Menembus Hujan dan Kabut di Perkebunan Teh Gunung Mas

Menikmati suasana kebun teh di daerah Gunung Mas, Puncak mungkin terdengar biasa. Berjalan-jalan ditengah hamparan kebun teh, memanjakan mata dengan hijaunya dedaunan teh, sembari menghirup sejuknya udara pagi. Sesekali seorang guide menjelaskan perihal Perkebunan Nusantara 8 saat kita berhenti sejenak. Sungguh hal yang teramat biasa, setidaknya bagi saya.

Tapi, tidak pernah terbayangkan oleh saya untuk menikmati suasana kebun teh di Gunung Mas dalam keadaan hujan dan berkabut, di pagi hari pula. Dingin, sensasi utama yang paling saya rasakan.

Saat itu, Puncak diguyur hujan yang tak hentinya. Kabut pun turun menemani sang hujan. Rencana semula untuk tea walk sepanjang lebih kurang 4 km sambil menikmati hijaunya kebun teh pun terasa akan gagal. Suasana terasa gloomy dan membuat kami mager. Jarak pandang yang hanya beberapa meter saja semakin membuat kami ragu untuk melanjutkan rencana awal.

gunung-mas-15

Kalau saja, warung-warung di Gunung Mas tidak menjual jas hujan, enggan rasanya beranjak menuju perkebunan teh. Kenapa jadi jas hujan? Karena jas hujan itulah saya menjadi lebih bersemangat untuk melanjutkan rencana semula (maklum, saat itu saya sedang kurang sehat karena sehari sebelumnya, saya sempat demam dan flu berat).

Namun, ternyata Ide untuk ‘main hujan-hujanan’ sungguh membuat saya excited. Kapan lagi hujan-hujanan di tengah perkebunan teh di ketinggian 800-1200 m di atas permukaan laut yang dipenuhi kabut, pikir saya dalam hati. It will be so much fun!

gunung-mas-1

Benar saja, sangat menyenangkan.

Menembus hujan dan kabut, melawan udara dingin yang menusuk kulit, melewati sungai yang alirannya sangat deras, dan sesesekali berhenti untuk selfie, wefie, mendengarkan penjelasan sang Guide, atau hanya sekadar menikmati keindahan alam di perkebunan Gunung Mas.

gunung-mas-4 gunung-mas-16 gunung-mas-7 gunung-mas-12 gunung-mas-10 gunung-mas-14

gunung-mas-17 gunung-mas-2gunung-mas-23

Mempesona. Breathtakingly beautiful. Natural art.

Ditambah lagi dengan jalanan yang terbilang tidak biasa. Perjalanan kali ini lebih tepat disebut sebagai mountain tracking daripada tea walk. Menyenangkan!

Perjalanan turun pun tidak kalah mempesona. Melalui jalanan berbatu yang diapit rumah-rumah penduduk Gunung Mas. Masih ditemani hujan dan kabut. Saya merasa sedang berada di sebuah Negri di Atas Awan.

gunung-mas-18 gunung-mas-19 gunung-mas-20

Di salah satu rumah itulah kami beristirahat untuk melepas lelah dan sholat zuhur. Di sini pula kami menikmati sebungkus cilok terenak yang pernah saya makan, semangkuk mie rebus, dan secangkir teh putih panas hasil perkebunan teh gunung mas.

gunung-mas-38

Perjalanan berlanjut, dan kami pun bersiap untuk kembali ke penatnya dan panasnya Ibukota tercinta, DKI Jakarta.

gunung-mas-3

Kami pun sempat bernarsis ria dengan jas hujan kebanggaan kami. Sungguh berwarna. Kami tampak seperti para Hobbit. Tapi kalau dipikir-pikir kembali, kami pun tampak seperti para Teletubbies.

gunung-mas-35 gunung-mas-36 gunung-mas-26 gunung-mas-33 gunung-mas-32 gunung-mas-31

Pagi di Eco Art Park dan Pasar Ah Poong Sentul

MAYDAY! It means Holiday!

Finally, we had a 3 days break from our daily routine. So we (saya, Dwi, dan Irin) decided to get out from Jakarta and runaway to Bogor.

Rencana awal kami cuma ke Bogor. Entah mau ke mana sesampainya di Bogor. Sampai pada akhirnya, surfing di dunia maya dan terpaku sama yang namanya Eco Art Park Sentul.

Aneh juga sebenarnya. jauh-jauh naik kereta ke Bogor tapi balik lagi ke arah Sentul. Sebenarnya, kami ingin naik kereta saja. Sok gaya menjadi Walang alias Wanita-wanita petualang.

 

Berbekal persenjataan smartphone, power bank, dompet, dan tongsis. Meluncurlah kami ke Bogor. Sehubungan dengan rumah kami yang saling ‘berdekatan’ jadilah kami ketemuan di stasiun Bogor.

Selama perjalanan di kereta, saya mencoba mencari info transportasi ke Eco Art Park Sentul dari Stasiun Bogor. Klik! ketemulah saya dengan blog otakotakbule yang pada akhirnya menjadi pegangan saya menuju TKP.

Untuk menuju taman ini, dari stasiun Bogor, keluar kemudian belok kiri sampai ke depan Matahari department Store. Lalu naik angkot hijau bernomor 03 menuju Terminal Baranang-siang (Rp. 4000). Turun di depan pool bis Trans Pakuan (di depan terminal). Naik Trans Pakuan turun di depan Mall Bellanova (Rp. 6000). Kemudian kita menyeberang, belok kiri dan berjalan menuju lokasi.

Wah, sesampainya di sana, kami langsung disambut berbagai patung yang ‘naked.’ Beruntungnya kami, taman masih dalam keadaan sepi. Maklum, kami berangkat saja balapan sama bangunnya ayam. So, it really fresh to be there. Fresh air. Inhale… Exhale… Deep…

We start our refreshing morning walk from Taman Patung.

Taman Patung ini terletak di belakang kantor pemasaran Sentul City. Sesuai namanya, di bagian taman ini dapat kita temui belasan patung yang konon katanya dibuat oleh perupa dari beberapa negara, di antaranya Salvador Dali dari Spanyol dan Botaro dari Korea.

Selain patung, ada juga bangku taman yang unik. Yang membuat jiwa narsis kami membuncah untuk berfoto bak model. Lumayanlah untuk melatih keahlian kami memakai tongsis biar makin gape. Maklum masi awam.

Puas berfoto ria, kami menaiki jembatan penuh kelok menuju Taman Sains.

Pemandangan dari atas jembatan sungguh memanjakan mata. Setidaknya, masih ada hamparan berwarna hijau di sana-sini. Sekali lagi maklumi saja, kami biasa melihat beton di kanan-kiri jembatan kalau di jakarta.

Mumpung sepi, kami putuskan beristirahat sejenak di pojok jembatan sambil menikmati pemandangan pepohonan nan hijau dan gemericik sungai di kejauhan.

Sampai di ujung jembatan, kami melewati restoran Mang Kabayan. Ah, saya jadi teringat kangkung ngebul khas mang Kabayan. Laper. Sayang-disayang, kami cuma lewat doank.

Lalu sampailah di Taman Sains. Seru juga belajar sains dengan cara yang menyenangkan, penuh warna-warni dan dikelilingi taman yang indah. Untuk mengetahui lebih lengkap peralatan sains apa yang ada di sini, silakan klik liburananak.com.

Disini juga ada Mini Open Theatre. Sayangnya, tidak ada kegiatan di teater tersebut pada saat kedatangan kami ke sana.

Kemudian, Dwi dengan semangatnya, mencari robot yang menjadi salah satu trademark di taman ini. Ketemu juga pada akhirnya.

Hmm… di mana ya Pasar Ah Poong-nya? Ternyata sudah ada di depan mata, sambil melewati restoran Warung tekko yang cantik, Saung madu, dan jembata, sampailah kami di pasar Ah Poong.

Ternyata Pasar Ah Poong ini semacam Food Court. Dulunya, benar-benar ada Pasar Apung di sini, tapi entah kenapa sekarang sudah tidak ada lagi. Puas dari food court kami melewati Jembatan Merah yang ternyata adalah Jembatan Gantung. Seru. Sengaja kami goyang kanan goyang kiri bak anak kecil amin di Outdoor Playground-nya Highscope biar makin goyang jembatannya.

Oke, ada jembatan. Lagi. Jembatan berwarna biru, tapi kami lewati saja. Kami lebih tertarik menaiki perahu untuk sekedar mengelilingi Pasar Ah Poong.

Berkenalanlah kami dengan Mang Ajay, yang dengan semangat dan ramahnya menjadi pendayung perahu kami. FYI, untuk naik perahu ini bayar sukarela loh. Enak kan. Kami memang suka yang gratisan dan sukarela.

Setelah perahu kami berlayar meninggalkan daratan, mulailah kami bernyanyi.

Row row row your boat

Gently down the stream

Merrily merrily merrily

Life is but a dream

Sambil berimajinasi, kami sedang berlayar di dalam kota Venezia, Italia. Ah, indahnya. Padahal mah, puanas bo! payung mana payung! sunglasses mana sunglasses! sunblock mana sunblock! teriak kami dalam hati masing-masing.

Teriknya sang mentari, membangunkan kami dari mimpi. Mang Ajay pun kembali membawa kami menepi. Dengan sedikit menggoda sesekali, meninggalkan kami sendiri dalam perahu ini. Aaah, mang ajay… Jangan biarkan kami mengapung sendiri… lebayyy.

Dan selesailah kami ngebolang di taman yang indah dan lengkap ini. Sepanjang perjalanan pulang, bersyukurlah kami datang di pagi hari. Karena semakin siang, pengunjung semakin ramai.

Sampai di sini, pulanglah kami. Nope! matahari masih tinggi menjulang kawan, perjalanan Walang pun masih panjang. Lanjut ke… Kota Tua di tengah Jakarta.

Berkeliling Taman Buah Mekarsari

I love fruits. Any kinds of fruits. You may say I am a fruit lover.
So, when my family suddenly decided to visit Taman Buah Mekarsari (Mekarsari fruits park), I am gladly join them.

Terlebih lagi sudah bertahun-tahun lamanya sejak terakhir kali saya mengunjungi taman ini bersama Almarhum Bapa.

2014-05-26-23-28-55_deco

Hari itu, cuaca panas sedang menyelimuti ibukota Jakarta. Ketika tiba-tiba, kami memutuskan ke Taman Buah Mekarsari. Jadilah kami mendadak berangkat, dengan modal nekat.

Untuk memasuki taman ini, kita dikenakan biaya 25 ribu per orang. Tiket tersebut merupakan tiket masuk saja. Kalau kita ingin berkeliling taman naik kereta wisata, bermain air di danau, ingin menanam atau memanen buah, maka akan ada biaya tambahan untuk setiap aktivitas tersebut.

dsc_9503dsc_9509Processed with VSCOcam

img-20140525-00152

Untuk memudahkan pengunjung, taman ini menawarkan beberapa pilihan paket wisata.  Untuk harga dan sebagainya bisa dilihat di website resmi mereka di www.mekarsari.com

Ada baiknya jika kita hendak ke Mekarsari, kita kunjungi dulu websitenya untuk mendapatkan info mengenai buah apa yang sedang musim panen di mekarsari.

dsc_9514
dsc_9539

Setelah berkeliling kebun buah, kita diturunkan di Area Danau Mekarsari. Di danau ini kita bisa main Fruity Boat, Banana Boat, Perahu Kano, Perahu Naga dan Outbound dengan harga tiket mulai dari Rp. 15.000,- sampai dengan Rp 65.000,-.

mekar-sari-06

Satu lagi yang harus diingat, semua pembayaran di area Taman Buah Mekarsari dilakukan dengan sistem deposit uang. Jadi, ketika kita membeli tiket masuk, kita akan mendapatkan gelang yang berfungsi sebagai alat pembayaran. Gelang ini akan discan setiap kali kita melakukan pembayaran untuk membeli tiket, jajan, atau membeli oleh-oleh.

dsc_9531

Namun kita tidak perlu khawatir. Apabila uang kita tidak terpakai, maka pada saat pulang, kita bisa mengembalikan gelang dan menerima sisa uang deposit kita.

Setelah puas mengelilingi area sekitar danau, kita bisa kembali menaiki kereta keliling menuju lokasi lainnya. Cukup tunjukkan cap yang ada di tangan kita.

Sampai di lokasi awal kita datang, kita bisa mengunjungi menara pemantau, plaza air mancur, dan arena permainan.

mekar-sari-17mekar-sari-16mekar-sari-15mekar-sari-13
mekar-sari-07
mekar-sari-08mekar-sari-09dsc_9616mekar-sari-10dsc_9619mekar-sari-20

Anda pecinta buah? Sudahkah mengunjungi Taman Buah mekarsari ini?

 

Rafting: Nothing To Be Afraid Of

Rafting. It’s been such a long time since I want to try this kind of experience. Before, I just watched it from TV or vids, but now, it’s my chance to feel it by myself. How excited that will be. On the other hand, A little bit scary. There is some fear came running through my mind.

That day, we gathered in Bogor. For who live in Jakarta, I should take the train to get there. Then, I leave the rest to others who knows the route :p. It was arrange by my friend, Tari. She is very familiar with adventurous things like this. She love outdoor activities and engaging with nature. It really nice to be friends with someone like her.

Anyway, we went to the site… get our gear, put them on, and bring it to the river downhill. Since it was a first time for me * and I think for the rest of us, * the guide are there to explained some things that we need to know and do it during rafting. We did listen well, and be ready for whatever head on us in the river.

29663_1385046558949_1615568976_899530_7388002_n

“Listen well, guys…,” said the guide

rafting1

Girls rafting team…

After the brief explanation. I kept things in mind. Wore a comfortable outfit, sport shoes, swimming cap * for I using hijab, * and physical preparation before the D-Day. Because that time, I missed all that.

rafting2

Enjoy every moment of it!

Once we got on board. It just can’t wait. Raft along the river, waiting for big stream, avoided some big rocks or crash between team and enjoying the surrounding view. It was sooo excited. Couldn’t describe how I felt that day. The view is so beautiful. The cliffs, the trees, the rocks, and the waterfall. I just couldn’t ask for more. During this kind of excitement and admiration, I will feel very grateful to the GOD, for giving me such amazing view in the world where I live in.

29663_1385061399320_1615568976_899599_5756457_n

The waterfall…

Before going home. Last but not least, trying to raft using banana boat. Wow, it was so hard to handle it. I felt like I was going to fall to the river. And yes, I did. The banana boat was upside down, I was afraid, and I was like just lying there on the surface of the river, drifting by the stream while avoiding branches and rocks around me… waiting for someone to rescue… But, it was not as scary as I thought it will be. If I got another chance to tried it again, I am gladly said YES, off course!!

Rafting in a banana boat. Sooooo fun!

Rafting in a banana boat *me, in front * Sooooo fun!

There is nothing to be afraid of. There is no fear that can’t be resolved. As long as I have positive mindset. And take challenge as a new way to learn new things.