[JFW2018 Day 7] Amazon Tokyo Fashion Week presents ROGGYKEI and UJOH

Last but not least, the most memorable and the hardest effort for a fashion show in my life, so far… 

Perjuangannya buat liat show Amazon Tokyo Fashion Week @roggykei dan @ujoh.official ini benar-benar tidak terbayangkan sebelumnya. 

Dari mulai persiapan di rumah lanjut perjalanan ke sency alias senayan city yang penuh drama. Bahkan bisa dibilang ngalahin drama korea. Sampai perjuangan hingga bisa duduk didalam fashion tent.

Bayangkan saja, mulai dari rencana pulang tenggo (dari sekolah) yang gagal. Kemudian, tepat sebelum kita berangkat, tersadar kalau invitationnya ketinggalan di loker sekolah. Alhasil saya jadi print undangan. Bagusnya lagi, printer di rumah sedang rusak. 

Mengingat waktu yang semakin dekat, kami putuskan untuk naik kereta ke palmerah baru lanjut taksi atau grab atau gojek. 

Sampai di palmerah, kami disambut kemacetan yang luaaarr biasa. Disaat kami siap memesan gojek (karena jam sudah menunjukkan 30 menit sebelum show), hujan turun dengan derasnya. 

Saat hujan mereda, aplikasi gojek saya error. Saya tidak bisa meng-cancel gojek yang memang keberadaannya masi jauh dari lokasi. 

Akhirnya memesan grab sambil terus mencoba cancel gojek. Saya pun pasrah, ketika akhirnya abang grab membawa saya entah lewat mana demi menghindari kemacetan yang menggila. 

Saat tiba di sency, saya pun didera rasa malu luar biasa. Kenapa? Karena saya lari dengan helm grab masih terpasang dengan manisnya di kepala saya, sementara si abang teriak-teriak meminta helm-nya. Malu… 

Disaat saya merasa lega, karena akhirnya sampai di lokasi dan mendengar kabar bahs show nya tertunda, saya dikejutkan dengan penuhnya fashion tent. Sampai-sampai sulit bagi saya hanya untuk sekadar masuk ke fashion tent. 

Mungkin karena ini show terakhir di Jakarta Fashion Week 2018 sebelum finale, yaitu Dewi Fashion Knights 2018, jadinya penontonnya super membludak. 

Plus, show ini mengusung tema Jepang.  Penasaran donk pastinya. Jadiiii, mau itu jalur VIP atau reguler, sama antri dan penuhnya. 

Saking penuhnya, AC yang biasanya super dingin itupun tak berasa.

Jadi makin penasaran donk ya. Bakalan kaya apa shownya. Dengan dalih mau bertanya, berhasil merangsek ke depan, percis pas di pintu scan. Tapi, antri lagi donk yaaa.

Pas pintu dibuka, baru kali ini mau liat fashion show kaya mau nonton apaan dah, grasak grusuk dorong-dorongan saking penuh dan antusiasnya plus kayanya pada takut ga dapat tempat duduk — Ini pada ga pernah liat fashion show live apa ya. Pikir saya. 

Hellooo, pasti dapet kali. 

And then, the show begin. Too fast, I think. Can’t get enough. 


Entah kenapa, show ini terasa sangat singkat. Seakan-akan terburu-buru. 

Apakah konsepnya seperti itu atau karena jadwal show yang sudah ngaret, sementara show final DFK 2017 sudah di depan mata. 
Atau karena perjuangan saya yang teramat berat dan penuh drama, sehingga membuatnya terasa sangat singkat. 

Entahlah… 

Padahal saya suka sekali dengan koleksi mereka. Lots of linen and cotton. Layer and oversize clothes. Love it! 

Dear @jfwofficial . . Last but not least, the most memorable and the hardest… . Perjuangannya buat liat show #amazontokyofashionweek @roggykei @ujoh.official ini bener2 dah. Dari mulai perjalanan ke sency yang penuh drama yang bisa ngalahin drama korea, sampai perjuangan hingga bisa duduk didalam fashion tent. . Mungkin karena ini show terakhir di #jfw2018 sebelum finale, yaitu DFK2018, jadinya penontonnya super membludak. Plus katanya dari negri bunga sakura itu. Penasaran donk pastinya. Jadiiii, mau itu jalur VIP atau reguler, sama antri dan penuhnya, sampai pintu masuk tent mak. Saking penuhnya, AC yang biasanya super dingin itupun tak berasa. Jadi makin penasaran donk ya. ya. ya. Bakalan kaya apa shownya. Dengan dalih mau bertanya, berhasil merangsek ke depan, percis pas di pintu scan. Tapi, antri lagi donk yaaa. Pas pintu dibuka, baru kali ini mau liat fashion show kaya mau nonton apaan dah, grasak grusuk dorong-dorongan saking penuh dan antusiasnya plus kayanya pada takut ga dapat tempat duduk. Hellooo, pasti dapet kali. And then, the show begin. Too fast, I think. Can't get enough. . JFW2018 pun ditutup dengan penuh kenangan. #myJFWmoments #jfw10yrs

A post shared by Melly (@mel_ces) on

Dan, momen saya di JFW2018 pun ditutup dengan penuh kenangan.

See you next year dear Jakarta Fashion Week! 😘

Advertisements

[JFW2018 Day 6] Top White Coffee presents “Color Deconstructed” featuring Major Minor

Show yang paling saya tunggu di hari ke-6 ini, yaitu Major Minor. Kenapa? Tidak lain dan tidak bukan karena saya penasaran akan seperti apa koleksi yang ditampilkan salah satu brand yang masuk sebagai Dewi Fashion Knights 2017 di JFW 2018.

Meskipun kondisi badan tidak maksimal (saya sampai harus minum panadol), saya pun rela mengantri begitu panjang. 

Maklum, penontonnya membludak. Mungkin mereka sama penasarannya seperti saya. Mungkin juga mereka penggemar top white coffee. Atau loyal customer dari Major Minor. 

Ditambah lagi, banyaknya selebritis yang ikut menyaksikan show ini menjadi daya tarik tersendiri.

Begitu show dimulai, rasa penasaran hilang sudah. Major minor menampilkan koleksi pakaian mereka dengan detail kain yang dirangkai bak anyaman tikar dengan warna dominan putih.

Terakhir, kami dikejutkan dengan munculnya Ayushita dan Abimana yang turut menjadi model Major Minor di atas runway — Well, ga terlalu terkejut sih. Mengingat keduanya adalah brand ambassador top white coffee. Dan juga mengingat saat mengantri kami sempat bersebrangan dengan mereka. Bahkan Hanny sempat berfoto bersama Abimana. 

[JFW2018 Day 6] VIVO presents “VIVO V7+ Beyond Fashion” featuring Ats The Label and Monday to Sunday

Setelah melihat fashion show Major Minor di fashion tent, kami pun bergegas ke fashion atrium untuk melihat show Ats the Label dan Monday to Sunday.

Namun, sangat disayangkan kami terlambat sampai di lokasi — akibat show di fashion tent yang cukup telat dari jadwal.

Kami hanya sempat melihat finale dari fashion show kali ini. Padahal, saya ingin sekali melihat koleksi pakaian ready to wear mereka. 


[JFW2018 Day 6] Dekranasda present Artina, Batik Chic, Khanaan, dan Tandamata

Melaju ke Fashion Atrium di Senayan City, kami pun tiba tepat waktu – sebenarnya sudah telat kalau dari jadwal – untuk menyaksikan fashion show dari Dekranasda DKI Jakarta.

Pada kesempatan ini, kami pun melihat sosok Ibu Gubernur dan Ibu Wakil Gubernur DKI Jakarta yang ikut menyaksikan show ini. Makanya tidak heran kalau fashion atrium penuh sesak oleh para penonton dan juga jurnalis.

Show pun dimulai. Mengingat show in melibatkan beberapa brand binaan Dekranasda DKI Jakarta, maka dari itu kental sekali terasa suasana DKI Jakarta di dalam fashion Atrium. Hal ini dapat dilihat dari MC yang notabene abang dan none jakarta, pembukaan show oleh kepala dekranasda, hingga musik khas DKI Jakarta yang mengiringi  para model berjalan di catwalk.

Sementara brand binaan yang menampilkan karyanya adalah Artina,Batik Chic, Khanaan, dan Tandamata. Dari semua brand tersebut, I must say I love them all.

Masing-masing mempunyai keunikan tersendiri. Batik Chic yang didesain Novita Yunus dengan kebaya encim yang modern, 3D look, dan colorful. Khanaan hasil karya Khanaan Shamlan dengan warna nude dan aksen bulu-bulu – ditambah lagi diperagakan oleh Dwi Handayani Syah Putri dan Sarah Sofyan.

Berikut ini beberapa gambar yang berhasil tertangkap kamera kami.

Batik Chic

Khanaan

TandamataFinale…Lihat videonya dibawah ini,

 

 

 

 

 

[JFW2018 Day 6] Cherryn Lim

Setelah melewatkan hari ke-3, 4, dan 5 Jakarta Fashion Week 2018 karena kondisi kesehatan yang kurang baik dan juga padatnya kegiatan di sekolah, akhirnya saya berhasil mengajak Dwi dan Hanny untuk menghadiri JFW2018 hari ke-6.

Kali ini, fashion tent dipenuhi para penggemar karya desainer Caroline Lim yang dikenal dengan merk Cherryn Lim. Selama 30 menit, kami disuguhi sederetan gaun malam dan gaun pernikahan yang indahnya bukan main.

Mulai dari gaun malam berwarna pastel hingga berwarna yang lebih berani, seperti merah. Terakhir, gaun pengantin berwarna putih yang bertahtakan detail payet yang dipakai para model terlihat sangat indah dan bersahaja.

Lihat videonya di bawah ini,

[JFW2018 Day 2] Avenue A, Yogiswari Pradjanti, and GEE Batik

Dapat posisi duduk yang tidak menguntungkan karena telat antrinya dan juga karena sangat antusiasnya orang-orang melihat karya 3 desainer unik ini (alias penuh).

Show terakhir yang saya saksikan di hari ke-2 JFW 2018. Salah satu show yang saya tunggu-tunggu karena line up desainer yang memang saya suka – meskipun kelihatannya saya suka hampir semua desainer Indonesia. Dengan tema origin diversity, kebayang kan pasti akan Indonesia sekali.

AVENUE A

Hasil karya desainer Indonesia bernama LUthfi Madjid, yang lama tinggal dan berkiprah di New York ini benar-benar menginspirasi. Betapa tidak, pakaian ready to wear yang unik dan tak biasa, namun sepertinya tampak nyaman dipakai.

Lebih gilanya lagi, pakaian tersebut bisa dipakai oleh pria maupun wanita baik tua maupun muda. Kalau kata orang dulu Unisex tapi sekarang lebih dikenal dengan nama gender bender.

YOGISWARI PRADJANTI

Melihat karya desainer satu ini melalui instagram beliau membuat saya terpana. Kreatif. Nyeni. Kata-kata yang tepat untuk karya beliau. Kali ini saya melihat secara langsung koleksi “Cerita Para Nyonyah” yang terbilang etnik dan unik dan yang pasti, ready to wear.

Lihat videonya dibawah ini.

GEE BATIK

Koleksi batik cantik karya Sugeng Waskito patut saya acungi 2 jempol. Konsep fashion show yang Jawa sekali terasa kental. Mulai dari bahan batik (yang sepertinya sutra) dengan motif tradisional ditambah aksara jawa, aksesoris yang berupa ikon Jawa, dan juga musik gamelan jawa modern semakin memperkuat tema Jawa sepanjang fashion show.

Love it to the max!

Saksikan videonya di bawah ini.

 

 

[JFW2018 Day 2] ARVA School of Fashion presents BOBABABE, FARA OFFICIAL, IVAN KI, ONE & ONLY, and SUSANNA ANDRIYANTO

Kali ini di fashion tent menghadirkan para desainer muda yang mendalami ilmu fashion di ARVA School of Fashion.

Fashion tent mendadak penuh sesak oleh para pendukung desainer-desainer muda berbakat ini.

Jujur, dari semua karya desainer muda ini, yang paling membuat saya menginginkannya adalah BOBABABE. Sementara yang paling membuat saya takjub adalah  karya dari FARA OFFICIAL – just love their concept. Unique and at the same time futuristic.

BOBABABE

Koleksi kali ini memberikan kesan berada di negeri Cina. Suka sekali dengan warna-warnanya yang soft dan bergradasi.FARA OFFICIAL

Desain yang unik nan futuristic seakan membawa kami yang melihatnya menuju ke masa depan.

IVAN KI

Menjadi satu-satunya desainer pria di fashion show kali ini, tidak membuat Ivan Ki lantas meredup di antara karya para desainer wanita. Detail seperti jaring laba-laba mempertegas saya bahwa koleksi pakaian ini di desain oleh seorang pria, tidak lain dan tak bukan adalah Ivan Nurul Huda.

ONE & ONLY

SUSANNA ANDRIYANTO

 

[JFW 2018 DAY 2] The Goods Dept. presents “Transit In Analog” in PIA ALISJAHBANA AWARDS 2017

Postingan ini sebagai kelanjutan dari postingan saya sebelumnya mengenai PIA ALISJAHBANA AWARDS 2017.

Di ajang penghargaan ini, The Goods Group sebagai penerima Pia Alisjahbana Awards 2017 kategori institusi menampilkan fashion show yang mengangkat tema Transit in Analog.

Barisan model berjalan di runway membawakan koleksi The Goods Dept. Seketika terdengar gemuruh para hadirin, begitu terdengar background musik disertai para model berbusana 70-80an yang membuat kita serasa kembali ke masa lalu. Masa di mana teknologi sebagian besar masih bersifat analog (dibandingkan sekarang yang semuanya serba digital).

A youthful and vintage vibe.

Simak saja videonya berikut ini. ps. I really like the song.

Dan kami pun ikut menangkap momen kami di Pia Alisjahbana Awards 2017.

 

 

[JFW 2018 DAY 2] PIA ALISJAHBANA AWARDS 2017

A moment in a lifetime.

It was Sunday, October 22, 2017. Felt so lucky to witness Biyan and The Goods Group received Pia Alisjahbana Awards 2017.

Kenapa saya anggap momen ini sebagai salah satu moment yang akan saya ingat sepanjang hidup saya? Tidak lain dan tidak bukan karena ajang penghargaan ini hanya diadakan setiap 5 tahun sekali. Belum tentu 5 tahun mendatang saya berkesempatan hadir di ajang ini lagi.

Pada ajang penghargaan ini pula, saya berkesempatan berada dalam satu ruangan dengan para desainer terkenal Indonesia, para petinggi Femina Group, para petinggi perusahaan yang berhubungan dengan dunia fashion, para model, sertatokoh-tokoh industri mode dan kreatif Indonesia.

Semakin merasa beruntung, karena saya duduk tepat dibelakang para founder The Goods, Founder Femina Group, Biyan, Ibu Pia Alisjahbana, Oscar Lawalata dan lainnya.

Can you believe that. Even I hardly believe it.

Bagi kalian yang belum tahu apa itu Pia Alisjahbana Award, saya akan jelaskan sedikit saja mengenai ini.

Pia Alisjahbana Awards 2017 memberikan penghargaan bagi individu dan institusi yang memberikan banyak kontribusi dan pengaruh terhadap perkembangan industri mode Indonesia. Tahun ini, penghargaan diberikan kepada desainer kenamaan Indonesia Biyan Wanaatmadja (kategori individu) dan The Goods Group (kategori institusi) sebagai penggerak mode terbaik di Indonesia.

Berikut beberapa momen di Pia Alisjahbana Awards 2017 yang bisa saya abadikan.

Selamat kepada Biyan dan The Goods Group. Teruslah berkarya untuk bangsa dan mengharumkan nama Indonesia di kancah Internasional.

Di ajang ini pula, saya dapat menyaksikan fashion show The Goods Dept. yang bertajuk Transit in Analog yang akan saya bahas di postingan selanjutnya.

[JFW 2018 DAY 2] The Goods Dept. presents “Transit In Analog” in PIA ALISJAHBANA AWARDS 2017

[JFW2018 DAY 1] Embassy Of Sweden and Swedish Fashion Council present “Sustainable Swedish Fashion” featuring HOUSE OF DAGMAR, UNIFORMS FOR THE DEDICATED, and HOPE STOCKHOLM

When I saw JFW2018 schedule and noticed word “Sustainable” from one of the fashion show, I definitely had to watch. Just because, I supported the idea of sustainable clothing.

Ketika mendengar kata “berkelanjutan,” saya pun langsung membayangkan pakaian yang terbuat dari bahan-bahan alami, seperti wool, katun, dan linen. Pasti nyaman dan pastinya cocok sekali dipakai saya yang tinggal di daerah tropis ini.

Sambil menunggu, kami pun jeprat sana jepret sini di area fashion tent.

Dan fashion show pun dimulai.

HOUSE OF DAGMAR

UNIFORMS FOR THE DEDICATED

 

HOPE STOCKHOLM

Watch the video down here,

[JFW2018 DAY 1] Fashion Design Council of India present Nitin Bal Chauhan, Novita Yunus and Nisha

Jakarta Fashion Week 2018 (JFW 2018) is finally here. Well, it was.

It was Saturday, October 21, 2017 which means the first day of JFW 2018. I was so excited more than ever because I had some of invitation for the fashion show.

Rasanya sungguh tidak sabar untuk melihat fashion show dari berbagai desainer kenamaan, baik luar negri maupun dalam negri. Di hari pertama ini, saya berkesempatan melihat karya dari desainer muda India Nitin Bal Chauhan dan Nisha bersama dengan desainer Indonesia Novita Yunus.

Ketika lampu mulai meredup, penutup runway ditarik oleh beberapa orang pria, dan musik mulai terdengar, rasa penasaran pun semakin membuncah. “Seperti apa ya karya mereka,” pikir saya dalam hati.

Nitin Bal Chauhan

Sekilas, pakaian yang ditampilkan terkesan biasa. Tampak seperti gamis atau gaun panjang dengan tidak banyak detail. Akantetapi, begitu diperhatikan, gaun tersebut tampak luar biasa dengan tambahan detail embroidery yang sangat indah dan artistik.

Entah bagaimana dia membuatnya. Bagi saya, gaun-gaun yang ditampilkan tampak seperti rentetan karya seni. Ditambah lagi dengan musik yang mengiringinya. Sangat indah.

I can see myself wear one of those long dress. Wanna have one of those artworks T_T

Lihat videonya dibawah ini,

A glimpse of @nitinbalchauhan for #JFW2018

A post shared by Melly (@mel_ces) on

NOVITA YUNUS X NISHA (NY x ashaane)

Kedua desainer ini menampilkan karya bertajuk WARNA. Dan sayapun berharap warna-warni busana akan muncul dihadapan saya. Benar saja. Berlatang belakang musik etnik, berbagai busana yang kental dengan nuansa tradisional Indonesia dan India dengan penuh warna-warni memanjakan mata saya. Aksesoris yang dikenakan para model pun menambah kesan tradisional yang memang sudah kentara.

So colorful and wearable. Super want it!

Dengar dan lihat videonya dibawah ini,

NY x aeshaane for #JFW2018 spring summer. Colorful on the runway from @yunus.novita

A post shared by Melly (@mel_ces) on

Selanjutnya,

[JFW2018 DAY 1] Embassy Of Sweden and Swedish Fashion Council present “Sustainable Swedish Fashion” featuring HOUSE OF DAGMAR, UNIFORMS FOR THE DEDICATED, and HOPE STOCKHOLM

[Indonesia Modest Fashion Week 2017] Wardah x Itang Yunasz

Etnik.

Indonesia sekali.

Itulah kesan pertama saya terhadap koleksi Itang Yunasz yang ditampilkan di Indonesia Modest Fashion Week 2017 ini. Dengan mengangkat ragam kain khas daerah Sumba, Nusa Tenggara, membuat saya semakin cinta pada karya desainer yang satu ini. Yang paling saya suka adalah pakaian yang memadukan kain sumba dengan brokat (lace) dengan dominasi warna hitam.

Lihat videonya di bawah ini,

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

[Indonesia Modest Fashion Week 2017] Wardah x Malik Moestaram

Oh my God!

Those clothes are very super duper pretty.

Malik Moestaram menampilkan karyanya yang tampak seperti boneka-boneka cantik bak peri nan feminim.

Indah banget.

Permainan bahan, warna, detail, aksesoris, dan tentu saja desainnya yang modest sungguh membuat saya jatuh cinta.

Lihat videonya di bawah ini dan terpukaulah…

[Indonesia Modest Fashion Week 2017] Wardah x Jeny Tjahyawati

Black is a very happy bold color.

Jeny Tjahyawati menampilkan karyanya yang didomininasi warna hitam. Pemakaian penutup kepala berbahan organza (sepertinya) yang diatur sedemikian rupa – sangat unik menurut saya – dengan warna-warna seperti merah dan biru menambah kesan bold.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

[IFW 2017] “Passion” Part 2

Fashion show bertema ‘Passion’ digelar di Plenary Hall, Jakarta Convention Center pada hari ke-3 Indonesia Fashion Week 2017, Jumat, 3 Februari 2017.

Setelah kami menyaksikan fashion show part 1 lalu dihibur oleh penampilan Maria Calista, fashion show pun dilanjutkan. Deretan desainer kenamaan Indonesia memamerkan koleksi terbaru mereka. Part 2 diisi oleh Susan Zhuang, Harry Ibrahim, Chossy Latu, Acakacak by LPTB Susan Budihardjo, dan Dinara Abdullina from Kazakhstan.

Susan Zhuang

Show dimulai dengan koleksi terbaru Susan Zhuang. Busana yang didominasi oleh warna hitam dan putih dengan sedikit bahan brokat dan berkesan feminim.

[Photo by @mikhaelandraias]

[Photo by @mikhaelandraias]

Harry Ibrahim

One of my 2 favorite in these show part 2. Koleksi Harry Ibrahim sangat indah, elegan, dan mewah. Tepat seperti tema yang diusungnya yaitu Royale Glamorous.

Saya bisa membayangkan gaun-gaun tersebut dipakai para selebritis dalam moment awards atau red carpet. What a very beautiful dress and look awfully expensive. Kunjungi www.harryibrahim.com untuk tahu lebih banyak.

[Photo by @panjulnew]

[Photo by @panjulnew]

Chossy Latu

The other favorite from 2. As much as I love Batik, I also love Songket. Songket member kesan mewah dan glamor. Selama ini songket dikenal masyarakat hanya sebagai kain yang difungsikan sebagai rok.

Akan tetapi, koleksi terbaru Chossy Latu ini memberi inspirasi baru bagaimana memanfaatkan songket menjadi busana elegan yang bisa dipakai oleh orang-orang di perkotaan. Dengan tema ‘Songket in The City’ (which remind me of Sex & the City series). Dan saya, langsung memutar otak bagaimana memodifikasinya agar bisa dipakai wanita berhijab seperti saya.

In this show, I just love the whole package. Glamour collection, perfect background music and beautiful accessories, and perfect atmosphere.

ifw-2017-20

[Photo by bajadams]

[Photo by bajadams]

 Acakacak by LPTB Susan Budihardjo

Para desainer alumni LPTB Susan Budihardjo ini menampilkan koleksi terbaru mereka bertema Camio 2. Kesan ‘acak-acakan,’ minimalis, kaku, dan futuristik terasa kental di semua koleksinya. Menyaksikan fashion show acakacak ini seakan-akan membawa kita jauh ke suatu tempat masa depan.

[Photo by irvandyyulius]

[Photo by irvandyyulius]

Dinara Abdullina

Fashion show passion ini ditutup oleh koleksi terbaru dari Samidel Dinara Abdullina yang berasal dari Kazakhstan. Busana yang ditampilkan sebagian besar berupa gaun berpotingan A-line atau babydoll dengan warna putih, hitam, biru dan merah. Yang paling menarik perhatian saya adalah motif kain yang digunakan, pola berlubang-lubang namun bukan brokat. Unik, If I may say.

ifw-2017-21

ifw-2017-22

[Photo by mikhaelandarias]

[Photo by mikhaelandarias]

Berakhirlah sudah Fashion Show yang mengusung tema Passion ini. Show yang menarik dan memanjakan mata penikmat fashion seperti saya. Yang lebih penting lagi, show yang menginspirasi untuk membuat karya yang sama atau bahkan lebih baik dari yang sebelumnya.

See you in Indonesia Fashion Week 2018.

See you when I see you.

 

[IFW 2017] “Passion” in Between with Maria Calista

Fashion show bertema passion ini memang dibagi menjadi 2 bagian. Selagi menanti bagian ke-2, kami dihibur oleh suara merdu seorang Maria Calista yang menyanyikan lagu singlenya berjudul “Satu kali lagi” dan cover lagu “Closer”.

maria

Seorang penyanyi yang sosoknya sedikit mengingatkan saya kepada Agnes Monica, baik dari wajah maupun kemampuan menyanyinya (kebetulan saya pernah menonton penampilan live Agnes Monica).

Selama ini mendengar single “Satu kali lagi” melalui radio atau via youtube. Kali ini menyaksikan langsung penampilannya yang ternyata sungguh memukau. Menurut saya, suara live Maria lebih bagus daripada rekamannya.

What a talented singer.

Next, Fashion Show: “Passion” Part 2

[IFW 2017] “Passion” Part 1

Fashion show bertema ‘Passion’ digelar di Plenary Hall, Jakarta Convention Center pada hari ke-3, Jumat, 3 Februari 2017.

Deretan designer muda Indonesia dan beberapa desainer kenamaan Indonesia memamerkan koleksi mereka di gelaran Indonesia Fashion Week 2017. Part 1 diisi oleh Hanny Lovelly, Wid/Lid, Gita Orlin, Kanzi Collection by Liza Yahya, Gee Batik by Sugeng Waskito, Anwar Dani, dan Uzy Fauziyah.

Hanny Lovelly

Show dimulai dengan busana rancangan Hanny Alamsyah. Bagi saya, yang menjadi highlight adalah penggunaan bahan utama sifon dengan warna-warna pastel dan detail yang mengingatkan saya kepada busana para wanita Eropa di masa lalu, totally feminim. Koleksi Hanny bias dilihat di http://WWW.HANNYLOVELLYFASHION.COM.

ifw-2017-12

Wid/Lid

Busana Wid/Lid memberikan kesan minimalis, casual, dan wearable. Saya bisa melihat diri saya memakai busana keluaran mereka dalam keseharian saya. Warna dominan putih dan hitam dengan detail fringe berupa tassel menjadi ciri khas koleksi terbaru Wid/Lid.

ifw-2017-13

Gita Orlin

Warna hitam mendominasi koleksi terbaru Gita Orlin. Penambahan bordiran di beberapa bagian dengan warna terang membuat busana tersebut lebih eye-catching.

ifw-2017-14

Kanzi Collection by Liza Yahya

Busana koleksi Liza Yahya ini merupakan satu diantara 2 favorit saya di Passion Fashion Show Part 1. Kesan kulturnya sangat terasa, etnik. I really would love to have one of those as my outfit. Koleksi lengkap mereka bisa dilihat di www.kanzicollection.com.

ifw-2017-15

Anwar Dani

Koleksi pertama Anwar Dani bertema Summer of Love memadukan kombinasi lace dan bahan berwana metallic. Koleksi Anwar Dani bias dilihat di www.anwardaniatelier.com.

ifw-2017-16

Gee Batik by Sugeng Waskito

For I’m so in love with batik, I’m definitely really fall in love for his collection, for sure. This one is my other favorite from the show. Seluruh koleksi Sugeng Waskito memperlihatkan busana yang dibuat dari bahan sutra. Batik dan sutra, perpaduan yang membuat busana tampak elegan dan mewah, kental nuansa budaya Jawa. Want to know more, visit www.geebatik-jogja.com. 

ifw-2017-17

Uzy Fauziyah

Koleksi Uzy memberikan kesan maskulin namun feminim, seperti pejuang-pejuang wanita Cina bernuansa Indonesia. Koleksi ini mengingatkan saya akan tokoh Chun Li dalam balutan kain tenun.

ifw-2017-18

Dan Passion Fashion Show Part 1 pun ditutup dengan penampilan apik Maria Calista untuk kemudian dilanjutkan dengan Fashion Show: “Passion” Part 2.

Not So Fashionable Presence at Passion Fashion Show, Indonesia Fashion Week 2017

Finally, the Indonesia Fashion Week is here. Finally, we could present in one of the fashion show.

ifw-2017-25

Excited, as we see the designer line up in the invitation. I mean, Susan Zhuang, Harry Ibrahim, Chossy Latu, and Dinara Abdullina from Kazakhstan are in the line up.
Curious, as there were also new young designer show their first collection in IFW.
Worried, if there will be a PD or another meeting at work that make us late for the show.
Last but not least,
Wondering, if our outfit will be fashionable enough to attend this show.

By the time we should leave to the venue, straight from the workplace, the feeling that remains only excitement and curiousity. Worries is long gone since there was no PD whatsoever. Wondering also vanish through the air since we actually don’t have choice to change into another outfit. So there we were, wearing our work outfit.

I was presentable enough but not so fashionable enough. I kind of laughed at myself by the time I looked at the mirror. I remember of a line in the invitation, “We request your fashionable presence at Passion feat…” Hahaha, fashionable presence.

ifw-2017-1

ifw-2017-2 ifw-2017-3

Well, at least we were full of smile, felt comfortable, and confidence enough to come. There some said, confidence and smile is what makes you more beautiful. And our fashion, let’s just called it effortless fashion.

The show must go on. So did we. Take our own moment outside and inside the venue.

ifw-2017-4 ifw-2017-5

ifw-2017-7

ifw-2017-10 ifw-2017-8 ifw-2017-9

And let the show begins.

Fashion Show: “Passion” Part 1, Passion Show: “Passion” In Between with Maria Calista, and Fashion Show: “Passion” Part 2.

 

[IFW 2015] “Andalucia Belezza” by Irna La Perle

Indonesia Fashion Week 2015, Day 3

Irna La Perle!

When I saw the Fashion Show line up on the IFW 2015 schedule, Irna La Perle quickly got my attention. I love almost all collection from this brand. Keep following their update on the website, instagram, even stalked the designer instagram. Which none other than Irna Mutiara.

Irna Mutiara dalam bukunya “Hijrah Story” secara tersirat mengatakan bahwa Irna La Perle ini muncul karena keinginannya membuat baju pengantin muslimah yang syar’i (sesuai kaidah yang diajarkan agama Islam).

Ketika banyak orang bertanya-tanya mengapa brand-nya memakai bahasa Perancis, mba Irna menjawab dalam bukunya “bukan karena tidak cinta Indonesia tetapi karena kota mode di Paris, Perancis dan kami ingin busana pengantin ini disukai oleh muslimah di seluruh dunia.” Well, I hope her dreams will come true.

Dari sekian banyak perancang busana muslimah, bisa dibilang, Irna Mutiara satu-satunya perancang busana pengantin muslimah yang syar’i namun tetap indah, mewah, dan elegan.

Dengan ukurannya yang tidak ketat di tubuh, penggunaan bahan yang flowy dan teknik layering menjadi signature Irna la perle. Koleksi baju pengantinnya mengingatkan saya pada pakaian para putri-putri dalam buku cerita anak-anak. Hanya saja, putri-putri tersebut memakai hijab.

So, how come I am not curious and excited o watch the show. After all, this is the first time for me to see the collection on the runway.

Koleksi Irna La perle kali ini terinspirasi dari sebuah daerah yang bernama Andalusia.  Andalusia adalah sebuah daerah otonomi di Spanyol dimana pengaruh budaya Islam masih tampak pada bangunan arsitekturnya, seperti Alhambra di Granada dan Mezquita di Cordoba.

Ah, Do I love Irna La Perle? (Kim Tan style). Love the espanola influence mix with Indonesian and off course Islam. Really want to have one of the collections as my wedding gown.

Another standing applause for Irna Mutiara. So grateful that I could congratulate her in person and even took a picture with her. Thanks God, I was not freezing, trembling and speechless in front of her like the day before (read here).

[IFW 2015] “Aku dan Sophie: Colors of Summer” by Sophie Paris

Indonesia Fashion Week 2015, Day 3.

I kinda hesitated, at first, to visit the Indonesia fashion Week 2015, for the 3rd time in a row. Not because it was not interesting enough, but more because I felt kinda exhausted. The weekdays were quite crazy. Somehow worked in that week felt much tougher than usual.

But then it hit me again, it is Sophie Paris and Irna La Perle Fashion Show that I will be attending. THE Sophie Paris and THE Irna La Perle which I adore so much. Plus, I already asked my aunty to join us (me and Mom) and she was so excited  (she had some of  sophie paris products at hand). So, I will feel guilty over her.

Then it decided. Let’s Go!

At the venue, we almost late. At least, we thought so. Thanks God, the show was kind of delayed. It means, we’re definitely safe. Inside the main stage, it was very full.

I think it is because there will be 2 show in a row. 1st is from Sophie Paris and 2nd is from Irna La Perle. So it was not a surprise. Not to mention, this is the first time, ever, Sophie Paris had their Fashion Show at Indonesia Fashion Week.

Then it’s all start…

The background picture and music made us felt like we were in Paris. It was summer in Paris, to be exact. Then, one by one, fresh, bright, young, and colorful outfit shown to the audience.

464777838

Okay, I can definitely wear this with my hijab. (Photo credit: as tagged)

464777808

This one is my aunty’s favorite. Decided to buy it. Definitely wearable for hijaber like us. (Photo credit: as tagged)

Then here comes the end of the show. I guess, after the show, some of the audience will jump aboard to their booth. Since they kindly share goodie bag with a catalog, beautiful flowery pouch, and a voucher inside.

Happy shopping!

[IFW 2015] “Miracle of The Sun” by Irna Mutiara and SMK NU Banat Kudus

Indonesia Fashion Week 2015, Day 2

This is one of the fashion show that I’ve been waiting for. Why? Because I am a huge fans of Irna Mutiara as designer and also as a person herself.

Sudah lama sekali saya menyukai karya-karya mba Irna Mutiara dengan brand-nya Irna La Perle. Karya yang dihasilkan mba Irna selalu terlihat elegan, anggun, flowy, and soft. It just so beautiful.

So when Dwi told me she got the invitation for her show, I was like, “Oh my gosh. Kyaaaa…. Mba Irna. The brain behind Irna La Perle. Kyaaaa..” and Dwi just stunned with my reaction. She didn’t know my love for her before.

Jadi, kali ini, Irna Mutiara berkolaborasi dengan anak-anak SMK NU Banat Kudus program Tata Busana dengan didukung penuh oleh Djarum Bakti Pendidikan menampilkan 45 busana muslim yang bergaya syar’i.

Mba Irna sendiri dalam instagramnya menyatakan bahwa rancangannya kali ini menampilkan busana muslim yang syar’i namun berbeda dengan yang sudah banyak di pasaran.

Ia ingin mempresentasikam sesuatu yang sesuai dengan kaidah tapi memiliki unsur kebaruan, berkesan elegan melambangkan Islam yang luhur, menghindari pakaian yang akan menimbulkan cemooh (pertentangan), berbahan sesuai kaidah (tidak mencetak badan, tidak tipis), dan merupakan pakaian yang tidak mubadzir dalam hal ini wearable, bisa dipake dalam keseharian.

A kind woman offered to take our photograph while waiting for the show.

A kind woman offered to take our photograph while waiting for the show.

Jadi, tema fashion show mba Irna ini adalah “Miracle of the Sun.” Fortunately, I sat in the third row, so it will definitely spoils my beautiful eyes. Even though the show was delayed almost an hour (even the press a little bit annoyed by the delayed time (guessed from noises they made) but, I guess all the feeling is gone out the window right after the music in the background started to sound and first 3 models walk out in the runway.

The first 3 models that make us fascinated. (photo credit: http://www.vemale.com)

I was like, “Oh My Gosh, Subhanallah… they were beautiful.” I mean whole package. The music, the lights, the story, the background picture, the clothes, the shoes, the accessories, the choreography.

Bisa dibilang saya, Dwi, dan mama terdiam membisu, speechless. Bagus banget, keren banget, indah banget! Bajunya kece badaiiii!!

Kisah ini dimulai ketika sang fajar datang hingga malam menjelang. It really is a “Miracle of the Sun.” the theme really did do the justice.

(Photo credit: m.liputan6.com)

(Photo credit: wolipop.detik.com)

After a long minutes fascinated by the show. Then we started to pour what we had in mind about the show. I told Dwi that I felt like watching some kind of fairy tale or even a movie (it actually reminds me a lot of Lord of The Ring).

Saya merasa sedang berada di sebuah negeri peri. Di awal, peri-peri nan ‘ayu’ dan rapuh memperlihatkan diri mereka, seakan-akan mereka hendak mulai keluar di saat pagi menjelang.

Kemudian, saat mentari makin tinggi, semakin bermunculan peri-peri dengan penuh kesegaran dan keceriaan, yang terwakili dengan pakaian mereka yang bernuansa kekuningan.

(photo credit: http://possore.com)

(Photo credit: m.liputan6.com)

Lalu, saat mentari bersembunyi dibalik gelapnya malam, giliran para peri yang kuat dan berani bermunculan, menguasai saat malam. They really did look like some kind of fairy that so strong, brave, and fierce that actually can protect all the other fairy.

(Photo credit: www.lintas.me.com)

Just look at how they positioned themselves at the almost end of the show. They stood there on each side. It was like guarding all the other fairy safely.

(Photo credit: www.lintas.me.com)

IFW 2015 - day 2 (25)

End of the show.

IFW 2015 - day 2 (28)

The brain behind the amazingly stunningly incredibly beautiful show. Irna Mutiara and anak-anak SMK NU Banat Kudus.

And, all the applause for them. For me, it was absolutely standing applause. Saya rasa, apa yang ingin direpresentasikan oleh mba Irna terwujud sudah. Saya juga merasa, setelah menyaksikan show ini, banyak muslimah tergerak hatinya untuk mulai berbusana lebih syar’i. Because, we definitely will look more gorgeous with these kinds of clothes.

It really is the miracle (I wonder how many times I’ve said this before). Keterlambatan selama hampir selama 1 jam terbayar sudah. What a perfect show.

And lastly, we had a very rare chance to congratulate mba Irna. Dwi dan mama malah sempat cipika-cipiki plus foto bareng.

While me, I am stunned, freezed and trembling when I actually met her in person. I couldn’t even utter some word from my own mouth. That showed how much I like her then. See you later in Irna La perle Fashion Show ya mba Irna.

[IFW 2015] “The Executive” by The Executive Collaboration With Hannie Hananto, Ria Miranda, and Jenahara

Indonesia Fashion Week 2015, Day 2

(Photo credit: http://www.tempo.co)

Melanjutkan cerita dari postingan Waiting For Indonesia Fashion Week 2015 dan Indonesia Fashion Week 2015: D-Day . Saya dan Dwi serta mama dapat kesempatan untuk menyaksikan Fashion Show karya 3 desainer muda Indonesia, yaitu Hanie Hananto, Ria Miranda, dan Jenahara yang berkolaborasi dengan The Executive.

Kami excited sekali sampai-sampai kami sudah planning jauh-jauh hari how to dress up and how to get there, fast. Maklum saja, waktu antara mulainya fashion show dengan berakhirnya jam kerja kami sangat mepet.

So, we are carefully think how to manage our time so we won’t be late. Yah, tapi benar kata orang tua, “Kita boleh berencana tapi Allah juga yang menentukan.”

Saat D-Day, rencana kami buyar semua. Betapa tidak, di hari yang sama, di sekolah kami diwajibkan memakai pakaian Local Brand. Belum cukup, ditambah dengan adanya sesi pemotretan untuk Buku Tahunan yang mewajibkan kami memakai kostum favorit (kebayang donk gembolan yang kami bawa seperti apa.)

Last but not least, Setelah school hours, Professional Development about Teamwork and Meeting for Field Trip pun sudah menanti. What an unpredictable full day.

Alhasil, rencana kami pun terbang jauh out of the window. Kami pun tak sempat touch up apalagi dress up. We just hope, we can get out of the school ASAP. Not to mention, saya lapar tingkat dewa.

Anyway, Allah Maha Baik. Kami langsung dapat Taxi (biasanya kalau almost weekend gini susah dapetnya) dan lalu-lintas tidak sepadat biasanya. Sampai di lokasi, kami bertemu dengan mama yang memang sudah sampai di JCC.

Dengan penampilan yang seadanya dan tampang lusuh tak terkira, kami pun dengan FULL CONFIDENCE memasuki venue IFW 2015. Sambil menengok jam di tangan, kami melangkahkan kaki secepat kilat menuju Main Stage which is quite far from the front gate. Sampai di sana, eng ing eng, waktu Fashion Show mundur lebih kurang 1 jam.

Sejam menunggu (lumayan untuk bernarsis ria, either selfie or wefie or candid shot) akhirnya, fashion show dimulai juga. The gate is open. Penuh, sampai-sampai dorong-dorongan sudah seperti mau menonton konser saja. Seperti takut tidak kebagian tempat duduk.

IFW 2015 - day 2 (1)

Finally, the show started.

The Executive x Hannie Hananto

Sepertinya, koleksi Hannie Hananto ini cocok sekali dengan image The Executive yang dikenal luas sebagai brand untuk “orang kantoran.’ Saat satu-persatu peragawati berlenggak-lenggok di atas runway, saya benar-benar bisa membayangkan kalau busana itu dipakai bekerja, baik kalangan eksekutif muda maupun pekerja kantoran biasa.

Ciri khas Hannie Hananto (beliau berlatar belakang arsitek) adalah monochrome, black and white, bold, and clean cut. Benar-benar elegan dan sophisticated. I can even imagine myself wearing one of those clothes.

Definitely my favorite. (Photo credit: www.tribunnews.com)

(Photo credit: http://tribunnews.com)

The Executive x Ria Miranda

IFW 2015 - day 2 (9)

Warna-warna pastel dan feminim yang terkesan shabbychic memang menjadi signature dari Ria Miranda. Tidak terkecuali dengan koleksinya kali ini.

Suka sekali dengan earthy feeling dari koleksi Ria Miranda with The Executive.

The Executive x Jenahara

IFW 2015 - day 2 (10)

Koleksi jenahara yang terkenal muda dan edgy juga terlihat dalam koleksinya untuk The Executive. Saya bisa membayangkan para wanita muda, pekerja, yang ingin tampil muda, dinamis, dan stylish tapi tetap professional memakai busana karya Jenahara ini.

(Photo credit: http://tribunnews.com)

Setelah acara selesai, kami pun tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk berfoto di atas runway. Sayang sekali kami tidak sempat menyelamati ketiga desainer kebanggaan dunia muslim Indonesia tersebut. Walaupun akhirnya ketemu juga di booth mereka masing-masing.

Kalau ditanya koleksi siapa yang paling membekas di hati saya. Jujur, no offense (ini cuma masalah preferensi tiap orang yang beda saja), saya super in love with Hannie Hananto collection.

I mean, I can imagine myself wearing those clothes, walk around the office, proudly, fierce, and act like a boss. Although, Ria Miranda and Jenahara will be best fitted also in another kind of office and another occasion.

Lastly, I am wondering if all these collection will be available in The Executive store around Indonesia. I should really save some money to grab one of those in the near future.

Indonesia Fashion Week 2015: D-Day

So, as I post before, I will share about my experiences throughout Indonesia Fashion Week 2015. Amazingly, for this 4 days event, I came 3 days in a row, day 1 until day 3.

Indonesia Fashion Week, Day 1

I am pretty much not enjoy it. Not because of the event, but mostly because I went there with a friend after our long working hours.

Not to mention, the venue was quite far from our office (or may I say school, since I am a teacher). Even when we took a cab and the traffic are quite friendly (it was bad, but not as bad as other day other hours).

The front gate of the venue. (photo credit: http://berita.maiwanews.com).

When we arrived, I was quite surprise, the venue is not as crowd as I imagined it would be. It indeed full of fashion people but exhibition hall and booth were quite spacious, which is good, so we can freely do a window shopping. I think it was due to the fact that it was a 1st day and already night time.

First thing to do was to find Hannie Hananto booth called Anemone to get our invitation for The Executive fashion show. Then we excitedly looked around.

Oh my gosh… speechless…

I was almost cry (too exagerated). Too many beautiful clothes, shoes, bag, jewellry, accesories, dress, abaya, veil, sandals and many more.

And most of them are LOCAL BRAND which means The Brands is Made In Indonesia. Can you imagine, the website did their justice by saying 700 more local brands joined this event.

The exhibition hall. Photo credit: http://www.satuharapan.com)

If you are a fashion lover, fashionista, fashion people, fashion blogger, or simply people who love to wear locals product then this is it. The most perfect event to attend.

You can spoils your eyes or even your closet at home with brands from newbie designer to very famous designer here in Indonesia. Just name it, Ivan Gunawan, Deden Siswanto, Poppy Darsono, Lulu Lutfilabibi, Dian Pelangi, Irna Mutiara and many more.

To add more, you can met themselves, THE Designer at their booth. Also you can just walk across lots of Fashion Blogger.

I, well, we could not take it any longer. We suddenly get dizzy (literally) after a few sightseeing, and trust me we just strolled for maybe an hour. Not because it was not to our liking, but it was because I couldn’t help myself, my heart, body, and soul to just grab them all and brought them all to my closet at home.

So, rather than stayed and strolled some more, we decided to go home and buried our desire deep inside. With a mission in mind, “I’ll BE BACK.”

Waiting For Indonesia Fashion Week 2015

Indonesia Fashion Week is one of the event that I’ve been waiting for. Why? Because I love the main idea of this event which is to make Indonesia as one of the world’s center for fashion. Who knows maybe one day, Indonesia will be as Famous as France, Italy, America, or Japan in terms of fashion.

This event will features 2,522 outfits from 747 Indonesian and international brands (including from Japan, Korea, India, and Australia) and 32 fashion shows on two runways. Among Indonesia’s top designers showcasing their masterpieces are: Poppy Dharsono, Anne Avantie, Lenny Agustin, Bintang Mira, Itang Yunasz, and Ivan Gunawan.

This 4 days event will surely satisfied me. But, that can only happened if I attend the whole 4 days. Too bad, reality won’t let me. Got some works to do. Must collects some money to spent for this event. Well, at least, 2 days is on my plate. Hopefully enough to feed my passion in fashion.

Other than designer mention above, I actually eager to see some collections from Moslem Fashion designers, such as Hannie Hananto, Jenahara, Ria Miranda, Nuniek Mawardi, Missmarina, Vivi Zubedi, Rani Hatta, and my favorite one, Irna Mutiara.

Ria Miranda with her shabbychic style.

Jenahara.

I wish to see their fashion show in 4 more days. But, I guess I have to be satisfied with only 2 shows from The Executive (Hannie HanantoJenahara Ria Miranda) and Irna Mutiara. Unfortunately I was late to get invitation for Moshaic by Itang Yunasz, Andalusia Belezza by Irna La Perle also L’officiel FASHION FIRST feat Ek Thongprasert, Lulu Lutfi Labibi, and etc. I guess, I just need to visit their booth to fullfill my eagerness.

Now, let’s count down to the D-Day. I’ll share my experience in this event right after it ended (hopefully the paperworks won’t be too pile up by the end of the week).

[JFW 2014] Dewi Fashion Knights

This is the story of one awesome night in Jakarta Fashion Week 2014. A show that will last forever, at least in my own memory. It’s all about Goddes, Tales of The Goddes.

It was the last show in Jakarta Fashion Week 2014. So many people wee waiting for this show. How can’t they? There’ll be masterpiece of some of young and talented designer from Indonesia which is Oscar Lawalata, Bai Soemarlono, Toton Januar, Priyo Oktaviano, and the one and only Tex Saverio.

I was so lucky to be one of those who honored to see such an awesome and remarkable show. There, I got to see lots of designer, lots of models, and off course lots of beautiful clothes. I was impressed, by the atmosphere of the show that night.

The invitation to Dewi Fashion Knights (DFK)

When the show begins, everyone was stunned and silenced by the beauty of ‘Goddes’ which have been interpreted by all 5 designer. For me, it even started right after the master of ceremony, the stunningly gorgeous Sari Nila open the show.

Then the it starts. First, it was Optik Seis and followed by Oscar Lawalata with his collection “My Name is Andromeda.”

Bai Soemalono, a designer for Populo Batik with his batik collection.

Toton Januar with his collection “The Sulthan and The Mermaid Queen: Abyss.” And here is my favorite for the night, Priyo Oktaviano with his collection “Galore.” Love the music, the show, the fabric he used, all of them.

And last but not least is the magnificent young and talented Tex Saverio with his haute-couture collection “Exoskeleton.” I guess this is definitely something that Lady Gaga will love to wear.

Since that was my first time saw him, I’m quite surprised. He looks pretty much like a character in anime that comes to live. And since I love anime, off course I’ll love him too, well, I mean his collection.

jakarta fashion week 2014 - 13

Indonesia Islamic Fashion Fair 2013

Akhirnya jadi juga saya nge-post mengenai IIFF 2013 atau yang dikenal dengan Indonesia Islamic Fashion Fair 2013 dengan jargon Style Unlimited. Meskipun latepost, tapi saya ingin sekali share mengenai pengalaman saya di IIFF 2013 ini.

One thing for sure, my prayer for that day was “God, please, don’t let me be greedy today.”

Jadi, kami beangkat ke JCC pagi-pagi, berharap kalau datang pagi maka tidak akan terlalu ramai pengunjung. Terlebih lagi, hari itu merupakan hari terakhir IIFF 2013. Saya bersama saudara dan teman berniat menjelajahi seluruh booth yang ada di IIFF. Harapannya sih begitu, tapi kenyataan berkata lain.

Tapi betapa kagetnya saya, sesampainya di sana, antrian pengunjung sudah mengular. Berarti, bukan hanya saya yang berpikir bahwa datang pagi akan sepi. Ratusan orang punya pikiran yang sama,  maka beginilah jadinya, antrian panjang di loket tiket masuk padahal loket baru saja dibuka.

Indonesia islamic fashion fair 2013-2

Begitu berhasil masuk, sambil menunggu teman yang masih dalam perjalanan, kami sempatkan diri untuk berfoto dahulu. Lumayan daripada diam menunggu. Jepret sana jepret sini, mumpung masih sepi.

Teman datang, bukannya kita langsung ke pameran, malahan foto-foto lagi. Sudah puas berfoto, barulah kami menjelajahi booth yang ada di pameran.

Oiya, di bawah ini merupakan hasil karya beberapa perancang berbakat dari Indonesia.

Indonesia islamic fashion fair 2013-5Indonesia islamic fashion fair 2013-6

Puas melihat baju nan indah, mulailah saya mampir ke beberapa booth yang memang sudah direncanakan untuk dikunjungi. Sebut saja, dian pelangi, shafira, elzatta, kivitz, mocca, vania, zoya, gda’s by ghaida,sellitoes, hingga irna la perle. They all very recommended brand for moslem fashion.

Terutama yang terakhir, Irna la Perle, yang sungguh menarik perhatian saya. Sejak dulu saya memang suka dengan koleksi mereka. Walaupun belum mampu untuk membelinya. Mulai dari modelnya yang sederhana, warna pastel dan earth color yang jadi ciri khasnya, serta bahan yang ringan dan melayang. Pokoknya, benar-benar indah.

Indonesia islamic fashion fair 2013-8

Look at my face. Mupeng alias muka pengen. Ini dia saya persembahkan, Irna La Perle collection.Setelah puas berkeliling ke booth-booth yang ada, akhirnya kami pamit juga. Walaupun pada akhirnya, tidak semua booth kami kunjungi. Takutnya saya jadi greedy alias rakus, pengen belanja sana-sini.

Untung ada mama dan sepupu yang setia menjadi ‘satpam’ saya. Senantiasa mengingatkan untuk membeli apa yang dibutuhkan alias tidak berlebihan.

Selesailah perjalanan kami kali ini. Sungguh berharap pameran ini, IIFF akan selalu hadir setiap tahunnya. Selain menambah pengetahuan untuk para hijaber di Indonesia, jakarta khususnya, pameran ini juga sebagai ajang untuk mendorong perancang muslimah muda berbakat untuk berkarya jauh lebih baik lagi.