A Night in Cakra Homestay, Solo

This is a story about a group of women who spent a night in a very old and full of history kind of place in their standard room. 

It all started in Stasiun Solo Balapan, almost late at night. Unfortunately, it rained, heavily. 

Sampai di luar stasiun, kami putuskan untuk menyewa mobil. Sayangnya, pelayanan yang kurang memuaskan dan mobil yang tak kunjung datang, membuat kami tak sabar. Kami pun memesan 2 grab car untuk membawa kami ke Cakra Homestay.

Di perjalanan, suasana malam nan gelap yang diselimuti hujan membuat kota Solo tampak lengang.

Kami pun tidak banyak berbicara selama perjalanan, sampai akhirnya tiba di depan gang dengan gapura bertuliskan Jl. Cakra II. Tidak terlihat oleh kami Cakra homestay.

Sepintas, saya pun teringat hasil surfing di dunia maya, dimana saya temukan bahwasanya Cakra homestay ini sudah berusia ratusan tahun dengan sejarahnya yang panjang. It was a batik factory, hundred years ago. It is a very old building, 200 years old to be precise. Dan bagi saya, bangunan tua berarti antik, penuh misteri, dan sedikit menyeramkan. Dan, lagi, saya merupakan salah satu orang yang memilih homestay ini sebagai tempat menginap kami di Solo, hahahaha.

Di tengah hujan yang semakin deras, kami pun beranjak masuk ke dalam gang. Sampai tiba-tiba kami tersadar, ada barang yang tertinggal di dalam grab car yg kami naiki tadi.

Alhasil, sebagian dari kami lanjut mencari Cakra homestay, sementara lainnya menunggu grab car tadi.

Hujan turun semakin deras. Suasana gang yang gelap dan juga sepi, udara yang dingin, ditambah kerlip halilintar sesekali, dan suara derap langkah kaki kami yang menginjak genangan air, membuat malam itu terasa ngeri.

Berada di dalam gang dengan tembok di kanan kiri, dan bangunan yang tampak tua, membuat suasana terasa semakin mencekam.

Sampai akhirnya kami tiba di depan gerbang besar yang tertutup rapat dengan tanda didepannya bertuliskan Cakra homestay, lengkap dengan tulisan jawa kuno.

Jujur, saat itu saya merasa ada semacam horror atau thriller vibes dari homestay ini.

Pintu itu akhirnya kami buka, kreeeeek…, gelap, dan sepi.

Kami pun masuk tanpa diundang dan menengok ke sana ke mari, mencari resepsionis, staff, atau siapapun yang bertanggung jawab di homestay ini.

Sampai akhirnya kami tiba di sebuah bagian rumah, semacam pendopo terbuka atau aula terbuka dengan penerangan lampu yang temaram.

Ketika tiba-tiba muncul seorang pria, sontak saya kaget, terlebih lagi pria ini tidak seperti bayangan saya akan seorang resepsionis yang ramah.

Sementara Mitha berbincang dan bernegosiasi dengannya (karena ternyata kamar kami belum siap), saya menyempatkan diri melirik kesana-kemari.

Bangunan tua. check!
Furniture kental budaya Jawa, bisa dibilang barang antik. check!
Lampu remang-remang. check!
Ruangan yang katanya sudah berusia ratusan tahun. check!
Foto-foto lama yang masih hitam putih (sepertinya keluarga pemilik homestay atau pekerja pabrik batik dulunya). check!

Dan saya pun diam seribu bahasa. Rasa tak tenang pun membuncah di dada.

Setelah perjuangan Mitha yang keren abis, walaupun membuat sedikit deg-degan karena sikap Mitha yang tegas ke staff homestay (Makasih Mith), akhirnya kami pun diantar menuju kamar.

3 kamar bersebelahan, hanya dipisahkan oleh kamar mandi. Dan saya penasaran akan seperti apa kamarnya (maklum kami memesan kamar yang harganya ekonomis).

Begitu masuk kamar, rasa deg-degan belum hilang. Bahkan jujur, saya merinding. Ruangannya sih cukup luas, berisi 2 tempat tidur (dengan seprai warna coklat dan 1 bantal), 1 meja rias, 1 lemari, 1 jemuran handuk, dan 1 kipas angin dengan jendela khas bangunan jawa tua (jangan harap untuk membuka jendela karena nyamuk akan menyerbu anda).

Ketika tiba waktunya mandi, dengan kondisi kamar mandi yang seadanya (walaupun kondisinya masih bisa diterima, mengingat saya pernah menginap di tempat yang kondisinya lebih mengenaskan, bahkan tidak ada MCK), saya pun masih tak tenang. Terbayang oleh saya, bahwa kamar mandi ini sudah ada sejak 200 tahun yang lalu. Merinding.

Selepas itu, saya pun sholat dan berdoa, sempat juga saya berdzikir dan membaca ayat kursi karena entah kenapa deg-degan dan merinding masih begitu terasa. Setelahnya, saya pun menjadi jauh lebih tenang.

Ketika akhirnya saya sendirian di kamar, di malam nan gerimis itu, saya pun memutar murrotal dan memasang earphone erat-erat di telinga. Dan perlahan-lahan tertidur pulas.

Pagi pun menjelang.

Rasa penasaran membuat saya sempat berkeliling sekitaran homestay. Terlihat kolam renang yang cukup jernih, kamar-kamar antik di lantai atas, pendopo, serta semacam menara antik di tengah homestay. Sayangnya saya tidak sempat menaikinya.

Dan cakra homestay pun, tidak terlalu terasa mencekam lagi.

Sungguh pengalaman luar biasa unik. Seakan-akan saya syuting adegan dalam sebuah film bergenre thriller kalo bukan dibilang horor, namun sekarang syutingnya telah selesai.

Tapi, entah apakah perasaan itu akan sama rasanya kalau saja saya datang di pagi hari atau saat terang benderang. Saya rasa, tidak akan semencekam saat datang di malam hari kala diguyur hujan. Pun begitu dengan kamar, entah apakah akan sama rasanya kalau saya menginap di VIP.

Tapi jujur, menurut saya pribadi, homestay ini memiliki potensi menjadi homestay yang unik dan menarik, andai saja dikelola dengan lebih baik lagi (dalam hal pelayanan, kebersihan, fasilitas dll.) Terlebih lagi, untuk turis mancanegara atau turis lokal yang mencari suasana khas Jawa yang didukung dengan lokasi yang strategis.

Akhirnya, kami pun menyudahi pengalaman menginap kami di Cakra homestay ini untuk kembali ke rutinitas kami di Ibukota Jakarta.

 

Advertisements

Coba Move On Sejenak di Cafe Move On

Finally, took a bit rest in a cozy cafe called Cafe Move On. Should I move on from this short trip...

Cafe Move On akhirnya menjadi tambatan terakhir kami di Yogyakarta setelah menikmati sunrise di Punthuk Setumbu, Mengagumi Borobudur di Magelang, dan kembali ke masa lampau di Taman Sari.

Seperti banyak cafe yang kini bertebaran di seantero kota besar di Indonesia, Cafe Move On ini pun menawarkan tempat yang cozy dan instagrammable dengan pilihan makanan, minuman, serta gelato yang lumayan rasanya.

Sambil menunggu waktu keberangkatan kami naik KA WijayaKusuma ke Solo, kami pun menikmati gelato, menyeruput kopi taro, dan sekadar bincang sana-sini sambil sesekali melirik hp. Mencoba untuk move on dari liburan kali ini yang akan segera berakhir…

Awas Jamuran di jeJamuran

It’s all about mushrooms. Here, there, everywhere, all is mushroom.



Bagi pecinta kuliner, penikmat makanan unik, vegetarian, dan yang sedang kelaparan, jeJamuran menjadi pilihan yang pas dan tepat.

Bagaimana tidak, semua menu yang disajikan di restoran ini berbahan dasar jamur. Begitupun dengan minumannya. Mulai dari rendang jamur, sate jamur, soto jamur, nasi goreng jamur, jamur kriuk, dan banyak lainnya.

Penasaran kan apa rasanya? Setidaknya saya penasaran. Lihat saja betapa lahapnya saya memakan jejamuran. Nyam. 

Berikut menu yang bisa dinikmati dijeJamuran. 

Di restoran ini pula, kita bisa membeli berbagai macam keripik atau olahan jamur yang dikemas dengan sangat baik, sebagai oleh-oleh.

Kita pun bisa melihat Jamur hidup yang dibudidayakan oleh si pemilik restoran. 

Jadi, jangan takut jamuran ya kalau makan dan minum di jeJamuran. 

Sekejap di Taman Sari Water Castle, Yogyakarta

Taman sari water castle was a royal garden for Sultan of Yogyakarta. It was mostly known as places for the Sultan’s wife and princesses.

Tempat ini menjadi perhatian para wisatawan setelah foto-fotonya tersebar di berbagai media sosial dan setelah menjadi lokasi foto Pre-Wedding putri Presiden Jokowi.

Saya sendiri termasuk ‘clueless’ tentang taman sari, kalau saja Mega tidak memberi pencerahan kepada saya saat itu juga. Yang ada dibayangan saya kala itu adalah sebuah taman yang dipenuhi bebungaan atau semacam tradisional spa khas yogyakarta.

Sesampainya disana, saya pun bingung, hendak menuju ke arah mana. Tidak ada peta yang jelas yang bisa mengarahkan kita. Tapi, tidak usah khawatir tersesat karena banyak masyarakat lokal yang bersedia menjadi guide untuk mengantar dan mengitari kawasan taman sari ini. Sementara kami memutuskan untuk mengandalkan diri sendiri dan google maps.

Tempat ini terasa sekali kesan sejarahnya. Bangunan-bangunan tua yang berdebu, dipenuhi lumut disana-sini ditambah dengan teriknya matahari.

Konon katanya, kolam di atas dulunya adalah tempat para permaisuri dan putri-putri raja mandi. Sementara di bawah ini adalah kamar mereka. 

Setelah puas menjelajahi tempat pemandian, kami pun mengikuti kemana langkah kaki membawa, secara kami tidak menggunakan jasa guide. 

Kami pun sampai di sebuah gedung tua yang dulunya merupakan masjid bawah tanah. 

Dan berakhirlah perjalanan kami, dikarenakan suatu dan lain hal. Kami pun bergegas menuju destinasi selanjutnya, yaitu Cafe Move On. 

 

 

Borobudur oh Borobudur

Setelah mengagumi keindahan sunrise alias matahari terbit di Punthuk Setumbu, kami melanjutkan perjalanan ke candi Borobudur yang dahulu kala pernah menjadi 1 dari 7 keajaiban dunia.

Saya pun bertanya-tanya, seperti apakah tampakan candi ini sekarang. Masih samar dalam ingatan saya, betapa megah dan menakjubkannya bangunan candi yang terbesar di seantero Indonesia ini.

Sesampainya di lokasi, kami dibuat terkejut dengan banyaknya rombongan anak sekolah di depan loket tiket. Perasaan sudah mulai tak enak. Ah, mungkin ramai di luar saja, mengingat hari masih pagi sekali.

Dengan berseri-seri, kami berjalan penuh arti menuju borobudur.

Dan langkah kami pun sempat terhenti. Bukan karena keindahan candi, tetapi karena tertutupnya keindahan candi oleh ratusan anak sekolah berbagai usia dengan baju seragam mereka yang berwarna-warni.

Sungguh waktu yang tidak tepat untuk mengunjungi candi borobudur. Borobudur oh borobudur… 

Karena teramat penuhnya pengunjung candi, sampai-sampai sulit sekali menemukan spot untuk sekadar mengabadikan kami dan candi.

Alhasil, kami harus mengeluarkan jurus-jurus pencarian angle terbaik yang bisa menghalau tampakan anak sekolah sebagai latar belakang foto kami.






After Sunrise: Bayangan, Kopi item, dan Gorengan

Setelah mengagumi sunrise di puncak bukit Punthuk setumbu, kami berniat untuk melanjutkan ke Gereja Ayam yang sedang nge-Hits akibat kisah asmara Rangga dan Cinta di Film Ada Apa Dengan Cinta 2.

Apa mau dikata, kostum dan waktu tidak mengijinkan. Kostum yang kami pakai tidak memungkinkan untuk melalui trek terpendek ke Gereja Ayam via Puncak Punthuk Setumbu.

Kami dihadapkan dengan 2 pilihan, yaitu lanjut ke Gereja Ayam melalui trek yang lebih ramah tapi memakan waktu lama atau segera turun bukit dan menuju candi Borobudur. Sepakat, kami memilih candi Borobudur dan mengambil langkah seribu menuruni bukit.

Bayangan kami ketika berjalan pun menjadi pemandangan yang tak kalah indahnya dengan sunrise.

Melihat ke kanan kiri, sebuah warung kecil di pinggir jalan menarik perhatian kami. Terbayanglah oleh kami untuk sebentar saja beristirahat.

Duduk, menyeruput kopi item berteman pisang goreng, tahu, dan mendoan sembari dihujani hangatnya sinar mentari.

Nikmat.

Tak terasa, puluhan gorengan habis dilahap lengkap beserta cabe rawitnya.

Kenyang? Tidak juga. Tapi kami harus segera menuju destinasi selanjutnya, Candi Borobudur.

 

 

Mengagumi Sunrise di Bukit Punthuk Setumbu

Setelah hanya kurang dari 3 jam kami tertidur lelap di The Packer Lodge Yogyakarta, dengan tampilan muka bantal, kami bersiap untuk mengejar sunrise di bukit Punthuk Setumbu. Meskipun lebih enak kalau mengejar jodoh. eeeaaa.

Rencana awal yang hendak berangkat jam 3-an pun mundur menjadi setelah Subuh. Bagus juga sih, jadi kami sempat sholat subuh di hostel.

Perjalanan menuju bukit punthuk setumbu yang kesohor itupun kami lalui dengan tertidur, separuh perjalanan maksud saya (menolak dibilang pelor).

Saat kami tiba di lokasi, pagi sudah menjelang. Kami bersegera ‘mendaki’ bukit menuju titik pengamatan sunrise terbaik di puncak bukit Punthuk Setumbu.

Tiba di puncak, kawasan ini sudah dipenuhi puluhan orang. Sang mentari pun sudah menunjukkan dirinya di kejauhan.

Indah. Sangat indah.

Sunrise, dengan pemandangan hijaunya hutan dan backsound suara burung serta owa di kejauhan membuatnya semakin terasa indah. Terlebih lagi ketika candi Borobudur masih terlihat nun jauh di sana.

Kagum.

Selama mentari perlahan bergerak naik semakin ke atas, saya dan entah berapa puluh pasang mata disana menganguminya.

The best sunrise I’ve seen it so far. Better than the feeling of watched sunrise from Puncak Prau, Bromo Mountain, Banjar Negara, or other places I’ve been visited before.

Di satu spot, saya dan Mega sibuk mengunci keindahan sunrise dengan mata dan video handphone ala kadarnya (dikarenakan cita-cita terpendam untuk membuat video timelapse sunrise).

Sementara Dwi, Shirley, Mitha, Irin, dan Nisa mengeksplor keindahan bukit Punthuk Setumbu dari spot yang berbeda.

Dan cerita pun berlanjut ke “After Sunrise: Bayangan, Kopi Item, dan Gorengan.”

The Packer Lodge Yogyakarta

Sesampainya di Stasiun Tugu, Yogyakarta dari Stasiun Solo Balapan, kami langsung mengandalkan google maps untuk mencapai lokasi The Packer Lodge Yogyakarta (Terima kasih Mitha sudah booking hostel ini untuk kami).

Konon katanya, hostel ini (The Packer Lodge Yogyakarta) merupakan salah satu hostel terbaik pilihan backpacker lokal dan internasional. Jadi, kami sedikit penasaran bagaimana rasanya menginap di hostel ini.

Beruntungnya kami, hostel ini dekat dari stasiun dan bisa dijangkau hanya dengan berjalan kaki. Ditambah lagi, lokasinya yang dekat dengan Jl. Malioboro yang terkenal seantero jagad raya itu. Jalan kaki pun menjadi pilihan yang terbaik, sambil menikmati pemandangan malam di sepanjang jalan Malioboro.

Dan saya pun tertegun. Entah sudah berapa lama sejak terakhir kali saya berada di jalan ini. Dan sungguh sangat amat berubah. Sangat padat dan ramai dengan lalu-lalang orang.(untung saya pernah merasakan Malioboro yang tidak terlalu ramai dan masih terasa sekali nuansa tradisionalnya).

Tak lama kemudian, The Packer Lodge Yogyakarta tepat berada di hadapan kami. Tampak sederhana dan minimalis. Benar-benar mencirikan hostel para backpacker.

Memasuki hostel, saya langsung jatuh cinta dengan tempat ini. Tampak minimalis dan sangat bersih disertai pelayanan yang sangat ramah.

Mengingat malam yang semakin larut dan mata yang sudah mulai meredup, ingin rasanya saya segera menuju ke kamar dan merebahkan diri untuk sekadar meluruskan badan.

Dan, inilah kamar kami. And I must say, I love it!!!

Hanya saja, berhati-hatilah kalau kita dapat tempat tidur yang posisinya di atas.  Pastikan kalau kita sudah benar-benar segar dan melek 100% baru turun ke bawah. Salah-salah atau lupa atau masih mengantuk sekali, kita bisa terjatuh.

Hostel ini patut saya acungi jempol 2. Karena apa? Karena membuat saya merasa seperti di rumah sendiri atau seperti anak kos.

Ditambah lagi dengan bersihnya area hostel, mulai dari front office, dapur, kamar, hingga kamar mandi (padahal ini kamar mandinya bareng-bareng dengan tamu lainnya). Sangat bersih. Dan bagi saya, kebersihan adalah yang paling utama, terutama kebersihan kamar mandi.

Jadi, saya pasti tidak segan untuk kembali menginap di hostel ini suatu saat nanti.

A very recommended one.

Sayangnya, kami hanya sempat menginap satu malam. Bahkan tidak bisa disebut satu malam juga, karena kami baru tidur jam 12 malam dan bangun jam 3 pagi untuk mengejar sunrise di Punthuk Setumbu.

 

 

 

Sejenak di Stasiun Solo Balapan

Salah satu stasiun yang paling terkenal seantero Indonesia adalah Stasiun Solo Balapan. Nama stasiun ini semakin terkenal ketika Didi Kempot menyanyikan lagu campur sari berjudul setasiun balapan.

Saya pun, ketika menjejakkan kaki di stasiun ini, spontan bersenandung, “Nang setasiun balapan, kuto solo sing dadi kenangan… kowe karo aku…” Ah… mendadak darah Jawa saya membuncah dan kemampuan berbahasa Jawa saya yang pas-pasan ini menjadi kebanggaan tersendiri.

Sambil menunggu kereta yang akan membawa kami ke Yogyakarta, saya pun sempat berkeliling dan mengagumi stasiun ini.

Lama kemudian, kereta kami tiba di stasiun dan siap membawa kami ke perjalanan selanjutnya.

Dan bahagianya kami, karena kereta kami tampak lengang alias kosong. Serasa 1 gerbong milik sendiri. Tetapi sungguh disayangkan, durasi perjalanan dengan kereta ini sangatlah singkat (kurang dari 2 jam).

Yogyakarta! Here we come!

Air Terjun Jumog

Perjalanan 7 kurcaci ini pun terus berlanjut. Setelah melihat jejak peninggalan jaman dahulu melalu Candi Sukuh dan Candi Cetho, kami pun berhenti di sebuah lokasi yang konon katanya terdapat air terjun bernama Jumog.

Masih berada di daerah Karanganyar, Jawa Tengah, air terjun ini belum seterkenal air terjun lainnya di seputaran Jawa Tengah.Untuk mencapai air terjun ini, kami tidak perlu mendaki ratusan tangga atau menyusuri jauhnya jalan setapak maupun menembus hutan. Cukup berjalan beberapa langkah, indahnya air terjun Jumog dan derasnya suara jatuhnya air pun telah terdengar. Segar…

Indah bukan? Ingin rasanya berlama-lama berada di sini dan menikmati rindangnya pepohonan disertai gemericik suara air mengalir.

Di tempat ini juga, kita bisa berenang di kolam yang sudah disediakan pengelola. rasanya sangat tepat jika anak-anak diajak ikut serta dan berenang di tempat ini.

Dan saatnya kami berpisah dengan air terjun Jumog.

Dan perjalanan 7 kurcaci ini pun terus berlanjut menuju Yogyakarta melalui Stasiun Solo Balapan.

 

 

Candi Cetho: Serasa di Atas Awan

Usai mengeksplorasi candi sukuh, kami segera menuju candi Cetho. Untuk mencapai lokasi candi, kami harus melalui perjalanan yang lebih berkelok-kelok, mendaki, dan cukup curam. Bahkan di kiri jalan tampak jurang yang dalam siap menyambut, kalau saja supir tidak berhati-hati.

Dari kejauhan, tampak gerbang candi Cetho menjulang tinggi. Kami pun terpaksa meninggalkan Mitha dan Shirley kemudian menuju loket pembelian tiket serta memakai kain khas kotak hitam putih yang biasa kita pakai saat memasuki kawasan candi Hindu.

Bentuk utama candi Cetho tidak terlihat dari depan. Hal ini dikarenakan bagian utama candi terletak dibagian paling tinggi dan paling belakang (mendekat ke puncak gunung). Klik di http://candi.perpusnas.go.id untuk mengetahui lebih detail mengenai sejarah candi Cetho.

Gerbang candi Cetho ini mengingatkan saya pada candi-candi yang kerap saya lihat di pulau Bali.

Memasuki komplek candi, semakin ke dalam, saya pun semakin kagum. Mengapa? Arsitektur candi sungguh memukau, tingkat presisi dan simetri setiap gerbang candi membuat saya terpana. Lurus sekali.

Sejenak mengingat kembali bahwasanya candi ini dibangun pada jaman Kerajaan Majapahit dan di daerah pegunungan pula. Bagaimana mereka mengukur serta membangunnya, pikir saya.

Kami pun menikmati setiap sudut, arca, dan relief dari candi ini. Sesekali berpikir kembali mengenai kisah yang ada dibalik sejarah candi ini.

Sampai kami dikejutkan dengan susunan bebatuan yang sekilas tampak seperti kelamin pria dan wanita, tepat dihadapan kami. Sontak saya pun kaget campur penasaran, ketika Mega membawa topik ‘itu.’ Ternyata oh ternyata, memang benar adanya, apa yang kami lihat adalah lambang kelamin pria dan wanita.

Menurut candi.perpusnas.go.id, susunan bebatuan tersebut melambangkan kesatuan wanita dan pria, dua makhluk yang berlawanan sifatnya namun tidak dapat dipisahkan satu sama lain sebagai perlambang jagad kecil (mikrokosmos) dalam diri manusia.

Semakin ke dalam dan ke atas, suasana mulai terasa ‘hening dan senyap.’ Sekelebat bau kemenyan pun merangsek kedalam hidung kami.

Maklum saja, candi ini masih aktif digunakan sebagai sarana beribadah umat beragama Hindu. Jadi, diharapkan para pengunjunh untuk menjaga penampilan, sikap, serta ucapan selama berada di lokasi.

Sebelum kami menuju tempat Shirley dan Mitha (yang dengan sangat terpaksa kami tinggal duluan),  kami pun menyempatkan diri untuk sekadar berfoto di hadapan gerbang yang menjulang tinggi berlatar belakang kabut (yang menutupi pemandangan di bawahnya). Suasana yang membuat candi ini serasa di atas awan.

So, bye-bye candi Cetho. One of a must-visit temples in Indonesia. Would love to comeback here again, after learning the history behind you.

Dan kami pun beranjak turun, bersegera menemui Shirley dan Mitha yang tampak sedang berisitirahat.

 

 

Melihat “Jejak Peradaban Inca dan Maya” di Candi Sukuh

Setelah menghabiskan semangkuk soto gading khas Solo (yang akan saya ceritakan nanti), dan dibuat terkejut dengan keberadaan sate brutu, kami pun segera meluncur menuju Karanganyar, tepatnya ke kewasan Candi Sukuh.

Perjalanan yang berkelok-kelok dan penuh tantangan disertai pemandangan yang tampak hijau membuat kami seakan lupa dengan segala penat di ibukota Jakarta.

Sampai di lokasi, loket penjualan tiket pun masih tutup — maklum kami tiba terlalu pagi. Tidak lama kemudian, kami pun diijinkan memasuki kawasan Candi yang tidak terlalu luas itu.

Di dalamnya, terlihat candi sukuh yang entah mengapa tampak mirip luar biasa dengan bangunan-bangunan peninggalan peradaban suku Inca dan Maya yang kerap saya lihat di TV maupun di buku-buku sejarah. Tetiba, saya ingin belajar sejarah lagi.

Berdasarkan apa yang saya baca, sampai saat ini belum diketahui apakah keberadaan candi sukuh ada hubungannya dengan peradaban Inca dan Maya. Jika ingin mengetahui lebih lanjut mengenai candi ini, silakan klik http://candi.perpusnas.go.id

Berikut penampakan kompleks candi sukuh yang berhasil kami abadikan.

Kami pun sempat menaiki candi sukuh dan menikmati indahnya pemandangan sekitar dari ketinggian.

Dan inilah aksi 7 kurcaci di sekitaran kompleks candi.

Dan kami pun dengan berat hati meninggalkan keindahan sebuah mahakarya peninggalan peradaban yang hadir jauh di masa lalu menuju mahakarya lainnya yang dikenal dengan nama candi Cetho.

 

Soto Gading Langganan Presiden RI

Ketika kami menjejakkan kaki di Solo, hal pertama yang kami lakukan adalah mencari sarapan pagi khas Solo. Tibalah kami di kedai soto yang konon katanya terkenal di seantero Solo karena seringnya kedai ini dikunjungi para pejabat serta beberapa Presiden RI.Kedai soto ini terlihat sangat sederhana dan sangat membumi. Tidak ada kesan restoran mewah maupun terkenal. Saya pun agak ragu-ragu pada awalnya. Lama-kelamaan, setelah saya mengamati kedai ini, mulailah saya percaya bahwa ini memang kedai soto langganan Presiden.

Foto-foto para pejabat dan presiden terpampang di dinding kedai. Suasana yang tradisional khas Solo pun terasa ketika kita memasuki bagian dalam kedai. Furniture serta perangkat makan beserta masaknya pun kental akan rasa tradisional. Bahkan kompor yang digunakan pun masih menggunakan bara api atau kayu bakar.

Kami pun tak sabar untuk segera mencicipi soto gading mereka. Dan ketika soto kami akhirnya disajikan, saya pun terkejut karena porsinya yang terbilang kecil. Mungkin karena saya memang porsi makannya yang besar. Dua mangkok pun tak akan kenyang, pikir saya. Untungnya ada banyak ‘cemilan’ tambahan model sate-satean. Nyam.

Dan kami pun segera menyantap soto gading dengan sangat sigap dan cepat. Sedap. Gurih dan nikmat.

 

Dimulainya Sebuah Kisah di Stasiun Jebres, Solo

Sore itu, hari terakhir sebagian dari kami menunaikan tugas sebagai seorang guru. Kami pun bergegas menyudahi rapotan tepat pada waktunya.

Dari kami bertujuh (saya, Dwi, Shirley, Irin, Mega, Mitha, dan Nisa), 3 melaju dari tempat yang sama. 1 dari Kelapa Gading. 1 dari kuningan. 1 dari sebuah kantor penerbitan.

Abang gojek pun menjadi pilihan. Ditemani hujan rintik-rintik, saya pun berpacu dengan waktu menuju titik pertemuan di stasiun senen.

Pasrah, jikalau saja saya tertinggal kereta. Mengingat saya paling akhir berangkat menuju lokasi.

Benar saja, sebagai orang terakhir yang tiba, lega rasanya. Kami pun menunaikan kewajiban sebagai muslim sebelum akhirnya menaiki kereta yang akan membawa kami ke dalam sebuah kisah singkat perjalanan di Solo – Jogja.

Berbekal tiket KA ekonomi (maklum ceritanya backpackeran alias penghematan). Saya pun tidak merasa ketidaknyamanan (1 kursi isi 3 orang) karena lelap tertidur akibat minggu yang melelahkan sebelumnya.

Matahari belum nampak di kejauhan ketika kami tiba di stasiun Jebres.

Menunggu. Satu-satunya yang bisa kami lakukan sampai driver menjemput kami semua.

Dan disinilah kisah kami bertujuh (sudah semacam 7 kurcaci) dimulai, di Stasiun Jebres, Solo, Jawa Tengah.

 

 

Kisah kami berlanjut menuju Kedai Soto Gading I (yang konon katanya sering disambangi Presiden Jokowi) kemudian Candi Sukuh dan Candi Cetho.

Sejenak Menghampiri Baturraden

Masih dalam rangka libur lebaran, kami menghampiri lokawisata Baturraden walaupun hanya sejenak saja.

Sudah terlalu lama rasanya sejak saya menginjak Baturraden. Terakhir kali saya ke sini ketika saya masih SD bersama dengan keluarga besar H. Djayadih (keluarga almarhum Bapa). Saat itu, almarhum bapa dan almarhum kaka saya masih bersama kami.

Ketika akhirnya saya sampai ke tempat ini lagi, rasanya tak sabar dibalut dengan penasaran. “Seperti apa ya penampakan baturraden saat ini?” pikir saya.

Setelah melewati antrian panjang menuju pintu masuk, kami pun terpaksa memarkirkan mobil di sebuah Hotel mengingat hampir semua tempat parkir penuh, sampai-sampai bahu jalan pun digunakan sebagai area parkir. Kenapa? Karena waktu berkunjung bertepatan dengan libur lebaran yang berarti banyak pengunjung berdatangan dari berbagai daerah.

Kami pun berjalan menanjak menuju pintu masuk dengan pemandangan Gunung Slamet yang menjulang tinggi dengan gagahnya.

Sampai di pintu masuk, rasa tidak sabar dan penasaran tadi mulai terjawab. Ramai, kesan pertama saya.

Memasuki kawasan wisata baturraden, saya pun terkejut.

Wow! Just Wow!

Bukan karena tumpah ruahnya manusia, melainkan karena betapa banyak perubahan di tempat ini. Sungguh amat sangat teramat berubah.

 Baturraden yang begitu alami dalam ingatan saya, berubah menjadi lebih modern, family friendly, colorful, and instagramable. Bagus sih, tetapi bagi saya yang menyukai suasana alam nan alami, rasanya agak disayangkan. Saya sungguh lebih menyukai tampakan Baturraden yang terekam alami dalam memori masa kecil saya.Meskipun begitu, Baturraden tetap merupakan salah satu destinasi wisata alam yang patut dikunjungi. Terlebih bagi warga perkotaan yang merindukan kesejukan dan keindahan alam pegunungan.

Di Baturraden ini banyak sekali lokasi yang bisa dikunjungi. Mulai dari pancuran 1 sampai 7, jembatan putus cinta, kebun raya, water park, dan lainnya. Sayang sekali saya tidak bisa mengunjungi semua tempat tersebut karena keterbatasan waktu.

Menuju jembatan putus cinta. Ketika saya masih SD, jembatan ini masih berupa jembatan gantung. Namun, semenjak peristiwa putusnya jembatan ini, pihak pengelola akhirnya membangun jembatan permanen untuk menggantikan jembatan gantung.

Pemandangan Baturraden dari atas jembatan. Such a beauty.Lanjut ke pancuran 7. Untuk menuju pancuran 7 dibutuhkan waktu lebih dari sejam dengan perjalanan yang terus menanjak. Sayang sekali saya dan keluarga tidak sampai hingga ke pancuran 7 karena masih harus mengejar waktu untuk balik ke Jakarta.

Next time, I’ll make sure to comeback to Baturraden. From morning till noon and explore every inch of what Baturraden can offered.

Kenyataan Dibalik Indahnya Taman Wisata Air Panas Guci

Lesson learned! No visitation during Eid or long holiday. A really bad timing to visit the place. It turned out, what we expected is far from reality.

Masih dalam rangka libur lebaran. Dalam perjalanan pulang kembali ke Jakarta, kami meyempatkan mampir ke objek wisata yang belakangan ini sungguh terkenal dibicarakan di berbagai sosial media. Ribuan foto berlatar belakang tempat ini pun sudah bertebaran di jagad instagram

Indah. Tampak indah.

Setelah perjalanan yang cukup menguji nyali karena berkelok-kelok, naik turun, ditambah dengan ramainya kendaraan. Kami pun tiba di Taman Wisata Air Panas Guci, Tegal  yang tepat berada di kaki gunung Slamet, Jawa Tengah.

Kesan pertama, jalan menuju lokasi masih belum tertata rapi. Hal ini membuat saya tersenyum bahagia. Mengapa, berarti tempat ini masih alami, which is very good.

Memasuki lokasi, kami disambut dengan cukup banyaknya sampah berserakan di sepanjang jalan dan banyak pengunjung yang lalu-lalang.

Semakin jalan ke dalam, suasana alami semakin terasa. Tapi entah kenapa, ada perasaan tidak nyaman di hati kecil saya.

Kami pun mengikuti jalan di sepanjang pinggir sungai yang mengalirkan air panas. Sesampainya di taman wisata, tepatnya di jembatan gantung, saya pun semakin merasa tak nyaman.

Betapa tidak, di jembatan jelas-jelas tertulis jalan satu-satu dan agar tidak berlama-lama di jembatan. Kenyataannya, jembatan penuh sesak oleh pengunjung yang menyebrang, bahkan banyak di antara mereka yang sibuk ber-selfie, wefie, dan –fiefie lainnya.

I guess, rules are meant to be broken. And that safety just flew out of the window at time like this (means holiday).

Dari ujung jembatan, terlihat kolam pemandian air panas yang dipenuhi pengunjung. Dan perasaan tak nyaman semakin menggebu-gebu di dalam hati saya.

Oh my. Oh my. Oh my God.

So this is an uncomfortable feeling I feel along the way. It is so crowded. Overly crowded. Gosh! I got a sudden headache.

Lihatlah betapa ramainya taman wisata air panas Guci di kala libur panjang lebaran. Benar-benar waktu yang sangat tidak tepat untuk mengunjungi tempat ini.

Jangankan menikmati keindahan alam, untuk sekadar berjalan pun kesulitan. Seakan-akan saya sedang dalam antrian panjang untuk menonton konser atau bola.

Tidak hanya di jalan, tetapi juga di sungai air panas, di air terjun, di jembatan, di kolam pemandian, di tempat souvenir, di tempat makan, semuanya dipenuhi manusia. Lebih tepatnya, lautan manusia.

Saya pun merasa kasihan dengan kuda-kuda yang berada di lokasi. Sejatinya, mereka cukup sensitif dengan keramaian dan kebisingan. Namun, apalah daya mereka.

Belum lagi, sampah-sampah yang berserakan di jalan, di pinggir sungai, bahkan di aliran sungai. Tempat sampah yang disediakan sungguh sudah tidak mampu menampung sampah dari ribuan orang yang datang bersamaan pada saat itu.

Saya pun segera mengurungkan niat saya untuk berlama-lama di tempat ini. Meskipun begitu, saya sempatkan untuk mengabadikan momen ini bersama keluarga. Kapan lagi bisa melihat Guci dalam keadaan seperti ini. Jauh dari bayangan. Sungguh, kenyataan lebih kejam dari harapan.

Bye-bye Guci. I’ll make sure to visit you again during weekdays in the near future. No more visiting during long holiday for I can not witness your beauty.

Hujan pun tiba-tiba datang tanpa diundang. Lengkap sudah perjalanan saya di Guci. Kami pun melipir sejenak di warung untuk sekadar menikmati pop mie dan menanti hujan reda.

Indahnya Desa Tlaga Kecamatan Punggelan, Banjar Negara

Salak day! After more than an hour climb up a mountain like, definitely worth it. Happiness is having a family living in a mountain with a field of salak, avocado trees, bananas, and a pond full of fishes.

 

Dalam rangka Lebaran, kami sekeluarga mudik ke Banjar Negara. Saya pun menyempatkan diri untuk mengunjungi sanak keluarga yang rumahnya tidak jauh dari rumah mbah saya.

Jadilah saya dan keluarga mengunjungi rumah lilik (om/tante) yang katanya berada di pegunungan, bahkan hampir di puncak gunung. Tepatnya di desa Tlaga Kecamatan Punggelan.

Ditambah iming-iming memetik salak, makan salak sepuasnya, memetik alpukat, dan memancing ikan untuk kemudian dimasak. Wah, saya sangat excited.

Maklum saja, saudara yang sudah pernah ke sana selalu menceritakan betapa indahnya pemandangan dan betapa ‘mengerikan’nya perjalanan ke sana. Ditambah lagi dengan cerita bahwa Punggelan termasuk daerah yang rawan longsor.

Benar saja. Jalan yang berkelok-kelok, naik dan turun, dan bisa dibilang hanya cukup untuk 1,5 ukuran mobil saja harus kami lalui. Mereka bilang jalannya menyeramkan. Saya bilang, jalannya cukup menantang. Mereka sungguh harus mencoba jalanan menuju pantai pegadungan gigi hiu, pikir saya.

Sepanjang jalan, saya disuguhi dengan hijaunya pepohonan, segarnya udara pegunungan,dan keindahan alam sepanjang mata memandang.

Sesampainya di rumah lilik saya, kami pun langsung disuguhi salak, keripik salak, pisang, ikan goreng, dan sebagainya. Ternyata semua iming-iming itu benar adanya, bahkan lebih.

Sungguh nikmat berada di pedesaan. Untuk sementara, saya lupa akan kesibukan dan kemacetan di ibukota.

 

Merindukan Kesejukan di Desa Susukan, Banjar Negara

It’s been some time since we went to my mom’s hometown in Susukan Village, Central Java. Been missing the morning scenery of the sunrise, paddy fields, mountain, and hills.

short-getaway-21short-getaway-14short-getaway-23

Pulang ke kampung halaman mama selalu menjadi momen yang selalu saya tunggu. Membayangkan sejuknya udara yang bisa saya hirup, hijaunya hamparan padi, rimbunnya pepohonan di bukit, dan damainya suasana pedesaan membuat kami semakin tak sabar untuk segera kembali ke sana.

Beruntungnya saya, mama dilahirkan di sebuah desa bernama Susukan, yang masih kental dengan suasana pedesaan hingga saat ini.

Lihat saja, hamparan sawah mengapit jalanan menuju rumah Mbah saya. Betapa indah dan alami.

short-getaway-13

short-getaway-12

short-getaway-22

short-getaway-9 short-getaway-8

Aliran sungai pun ada disini. Jembatan ini merupakan jembatan bersejarah dan telah menjadi bagian dari keluarga besar kami, keluarga Sanrusdi. Entah sudah berapa lama sejak dibangunnya jembatan ini.

Yang pasti, saya melihat jembatan ini di dalam foto masa kanak-kanak Mama, masa remaja beliau, masa pernikahan beliau, masa saya masih bayi, hingga saya sekarang ini.

short-getaway-15short-getaway-20

short-getaway-18

short-getaway-17

Soto Kecik Sokaraja Yang Bikin Nagih

Ibu saya berasal dari Banyumas, walaupun kenyataannya lebih ke sebuah desa di pinggiran jauh dari Banyumas. Di sinilah saya baru mengenal yang namanya sroto alias soto.

Apa sih yang membedakan soto di sini dengan soto-soto pada umumnya? ternyata pembedanya adalah sambal kacang. Yup, sambal kacang, yang biasanya ditambahkan ke dalam semangkuk soto sesuai selera masing-masing orang.

Salah satu warung soto yang paling terkenal adalah warung Soto Kecik Sokaraja. Tempatnya berada di antara deretan Toko Getuk Goreng Asli H. Tohirin. Kalau dari arah Jakarta, warung ini berada di sebelah kanan jalan.

Soto kecik ini selalu kami lewati ketika kami mudik ke rumah mbah. Makanya, setiap kali mudik, tidak lengkap rasanya bila tidak mampir untuk mencicipi soto ini.

Nah, baru-baru ini, kebetulan saya, adik, lilik, dan 2 sepupu saya mudik karena ada acara pernikahan sepupu. Dari Jakarta, kami memang sudah merencanakan untuk mampir ke warung soto kecik, mengingat mudik kali ini sangatlah singkat, jadi kami memutuskan untuk mampir sebelum kami sampai ke rumah mbah.

Sesampainya di sana, saking kecilnya plang warung soto kecik dibandingkan plang-plang toko getuk goreng di sekitarnya, sampai-sampai kami kelewatan. Jadi, pastikan mata anda jeli ya.

Sesampainya di warung, kami langsung mencari posisi yang nyaman. Sambil menunggu pesanan datang, tempe mendoan hangat yang tersaji di hadapan pun kami makan dengan lahapnya.

Begitu pula dengan tahu goreng dan kerupuk. Maklum, kami tidak sempat berhenti untuk sarapan. Dan saat itu sudah masuk jam makan siang. Jadilah kami kelaparan tingkat dewa.

Akhirnya soto yang dinanti pun tiba. Kesan kesejuta kalinya, “ah, dikit amat. mangkuknya kecil amat dah. ” dengan wajah terkejut. Aneh. Mengingat ini sudah kesejuta kalinya kami makan di sini, tetap saja tidak bisa menerima kenyataan betapa kecilnya porsi soto di sini.

Makan pun dimulai. Tampilan Soto Kecik yang berisi irisan daging, toge buntet, daun bawang, bawang goreng, potongan lontong, dan taburan kerupuk merah dengan kuah soto yang bening sungguh menggugah selera.

Saya pribadi, suka sekali menambahkan sambal kacang ke dalam soto hingga kuahnya berwarna coklat lalu ditambahkan dengan kecap. Sedap. Nikmat. Enak gila. Belum lagi dimakan bersama sate telur puyuh.

Aaah… heaven!

1 porsi soto habis sudah. Saatnya porsi ke-2. Yup. kami semua memesan 1 lagi soto kecik. Kami sampai senyam-senyum sendiri ketika dengan cepatnya kami melahap porsi ke-2. Sumpah, soto ini emang enak dan bikin nagih. Rasanya kalau cuma 1 porsi itu kurang greget.

Sudah kenyang. Waktunya pembayaran. Malu. Bayangkan saja, kami ber-5 menghabiskan 5 gelas es teh manis, 10 mangkuk soto, 6 tempe mendoan, 2 tahu goreng, 5 sate telur puyuh, dan 1 bungkus kerupuk.

What an amazing order!

Kita, Prau, dan Koran Suara Pembaruan

This is a very super late post.

Masih ada hubungannya sama perjalanan kami, kita, ke Gunung Prau. Walaupun sudah di post dalam cerita “Momen in Prau” rasanya tak lengkap kalau melewatkan yang satu ini. Salah satu rekan pendaki aseek pendaki yang namanya Mega calon fotografer dan asli petualang ulung meluangkan waktunya untuk menulis artikel mengenai perjalanan kami di koran Suara Pembaruan * klik di sini buat lebih jelasnya *

And there we are, finally on the newspaper. Ihiiiy… * keren juga si Mega ini, pandai merangkai kata dan mengabadikan sebuah peristiwa, sebuah perjalanan bersama.* Setidaknya, perjalanan kami itu, akan terekam selamanya * lebay * tidak sekadar ada di dalam salah satu ruang yang tersimpan rapi dalam ingatan kita, tapi juga dalam lembaran koran Suara Pembaruan.

Semoga tulisan Mega, menginspirasi pembaca untuk mendaki Gunung Prau dan merasakan sendiri keindahan gunung Prau, permadani bertahtakan bunga Daisy.

Momen in Prau Day 3: Kembali ke Jakarta

Minggu Sore

Time to go back.

gunung prau (64)

Komplotan pun berkurang 3 orang. Mereka melanjutkan perjalanan ke PUNCAK SIKUNIR. Aaah, I wish I had more holiday so I can join them.

Sisanya, terpaksa memantapkan hati kembali ke realita, kerja dan kerja lagi. Kami pun melaju bersama bis Sinar Jaya menuju ke ibukota tercinta, Jakarta.

Sayangnya, tiket bis Sinar Jaya jurusan Wonosobo-Lebak Bulus-Pasar Minggu sebesar IDR 97.000 terbilang cukup mahal, mengingat kondisi bis tidak senyaman ketika kami berangkat. But hey, ceritanya kan kita backpackeran, so it doesn’t matter.

Lelah, kami pun kerap tertidur, terbangun, dan tertidur lagi.

Senin Pagi

Jam 5 pagi, kami pun tiba di pool bis Sinar Jaya Lebak Bulus. Kami pun resmi berpisah dengan anggota komplotan lainnya dan  langsung menuju tempat kerja. Mendaki gunung Prau serasa bak mimpi.

Dan kini, kami sudah terbangun dari mimpi yang indah itu. Siap berhadapan dengan segala pekerjaan dihadapan kami.

Photocredit: Komplotan 13 (mega, fira, ika, melly, dwi, anda, fajar, ponco, amri, eko, engkong, ilham, arif)

Momen in Prau Day 3: Sejenak Menghampiri Dieng

Minggu Siang

Sesekali beristirahat untuk sekadar menikmati sop buah dan ngemil disana-sini. Ternyata enak banget minum sop buah dijalur. Nge-boost energi, 4 jempol buat Anda yang sudah meracik sop buah dan menaruhnya digelas.

Tak lama, sampai juga di Dieng.

Sayang sekali kami tidak punya banyak waktu untuk menjelajahi Dieng. Mengingat besok pagi, sebagian dari kami harus kembali bekerja, kami pun harus mengejar bis ke Jakarta yang bisa sampai di pagi harinya.

Jadi, akhirnya kami menyewa bis yang bisa membawa kami ke telaga warna kemudian langsung menuju terminal Wonosobo dengan biaya 25 ribu per orang, I think it’s worth it.

So, here are our pictures in telaga warna.

Savana Dieng

Photocredit: Komplotan 13 (mega, fira, ika, melly, dwi, anda, fajar, ponco, amri, eko, engkong, ilham, arif)

 

Momen in Prau Day 3: Turun Gunung

Sekali lagi, kami mengangkat ransel. Menuruni perbukitan dan menjauhi puncak Gunung Prau. Kali ini jalur yang kami ambil, bukan jalur ketika kami mendaki. Why? Karena tujuan selanjutnya adalah telaga warna Dieng.

Jalur kali ini jauh lebih bersahabat. Ditemani hamparan bukit dan pepohonan. Indah. Terlebih lagi saat kami berjalan dibawah dan diantara pohon-pohon cemara.

Gosh, the air is sooooo damn fresh.

Ingin rasanya menghirup sebanyak-banyaknya. Dimasukkan kedalam botol kalau saja bisa. Sebagai bekal tuk di Jakarta ketika macet dan asap kendaraan mendera.

Here, life feels so good.

Being in Nature, feels so good.

Photocredit: Komplotan 13 (mega, fira, ika, melly, dwi, anda, fajar, ponco, amri, eko, engkong, ilham, arif)

Momen in Prau Day 3: Bersiap Turun Gunung

Sunrise sudah.

Waktunya masak lagi untuk sarapan sebelum turun gunung. Menu sarapan, ajaibnya adalah pisang goreng, cilok goreng, tempe mendoan, mie rebus, sarden dan nasi putih. Ditambah, sop buah buat di perjalanan pulang (untuk di jalur kalau kata para hiker expert ini).

Fira in action. Goreng pisang di puncak gunung Prau. A.m.a.z.i.n.g!

Dalam hati saya tersenyum penuh makna. Kapan lagi masak pisang goreng sama sop buah di ketinggian lebih dari 2500 mdpl.

Selesai makan, waktunya say goodbye sama puncak Gunung Prau. Antara mau tak mau. Segan tak segan.

Membayangkan Jakarta dengan segala kesibukannya, membuat enggan untuk melangkah. But hey, that’s my life. And this is some kind of weekend getaway to recharge my soul so I can live my  routine life to the fullest.

So, good bye Prau. Nice to see you. Gonna see you again, even though not in the near future. See you when we see you.

Photocredit: Komplotan 13 (mega, fira, ika, melly, dwi, anda, fajar, ponco, amri, eko, engkong, ilham, arif)

Momen in Prau Day 3: Sunrise di Puncak Gunung Prau

Minggu Pagi

Allahu akbar allahu akbar… Sayup-sayup bergema suara azan dari kejauhan. Alhamdulillah, pagi datang menjelang. Tapi sayangnya, dingin tak berkurang, masih dengan setia menusuk-nusuk kulit mencoba masuk lebih ke dalam.

Selesai sholat subuh, kami pun tertawa bersama, mengingat bagaimana kami menghabiskan malam ditenda yang unik ini. Bergelut dengan dingin, kesempitan, dan kemiringan

Semangat pun menggelora, tak sabar keluar memburu fajar. Sunrise bahasa kerennya. Betapa kagetnya, ternyata suara keramaian semalam, berasal dari para hiker lain yang sekarang tendanya bermunculan dimana-mana. Kapan datangnya ya, tanya saya dalam hati.

Belum hilang rasa kaget saya, panggilan alam tiba-tiba datang. Cepat-cepatlah kami (bukan saya saja ya) mencari semak-semak sebelum semuanya terlambat. Berbekal tisu basah, keberanian, doa semoga tidak ada orang yang melihat, dan putusnya urat malu, berserah dirilah kami kepada alam. Lega.

Sekarang, waktunya menanti sang mentari muncul dikejauhan. Berdiri melihat pemandangan yang indahnya tak terkira.

Dengan mentari yang malu-malu tapi mau mulai memperlihatkan sinarnya yang masih bercampur dengan kegelapan. Sungguh membuat hati dan seluruh jiwa, berteriak… Subhanallah, Allahu Akbar.

Betapa Allah menciptakan segala sesuatu sangatlah indah melebihi apa yang bisa dibayangkan manusia. Teramat indahnya, sampai-sampai rasa dingin yang merasuk sejak semalam, berangsur-angsur menghilang.

Padahal, suhu pagi ini mencapai 5 derajat celcius. Waduh, pantas saja dingin banget.  Membuat saya mengira-ngira, berapa suhu semalam. Mengingat malam pasti jauh lebih dingin daripada pagi ini.

Tibalah saatnya, mentari tersenyum jauh di timur sana. Para pemburu sunrise, riang gembira menyambutnya.

Ada yang jepret sana-jepret sini.

Ada yang terdiam seribu bahasa,

Banyak pula yang bertepuk tangan sambil berteriak kegirangan.

Yang terakhir ini agak bikin saya bingung juga sih. Memangnya konser apa ya, diberi tepuk tangan segala.

Kalau saya, tergolong yang tersenyum bahagia diam seribu bahasa. Bersyukur bisa menyaksikan pemandangan seindah ini, yang tidak mungkin saya temukan di Jakarta. Setidaknya, tidak pernah seindah ini.

Photocredit: Komplotan 13 (mega, fira, ika, melly, dwi, anda, fajar, ponco, amri, eko, engkong, ilham, arif)

Momen in Prau Day 2: Sunset di Puncak Gunung Prau

Sabtu Sore hingga Malam

Selesai masak, saatnya menyeruput kopi dan energen. Lalu memburu sunset. Jepret sana-jepret sini. Pose sana pose sini. Bersyukur banget saya, ternyata ada Mega dan Eko yang memotret dengan canggih bak potograper profesional. Memang pro sih bagi saya, lihat saja hasil jepretannya kalo tidak percaya.

Puas berpose, waktunya makan. Apa daya, makanan mulai mendingin, sebenarnya sih bisa dibilang mulai membeku. Entah berapa derajat suhu kala itu.

Angin dingin yang berhembus semakin menambah dinginnya udara malam. Saya, yang jelas-jelas dirumah tidak sanggup tidur dengan AC bersuhu 22 derajat, jelas amatlah kedinginan.

Teramat dinginnya, makan pun di dalam tenda dengan kostum lengkap bak orang bule di musim dingin. Pakaian yang tak akan pernah mungkin saya pakai di Jakarta.

Jaket tebal, sarung tangan, legging didalam celana panjang, kaos panjang, syal leher, kaos kaki dobel 2.  Itu saja saya masih menggigil kedinginan. Brrrrr…

Tapi, sebisa mungkin saya tahan. Betapa tidak, mimpi saya adalah mengelilingi Eropa di musim dingin, terutama ke Italia, Turin tepatnya, markas Juventus tercinta. Bagaimana survive di sana kalau dingin macam ini saja saya tidak bisa tahan. Pikir saya menyugesti diri sendiri.

Sayangnya, itu cuma ada dipikiran, kenyataannya saya tetep kedinginan. Untungnya saya tidak sendirian. 5 wanita cantik, semuanya tidak tahan, langsung merangsek masuk ke dalam sleeping bag.

Laksana ulat yang hendak menjadi kepompong. Tiba-tiba, datang kehangatan. masuk ke dalam sleeping bag itu rasanya seperti berada di dalam pelukan erat seseorang.

Semua bisikan dan godaan yang jelas dan nyaring terdengar dari luar, dimuntahkan begitu saja mental jauh, diluar tenda.

Para pria: “Energen nih anget.”

Para wanita: Diam, “Ga peduli.”

Para pria: “Wuiih bintangnya banyaaak, cakeep. Nyesel lo ga liat.”

Para wanita: Masih diam tak bergerak, “Bodo amat, di Jakarta juga ada bintang.”

Para pria: “Gila, pemandangannya ajiiib.”

Para wanita: tetap diam tak bergerak, “Nikmatin aja gih sendiri.”

Lalu, terlelaplah kami diam-diam diiringi suara tenda yang berkibar-kibar diterpa angin malam. Berusaha tidur melewati malam, malam terpanjang yang pernah saya rasakan sepanjang hidup saya.

Ah, for your info, our tent is very unique. Miring, kalau kata Mega mah, serasa tidur diperosotan.

Untung saya dipinggiran, agak cekung ke dalam, jadi tidak perlu tiba-tiba turun ditengah malam, seperti yang dialami Mega dan Fira. Yang sebentar-bentar merayap naik bak ulat beneran.

Sementara Dwi mengigau dan Ika yang diam tak bergerak, membuat kami khawatir tapi tak bisa berbuat apa-apa untuk dirinya saking dingin membatasi kemampuan kami untuk bergerak.

“Malam kian terasa, larut dan dingin… ” Ihiy, persis seperti lagu java Jive. Tapi bukan semakin sepi, saya merasa suasana di luar tenda sepertinya semakin ramai.

Entah ada apa di luar sana. Penasaran, tapi tak cukup kuat menggoda saya untuk bangun dan melihat ada apa gerangan.

Berulangkali saya mengintip jam tangan, “Kapan paginya ya?” Pikir saya. Yang berharap, mentari pagi segera muncul dan menghangatkan. Baru kali ini, saya berharap malam cepat berlalu. Biasanya berharap malam lebih panjang supaya bisa tidur lebih lama.

Photocredit: Komplotan 13 (mega, fira, ika, melly, dwi, anda, fajar, ponco, amri, eko, engkong, ilham, arif)

Momen in Prau Day 2: Puncak Gunung Prau

We made it! Really can’t believe we made it! Khususon buat saya dan Dwi.

Tidak lama berselang, para lelaki memasang tenda sementara para wanita memasak. Nah ini dia nih.

Still, amazed. Intinya, menu yang bakal dimasak selama di puncak adalah sayur sop, tumis kornet, sarden, tempe goreng, ikan cuek goreng, mie rebus, pisang goreng, telor dadar goreng, cilok goreng, sama sop buah.

Gilaaaa. Takjub saya, setakjub-takjubnya. Seakan-akan saya belum cukup takjub saja, ketika tenda selesai didirikan, para lelaki itu hendak mengulek sambel.

OMG. Di puncak Gunung mau ngulek sambel. A trully hiker, a trully backpacker. Sempat bertanya juga sih dalam hati, “Iya ga sih hiker backpacker kaya begini?”

gunung prau (20)

Photocredit: Komplotan 13 (mega, fira, ika, melly, dwi, anda, fajar, ponco, amri, eko, engkong, ilham, arif)

Momen in Paru Day 2: Mendaki Gunung Prau

Siap dengan ransum alias perbekalan alias logistik. Kami lanjut mendaki. Akhirnya kali ini beneran mendaki. Suwer, diawal-awal, pas jalanan masih mulus rata, saya dan Dwi yang pemula dan sudah berusia (kalau sudah begini, baru deh bawa-bawa usia) ngos-ngosan parah. Ketawan dah ga pernah olah raga.

Untungnya, saya lebih mendingan daripada Dwi. Intinya, kami berjanji (dengan semangat berapi-api) bahwa kami akan rutin berolah raga sekembalinya kami dari pendakian bersejarah ini. Untungnya, anggota komplotan yang lain sangat pengertian, gentleman banget dah (ehm ehm) mau ngertiin kita yang anak bawang ini.

Limpahan semangat dan kekuatan dari mereka yang membuat kami bisa sampai ke tujuan, PUNCAK GUNUNG PRAU. Salut banget sama mereka, yang pada kurus kering kerempeng, dengan carier yang beratnya kiloan, ditambah jadi porter dadakan tapi tidak ada masalah untuk mencapai PUNCAK. Respek!

img_0888img_0891Belum juga separuh jalan, kami sudah berhenti tuk sekedar manarik napas dan meluruskan kaki. Sepertinya, para hiker expert ini memaklumi kami atau terpaksa selalu berhenti demi kami (saya, dwi, dan Fira).

Perjalanan pun berlanjut, target kami adalah sampai di Puncak Gunung Prau ketika Ashar. Supaya bisa mendirikan tenda dan memasak sebelum sunset tiba.

Lallu pendakian yang sesungguhnya pun dimulai. Trek yang kami lalui mulai membutuhkan ekstra perhatian dan tenaga.

Sampai juga di Pos III Cacingan. Kenapa cacingan ya namanya? Perlukah kutanyakan pada semak-semak disekitar? Yang jelas, bawaannya mau pose kaya orang cacingan.

Ini dia trek yang paling menantang. Sudah hampir menuju puncak. Saking licinnya Sampai-sampai kami harus memanjat ke atas sambil pegangan tali. Untung kemarin tujuh belasan sempat ikutan lomba tarik tali tambang alias tug of war. Lumayan buat pemanasan jadi tidak kaget-kaget amat.

Finally, after a looong hours, sekitar 3 jam-an, itupun karena kami sering berhenti, sampai juga di PUNCAK. Yippieee yeye!!! Istirahat sejenak, sholat dzuhur lalu merebahkan diri, melonjorkan kaki. Alhamdulillah…

We made it! Really can’t believe we made it!

Photocredit: Komplotan 13 (mega, fira, ika, melly, dwi, anda, fajar, ponco, amri, eko, engkong, ilham, arif)

 

Momen in Prau Day 2: Menuju Patak Banteng, Dieng

Sabtu Pagi

Waktu di bis, kami habiskan buat tidur-bangun-ngemil-tidur-bangun-ngemil dan seterusnya, berulang-ulang dah kaya patterns. Alhamdulillah perjalanan lancar, dan kita sampai di alun-alun Wonosobo lebih kurang jam 6-an pagi.

Disini, komplotan kami jadi 13 orang. Nah loh, dari mana yang 2 lagi ya? Satu ketemu di pool Sinar Jaya, satu lagi ketemu di alun-alun wonosobo.

Maka, dilanjutkanlah perjalanan kami ke Dieng. Ternyata masih jauh dari Wonosobo. Saya lupa-lupa inget, padahal dulu banget pernah ke Dieng sama orangtua.

Dengan membayar 10.000, supir bis mengantar kami ke Dieng, tepatnya ke spot pendakian Gunung Prau di Patak banteng, Dieng. Lumayan jauh juga ternyata, hampir 2 jam-an kami baru sampai disana. Pas turun, udara dingin mulai merangsek menusuk ke dalam kulit. Brrr…

img_0877

Setelah lapor ke pihak yang berwajib. Siaplah kami mengangkat ransel. Baru berapa langkah, eh terhenti. Ternyata, sarapan menanti. Hanya dengan membayar 3000, perut sudah terisi penuh, lengkap dengan nasi, oseng kacang, mie goreng, dan tempe goreng. Alhamdulillah.

Abis itu, dimulailah pendakian. Well sort of. Baru beberapa langkah, eh, terhenti lagi. Eh, ada apalagi ini? Ternyata, kepala komplotan mau belanja dulu. Belanja apa hayooo tebak! Belanja sayur booo.

img_0885Mulai dari sayuran sop-sopan, ikan cuek, telor, melon, dan pisang. Nah loh. Mau ngapain coba di atas? Ini mau piknik apa kemping ya?

Saya bertanya-tanya keheranan dan penuh takjub dalam hati. Maklum aja, selama saya pergi ke alam, sama siapa pun itu, jarang banget yang namanya masak. Kalaupun masak, ya paling masak mie instan.

Lauk bawa yang kering-kering aja, macam tempe orek, kentang kering, kornet, atau sarden. Kornet sama sarden pun kaga dimasak, langsung “glek” dari tempatnya. So, don’t blame me if I was really surprised back then.

Ditambah lagi ngeliat ikan cuek, melon, ama pisang. Mau diapain itu mereka di atas sana? Amazing memang para expert ini alias hiker propecional inih.

img_0883

Zulfah. dede imut yang tidak sengaja ketemu di tukang sayur. Btw, kerupuk yang jadi latar belakang de Zulfah juga dibawa ke Puncak loh.

Photocredit: Komplotan 13 (mega, fira, ika, melly, dwi, anda, fajar, ponco, amri, eko, engkong, ilham, arif)

Momen in Prau Day 1: Menuju Wonosobo

Setelah lama tidak kembali ke alam. Akhirnya, kesempatan datang juga. Tidak dinyana tidak diduga, dengan modal nekat dan seadanya. Saya dan Dwi memutuskan ikut melanglang buana ke gunung Prau di daerah Dieng.

Kenapa dibilang nekat, karena ini kali pertama kami pergi ke suatu tempat, yang jauh pula, tanpa perencanaan jauh-jauh hari. Maklum, kami ini termasuk orang yang terstruktur. Setidaknya, akhir-akhir ini.

Jumat Sore

Sebelum berangkat, kami berkumpul di basecamp. Disinilah saya ketemu para expert yang suwer belum pernah saya kenal sebelumnya. Mereka ini tidak lain dan tidak bukan adalah teman masa kecil Dwi. Kesan pertama saya, “wow, hikers sejati, backpacker sejati.” Ada yang lagi packing carier, ada yang lagi makan, ada yang ga pake baju. Nah loh.

Dan waktu itu, saya bertanya-tanya dalam hati, “ngapa belon pada siap inih, katanya jam setengah 4 dah berangkat. Napa masi pada nyantai begini ya?” Usut punya usut, ternyata bisnya berangkat jam setengah 5.

Aisshh, kalo tau kan kami bisa leyeh-leyeh dikit di sekolah. Tapi saya ngerti sih, secara di Jakarta, di Indonesia, biasanya kan jam karet. Jadi, untuk mengantisipasi hal-hal yang mustahil, dimajukanlah jamnya.

img_0876

Setelah selang berapa waktu, lengkaplah komplotan kami. Total 11 orang, 5 cewe cantik sisanya kayanya si cowo tulen. Perjalanan dimulai dengan menaiki bis menuju Wonosobo. Berhubung saya dan Dwi hanya pengikut alias pemula alias anak bawang, kami pun menyerahkan segala urusan transportasi dan akomodasi kepada pihak-pihak yang sudah expert.

Siapakah para expert ini? Roghi, Mega, Arif, Amri, Anda, Ponco, dan komplotannya. Kami pun berangkat naik bis Sinar Jaya AC Ekonomi, kursi 2-3 dari terminal Depok. Ajaibnya, kami memiliki jam yang berbeda dengan bis Sinar Jaya.

Di awal, kami diberitahu bahwa keberangkatan tepat pukul setengah 5. Tapi pas udah setengah 5 kok ya ini bis tidak jalan-jalan juga. Dengan manisnya diam di tempat. Tidak tahunya, jam didalam bis terlambat setengah jam dari jam di pergelangan tangan kami.

Alhasil, kami memang berangkat jam setengah 5 Waktu Indonesia Bagian barat melainkan setengah 5 Waktu Bis Sinar Jaya. Baru tahu saya kalau ada pembagian waktu juga didalam bis. Jangan-jangan beda bis beda jamnya. Sumpah, lucu.

Photocredit: Komplotan 13 (mega, fira, ika, melly, dwi, anda, fajar, ponco, amri, eko, engkong, ilham, arif)

Thanks GOD for waking me up again this morning.

Village

Village (Photo credit: Dani Croitor)

The sentence above showing my grateful for having another chance to enjoy morning view. Every morning, I felt the same way. But that day was an exception.

I went out right after Subuh (4.45 am). When some people still dreaming on their bed. When the Village still in silenced. When street lights shone so bright. When darkness still surrounds. And the air, there is no question that the air was fresh enough.

Gosh, I LOVE MORNING. Especially that day. No wonder my mom always drag me out to accompany her jogging in early morning. Well, I just done that a couple of times with her and only near our house so never felt so much excited like that particular day. But, as I recalled my memories. I’ve seen some crazy beautiful morning view before. Not in Jakarta though. Let’s see.

Sunrise in BROMO MOUNTAIN is amazing.

Quite beautiful in PUNCAK Bogor.

PASIR PUTIH LAMPUNG also have great morning view.

In BALI, you could always find eyes catching morning view, especially when you witnessed from the beach.

Where else to think? Hmm, too many places in INDONESIA.

But the last I want to mention here are THOUSAND ISLAND, PANGANDARAN, PARANG TRITIS, DIENG, and off course in a village where my mom was born, SUSUKAN VILLAGE with SLAMET MOUNTAIN as background.

Don’t believe me? see these picture below.

Be grateful, everytime we open our eyes each and every morning.

For being able to breathe once again.

For God still give us chances to live our life much much better than the past.