Sejenak Menghampiri Baturraden

Masih dalam rangka libur lebaran, kami menghampiri lokawisata Baturraden walaupun hanya sejenak saja.

Sudah terlalu lama rasanya sejak saya menginjak Baturraden. Terakhir kali saya ke sini ketika saya masih SD bersama dengan keluarga besar H. Djayadih (keluarga almarhum Bapa). Saat itu, almarhum bapa dan almarhum kaka saya masih bersama kami.

Ketika akhirnya saya sampai ke tempat ini lagi, rasanya tak sabar dibalut dengan penasaran. “Seperti apa ya penampakan baturraden saat ini?” pikir saya.

Setelah melewati antrian panjang menuju pintu masuk, kami pun terpaksa memarkirkan mobil di sebuah Hotel mengingat hampir semua tempat parkir penuh, sampai-sampai bahu jalan pun digunakan sebagai area parkir. Kenapa? Karena waktu berkunjung bertepatan dengan libur lebaran yang berarti banyak pengunjung berdatangan dari berbagai daerah.

Kami pun berjalan menanjak menuju pintu masuk dengan pemandangan Gunung Slamet yang menjulang tinggi dengan gagahnya.

Sampai di pintu masuk, rasa tidak sabar dan penasaran tadi mulai terjawab. Ramai, kesan pertama saya.

Memasuki kawasan wisata baturraden, saya pun terkejut.

Wow! Just Wow!

Bukan karena tumpah ruahnya manusia, melainkan karena betapa banyak perubahan di tempat ini. Sungguh amat sangat teramat berubah.

 Baturraden yang begitu alami dalam ingatan saya, berubah menjadi lebih modern, family friendly, colorful, and instagramable. Bagus sih, tetapi bagi saya yang menyukai suasana alam nan alami, rasanya agak disayangkan. Saya sungguh lebih menyukai tampakan Baturraden yang terekam alami dalam memori masa kecil saya.Meskipun begitu, Baturraden tetap merupakan salah satu destinasi wisata alam yang patut dikunjungi. Terlebih bagi warga perkotaan yang merindukan kesejukan dan keindahan alam pegunungan.

Di Baturraden ini banyak sekali lokasi yang bisa dikunjungi. Mulai dari pancuran 1 sampai 7, jembatan putus cinta, kebun raya, water park, dan lainnya. Sayang sekali saya tidak bisa mengunjungi semua tempat tersebut karena keterbatasan waktu.

Menuju jembatan putus cinta. Ketika saya masih SD, jembatan ini masih berupa jembatan gantung. Namun, semenjak peristiwa putusnya jembatan ini, pihak pengelola akhirnya membangun jembatan permanen untuk menggantikan jembatan gantung.

Pemandangan Baturraden dari atas jembatan. Such a beauty.Lanjut ke pancuran 7. Untuk menuju pancuran 7 dibutuhkan waktu lebih dari sejam dengan perjalanan yang terus menanjak. Sayang sekali saya dan keluarga tidak sampai hingga ke pancuran 7 karena masih harus mengejar waktu untuk balik ke Jakarta.

Next time, I’ll make sure to comeback to Baturraden. From morning till noon and explore every inch of what Baturraden can offered.

Kenyataan Dibalik Indahnya Taman Wisata Air Panas Guci

Lesson learned! No visitation during Eid or long holiday. A really bad timing to visit the place. It turned out, what we expected is far from reality.

Masih dalam rangka libur lebaran. Dalam perjalanan pulang kembali ke Jakarta, kami meyempatkan mampir ke objek wisata yang belakangan ini sungguh terkenal dibicarakan di berbagai sosial media. Ribuan foto berlatar belakang tempat ini pun sudah bertebaran di jagad instagram

Indah. Tampak indah.

Setelah perjalanan yang cukup menguji nyali karena berkelok-kelok, naik turun, ditambah dengan ramainya kendaraan. Kami pun tiba di Taman Wisata Air Panas Guci, Tegal  yang tepat berada di kaki gunung Slamet, Jawa Tengah.

Kesan pertama, jalan menuju lokasi masih belum tertata rapi. Hal ini membuat saya tersenyum bahagia. Mengapa, berarti tempat ini masih alami, which is very good.

Memasuki lokasi, kami disambut dengan cukup banyaknya sampah berserakan di sepanjang jalan dan banyak pengunjung yang lalu-lalang.

Semakin jalan ke dalam, suasana alami semakin terasa. Tapi entah kenapa, ada perasaan tidak nyaman di hati kecil saya.

Kami pun mengikuti jalan di sepanjang pinggir sungai yang mengalirkan air panas. Sesampainya di taman wisata, tepatnya di jembatan gantung, saya pun semakin merasa tak nyaman.

Betapa tidak, di jembatan jelas-jelas tertulis jalan satu-satu dan agar tidak berlama-lama di jembatan. Kenyataannya, jembatan penuh sesak oleh pengunjung yang menyebrang, bahkan banyak di antara mereka yang sibuk ber-selfie, wefie, dan –fiefie lainnya.

I guess, rules are meant to be broken. And that safety just flew out of the window at time like this (means holiday).

Dari ujung jembatan, terlihat kolam pemandian air panas yang dipenuhi pengunjung. Dan perasaan tak nyaman semakin menggebu-gebu di dalam hati saya.

Oh my. Oh my. Oh my God.

So this is an uncomfortable feeling I feel along the way. It is so crowded. Overly crowded. Gosh! I got a sudden headache.

Lihatlah betapa ramainya taman wisata air panas Guci di kala libur panjang lebaran. Benar-benar waktu yang sangat tidak tepat untuk mengunjungi tempat ini.

Jangankan menikmati keindahan alam, untuk sekadar berjalan pun kesulitan. Seakan-akan saya sedang dalam antrian panjang untuk menonton konser atau bola.

Tidak hanya di jalan, tetapi juga di sungai air panas, di air terjun, di jembatan, di kolam pemandian, di tempat souvenir, di tempat makan, semuanya dipenuhi manusia. Lebih tepatnya, lautan manusia.

Saya pun merasa kasihan dengan kuda-kuda yang berada di lokasi. Sejatinya, mereka cukup sensitif dengan keramaian dan kebisingan. Namun, apalah daya mereka.

Belum lagi, sampah-sampah yang berserakan di jalan, di pinggir sungai, bahkan di aliran sungai. Tempat sampah yang disediakan sungguh sudah tidak mampu menampung sampah dari ribuan orang yang datang bersamaan pada saat itu.

Saya pun segera mengurungkan niat saya untuk berlama-lama di tempat ini. Meskipun begitu, saya sempatkan untuk mengabadikan momen ini bersama keluarga. Kapan lagi bisa melihat Guci dalam keadaan seperti ini. Jauh dari bayangan. Sungguh, kenyataan lebih kejam dari harapan.

Bye-bye Guci. I’ll make sure to visit you again during weekdays in the near future. No more visiting during long holiday for I can not witness your beauty.

Hujan pun tiba-tiba datang tanpa diundang. Lengkap sudah perjalanan saya di Guci. Kami pun melipir sejenak di warung untuk sekadar menikmati pop mie dan menanti hujan reda.

Dari Merak ke Kiluan

Term Break! Akhirnya hari yang kami tunggu-tunggu tiba juga. 3 Bulan yang lalu tepatnya, kami berencana mengunjungi destinasi wisata yang ada di Lampung. Target kami kala itu adalah Teluk Kiluan, Laguna, Pantai Pegadungan Gigi Hiu, dan Pulau Pahawang serta pulau-pulau kecil di sekitarnya dalam waktu 3 hari 2 malam.

Hari itu, Sabtu dini hari, kami ber-5 bertemu di depan loket tiket ASDP Indonesia ferry di Pelabuhan Merak. Waktu menunjukkan pukul 3 lewat. Telat 1 jam dari rencana kami semula. Akhirnya, kami pun membeli tiket seharga IDR 13.000 untuk sekali jalan. Mengingat kondisi cuaca yang tidak begitu baik dan proses bongkar muat yang cukup memakan waktu, kapal ferry yang kami tumpangi pun berlabuh sekitar pukul 4 pagi dan bersandar di Pelabuhan Bakauheni sekitar pukul 7 pagi.

img-20161002-wa0004

20161002_070905

Pelabuhan Bakauheni, Lampung

Sesampainya di Pelabuhan, mobil jemputan kami pun siap mengantarkan kami ke Teluk Kiluan. Perjalanan dari Pelabuhan menuju Teluk Kiluan terbilang cukup jauh. Belum lagi jalanan yang kami lalui penuh tantangan. Mulai dari jalanan yang rusak, penuh, air, berlumpur, berbatu, hingga berlubang, dan percayalah itu bukan lubang biasa. Jika anda berniat ke Teluk Kiluan menggunakan mobil sedan atau mobil yang rendah alias ceper, sebaiknya lupakan saja. Ada baiknya anda menggunakan mobil yang kuat untuk off road.

Mendekati Teluk Kiluan, perjalanan kami bagaikan perjalanan ke Puncak, atau perjalanan dari Bandara Silangit ke Danau Toba. Berliku-liku, di sepanjang pinggir bukit, dihiasi pemandangan pepohonan yang rimbun nan hijau. Tidak tampak penerangan di beberapa bagian. Di Kejauhan, teluk kiluan pun dengan sombongnya memamerkan keindahannya.

Tak lama kemudian, kami disambut oleh gerbang atau gapura yang menandakan tibanya kami di teluk kiluan. Di sepanjang perjalanan menuju homestay Iril (sang pemilik bernama Pak Khairil), kami mendapati sejumlah rumah khas Bali. Dengan gapura batu dan tempat ibadah di dalamnya. Sempat terpikir, “apakah saya di Bali atau di Lampung ya?”

20161002_142241img-20161004-wa0105Kami pun tiba di homestay yang letaknya tepat di depan teluk Kiluan. Suara ombak dengan nyaringnya menggetarkan pendengaran saya. Hembusan angin sepoi-sepoi dengan halusnya menerbangkan ujung kerudung saya. Nikmatnya. Ademnya. Ucap hati saya.

20161002_142533 20161002_142617 Dan kami pun, tak sabar untuk menjelajahi indahnya salah satu bagian bumi Indonesia ini selama 3 hari 2 malam. What a short getaway.

Baca juga:
Pantai Pegadungan Gigi Hiu yang Tak Akan Pernah Terlupakan