Lengkapnya Fasilitas di Skyworld Taman Mini Indonesia Indah

Akhirnya saya berkesempatan mengunjungi Skyworld di Taman Mini Indonesia Indah dengan 2 anak murid saya (Zada dan Gema) beserta ibunya dan adiknya Gema, yaitu Gemi.

Memasuki skyworld yang tiketnya dibanderol seharga 70 ribu rupiah ini, kami pun sangat tak sabar.  Di depan pintu masuk, kami disambut oleh manekin astronot yang tinggi menjulang. Pintu masuk pun didesain ala-ala pintu masuk space station atau stasiun antariksa.

Masuk ke dalam, standee astronot pun siap digunakan untuk berfoto ria.

Meneruskan perjalanan ke dalam skyworld, kami dimanjakan dengan suasana antariksa dan berbagai informasi yang berkaitan dengan antariksa. Mulai dari info mengenai bintang, galaksi, planet-planet, satelit, roket, dan lainnya.

Gema dan Zada pun dengan antusiasnya mengobservasi dan bertanya tentang apa yang dilihatnya.

Belum puas kami menjelajahi skyworld, petugas skyworld mengingatkan kami kalau pintu planetarium sudah dibuka dan kami bisa segera menyaksikan ‘pertunjukan’ mengenai antariksa.

Planetarium ini bisa dibilang seperti planetarium yang ada di TIM, namun versi mini. Ruangannya jauh lebih kecil, tapi cukup nyaman dan memuaskan. Di sini, mulailah anak-anak merasa tidak nyaman, terutama pada saat benda-benda antariksa ukurannya semakin membesar tepat di hadapan mereka.

Usai menikmati planetarium, kami pun segera menuju lokasi cinema 5D. Jujur, saya sedikit khawatir kalau Gema dan Zada akan mundur atau menangis di tengah pertunjukan. Meskipun sedikit merasa takut, tapi Gema dan Zada bisa menonton film 5D tersebut sampai akhir.

I am so proud of you both.

Maklum saja, film yang ditampilkan memberikan sensasi seakan-akan kita sedang naik pesawat dan rollercoaster, yang notabene, saya sebagai orang dewasa pun sedikit ter-challenge dan merasa adrenalinnya meningkat.

Lanjut menjelajahi skyworld,  sambil menuju pintu keluar untuk makan siang. Sebagai info, di skyworld ini sayangnya tidak ada food court atau restoran. Hanya ada semacam minimarket tempat membeli souvenir, minum, snack, atau sekadar pop mie. Yang pastinya, ga akan cukup untuk makan siang anak-anak ini dan juga kami.

Makan siang, sudah. Perut kenyang, pasti.

Kami pun kembali memasuki skyworld supaya anak-anak bisa bermain di climbing wall, playground, trampolin, dan pastinya berenang. Jangan lupa menunjukkan tiket skyworld supaya petugas mengizinkan kita masuk lagi.

And it’s time for children to have fun.

And the fun is over.

Jadi, bagi siapapun yang belum pernah ke skyworld, silakan datang dan menikmati segala fasilitas yang ada. Fasilitas yang terbilang cukup lengkap dan memuaskan untuk anak-anak.

Hanya saja, pilihlah waktu yang tepat untuk berkunjung. Karena biasanya dimanapun tempatnya, kalau musim liburan akan penuh dan ramai sehingga kurang nyaman bagi anak-anak.

Advertisements

Kepulauan Seribu: Pulau Cipir

Pulau ke-3 atau pulau terakhir yang kami kunjungi setalah Pulau Kelor dan Pulau Onrust adalah Pulau Cipir.

Pulau ini dikenal juga dengan nama Pulau Kahyangan atau Pulau Kuyfer merupakan 1 dari 3 pulau yang menjadi benteng pertahanan Belanda.

Selain itu, pulau ini juga difungsikan sebagai tempat perawatan dan karantina penyakit menular bagi para jemaah haji. Sebelum berangkat haji mereka dikarantina untuk cek kesehatan dan setelah pulang dari ibadah haji pun dikarantina kembali untuk cek kesehatan lagi.

Pada zaman kolonial, Belanda-lah yang memberi gelar Haji. Orang-orang yang pulang dari ibadah haji, dikarantina, dan jika kemudian lulus cek kesehatan maka mereka akan mendapat gelar Haji dari kolonial Belanda. Oleh karena itu, gelar Haji hanya ada di Indonesia. * Baru tahu kalau ternyata sebutan Haji merupakan warisan penjajahan belanda *

Di pulau ini banyak sisa reruntuhan Rumah Sakit dan kamar-kamar rawat pasien.

Selain itu, telah dibangun dermaga dan menara pengamatan di pulau ini.

Kepulauan Seribu: Sejarah Panjang Pulau Onrust

Pulau ke-2 yang kami sambangi setelah Pulau Kelor adalah Pulau Onrust.

Penjajahan terhadap Indonesia selama 350 tahun dimulai di Pulau yang kecil ini. Pada tahun 1619 armada dan tentara VOC berkumpul di sini untuk mempersiapkan penyerangan kota Jayakarta. Sejak itulah satu persatu kerajaan di nusantara jatuh oleh Belanda.

[Tulisan yang tertera di depan kantor pengelola Pulau Onrust]

Pulau ini memiliki sejarah yang amat panjang. Dikenal dengan sebutan Pulau Unrest atau Pulau Sibuk pada masanya dulu karena kondisi pulau ini tak pernah berhenti membongkar muat barang-barang komoditi dan kegiatan perbaikan kapal-kapal.

Memasuki Pulau Onrust, kami mendapat kesempatan belajar sejarah dari guide yang ada di Pulau Onrust. Ia mengajak kami berkeliling Pulau Onrust dan menceritakan kembali kejayaan dan kejatuhan Pulau Onrust.

Setelah mendengar sepenggal kisah sejarah tersebut, muncullah rasa ingin tahu saya hingga saya menemukan rentetan sejarah Pulau Onrust di website Jakarta.go.id

Pada zaman dahulu Pulau Onrust pernah menjadi tempat peristirahatan keluarga raja-raja Banten. Namun kemudian terjadi sengketa antara Kerajaan Banten dan Jayakarta hingga tidak pernah ada upaya penyelesaian. Jayakarta merasa memiliki pulau ini karena lokasinya dekat (di hadapan Kota Jayakarta), sedangkan Banten mempunyai hak atas pulau tersebut sebab seluruh Kepulauan Seribu merupakan bagian dari teritorial kekuasaannya. Saat Belanda datang dan gagal memonopoli perdagangan di Banten kemudian mengalihkan perhatiannya ke Jayakarta dengan menggunakan salah satu pulau di Teluk Jakarta, yakni Pulau Onrust.

Tahun 1610, terjadi perjanjian antara Belanda (diwakili L. Hermit) dan Jayakarta (diwakili Pangeran Jayakarta) yang isinya memperbolehkan orang-orang Belanda mengambil kayu untuk pembuatan kapal-kapalnya di Teluk Jakarta. Melihat banyak kapal yang berlayar ke Asia terutama Asia Tenggara dan tinggal beberapa lama, sering memerlukan perbaikan kapal akibat perjalanan panjang, maka VOC berniat untuk membangun sebuah galangan kapal di Teluk Jakarta. Niat tersebut diijinkan oleh pangeran dengan menggunakan Pulau Onrust.

Tahun 1613, VOC mulai membangun Pulau Onrust.

Tahun 1615, VOC mendirikan sebuah galangan kapal dan sebuah gudang kecil. Selain sebagai galangan kapal, Jan Pieterzoon Coen mengharapkan Onrust menjadi koloni sehingga VOC mengirim keluarga Cina ke Onrust dengan segala fasilitasnya.

Tahun 1618, Coen menjadikan Onrust sebagai pulau pertahanan terhadap akibat memuncaknya ancaman Banten dan Inggris. Pembangunan sarana fisik terus dilakukan.

Tahun 1656, dibangun sebuah benteng kecil bersegi empat dengan 2 bastion (bangunan yang menjorok keluar berfungsi sebagai pos pengintai).

Tahun 1671, diperluas menjadi benteng persegi lima dengan bastion pada tiap tahap sudutnya namun tidak simetris yang semuanya terbuat dari bata dan karang.

Tahun 1674 dibangun gudang-gudang penyimpanan barang, gudang penyimpanan besi dan dok tancap yang semuanya dikerjakan oleh 74 tukang kayu dan 6 tukang lainnya. Pada tahun yang sama dibangun sebuah kincir angin untuk keperluan penggergajian kayu.

Tahun 1691–1695, dibangun sebuah kincir angin yang kedua, terdapat 148 abdi kompeni dan 200 budak.

Tahun 1800, Inggris melakukan blokade terhadap Batavia, dan pertama kali mengepung Onrust dan sekitarnya. Semua bangunan yang terdapat dipermukaan Onrust tersebut dimusnahkan.

Tahun 1803–1810, Belanda merencanakan pembangunan kembali atas Onrust sesuai dengan rencana DM. Barbier.

Tahun 1810, selesai dibangun, Pulau Onrust dihancurkan lagi oleh Inggris dan menduduki Onrust sampai 1816.

Tahun 1827, Pulau Onrust baru mendapat perhatian lagi dan pada tahun 1828 pembangunan dimulai dengan mempekerjakan orang-orang Cina, dan tahanan. Dan 1848 kegiatan berjalan kembali.

Tahun 1856 arena pelabuhan ditambah lagi dengan sebuah dok terapung yang memungkinkan perbaikan kapal laut. Setelah Pelabuhan Tanjung Priok dibangun tahun 1883, Onrust hilang perannya dalam dunia perkapalan dan pelayaran.

Tahun 1905, Onrust mendapat perhatian lagi dengan didirikannya stasiun cuaca di pulau ini dan Pulau Kuyper (Cipir).

Tahun 1911–1933, Onrust diubah fungsinya menjadi karantina Haji bagi orang-orang yang hendak berangkat ke mekah dan kembali dari Mekah.

Tahun 1933–1940, Onrust dijadikan tempat tawanan para pemberontak yang terlibat dalam “Peristiwa Kapal Tujuh” (Zeven Provincien).

Tahun 1940, Onrust dijadikan tempat tawanan orang-orang Jerman yang ada di Indonesia, diantaranya Stenfurt, mantan Kepala Administrasi Pulau Onrust.

Tahun 1942, setelah Jepang menguasai Batavia, Onrust dijadikan penjara bagi para penjahat kriminal kelas berat.

Tahun 1945, Pada masa Indonesia merdeka, pulau ini dimanfaatkan sebagai Rumah Sakit Karantina terutama bagi penderita penyakit menular di bawah pengawasan Departemen Kesehatan RI hingga awal 1960-an.

Tahun 1960–1965, Onrust dimanfaatkan untuk penampungan para gelandangan dan pengemis, selain itu juga dimanfaatkan untuk latihan militer.

Kemudian, Pulau ini terbengkalai, dianggap tak bertuan. Pada tahun 1968 terjadi pembongkaran dan pengambilan material bangunan secara besar-besaran oleh penduduk atas ijin kepolisian setempat.

Tahun 1972, Gubernur KDKI Jakarta mengeluarkan SK yang menyatakan Pulau Onrust sebagai pulau bersejarah.

What an interesting and hurtful stories of Onrust.

Di pulau Onrust, fasilitas yang disediakan sangat lengkap. Mulai dari Musholla, toilet, restoran, hingga museum dimana kita bisa melihat kisah pulau onrust.

Kepulauan Seribu: Benteng Martello di Pulau Kelor

Kali ini kami mencoba ikut Open Trip untuk pertama kalinya. Instagram telah mengenalkan kami dengan Airis Project, yang membanggakan dirinya sebagai perintis EO yang melakukan pelepasan lampion pada saat sunset di kepulauan seribu.

Pulau pertama yang kami sambangi adalah Pulau Kelor yang dahulu dikenal dengan nama Pulau Kherkof . Pulau ini merupakan 1 dari 3 pulau di Kepulauan seribu yang menjadi benteng pertahanan kolonial Belanda pada masa penjajahan di Indonesia.

Pulau Kelor juga disebut sebagai Pulau Kuburan. Pada masa itu, banyak tahanan politik ataupun pribumi yang dihukum mati atau sakit dan dikubur di pulau ini.

Sesuai dengan namanya, Kelor, pulau ini luasnya terbilang kecil, persis seperti daun pohon kelor yang memang berukuran kecil.

Di pulau ini terdapat reruntuhan benteng Martello yang dibangun pada tahun 1849. Martello itu sendiri merupakan menara untuk tujuan militer yang biasanya dilengkapi dengan senjata yang bisa bermanuver 360 derajat. Martello ini sebenarnya bagian dalam dari benteng yg didirikan di Pulau Kelor.

Benteng ini digunakan Belanda untuk menahan serangan Portugis di abad ke-17. Bata merah yang menyusun benteng ini batanya berasal dari Tangerang dan bahannya lebih kuat dari bata sekarang. Bahkan benteng ini disebut sebagai benteng anti meriam.

Luas pulau kelor ini semakin hari semakin menyusut karena abrasi laut. Oleh karena itu, pemerintah membangun tanggul di sebagian sisi pulau dan juga menaruh pilar-pilar pemecah ombak untuk menjaga kelestarian pulau ini.

Fasilitas di pulau kelor ini terbilang cukup lengkap dan bersih. Musholla dan Toilet atau kamar mandi bilas tersedia di sini dan cukup bersih. Next time coming here, I’ll make sure to swim in the beach.

Mengenal Jenis Layang-layang di Museum Layang-layang Indonesia

Kala itu, liburan telah tiba. Waktunya kami mengeksplorasi dan memperkaya pengetahuan mengenai Indonesia.

Teringat akan permainan tradisional yang sering kami mainkan saat masih kanak-kanak, yaitu layang-layang. Kamipun beranjak menuju Museum Layang-layang Indonesia di daerah Pondok labu, Jakarta Selatan.

img_3074

Begitu masuk gerbang Museum, kami disambut dengan pemandangan yang sangat asri. Lanjut memasuki ruang dalam museum, kamipun terkagum-kagum.

img_3055

Meskipun ruangannya tidak terlalu besar, namun ruangan tersebut dimanfaatkan dengan sangat baik. Banyak sekali layang-layang super besar yang tergantung di dinding maupun di langit-langit. Ada juga layang-layang dalam kotak kaca ataupun yang diletakkan di lantai.

img_2996

img_3013

Kami semakin tidak sabar untuk mengetahui lebih lanjut mengenai museum ini. Pemandu wisata museum pun mulai menjelaskan asal muasal museum ini.

img_2952

Museum layang-layang didirikan oleh seorang pakar kecantikan bernama Endang W. Puspoyo yang memiliki passion terhadap dunia layang-layang. Beliau menekuni dunia layang-layang sejak tahun 1985 yang diawali dengan membentuk merindo Kites & Gallery. Sejak itu, beliau secara aktif mengikuti berbagai festival layang-layang baik di dalam maupun di luar negeri. Karena cintanya itu, maka beliau mendirikan Museum layang-layang pada tanggal 21 Maret 2003 untuk memperkenalkan layang-layang dari seluruh daerah di Indonesia.

Kami mendapat pengetahuan baru. Bahwa salah satu permainan tradisional Indonesia ini sudah ada sejak zaman prasejarah. Bahwa setiap daerah di Indonesia memiliki layang-layang khas daerahnya masing-masing.

Koleksi Layang-layang Purba

Layang-layang sudah ada sejak zaman prasejarah. Hal ini dibuktikan dengan ditemukannya Lukisan layang-layang dalam gua di Kabupaten Muna, Sulawesi Tenggara. yang dilukis dengan menggunakan getah daun.

img_3030

Layang-layang purba umumnya terbuat dari daun ubi hutan atau gadung. Kerangkanya terbuat dari bamboo dan benangnya terbuat dari serat daun pandan duri.

img_3008

Koleksi layang-layang 2 dimensi (2D) dari berbagai daerah di Indonesia

img_3001

img_3017

img_3011

img_3031

img_3045

img_3047

Koleksi layang-layang 3 dimensi (3D) yang ada di museum ini

Layang-layang berbentuk rangkaian lingkaran merupakan bagian dari tubuh layang-layang berbentuk naga yang panjangnya bisa mencapai 15-250 meter.  Sekilas mirip naga kecil (liong) kalau dalam pertunjukan barongsai. Jika diterbangkan, layang-layang naga biasanya dilengkapi alat yang bisa mengeluarkan asap merah dari mulutnya.

img_3040

img_2998

Sang pemandu juga bercerita kalau layang-layang yang terkenal dari Indonesia, terutama buatan workshop museum adalah layang-layang berbentuk ikan Koi.

img_2999

Layang-layang ini harganya mencapai 15 juta rupiah. Namun akhir-akhir ini, layang-layang bentuk koi tersebut sering diklaim asli buatan Malaysia.

img_2953

img_2978

img_2955

Berikut ini adalah alat yang digunakan pelayang jika mereka menerbangkan layang-layang berukuran sangat besar, seperti layang-layang 3D. Mereka akan duduk di alat tersebut sembari menerbangkan layang-layang.

img_3043

Koleksi layang-layang berukuran kecil

img_3000

 

Masih ingat rasanya bermain layang-layang?

Ingatkah sensasi keberhasilan menerbangkan layang-layang?

 

Operasional

Buka setiap hari, kecuali hari libur nasional
Buka: 09:00 – 16:00 WIB
HTM:  Rp. 15.000

Alamat

Jl H Kamang No.38, Pondok Labu, Jakarta Selatan 12450,
No. Tlp 021.7658075 –  021. 7505112
Fax. 021. 75904863