Kita, Prau, dan Koran Suara Pembaruan

This is a very super late post.

Masih ada hubungannya sama perjalanan kami, kita, ke Gunung Prau. Walaupun sudah di post dalam cerita “Momen in Prau” rasanya tak lengkap kalau melewatkan yang satu ini. Salah satu rekan pendaki aseek pendaki yang namanya Mega calon fotografer dan asli petualang ulung meluangkan waktunya untuk menulis artikel mengenai perjalanan kami di koran Suara Pembaruan * klik di sini buat lebih jelasnya *

And there we are, finally on the newspaper. Ihiiiy… * keren juga si Mega ini, pandai merangkai kata dan mengabadikan sebuah peristiwa, sebuah perjalanan bersama.* Setidaknya, perjalanan kami itu, akan terekam selamanya * lebay * tidak sekadar ada di dalam salah satu ruang yang tersimpan rapi dalam ingatan kita, tapi juga dalam lembaran koran Suara Pembaruan.

Semoga tulisan Mega, menginspirasi pembaca untuk mendaki Gunung Prau dan merasakan sendiri keindahan gunung Prau, permadani bertahtakan bunga Daisy.

Advertisements

Momen in Prau Day 3: Turun Gunung

Sekali lagi, kami mengangkat ransel. Menuruni perbukitan dan menjauhi puncak Gunung Prau. Kali ini jalur yang kami ambil, bukan jalur ketika kami mendaki. Why? Karena tujuan selanjutnya adalah telaga warna Dieng.

Jalur kali ini jauh lebih bersahabat. Ditemani hamparan bukit dan pepohonan. Indah. Terlebih lagi saat kami berjalan dibawah dan diantara pohon-pohon cemara.

Gosh, the air is sooooo damn fresh.

Ingin rasanya menghirup sebanyak-banyaknya. Dimasukkan kedalam botol kalau saja bisa. Sebagai bekal tuk di Jakarta ketika macet dan asap kendaraan mendera.

Here, life feels so good.

Being in Nature, feels so good.

Photocredit: Komplotan 13 (mega, fira, ika, melly, dwi, anda, fajar, ponco, amri, eko, engkong, ilham, arif)

Momen in Prau Day 3: Bersiap Turun Gunung

Sunrise sudah.

Waktunya masak lagi untuk sarapan sebelum turun gunung. Menu sarapan, ajaibnya adalah pisang goreng, cilok goreng, tempe mendoan, mie rebus, sarden dan nasi putih. Ditambah, sop buah buat di perjalanan pulang (untuk di jalur kalau kata para hiker expert ini).

Fira in action. Goreng pisang di puncak gunung Prau. A.m.a.z.i.n.g!

Dalam hati saya tersenyum penuh makna. Kapan lagi masak pisang goreng sama sop buah di ketinggian lebih dari 2500 mdpl.

Selesai makan, waktunya say goodbye sama puncak Gunung Prau. Antara mau tak mau. Segan tak segan.

Membayangkan Jakarta dengan segala kesibukannya, membuat enggan untuk melangkah. But hey, that’s my life. And this is some kind of weekend getaway to recharge my soul so I can live my  routine life to the fullest.

So, good bye Prau. Nice to see you. Gonna see you again, even though not in the near future. See you when we see you.

Photocredit: Komplotan 13 (mega, fira, ika, melly, dwi, anda, fajar, ponco, amri, eko, engkong, ilham, arif)

Momen in Prau Day 3: Sunrise di Puncak Gunung Prau

Minggu Pagi

Allahu akbar allahu akbar… Sayup-sayup bergema suara azan dari kejauhan. Alhamdulillah, pagi datang menjelang. Tapi sayangnya, dingin tak berkurang, masih dengan setia menusuk-nusuk kulit mencoba masuk lebih ke dalam.

Selesai sholat subuh, kami pun tertawa bersama, mengingat bagaimana kami menghabiskan malam ditenda yang unik ini. Bergelut dengan dingin, kesempitan, dan kemiringan

Semangat pun menggelora, tak sabar keluar memburu fajar. Sunrise bahasa kerennya. Betapa kagetnya, ternyata suara keramaian semalam, berasal dari para hiker lain yang sekarang tendanya bermunculan dimana-mana. Kapan datangnya ya, tanya saya dalam hati.

Belum hilang rasa kaget saya, panggilan alam tiba-tiba datang. Cepat-cepatlah kami (bukan saya saja ya) mencari semak-semak sebelum semuanya terlambat. Berbekal tisu basah, keberanian, doa semoga tidak ada orang yang melihat, dan putusnya urat malu, berserah dirilah kami kepada alam. Lega.

Sekarang, waktunya menanti sang mentari muncul dikejauhan. Berdiri melihat pemandangan yang indahnya tak terkira.

Dengan mentari yang malu-malu tapi mau mulai memperlihatkan sinarnya yang masih bercampur dengan kegelapan. Sungguh membuat hati dan seluruh jiwa, berteriak… Subhanallah, Allahu Akbar.

Betapa Allah menciptakan segala sesuatu sangatlah indah melebihi apa yang bisa dibayangkan manusia. Teramat indahnya, sampai-sampai rasa dingin yang merasuk sejak semalam, berangsur-angsur menghilang.

Padahal, suhu pagi ini mencapai 5 derajat celcius. Waduh, pantas saja dingin banget.  Membuat saya mengira-ngira, berapa suhu semalam. Mengingat malam pasti jauh lebih dingin daripada pagi ini.

Tibalah saatnya, mentari tersenyum jauh di timur sana. Para pemburu sunrise, riang gembira menyambutnya.

Ada yang jepret sana-jepret sini.

Ada yang terdiam seribu bahasa,

Banyak pula yang bertepuk tangan sambil berteriak kegirangan.

Yang terakhir ini agak bikin saya bingung juga sih. Memangnya konser apa ya, diberi tepuk tangan segala.

Kalau saya, tergolong yang tersenyum bahagia diam seribu bahasa. Bersyukur bisa menyaksikan pemandangan seindah ini, yang tidak mungkin saya temukan di Jakarta. Setidaknya, tidak pernah seindah ini.

Photocredit: Komplotan 13 (mega, fira, ika, melly, dwi, anda, fajar, ponco, amri, eko, engkong, ilham, arif)

Momen in Prau Day 2: Sunset di Puncak Gunung Prau

Sabtu Sore hingga Malam

Selesai masak, saatnya menyeruput kopi dan energen. Lalu memburu sunset. Jepret sana-jepret sini. Pose sana pose sini. Bersyukur banget saya, ternyata ada Mega dan Eko yang memotret dengan canggih bak potograper profesional. Memang pro sih bagi saya, lihat saja hasil jepretannya kalo tidak percaya.

Puas berpose, waktunya makan. Apa daya, makanan mulai mendingin, sebenarnya sih bisa dibilang mulai membeku. Entah berapa derajat suhu kala itu.

Angin dingin yang berhembus semakin menambah dinginnya udara malam. Saya, yang jelas-jelas dirumah tidak sanggup tidur dengan AC bersuhu 22 derajat, jelas amatlah kedinginan.

Teramat dinginnya, makan pun di dalam tenda dengan kostum lengkap bak orang bule di musim dingin. Pakaian yang tak akan pernah mungkin saya pakai di Jakarta.

Jaket tebal, sarung tangan, legging didalam celana panjang, kaos panjang, syal leher, kaos kaki dobel 2.  Itu saja saya masih menggigil kedinginan. Brrrrr…

Tapi, sebisa mungkin saya tahan. Betapa tidak, mimpi saya adalah mengelilingi Eropa di musim dingin, terutama ke Italia, Turin tepatnya, markas Juventus tercinta. Bagaimana survive di sana kalau dingin macam ini saja saya tidak bisa tahan. Pikir saya menyugesti diri sendiri.

Sayangnya, itu cuma ada dipikiran, kenyataannya saya tetep kedinginan. Untungnya saya tidak sendirian. 5 wanita cantik, semuanya tidak tahan, langsung merangsek masuk ke dalam sleeping bag.

Laksana ulat yang hendak menjadi kepompong. Tiba-tiba, datang kehangatan. masuk ke dalam sleeping bag itu rasanya seperti berada di dalam pelukan erat seseorang.

Semua bisikan dan godaan yang jelas dan nyaring terdengar dari luar, dimuntahkan begitu saja mental jauh, diluar tenda.

Para pria: “Energen nih anget.”

Para wanita: Diam, “Ga peduli.”

Para pria: “Wuiih bintangnya banyaaak, cakeep. Nyesel lo ga liat.”

Para wanita: Masih diam tak bergerak, “Bodo amat, di Jakarta juga ada bintang.”

Para pria: “Gila, pemandangannya ajiiib.”

Para wanita: tetap diam tak bergerak, “Nikmatin aja gih sendiri.”

Lalu, terlelaplah kami diam-diam diiringi suara tenda yang berkibar-kibar diterpa angin malam. Berusaha tidur melewati malam, malam terpanjang yang pernah saya rasakan sepanjang hidup saya.

Ah, for your info, our tent is very unique. Miring, kalau kata Mega mah, serasa tidur diperosotan.

Untung saya dipinggiran, agak cekung ke dalam, jadi tidak perlu tiba-tiba turun ditengah malam, seperti yang dialami Mega dan Fira. Yang sebentar-bentar merayap naik bak ulat beneran.

Sementara Dwi mengigau dan Ika yang diam tak bergerak, membuat kami khawatir tapi tak bisa berbuat apa-apa untuk dirinya saking dingin membatasi kemampuan kami untuk bergerak.

“Malam kian terasa, larut dan dingin… ” Ihiy, persis seperti lagu java Jive. Tapi bukan semakin sepi, saya merasa suasana di luar tenda sepertinya semakin ramai.

Entah ada apa di luar sana. Penasaran, tapi tak cukup kuat menggoda saya untuk bangun dan melihat ada apa gerangan.

Berulangkali saya mengintip jam tangan, “Kapan paginya ya?” Pikir saya. Yang berharap, mentari pagi segera muncul dan menghangatkan. Baru kali ini, saya berharap malam cepat berlalu. Biasanya berharap malam lebih panjang supaya bisa tidur lebih lama.

Photocredit: Komplotan 13 (mega, fira, ika, melly, dwi, anda, fajar, ponco, amri, eko, engkong, ilham, arif)