Scarlett by Alexandra Ripley

IMG_20130525_222244

Buku Scarlett terbitan Gramedia

“But if you knew that, why on earth did you marry her?” Rosemary asked.

“Why?” Rhett’s mouth twisted in a smile.
“Because she was so full of fire and so recklessly, stubbornly brave.Because she was such a child beneath all her pretenses.Because she was unlike any woman I had ever known. She fascinated
me,infuriated me, drove me mad. I loved her as consumingly as she loved him. From the day I first laid eyes on her. It was a kind of disease.”
There was a weight of sorrow in his voice. He bowed his head into his two hands and laughed shakily. His voice was muffled and blurred by his fingers. “What a grotesque practical joke life is. Now Ashley Wilkes is a free man and would marry Scarlett on a moment’s notice, and I want to be rid of her. Naturally that makes her determined to have me. She wants only what she cannot have.”
Rhett raised his head. “I’m afraid,” he said quietly, “afraid that it will all begin again. I know that she’s heartless and completely selfish, that she’s like a child who cries for a toy and then breaks it once she has it. But there are moments when she tilts her head at a certain angle, or she smiles that gleeful smile, or she suddenly looks lost-and I come close to forgetting what I know.”
Alexandra Ripley, Scarlett

Siapa yang tidak mengenal sosok Scarlett O’Hara? Namanya begitu terkenang di kalangan para pecinta buku dan film Gone With The Wind. Scarlett, seorang gadis cantik bermata hijau yang berasal dari Tara. kalau saya teringat akan Scarlett, maka yang terbayang oleh saya adalah seorang wanita yang mengangumkan sekaligus menyebalkan. Di satu sisi, ia begitu kuat, tegas, ambisius, dan penyayang. Di sisi lain, ia begitu dingin, tidak berperasaan, egois, dan kekanak-kanakan. tapi, karena karakternya itulah mengapa Scarlett O’hara begitu membekas di hati saya.

English: Cropped screenshot of Vivien Leigh fr...

Vivien Leighas Scarlett O’Hara from the trailer for the film Gone with the Wind (Photo credit: Wikipedia)

Pertama kali mengenal sosok ini, dari film klasik yang sangat fenomenal, Gone With The Wind. Saya ingat, ketika itu * entah kapan, jaman saya masih kecil sepertinya * RCTI menyiarkan film-film klasik asal negri Paman Sam. Yang paling saya ingat adalah Gone With The Wind, Street Car named Desire, Cleopatra, dan beberapa film lainnya. Tapi yang paling membuat saya tersentuh dan terharu adalah Gone With The Wind. Betapa tidak, plotnya sangat bagus, pemainnya cantik dan tampan, kostumnya menakjubkan, dan ending cerita yang menggantung membuat film ini makin tak terlupakan.

Sejak saat itu, saya membaca bukunya, dan berharap akan ada buku ke-2 yang  bisa menghadirkan closure, ending yang jelas bagi pasangan favorit saya sepanjang masa, Scarlett O’Hara dan Rhett Butler. Sampai suatu hari, saya mendapati buku Scarlett karya Alexandra Ripley yang disebut-sebut sebagai sekuel Gone With The Wind * How excited I am that day. To know that the couple finally will get their closure. *

So here I am, years later. At the Gramedia Bazaar, digging for some book. And found it! The book that I always want to have it for myself. Sebelumnya saya selalu pinjam soalnya. Scarlett. that is the title.

Meskipun saya sudah membaca buku ini entah untuk ke berapa kalinya, tidak pernah sekalipun saya merasa bosan. Meskipun banyak orang mengkritisi buku ini, jauh lebuh buruk daripada buku Gone With The Wind. Mungkin karena saya mengharapkan akhir yang indah dan bahagia untuk Scarlett dan Rhett.

Miniseri berdasarkan novel Scarlett

Karena buku ini, entah berapa kali saya menangis. Karena sepertinya, nasib mempermainkan cinta mereka. Untuk cerita dan alur cerita, jujur, saya jauuuuh menyukai Gone With The Wind. Dalam buku Scarlett, sosok Scarlett seakan bergeser dari karakter aslinya, tapi, setelah semua yang dialami Scarlett, saya bisa mengerti jika sang penulis meggambarkan Scarlett sedikit berbeda dari sebelumnya. Afterall, she is a human, who can change through difficulty in her life. 

So, no matter what other might say. I think, this book is quite good. Memang sulit untuk menyamai bahkan melebihi buku pertamanya “Gone With The Wind“, mengingat buku itu sangat fenomenal, begitu pula filmnya, bahkan bisa dibilang sebagai Masterpiece (buku ini memperoleh Pulitzer Prize untuk kategori Fiksi). Sehingga ekspektasi kita, pastinya menjadi lebih tinggi terhadap buku sekuelnya. Dan ketika buku tersebut tidak memenuhi ekspektasi kita, maka timbul rasa kecewa. It’s just natural to be that way. But if you love to read some romance and easy reading book, don’t hesitate to read this one. Jangan ragu untuk membaca buku ini ^^

And this is why I love Rhett Butler, he said it at the end of the book as the closure…

“You belong with me, Scarlett, haven’t you figured that out? And the world is where we belong, all of it. We’re not home-and-hearth people. We’re the adventurers, the buccaneers, the blockade runners. Without challenge, we’re only half alive. We can go anywhere, and as long as we’re together, it will belong to us. But, my pet, we’ll never belong to it. That’s for other people, not for us.”

Alexandra Ripley, Scarlett

Advertisements

Cinta Mistik Rabiah Al-adawiyah: Sebuah Memoar Spiritual

rabiah

The book cover

Melihat judul buku ini, sepertinya akan terasa berat membacanya. Cinta Mistik. Apalagi melihat judul kecilnya, ‘Sebuah Memoar Spiritual’ * Wow, kebayang deh isinya * Makanya, ketika saya mau membacanya, ada sedikit rasa deg-degan. Saya pikir, akan membutuhkan waktu lama untuk  membacanya dan butuh berulang-ulang kali untuk memahami isinya. Bisa dikatakan, saya maju mundur untuk membaca buku ini.

Mistik, menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI)  edisi ke-4, Mistik berarti subsistem yang ada di hampir semua agama dan sistem religi untuk memenuhi hasrat manusia mengalami dan merasakan emosi bersatu dengan Tuhan, tasawuf. Berat kan definisinya. akan tetapi, ada lagi satu definisi yang mungkin lebih dimengerti, mistik adalah hal gaib yang tidak terjangkau dengan akal manusia biasa * Ck ck ck, begitu tahu definisinya, semakin saya yakin, buku ini ‘berat’ sekaligus menantang saya untuk membacanya * Karena apa? Karena itu berarti Rabiah Al-adawiyah bukanlah manusia biasa. Lihat saja lagi judulnya.

Pada akhirnya, saya memberanikan diri untuk membuka selembar demi selembar halaman dari buku ini. Dari setiap lembar, saya bisa mengikuti perjalanan spiritual Rabiah, yang bagi saya tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata. Sempat terbersit, “gila ya, ada ya perempuan kaya Rabiah, yang menyerahkan seluruh hati, jiwa, dan pikirannya hanya kepada Sang Khalik“. Ia mencintai Allah melebihi segalanya. Mengesampingkan urusan dunia yang bersifat sementara dan fana. Semua itu karena cintanya yang luar biasa kepada Allah sang penguasa jagad raya.

Buku ini hanya menggambarkan sepenggal perjalanan spiritual Rabiah. Meskipun begitu, cukup bagi orang awam seperti saya untuk mengenal sosok Rabiah yang luar biasa. Bahkan membuat saya searching mengenai Siapa sebenarnya Rabiah ini.

Rabiah Al-adawiyah dikenal juga sebagai Rabiah Basri atau rabiah Al Adawiyah Al Basriyah. Ia lahir pada tahun 713 M di kota Basrah, Irak. Rabiah adalah anak keempat dari keluarga yang hina dina. Ia dilahirkan dari orang tua yang hidupnya sangat sengsara, meskipun saat itu kota Basrah bergelimang dengan kekayaan dan kemewahan. Tidak ada seorangpun yang berada di samping ibunya ketika ia dilahirkan.

Tak lama kemudian, orang tua Rabiah meninggal ketika Rabiah masih kecil. Begitu pula ketiga kakaknya, meninggal ketika wabah kelaparan melanda kota Basrah. Dalam kesendirian itu, akhirnya Rabiah jatuh ke tangan orang yang kejam, yang lalu menjualnya sebagai budak belian. Ketika akhirnya ia bebas, Rabiah pergi ke tempat tempat sunyi untuk menjalani hidup dengan bermeditasi, dan akhirnya sampailah ia di sebuah gubuk dekat Basra. Di sini ia hidup bertapa. Sebuah tikar butut, sebuah kendi dari tanah, dan sebuah batu bata, merupakan harta sekalligus teman dalam menjalani hidupnya.

Sejak saat itu, ia abdikan seluruh hidupnya hanya kepada Allah SWT. Berdoa dan berzikir menjadi rutinas kehidupannya. ia melepas semua urusan duniawi, termasuk memberikan hatinya kepada seorang pria dan membangun rumah tangga. Meski banyak pinangan datang, termasuk dari gubernur Basra dan seorang suci mistis terkenal, Hasan Basri, hati Rabiah tetap tak tergoyahkan. Cintanya tidak diperuntukkan manusia, melainkan hanya untuk Allah SWT semata. Begitulah ia menjalani hidupnya hingga akhir hayatnya (801 M). Kelak, dunia mengenal Rabiah sebagai “Ibu para sufi besar” yang memperkenalkan konsep mahabbah (‘agama cinta’). Satu-satunya perempuan yang bisa mencapai level tertinggi dalam tasawuf.

Setelah membaca buku ini, ada beberapa doa Rabiah yang terus-menerus saya ingat. Mungkin karena doanya sangat mendalam dan dituturkan dengan bahasa yang amat indah, seperti berikut ini.

“Tuhanku , kalau aku mengabdi kepada-Mu karena takut akan api neraka, masukkanlah aku ke dalam neraka itu, dan besarkanlah tubuhku dalam neraka itu, dan besarkanlah tubuhku dalam neraka itu, sehingga tidak ada tempat lagi di neraka itu buat hamba-hamba-Mu yang lain. Kalau aku menyembah-Mu karena berharap mendapatkan surga maka berikanlah surga itu kepada hamba-hamba-Mu yang lain sebab bagiku Engkau saja sudah cukup.”

atau pendapatnya mengenai cinta

” Cinta berbicara dengan kerinduan dan perasaan.

Mereka yang merasakan cinta saja yang dapat mengenal apa itu cinta.

Cinta tak dapat dijelaskan dengan kata-kata.

Tak mungkin orang dapat menjelaskan sesuatu yang belum dikenalnya, atau mengenali sesuatu yang belum pernah digaulinya.

Cinta tak mungkin dikenal lewat hawa nafsu, terlebih bila tuntutan cinta itu dikesampingkan.

Cinta bisa membuat orang jadi bingung, akan menutup untuk menyatakan sesuatu.

Cinta mampu menguasai hati.”

  • Jumlah Halaman: 342
  • ISBN: 979-96338-2-8
  • Judul: Cinta Mistik Rabiah Al-adawiyah
  • Pengarang: Abdul Mun’im Qandil
  • Penerbit: Mujadalah
  • Tahun Terbit: 2002
  • Bahasa: Indonesia

Meskipun terlambat datangnya, namun Cinta tetaplah Cinta

Cinta yang terlambat. Buku ini adalah salah satu buku favorit saya. Bahkan, sampai sekarang, saya masih mengingat beberapa bagian dalam buku ini. Pertama kali saya membaca buku ini, karena kebaikan seorang teman yang telah meminjamkan bukunya kepada saya.

Kesan pertama saya terhadap buku ini tidak terlalu mendalam. Saya pikir, buku ini pastilah mengisahkan masalah percintaan. Tidak jauh berbeda dengan novel-novel bertemakan cinta (yang islami) lainnya. Akan tetapi, setelah saya membacanya secara menyeluruh, barulah saya menyadari bahwa buku ini tidak sekadar novel percintaan belaka.
Sang penulis mengemas cerita cinta dengan sangat menarik dan dituturkan dengan bahasa yang sangat indah. Ia juga membubuhi tulisannya dengan rangkaian puisi-puisi yang tidak kalah indahnya. Semakin saya membaca buku ini, saya semakin terhanyut ke dalam jalan ceritanya.
Betapa saya merasa sedih, kesal, dan marah ketika Aariz memperlakukan Zeest dengan sangat kasar. Betapa saya mengharu-biru melihat ketabahan dan kesabaran Zeest dalam menghadapi perlakuan Aariz. Betapa saya merasa sangat bahagia, ketika pada akhirnya, Aariz menyadari bahwa cintanya hanya untuk Zeest. Bagi saya, membaca buku ini layaknya menaiki rollercoaster emosi. Benar-benar menguras emosi.

Bagian yang paling saya ingat adalah pada saat Zeest berdoa. Isi dari doa itulah yang selalu terngiang-ngiang dalam benak saya. Lalu saya berpikir, “masih adakah sosok wanita seperti Zeest Zahra, pasti ada, namun entah di mana mereka berada.”

“Aku hanya inginkan beberapa saat dalam hidupkuSaat-saat, yang aku dapat bersembunyi dari diriku,Dia…Yang memiliki hubungan tanpa nama dengankuYang memberiku pemikiran, kala aku tidak mampu memikirkan apapun!Dia… yang membuatku merasakan diriku kala aku tidak merasa apa-apaDia, yang bukan milikku, tapi ada dalam diriku”“Sebagian orang berharap agar dapat menikah dengan laki-laki yang mereka cintai, Doaku sedikit berbeda:  aku dengan rendah hati memohon kepada Tuhan agar aku mencintai laki-laki yang aku nikahi.”

Sinopsis:

Aariz Ali adalah seorang pemuda Pakistan berusia 26 tahun, tampan, kaya dan terdidik. Dia anak tunggal sebuah keluarga terhormat. Ayahnya pengusaha terkenal di Karachi. Aariz rupanya tengah jatuh cinta pada seorang gadis Pakistan yang telah lama tinggal di London, Komal namanya. Komal memang cantik, pintar, modern dan, sebagaimana Aariz, ia berasal dari keluarga pengusaha yang kaya pula. Sayangnya, Komal berasal dari “sekte” alias mazhab yang berbeda dengan keluarga Aariz. Itulah yang menyebabkan keluarga Aariz, terutama ibunya, menentang keras hubungan mereka. Sebagai reaksi atas ketidaksetujuannya atas hubungan itu, Sa’dia, ibunda Aariz, memaksa anaknya untuk menikah dengan seorang gadis desa yang masih memiliki kaitan keluarga dengannya. Pernikahan memang akhirnya terlaksana, meski secara praktis Aariz tidak pernah menganggap Zeest, gadis desa itu, sebagai istrinya. Setelah pernikahan ini, Aariz masih berharap bahwa hubungannya dengan Komal, gadis pujaannya, terus berlanjut.

Namun, karena peristiwa tertentu yang membuat Komal cemburu, gadis modern yang amat emosional itu pun lari meninggalkan Aariz dan tidak pernah kembali lagi. Ini membuat Aariz menderita tekanan batin yang kuat, mengingat beberapa waktu sebelum itu ia baru saja kehilangan kedua orangtuanya dalam suatu musibah yang merenggut nyawa keduanya. Tragis!
Stres yang begitu berat itu akhirnya mengantar Aariz ke rumah sakit jiwa. Selama dua tahun ia menjalani rehabilitas kejiwaan di sana, sebelum akhirnya ia dinyatakan sembuh total. Dan itu tidak lepas dari jasa seorang laki-laki yang amat dihormatinya, Paman Maulana. Setelah kesembuhan yang menakjubkan itu, Aariz mulai menyadari bahwa orang yang paling cocok dan didambakannya adalah Zeest, gadis desa itu, yang dipilihkan ibunya untuknya. Ia adalah gadis yang tabah, suci, dan siap memberikan cinta sepenuhnya kepada suaminya. Namun, di manakah Aariz harus mencarinya? Bukankah ia sendiri yang telah mengusirnya dua tahun yang lalu? (credit: penerbit pustaka hidayah)
  • Jumlah Halaman: 524
  • ISBN: 978-979-1096-85-0
  • Judul: Cinta yang Terlambat
  • Pengarang: Dr. Ikram Abidi
  • Penerbit: Pustaka Hidayah
  • Tahun terbit: 2000
  • Bahasa: Arab – Indonesia

Terima Kasih,

Terima Kasih. Mulailah ucapkan kata-kata itu kepada orang yang kita sayangi, sebelum semuanya terlambat…

Jika Terlampau Sulit Untuk Diucapkan, maka Tuangkanlah dalam Tulisan…

Saya pikir, setiap orang memiliki caranya sendiri untuk berterima kasih. Ada yang hanya menganggukkan kepala, membungkukkan badan, menatap orang yang dituju, memberikan senyuman, memberikan tetesan air matanya, atau dengan berucap secara langsung. “terima kasih.” Entah dengan apapun caranya, rasa terima kasih itu akan sampai kepada sang penerimanya. Meskipun ada sebagian orang  mengatakan, terima kasih tidak hanya cukup dengan kata-kata. Mungkin benar, tidak hanya cukup dengan ‘sekadar’ kata terima kasih.

Tetapi juga harus dibarengi dengan ketulusan dari sang pemberi ucapan. Lalu, bagaimana dengan puisi, syair, essai, atau sepenggal tulisan yang menggambarkan rasa terima kasih? Saya pikir rasa terima kasih semacam itu akan memberikan efek yang mendalam bagi sang penerimanya * saya saja yang notabene bukan penerima rasa terima kasih itu, yang notabene hanya seorang pembaca saja sampai tersentuh dan terharu hingga lubuk hati yang terdalam *

Contohnya adalah syair berikut ini. Saya kutip * dan entah mengapa selalu saya ingat * dari Buku ‘Cinta yang terlambat karya Dr. Ikram Abidi. Syair ini menggambarkan rasa terima kasih sang tokoh utama dalam cerita (Aariz) yang diperuntukkan bagi wanita yang, baru saja disadari, paling dicintainya (Zeest Zahra). 

TERIMA KASIH

Kasihku….

Aku menjadi orang yang berbeda

Orang yang lebih baik,

Semenjak kita bertemu pertama kali

Kejujuranmu membantuku

Melihat kelemahan-kelemahanku

Dan dukunganmu membantuku

Mengubahnya menjadi kekuatan

Terima kasih,

Terima kasih karena telah menjadi teman sejatiku

Karena tidak menyatakan hal-hal

Yang kau anggap aku ingin mendengar,

Melainkan karena menyatakan hal-hal yang harus ku kuketahui

Kaulah salah satu dari segelintir orang

Yang kupercaya kala kau menyatakan kepadaku

Bahwa aku telah melakukan dengan baik,

Sebab kaulah seorang dari segelintir

Yang akan menyatakan kepadaku

Kala aku dapat melakukan lebih baik

Kau menantangku

Agar menjadi yang terbaik semampuku….

Dengan menerima dan mengapresiasiku,

Kau membantuku

Belajar menerima

Dan mengapresiasi diriku

Terima kasih telah menjadi guruku!

Aku tiada berdaya, kau mendukungku

Aku gelisah, kau menenangkanku

Aku bodoh, kau menerimaku

Terima kasih……

Dan sekarang, sadarlah aku, kau tidak bersamaku,

Namun ketahuilah, kau masih dalam diriku

Terima kasih telah menjadi “segalanya” bagiku.

Source: Buku ‘Cinta yang terlambat’

Credits: Dr. Ikram Abidi, Pustaka Hidayah