About mel_ly

An old lady named Melly. A happily preschool teacher who likes to see beauty in everything. A transient wanderer, proud bookworm, anime freak, music listener, fashion lover, curious eater, easy sleeper, Juventini forever and lifelong learner. A blogger who still has a long way to called oneself as a writer.

Lengkapnya Fasilitas di Skyworld Taman Mini Indonesia Indah

Akhirnya saya berkesempatan mengunjungi Skyworld di Taman Mini Indonesia Indah dengan 2 anak murid saya (Zada dan Gema) beserta ibunya dan adiknya Gema, yaitu Gemi.

Memasuki skyworld yang tiketnya dibanderol seharga 70 ribu rupiah ini, kami pun sangat tak sabar.  Di depan pintu masuk, kami disambut oleh manekin astronot yang tinggi menjulang. Pintu masuk pun didesain ala-ala pintu masuk space station atau stasiun antariksa.

Masuk ke dalam, standee astronot pun siap digunakan untuk berfoto ria.

Meneruskan perjalanan ke dalam skyworld, kami dimanjakan dengan suasana antariksa dan berbagai informasi yang berkaitan dengan antariksa. Mulai dari info mengenai bintang, galaksi, planet-planet, satelit, roket, dan lainnya.

Gema dan Zada pun dengan antusiasnya mengobservasi dan bertanya tentang apa yang dilihatnya.

Belum puas kami menjelajahi skyworld, petugas skyworld mengingatkan kami kalau pintu planetarium sudah dibuka dan kami bisa segera menyaksikan ‘pertunjukan’ mengenai antariksa.

Planetarium ini bisa dibilang seperti planetarium yang ada di TIM, namun versi mini. Ruangannya jauh lebih kecil, tapi cukup nyaman dan memuaskan. Di sini, mulailah anak-anak merasa tidak nyaman, terutama pada saat benda-benda antariksa ukurannya semakin membesar tepat di hadapan mereka.

Usai menikmati planetarium, kami pun segera menuju lokasi cinema 5D. Jujur, saya sedikit khawatir kalau Gema dan Zada akan mundur atau menangis di tengah pertunjukan. Meskipun sedikit merasa takut, tapi Gema dan Zada bisa menonton film 5D tersebut sampai akhir.

I am so proud of you both.

Maklum saja, film yang ditampilkan memberikan sensasi seakan-akan kita sedang naik pesawat dan rollercoaster, yang notabene, saya sebagai orang dewasa pun sedikit ter-challenge dan merasa adrenalinnya meningkat.

Lanjut menjelajahi skyworld,  sambil menuju pintu keluar untuk makan siang. Sebagai info, di skyworld ini sayangnya tidak ada food court atau restoran. Hanya ada semacam minimarket tempat membeli souvenir, minum, snack, atau sekadar pop mie. Yang pastinya, ga akan cukup untuk makan siang anak-anak ini dan juga kami.

Makan siang, sudah. Perut kenyang, pasti.

Kami pun kembali memasuki skyworld supaya anak-anak bisa bermain di climbing wall, playground, trampolin, dan pastinya berenang. Jangan lupa menunjukkan tiket skyworld supaya petugas mengizinkan kita masuk lagi.

And it’s time for children to have fun.

And the fun is over.

Jadi, bagi siapapun yang belum pernah ke skyworld, silakan datang dan menikmati segala fasilitas yang ada. Fasilitas yang terbilang cukup lengkap dan memuaskan untuk anak-anak.

Hanya saja, pilihlah waktu yang tepat untuk berkunjung. Karena biasanya dimanapun tempatnya, kalau musim liburan akan penuh dan ramai sehingga kurang nyaman bagi anak-anak.

Advertisements

Mr. Sunshine OST (Ongoing)

It is a much anticipated Korean drama for this year. As we all know, the writer (Kim Eun Sook) of this drama is very well known as a hit maker. All of her drama will have a high rating worldwide. Let me repeat, worldwide.

Just named it, Secret Garden, The Heirs, Descendant of the sun, and the latest one is Goblin. All of them have different plot, different setting, different genre etc. But all of them was high rating dramas and incredulously famous in Korea also abroad.

So, when the news about Mr. Sunshine came out, everybody is curious and really anticipating of the drama. Not to mention, the director also known for his great directing.

It was still in episode 2, but I really like it. Somehow, it reminds me of Chicago Typewriter which I love it to the bone. Same like Chicago Typewriter, the idea of a heroine with strong character is always great to watch. I have soft spot for this kind of dramas.

As expected, as a fully pre-produced drama, the cinematography and editing is a top notch. It was like watching some kind of movie instead of an episode of drama. The acting of the lead male is no doubt, off course amazing as always.

The only thing that bothers me is the story. I hardly understand the story since it related to Korean history. I need to watch it more than once to fully understand the story line. Not recommended for dram a lovers who only like a light and simple drama.

And what I like the most from most of her dramas is their original soundtrack (OST). Most of them are amazing song and instrumental music that really fit for the drama, for each and every scene.

I am still in love with the other 3 drama OST that I mention above. I definitely cannot wait to hear the 4th one from this new ‘masterpiece’ of her.

And, then there it is, a first OST from Park Hyo Shin’s voice which is a really great, powerful, and beautiful song. Oh my, I love his voice ever since he sings Snowflower as OST for winter sonata.

Now, let’s start with the OST list:

1. Park Hyo Shin – The Day

 

 

BLIBLI INDONESIA OPEN 2018: An Amazing Atmosphere

That week was exceptional. It was a week that full of enthusiasm, passion, and love for badminton. It was Indonesia Open 2018. It was a world class badminton competition and one of the most prestigious Super Series 1000, along with All England and China Open.

I am a huge fan of badminton. My whole families are. We never skipped to watch any match that was live on TV, at least as long as I remember. So, when I knew that Indonesia Open finally here, I was very excited to watch it in Istora Senayan.

Hari itu, tanpa rencana tanpa persiapan, saya mengajak mama menyaksikan Bibli Indonesia Open secara langsung di Istora Senayan. Maklum, saya tahu benar kalau beliau adalah penyuka badminton. Pada masa mudanya dulu, beliau suka ikutan main badminton di lingkungan RT. Beliau pun penggemar Rudy Hartono dan Icuk Sugiarto. Maka, saat itu juga beliau langsung berkata, Ayo!

Jadilah kami mengistora (istilah yang digunakan kalau kita nonton langsung di istora). Target saya hari itu adalah mendukung pasangan ganda putra Indonesia, Marcus Fernaldi Gideon dan Kevin Sanjaya Sukamuljo. Makanya saya tenang-tenang saja ketika kami sampai di lokasi sekitar pukul 2.

Karena kami tidak planning sebelumnya, saya pun segera mencari tiket on the spot. What a surprise, almost all ticket sold out. Padahal ini baru hari ke-2 yang bisa dibilang baru babak pertama. Amazing.

Memasuki Istora Senayan, kami disambut dengan gapura besar bertuliskan BLIBLI ARENA. Setelah melewati pengecekan oleh sekuriti, kami pun memasuki arena.WOW, JUST WOW!

Diluar ekspektasi saya. Jauh melebihi ekspektasi saya.

Area Istora Senayan, setelah di renovasi menjadi jauh lebih baik dari sebelumnya. Pihak penyelenggara pun menyulap Istora layaknya sebuah sportedutainment.

Saya serasa masuk ke dalam sebuah perhelatan akbar macam Asian Games atau Olimpiade. Semua ada di sini. Mulai dari dekorasi yang instagramable, hiburan berupa live music and game, info mengenai badminton,stand-stand sponsor, food court, atm sampai kids zone. Mau cari apa disini, just named it. It’s all here.

Membanggakan.

Dari luar Istora saja, atmosfer badminton sudah kental terasa. Sayapun tak sabar untuk segera masuk ke dalam istora.

Memasuki Istora, terdengar riuh renyah teriakan supporter sedang mendukung para pemain badminton kelas dunia. Saya pun tepat hadir di saat tunggal putri Indonesia, Gregoria Mariska Tunjung bertanding melawan Ratchanok Intanon (Thailand).

Ketika Gregoria memasuki lapangan, suara supporter memenuhi seisi Istora. Padahal, istora belum semuanya terisi penuh.Semakin sore, istora semakin dipadati penonton dan mendadak penuh. I wonder why?

Ahhhh I see. Ah iya, sebentar lagi pertandingan ganda putra nomor 1 di dunia, Marcus dan Kevin. Dan benar saja, sesaat menjelang pertandingan ganda putra kebanggaan Indonesia itu, hampir seluruh kursi, baik di kelas 2, 1, maupun VIP sesak oleh penonton yang mulai berteriak dengan yel-yel khas mereka, termasuk saya.

IN-DO-NE-SIA! Dung dung dung dung dung.

IN-DO-NE-SIA! Dung dung dung dung dung.

Dan ketika nama Marcus dan Kevin dipanggil untuk memasuki lapangan, sontak saja riuh gemuruh suara supporter memenuhi Istora.

Merinding.

Atmosfer penuh rasa nasionalisme dan bangga seakan membuncah di setiap penonton yang hadir kala itu. Ini baru hari ke 2. Apa kabar nanti ketika semifinal bahkan final. Merinding bulu kudukku hanya dengan sekadar membayangkannya.

Pertandingan pun dimulai, lautan supporter tak henti-hentinya memberikan dukungannya terhadap pasangan ajaib ini. Dan dalam waktu singkat, yang hanya 27 menit saja, mereka berhasil menumbangkan pasangan lawan dari Malaysia, yaitu Ong Yew Sin dan Teo Ee Yi.

What an amazing match. Amazing skill,spirit, smash, netting. I am speechless.

No wonder they are number 1 men double in the world of badminton. They definitely deserve it. The hard work had been paid.

They were playing in lightning speed. Not that I am exaggerate, but it is fact. I can’t even see the shuttle cock movement. Well, maybe I am a bit exaggerated. I was busy yelling “Marcus-Kevin and  Eeeaaa-Eeeaaa” while keeping my eyes on their movement.

Tepat rasanya kalau suporter badminton memberi julukan Kevin si pendekar bersenjata raket bertangan petir dengan kecepatan cahaya. Begitu pula dengan Marcus, yang bisa dibilang sebelas dua belas dengan Kevin. “Jenius. Ajaib. Super” kalo kata Oma Gill dan Steen.

What a player.

Selain pasangan Marcus dan Kevin, kami sempat juga melihat pertandingan Shi Yuqi, Tommy Sugiarto, Agatha Imanuela dan Siti Fadia Silva Ramadhanti, Fajar Alfian dan Muhammad Rian Ardianto, Li Jun Hui dan Liu Yuchen, Akane Yamaguchi, Takuto Inoue dan Yuki Kaneko.Intinya, ga rugi banget buat ngistora. Ga rugi banget buat dukung atlit kita secara langsung. Menang atau kalah, itu biasa. Dukungan yang tak hentinya atas perjuangan mereka, itu yang luar biasa.

Jadi, mari kita dukung atlit Indonesia berlaga di turnamen selanjutnya, yaitu Asian Games 2018. Sampai jumpa lagi!

IN-DO-NE-SIA!

 

 

 

Surga Buku: Big Bad Wolf Books Sale 2018

Kalau selama ini saya mengira toko buku ataupun perpustakaan sebagai surganya para penikmat buku, maka kali ini saya tambah satu lagi daftar surga bagi para penikmat buku, yang tidak lain dan tidak bukan adalah BIG BAD WOLF BOOKS SALE.

Gema even ini memang sudah lama terdengar di telinga saya dan sudah sering sliweran di timeline beberapa medsos saya. Akan tetapi, baru pada tahun ini saya akhirnya berhasil mengajak adik saya untuk mengunjungi even ini.

Kata-kata sale tentu saja yang menjadi daya tarik utama, terlebih lagi SALE BUKU LOKAL dan IMPOR. Tidak tanggung-tanggung, sale yang ditawarkan bisa mencapai 80%. WOW. Just WOW. Yang lebih gila lagi, even ini berlangsung 24 jam nonstop. Penasaran kan gimana rasanya baca buku, belanja buku jam 1-4 pagi dini hari. Saya, jelas penasaran.

Ketika sampai di lokasi, ICE BSD, saya yang notabene kutu buku dan ngaku-ngaku proud bookworm pun langsung terkesima dan tidak bisa berkata-kata melihat gundukan buku-buku di sejauh mata memandang. NEW BOOKS. EVERYWHERE! LITERALLY!

Rasanya ingin menangis. Sungguh.

Dan saya pun langsung menghirup dalam-dalam bau buku-buku baru, yang rasanya ingin saya masukkan semua ke dalam trolley saya, kalau saja saya tidak ingat harus melewati kasir untuk membawanya pulang.

Sayangnya, kepergian saya kali ini tidak terencana. Jadi, saya datang tanpa persiapan dana yang memadai. Alhasil, saya pun hanya bisa gigit jari dan bersumpah, bahwasanya tahun depan saya akan lebih siap lagi.

 

A Night in Cakra Homestay, Solo

This is a story about a group of women who spent a night in a very old and full of history kind of place in their standard room. 

It all started in Stasiun Solo Balapan, almost late at night. Unfortunately, it rained, heavily. 

Sampai di luar stasiun, kami putuskan untuk menyewa mobil. Sayangnya, pelayanan yang kurang memuaskan dan mobil yang tak kunjung datang, membuat kami tak sabar. Kami pun memesan 2 grab car untuk membawa kami ke Cakra Homestay.

Di perjalanan, suasana malam nan gelap yang diselimuti hujan membuat kota Solo tampak lengang.

Kami pun tidak banyak berbicara selama perjalanan, sampai akhirnya tiba di depan gang dengan gapura bertuliskan Jl. Cakra II. Tidak terlihat oleh kami Cakra homestay.

Sepintas, saya pun teringat hasil surfing di dunia maya, dimana saya temukan bahwasanya Cakra homestay ini sudah berusia ratusan tahun dengan sejarahnya yang panjang. It was a batik factory, hundred years ago. It is a very old building, 200 years old to be precise. Dan bagi saya, bangunan tua berarti antik, penuh misteri, dan sedikit menyeramkan. Dan, lagi, saya merupakan salah satu orang yang memilih homestay ini sebagai tempat menginap kami di Solo, hahahaha.

Di tengah hujan yang semakin deras, kami pun beranjak masuk ke dalam gang. Sampai tiba-tiba kami tersadar, ada barang yang tertinggal di dalam grab car yg kami naiki tadi.

Alhasil, sebagian dari kami lanjut mencari Cakra homestay, sementara lainnya menunggu grab car tadi.

Hujan turun semakin deras. Suasana gang yang gelap dan juga sepi, udara yang dingin, ditambah kerlip halilintar sesekali, dan suara derap langkah kaki kami yang menginjak genangan air, membuat malam itu terasa ngeri.

Berada di dalam gang dengan tembok di kanan kiri, dan bangunan yang tampak tua, membuat suasana terasa semakin mencekam.

Sampai akhirnya kami tiba di depan gerbang besar yang tertutup rapat dengan tanda didepannya bertuliskan Cakra homestay, lengkap dengan tulisan jawa kuno.

Jujur, saat itu saya merasa ada semacam horror atau thriller vibes dari homestay ini.

Pintu itu akhirnya kami buka, kreeeeek…, gelap, dan sepi.

Kami pun masuk tanpa diundang dan menengok ke sana ke mari, mencari resepsionis, staff, atau siapapun yang bertanggung jawab di homestay ini.

Sampai akhirnya kami tiba di sebuah bagian rumah, semacam pendopo terbuka atau aula terbuka dengan penerangan lampu yang temaram.

Ketika tiba-tiba muncul seorang pria, sontak saya kaget, terlebih lagi pria ini tidak seperti bayangan saya akan seorang resepsionis yang ramah.

Sementara Mitha berbincang dan bernegosiasi dengannya (karena ternyata kamar kami belum siap), saya menyempatkan diri melirik kesana-kemari.

Bangunan tua. check!
Furniture kental budaya Jawa, bisa dibilang barang antik. check!
Lampu remang-remang. check!
Ruangan yang katanya sudah berusia ratusan tahun. check!
Foto-foto lama yang masih hitam putih (sepertinya keluarga pemilik homestay atau pekerja pabrik batik dulunya). check!

Dan saya pun diam seribu bahasa. Rasa tak tenang pun membuncah di dada.

Setelah perjuangan Mitha yang keren abis, walaupun membuat sedikit deg-degan karena sikap Mitha yang tegas ke staff homestay (Makasih Mith), akhirnya kami pun diantar menuju kamar.

3 kamar bersebelahan, hanya dipisahkan oleh kamar mandi. Dan saya penasaran akan seperti apa kamarnya (maklum kami memesan kamar yang harganya ekonomis).

Begitu masuk kamar, rasa deg-degan belum hilang. Bahkan jujur, saya merinding. Ruangannya sih cukup luas, berisi 2 tempat tidur (dengan seprai warna coklat dan 1 bantal), 1 meja rias, 1 lemari, 1 jemuran handuk, dan 1 kipas angin dengan jendela khas bangunan jawa tua (jangan harap untuk membuka jendela karena nyamuk akan menyerbu anda).

Ketika tiba waktunya mandi, dengan kondisi kamar mandi yang seadanya (walaupun kondisinya masih bisa diterima, mengingat saya pernah menginap di tempat yang kondisinya lebih mengenaskan, bahkan tidak ada MCK), saya pun masih tak tenang. Terbayang oleh saya, bahwa kamar mandi ini sudah ada sejak 200 tahun yang lalu. Merinding.

Selepas itu, saya pun sholat dan berdoa, sempat juga saya berdzikir dan membaca ayat kursi karena entah kenapa deg-degan dan merinding masih begitu terasa. Setelahnya, saya pun menjadi jauh lebih tenang.

Ketika akhirnya saya sendirian di kamar, di malam nan gerimis itu, saya pun memutar murrotal dan memasang earphone erat-erat di telinga. Dan perlahan-lahan tertidur pulas.

Pagi pun menjelang.

Rasa penasaran membuat saya sempat berkeliling sekitaran homestay. Terlihat kolam renang yang cukup jernih, kamar-kamar antik di lantai atas, pendopo, serta semacam menara antik di tengah homestay. Sayangnya saya tidak sempat menaikinya.

Dan cakra homestay pun, tidak terlalu terasa mencekam lagi.

Sungguh pengalaman luar biasa unik. Seakan-akan saya syuting adegan dalam sebuah film bergenre thriller kalo bukan dibilang horor, namun sekarang syutingnya telah selesai.

Tapi, entah apakah perasaan itu akan sama rasanya kalau saja saya datang di pagi hari atau saat terang benderang. Saya rasa, tidak akan semencekam saat datang di malam hari kala diguyur hujan. Pun begitu dengan kamar, entah apakah akan sama rasanya kalau saya menginap di VIP.

Tapi jujur, menurut saya pribadi, homestay ini memiliki potensi menjadi homestay yang unik dan menarik, andai saja dikelola dengan lebih baik lagi (dalam hal pelayanan, kebersihan, fasilitas dll.) Terlebih lagi, untuk turis mancanegara atau turis lokal yang mencari suasana khas Jawa yang didukung dengan lokasi yang strategis.

Akhirnya, kami pun menyudahi pengalaman menginap kami di Cakra homestay ini untuk kembali ke rutinitas kami di Ibukota Jakarta.

 

Coba Move On Sejenak di Cafe Move On

Finally, took a bit rest in a cozy cafe called Cafe Move On. Should I move on from this short trip...

Cafe Move On akhirnya menjadi tambatan terakhir kami di Yogyakarta setelah menikmati sunrise di Punthuk Setumbu, Mengagumi Borobudur di Magelang, dan kembali ke masa lampau di Taman Sari.

Seperti banyak cafe yang kini bertebaran di seantero kota besar di Indonesia, Cafe Move On ini pun menawarkan tempat yang cozy dan instagrammable dengan pilihan makanan, minuman, serta gelato yang lumayan rasanya.

Sambil menunggu waktu keberangkatan kami naik KA WijayaKusuma ke Solo, kami pun menikmati gelato, menyeruput kopi taro, dan sekadar bincang sana-sini sambil sesekali melirik hp. Mencoba untuk move on dari liburan kali ini yang akan segera berakhir…

Awas Jamuran di jeJamuran

It’s all about mushrooms. Here, there, everywhere, all is mushroom.



Bagi pecinta kuliner, penikmat makanan unik, vegetarian, dan yang sedang kelaparan, jeJamuran menjadi pilihan yang pas dan tepat.

Bagaimana tidak, semua menu yang disajikan di restoran ini berbahan dasar jamur. Begitupun dengan minumannya. Mulai dari rendang jamur, sate jamur, soto jamur, nasi goreng jamur, jamur kriuk, dan banyak lainnya.

Penasaran kan apa rasanya? Setidaknya saya penasaran. Lihat saja betapa lahapnya saya memakan jejamuran. Nyam. 

Berikut menu yang bisa dinikmati dijeJamuran. 

Di restoran ini pula, kita bisa membeli berbagai macam keripik atau olahan jamur yang dikemas dengan sangat baik, sebagai oleh-oleh.

Kita pun bisa melihat Jamur hidup yang dibudidayakan oleh si pemilik restoran. 

Jadi, jangan takut jamuran ya kalau makan dan minum di jeJamuran. 

Sekejap di Taman Sari Water Castle, Yogyakarta

Taman sari water castle was a royal garden for Sultan of Yogyakarta. It was mostly known as places for the Sultan’s wife and princesses.

Tempat ini menjadi perhatian para wisatawan setelah foto-fotonya tersebar di berbagai media sosial dan setelah menjadi lokasi foto Pre-Wedding putri Presiden Jokowi.

Saya sendiri termasuk ‘clueless’ tentang taman sari, kalau saja Mega tidak memberi pencerahan kepada saya saat itu juga. Yang ada dibayangan saya kala itu adalah sebuah taman yang dipenuhi bebungaan atau semacam tradisional spa khas yogyakarta.

Sesampainya disana, saya pun bingung, hendak menuju ke arah mana. Tidak ada peta yang jelas yang bisa mengarahkan kita. Tapi, tidak usah khawatir tersesat karena banyak masyarakat lokal yang bersedia menjadi guide untuk mengantar dan mengitari kawasan taman sari ini. Sementara kami memutuskan untuk mengandalkan diri sendiri dan google maps.

Tempat ini terasa sekali kesan sejarahnya. Bangunan-bangunan tua yang berdebu, dipenuhi lumut disana-sini ditambah dengan teriknya matahari.

Konon katanya, kolam di atas dulunya adalah tempat para permaisuri dan putri-putri raja mandi. Sementara di bawah ini adalah kamar mereka. 

Setelah puas menjelajahi tempat pemandian, kami pun mengikuti kemana langkah kaki membawa, secara kami tidak menggunakan jasa guide. 

Kami pun sampai di sebuah gedung tua yang dulunya merupakan masjid bawah tanah. 

Dan berakhirlah perjalanan kami, dikarenakan suatu dan lain hal. Kami pun bergegas menuju destinasi selanjutnya, yaitu Cafe Move On. 

 

 

Borobudur oh Borobudur

Setelah mengagumi keindahan sunrise alias matahari terbit di Punthuk Setumbu, kami melanjutkan perjalanan ke candi Borobudur yang dahulu kala pernah menjadi 1 dari 7 keajaiban dunia.

Saya pun bertanya-tanya, seperti apakah tampakan candi ini sekarang. Masih samar dalam ingatan saya, betapa megah dan menakjubkannya bangunan candi yang terbesar di seantero Indonesia ini.

Sesampainya di lokasi, kami dibuat terkejut dengan banyaknya rombongan anak sekolah di depan loket tiket. Perasaan sudah mulai tak enak. Ah, mungkin ramai di luar saja, mengingat hari masih pagi sekali.

Dengan berseri-seri, kami berjalan penuh arti menuju borobudur.

Dan langkah kami pun sempat terhenti. Bukan karena keindahan candi, tetapi karena tertutupnya keindahan candi oleh ratusan anak sekolah berbagai usia dengan baju seragam mereka yang berwarna-warni.

Sungguh waktu yang tidak tepat untuk mengunjungi candi borobudur. Borobudur oh borobudur… 

Karena teramat penuhnya pengunjung candi, sampai-sampai sulit sekali menemukan spot untuk sekadar mengabadikan kami dan candi.

Alhasil, kami harus mengeluarkan jurus-jurus pencarian angle terbaik yang bisa menghalau tampakan anak sekolah sebagai latar belakang foto kami.






After Sunrise: Bayangan, Kopi item, dan Gorengan

Setelah mengagumi sunrise di puncak bukit Punthuk setumbu, kami berniat untuk melanjutkan ke Gereja Ayam yang sedang nge-Hits akibat kisah asmara Rangga dan Cinta di Film Ada Apa Dengan Cinta 2.

Apa mau dikata, kostum dan waktu tidak mengijinkan. Kostum yang kami pakai tidak memungkinkan untuk melalui trek terpendek ke Gereja Ayam via Puncak Punthuk Setumbu.

Kami dihadapkan dengan 2 pilihan, yaitu lanjut ke Gereja Ayam melalui trek yang lebih ramah tapi memakan waktu lama atau segera turun bukit dan menuju candi Borobudur. Sepakat, kami memilih candi Borobudur dan mengambil langkah seribu menuruni bukit.

Bayangan kami ketika berjalan pun menjadi pemandangan yang tak kalah indahnya dengan sunrise.

Melihat ke kanan kiri, sebuah warung kecil di pinggir jalan menarik perhatian kami. Terbayanglah oleh kami untuk sebentar saja beristirahat.

Duduk, menyeruput kopi item berteman pisang goreng, tahu, dan mendoan sembari dihujani hangatnya sinar mentari.

Nikmat.

Tak terasa, puluhan gorengan habis dilahap lengkap beserta cabe rawitnya.

Kenyang? Tidak juga. Tapi kami harus segera menuju destinasi selanjutnya, Candi Borobudur.

 

 

Mengagumi Sunrise di Bukit Punthuk Setumbu

Setelah hanya kurang dari 3 jam kami tertidur lelap di The Packer Lodge Yogyakarta, dengan tampilan muka bantal, kami bersiap untuk mengejar sunrise di bukit Punthuk Setumbu. Meskipun lebih enak kalau mengejar jodoh. eeeaaa.

Rencana awal yang hendak berangkat jam 3-an pun mundur menjadi setelah Subuh. Bagus juga sih, jadi kami sempat sholat subuh di hostel.

Perjalanan menuju bukit punthuk setumbu yang kesohor itupun kami lalui dengan tertidur, separuh perjalanan maksud saya (menolak dibilang pelor).

Saat kami tiba di lokasi, pagi sudah menjelang. Kami bersegera ‘mendaki’ bukit menuju titik pengamatan sunrise terbaik di puncak bukit Punthuk Setumbu.

Tiba di puncak, kawasan ini sudah dipenuhi puluhan orang. Sang mentari pun sudah menunjukkan dirinya di kejauhan.

Indah. Sangat indah.

Sunrise, dengan pemandangan hijaunya hutan dan backsound suara burung serta owa di kejauhan membuatnya semakin terasa indah. Terlebih lagi ketika candi Borobudur masih terlihat nun jauh di sana.

Kagum.

Selama mentari perlahan bergerak naik semakin ke atas, saya dan entah berapa puluh pasang mata disana menganguminya.

The best sunrise I’ve seen it so far. Better than the feeling of watched sunrise from Puncak Prau, Bromo Mountain, Banjar Negara, or other places I’ve been visited before.

Di satu spot, saya dan Mega sibuk mengunci keindahan sunrise dengan mata dan video handphone ala kadarnya (dikarenakan cita-cita terpendam untuk membuat video timelapse sunrise).

Sementara Dwi, Shirley, Mitha, Irin, dan Nisa mengeksplor keindahan bukit Punthuk Setumbu dari spot yang berbeda.

Dan cerita pun berlanjut ke “After Sunrise: Bayangan, Kopi Item, dan Gorengan.”

The Packer Lodge Yogyakarta

Sesampainya di Stasiun Tugu, Yogyakarta dari Stasiun Solo Balapan, kami langsung mengandalkan google maps untuk mencapai lokasi The Packer Lodge Yogyakarta (Terima kasih Mitha sudah booking hostel ini untuk kami).

Konon katanya, hostel ini (The Packer Lodge Yogyakarta) merupakan salah satu hostel terbaik pilihan backpacker lokal dan internasional. Jadi, kami sedikit penasaran bagaimana rasanya menginap di hostel ini.

Beruntungnya kami, hostel ini dekat dari stasiun dan bisa dijangkau hanya dengan berjalan kaki. Ditambah lagi, lokasinya yang dekat dengan Jl. Malioboro yang terkenal seantero jagad raya itu. Jalan kaki pun menjadi pilihan yang terbaik, sambil menikmati pemandangan malam di sepanjang jalan Malioboro.

Dan saya pun tertegun. Entah sudah berapa lama sejak terakhir kali saya berada di jalan ini. Dan sungguh sangat amat berubah. Sangat padat dan ramai dengan lalu-lalang orang.(untung saya pernah merasakan Malioboro yang tidak terlalu ramai dan masih terasa sekali nuansa tradisionalnya).

Tak lama kemudian, The Packer Lodge Yogyakarta tepat berada di hadapan kami. Tampak sederhana dan minimalis. Benar-benar mencirikan hostel para backpacker.

Memasuki hostel, saya langsung jatuh cinta dengan tempat ini. Tampak minimalis dan sangat bersih disertai pelayanan yang sangat ramah.

Mengingat malam yang semakin larut dan mata yang sudah mulai meredup, ingin rasanya saya segera menuju ke kamar dan merebahkan diri untuk sekadar meluruskan badan.

Dan, inilah kamar kami. And I must say, I love it!!!

Hanya saja, berhati-hatilah kalau kita dapat tempat tidur yang posisinya di atas.  Pastikan kalau kita sudah benar-benar segar dan melek 100% baru turun ke bawah. Salah-salah atau lupa atau masih mengantuk sekali, kita bisa terjatuh.

Hostel ini patut saya acungi jempol 2. Karena apa? Karena membuat saya merasa seperti di rumah sendiri atau seperti anak kos.

Ditambah lagi dengan bersihnya area hostel, mulai dari front office, dapur, kamar, hingga kamar mandi (padahal ini kamar mandinya bareng-bareng dengan tamu lainnya). Sangat bersih. Dan bagi saya, kebersihan adalah yang paling utama, terutama kebersihan kamar mandi.

Jadi, saya pasti tidak segan untuk kembali menginap di hostel ini suatu saat nanti.

A very recommended one.

Sayangnya, kami hanya sempat menginap satu malam. Bahkan tidak bisa disebut satu malam juga, karena kami baru tidur jam 12 malam dan bangun jam 3 pagi untuk mengejar sunrise di Punthuk Setumbu.

 

 

 

Sejenak di Stasiun Solo Balapan

Salah satu stasiun yang paling terkenal seantero Indonesia adalah Stasiun Solo Balapan. Nama stasiun ini semakin terkenal ketika Didi Kempot menyanyikan lagu campur sari berjudul setasiun balapan.

Saya pun, ketika menjejakkan kaki di stasiun ini, spontan bersenandung, “Nang setasiun balapan, kuto solo sing dadi kenangan… kowe karo aku…” Ah… mendadak darah Jawa saya membuncah dan kemampuan berbahasa Jawa saya yang pas-pasan ini menjadi kebanggaan tersendiri.

Sambil menunggu kereta yang akan membawa kami ke Yogyakarta, saya pun sempat berkeliling dan mengagumi stasiun ini.

Lama kemudian, kereta kami tiba di stasiun dan siap membawa kami ke perjalanan selanjutnya.

Dan bahagianya kami, karena kereta kami tampak lengang alias kosong. Serasa 1 gerbong milik sendiri. Tetapi sungguh disayangkan, durasi perjalanan dengan kereta ini sangatlah singkat (kurang dari 2 jam).

Yogyakarta! Here we come!

Air Terjun Jumog

Perjalanan 7 kurcaci ini pun terus berlanjut. Setelah melihat jejak peninggalan jaman dahulu melalu Candi Sukuh dan Candi Cetho, kami pun berhenti di sebuah lokasi yang konon katanya terdapat air terjun bernama Jumog.

Masih berada di daerah Karanganyar, Jawa Tengah, air terjun ini belum seterkenal air terjun lainnya di seputaran Jawa Tengah.Untuk mencapai air terjun ini, kami tidak perlu mendaki ratusan tangga atau menyusuri jauhnya jalan setapak maupun menembus hutan. Cukup berjalan beberapa langkah, indahnya air terjun Jumog dan derasnya suara jatuhnya air pun telah terdengar. Segar…

Indah bukan? Ingin rasanya berlama-lama berada di sini dan menikmati rindangnya pepohonan disertai gemericik suara air mengalir.

Di tempat ini juga, kita bisa berenang di kolam yang sudah disediakan pengelola. rasanya sangat tepat jika anak-anak diajak ikut serta dan berenang di tempat ini.

Dan saatnya kami berpisah dengan air terjun Jumog.

Dan perjalanan 7 kurcaci ini pun terus berlanjut menuju Yogyakarta melalui Stasiun Solo Balapan.

 

 

Candi Cetho: Serasa di Atas Awan

Usai mengeksplorasi candi sukuh, kami segera menuju candi Cetho. Untuk mencapai lokasi candi, kami harus melalui perjalanan yang lebih berkelok-kelok, mendaki, dan cukup curam. Bahkan di kiri jalan tampak jurang yang dalam siap menyambut, kalau saja supir tidak berhati-hati.

Dari kejauhan, tampak gerbang candi Cetho menjulang tinggi. Kami pun terpaksa meninggalkan Mitha dan Shirley kemudian menuju loket pembelian tiket serta memakai kain khas kotak hitam putih yang biasa kita pakai saat memasuki kawasan candi Hindu.

Bentuk utama candi Cetho tidak terlihat dari depan. Hal ini dikarenakan bagian utama candi terletak dibagian paling tinggi dan paling belakang (mendekat ke puncak gunung). Klik di http://candi.perpusnas.go.id untuk mengetahui lebih detail mengenai sejarah candi Cetho.

Gerbang candi Cetho ini mengingatkan saya pada candi-candi yang kerap saya lihat di pulau Bali.

Memasuki komplek candi, semakin ke dalam, saya pun semakin kagum. Mengapa? Arsitektur candi sungguh memukau, tingkat presisi dan simetri setiap gerbang candi membuat saya terpana. Lurus sekali.

Sejenak mengingat kembali bahwasanya candi ini dibangun pada jaman Kerajaan Majapahit dan di daerah pegunungan pula. Bagaimana mereka mengukur serta membangunnya, pikir saya.

Kami pun menikmati setiap sudut, arca, dan relief dari candi ini. Sesekali berpikir kembali mengenai kisah yang ada dibalik sejarah candi ini.

Sampai kami dikejutkan dengan susunan bebatuan yang sekilas tampak seperti kelamin pria dan wanita, tepat dihadapan kami. Sontak saya pun kaget campur penasaran, ketika Mega membawa topik ‘itu.’ Ternyata oh ternyata, memang benar adanya, apa yang kami lihat adalah lambang kelamin pria dan wanita.

Menurut candi.perpusnas.go.id, susunan bebatuan tersebut melambangkan kesatuan wanita dan pria, dua makhluk yang berlawanan sifatnya namun tidak dapat dipisahkan satu sama lain sebagai perlambang jagad kecil (mikrokosmos) dalam diri manusia.

Semakin ke dalam dan ke atas, suasana mulai terasa ‘hening dan senyap.’ Sekelebat bau kemenyan pun merangsek kedalam hidung kami.

Maklum saja, candi ini masih aktif digunakan sebagai sarana beribadah umat beragama Hindu. Jadi, diharapkan para pengunjunh untuk menjaga penampilan, sikap, serta ucapan selama berada di lokasi.

Sebelum kami menuju tempat Shirley dan Mitha (yang dengan sangat terpaksa kami tinggal duluan),  kami pun menyempatkan diri untuk sekadar berfoto di hadapan gerbang yang menjulang tinggi berlatar belakang kabut (yang menutupi pemandangan di bawahnya). Suasana yang membuat candi ini serasa di atas awan.

So, bye-bye candi Cetho. One of a must-visit temples in Indonesia. Would love to comeback here again, after learning the history behind you.

Dan kami pun beranjak turun, bersegera menemui Shirley dan Mitha yang tampak sedang berisitirahat.

 

 

Melihat “Jejak Peradaban Inca dan Maya” di Candi Sukuh

Setelah menghabiskan semangkuk soto gading khas Solo (yang akan saya ceritakan nanti), dan dibuat terkejut dengan keberadaan sate brutu, kami pun segera meluncur menuju Karanganyar, tepatnya ke kewasan Candi Sukuh.

Perjalanan yang berkelok-kelok dan penuh tantangan disertai pemandangan yang tampak hijau membuat kami seakan lupa dengan segala penat di ibukota Jakarta.

Sampai di lokasi, loket penjualan tiket pun masih tutup — maklum kami tiba terlalu pagi. Tidak lama kemudian, kami pun diijinkan memasuki kawasan Candi yang tidak terlalu luas itu.

Di dalamnya, terlihat candi sukuh yang entah mengapa tampak mirip luar biasa dengan bangunan-bangunan peninggalan peradaban suku Inca dan Maya yang kerap saya lihat di TV maupun di buku-buku sejarah. Tetiba, saya ingin belajar sejarah lagi.

Berdasarkan apa yang saya baca, sampai saat ini belum diketahui apakah keberadaan candi sukuh ada hubungannya dengan peradaban Inca dan Maya. Jika ingin mengetahui lebih lanjut mengenai candi ini, silakan klik http://candi.perpusnas.go.id

Berikut penampakan kompleks candi sukuh yang berhasil kami abadikan.

Kami pun sempat menaiki candi sukuh dan menikmati indahnya pemandangan sekitar dari ketinggian.

Dan inilah aksi 7 kurcaci di sekitaran kompleks candi.

Dan kami pun dengan berat hati meninggalkan keindahan sebuah mahakarya peninggalan peradaban yang hadir jauh di masa lalu menuju mahakarya lainnya yang dikenal dengan nama candi Cetho.

 

Soto Gading Langganan Presiden RI

Ketika kami menjejakkan kaki di Solo, hal pertama yang kami lakukan adalah mencari sarapan pagi khas Solo. Tibalah kami di kedai soto yang konon katanya terkenal di seantero Solo karena seringnya kedai ini dikunjungi para pejabat serta beberapa Presiden RI.Kedai soto ini terlihat sangat sederhana dan sangat membumi. Tidak ada kesan restoran mewah maupun terkenal. Saya pun agak ragu-ragu pada awalnya. Lama-kelamaan, setelah saya mengamati kedai ini, mulailah saya percaya bahwa ini memang kedai soto langganan Presiden.

Foto-foto para pejabat dan presiden terpampang di dinding kedai. Suasana yang tradisional khas Solo pun terasa ketika kita memasuki bagian dalam kedai. Furniture serta perangkat makan beserta masaknya pun kental akan rasa tradisional. Bahkan kompor yang digunakan pun masih menggunakan bara api atau kayu bakar.

Kami pun tak sabar untuk segera mencicipi soto gading mereka. Dan ketika soto kami akhirnya disajikan, saya pun terkejut karena porsinya yang terbilang kecil. Mungkin karena saya memang porsi makannya yang besar. Dua mangkok pun tak akan kenyang, pikir saya. Untungnya ada banyak ‘cemilan’ tambahan model sate-satean. Nyam.

Dan kami pun segera menyantap soto gading dengan sangat sigap dan cepat. Sedap. Gurih dan nikmat.

 

Dimulainya Sebuah Kisah di Stasiun Jebres, Solo

Sore itu, hari terakhir sebagian dari kami menunaikan tugas sebagai seorang guru. Kami pun bergegas menyudahi rapotan tepat pada waktunya.

Dari kami bertujuh (saya, Dwi, Shirley, Irin, Mega, Mitha, dan Nisa), 3 melaju dari tempat yang sama. 1 dari Kelapa Gading. 1 dari kuningan. 1 dari sebuah kantor penerbitan.

Abang gojek pun menjadi pilihan. Ditemani hujan rintik-rintik, saya pun berpacu dengan waktu menuju titik pertemuan di stasiun senen.

Pasrah, jikalau saja saya tertinggal kereta. Mengingat saya paling akhir berangkat menuju lokasi.

Benar saja, sebagai orang terakhir yang tiba, lega rasanya. Kami pun menunaikan kewajiban sebagai muslim sebelum akhirnya menaiki kereta yang akan membawa kami ke dalam sebuah kisah singkat perjalanan di Solo – Jogja.

Berbekal tiket KA ekonomi (maklum ceritanya backpackeran alias penghematan). Saya pun tidak merasa ketidaknyamanan (1 kursi isi 3 orang) karena lelap tertidur akibat minggu yang melelahkan sebelumnya.

Matahari belum nampak di kejauhan ketika kami tiba di stasiun Jebres.

Menunggu. Satu-satunya yang bisa kami lakukan sampai driver menjemput kami semua.

Dan disinilah kisah kami bertujuh (sudah semacam 7 kurcaci) dimulai, di Stasiun Jebres, Solo, Jawa Tengah.

 

 

Kisah kami berlanjut menuju Kedai Soto Gading I (yang konon katanya sering disambangi Presiden Jokowi) kemudian Candi Sukuh dan Candi Cetho.

[JFW2018 Day 7] Amazon Tokyo Fashion Week presents ROGGYKEI and UJOH

Last but not least, the most memorable and the hardest effort for a fashion show in my life, so far… 

Perjuangannya buat liat show Amazon Tokyo Fashion Week @roggykei dan @ujoh.official ini benar-benar tidak terbayangkan sebelumnya. 

Dari mulai persiapan di rumah lanjut perjalanan ke sency alias senayan city yang penuh drama. Bahkan bisa dibilang ngalahin drama korea. Sampai perjuangan hingga bisa duduk didalam fashion tent.

Bayangkan saja, mulai dari rencana pulang tenggo (dari sekolah) yang gagal. Kemudian, tepat sebelum kita berangkat, tersadar kalau invitationnya ketinggalan di loker sekolah. Alhasil saya jadi print undangan. Bagusnya lagi, printer di rumah sedang rusak. 

Mengingat waktu yang semakin dekat, kami putuskan untuk naik kereta ke palmerah baru lanjut taksi atau grab atau gojek. 

Sampai di palmerah, kami disambut kemacetan yang luaaarr biasa. Disaat kami siap memesan gojek (karena jam sudah menunjukkan 30 menit sebelum show), hujan turun dengan derasnya. 

Saat hujan mereda, aplikasi gojek saya error. Saya tidak bisa meng-cancel gojek yang memang keberadaannya masi jauh dari lokasi. 

Akhirnya memesan grab sambil terus mencoba cancel gojek. Saya pun pasrah, ketika akhirnya abang grab membawa saya entah lewat mana demi menghindari kemacetan yang menggila. 

Saat tiba di sency, saya pun didera rasa malu luar biasa. Kenapa? Karena saya lari dengan helm grab masih terpasang dengan manisnya di kepala saya, sementara si abang teriak-teriak meminta helm-nya. Malu… 

Disaat saya merasa lega, karena akhirnya sampai di lokasi dan mendengar kabar bahs show nya tertunda, saya dikejutkan dengan penuhnya fashion tent. Sampai-sampai sulit bagi saya hanya untuk sekadar masuk ke fashion tent. 

Mungkin karena ini show terakhir di Jakarta Fashion Week 2018 sebelum finale, yaitu Dewi Fashion Knights 2018, jadinya penontonnya super membludak. 

Plus, show ini mengusung tema Jepang.  Penasaran donk pastinya. Jadiiii, mau itu jalur VIP atau reguler, sama antri dan penuhnya. 

Saking penuhnya, AC yang biasanya super dingin itupun tak berasa.

Jadi makin penasaran donk ya. Bakalan kaya apa shownya. Dengan dalih mau bertanya, berhasil merangsek ke depan, percis pas di pintu scan. Tapi, antri lagi donk yaaa.

Pas pintu dibuka, baru kali ini mau liat fashion show kaya mau nonton apaan dah, grasak grusuk dorong-dorongan saking penuh dan antusiasnya plus kayanya pada takut ga dapat tempat duduk — Ini pada ga pernah liat fashion show live apa ya. Pikir saya. 

Hellooo, pasti dapet kali. 

And then, the show begin. Too fast, I think. Can’t get enough. 


Entah kenapa, show ini terasa sangat singkat. Seakan-akan terburu-buru. 

Apakah konsepnya seperti itu atau karena jadwal show yang sudah ngaret, sementara show final DFK 2017 sudah di depan mata. 
Atau karena perjuangan saya yang teramat berat dan penuh drama, sehingga membuatnya terasa sangat singkat. 

Entahlah… 

Padahal saya suka sekali dengan koleksi mereka. Lots of linen and cotton. Layer and oversize clothes. Love it! 

View this post on Instagram

Dear @jfwofficial . . Last but not least, the most memorable and the hardest… . Perjuangannya buat liat show #amazontokyofashionweek @roggykei @ujoh.official ini bener2 dah. Dari mulai perjalanan ke sency yang penuh drama yang bisa ngalahin drama korea, sampai perjuangan hingga bisa duduk didalam fashion tent. . Mungkin karena ini show terakhir di #jfw2018 sebelum finale, yaitu DFK2018, jadinya penontonnya super membludak. Plus katanya dari negri bunga sakura itu. Penasaran donk pastinya. Jadiiii, mau itu jalur VIP atau reguler, sama antri dan penuhnya, sampai pintu masuk tent mak. Saking penuhnya, AC yang biasanya super dingin itupun tak berasa. Jadi makin penasaran donk ya. ya. ya. Bakalan kaya apa shownya. Dengan dalih mau bertanya, berhasil merangsek ke depan, percis pas di pintu scan. Tapi, antri lagi donk yaaa. Pas pintu dibuka, baru kali ini mau liat fashion show kaya mau nonton apaan dah, grasak grusuk dorong-dorongan saking penuh dan antusiasnya plus kayanya pada takut ga dapat tempat duduk. Hellooo, pasti dapet kali. And then, the show begin. Too fast, I think. Can't get enough. . JFW2018 pun ditutup dengan penuh kenangan. #myJFWmoments #jfw10yrs

A post shared by Melly (@mel_ces) on

Dan, momen saya di JFW2018 pun ditutup dengan penuh kenangan.

See you next year dear Jakarta Fashion Week! 😘

[JFW2018 Day 6] Top White Coffee presents “Color Deconstructed” featuring Major Minor

Show yang paling saya tunggu di hari ke-6 ini, yaitu Major Minor. Kenapa? Tidak lain dan tidak bukan karena saya penasaran akan seperti apa koleksi yang ditampilkan salah satu brand yang masuk sebagai Dewi Fashion Knights 2017 di JFW 2018.

Meskipun kondisi badan tidak maksimal (saya sampai harus minum panadol), saya pun rela mengantri begitu panjang. 

Maklum, penontonnya membludak. Mungkin mereka sama penasarannya seperti saya. Mungkin juga mereka penggemar top white coffee. Atau loyal customer dari Major Minor. 

Ditambah lagi, banyaknya selebritis yang ikut menyaksikan show ini menjadi daya tarik tersendiri.

Begitu show dimulai, rasa penasaran hilang sudah. Major minor menampilkan koleksi pakaian mereka dengan detail kain yang dirangkai bak anyaman tikar dengan warna dominan putih.

Terakhir, kami dikejutkan dengan munculnya Ayushita dan Abimana yang turut menjadi model Major Minor di atas runway — Well, ga terlalu terkejut sih. Mengingat keduanya adalah brand ambassador top white coffee. Dan juga mengingat saat mengantri kami sempat bersebrangan dengan mereka. Bahkan Hanny sempat berfoto bersama Abimana. 

[JFW2018 Day 6] VIVO presents “VIVO V7+ Beyond Fashion” featuring Ats The Label and Monday to Sunday

Setelah melihat fashion show Major Minor di fashion tent, kami pun bergegas ke fashion atrium untuk melihat show Ats the Label dan Monday to Sunday.

Namun, sangat disayangkan kami terlambat sampai di lokasi — akibat show di fashion tent yang cukup telat dari jadwal.

Kami hanya sempat melihat finale dari fashion show kali ini. Padahal, saya ingin sekali melihat koleksi pakaian ready to wear mereka. 


[JFW2018 Day 6] Dekranasda present Artina, Batik Chic, Khanaan, dan Tandamata

Melaju ke Fashion Atrium di Senayan City, kami pun tiba tepat waktu – sebenarnya sudah telat kalau dari jadwal – untuk menyaksikan fashion show dari Dekranasda DKI Jakarta.

Pada kesempatan ini, kami pun melihat sosok Ibu Gubernur dan Ibu Wakil Gubernur DKI Jakarta yang ikut menyaksikan show ini. Makanya tidak heran kalau fashion atrium penuh sesak oleh para penonton dan juga jurnalis.

Show pun dimulai. Mengingat show in melibatkan beberapa brand binaan Dekranasda DKI Jakarta, maka dari itu kental sekali terasa suasana DKI Jakarta di dalam fashion Atrium. Hal ini dapat dilihat dari MC yang notabene abang dan none jakarta, pembukaan show oleh kepala dekranasda, hingga musik khas DKI Jakarta yang mengiringi  para model berjalan di catwalk.

Sementara brand binaan yang menampilkan karyanya adalah Artina,Batik Chic, Khanaan, dan Tandamata. Dari semua brand tersebut, I must say I love them all.

Masing-masing mempunyai keunikan tersendiri. Batik Chic yang didesain Novita Yunus dengan kebaya encim yang modern, 3D look, dan colorful. Khanaan hasil karya Khanaan Shamlan dengan warna nude dan aksen bulu-bulu – ditambah lagi diperagakan oleh Dwi Handayani Syah Putri dan Sarah Sofyan.

Berikut ini beberapa gambar yang berhasil tertangkap kamera kami.

Batik Chic

Khanaan

TandamataFinale…Lihat videonya dibawah ini,

 

 

 

 

 

[JFW2018 Day 6] Cherryn Lim

Setelah melewatkan hari ke-3, 4, dan 5 Jakarta Fashion Week 2018 karena kondisi kesehatan yang kurang baik dan juga padatnya kegiatan di sekolah, akhirnya saya berhasil mengajak Dwi dan Hanny untuk menghadiri JFW2018 hari ke-6.

Kali ini, fashion tent dipenuhi para penggemar karya desainer Caroline Lim yang dikenal dengan merk Cherryn Lim. Selama 30 menit, kami disuguhi sederetan gaun malam dan gaun pernikahan yang indahnya bukan main.

Mulai dari gaun malam berwarna pastel hingga berwarna yang lebih berani, seperti merah. Terakhir, gaun pengantin berwarna putih yang bertahtakan detail payet yang dipakai para model terlihat sangat indah dan bersahaja.

Lihat videonya di bawah ini,

[JFW2018 Day 2] Avenue A, Yogiswari Pradjanti, and GEE Batik

Dapat posisi duduk yang tidak menguntungkan karena telat antrinya dan juga karena sangat antusiasnya orang-orang melihat karya 3 desainer unik ini (alias penuh).

Show terakhir yang saya saksikan di hari ke-2 JFW 2018. Salah satu show yang saya tunggu-tunggu karena line up desainer yang memang saya suka – meskipun kelihatannya saya suka hampir semua desainer Indonesia. Dengan tema origin diversity, kebayang kan pasti akan Indonesia sekali.

AVENUE A

Hasil karya desainer Indonesia bernama LUthfi Madjid, yang lama tinggal dan berkiprah di New York ini benar-benar menginspirasi. Betapa tidak, pakaian ready to wear yang unik dan tak biasa, namun sepertinya tampak nyaman dipakai.

Lebih gilanya lagi, pakaian tersebut bisa dipakai oleh pria maupun wanita baik tua maupun muda. Kalau kata orang dulu Unisex tapi sekarang lebih dikenal dengan nama gender bender.

YOGISWARI PRADJANTI

Melihat karya desainer satu ini melalui instagram beliau membuat saya terpana. Kreatif. Nyeni. Kata-kata yang tepat untuk karya beliau. Kali ini saya melihat secara langsung koleksi “Cerita Para Nyonyah” yang terbilang etnik dan unik dan yang pasti, ready to wear.

Lihat videonya dibawah ini.

GEE BATIK

Koleksi batik cantik karya Sugeng Waskito patut saya acungi 2 jempol. Konsep fashion show yang Jawa sekali terasa kental. Mulai dari bahan batik (yang sepertinya sutra) dengan motif tradisional ditambah aksara jawa, aksesoris yang berupa ikon Jawa, dan juga musik gamelan jawa modern semakin memperkuat tema Jawa sepanjang fashion show.

Love it to the max!

Saksikan videonya di bawah ini.

 

 

[JFW2018 Day 2] ARVA School of Fashion presents BOBABABE, FARA OFFICIAL, IVAN KI, ONE & ONLY, and SUSANNA ANDRIYANTO

Kali ini di fashion tent menghadirkan para desainer muda yang mendalami ilmu fashion di ARVA School of Fashion.

Fashion tent mendadak penuh sesak oleh para pendukung desainer-desainer muda berbakat ini.

Jujur, dari semua karya desainer muda ini, yang paling membuat saya menginginkannya adalah BOBABABE. Sementara yang paling membuat saya takjub adalah  karya dari FARA OFFICIAL – just love their concept. Unique and at the same time futuristic.

BOBABABE

Koleksi kali ini memberikan kesan berada di negeri Cina. Suka sekali dengan warna-warnanya yang soft dan bergradasi.FARA OFFICIAL

Desain yang unik nan futuristic seakan membawa kami yang melihatnya menuju ke masa depan.

IVAN KI

Menjadi satu-satunya desainer pria di fashion show kali ini, tidak membuat Ivan Ki lantas meredup di antara karya para desainer wanita. Detail seperti jaring laba-laba mempertegas saya bahwa koleksi pakaian ini di desain oleh seorang pria, tidak lain dan tak bukan adalah Ivan Nurul Huda.

ONE & ONLY

SUSANNA ANDRIYANTO

 

[JFW 2018 DAY 2] The Goods Dept. presents “Transit In Analog” in PIA ALISJAHBANA AWARDS 2017

Postingan ini sebagai kelanjutan dari postingan saya sebelumnya mengenai PIA ALISJAHBANA AWARDS 2017.

Di ajang penghargaan ini, The Goods Group sebagai penerima Pia Alisjahbana Awards 2017 kategori institusi menampilkan fashion show yang mengangkat tema Transit in Analog.

Barisan model berjalan di runway membawakan koleksi The Goods Dept. Seketika terdengar gemuruh para hadirin, begitu terdengar background musik disertai para model berbusana 70-80an yang membuat kita serasa kembali ke masa lalu. Masa di mana teknologi sebagian besar masih bersifat analog (dibandingkan sekarang yang semuanya serba digital).

A youthful and vintage vibe.

Simak saja videonya berikut ini. ps. I really like the song.

Dan kami pun ikut menangkap momen kami di Pia Alisjahbana Awards 2017.

 

 

[JFW 2018 DAY 2] PIA ALISJAHBANA AWARDS 2017

A moment in a lifetime.

It was Sunday, October 22, 2017. Felt so lucky to witness Biyan and The Goods Group received Pia Alisjahbana Awards 2017.

Kenapa saya anggap momen ini sebagai salah satu moment yang akan saya ingat sepanjang hidup saya? Tidak lain dan tidak bukan karena ajang penghargaan ini hanya diadakan setiap 5 tahun sekali. Belum tentu 5 tahun mendatang saya berkesempatan hadir di ajang ini lagi.

Pada ajang penghargaan ini pula, saya berkesempatan berada dalam satu ruangan dengan para desainer terkenal Indonesia, para petinggi Femina Group, para petinggi perusahaan yang berhubungan dengan dunia fashion, para model, sertatokoh-tokoh industri mode dan kreatif Indonesia.

Semakin merasa beruntung, karena saya duduk tepat dibelakang para founder The Goods, Founder Femina Group, Biyan, Ibu Pia Alisjahbana, Oscar Lawalata dan lainnya.

Can you believe that. Even I hardly believe it.

Bagi kalian yang belum tahu apa itu Pia Alisjahbana Award, saya akan jelaskan sedikit saja mengenai ini.

Pia Alisjahbana Awards 2017 memberikan penghargaan bagi individu dan institusi yang memberikan banyak kontribusi dan pengaruh terhadap perkembangan industri mode Indonesia. Tahun ini, penghargaan diberikan kepada desainer kenamaan Indonesia Biyan Wanaatmadja (kategori individu) dan The Goods Group (kategori institusi) sebagai penggerak mode terbaik di Indonesia.

Berikut beberapa momen di Pia Alisjahbana Awards 2017 yang bisa saya abadikan.

Selamat kepada Biyan dan The Goods Group. Teruslah berkarya untuk bangsa dan mengharumkan nama Indonesia di kancah Internasional.

Di ajang ini pula, saya dapat menyaksikan fashion show The Goods Dept. yang bertajuk Transit in Analog yang akan saya bahas di postingan selanjutnya.

[JFW 2018 DAY 2] The Goods Dept. presents “Transit In Analog” in PIA ALISJAHBANA AWARDS 2017

[JFW2018 DAY 1] Embassy Of Sweden and Swedish Fashion Council present “Sustainable Swedish Fashion” featuring HOUSE OF DAGMAR, UNIFORMS FOR THE DEDICATED, and HOPE STOCKHOLM

When I saw JFW2018 schedule and noticed word “Sustainable” from one of the fashion show, I definitely had to watch. Just because, I supported the idea of sustainable clothing.

Ketika mendengar kata “berkelanjutan,” saya pun langsung membayangkan pakaian yang terbuat dari bahan-bahan alami, seperti wool, katun, dan linen. Pasti nyaman dan pastinya cocok sekali dipakai saya yang tinggal di daerah tropis ini.

Sambil menunggu, kami pun jeprat sana jepret sini di area fashion tent.

Dan fashion show pun dimulai.

HOUSE OF DAGMAR

UNIFORMS FOR THE DEDICATED

 

HOPE STOCKHOLM

Watch the video down here,

[JFW2018 DAY 1] Fashion Design Council of India present Nitin Bal Chauhan, Novita Yunus and Nisha

Jakarta Fashion Week 2018 (JFW 2018) is finally here. Well, it was.

It was Saturday, October 21, 2017 which means the first day of JFW 2018. I was so excited more than ever because I had some of invitation for the fashion show.

Rasanya sungguh tidak sabar untuk melihat fashion show dari berbagai desainer kenamaan, baik luar negri maupun dalam negri. Di hari pertama ini, saya berkesempatan melihat karya dari desainer muda India Nitin Bal Chauhan dan Nisha bersama dengan desainer Indonesia Novita Yunus.

Ketika lampu mulai meredup, penutup runway ditarik oleh beberapa orang pria, dan musik mulai terdengar, rasa penasaran pun semakin membuncah. “Seperti apa ya karya mereka,” pikir saya dalam hati.

Nitin Bal Chauhan

Sekilas, pakaian yang ditampilkan terkesan biasa. Tampak seperti gamis atau gaun panjang dengan tidak banyak detail. Akantetapi, begitu diperhatikan, gaun tersebut tampak luar biasa dengan tambahan detail embroidery yang sangat indah dan artistik.

Entah bagaimana dia membuatnya. Bagi saya, gaun-gaun yang ditampilkan tampak seperti rentetan karya seni. Ditambah lagi dengan musik yang mengiringinya. Sangat indah.

I can see myself wear one of those long dress. Wanna have one of those artworks T_T

Lihat videonya dibawah ini,

View this post on Instagram

A glimpse of @nitinbalchauhan for #JFW2018

A post shared by Melly (@mel_ces) on

NOVITA YUNUS X NISHA (NY x ashaane)

Kedua desainer ini menampilkan karya bertajuk WARNA. Dan sayapun berharap warna-warni busana akan muncul dihadapan saya. Benar saja. Berlatang belakang musik etnik, berbagai busana yang kental dengan nuansa tradisional Indonesia dan India dengan penuh warna-warni memanjakan mata saya. Aksesoris yang dikenakan para model pun menambah kesan tradisional yang memang sudah kentara.

So colorful and wearable. Super want it!

Dengar dan lihat videonya dibawah ini,

Selanjutnya,

[JFW2018 DAY 1] Embassy Of Sweden and Swedish Fashion Council present “Sustainable Swedish Fashion” featuring HOUSE OF DAGMAR, UNIFORMS FOR THE DEDICATED, and HOPE STOCKHOLM

[Indonesia Modest Fashion Week 2017] Wardah x Itang Yunasz

Etnik.

Indonesia sekali.

Itulah kesan pertama saya terhadap koleksi Itang Yunasz yang ditampilkan di Indonesia Modest Fashion Week 2017 ini. Dengan mengangkat ragam kain khas daerah Sumba, Nusa Tenggara, membuat saya semakin cinta pada karya desainer yang satu ini. Yang paling saya suka adalah pakaian yang memadukan kain sumba dengan brokat (lace) dengan dominasi warna hitam.

Lihat videonya di bawah ini,

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

[Indonesia Modest Fashion Week 2017] Wardah x Malik Moestaram

Oh my God!

Those clothes are very super duper pretty.

Malik Moestaram menampilkan karyanya yang tampak seperti boneka-boneka cantik bak peri nan feminim.

Indah banget.

Permainan bahan, warna, detail, aksesoris, dan tentu saja desainnya yang modest sungguh membuat saya jatuh cinta.

Lihat videonya di bawah ini dan terpukaulah…

[Indonesia Modest Fashion Week 2017] Wardah x Jeny Tjahyawati

Black is a very happy bold color.

Jeny Tjahyawati menampilkan karyanya yang didomininasi warna hitam. Pemakaian penutup kepala berbahan organza (sepertinya) yang diatur sedemikian rupa – sangat unik menurut saya – dengan warna-warna seperti merah dan biru menambah kesan bold.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Jungleland Adventure

Although it is called Jungle, it is not really a jungle, off course. Many often confuse between this jungleland in sentul and the other jungle in Bogor which is completely different. One is a theme park while the other is a water park.


Our adventure begins early in the morning. Me and my cousins joined my brother’s company gathering (thanks bro!) so it was absolutely free (happy me). At least, not until we arrived.

 It was full pack. We even parked in jungleland employees parking lot. So, we didn’t get the mandatory post in front of the jungleland’s globe because we entered through the employee’s gate. 


Inside, we were thrill, excited, and very aticipated. But, reality is almost always cruel than our hope. 

There were thousands peoples in bright blue clothes as far as we can see. My brother’s company gathering is not even close to the bluers. Much later on, we got information from the jungleland worker that there are also another company gathering. He made count and said, more than 9000 peoples in jungleland now.

Oh. my. God.

We are screwed.

All plans went through the air. Vanish. 

Many peoples only meant one thing though. A very long queque in each and every ride out there.

Did the fact made us backed off. Naaah. Whatever had to happen, so be it. 

We waited for almost one hour for each ride. And that made us afford only 6 rides from morning to afternoon. What an adventure it was.

Firstly, we rode an octopus. Not quite challenging, but quite okay.


Next, we met dinosaurs in a jurassic park vibe. Well, kind of. 






Okay, the ride make us giggling much since this is more appropriate for kids rather than us.

Next, we excitedly went to the ferris wheel.



The queque was unbelieveable so we skipped it first to ride the plane looks like. 

Off course, we had to wait, again for almost an hour. But, it was worth the wait. So freaking awesome ride.




Move forward, we wanted to play water related rides, high adrenalin rides, and off course a swing ride.

Much to our dissapointment, there were many rides did not operate. So, we decide to just capture the view around which was quite fun and stunning.










Lastly, right before we went home. We ride a water ship. The only kind of ride in Indonesia. As if we were in an ocean battlefield, we use water gun to shoot another ship. 

Love it, like pirates of carribean. As if I was Keira Knightley though.




Fortunately we went home after this. Because it made us all wet, literally. And just at the right time, rains started to pouring down, heavily.

Run run run run to the car. And that was how we ended our adventure in Jungleland.


Walk Around Bogor Botanical Garden (Kebun Raya Bogor)

Malam itu, kami mendadak berencana ke Kebun Raya Bogor (Bogor Botanical Garden). Keesokan harinya, kami pun bergegas mengejar kereta pagi menuju kota hujan, Bogor.

Sepanjang perjalanan dari Stasiun Sudimara hingga stasiun Bogor, saya habiskan untuk menikmati sepinya gerbong-gerbong kereta dari sesaknya manusia. Sesekali saya berseluncur di dunia maya untuk sekadar mencari tahu mengenai Kebun Raya Bogor (KRB). Saya pun terpaku pada salah satu website andalan saya mengenai Bogor, yaitu Lovely Bogor.

Sesampainya di kota Hujan, kami pun menyempatkan diri untuk sarapan sebelum melanjutkan perjalanan ke Kebun Raya Bogor. Sempat terpikir untuk mengikuti saran dari Lovely Bogor, yaitu berjalan kaki menuju pintu masuk kebun raya bogor sembari menikmati pemandangan dan gedung-gedung bersejarah di sepanjang perjalanan. Namun apa daya, terik matahari sungguh tidak bersahabat sehingga kami terpaksa naik angkutan umum.

Tak lama berselang, angkutan umum yang kami naiki tiba di pintu utama. Kesan pertama, “Waah, kapan ya saya dan keluarga terakhir kali mengunjungi tempat ini?” Tanpa mengingat jawaban atas pertanyaan saya itu, kami pun memasuki KRB dengan membayar tiket masuk sebesar 15 ribu per orang.

Memasuki KRB, saya pun menghirup udara sebanyak mungkin ke dalam paru-paru saya. Segarnya. Sejauh mata memandang, yang tampak hanyalah rimbunnya pepohonan yang menghijau.

What a lovely sight. Green scenery are everywhere.

Kalau Singapore punya Garden by the bays dan Singapore Botanic Garden, sementara Inggris punya Garden of England, maka Indonesia punya Bogor Botanical Garden (Kebun Raya Bogor) yang tidak kalah menarik, indah, dan penuh kenangan bersejarah. Hal itu bisa kita lihat dari usia KRB tahun ini yang menginjak usia 200 tahun.

WOW. Just WOW!

Berikut adalah sedikit dari banyak sudut-sudut indah di Kebun Raya Bogor.

Sesekali, kami pun mengabadikan keberadaan kami di KRB. Truly beautifully scenery. Dimulai dari Taman Meksiko di tengah KRB.

LAnjut ke sebuah jembatan yang tampak sepi dari lalu-lalang pengunjung. Ternyata jembatan merah nan cantik ini dikenal sebagai Jembatan Pemutus Cinta.

What a myth.

Terus berjalan dan berjalan lagi… Di dalam KRB juga terdapat Istana Presiden yang dikenal dengan nama Istana Bogor. Di kejauhan, tampak istana bogor berdiri dengan gagahnya.

Mengingat KRB ini sangat luas, sangat mudah bagi kita untuk tersesat. Tapi jangan takut, di sini terdapat banyak penanda jalan yang menunjukkan ke mana kita harus pergi.

Terakhir, this is from where I stand.

 

Ruler: Master of The Mask OST and BGM

Ruler: Master of the Mask or Emperor: Owner of the Mask is my latest watched drama. It is a drama I have been waiting for since a long time ago after both @wow_kimsohyun (as Han Ga Eun) and Yoo Seung Ho (as crown Prince Lee Sun) confirmed as the main leads.

Both were talented child actor/actress and consider young also successful in the Kdrama industry. In terms of acting, they are known as masters of melodrama who could portray emotional scene very well. Hence, both acting is not disappointing at all throughout the drama.

Their acting is a top notch. They don’t have to speak through words. Their eyes, facial expression, and gesture told us all. Not to mention, both visual are absolutely beautiful and handsome.

I also love almost all the supporting cast, be it a protagonist or antagonist. They have their own background story which unfortunately uncovered for only 20 episode drama. From a pitiful Lee Sun, a strong Hwa Goon, a hateful Dae Mok, a smart Woo Boo, a cool Chung Woon, funny Moo Ha, a badass Mae Chang, an irritating Tae Ho, a mysterious Gon, a cutie Kko Mool and many more.The story is kinda heavy, not typical lighthearted, romance, or melodrama that easy to digest as we watched. And this is not, a romance drama that circle on the 2 main leads only (like most of the drama nowadays).

This is a drama about the journey of a pure and innocent crown prince (Seja) to become a true king, a true ruler, a true emperor for his people. But, that is exactly what makes this drama interesting to watch and wait for. The angst is almost in every episodes that make me cringe at the end of it.

Eventhough many viewers comment about the plot hole or undeveloped character and many things, but it’s not enough to make me drop this drama halfway.

Despite of this drama controversy regarding the writing, the directing, also editing, I decide to enjoy the show till the end and support all of the cast and production team who have been working so hard for 7 month during 3 season. They all have done a seriously great job till the end.

After all, it is not an easy task to write, moreover, to write such a deep meaningful historical drama script for only 20 episode (as far as I watch this kind of historical drama, it always more than 20 episodes). And, trust me, the drama is amazing in the beginning, a little bit draggy in the middle, but it is getting better to the end with a satisfying ending.

The cinematography is beyond word, breathtakingly beautiful, especially if @wow_kimsohyun and  Yoo Seung Ho are in one frame, they are oozing with charming aura. So many scenes that look as beautiful as a painting, surreal. I can not even decide which I like best since it is too many.

The OST involve many artists and more than I expected. They were all good and ear catching and somehow connected to the emotion in each scene. Even the BGM and the sound effect are worth listening because they are very fit to every scene in the drama.  Kudos to the sound director and music director, which make me post the list here. My favorite are songs by Hwang Chi Yeol, K. Will, Hwan Hee, Kim Yeon Ji, and Suran.

Last, this is definitely one of my favorite historical drama, alongside The Moon that Embrace The Sun, Jewel in the palace, Jumong, and The Legend. This drama could have been more than all of those dramas. It have potential to be one. The story idea, the cast, the cinematography, the sound, the music, even the dialogues (lines) are consider high quality. If, just if, the story development is much better.

But hey, there is no perfect drama. A drama can not pleased every viewers. Furthermore, it is only 20 episode historical drama, which apparently is not enough. But one thing for sure. This drama definitely deserved awards.

1. Yang Yo Seob (BEAST) – Couldn’t cry because I’m a man (Ruler OST Part 1)

2. Yang Yo Seob (BEAST) – Couldn’t cry because I’m a man (inst.)

3. Bolbbalgan4 – You and me from the start (Ruler OST Part 2)

4. Bolbbalgan4 – You and me from the start (inst.)

5. Hwang Chi Yeol – Even A Little While (Ruler OST Part 3)

6. Hwang Chi Yeol – Even A Little While (inst.)

7. Kei (Lovelyz) – Star And Sun (Ruler OST Part 4)

8. Kei (Lovelyz) – Star And Sun (inst.)

9. Kim Yeon Ji – Between Seasons (Ruler OST Part 5)

10. Kim Yeon Ji – Between Seasons (inst.)

11. Kim Na Young – I’m OK (Ruler OST Part 6)

12. Kim Na Young – I’m OK (inst.)

13. Yang Yo Seob – Tree (Ruler OST Part 7)

14. Yang Yo Seob – Tree (inst.)

15. K. Will – The Person I Love (Ruler OST Part 8)

16. K. Will – The Person I Love (inst.)

17. Hwan Hee – Shine (Ruler OST Part 9)

18. Hwan Hee – Shine (inst.)

19. Seo Young Eun –  Flowing down my cheeks (Ruler OST Part 10)

20. Seo Young Eun –  Flowing down my cheeks (inst.)

21. Gavy NJ – Affection/ Love (Ruler  OST Part 11)

22. Gavy NJ – Affection/ Love (inst.)

23. Zia – Though I want you (Ruler OST Part 12)

24. Zia – Though I want you (inst.)

25. Kim Greem – One person (Ruler OST Part 13)

26. Kim Greem – One person (inst.)

27. L (INFINITE) – It’s Okay Even If It’s Not Me•„ (Ruler OST Part 14)

28. L (INFINITE) – It’s Okay Even If It’s Not Me•„ (inst.)

29. Suran – Water Orchid (Ruler OST Part 15)

30. Suran – Water Orchid (inst.)

31. Kim So Hyun – Can’t You Hear My Heart (Ruler OST Part 16)

32. Kim So Hyun – Can’t You Hear My Heart (inst.)

33. U Sung Eun – Hidden tears (Ruler Part 17)

34. U Sung Eun – Hidden tears (inst.)

35. Heo Young Saeng (SS301) –  Look at you (Ruler OST Part 18)

36. Heo Young Saeng (SS301) –  Look at you (inst.)

 

37. Han Ga Eun theme (Piano cover by Nickey Piano)

38. Princess’s sadness (piano cover by Nickey Piano)

39. Opening music

40. Be worried (BGM)

41. Sad (BGM)

42. V.A. – Monarch Main title (ins.)

43. V.A. – Anger Behind The Mask (inst.)

44. V.A. – Chaotic Tension (inst.)

45. V.A. – Battle for Blood (inst.)

46. V.A. – Toxic flower (inst.)

47. V.A. – Monarch Pizz Comic (inst.)

48. V.A. – Ga Eun Sonata (inst.)

49. V.A. – Destiny Waltz (inst.)

50. V.A. – Advance of the Monarch (inst.)

51. V.A. – Situation (inst.)

52. V.A. – Strong strike (inst.)

53. V.A. – The Beginning Of The Fate (inst.)

54. V.A. – Ramification (inst.)

55. V.A. – Decision (inst.)

56. V.A. – Bright mind (inst.)

57. V.A. – Rattle (inst.)

58. V.A. – Love of the Monarch (inst.)

59. V.A. – The space of secret (inst.)

60. V.A. – Longing (inst.)

61. V.A. – Conspiracy (inst.)

 

62. V.A. – Carrying out (inst.)

63. V.A. – Pain hearts (inst.)

64. V.A. – Kingdom’s gate (inst.)

 

 

 

 

Sejenak Menghampiri Baturraden

Masih dalam rangka libur lebaran, kami menghampiri lokawisata Baturraden walaupun hanya sejenak saja.

Sudah terlalu lama rasanya sejak saya menginjak Baturraden. Terakhir kali saya ke sini ketika saya masih SD bersama dengan keluarga besar H. Djayadih (keluarga almarhum Bapa). Saat itu, almarhum bapa dan almarhum kaka saya masih bersama kami.

Ketika akhirnya saya sampai ke tempat ini lagi, rasanya tak sabar dibalut dengan penasaran. “Seperti apa ya penampakan baturraden saat ini?” pikir saya.

Setelah melewati antrian panjang menuju pintu masuk, kami pun terpaksa memarkirkan mobil di sebuah Hotel mengingat hampir semua tempat parkir penuh, sampai-sampai bahu jalan pun digunakan sebagai area parkir. Kenapa? Karena waktu berkunjung bertepatan dengan libur lebaran yang berarti banyak pengunjung berdatangan dari berbagai daerah.

Kami pun berjalan menanjak menuju pintu masuk dengan pemandangan Gunung Slamet yang menjulang tinggi dengan gagahnya.

Sampai di pintu masuk, rasa tidak sabar dan penasaran tadi mulai terjawab. Ramai, kesan pertama saya.

Memasuki kawasan wisata baturraden, saya pun terkejut.

Wow! Just Wow!

Bukan karena tumpah ruahnya manusia, melainkan karena betapa banyak perubahan di tempat ini. Sungguh amat sangat teramat berubah.

 Baturraden yang begitu alami dalam ingatan saya, berubah menjadi lebih modern, family friendly, colorful, and instagramable. Bagus sih, tetapi bagi saya yang menyukai suasana alam nan alami, rasanya agak disayangkan. Saya sungguh lebih menyukai tampakan Baturraden yang terekam alami dalam memori masa kecil saya.Meskipun begitu, Baturraden tetap merupakan salah satu destinasi wisata alam yang patut dikunjungi. Terlebih bagi warga perkotaan yang merindukan kesejukan dan keindahan alam pegunungan.

Di Baturraden ini banyak sekali lokasi yang bisa dikunjungi. Mulai dari pancuran 1 sampai 7, jembatan putus cinta, kebun raya, water park, dan lainnya. Sayang sekali saya tidak bisa mengunjungi semua tempat tersebut karena keterbatasan waktu.

Menuju jembatan putus cinta. Ketika saya masih SD, jembatan ini masih berupa jembatan gantung. Namun, semenjak peristiwa putusnya jembatan ini, pihak pengelola akhirnya membangun jembatan permanen untuk menggantikan jembatan gantung.

Pemandangan Baturraden dari atas jembatan. Such a beauty.Lanjut ke pancuran 7. Untuk menuju pancuran 7 dibutuhkan waktu lebih dari sejam dengan perjalanan yang terus menanjak. Sayang sekali saya dan keluarga tidak sampai hingga ke pancuran 7 karena masih harus mengejar waktu untuk balik ke Jakarta.

Next time, I’ll make sure to comeback to Baturraden. From morning till noon and explore every inch of what Baturraden can offered.

Kenyataan Dibalik Indahnya Taman Wisata Air Panas Guci

Lesson learned! No visitation during Eid or long holiday. A really bad timing to visit the place. It turned out, what we expected is far from reality.

Masih dalam rangka libur lebaran. Dalam perjalanan pulang kembali ke Jakarta, kami meyempatkan mampir ke objek wisata yang belakangan ini sungguh terkenal dibicarakan di berbagai sosial media. Ribuan foto berlatar belakang tempat ini pun sudah bertebaran di jagad instagram

Indah. Tampak indah.

Setelah perjalanan yang cukup menguji nyali karena berkelok-kelok, naik turun, ditambah dengan ramainya kendaraan. Kami pun tiba di Taman Wisata Air Panas Guci, Tegal  yang tepat berada di kaki gunung Slamet, Jawa Tengah.

Kesan pertama, jalan menuju lokasi masih belum tertata rapi. Hal ini membuat saya tersenyum bahagia. Mengapa, berarti tempat ini masih alami, which is very good.

Memasuki lokasi, kami disambut dengan cukup banyaknya sampah berserakan di sepanjang jalan dan banyak pengunjung yang lalu-lalang.

Semakin jalan ke dalam, suasana alami semakin terasa. Tapi entah kenapa, ada perasaan tidak nyaman di hati kecil saya.

Kami pun mengikuti jalan di sepanjang pinggir sungai yang mengalirkan air panas. Sesampainya di taman wisata, tepatnya di jembatan gantung, saya pun semakin merasa tak nyaman.

Betapa tidak, di jembatan jelas-jelas tertulis jalan satu-satu dan agar tidak berlama-lama di jembatan. Kenyataannya, jembatan penuh sesak oleh pengunjung yang menyebrang, bahkan banyak di antara mereka yang sibuk ber-selfie, wefie, dan –fiefie lainnya.

I guess, rules are meant to be broken. And that safety just flew out of the window at time like this (means holiday).

Dari ujung jembatan, terlihat kolam pemandian air panas yang dipenuhi pengunjung. Dan perasaan tak nyaman semakin menggebu-gebu di dalam hati saya.

Oh my. Oh my. Oh my God.

So this is an uncomfortable feeling I feel along the way. It is so crowded. Overly crowded. Gosh! I got a sudden headache.

Lihatlah betapa ramainya taman wisata air panas Guci di kala libur panjang lebaran. Benar-benar waktu yang sangat tidak tepat untuk mengunjungi tempat ini.

Jangankan menikmati keindahan alam, untuk sekadar berjalan pun kesulitan. Seakan-akan saya sedang dalam antrian panjang untuk menonton konser atau bola.

Tidak hanya di jalan, tetapi juga di sungai air panas, di air terjun, di jembatan, di kolam pemandian, di tempat souvenir, di tempat makan, semuanya dipenuhi manusia. Lebih tepatnya, lautan manusia.

Saya pun merasa kasihan dengan kuda-kuda yang berada di lokasi. Sejatinya, mereka cukup sensitif dengan keramaian dan kebisingan. Namun, apalah daya mereka.

Belum lagi, sampah-sampah yang berserakan di jalan, di pinggir sungai, bahkan di aliran sungai. Tempat sampah yang disediakan sungguh sudah tidak mampu menampung sampah dari ribuan orang yang datang bersamaan pada saat itu.

Saya pun segera mengurungkan niat saya untuk berlama-lama di tempat ini. Meskipun begitu, saya sempatkan untuk mengabadikan momen ini bersama keluarga. Kapan lagi bisa melihat Guci dalam keadaan seperti ini. Jauh dari bayangan. Sungguh, kenyataan lebih kejam dari harapan.

Bye-bye Guci. I’ll make sure to visit you again during weekdays in the near future. No more visiting during long holiday for I can not witness your beauty.

Hujan pun tiba-tiba datang tanpa diundang. Lengkap sudah perjalanan saya di Guci. Kami pun melipir sejenak di warung untuk sekadar menikmati pop mie dan menanti hujan reda.

Indahnya Desa Tlaga Kecamatan Punggelan, Banjar Negara

Salak day! After more than an hour climb up a mountain like, definitely worth it. Happiness is having a family living in a mountain with a field of salak, avocado trees, bananas, and a pond full of fishes.

 

Dalam rangka Lebaran, kami sekeluarga mudik ke Banjar Negara. Saya pun menyempatkan diri untuk mengunjungi sanak keluarga yang rumahnya tidak jauh dari rumah mbah saya.

Jadilah saya dan keluarga mengunjungi rumah lilik (om/tante) yang katanya berada di pegunungan, bahkan hampir di puncak gunung. Tepatnya di desa Tlaga Kecamatan Punggelan.

Ditambah iming-iming memetik salak, makan salak sepuasnya, memetik alpukat, dan memancing ikan untuk kemudian dimasak. Wah, saya sangat excited.

Maklum saja, saudara yang sudah pernah ke sana selalu menceritakan betapa indahnya pemandangan dan betapa ‘mengerikan’nya perjalanan ke sana. Ditambah lagi dengan cerita bahwa Punggelan termasuk daerah yang rawan longsor.

Benar saja. Jalan yang berkelok-kelok, naik dan turun, dan bisa dibilang hanya cukup untuk 1,5 ukuran mobil saja harus kami lalui. Mereka bilang jalannya menyeramkan. Saya bilang, jalannya cukup menantang. Mereka sungguh harus mencoba jalanan menuju pantai pegadungan gigi hiu, pikir saya.

Sepanjang jalan, saya disuguhi dengan hijaunya pepohonan, segarnya udara pegunungan,dan keindahan alam sepanjang mata memandang.

Sesampainya di rumah lilik saya, kami pun langsung disuguhi salak, keripik salak, pisang, ikan goreng, dan sebagainya. Ternyata semua iming-iming itu benar adanya, bahkan lebih.

Sungguh nikmat berada di pedesaan. Untuk sementara, saya lupa akan kesibukan dan kemacetan di ibukota.

 

Chicago Typewriter OST and BGM

After survived from a challenging week, I reward myself by watching ongoing kdrama. Currently obsessed with Chicago Typewriter which is very underrated, IMHO. This drama is superb. It definitely will be one of the best drama in my list. So, please bare with me. I’m going to rant a lot over this drama.
At first, I was curious about Im Soo Jung (@soojunglim_) who comeback to dramaland after 13 years off. She is so great in I’m Sorry I Love You also …Ing and many other movies. Yoo Ah In (@hongsick) also draws my attention since he always play a challenging character, meaningful if I may say. Just look at his previous work such as Sungkyungkwan ScandalFashion King, Jang Ok Jung. There is also Go Kyung Pyo (@kopular) which left good impression on me after Flower Boy Next Door and Reply 1988.

After I watch the first few episodes. I realized it is such a great drama, an unpredictable one.

The storyline. It is mostly about life of a writer but they deliver it in a very interesting way. The idea of using past (Korea in 1930) and present time as setting for their story is something that I rarely seen in kdrama world. Since ‘writer’ is the big theme of the drama, they spoiled me with many book reference, writer reference, beautiful book cafe, inspiring book quotes, and last but not least, amazing privat library of writers. Me, as a bookworm myself, could not ask for more. Books is everywhere.

The cast. I was amazed on how @hongsick perfectly portrayed the eccentric brassy filthy rich writer #hansejoo in the present time and a mysterious poised #seohwiyoung in the past as if they were two character portrayed by 2 different actor. Not to mention the deep, genuine, and cutest bromance with his literally ‘ghost’writer @kopular . The love line with @soojunglim_ which is more than just ‘cheesy’ romance. Add with an eccentric, funny, and random editor played by the #goblin secretary. All I can say, they are the best cast for this drama. .

The OST. Oh my, TVN always provides great OSTs, including this one. All OST and background music are perfectly connect to the story. So far, my favorites is Satellite by SaltNPaper also one from SG.Wannabe.

Last, I love how they include mystery, writer issues, publishing issues, politic issues, world problem, pop culture, fashion, and art in this drama without too dramatize or exaggerate.

So here are some of the OST:

1. SALTNPAPER – Satellite

2. CeeLo – Better Late Than Never [episode 1, during Han Se Joo book fansign in Chicago)

3. Celine Dion – Power of love [episode 1, the scene when the dog run to Jeon Seol instead of Se Joo]

4. Benny Goodman – Sing, Sing, Sing [episode 2, music for dancing scene of the trio in Carpe Diem]

5. Nam In Su – Impressive days [episode 2, the song that the trio sing while walking together]

6. Ruth Etting – All of me [episode 3, the record that Shin Hyul played)

7. Blooming Memories – Baek Ye Rin [episode 3]

8. The Platters – Only you [episode 4, when Bang Jin met Yoo Jin Oh]

9.  Park Dan Ma – Wind [Episode 5, Su Yeon sang in Carpe Diem]

10. Park Dan Ma – Wind [Episode 5, Im Soo Jung Version]

11. Writing Our Stories – SG. Wannabe [ending episode 5]

12. Broccoli, you too – Unless give damage to others [episode 7, Se Joo and his editor at the cafe]

13. Be My Light – Kevin Oh [episode 7]

14. Ed Sheeran – Bloodstream [episode 8, when Jeon Seol and Tae Min in the café]

15. Boni Pueri (Czech Boy Choir) – Come with me

16. Boni Pueri (Czech Boy Choir) – Time walk

17. Various Artist – Remember The Novel We Wrote That Day (inst.)

18. Various Artist – Time Travel (inst.)

19. Various Artist – Main title (inst.)

20. Various Artist – Aim the Gun (inst.)

21. Various Artist – Han Se Ju and Jeon Seol theme (inst.)

22. Various Artist – Ghostwriter Yoo Jin Oh (inst.)

 

 

 

A Magical Coldplay: A Head Full of Dreams Tour in Singapore

Finally, after discovering the Henderson Waves and strolling around malls, the reason of us being in Singapore, A Magical Coldplay: A Head Full of Dreams Tour in Singapore.

It was sudden and unplanned. As if one of dream comes true. It never crossed in my mind that I would be fulfilling one of my dream, now.

So, bucket list: Watch Coldplay Concert Live, check!

Back then, I fell in love with “Yellow,” so hard. Since then, Coldplay became one of my favorite all time bands. All of their album are never disappointed me.

The first time I heard Chris Martin voice all over the Singapore national stadium singing A head full of dream as their first song that night, I felt goosebumps all over my body.

And when I heard them singing Yellow and Fix you, right in front of my eyes, I was totally speechless and freeze, literally.

The rest of the night felt magical, very unreal. It was surely an adventure of a lifetime. I was like in a rollercoaster of emotion. From thrill to pure bliss to heart flutters to tears.

What. An. Amazing. Concert. Ever.

Along the concert, I screamed, I sang, I jumped, I cried, and I freeze. The venue, the light, the laser, the xyloband, the crowd, the confetti, the balloon, the music, the song, the sound system, and the band itself were beyond perfect.

I may not be in the best spot as all I could see was Coldplay members as small as ants. But, being physically there in one place as them and sang along with them made me couldn’t ask for more at the moment.

Most of the time, I hardly recorded them with my handphone (like many others did), but I did record them clearly in my head as an unforgettable memory. I thought, THIS IS A MUST WATCH WITH MY OWN TWO EYES.

So here were some of moment before the magical concert begins.

 

 

Strolling Around The HarbourFront Centre and VivoCity Singapore

After enjoyed nature in Southern ridges, we strolled around the mall called HarbourFront Centre and VivoCity. It wasn’t intended, but because they attached to the Harbourfront station, I guess it was not wrong to do some window shopping.

As they all said, it was heaven to shop in Singapore. The price is quite tempted,pretty much lower than in Indonesia not to mention, added with some discount. Charles & Keith, Cotton On, Kate Spade, Sketchers, Adidas, Nike, Uniqlo, and many more.

The mall it selves is the same as in Indonesia. The most different things I observed were some of the worker, such as janitor or cleaner, a fast food crew, the cashier of some store was old. I mean they were grandma and grandpa, literally. I was very surprise.

So, when we ate in one of the restaurant, I hardly chewed and enjoyed mine. How can I, when an old grandpa was mopping the floor next to me (sobbing inside for they reminds me of my grandpa or grandma).

Quickly out of the restaurant, we strolled around. Lastly, we ended up in Garret Popcorn store to had some taste of their famous popcorn before we went back to hotel and prepared ourselves for the Coldplay Concert.

A Walk to Discover in Singapore: Henderson Waves

Singapore! When I heard Singapore, shopping and Merlion came first at my mind. Most of people I know went to Singapore for shopping or discovered Universal Studios then taking mandatory picture with the famous Merlion.

Rarely I heard of them visit Singapore to enjoy their garden, parks or nature. So, when my cousin told us that we will do our morning run in the Southern Ridges, especially in the Henderson Waves, I was beyond thrill.

As we arrived late at night in Changi Airport, we only had few hours to sleep. And that made us woke up late in the morning. We went straight to the Mountbatten MRT station and took the train (Circle line) headed to Harbourfront station.

It was work day, so the train was full of Singaporean who were going to work or school. It was so quite in the train (remind me of how noisy it will be if it was in Indonesia) and very comfortable being inside of the train. I was impressed.

From the Harbourfront station, we planned to hike through Marang trail. But, after some thinking, we decided not to because of many reasons. So I took my phone out and reserved Uber to take us to Henderson road.

Not long after, a long and high stairs welcomed us, a stairway to heaven if I may call it. Well, I might be over exaggerated. At the end of the stairs, green scenery and a mountain trail were ahead of us, along the way to the Henderson Waves.

Finally, Henderson Waves right in front of our eyes. As we were getting ready to run along the waves, we took some snapshot here and there.

Henderson waves is the highest pedestrian bridge in Singapore which standing 36 meters above the Henderson road. It said as one of the best spots in Singapore to enjoy panoramic views of the city, harbour and the Southern Islands. And I couldn’t agree more.

It was so refreshing and relaxing. Fresh and nice air combined with beautiful scenery surely made us wanted to spend more time in here. Sadly, we had to force our self moved to another destination which is HarbourFront Centre and VivoCity also Coldplay Concert.

So, bye-bye waves. See you when I see you.

 

 

Merindukan Kesejukan di Desa Susukan, Banjar Negara

It’s been some time since we went to my mom’s hometown in Susukan Village, Central Java. Been missing the morning scenery of the sunrise, paddy fields, mountain, and hills.

short-getaway-21short-getaway-14short-getaway-23

Pulang ke kampung halaman mama selalu menjadi momen yang selalu saya tunggu. Membayangkan sejuknya udara yang bisa saya hirup, hijaunya hamparan padi, rimbunnya pepohonan di bukit, dan damainya suasana pedesaan membuat kami semakin tak sabar untuk segera kembali ke sana.

Beruntungnya saya, mama dilahirkan di sebuah desa bernama Susukan, yang masih kental dengan suasana pedesaan hingga saat ini.

Lihat saja, hamparan sawah mengapit jalanan menuju rumah Mbah saya. Betapa indah dan alami.

short-getaway-13

short-getaway-12

short-getaway-22

short-getaway-9 short-getaway-8

Aliran sungai pun ada disini. Jembatan ini merupakan jembatan bersejarah dan telah menjadi bagian dari keluarga besar kami, keluarga Sanrusdi. Entah sudah berapa lama sejak dibangunnya jembatan ini.

Yang pasti, saya melihat jembatan ini di dalam foto masa kanak-kanak Mama, masa remaja beliau, masa pernikahan beliau, masa saya masih bayi, hingga saya sekarang ini.

short-getaway-15short-getaway-20

short-getaway-18

short-getaway-17

10 Local (Indonesia) Accessories Brand to Step Up Your Outfit Game

[credit: antyk butyk]

[credit: antyk butyk]

I love accessories, especially the unique one. They add more colors to our outfit. They became a center of attention if we wore a simple plain outfit they become more like statement of our outfit.

Although there are so many brands out there, I prefer brands from local. Let’s just say that I support local. They have unique design, good quality, with reasonable price.

Here are some of local brands that I adore. Especially for their necklaces, which are wearable for me as hijaber. If you are looking for local accessories brand to step up your outfit game, they are some of the best out there.

Massicot by Amanda Matsuri and Ramdhan Muhammad

What I love about Massicot is that each pendulum (stone) does not have the same visual and it always one of a kind. It is a statement. It doesn’t matter if you wear a plain shirt, T-shirt, or even dress, because a piece of massicot accessories will definitely step up your plain outfit.

Schonmoi by Vedca Maria Orissa

What I really love about their necklaces are almost all of them made of wood. So it can pretty much called as part of ecofashion or sustainable fashion. The design also very unique. They are a little bit retro or vintage. So when you wanted to add some nice touch of vintage or retro style to step up your outfit game, Schon is one of the best choice out there.

Antyk butyk

All I could say about antyk butyk is not boring at all. Their accessories design or material often amazed me. The slight of culture can be see in each of their piece. You can look edgy, unique, funky, elegant, vintage, and feminine with one of their accessories in your outfit.

Environmental jewelry by Ega & Julia (EJ)

A jewelry brand which all their jewelry carefully handcrafted using dry rice grain. Yes, rice, the same rice that we used to see everyday and ate every single day. Some piece of rice add to your outfit will definitely step up your outfit game. Especially if you are a nature lover or looking for a sustainable jewelry.

Eden by sight by Jessica Saputro and Handy Yonathan

They were known for their natural gemstone in each of their accessories. Each of them are unique because of their raw nature. The design is simple and the gemstone that they use are colorful and pretty which make us look elegant.

Tealabel

If you want to look as pretty as if you are going to attend some tea party, just put on one of their accessories and you’ll definitely be center of attention. They really can mix kinds of rope with beads, shapes resin, or tassel into a beautiful and unique piece.

From Tiny Islands

Just like their brand name, they do look tiny and simple. Made mostly of silver and gold plated is perfect to add a statement to your outfit. If you are looking for an elegant yet not to eye catching, they are probably the best.

Atelier Pedra by Emiria Larasati

For edgy, classic, and elegant looks to step up your outfit game, Atelier Pedra offers a a simple yet detail accessories made of gold, silver, and stone. I love how simple their design look like.

Klar by Talita Natalia

A brand which use acrylic as their main material. Looks edgy, structured, and solid. They really did justice for their philosophy which is ‘a silent statement.’

Moth Jewellery

Their accessories is beyond unique. Color pencils, literally, on your plain, simple, or effortlessly outfit will mostly gain any attention out there. Not to mention, their unique and creative design. You’ll definitely want to have one of their accessories after you see them.

Menembus Hujan dan Kabut di Perkebunan Teh Gunung Mas

Menikmati suasana kebun teh di daerah Gunung Mas, Puncak mungkin terdengar biasa. Berjalan-jalan ditengah hamparan kebun teh, memanjakan mata dengan hijaunya dedaunan teh, sembari menghirup sejuknya udara pagi. Sesekali seorang guide menjelaskan perihal Perkebunan Nusantara 8 saat kita berhenti sejenak. Sungguh hal yang teramat biasa, setidaknya bagi saya.

Tapi, tidak pernah terbayangkan oleh saya untuk menikmati suasana kebun teh di Gunung Mas dalam keadaan hujan dan berkabut, di pagi hari pula. Dingin, sensasi utama yang paling saya rasakan.

Saat itu, Puncak diguyur hujan yang tak hentinya. Kabut pun turun menemani sang hujan. Rencana semula untuk tea walk sepanjang lebih kurang 4 km sambil menikmati hijaunya kebun teh pun terasa akan gagal. Suasana terasa gloomy dan membuat kami mager. Jarak pandang yang hanya beberapa meter saja semakin membuat kami ragu untuk melanjutkan rencana awal.

gunung-mas-15

Kalau saja, warung-warung di Gunung Mas tidak menjual jas hujan, enggan rasanya beranjak menuju perkebunan teh. Kenapa jadi jas hujan? Karena jas hujan itulah saya menjadi lebih bersemangat untuk melanjutkan rencana semula (maklum, saat itu saya sedang kurang sehat karena sehari sebelumnya, saya sempat demam dan flu berat).

Namun, ternyata Ide untuk ‘main hujan-hujanan’ sungguh membuat saya excited. Kapan lagi hujan-hujanan di tengah perkebunan teh di ketinggian 800-1200 m di atas permukaan laut yang dipenuhi kabut, pikir saya dalam hati. It will be so much fun!

gunung-mas-1

Benar saja, sangat menyenangkan.

Menembus hujan dan kabut, melawan udara dingin yang menusuk kulit, melewati sungai yang alirannya sangat deras, dan sesesekali berhenti untuk selfie, wefie, mendengarkan penjelasan sang Guide, atau hanya sekadar menikmati keindahan alam di perkebunan Gunung Mas.

gunung-mas-4 gunung-mas-16 gunung-mas-7 gunung-mas-12 gunung-mas-10 gunung-mas-14

gunung-mas-17 gunung-mas-2gunung-mas-23

Mempesona. Breathtakingly beautiful. Natural art.

Ditambah lagi dengan jalanan yang terbilang tidak biasa. Perjalanan kali ini lebih tepat disebut sebagai mountain tracking daripada tea walk. Menyenangkan!

Perjalanan turun pun tidak kalah mempesona. Melalui jalanan berbatu yang diapit rumah-rumah penduduk Gunung Mas. Masih ditemani hujan dan kabut. Saya merasa sedang berada di sebuah Negri di Atas Awan.

gunung-mas-18 gunung-mas-19 gunung-mas-20

Di salah satu rumah itulah kami beristirahat untuk melepas lelah dan sholat zuhur. Di sini pula kami menikmati sebungkus cilok terenak yang pernah saya makan, semangkuk mie rebus, dan secangkir teh putih panas hasil perkebunan teh gunung mas.

gunung-mas-38

Perjalanan berlanjut, dan kami pun bersiap untuk kembali ke penatnya dan panasnya Ibukota tercinta, DKI Jakarta.

gunung-mas-3

Kami pun sempat bernarsis ria dengan jas hujan kebanggaan kami. Sungguh berwarna. Kami tampak seperti para Hobbit. Tapi kalau dipikir-pikir kembali, kami pun tampak seperti para Teletubbies.

gunung-mas-35 gunung-mas-36 gunung-mas-26 gunung-mas-33 gunung-mas-32 gunung-mas-31

[IFW 2017] “Passion” Part 2

Fashion show bertema ‘Passion’ digelar di Plenary Hall, Jakarta Convention Center pada hari ke-3 Indonesia Fashion Week 2017, Jumat, 3 Februari 2017.

Setelah kami menyaksikan fashion show part 1 lalu dihibur oleh penampilan Maria Calista, fashion show pun dilanjutkan. Deretan desainer kenamaan Indonesia memamerkan koleksi terbaru mereka. Part 2 diisi oleh Susan Zhuang, Harry Ibrahim, Chossy Latu, Acakacak by LPTB Susan Budihardjo, dan Dinara Abdullina from Kazakhstan.

Susan Zhuang

Show dimulai dengan koleksi terbaru Susan Zhuang. Busana yang didominasi oleh warna hitam dan putih dengan sedikit bahan brokat dan berkesan feminim.

[Photo by @mikhaelandraias]

[Photo by @mikhaelandraias]

Harry Ibrahim

One of my 2 favorite in these show part 2. Koleksi Harry Ibrahim sangat indah, elegan, dan mewah. Tepat seperti tema yang diusungnya yaitu Royale Glamorous.

Saya bisa membayangkan gaun-gaun tersebut dipakai para selebritis dalam moment awards atau red carpet. What a very beautiful dress and look awfully expensive. Kunjungi www.harryibrahim.com untuk tahu lebih banyak.

[Photo by @panjulnew]

[Photo by @panjulnew]

Chossy Latu

The other favorite from 2. As much as I love Batik, I also love Songket. Songket member kesan mewah dan glamor. Selama ini songket dikenal masyarakat hanya sebagai kain yang difungsikan sebagai rok.

Akan tetapi, koleksi terbaru Chossy Latu ini memberi inspirasi baru bagaimana memanfaatkan songket menjadi busana elegan yang bisa dipakai oleh orang-orang di perkotaan. Dengan tema ‘Songket in The City’ (which remind me of Sex & the City series). Dan saya, langsung memutar otak bagaimana memodifikasinya agar bisa dipakai wanita berhijab seperti saya.

In this show, I just love the whole package. Glamour collection, perfect background music and beautiful accessories, and perfect atmosphere.

ifw-2017-20

[Photo by bajadams]

[Photo by bajadams]

 Acakacak by LPTB Susan Budihardjo

Para desainer alumni LPTB Susan Budihardjo ini menampilkan koleksi terbaru mereka bertema Camio 2. Kesan ‘acak-acakan,’ minimalis, kaku, dan futuristik terasa kental di semua koleksinya. Menyaksikan fashion show acakacak ini seakan-akan membawa kita jauh ke suatu tempat masa depan.

[Photo by irvandyyulius]

[Photo by irvandyyulius]

Dinara Abdullina

Fashion show passion ini ditutup oleh koleksi terbaru dari Samidel Dinara Abdullina yang berasal dari Kazakhstan. Busana yang ditampilkan sebagian besar berupa gaun berpotingan A-line atau babydoll dengan warna putih, hitam, biru dan merah. Yang paling menarik perhatian saya adalah motif kain yang digunakan, pola berlubang-lubang namun bukan brokat. Unik, If I may say.

ifw-2017-21

ifw-2017-22

[Photo by mikhaelandarias]

[Photo by mikhaelandarias]

Berakhirlah sudah Fashion Show yang mengusung tema Passion ini. Show yang menarik dan memanjakan mata penikmat fashion seperti saya. Yang lebih penting lagi, show yang menginspirasi untuk membuat karya yang sama atau bahkan lebih baik dari yang sebelumnya.

See you in Indonesia Fashion Week 2018.

See you when I see you.

 

[IFW 2017] “Passion” in Between with Maria Calista

Fashion show bertema passion ini memang dibagi menjadi 2 bagian. Selagi menanti bagian ke-2, kami dihibur oleh suara merdu seorang Maria Calista yang menyanyikan lagu singlenya berjudul “Satu kali lagi” dan cover lagu “Closer”.

maria

Seorang penyanyi yang sosoknya sedikit mengingatkan saya kepada Agnes Monica, baik dari wajah maupun kemampuan menyanyinya (kebetulan saya pernah menonton penampilan live Agnes Monica).

Selama ini mendengar single “Satu kali lagi” melalui radio atau via youtube. Kali ini menyaksikan langsung penampilannya yang ternyata sungguh memukau. Menurut saya, suara live Maria lebih bagus daripada rekamannya.

What a talented singer.

Next, Fashion Show: “Passion” Part 2

[IFW 2017] “Passion” Part 1

Fashion show bertema ‘Passion’ digelar di Plenary Hall, Jakarta Convention Center pada hari ke-3, Jumat, 3 Februari 2017.

Deretan designer muda Indonesia dan beberapa desainer kenamaan Indonesia memamerkan koleksi mereka di gelaran Indonesia Fashion Week 2017. Part 1 diisi oleh Hanny Lovelly, Wid/Lid, Gita Orlin, Kanzi Collection by Liza Yahya, Gee Batik by Sugeng Waskito, Anwar Dani, dan Uzy Fauziyah.

Hanny Lovelly

Show dimulai dengan busana rancangan Hanny Alamsyah. Bagi saya, yang menjadi highlight adalah penggunaan bahan utama sifon dengan warna-warna pastel dan detail yang mengingatkan saya kepada busana para wanita Eropa di masa lalu, totally feminim. Koleksi Hanny bias dilihat di http://WWW.HANNYLOVELLYFASHION.COM.

ifw-2017-12

Wid/Lid

Busana Wid/Lid memberikan kesan minimalis, casual, dan wearable. Saya bisa melihat diri saya memakai busana keluaran mereka dalam keseharian saya. Warna dominan putih dan hitam dengan detail fringe berupa tassel menjadi ciri khas koleksi terbaru Wid/Lid.

ifw-2017-13

Gita Orlin

Warna hitam mendominasi koleksi terbaru Gita Orlin. Penambahan bordiran di beberapa bagian dengan warna terang membuat busana tersebut lebih eye-catching.

ifw-2017-14

Kanzi Collection by Liza Yahya

Busana koleksi Liza Yahya ini merupakan satu diantara 2 favorit saya di Passion Fashion Show Part 1. Kesan kulturnya sangat terasa, etnik. I really would love to have one of those as my outfit. Koleksi lengkap mereka bisa dilihat di www.kanzicollection.com.

ifw-2017-15

Anwar Dani

Koleksi pertama Anwar Dani bertema Summer of Love memadukan kombinasi lace dan bahan berwana metallic. Koleksi Anwar Dani bias dilihat di www.anwardaniatelier.com.

ifw-2017-16

Gee Batik by Sugeng Waskito

For I’m so in love with batik, I’m definitely really fall in love for his collection, for sure. This one is my other favorite from the show. Seluruh koleksi Sugeng Waskito memperlihatkan busana yang dibuat dari bahan sutra. Batik dan sutra, perpaduan yang membuat busana tampak elegan dan mewah, kental nuansa budaya Jawa. Want to know more, visit www.geebatik-jogja.com

ifw-2017-17

Uzy Fauziyah

Koleksi Uzy memberikan kesan maskulin namun feminim, seperti pejuang-pejuang wanita Cina bernuansa Indonesia. Koleksi ini mengingatkan saya akan tokoh Chun Li dalam balutan kain tenun.

ifw-2017-18

Dan Passion Fashion Show Part 1 pun ditutup dengan penampilan apik Maria Calista untuk kemudian dilanjutkan dengan Fashion Show: “Passion” Part 2.

Not So Fashionable Presence at Passion Fashion Show, Indonesia Fashion Week 2017

Finally, the Indonesia Fashion Week is here. Finally, we could present in one of the fashion show.

ifw-2017-25

Excited, as we see the designer line up in the invitation. I mean, Susan Zhuang, Harry Ibrahim, Chossy Latu, and Dinara Abdullina from Kazakhstan are in the line up.
Curious, as there were also new young designer show their first collection in IFW.
Worried, if there will be a PD or another meeting at work that make us late for the show.
Last but not least,
Wondering, if our outfit will be fashionable enough to attend this show.

By the time we should leave to the venue, straight from the workplace, the feeling that remains only excitement and curiousity. Worries is long gone since there was no PD whatsoever. Wondering also vanish through the air since we actually don’t have choice to change into another outfit. So there we were, wearing our work outfit.

I was presentable enough but not so fashionable enough. I kind of laughed at myself by the time I looked at the mirror. I remember of a line in the invitation, “We request your fashionable presence at Passion feat…” Hahaha, fashionable presence.

ifw-2017-1

ifw-2017-2 ifw-2017-3

Well, at least we were full of smile, felt comfortable, and confidence enough to come. There some said, confidence and smile is what makes you more beautiful. And our fashion, let’s just called it effortless fashion.

The show must go on. So did we. Take our own moment outside and inside the venue.

ifw-2017-4 ifw-2017-5

ifw-2017-7

ifw-2017-10 ifw-2017-8 ifw-2017-9

And let the show begins.

Fashion Show: “Passion” Part 1, Passion Show: “Passion” In Between with Maria Calista, and Fashion Show: “Passion” Part 2.

 

The K2 Kdrama OST

After being hiatus from kdrama world (the last one was Doctors), I decided to take a peek of currently airing kdrama. Then I bumped into this one drama from TVN called The K2. As always, TVN made always made a great drama (eventhough the ending not always as we wanted to be). Named it, Cheese In The Trap, Reply series, Signal, Another Oh Hae Young, Let’s Fight Ghost, Dear My Friends, Cinderella and Four Knights, Oh My Ghost, Let’s Eat, Misaeng, Flower Boy next Door, and Queen In Hyun’s man.

I’ve been hearing about this drama even before the drama airing. I was kinda interested because I heard Ji Chang Wook will be in it, the genre is action, and the writer is the same as the Yong Pal’s. Furthermore it will be in TVN. So yes, I’m in.

the-k2-korean-drama-2016-posterI finally watched it when it already in episode 6. So far, I like it. It just a matter of preferences. Many viewer don’t like it because of Yoona’s (SNSD) acting. But for me, she is not bad for an Idol Actress. In fact, she is much better. She is improving a lot (trust me, I’ve watched all of her dramas back then) in terms of acting. So I’m gonna give her credit for her role as Anna.

k2As for other cast, they are great. Loving the action scene and an intense conversation between the cast. Also loving a shred of comedy from Anna’s bodyguard. The truth is, I like the story line, unpredictable. I don’t know who is the true culprit as I think that every one in the drama could be the one. Have to watched it till the end to know about it then. And I did. Love this drama to the bone. Great cast, great act, great action, great plot, and great ending.

Now, talking about kdrama always involve its original soundtrack (OST). Since it is TVN, I am fond of the OST. Most of OST from TVN’s dramas never dissapoint me. Including The K2 drama which I am currently watching, now. Awesome OST, if I may say.

1. Kim Bo Hyung (Spica) – Today [OST Part 1]

2. Kim Bo Hyung (Spica) – Today [OST Part 1 instrumental]

3. Yoo Sung Eun – Sometimes [OST Part 2]

4. Yoo Sung Eun – Sometimes [OST Part 2, instrumental]

5. Yoona – Amazing Grace [episode 6 at the church, OST Part 2]

6. Min Kyunghoon – Love you [OST Part 4]

7. Min Kyunghoon – Love you [OST Part 4, instrumental]

8. Fight Theme scene of ji Chang Wook

9. Kevin Oh – Baby Blue [episode 8 at the cafe when a girl wrote in her SNS to look for the ‘angel’]

10. Frankie Valli – Can’t take my eyes of you [episode 5, Ramen couple, when Anna enjoy her ramen prepared by Je Ha]

11. The K2 Ep 12 – My Angel

12. Park Kwang Sun – As time stop by [OST Part 5]

13. Yang Sun Mi – Wolf’s Song [Track 12, episode 9 when Jeha and Anna play catch on the beach]

14. Yang Sun Mi – Wolf’s Knight [Track 10, episode ]

15. Various Artist – The Witch and The Girl [Track 8, episode ]

16. Yang Sun Mi – Anemone (Female Version) [Track 20, episode 15 when Jeha leave Yoo Jin and Cloud 9]

17. Various Artist – Anemone (Male Version) [Track 7, episode ]

18. Kim Min Young – The Witch Advice [Track 15, episode ]

19. Yang Sun Mi – Mirror Mirror [Track 9, episode ]

20. Various Artist – Quando Corpus Morietur [Track 11, episode ]

21. Various Artist – Witching Hour [Track 14, episode ]

22. Various Artist – Der Rosenkavalier [Track 16, episode ]

23. Various Artist – Against The Odds [Track 17, episode ]

24. Various Artist – A Queen of Forest [Track 18, episode ]

25. Various Artist – Anna’s Appassionata [Track 19, episode ]

26. Yang Sun Mi – Serenade [Track 13, episode ]

27. various Artist – The K2 main theme [track 1, Jeha fighting scene ]

 

Read also:
The K2 Soompi forum