A Magical Coldplay: A Head Full of Dreams Concert in Singapore

Finally, after discovering the Henderson Waves and strolling around malls, the reason of us being in Singapore, A Magical Coldplay: A Head Full of Dreams Tour in Singapore.

It was sudden and unplanned. As if one of dream comes true. It never crossed in my mind that I would be fulfilling one of my dream, now.

So, bucket list: Watch Coldplay Concert, check!

Back then, I fell in love with “Yellow,” so hard. Since then, Coldplay became one of my favorite all time bands. All of their album are never disappointed me.

The first time I heard Chris Martin voice all over the Singapore national stadium, I felt goose bumps all over my body. And when I heard them singing “yellow” live that night, I was totally speechless and freeze, literally.

The rest of the night felt magical, very unreal. It was surely an adventure of a lifetime. I was like in a rollercoaster of emotion. From thrill to pure bliss to heart flutters to tears.

What. An. Amazing. Concert. Ever.

Along the concert, we screamed, we sang, we jumped, we cried, and freeze. The venue, the lightning, the xyloband, the crowd, the confetti, the balloon, the music, and the band itself were beyond perfect.

I may not be in the best spot as all I could see was Coldplay members as small as ants. But, being physically there in one place as them and sang along with them made me couldn’t ask for more at the moment.

So here were some of moment before the magical concert begins.

 

 

Strolling Around The HarbourFront Centre and VivoCity Singapore

After enjoyed nature in Southern ridges, we strolled around the mall called HarbourFront Centre and VivoCity. It wasn’t intended, but because they attached to the Harbourfront station, I guess it was not wrong to do some window shopping.

As they all said, it was heaven to shop in Singapore. The price is quite tempted,pretty much lower than in Indonesia not to mention, added with some discount. Charles & Keith, Cotton On, Kate Spade, Sketchers, Adidas, Nike, Uniqlo, and many more.

The mall it selves is the same as in Indonesia. The most different things I observed were some of the worker, such as janitor or cleaner, a fast food crew, the cashier of some store was old. I mean they were grandma and grandpa, literally. I was very surprise.

So, when we ate in one of the restaurant, I hardly chewed and enjoyed mine. How can I, when an old grandpa was mopping the floor next to me (sobbing inside for they reminds me of my grandpa or grandma).

Quickly out of the restaurant, we strolled around. Lastly, we ended up in Garret Popcorn store to had some taste of their famous popcorn before we went back to hotel and prepared ourselves for the Coldplay Concert.

A Walk to Discover in Singapore: Henderson Waves

Singapore! When I heard Singapore, shopping and Merlion came first at my mind. Most of people I know went to Singapore for shopping or discovered Universal Studios then taking mandatory picture with the famous Merlion.

Rarely I heard of them visit Singapore to enjoy their garden, parks or nature. So, when my cousin told us that we will do our morning run in the Southern Ridges, especially in the Henderson Waves, I was beyond thrill.

As we arrived late at night in Changi Airport, we only had few hours to sleep. And that made us woke up late in the morning. We went straight to the Mountbatten MRT station and took the train (Circle line) headed to Harbourfront station.

It was work day, so the train was full of Singaporean who were going to work or school. It was so quite in the train (remind me of how noisy it will be if it was in Indonesia) and very comfortable being inside of the train. I was impressed.

From the Harbourfront station, we planned to hike through Marang trail. But, after some thinking, we decided not to because of many reasons. So I took my phone out and reserved Uber to take us to Henderson road.

Not long after, a long and high stairs welcomed us, a stairway to heaven if I may call it. Well, I might be over exaggerated. At the end of the stairs, green scenery and a mountain trail were ahead of us, along the way to the Henderson Waves.

Finally, Henderson Waves right in front of our eyes. As we were getting ready to run along the waves, we took some snapshot here and there.

Henderson waves is the highest pedestrian bridge in Singapore which standing 36 meters above the Henderson road. It said as one of the best spots in Singapore to enjoy panoramic views of the city, harbour and the Southern Islands. And I couldn’t agree more.

It was so refreshing and relaxing. Fresh and nice air combined with beautiful scenery surely made us wanted to spend more time in here. Sadly, we had to force our self moved to another destination which is HarbourFront Centre and VivoCity also Coldplay Concert.

So, bye-bye waves. See you when I see you.

 

 

Merindukan Kesejukan di Desa Susukan, Banjar Negara

It’s been some time since we went to my mom’s hometown in Susukan Village, Central Java. Been missing the morning scenery of the sunrise, paddy fields, mountain, and hills.

short-getaway-21short-getaway-14short-getaway-23

Pulang ke kampung halaman mama selalu menjadi momen yang selalu saya tunggu. Membayangkan sejuknya udara yang bisa saya hirup, hijaunya hamparan padi, rimbunnya pepohonan di bukit, dan damainya suasana pedesaan membuat kami semakin tak sabar untuk segera kembali ke sana.

Beruntungnya saya, mama dilahirkan di sebuah desa bernama Susukan, yang masih kental dengan suasana pedesaan hingga saat ini.

Lihat saja, hamparan sawah mengapit jalanan menuju rumah Mbah saya. Betapa indah dan alami.

short-getaway-13

short-getaway-12

short-getaway-22

short-getaway-9 short-getaway-8

Aliran sungai pun ada disini. Jembatan ini merupakan jembatan bersejarah dan telah menjadi bagian dari keluarga besar kami, keluarga Sanrusdi. Entah sudah berapa lama sejak dibangunnya jembatan ini.

Yang pasti, saya melihat jembatan ini di dalam foto masa kanak-kanak Mama, masa remaja beliau, masa pernikahan beliau, masa saya masih bayi, hingga saya sekarang ini.

short-getaway-15short-getaway-20

short-getaway-18

short-getaway-17

Menembus Hujan dan Kabut di Perkebunan Teh Gunung Mas

Menikmati suasana kebun teh di daerah Gunung Mas, Puncak mungkin terdengar biasa. Berjalan-jalan ditengah hamparan kebun teh, memanjakan mata dengan hijaunya dedaunan teh, sembari menghirup sejuknya udara pagi. Sesekali seorang guide menjelaskan perihal Perkebunan Nusantara 8 saat kita berhenti sejenak. Sungguh hal yang teramat biasa, setidaknya bagi saya.

Tapi, tidak pernah terbayangkan oleh saya untuk menikmati suasana kebun teh di Gunung Mas dalam keadaan hujan dan berkabut, di pagi hari pula. Dingin, sensasi utama yang paling saya rasakan.

Saat itu, Puncak diguyur hujan yang tak hentinya. Kabut pun turun menemani sang hujan. Rencana semula untuk tea walk sepanjang lebih kurang 4 km sambil menikmati hijaunya kebun teh pun terasa akan gagal. Suasana terasa gloomy dan membuat kami mager. Jarak pandang yang hanya beberapa meter saja semakin membuat kami ragu untuk melanjutkan rencana awal.

gunung-mas-15

Kalau saja, warung-warung di Gunung Mas tidak menjual jas hujan, enggan rasanya beranjak menuju perkebunan teh. Kenapa jadi jas hujan? Karena jas hujan itulah saya menjadi lebih bersemangat untuk melanjutkan rencana semula (maklum, saat itu saya sedang kurang sehat karena sehari sebelumnya, saya sempat demam dan flu berat).

Namun, ternyata Ide untuk ‘main hujan-hujanan’ sungguh membuat saya excited. Kapan lagi hujan-hujanan di tengah perkebunan teh di ketinggian 800-1200 m di atas permukaan laut yang dipenuhi kabut, pikir saya dalam hati. It will be so much fun!

gunung-mas-1

Benar saja, sangat menyenangkan.

Menembus hujan dan kabut, melawan udara dingin yang menusuk kulit, melewati sungai yang alirannya sangat deras, dan sesesekali berhenti untuk selfie, wefie, mendengarkan penjelasan sang Guide, atau hanya sekadar menikmati keindahan alam di perkebunan Gunung Mas.

gunung-mas-4 gunung-mas-16 gunung-mas-7 gunung-mas-12 gunung-mas-10 gunung-mas-14

gunung-mas-17 gunung-mas-2gunung-mas-23

Mempesona. Breathtakingly beautiful. Natural art.

Ditambah lagi dengan jalanan yang terbilang tidak biasa. Perjalanan kali ini lebih tepat disebut sebagai mountain tracking daripada tea walk. Menyenangkan!

Perjalanan turun pun tidak kalah mempesona. Melalui jalanan berbatu yang diapit rumah-rumah penduduk Gunung Mas. Masih ditemani hujan dan kabut. Saya merasa sedang berada di sebuah Negri di Atas Awan.

gunung-mas-18 gunung-mas-19 gunung-mas-20

Di salah satu rumah itulah kami beristirahat untuk melepas lelah dan sholat zuhur. Di sini pula kami menikmati sebungkus cilok terenak yang pernah saya makan, semangkuk mie rebus, dan secangkir teh putih panas hasil perkebunan teh gunung mas.

gunung-mas-38

Perjalanan berlanjut, dan kami pun bersiap untuk kembali ke penatnya dan panasnya Ibukota tercinta, DKI Jakarta.

gunung-mas-3

Kami pun sempat bernarsis ria dengan jas hujan kebanggaan kami. Sungguh berwarna. Kami tampak seperti para Hobbit. Tapi kalau dipikir-pikir kembali, kami pun tampak seperti para Teletubbies.

gunung-mas-35 gunung-mas-36 gunung-mas-26 gunung-mas-33 gunung-mas-32 gunung-mas-31

Melepas Kepenatan di Pulau Kelagian Lunik

Hari semakin sore. Setelah beramah tamah dengan nemo dan teman-temannya, kami melanjutkan petualangan menuju Pulau Kelagian Lunik. Lunik adalah bahasa Lampung yang berarti Kecil, makanya Pulau Kelagian Lunik juga dikenal sebagai Pulau Kelagian Kecil.

img-20161004-wa0220 img-20161004-wa0227Sesaat setelah perahu bersandar, kami serta-merta berpencar mencari spot terbaik untuk menikmati pemandangan di sekitaran Pulau Kelagian Lunik.

img-20161004-wa0239Pulau ini hampir seperti Pulau Kiluan, pulau kecil dengan hamparan pasir putih yang halus. Air laut yang biru transparan karena teramat jernihnya. Ombak yang tenang dan bukit-bukit di kejauhan.

img-20161005-wa0021

20161004_163224Indah. Sangat Indah.

Entah sudah berapa kali saya menyebut kata indah sejak pertama kali menjejakkan kaki di Lampung. Mulai dari di Bakaheuni, Teluk Kiluan, Pantai Gigi Hiu, Pulau Kiluan, dan Pulau Pahawang kecil. Tapi sungguh, benar-benar indah. Mungkin karena saya terbiasa melihat kemacetan di Jakarta, pemandangan gedung-gedung bertingkat, orang-orang yang berdesakan di angkutan umum, atau gemerlap mall-mall mewah yang bertebaran di Jakarta yang saya anggap tidaklah indah.

img-20161005-wa0027img-20161005-wa0016 Maka, tepat rasanya jika Pulau Kelagian Lunik ini kami manfaatkan sebagai tempat terakhir kami di Lampung untuk melepas segala kepenatan dari kesibukan dan rutinitas kami di kota Jakarta.

Mengingat kami ke pulau ini di hari Selasa, maka tidak ada pengunjung lain di pulau ini selain kami. Serasa pulau pribadi. Seperti halnya di Pulau Kiluan.

img-20161005-wa0011img-20161004-wa0240 Kami bebas bermain, berlari kesana-kemari. Bahkan tiduran di hamparan pasir pantai yang putih nan halus dengan sesekali diserbu ombak yang seakan menggelitik tubuh kami.

img-20161004-wa0255 img-20161004-wa0258Ingin rasanya waktu berhenti sesaat dan biarkan kami menikmati keindahan dan ketenangan ini sedikit lebih lama lagi. Membayangkan esok hari, kembali ke rutinitas kami di kota Jakarta, rasanya sungguh tak ingin beranjak pergi tuk kembali.

Pada akhirnya, mentari pun mulai meninggalkan kami. Memperingatkan kami untuk kembali ke kenyataan hidup yang harus kami jalani. Dan kami pun, dengan berat hati, meninggalkan Pulau ini untuk snorkeling terakhir kali sebelum meninggalkan Lampung.

img-20161004-wa0228Pak Parto kemudian membawa kami menuju tempat yang disebut sebagai Cukuh Bedil. Disini kami pun disambut dengan berbagai ikan arna-warni. Bahkan saya sempat menemukan dan memegang bintang laut indah berwarna ungu. namun, kasihan rasanya jika ia harus berlama-lama dengan kami, maka secepatnya kami kembalikan ia ke habitatnya.

Disini kami tidak bisa berlama-lama snorkeling, selain karena semakin senja, ubur-ubur pun mulai menunjukkan batang hidungnya. Banyak sekali ubur-ubur kecil yang dengan baiknya menyapa kami dengan sengatan-sengatannya.

Maka, kami anggap itu peringatan terakhir bagi kami untuk meninggalkan kawasan ini.

 

Sesaat di Pulau Pahawang Kecil

Setelah memaksimalkan waktu mengeksplorasi Teluk Kiluan, kami melanjutkan perjalanan ke Pulau Pahawang. Bermodalkan kenalan dari Pak Khairil yang bernama Pak Muchsin, kami pun bersiap memanjakan mata untuk merekam keindahan Pahawang.

Kami diantar Pak Harahap dan ditemani Wawan. Yup, ini Wawan yang sama dari Teluk Kiluan. Ia akan menemani kami bersnorkeling ria di sekitaran Pahawang dan Kelagian.

Sesampainya di rumah Pak Muchsin, kami sempatkan diri untuk sholat Dzuhur. Ternyata, kamar tempat kami sholat berada di atas perairan, dengan pemandangan langsung ke arah Pulau pahawang. Adem dan Indah sekali pemandangannya, meskipun rumahnya terbilang sangat sederhana. Pak Muchsin ini adalah anggota TNI, tepatnya marinir. Marinir yang hidup dalam kesederhanaan dan kesahajaan.

Setelah selesai sholat dzuhur dan berganti pakaian (maklum, pakaian kami sudah tidak ada lagi yang kering mengingat kami selalu kehujanan di Teluk Kiluan), kami pun bersiap menuju Pahawang. Makan siang, check! Snorkel dan life vest, check!, air minum, check!, hp, check! Sunblock, check! And we ready to go.

Dermaga tempat kapal kami bersandar tepat berada di sebelah rumah Pak Muchsin. Di sana, Pak Parto, sang kapten kapal sudah menunggu kami.

20161004_143953img-20161005-wa0009 img-20161005-wa0008 Sejam kemudian, kami sampai di Pulau Pahawang Kecil. Lagi-lagi, pulau yang sangat indah. Sayangnya, pulau ini ternyata pulau pribadi seseorang, sehingga kita tidak bisa mengeksplor seluruh bagian pulau. Amat disayangkan. Kok bisa yah pulau ini jadi pulau pribadi alias dibeli.

img-20161004-wa020320161004_152135 20161004_152124Di pulau ini, kita bisa berjalan menuju Pulau Pahawang Besar. Ketika air laut surut, akan terlihat ‘jalan’ berpasir (kerap dipanggil tanjung putus) yang menghubungkan kedua pulau. Maka, tidak heran jika kita melihat banyak orang seakan-akan berjalan di tengah laut di antara kedua pulau ini.

20161004_152439 20161004_153316Pasir di pulau ini dipenuhi oleh pecahan karang atau kerang. Ada baiknya jika kita tetap memakai alas kaki ketika mejejakkan kaki di pulau ini. Tidak seperti saya yang terlanjur bertelanjang kaki dan merasakan pedihnya menginjak pecahan karang tersebut.

20161004_151959 20161004_153000img-20161005-wa0086 img-20161005-wa0085Tak lama berselang, kami pun meninggalkan Pulau Pahawang kecil untuk menuju tempat dimana kami bisa snorkeling dan menemui Nemo, sang ikan yang terkenal seantero jagad raya akibat boomingnya film Finding nemo dan Finding Dory.

Pak Parto membawa kami ke daerah yang disebut Galangan. Disini, kami pun snorkeling selama lebih kurang setengah jam. Begitu kami menceburkan diri ke laut, kami langsung disambut oleh pemandangan bawah laut yang luar biasa indahnya. Setidaknya bagi saya yang baru pernah snorkeling di sekitaran Kepulauan Seribu saja.

Puluhan ikan wara-wiri di hadapan saya. Mereka seakan tidak takut akan kehadiran kami. Berenang kesana-kemari dengan santainya. Di sini pulalah saya akhirnya bertemu dengan Nemo. Sang superstar di kalangan anak-anak. Nemo ini adalah jenis ikan badut (clown fish).

Sungguh, pemandangan bawah laut yang indah sekali. Padahal, banyak terumbu karang yang sayangnya sudah mati dan mengapur. Namun, jumlah ikannya masih banyak sekali dan berbagai jenis pula.

Saya jadi berandai-andai, jika saja terumbu karangnya masih hidup, entah seperti apa keindahan yang saya saksikan sekarang.Pastinya akan membuat saya terpana. Semoga terumbu karang yang mati tidak bertambah lagi di kemudian hari.