Merindukan Kesejukan di Desa Susukan, Banjar Negara

It’s been some time since we went to my mom’s hometown in Susukan Village, Central Java. Been missing the morning scenery of the sunrise, paddy fields, mountain, and hills.

short-getaway-21short-getaway-14short-getaway-23

Pulang ke kampung halaman mama selalu menjadi momen yang selalu saya tunggu. Membayangkan sejuknya udara yang bisa saya hirup, hijaunya hamparan padi, rimbunnya pepohonan di bukit, dan damainya suasana pedesaan membuat kami semakin tak sabar untuk segera kembali ke sana.

Beruntungnya saya, mama dilahirkan di sebuah desa bernama Susukan, yang masih kental dengan suasana pedesaan hingga saat ini.

Lihat saja, hamparan sawah mengapit jalanan menuju rumah Mbah saya. Betapa indah dan alami.

short-getaway-13

short-getaway-12

short-getaway-22

short-getaway-9 short-getaway-8

Aliran sungai pun ada disini. Jembatan ini merupakan jembatan bersejarah dan telah menjadi bagian dari keluarga besar kami, keluarga Sanrusdi. Entah sudah berapa lama sejak dibangunnya jembatan ini.

Yang pasti, saya melihat jembatan ini di dalam foto masa kanak-kanak Mama, masa remaja beliau, masa pernikahan beliau, masa saya masih bayi, hingga saya sekarang ini.

short-getaway-15short-getaway-20

short-getaway-18

short-getaway-17

Soto Kecik Sokaraja Yang Bikin Nagih

Ibu saya berasal dari Banyumas, walaupun kenyataannya lebih ke sebuah desa di pinggiran jauh dari Banyumas. Di sinilah saya baru mengenal yang namanya sroto alias soto.

Apa sih yang membedakan soto di sini dengan soto-soto pada umumnya? ternyata pembedanya adalah sambal kacang. Yup, sambal kacang, yang biasanya ditambahkan ke dalam semangkuk soto sesuai selera masing-masing orang.

Salah satu warung soto yang paling terkenal adalah warung Soto Kecik Sokaraja. Tempatnya berada di antara deretan Toko Getuk Goreng Asli H. Tohirin. Kalau dari arah Jakarta, warung ini berada di sebelah kanan jalan.

Soto kecik ini selalu kami lewati ketika kami mudik ke rumah mbah. Makanya, setiap kali mudik, tidak lengkap rasanya bila tidak mampir untuk mencicipi soto ini.

Nah, baru-baru ini, kebetulan saya, adik, lilik, dan 2 sepupu saya mudik karena ada acara pernikahan sepupu. Dari Jakarta, kami memang sudah merencanakan untuk mampir ke warung soto kecik, mengingat mudik kali ini sangatlah singkat, jadi kami memutuskan untuk mampir sebelum kami sampai ke rumah mbah.

Sesampainya di sana, saking kecilnya plang warung soto kecik dibandingkan plang-plang toko getuk goreng di sekitarnya, sampai-sampai kami kelewatan. Jadi, pastikan mata anda jeli ya.

Sesampainya di warung, kami langsung mencari posisi yang nyaman. Sambil menunggu pesanan datang, tempe mendoan hangat yang tersaji di hadapan pun kami makan dengan lahapnya.

Begitu pula dengan tahu goreng dan kerupuk. Maklum, kami tidak sempat berhenti untuk sarapan. Dan saat itu sudah masuk jam makan siang. Jadilah kami kelaparan tingkat dewa.

Akhirnya soto yang dinanti pun tiba. Kesan kesejuta kalinya, “ah, dikit amat. mangkuknya kecil amat dah. ” dengan wajah terkejut. Aneh. Mengingat ini sudah kesejuta kalinya kami makan di sini, tetap saja tidak bisa menerima kenyataan betapa kecilnya porsi soto di sini.

Makan pun dimulai. Tampilan Soto Kecik yang berisi irisan daging, toge buntet, daun bawang, bawang goreng, potongan lontong, dan taburan kerupuk merah dengan kuah soto yang bening sungguh menggugah selera.

Saya pribadi, suka sekali menambahkan sambal kacang ke dalam soto hingga kuahnya berwarna coklat lalu ditambahkan dengan kecap. Sedap. Nikmat. Enak gila. Belum lagi dimakan bersama sate telur puyuh.

Aaah… heaven!

1 porsi soto habis sudah. Saatnya porsi ke-2. Yup. kami semua memesan 1 lagi soto kecik. Kami sampai senyam-senyum sendiri ketika dengan cepatnya kami melahap porsi ke-2. Sumpah, soto ini emang enak dan bikin nagih. Rasanya kalau cuma 1 porsi itu kurang greget.

Sudah kenyang. Waktunya pembayaran. Malu. Bayangkan saja, kami ber-5 menghabiskan 5 gelas es teh manis, 10 mangkuk soto, 6 tempe mendoan, 2 tahu goreng, 5 sate telur puyuh, dan 1 bungkus kerupuk.

What an amazing order!

Kita, Prau, dan Koran Suara Pembaruan

This is a very super late post.

Masih ada hubungannya sama perjalanan kami, kita, ke Gunung Prau. Walaupun sudah di post dalam cerita “Momen in Prau” rasanya tak lengkap kalau melewatkan yang satu ini. Salah satu rekan pendaki aseek pendaki yang namanya Mega calon fotografer dan asli petualang ulung meluangkan waktunya untuk menulis artikel mengenai perjalanan kami di koran Suara Pembaruan * klik di sini buat lebih jelasnya *

And there we are, finally on the newspaper. Ihiiiy… * keren juga si Mega ini, pandai merangkai kata dan mengabadikan sebuah peristiwa, sebuah perjalanan bersama.* Setidaknya, perjalanan kami itu, akan terekam selamanya * lebay * tidak sekadar ada di dalam salah satu ruang yang tersimpan rapi dalam ingatan kita, tapi juga dalam lembaran koran Suara Pembaruan.

Semoga tulisan Mega, menginspirasi pembaca untuk mendaki Gunung Prau dan merasakan sendiri keindahan gunung Prau, permadani bertahtakan bunga Daisy.

Momen in Prau Day 3: Kembali ke Jakarta

Minggu Sore

Time to go back.

gunung prau (64)

Komplotan pun berkurang 3 orang. Mereka melanjutkan perjalanan ke PUNCAK SIKUNIR. Aaah, I wish I had more holiday so I can join them.

Sisanya, terpaksa memantapkan hati kembali ke realita, kerja dan kerja lagi. Kami pun melaju bersama bis Sinar Jaya menuju ke ibukota tercinta, Jakarta.

Sayangnya, tiket bis Sinar Jaya jurusan Wonosobo-Lebak Bulus-Pasar Minggu sebesar IDR 97.000 terbilang cukup mahal, mengingat kondisi bis tidak senyaman ketika kami berangkat. But hey, ceritanya kan kita backpackeran, so it doesn’t matter.

Lelah, kami pun kerap tertidur, terbangun, dan tertidur lagi.

Senin Pagi

Jam 5 pagi, kami pun tiba di pool bis Sinar Jaya Lebak Bulus. Kami pun resmi berpisah dengan anggota komplotan lainnya dan  langsung menuju tempat kerja. Mendaki gunung Prau serasa bak mimpi.

Dan kini, kami sudah terbangun dari mimpi yang indah itu. Siap berhadapan dengan segala pekerjaan dihadapan kami.

Photocredit: Komplotan 13 (mega, fira, ika, melly, dwi, anda, fajar, ponco, amri, eko, engkong, ilham, arif)

Momen in Prau Day 3: Sejenak Menghampiri Dieng

Minggu Siang

Sesekali beristirahat untuk sekadar menikmati sop buah dan ngemil disana-sini. Ternyata enak banget minum sop buah dijalur. Nge-boost energi, 4 jempol buat Anda yang sudah meracik sop buah dan menaruhnya digelas.

Tak lama, sampai juga di Dieng.

Sayang sekali kami tidak punya banyak waktu untuk menjelajahi Dieng. Mengingat besok pagi, sebagian dari kami harus kembali bekerja, kami pun harus mengejar bis ke Jakarta yang bisa sampai di pagi harinya.

Jadi, akhirnya kami menyewa bis yang bisa membawa kami ke telaga warna kemudian langsung menuju terminal Wonosobo dengan biaya 25 ribu per orang, I think it’s worth it.

So, here are our pictures in telaga warna.

Savana Dieng

Photocredit: Komplotan 13 (mega, fira, ika, melly, dwi, anda, fajar, ponco, amri, eko, engkong, ilham, arif)

 

Momen in Prau Day 3: Turun Gunung

Sekali lagi, kami mengangkat ransel. Menuruni perbukitan dan menjauhi puncak Gunung Prau. Kali ini jalur yang kami ambil, bukan jalur ketika kami mendaki. Why? Karena tujuan selanjutnya adalah telaga warna Dieng.

Jalur kali ini jauh lebih bersahabat. Ditemani hamparan bukit dan pepohonan. Indah. Terlebih lagi saat kami berjalan dibawah dan diantara pohon-pohon cemara.

Gosh, the air is sooooo damn fresh.

Ingin rasanya menghirup sebanyak-banyaknya. Dimasukkan kedalam botol kalau saja bisa. Sebagai bekal tuk di Jakarta ketika macet dan asap kendaraan mendera.

Here, life feels so good.

Being in Nature, feels so good.

Photocredit: Komplotan 13 (mega, fira, ika, melly, dwi, anda, fajar, ponco, amri, eko, engkong, ilham, arif)

Momen in Prau Day 3: Bersiap Turun Gunung

Sunrise sudah.

Waktunya masak lagi untuk sarapan sebelum turun gunung. Menu sarapan, ajaibnya adalah pisang goreng, cilok goreng, tempe mendoan, mie rebus, sarden dan nasi putih. Ditambah, sop buah buat di perjalanan pulang (untuk di jalur kalau kata para hiker expert ini).

Fira in action. Goreng pisang di puncak gunung Prau. A.m.a.z.i.n.g!

Dalam hati saya tersenyum penuh makna. Kapan lagi masak pisang goreng sama sop buah di ketinggian lebih dari 2500 mdpl.

Selesai makan, waktunya say goodbye sama puncak Gunung Prau. Antara mau tak mau. Segan tak segan.

Membayangkan Jakarta dengan segala kesibukannya, membuat enggan untuk melangkah. But hey, that’s my life. And this is some kind of weekend getaway to recharge my soul so I can live my  routine life to the fullest.

So, good bye Prau. Nice to see you. Gonna see you again, even though not in the near future. See you when we see you.

Photocredit: Komplotan 13 (mega, fira, ika, melly, dwi, anda, fajar, ponco, amri, eko, engkong, ilham, arif)