Indahnya Desa Tlaga Kecamatan Punggelan, Banjar Negara

Salak day! After more than an hour climb up a mountain like, definitely worth it. Happiness is having a family living in a mountain with a field of salak, avocado trees, bananas, and a pond full of fishes.

 

Dalam rangka Lebaran, kami sekeluarga mudik ke Banjar Negara. Saya pun menyempatkan diri untuk mengunjungi sanak keluarga yang rumahnya tidak jauh dari rumah mbah saya.

Jadilah saya dan keluarga mengunjungi rumah lilik (om/tante) yang katanya berada di pegunungan, bahkan hampir di puncak gunung. Tepatnya di desa Tlaga Kecamatan Punggelan.

Ditambah iming-iming memetik salak, makan salak sepuasnya, memetik alpukat, dan memancing ikan untuk kemudian dimasak. Wah, saya sangat excited.

Maklum saja, saudara yang sudah pernah ke sana selalu menceritakan betapa indahnya pemandangan dan betapa ‘mengerikan’nya perjalanan ke sana. Ditambah lagi dengan cerita bahwa Punggelan termasuk daerah yang rawan longsor.

Benar saja. Jalan yang berkelok-kelok, naik dan turun, danΒ bisa dibilang hanya cukup untuk 1,5 ukuranΒ mobil saja harus kami lalui. Mereka bilang jalannya menyeramkan. Saya bilang, jalannya cukup menantang. Mereka sungguh harus mencoba jalanan menuju pantai pegadungan gigi hiu, pikir saya.

Sepanjang jalan, saya disuguhi dengan hijaunya pepohonan, segarnya udara pegunungan,dan keindahan alam sepanjang mata memandang.

Sesampainya di rumah lilik saya, kami pun langsung disuguhi salak, keripik salak, pisang, ikan goreng, dan sebagainya. Ternyata semua iming-iming itu benar adanya, bahkan lebih.

Sungguh nikmat berada di pedesaan. Untuk sementara, saya lupa akan kesibukan dan kemacetan di ibukota.

 

Advertisements

Merindukan Kesejukan di Desa Susukan, Banjar Negara

It’s been some time since we went to my mom’s hometown in Susukan Village, Central Java. Been missing the morning scenery of the sunrise, paddy fields, mountain, and hills.

short-getaway-21short-getaway-14short-getaway-23

Pulang ke kampung halaman mama selalu menjadi momen yang selalu saya tunggu. Membayangkan sejuknya udara yang bisa saya hirup, hijaunya hamparan padi, rimbunnya pepohonan di bukit, dan damainya suasana pedesaan membuat kami semakin tak sabar untuk segera kembali ke sana.

Beruntungnya saya, mama dilahirkan di sebuah desa bernama Susukan, yang masih kental dengan suasana pedesaan hingga saat ini.

Lihat saja, hamparan sawah mengapit jalanan menuju rumah Mbah saya. Betapa indah dan alami.

short-getaway-13

short-getaway-12

short-getaway-22

short-getaway-9 short-getaway-8

Aliran sungai pun ada disini. Jembatan ini merupakan jembatan bersejarah dan telah menjadi bagian dari keluarga besar kami, keluarga Sanrusdi. Entah sudah berapa lama sejak dibangunnya jembatan ini.

Yang pasti, saya melihat jembatan ini di dalam foto masa kanak-kanak Mama, masa remaja beliau, masa pernikahan beliau, masa saya masih bayi, hingga saya sekarang ini.

short-getaway-15short-getaway-20

short-getaway-18

short-getaway-17