Sejarah Huta Siallagan dan Boneka Sigale-gale di Pulau Samosir

Hari kedua kami di Danau Toba, Tulang pun membawa kami mengunjungi salah satu destinasi wisata paling terkenal di Pulau Samosir, yaitu Huta Siallagan.

Huta Siallagan berada di Kampung Siallagan, Desa Ambarita, Kecamatan Simanindo, Pulau Samosir, Provinsi Sumatera Utara. Untuk memasuki objek wisata ini dikenakan tarif idr 2000/orang.

Menurut penuturan guide kami dari Sentosa Lake Resort, Huta Siallagan ini menyimpan sejarah kelam di masa lampau. mengapa kelam? Karena hukum adat-istiadat Batak pada masa itu terbilang cukup sadis.

Memasuki Huta Siallagan, kita akan disambut oleh sederetan rumah adat Batak yang konon katanya sudah berusia ratusan tahun. Semakin kita berjalan ke dalam kampong ini, terlihatlah sebuah rumah Raja batak, Pohon besar yang disebut Hau Habonaran, dan Batu Kursi (persidangan dan eksekusi) Pertama.

Batu kursi pertama, di bawah pohon kayu Habonaran, tepat di tengah Huta Siallagan  sebagai tempat rapat atau pertemuan Raja dan tetua adat membicarakan berbagai peristiwa di huta Siallagan dan sekitarnya, juga menjadi tempat persidangan atau tempat mengadili sebuah perkara kejahatan. Jenis hukuman yang diberikan oleh Raja Siallagan adalah Hukuman denda, penjara (pasung) dan hukuman mati (dipancung).

Lanjut berjalan ke bagian luar Huta Siallagan, kita bisa melihat Batu Kursi Kedua. Disini terdapat Kursi untuk Raja, para Penasehat Raja dan tokoh adat, dan masyarakat yang ingin menyaksikan pelaksanaan hukuman mati.

Penjahat dibawa oleh hulubalang raja ke tempat eksekusi dengan mata tertutup menggunakan Ulos, kemudian ia ditempatkan diatas meja batu besar setelah bajunya ditanggalkan. Kemudian, tubuhnya disayat dengan pisau tajam sampai darah keluar dari tubuhnya. 

Selanjutnya Sang Datu (eksekutor), sambil membacakan mantra-mantra, ia mengambil pedang dan dengan sekali tebas, kepala penjahat dipenggal hingga terpisah dari tubuhnya. Untuk memastikan penjahat sudah mati, sang Datu kemudian menancapkan kayu Tunggal Panaluan ke jantung penjahat. Jantung dan hati dikeluarkan dari tubuh penjahat dan darahnya ditampung dengan cawan lalu diminum bersama. Hati dan jantung penjahat dicincang dan kemudian dimakan oleh Raja dan semua yang hadir. MEnurut keprcayaan mereka dahulu, memakan bagian tubuh penjahat akan menambah kekuatan mereka.

Bagian Kepala dibungkus dan dikubur di tempat yang jauh dari Huta, sementara bagian tubuhnya dibuang ke danau. Raja kemudian memerintahkan warganya untuk tidak menyentuh air danau selama 1-2 minggu karena air masih dianggap berisi setan atau kekuatan gaib.

Selain batu kursi atau batu persidangan, di dalam hutta siallagan juga kita bisa melihat dan menari tor-tor bersama boneka sigale-gale.

Menurut sejarah, boneka sigale-gale dibuat ketika seorang raja kehilangan anaknya. Boneka kayu ini merupakan perwujudan anak sang raja. Boneka tersebut menemani sang raja hingga akhir hidupnya, dan pada saat kematiannya, boneka sigale-gale menari di samping jenazah sang raja.

Seiring waktu, boneka sigale-gale menari ketika ada anak laki-laki yang meninggal atau keluarga yang berduka karena tidak punya anak laki-laki. Mereka percaya bahwa arwah yang meninggal akan bersemayam di dalam sigale-gale.

Konon katanya, setiap orang yang membuat boneka sigale-gale harus menyerahkan seluruh jiwanya agar boneka itu bisa bergerak layaknya manusia hidup. Karena itu, siapapun yang membuat boneka sigale-gale akan meninggal sebagai tumbal setelah pembuatannya selesai.

Advertisements

Dari Silangit ke Danau Toba, Sumatera Utara

It was one of many unforgettable moment in life. When I can see how beautiful my country is. North Sumatra, one of province in Indonesia which have lots of places to visit with their uniqueness and amazing view.

danau toba trip 2016 (63)Tujuan kami kali ini adalah Danau Toba dengan Pulau Samosirnya. Perjalanan dimulai dengan menaiki pesawat Sriwijaya Air dengan rute Soekarno Hatta (CGK) – Silangit (DTB). Bandara Silangit terletak di Siborong-borong, Tapanuli Utara, Sumatera Utara.  Jarak dari pusat kota sekitar 7 km.danau toba trip 2016 (51)

Bandara Silangit dibangun pada masa penjajahan Jepang. Pembangunan kembali bandara ini mulai dilakukan sejak tahun 1995 dengan menambah landas pacu sepanjang 900 meter menjadi 1.400 meter. Pada Maret 2005, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono meresmikan pengoperasian Bandara Silangit. Sejak saat itu pembangunan Bandara pun mulai dilakukan dengan gencar. Pada tahun 2011, Bandara Silangit akhirnya memiliki landas pacu sepanjang 2.400 meter. Pada tanggal 18 Januari 2011, Bandara Silangit didatangi oleh Presiden RI beserta rombongan yang menggunakan pesawat Boeing 737-500. Dengan kedatangan Presiden tersebut, dinyatakanlah bahwa Bandara SIlangit telah sanggup melayani pesawat sekelas B737. [Sumber: Silangit-airport.co.id]

Sebagai info tambahan, pesawat Sriwijaya Air yang kami naiki memberikan makan pagi di pesawat, * which is amaze me since we only have to fly for 2 hours. Well, good service if I may say.

Sesuai dengan namanya, Silangit, berada di bandara ini serasa kita dekat dengan langit. Udara yang amat dingin menyusup ke dalam kulit esaat kita menapakkan kaki di bandara ini. Hampir seperti dinginnya Dataran Tinggi Dieng di pagi hari atau Gunung Prau di siang hari.

Untuk menuju Danau Toba, tepatnya Kecamatan Muara, kami pun harus menempuh perjalanan lebih kurang 1 jam. Perjalanan yang dipenuhi dengan pemandangan indah di kanan kiri atas dan bawah. Sesekali, kami pun berhenti untuk mengabadikan momen ini.

See!

What a beautiful view, eventhough we taking it from the side road on our way to danau Toba.

Perjalanannya seharusnya memakan waktu lebih kurang 1 jam, terpaksa menjadi lebih lama karena saya terkagum-kagum dengan apa yang ada di depan mata saya * maklum, biasa lihat kemacetan dan gedung-gedung kaca beton menjulang ke langit *

Menikmati Wisata Malam di Monas

Monumen Nasional atau yang lebih dikenal dengan nama Monas kini telah dibuka hingga malam hari. Bahkan, para pengunjung bisa menikmati keindahan dan gemerlap kota Jakarta di malam hari dari Puncak maupun Cawan Monas.

Wisata malam di Monas resmi dibuka pada tanggal 5 April 2016 oleh Gubernur DKI, Basuki Tjahaya Purnama atau Ahok. Harapannya, agar Monas bisa setenar Empire State Building di New York, Amerika yang ramai dikunjungi oleh wisatawan hingga dini hari.

Untuk wisata Monas ini, pihak pengelola menjual 1.800 tiket untuk siang hari (pukul 08.00–16.00) dan 700 tiket untuk malam hari (pukul 19.00–22.00). Khusus untuk malam hari, loket tiket tutup pukul 21.00 dan dibuka setiap hari dari Senin hingga Minggu.

Mengingat wisata malam monas ini baru pertama kali diadakan, saya dan keluarga pun tertarik untuk mencobanya. Penasaran untuk menikmati Monas di malam hari, terutama melihat Jakarta dari ketinggian puncak monas.

Jadi, malam itu, tepatnya di salah satu malam di Long Weekend, kami meluncur ke lokasi. Pasti ramai sekali, pikir saya dalam hati. Benar saja, lahan parker pun menjadi penuh sesak oleh kendaraan, baik motor maupun mobil. Kami bahkan harus berkeliling 2 kali untuk mendapatkan parkir mobil.

Langsung saja kami menuju Monas. Ramai. Super ramai. Monas dipenuhi ribuan orang. Sayangnya sesampainya di loket tiket, tiket untuk menuju puncak monas sudah habis terjual, padahal saat itu jam baru menunjukkan pukul 19.30. Saya rasa antusiasme masyarakat untuk menikmati Monas di malam hari, apalagi di long weekend ini begitu tinggi. Alhasil, kami hanya mendapat tiket masuk hingga ke cawan Monas.

Monas ini begitu indah, setidaknya Monas yang sekarang. Dengan permainan lampu berwarna-warni, Monas kini tampak jauh lebih hidup dan indah.

Kami pun bergegas menuju cawan Monas. Betapa kagetnya saya melihat antrian super panjang bak ular. Ternyata antrian itu adalah antrian untuk menuju puncak Monas. Well, setidaknya, mereka mengantri di malam hari dalam keadaan tidak panas * coba saja kalau mengantri di siang hari seperti yang pernah saya alami *

Samapailah kami di cawan Monas. Subhanallah. Indahnya kota di mana saya dibesarkan ini. Kota Jakarta, kota yang tak pernah tidur. bahkan hingga malam selarut ini, masih terlihat mobil, motor, kereta, dan manusia berlalu-lalang. Suara klakson, suara deru mobil, dan suara kereta pun masih terdengar jelas di telinga saya.

IMG-20160507-WA0051 Setelah puas menikmati pemandangan dari Cawan Monas, kami pun menyempatkan diri untuk melihat diorama-diorama di Museum Sejarah Nasional. Wow, menikmati museum di malam hari entah kenapa memberikan sensasi tersendiri bagi saya * saya jadi teringat film Ben Stiller yang judulnya Night At Museum. *

IMG-20160507-WA0046 Entah mengapa, ketika melihat diorama dan membaca penjelasannya, lebih berasa. Saya seakan dibawa kembali ke masa itu. Rasa pedih pun mendadak muncul mengingat menderitanya bangsa kami saat penjajahan dahulu. Saya pun membuat catatan tersendiri. Lain kali kami mengunjungi Monas di malam hari, pastikan untuk melihat kembali semua diorama di museum ini.

Waktu sudah menunjukkan pukul 21.30 yang berarti tanda untuk kami beranjak pergi. Wisata malam kali ini sungguh berkesan sekali. Meskipun ada ketidakpuasan karena tidak bisa sampai ke puncak Monas dan menikmati kota Jakarta dari ketinggian.

Tips untuk wisata malam Monas:

  • Jika memang berniat untuk naik hingga ke Puncak Monas, lebih baik datang sebelum jam 19.00 sehingga begitu loket tiket untuk wisata malam dibuka, kita sudah di depan loket. Mengingat hanya tersedia 700 tiket. Apalagi jika di weekend atau musim liburan. Belum lagi waktu yang dibutuhkan untuk mencari tempat parkir dan jalan menuju loket tiket * kayanya bisa sejam-an *
  • Jika sudah mendapatkan tiket untuk ke Puncak Monas, sesegera mungkin menuju antrian lift agar tidak terjebak dalam antrian panjang yang mengular. Kalau untuk melihat bagian lain monas, bisa dilakukan setelah menikmati Puncak Monas. Maklum saja, hanya ada 1 lift ke dan dari Puncak Monas.
  • Bawa tissue basah or kering dan masker kalau perlu. Jika terpaksa ingin ke belakang. Maklum saja, toilet yang tersedia hanya beberapa dan di malam hari di musim liburan, bayangkan saja berapa ribu manusia yang sudah menggunakan toilet tersebut.
  • Pastikan sudah makan dan minum, karena jelas di dalam Monas tidak ada jualan makanan. Kalaupun ada, mahal. Tapi jangan khawatir, di sekitaran monas, dan dekat tempat parkir ada food court. Info tambahan, untuk membeli makanan di sini diutamakan penggunaan e-money dari Bank mandiri.
  • Bagi yang membawa anak-anak, siapkan uang lebih. Karena banyak permainan, jajanan, souvenir, dan mainan yang dijamin bakal menarik perhatian anak-anak.

Kita, Prau, dan Koran Suara Pembaruan

This is a very super late post.

Masih ada hubungannya sama perjalanan kami, kita, ke Gunung Prau. Walaupun sudah di post dalam cerita “Momen in Prau” rasanya tak lengkap kalau melewatkan yang satu ini. Salah satu rekan pendaki aseek pendaki yang namanya Mega calon fotografer dan asli petualang ulung meluangkan waktunya untuk menulis artikel mengenai perjalanan kami di koran Suara Pembaruan * klik di sini buat lebih jelasnya *

And there we are, finally on the newspaper. Ihiiiy… * keren juga si Mega ini, pandai merangkai kata dan mengabadikan sebuah peristiwa, sebuah perjalanan bersama.* Setidaknya, perjalanan kami itu, akan terekam selamanya * lebay * tidak sekadar ada di dalam salah satu ruang yang tersimpan rapi dalam ingatan kita, tapi juga dalam lembaran koran Suara Pembaruan.

Semoga tulisan Mega, menginspirasi pembaca untuk mendaki Gunung Prau dan merasakan sendiri keindahan gunung Prau, permadani bertahtakan bunga Daisy.