The 3rd Jakarta Contemporary Ceramics Biennale

Ini merupakan salah satu event yang sudah saya tunggu-tunggu. Berbekal surfing di dunia maya, I finally found info about it.

Been waiting for almost a month. Been bookmarking their website and stalked their instagram just to get the latest update.

And here I am, the day finally came when I can feed my sight with so many beautiful and impresive art based on ceramics.

Jakarta Contemporary Ceramics Biennale atau disingkat JCCB ini adalah event tahunan yang diadakan untuk ketiga kalinya di Jakarta. Bertempat di Galeri Nasional yang berada tepat di depan stasiun Gambir.

Untuk menuju lokasi galeri ini terbilang cukup mudah. Saya pribadi menggunakan transportasi umum. Tentunya setelah saya bertanya kepada mbah google maps.

Saya memulai perjalanan dengan naik motor hingga ke stasiun Sudimara. Dari Sudimara naik kereta api jurusan Parung Panjang – Tanah Abang. Lalu lanjut naik bajaj seharga 25 ribu rupiah.

Excited sekali untuk naik bajaj, setelah sekian lama, sampai-sampai tidak menawar lagi. Dan, sampailah kami di Galeri Nasional.

Sampai disana, rasanya familiar ya. Ternyata eh ternyata, saya pernah kesini saat jaman SMA dahulu kala. Waktu itu saya dan beberapa teman mewakili sekolah SMUN 70 Jakarta untuk mengikuti semacam seminar yang pembicaranya waktu itu adalah Ibu Khofifah Indar Parawansa.

Sesampainya di galnas, kami langsung menuju TKP. Ah, betapa senangnya saya, galeri tampak sepi. Mungkin karena hari selasa itu hari kerja plus kami datang sekitar jam 11 an.

Kenapa senang? Jadi kami bisa menikmati setiap hasil karya seni dengan santai dan tenang, tanpa berdesakan atau banyak yang menyela sekadar untuk take a selfie. Which, itu juga tujuan saya, biar bisa tenang jepret sana jepret sini.

Sunnguh tidak sabar ingin segera masuk ke dalam. Tapi, kita harus mengisi buku tamu terlebih dahulu dan menitipkan tas atau jaket. Agak kaget karena kami tidak ada persiapan membawa tas kecil untuk menaruh hp, kamera, dan dompet.

Tapi, ketika sudah masuk, kami sadar kenapa harus dititip. Selain mencegah pencurian, yang paling penting adalah, supaya kita bebas bergerak tanpa takut menyentuh atau menyenggol barang yang dipamerkan.

Ingat, semuanya terbuat dari keramik alias barang pecah belah. Pecah berarti mengganti. Hiiiy sereeem, berapa coba harga sebuah karya seni. Kalau barang pecah belah di mall saja mahal apalagi disini.

Begitu masuk, kami di sambut oleh tulisan JAVA yang terbuat dari kotak-kotak berisi patung logam berbentuk kepala dan tumpukan kepala yang terbuat dari tanah liat. What an art from Dadang Christanto.

Lanjut ke dalam galeri. Mata saya terpana dengan hasil karya Yoichiro Kamei. Ia terkenal melalui karya instalasi keramik yang terstruktur secara rapi. Tipikal jepang. Detail dan presisi. Keren abis.

“Lattice receptacle” yang terbuat dari porcelain.

Puas melihat dari dekat bagaimana kubus-kubus itu menyatu menjadi karya yang sangat indah. Kami menjelajah lebih ke dalam. Wow… they all so beautiful, unique, and some of them really touched me.

Below is the one from Arghya Dhyaksa Nindita. This is very popular spot for taking selfie. I have to wait quite long time just to get my turn.

Yang menarik adalah karyanya yang unik. Coba saja baca tulisan yang ada disana. “Get whale soon. Notice me senpaii. Placard. Merokok membunuhmu. Born to be.  Obat wc. Bugil tapi sopan. Crows zero.”

Another famous spot for taking selfie is this one from Geoffrey Tjakra. So many beautiful ocarina arranged into circle shape.

Tergoda untuk mencoba meniup ocarina-nya, tetapi pasti tidak boleh. Sayang sekali kami tidak sempat ikut workshop yang bersama sang Geoffrey.

Oiya, di galeri ini juga ada orang yang selalu menjaga dan mengingatkan kita untuk berhati-hati. Jika kebetulan pergi sendiri, mereka juga bisa dimintai tolong untuk menjadi tukang foto dadakan. Kalau saya sih, untungnya membawa fotografer pribadi alias mama tercinta.

jccb3 (39)Karya yang satu ini, gabungan antara art and technology. Tangan saya sungguh gatal untuk memencet tombol-tombol itu sekadar untuk mendengar alunan suara dari sendok yang menyentuh cangkir keramik.

Interesting. Can you believe that the one who made this installation is a young man from Indonesia. I’m so proud, man!

Beberapa karya yang lain.

Nah, kalo yang ini, sungguh menyentuh saya. Entah kenapa. Art yang dibalut teknologi. Flood of tears dan Untitled #13

jccb3 (23)Before my teary eyes turns into completely cried eyes, I better move away and enjoy another piece of arts.

Advertisements

One thought on “The 3rd Jakarta Contemporary Ceramics Biennale

  1. Pingback: Trienal Seni Patung Indonesia #2 “Versi” | my30uplife

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s