di lokasi homestay karena cuaca yang sama, kami pun berandai-andai akankah hari Senin ini berakhir sama. Tapi apa mau dikata, cuaca bukanlah perkara manusia. Maka, doa menjadi satu-satunya pilihan kami saat itu.

20161003_061315

Menanti redanya sang hujan

Setelah menikmati sarapan pagi ditemani dengan kopi item khas Lampung hasil gilingan sendiri dan dibumbui dengan obrolan bersama pak Khairil (pemilik homestay dan orang yang membantu trip kami di Teluk Kiluan), hujan pun mereda. Dan tibalah saatnya kami menuju Pantai Pegadungan Gigi Hiu atau Batu layar yang kami impi-impikan dahulu.

Untuk menuju pantai ini, Pak Khairil menyarankan kami untuk naik ‘ojek.’ Saat itu, kami ber-5 sama sekali tidak membayangkan jalur seperti apa yang akan kami tempuh. Yang kami tahu hanyalah lokasinya cukup jauh, terpencil dan jalannya berbatu.  Dibutuhkan sekitar 1,5–2 jam untuk mencapai lokasi. Maka, bersemangatlah kami.

Selama ini, para traveler, para fotografer, para blogger, dan para jurnalis yang mengangkat cerita mengenai Keindahan Pantai Pegadungan Gigi Hiu ini luput dari menjelaskan bagaimana perjuangan mereka hingga akhirnya bisa menikmati keindahannya.

Awalnya, rute yang kami lalui sama seperti rute ketika kami datang ke teluk Kiluan. Setelah keluar dari gapura teluk Kiluan, dimulailah perjuangan kami. Awal dari perjalanan yang sungguh tak terbayangkan, menantang, dan mamacu adrenalin, sekaligus memacu jiwa religious saya. Bagaimana tidak, sepanjang perjalanan, tak henti-hentinya saya berdoa atau berdzikir dalam hati.

Sungguh tak terbayangkan. Speechless.

img-20161004-wa0263-1Jalan yang semestinya untuk didaki. Jalan yang semestinya diperuntukkan bagi motor-motor off road atau mobil-mobil off road. Kali ini kami lalui bersama pengendara motor yang sebagian masih anak SMU beralaskan sandal jepit, sandal gunung, dan sepatu bot dengan motor andalan mereka yang sangat amat jelas adalah motor biasa, bukan motor off road.

20161003_125307Berbagai jenis jalan kami lalui. Mulai dari yang penuh batu besar, batu kecil, jalanan aspal, beton, tanah, lumpur, rumput, sebut saja. Semua jalanan ada di sini. Mulai dari yang di tengah-tengah perkampungan, di pinggir pantai, ditengah hutan hingga menyeberang jembatan pun kami lalui.

20161003_131414Ditambah kondisi cuaca yang tidak bersahabat. Alhasil, kami pun ditemani hujan, kabut, dan angin dingin.

Jalanan mendaki, menurun, dan berliku-liku terus berulang hingga kami sampai di lokasi. Dan ketika saya tuliskan mendaki juga menurun, bayangkan dengan sudut kemiringan lebih dari 45 derajat dengan kondisi jalan yang saya sebutkan di atas. Menegangkan dan melelahkan.

Berkali-kali kami tergelincir, ada yang terjatuh, saling mendorong, hingga terpaksa kami ‘minta atau diminta’ turun dari motor karena sulitnya medan yang kami tempuh.

Bahkan bagi Mega, yang notabene saya nobatkan sebagai anak gunung sejati (entah sudah berapa banyak gunung di Indonesia yang ia daki) merasa ‘sangat terkesan dan seru’ dengan perjalanan ini. Padahal ia sudah pernah menjejakkan kaki di trek Semeru dan Rinjani.

Ketika akhirnya kami diyakinkan oleh para bikers bahwa kami sudah tiba di lokasi, rasa lega dan haru pun membuncah dihati. Kami selamat sampai di sini.

Namun tampaknya perjuangan belum usai. Kami masih harus berjalan kaki melalui pinggir pantai. Melewati karang, bebatuan, dan pinggir hutan.

20161003_103334 20161003_103822 20161003_104454 20161003_105301Hingga akhirnya, dihadapan kami, terpapar dengan jelasnya, susunan batu karang yang Nampak layaknya Batu Layar atau Gigi Hiu. Sesekali dihantam keras oleh deburan ombak.

20161003_110146 img-20161005-wa003620161003_115356Indah. Begitu pikir kami.

Sangat Indah.

Sangat teramat indah dan mempesona. Sampai-sampai kami lupa sejenak perjalanan menegangkan tadi.

img-20161004-wa026720161003_110434Tak mau kembali, pikir kami.

Mengingat kami harus melalui jalan yang sama tadi.

Dan kami pun, menikmati hasil perjuangan hari ini, dari puncak salah satu karang di gugusan karang Gigi Hiu atau batu Layar ini. Mencoba mensyukuri dan merekam semua keindahan di sejauh mata memandang untuk kemudian diawetkan menjadi memori Pantai Pegadungan Gigi Hiu yang Tak Akan Pernah Terlupakan.

img-20161004-wa026520161003_113605img-20161005-wa003420161003_115749

 

Terima kasih saya ucapkan untuk biker yang terpaksa saya percayakan keselamatan saya selama perjalanan, yaitu Wawan. Cerita mengenai Wawan akan ada di lain kesempatan. Respect saya buat kamu. Pelajar kelas 2 SMUN bertubuh kecil namun sekuat dan setangguh baja. terima kasih tidak membuat saya jatuh, meskipun lebam biru biru tak terhindarkan di sekitaran telapak kaki saya.

Dari Merak ke Kiluan

Term Break! Akhirnya hari yang kami tunggu-tunggu tiba juga. 3 Bulan yang lalu tepatnya, kami berencana mengunjungi destinasi wisata yang ada di Lampung. Target kami kala itu adalah Teluk Kiluan, Laguna, Pantai Pegadungan Gigi Hiu, dan Pulau Pahawang serta pulau-pulau kecil di sekitarnya dalam waktu 3 hari 2 malam.

Hari itu, Sabtu dini hari, kami ber-5 bertemu di depan loket tiket ASDP Indonesia ferry di Pelabuhan Merak. Waktu menunjukkan pukul 3 lewat. Telat 1 jam dari rencana kami semula. Akhirnya, kami pun membeli tiket seharga IDR 13.000 untuk sekali jalan. Mengingat kondisi cuaca yang tidak begitu baik dan proses bongkar muat yang cukup memakan waktu, kapal ferry yang kami tumpangi pun berlabuh sekitar pukul 4 pagi dan bersandar di Pelabuhan Bakauheni sekitar pukul 7 pagi.

img-20161002-wa0004

20161002_070905

Pelabuhan Bakauheni, Lampung

Sesampainya di Pelabuhan, mobil jemputan kami pun siap mengantarkan kami ke Teluk Kiluan. Perjalanan dari Pelabuhan menuju Teluk Kiluan terbilang cukup jauh. Belum lagi jalanan yang kami lalui penuh tantangan. Mulai dari jalanan yang rusak, penuh, air, berlumpur, berbatu, hingga berlubang, dan percayalah itu bukan lubang biasa. Jika anda berniat ke Teluk Kiluan menggunakan mobil sedan atau mobil yang rendah alias ceper, sebaiknya lupakan saja. Ada baiknya anda menggunakan mobil yang kuat untuk off road.

Mendekati Teluk Kiluan, perjalanan kami bagaikan perjalanan ke Puncak, atau perjalanan dari Bandara Silangit ke Danau Toba. Berliku-liku, di sepanjang pinggir bukit, dihiasi pemandangan pepohonan yang rimbun nan hijau. Tidak tampak penerangan di beberapa bagian. Di Kejauhan, teluk kiluan pun dengan sombongnya memamerkan keindahannya.

Tak lama kemudian, kami disambut oleh gerbang atau gapura yang menandakan tibanya kami di teluk kiluan. Di sepanjang perjalanan menuju homestay Iril (sang pemilik bernama Pak Khairil), kami mendapati sejumlah rumah khas Bali. Dengan gapura batu dan tempat ibadah di dalamnya. Sempat terpikir, “apakah saya di Bali atau di Lampung ya?”

20161002_142241img-20161004-wa0105Kami pun tiba di homestay yang letaknya tepat di depan teluk Kiluan. Suara ombak dengan nyaringnya menggetarkan pendengaran saya. Hembusan angin sepoi-sepoi dengan halusnya menerbangkan ujung kerudung saya. Nikmatnya. Ademnya. Ucap hati saya.

20161002_142533 20161002_142617 Dan kami pun, tak sabar untuk menjelajahi indahnya salah satu bagian bumi Indonesia ini selama 3 hari 2 malam. What a short getaway.

Baca juga:
Pantai Pegadungan Gigi Hiu yang Tak Akan Pernah Terlupakan

Warna-Warni Lampion di Langit Pulau Cipir, Kepulauan Seribu

Perjalanan kami di kepulauan seribu tidak hanya berakhir sampai belajar sejarah di Pulau Cipir. Airis project menawarkan paket di mana kami bisa mendapat pengalaman menerbangkan lampion ke langit Pulau Cipir. Seperti yang kami tuliskan sebelumnya di postingan Kepulauan Seribu: Benteng Martello di Pulau Kelor bahwa Airis membanggakan dirinya sebagai perintis EO yang melakukan pelepasan lampion pada saat sunset di kepulauan seribu.

Sunset pun mulai terlihat di kejauhan dari dermaga kecil Pulau Cipir.

Kami pun bersiap-siap menyalakan lampion dan melepaskannya ke udara. Tapi ternyata, tidak semudah yang ada di bayangan. Kegagalan pun terjadi, 2 lampion gagal kami terbangkan. Dibutuhkan 2-3 orang untuk menyalakan lampion hingga ia siap dilepas ke udara. belum lagi kesabaran untuk menunggu hingga udara panas memenuhi bagian dalam lampion.

Dan lampion pun dilepaskan terbang menjauh terbawa angin. Warna-warni lampion seketika memnuhi langit Pulau Cipir di atas lautan.

Dan berakhirlah perjalanan kami di kepulauan seribu untuk hari itu. Until next time, in another island.

Kepulauan Seribu: Pulau Cipir

Pulau ke-3 atau pulau terakhir yang kami kunjungi setalah Pulau Kelor dan Pulau Onrust adalah Pulau Cipir.

Pulau ini dikenal juga dengan nama Pulau Kahyangan atau Pulau Kuyfer merupakan 1 dari 3 pulau yang menjadi benteng pertahanan Belanda.

Selain itu, pulau ini juga difungsikan sebagai tempat perawatan dan karantina penyakit menular bagi para jemaah haji. Sebelum berangkat haji mereka dikarantina untuk cek kesehatan dan setelah pulang dari ibadah haji pun dikarantina kembali untuk cek kesehatan lagi.

Pada zaman kolonial, Belanda-lah yang memberi gelar Haji. Orang-orang yang pulang dari ibadah haji, dikarantina, dan jika kemudian lulus cek kesehatan maka mereka akan mendapat gelar Haji dari kolonial Belanda. Oleh karena itu, gelar Haji hanya ada di Indonesia. * Baru tahu kalau ternyata sebutan Haji merupakan warisan penjajahan belanda *

Di pulau ini banyak sisa reruntuhan Rumah Sakit dan kamar-kamar rawat pasien.

Selain itu, telah dibangun dermaga dan menara pengamatan di pulau ini.

Kepulauan Seribu: Sejarah Panjang Pulau Onrust

Pulau ke-2 yang kami sambangi setelah Pulau Kelor adalah Pulau Onrust.

Penjajahan terhadap Indonesia selama 350 tahun dimulai di Pulau yang kecil ini. Pada tahun 1619 armada dan tentara VOC berkumpul di sini untuk mempersiapkan penyerangan kota Jayakarta. Sejak itulah satu persatu kerajaan di nusantara jatuh oleh Belanda.

[Tulisan yang tertera di depan kantor pengelola Pulau Onrust]

Pulau ini memiliki sejarah yang amat panjang. Dikenal dengan sebutan Pulau Unrest atau Pulau Sibuk pada masanya dulu karena kondisi pulau ini tak pernah berhenti membongkar muat barang-barang komoditi dan kegiatan perbaikan kapal-kapal.

Memasuki Pulau Onrust, kami mendapat kesempatan belajar sejarah dari guide yang ada di Pulau Onrust. Ia mengajak kami berkeliling Pulau Onrust dan menceritakan kembali kejayaan dan kejatuhan Pulau Onrust.

Setelah mendengar sepenggal kisah sejarah tersebut, muncullah rasa ingin tahu saya hingga saya menemukan rentetan sejarah Pulau Onrust di website Jakarta.go.id

Pada zaman dahulu Pulau Onrust pernah menjadi tempat peristirahatan keluarga raja-raja Banten. Namun kemudian terjadi sengketa antara Kerajaan Banten dan Jayakarta hingga tidak pernah ada upaya penyelesaian. Jayakarta merasa memiliki pulau ini karena lokasinya dekat (di hadapan Kota Jayakarta), sedangkan Banten mempunyai hak atas pulau tersebut sebab seluruh Kepulauan Seribu merupakan bagian dari teritorial kekuasaannya. Saat Belanda datang dan gagal memonopoli perdagangan di Banten kemudian mengalihkan perhatiannya ke Jayakarta dengan menggunakan salah satu pulau di Teluk Jakarta, yakni Pulau Onrust.

Tahun 1610, terjadi perjanjian antara Belanda (diwakili L. Hermit) dan Jayakarta (diwakili Pangeran Jayakarta) yang isinya memperbolehkan orang-orang Belanda mengambil kayu untuk pembuatan kapal-kapalnya di Teluk Jakarta. Melihat banyak kapal yang berlayar ke Asia terutama Asia Tenggara dan tinggal beberapa lama, sering memerlukan perbaikan kapal akibat perjalanan panjang, maka VOC berniat untuk membangun sebuah galangan kapal di Teluk Jakarta. Niat tersebut diijinkan oleh pangeran dengan menggunakan Pulau Onrust.

Tahun 1613, VOC mulai membangun Pulau Onrust.

Tahun 1615, VOC mendirikan sebuah galangan kapal dan sebuah gudang kecil. Selain sebagai galangan kapal, Jan Pieterzoon Coen mengharapkan Onrust menjadi koloni sehingga VOC mengirim keluarga Cina ke Onrust dengan segala fasilitasnya.

Tahun 1618, Coen menjadikan Onrust sebagai pulau pertahanan terhadap akibat memuncaknya ancaman Banten dan Inggris. Pembangunan sarana fisik terus dilakukan.

Tahun 1656, dibangun sebuah benteng kecil bersegi empat dengan 2 bastion (bangunan yang menjorok keluar berfungsi sebagai pos pengintai).

Tahun 1671, diperluas menjadi benteng persegi lima dengan bastion pada tiap tahap sudutnya namun tidak simetris yang semuanya terbuat dari bata dan karang.

Tahun 1674 dibangun gudang-gudang penyimpanan barang, gudang penyimpanan besi dan dok tancap yang semuanya dikerjakan oleh 74 tukang kayu dan 6 tukang lainnya. Pada tahun yang sama dibangun sebuah kincir angin untuk keperluan penggergajian kayu.

Tahun 1691–1695, dibangun sebuah kincir angin yang kedua, terdapat 148 abdi kompeni dan 200 budak.

Tahun 1800, Inggris melakukan blokade terhadap Batavia, dan pertama kali mengepung Onrust dan sekitarnya. Semua bangunan yang terdapat dipermukaan Onrust tersebut dimusnahkan.

Tahun 1803–1810, Belanda merencanakan pembangunan kembali atas Onrust sesuai dengan rencana DM. Barbier.

Tahun 1810, selesai dibangun, Pulau Onrust dihancurkan lagi oleh Inggris dan menduduki Onrust sampai 1816.

Tahun 1827, Pulau Onrust baru mendapat perhatian lagi dan pada tahun 1828 pembangunan dimulai dengan mempekerjakan orang-orang Cina, dan tahanan. Dan 1848 kegiatan berjalan kembali.

Tahun 1856 arena pelabuhan ditambah lagi dengan sebuah dok terapung yang memungkinkan perbaikan kapal laut. Setelah Pelabuhan Tanjung Priok dibangun tahun 1883, Onrust hilang perannya dalam dunia perkapalan dan pelayaran.

Tahun 1905, Onrust mendapat perhatian lagi dengan didirikannya stasiun cuaca di pulau ini dan Pulau Kuyper (Cipir).

Tahun 1911–1933, Onrust diubah fungsinya menjadi karantina Haji bagi orang-orang yang hendak berangkat ke mekah dan kembali dari Mekah.

Tahun 1933–1940, Onrust dijadikan tempat tawanan para pemberontak yang terlibat dalam “Peristiwa Kapal Tujuh” (Zeven Provincien).

Tahun 1940, Onrust dijadikan tempat tawanan orang-orang Jerman yang ada di Indonesia, diantaranya Stenfurt, mantan Kepala Administrasi Pulau Onrust.

Tahun 1942, setelah Jepang menguasai Batavia, Onrust dijadikan penjara bagi para penjahat kriminal kelas berat.

Tahun 1945, Pada masa Indonesia merdeka, pulau ini dimanfaatkan sebagai Rumah Sakit Karantina terutama bagi penderita penyakit menular di bawah pengawasan Departemen Kesehatan RI hingga awal 1960-an.

Tahun 1960–1965, Onrust dimanfaatkan untuk penampungan para gelandangan dan pengemis, selain itu juga dimanfaatkan untuk latihan militer.

Kemudian, Pulau ini terbengkalai, dianggap tak bertuan. Pada tahun 1968 terjadi pembongkaran dan pengambilan material bangunan secara besar-besaran oleh penduduk atas ijin kepolisian setempat.

Tahun 1972, Gubernur KDKI Jakarta mengeluarkan SK yang menyatakan Pulau Onrust sebagai pulau bersejarah.

What an interesting and hurtful stories of Onrust.

Di pulau Onrust, fasilitas yang disediakan sangat lengkap. Mulai dari Musholla, toilet, restoran, hingga museum dimana kita bisa melihat kisah pulau onrust.

Places to Stay in Danau Toba: Sentosa Lake Resort

Saying goodbye doesn’t always mean the end. It is definitely the beginning of another adventure. Thank you #sentosalakeresort for the hospitality, comfort, great background view, and satisfying service. Would love to come back soon in the near future * my thought before leaving lake Toba *

Selama liburan kami di Danau Toba, Sumatera Utara, kami menginap di hotel di daerah Muara, Danau Toba. Hotel ini dikenal dengan mana Sentosa Lake Resort atau Hotel Sentosa. Hotel ini berada di Jl. Sisingamangaraja No.12, Muara Nauli, Tapanuli Utara, Sumatera Utara.

Hotel ini menyediakan fasilitas yang cukup lengkap. Mulai dari mobil yang bisa mengantar jemput kita dari bandara silangit hingga berbagai permainan air yang bisa kita coba tepat di halaman belakang hotel ini.

Sebagai info, sebagian danau toba terutama yang terletak dekat Tomok atau Parapat dan juga dekat tambak ikan Nila, kondisi airnya sangat memprihatinkan. Tidak jernih, terdapat banyak pakan ikan, beberapa sampah dan bau amis. * saya melihat sendiri dan mencium sendiri bau amis tersebut dalam perjalanan menuju tomok *  Nakhoda kapal feri yang kami tumpangi mengisahkan kalau sebagian besar keramba tersebut milik PT Aqua Farm Nusantara yang dimiliki pengusaha asal Swiss.

Di satu sisi, hal itu membawa nilai positif karena meningkatkan daya hidup masyarakat tapi di sisi lain membawa kerugian bagi ekosistem danau toba dan industri pariwisata danau toba karena mencemari danau. Semoga Pemerintah bisa segera menangani masalah ini sebelum pencemaran meluas ke seluruh danau toba.

Oleh karenanya saya merasa sangat beruntung bisa menginap di hotel di daerah Muara yang notabene airnya masih sangat jernih, jauh dari budidaya ikan keramba.

Kamar hotel yang disediakan juga beragam, mulai dari yang standar hingga VIP yang pemandangannya tepat mengarah keindahan Danau Toba.

Untuk makan, tidak perlu khawatir karena di hotel ini juga ada restorannya. Makanan yang disediakan pun beragam, tapi akan lebih baik kalau kita mencoba menu khas Sumatera Utara seperti sambal tombur,berbagai ikan bakar dan lainnya.

Lokasi hotel ini pun sangat strategis, tidak jauh dari bandara Silangit, berada tepat di bibir danau toba, dekat dengan pasar desa Muara sehingga ada ATM BRI di sini * maklum, agak sulit untuk menemukan ATM di sekitar danau toba kecuali di pasar atau kota yang ramai penduduk. *

Pemandangan indah yang tampak dari halaman belakang hotel ini yang paling membuat saya terkesan. Selain itu, air Danau Toba yang masih sangat jernih juga menarik perhatian saya.

Air Terjun Situmurun atau Air Terjun Binangalom

Setelah makan siang dan puas berbelanja oleh-oleh di Tomok, Pulau Samosir. Kami pun melanjutkan perjalanan menggunakan kapal motor ke salah satu air terjun terunik di Danau Toba. Disebut unik karena air terjun ini jatuh langsung ke Danau Toba, sementara air terjun lainnya hanya bermuara di Danau Toba. Untuk menikmati keindahan air terjun ini pun, kita hanya bisa menggunakan kapal alias tidak bisa melalui jalur darat.

Air Terjun Situmurun berada di Kecamatan Lumban Julu, Pulau Samosir, Sumatera Utara. Air terjun setinggi lebih kurang 70 meter dan memiliki 7 tingkatan ini juga dikenal sebagai air terjun Binangalom karena airnya berasal dari sungai di desa Binangalom.

Saat ini, pemerintah telah membangun dermaga kecil di dekat air terjun sehingga kapal bisa berlabuh dan para pengunjung bisa puas menikmati air terjun dari dekat atau bahkan berenang di bawah aliran air terjun * sayangnya kami tidak bawa perlengkapan berenang, well next time. *

IMG-20160713-WA0024

Sejarah Huta Siallagan dan Boneka Sigale-gale di Pulau Samosir

Hari kedua kami di Danau Toba, Tulang pun membawa kami mengunjungi salah satu destinasi wisata paling terkenal di Pulau Samosir, yaitu Huta Siallagan.

Huta Siallagan berada di Kampung Siallagan, Desa Ambarita, Kecamatan Simanindo, Pulau Samosir, Provinsi Sumatera Utara. Untuk memasuki objek wisata ini dikenakan tarif idr 2000/orang.

Menurut penuturan guide kami dari Sentosa Lake Resort, Huta Siallagan ini menyimpan sejarah kelam di masa lampau. mengapa kelam? Karena hukum adat-istiadat Batak pada masa itu terbilang cukup sadis.

Memasuki Huta Siallagan, kita akan disambut oleh sederetan rumah adat Batak yang konon katanya sudah berusia ratusan tahun. Semakin kita berjalan ke dalam kampong ini, terlihatlah sebuah rumah Raja batak, Pohon besar yang disebut Hau Habonaran, dan Batu Kursi (persidangan dan eksekusi) Pertama.

Batu kursi pertama, di bawah pohon kayu Habonaran, tepat di tengah Huta Siallagan  sebagai tempat rapat atau pertemuan Raja dan tetua adat membicarakan berbagai peristiwa di huta Siallagan dan sekitarnya, juga menjadi tempat persidangan atau tempat mengadili sebuah perkara kejahatan. Jenis hukuman yang diberikan oleh Raja Siallagan adalah Hukuman denda, penjara (pasung) dan hukuman mati (dipancung).

Lanjut berjalan ke bagian luar Huta Siallagan, kita bisa melihat Batu Kursi Kedua. Disini terdapat Kursi untuk Raja, para Penasehat Raja dan tokoh adat, dan masyarakat yang ingin menyaksikan pelaksanaan hukuman mati.

Penjahat dibawa oleh hulubalang raja ke tempat eksekusi dengan mata tertutup menggunakan Ulos, kemudian ia ditempatkan diatas meja batu besar setelah bajunya ditanggalkan. Kemudian, tubuhnya disayat dengan pisau tajam sampai darah keluar dari tubuhnya. 

Selanjutnya Sang Datu (eksekutor), sambil membacakan mantra-mantra, ia mengambil pedang dan dengan sekali tebas, kepala penjahat dipenggal hingga terpisah dari tubuhnya. Untuk memastikan penjahat sudah mati, sang Datu kemudian menancapkan kayu Tunggal Panaluan ke jantung penjahat. Jantung dan hati dikeluarkan dari tubuh penjahat dan darahnya ditampung dengan cawan lalu diminum bersama. Hati dan jantung penjahat dicincang dan kemudian dimakan oleh Raja dan semua yang hadir. MEnurut keprcayaan mereka dahulu, memakan bagian tubuh penjahat akan menambah kekuatan mereka.

Bagian Kepala dibungkus dan dikubur di tempat yang jauh dari Huta, sementara bagian tubuhnya dibuang ke danau. Raja kemudian memerintahkan warganya untuk tidak menyentuh air danau selama 1-2 minggu karena air masih dianggap berisi setan atau kekuatan gaib.

Selain batu kursi atau batu persidangan, di dalam hutta siallagan juga kita bisa melihat dan menari tor-tor bersama boneka sigale-gale.

Menurut sejarah, boneka sigale-gale dibuat ketika seorang raja kehilangan anaknya. Boneka kayu ini merupakan perwujudan anak sang raja. Boneka tersebut menemani sang raja hingga akhir hidupnya, dan pada saat kematiannya, boneka sigale-gale menari di samping jenazah sang raja.

Seiring waktu, boneka sigale-gale menari ketika ada anak laki-laki yang meninggal atau keluarga yang berduka karena tidak punya anak laki-laki. Mereka percaya bahwa arwah yang meninggal akan bersemayam di dalam sigale-gale.

Konon katanya, setiap orang yang membuat boneka sigale-gale harus menyerahkan seluruh jiwanya agar boneka itu bisa bergerak layaknya manusia hidup. Karena itu, siapapun yang membuat boneka sigale-gale akan meninggal sebagai tumbal setelah pembuatannya selesai.

Serunya Bermain Banana Boat di Danau Toba

Bermain banana boat mungkin terbilang biasa jika kita melancong ke destinasi wisata yang dipenuhi air, macam pantai, danau maupun waduk. Namun, akan menjadi luar biasa bila bermainnya di Danau Toba, salah satu danau terbesar dan terdalam di dunia * Tulang bilang kedalaman danau toba lebih kurang 1000 meter. *

Beruntungnya, hotel tempat kami menginap, Sentosa Lake Resort, menyediakan fasilitas permainan air. Mulai dari banana boat, donut boat, bebek-bebekan, speed boat dll.

Sore itu, setelah kami puas menikmati Air Terjun Janji kami pun bersemangat main banana boat. Pelampung pun segera dikenakan. Speedboat bernama GNB * singkatan dari Grace Ben Nuel yang merupakan murid kami di Sekolah Highscope Indonesia * pun sudah siap untuk menarik banana boat kami menyusuri  indahnya danau toba.

Pengalaman yang benar-benar indah. Berada di tengah-tengah danau toba, dimanjakan dengan pemandangan perbukitan yang hijau, sejuknya udara yang kami hirup, dinginnya air yang sesekali membasahi kami…

Meskipun Tulang sengaja melakukan manuver-manuver ajaib sehingga menyebabkan kami jatuh terhempas ke dalam danau toba, sebanyak 3 kali * 3x cukup yaaa Tulang, pleaseee… Jatuhnya si enak, usaha naik ke speed botany itu yang butuh perjuangan * Kami sangat menikmati permainan ini. Ingin rasanya terus bermain air. Ingin rasanya mencoba semua fasilitas permainan air yang ada, namun apa daya, sunset pun mulai terlihat di kejauhan.

Mau tidak mau, rela tidak rela, kami pun harus keluar dari sejuknya mengapung di danau toba.

 

Sejuknya Air Terjun Janji (Waterfall of Janji)

Salah satu destinasi wisata yang wajib dikunjungi di Danau Toba adalah Air terjun janji atau Waterfall of Janji.  Air terjun ini merupakan satu dari banyak sekali air terjun di kawasan danau Toba.

Air terjun ini berada di Desa Marbun Toruan, Kecamatan Baktiraja, Kabupaten Humbang Hasundutan (Humbahas), Provinsi Sumatera Utara

Air terjun setinggi lebih kurang 30 meter ini bermuara langsung ke Danau Toba. Pada saat kami menginjakkan kaki di dermaga, kami sudah disambut dengan aliran air terjun ini. * kebetulan saya dan teman-teman sudah disewakan kapal untuk menuju lokasi ini. meskipun jalur darat juga bisa dilalui untuk sampai di sini. *

Untuk menikmati air terjun janji tidak dipungut biaya alias gratis. Namun, di air terjun ini tidak diperbolehkan untuk mandi atau bermain air langsung di bawah air terjun. Bagi pengunjung yang ingin mandi atau bermain air, disediakan bilik khusus untuk pria dan wanita tepat di bagian bawah aliran air terjun.

Baca ini juga: