A Very Rare and Unforgettable Moment with Cheryl Polk, PhD. (President of HighScope Educational Research Foundation, USA)

20160816-cheryl polk (2)These past two days (August 15-16, 2016) was quite days for us, Highscope teacher in Sekolah Highscope Indonesia, TB. Simatupang. Why is it so? Because we have been visited by the one and only, Cheryl Polk, PhD. or as we called her Dr. Polk also Marianne. Dr. Polk is the President of Highscope Educational Research Foundation in Ypsilanti, Michigan, USA. While Marianne is one of the Director in the foundation.

Dr. Polk has a long record of success in translating research knowledge about the first five years of life into programs that address the continuum of young children’s needs, from high-quality childcare to mental health consultation and treatment. Most recently she served as the executive director of the Lisa and John Pritzker Family Fund where her dual expertise in early childhood development and philanthropy advanced the creation of groundbreaking intervention programs for children exposed to community and interpersonal trauma. Dr. Polk was president of the board of directors of Zero to Three: National Center for Infants, Toddlers, and Families and has been a board member of that organization for more than 10 years. [source: highscope.org]

We were so nervous but excited at the same time. Well, who won’t. It might be a chance once in a lifetime, to meet such a great and amazing person, even though I only knew her from the internet.

On the first day, I didn’t get a chance to meet them during our school hours. But after school, I had a chance to Meet and Greet with Marianne, Ibu Antarina SF. Amir, some owner of Sekolah Highscope in Indonesia, parents also some of colleagues from Preschool to Highschool level. What a very rare chance to be in there, especially for a preschool teacher like me.

On the second day, unpredictable of me, Dr. Polk, Marianne and also our ECEP team principal took a glimpse of our classroom, Grey Room.

Surprise. Nervous. Excited. Speechless. Worried.

All were my feeling at that time. Even though it only for a very short time. I really appreciated of her being in our classroom. Being in the same room and breathe the same air as her, lastly being in one frame with her, with them. How lucky I am.

Thank you for your visit. Hopefully, me and my partner will become as great as you, well, almost as great as you. Well, at least, being a great preschool teacher more than today.

Advertisements

Belajar Itu Tidak Mudah!

Dulu, ketika saya masih sekolah, seringkali saya mendengar orangtua bilang kalau belajar itu mudah alias gampang. Masalahnya cuma kita ingin belajar atau tidak dan bagaimana usaha kita untuk belajar.

Yang susah itu, menghasilkan uang untuk membiayai kita sekolah. Intinya, bekerja lebih susah ketimbang cuma belajar.

Dari sudut pandang orangtua, tentu saja hal itu benar.

Tapi, pernahkah kita menempatkan diri sebagai anak-anak (usia dini terutama). Bagi mereka,

Belajar jelas bukan hal yang mudah.

dscn2979Bayangkan ketika kita pertama kali masuk sekolah. Entah itu TK, SD, SMP, SMA, bahkan Universitas. Pasti ada perasaan takut tersembunyi di dalam hati kita.

Sekarang, bayangkan kita adalah seorang anak berusia 1,5 – 2,5 tahun di hari pertama kita masuk sekolah.

Kita datang ke tempat yang baru, gedung yang baru pertama kali kita datangi, penuh oleh anak-anak dan orang dewasa yang asing bagi kita.

Kemudian masuk ke dalam ruangan yang penuh mainan, buku, dan fasilitas lain yang jelas bukan milik kita. Banyak sekali yang harus kita pelajari.

Bagaimana caranya supaya bisa kenal semua orang ini?

Bagaimana bergaul dengan mereka?

Bagaimana cara memainkan semua mainan ini?

Bagaimana cara membaca buku itu?

Bagaimana cara memakai semua fasilitas itu?

Bisakah kita melakukan semua itu?

Dan jutaan pertanyaan lain yang berkeliaran bebas di kepala kita, persis di hari pertama kita menginjakkan kaki di sekolah.

Untuk menjawab semua pertanyaan di atas. Cuma satu jawabannya.

Belajar.

Kita harus belajar.

Bagaimana caranya? Untuk belajar, kita harus memberanikan diri untuk masuk sekolah dan mencoba segala sesuatu yang baru di sepanjang perjalanan sekolah kita.

Belajar adalah kerja keras, dan mengambil resiko… akan kemungkinan untuk ditertawakan, disalahkan, tidak diacuhkan, atau ditolak. (Hyson, 2004)

Sekarang, siapa sih yang dengan sengaja berani untuk ditertawakan, disalahkan, tidak diacuhkan dan ditolak. Saya rasa tidak ada.

Selama kita tidak memiliki fondasi emosional yang kuat maka kita semua pasti akan menghindari hal tersebut. Yang berarti, kita tidak akan bisa mempelajari apapun juga.

Jadi, siapa bilang kalau belajar itu mudah?

Ya, belajar itu mudah. Belajar bisa dilakukan di mana saja dan kapan saja. Belajar tidak dibatasi oleh umur, kekayaan, ataupun jarak.

Akan tetapi, belajar itu juga tidak mudah. Belajar membutuhkan usaha dan kerja keras. Belajar juga membutuhkan keberanian, bahkan hanya untuk sekadar memulainya.

Dan bagi saya, bahkan untuk punya keberanian saja bukanlah perkara yang mudah.

Meskipun belajar bukan hal yang mudah, lantas bukan berarti kita jadi berhenti belajar atau malas belajar. Ini berarti kita harus menghargai sekecil apapun pengetahuan dan keahlian yang kita dapat melalui proses belajar.

Kita harus bersyukur bahwasanya kita masih diberi kesempatan untuk belajar sesulit apapun itu. Karena, percayalah, kalau banyak orang di luar sana, yang ingin belajar namun tidak punya kesempatan untuk belajar, melainkan hanya menjadi sebatas impian.

 

Kejadian Aneh di Pagi Hari Saat Sendiri

Pagi ini dimulai dengan kejadian aneh apa memalukan ya? Jadi begini, saya sengaja dateng pagi buta l* lebay *  ke tempat kerja, dengan rencana menyiapkan segala sesuatunya sebelum kelas dimulai * padahal mah takut macet tuh klo kesiangan.* Jelas, saat itu saya pasti masih sendirian, guru-guru lainpun kayanya belum keliatan batang hidungnya.  Nah, saya tariklah kursi seukuran anak TK dan bersiaplah untuk duduk.

Sampe tiba-tiba, saya mencoba duduk dan terjengkanglah saya saudara-saudara. Demi mencegah tumbukan keras antara pan*** sama ubin, dengan sigap dan secepat kilat, saya pakelah sikut sebagai tumpuan * buggg! efek suaranya. * Alhasil, lecet sudah sudah sikut kanan saya. Kejadiannya sepersekian detik. Kaget, sumpah saya kaget. Karena seinget saya, itu kursi posisinya ga jauh kaya gitu * hiiiiy, siapa ya yang narik kursi saya? atuuuuut *

Untungnya saat itu saya ga berpikiran mistis. Pas jatoh, yang pertama saya lakuin adalah bangun sambil cengengesan kaya orang gila. Berasa ngetawaiin diri sendiri. Terus, bersyukur karena ga ada saksi mata di tempat kejadian * bisa-bisa saya diketawaiin abis-abisan. Kalo yang ngetawaiin sekece Lee Min Ho si kaga nape-nape. *  Eh, terus, saya malah keinget adegan pas Fitri Tropica percis ngalamin kejadian yang sama. Semalem kejadiannya, pas di acara club lawak indonesia * pamali kali ya gw waktu itu ngetawaiin si fitrop.*

Hikmah yang saya petik dari kejadian ini. Besok-besok, kalo duduk, liat dulu kursinya. Baca dulu Bismillah… kalo engga, bisa jadi lain kali ga cuma lecet yang saya derita * heuheuheuheu *