Warna-Warni Lampion di Langit Pulau Cipir, Kepulauan Seribu

Perjalanan kami di kepulauan seribu tidak hanya berakhir sampai belajar sejarah di Pulau Cipir. Airis project menawarkan paket di mana kami bisa mendapat pengalaman menerbangkan lampion ke langit Pulau Cipir. Seperti yang kami tuliskan sebelumnya di postingan Kepulauan Seribu: Benteng Martello di Pulau Kelor bahwa Airis membanggakan dirinya sebagai perintis EO yang melakukan pelepasan lampion pada saat sunset di kepulauan seribu.

Sunset pun mulai terlihat di kejauhan dari dermaga kecil Pulau Cipir.

Kami pun bersiap-siap menyalakan lampion dan melepaskannya ke udara. Tapi ternyata, tidak semudah yang ada di bayangan. Kegagalan pun terjadi, 2 lampion gagal kami terbangkan. Dibutuhkan 2-3 orang untuk menyalakan lampion hingga ia siap dilepas ke udara. belum lagi kesabaran untuk menunggu hingga udara panas memenuhi bagian dalam lampion.

Dan lampion pun dilepaskan terbang menjauh terbawa angin. Warna-warni lampion seketika memnuhi langit Pulau Cipir di atas lautan.

Dan berakhirlah perjalanan kami di kepulauan seribu untuk hari itu. Until next time, in another island.

Advertisements

Kepulauan Seribu: Pulau Cipir

Pulau ke-3 atau pulau terakhir yang kami kunjungi setalah Pulau Kelor dan Pulau Onrust adalah Pulau Cipir.

Pulau ini dikenal juga dengan nama Pulau Kahyangan atau Pulau Kuyfer merupakan 1 dari 3 pulau yang menjadi benteng pertahanan Belanda.

Selain itu, pulau ini juga difungsikan sebagai tempat perawatan dan karantina penyakit menular bagi para jemaah haji. Sebelum berangkat haji mereka dikarantina untuk cek kesehatan dan setelah pulang dari ibadah haji pun dikarantina kembali untuk cek kesehatan lagi.

Pada zaman kolonial, Belanda-lah yang memberi gelar Haji. Orang-orang yang pulang dari ibadah haji, dikarantina, dan jika kemudian lulus cek kesehatan maka mereka akan mendapat gelar Haji dari kolonial Belanda. Oleh karena itu, gelar Haji hanya ada di Indonesia. * Baru tahu kalau ternyata sebutan Haji merupakan warisan penjajahan belanda *

Di pulau ini banyak sisa reruntuhan Rumah Sakit dan kamar-kamar rawat pasien.

Selain itu, telah dibangun dermaga dan menara pengamatan di pulau ini.

Kepulauan Seribu: Sejarah Panjang Pulau Onrust

Pulau ke-2 yang kami sambangi setelah Pulau Kelor adalah Pulau Onrust.

Penjajahan terhadap Indonesia selama 350 tahun dimulai di Pulau yang kecil ini. Pada tahun 1619 armada dan tentara VOC berkumpul di sini untuk mempersiapkan penyerangan kota Jayakarta. Sejak itulah satu persatu kerajaan di nusantara jatuh oleh Belanda.

[Tulisan yang tertera di depan kantor pengelola Pulau Onrust]

Pulau ini memiliki sejarah yang amat panjang. Dikenal dengan sebutan Pulau Unrest atau Pulau Sibuk pada masanya dulu karena kondisi pulau ini tak pernah berhenti membongkar muat barang-barang komoditi dan kegiatan perbaikan kapal-kapal.

Memasuki Pulau Onrust, kami mendapat kesempatan belajar sejarah dari guide yang ada di Pulau Onrust. Ia mengajak kami berkeliling Pulau Onrust dan menceritakan kembali kejayaan dan kejatuhan Pulau Onrust.

Setelah mendengar sepenggal kisah sejarah tersebut, muncullah rasa ingin tahu saya hingga saya menemukan rentetan sejarah Pulau Onrust di website Jakarta.go.id

Pada zaman dahulu Pulau Onrust pernah menjadi tempat peristirahatan keluarga raja-raja Banten. Namun kemudian terjadi sengketa antara Kerajaan Banten dan Jayakarta hingga tidak pernah ada upaya penyelesaian. Jayakarta merasa memiliki pulau ini karena lokasinya dekat (di hadapan Kota Jayakarta), sedangkan Banten mempunyai hak atas pulau tersebut sebab seluruh Kepulauan Seribu merupakan bagian dari teritorial kekuasaannya. Saat Belanda datang dan gagal memonopoli perdagangan di Banten kemudian mengalihkan perhatiannya ke Jayakarta dengan menggunakan salah satu pulau di Teluk Jakarta, yakni Pulau Onrust.

Tahun 1610, terjadi perjanjian antara Belanda (diwakili L. Hermit) dan Jayakarta (diwakili Pangeran Jayakarta) yang isinya memperbolehkan orang-orang Belanda mengambil kayu untuk pembuatan kapal-kapalnya di Teluk Jakarta. Melihat banyak kapal yang berlayar ke Asia terutama Asia Tenggara dan tinggal beberapa lama, sering memerlukan perbaikan kapal akibat perjalanan panjang, maka VOC berniat untuk membangun sebuah galangan kapal di Teluk Jakarta. Niat tersebut diijinkan oleh pangeran dengan menggunakan Pulau Onrust.

Tahun 1613, VOC mulai membangun Pulau Onrust.

Tahun 1615, VOC mendirikan sebuah galangan kapal dan sebuah gudang kecil. Selain sebagai galangan kapal, Jan Pieterzoon Coen mengharapkan Onrust menjadi koloni sehingga VOC mengirim keluarga Cina ke Onrust dengan segala fasilitasnya.

Tahun 1618, Coen menjadikan Onrust sebagai pulau pertahanan terhadap akibat memuncaknya ancaman Banten dan Inggris. Pembangunan sarana fisik terus dilakukan.

Tahun 1656, dibangun sebuah benteng kecil bersegi empat dengan 2 bastion (bangunan yang menjorok keluar berfungsi sebagai pos pengintai).

Tahun 1671, diperluas menjadi benteng persegi lima dengan bastion pada tiap tahap sudutnya namun tidak simetris yang semuanya terbuat dari bata dan karang.

Tahun 1674 dibangun gudang-gudang penyimpanan barang, gudang penyimpanan besi dan dok tancap yang semuanya dikerjakan oleh 74 tukang kayu dan 6 tukang lainnya. Pada tahun yang sama dibangun sebuah kincir angin untuk keperluan penggergajian kayu.

Tahun 1691–1695, dibangun sebuah kincir angin yang kedua, terdapat 148 abdi kompeni dan 200 budak.

Tahun 1800, Inggris melakukan blokade terhadap Batavia, dan pertama kali mengepung Onrust dan sekitarnya. Semua bangunan yang terdapat dipermukaan Onrust tersebut dimusnahkan.

Tahun 1803–1810, Belanda merencanakan pembangunan kembali atas Onrust sesuai dengan rencana DM. Barbier.

Tahun 1810, selesai dibangun, Pulau Onrust dihancurkan lagi oleh Inggris dan menduduki Onrust sampai 1816.

Tahun 1827, Pulau Onrust baru mendapat perhatian lagi dan pada tahun 1828 pembangunan dimulai dengan mempekerjakan orang-orang Cina, dan tahanan. Dan 1848 kegiatan berjalan kembali.

Tahun 1856 arena pelabuhan ditambah lagi dengan sebuah dok terapung yang memungkinkan perbaikan kapal laut. Setelah Pelabuhan Tanjung Priok dibangun tahun 1883, Onrust hilang perannya dalam dunia perkapalan dan pelayaran.

Tahun 1905, Onrust mendapat perhatian lagi dengan didirikannya stasiun cuaca di pulau ini dan Pulau Kuyper (Cipir).

Tahun 1911–1933, Onrust diubah fungsinya menjadi karantina Haji bagi orang-orang yang hendak berangkat ke mekah dan kembali dari Mekah.

Tahun 1933–1940, Onrust dijadikan tempat tawanan para pemberontak yang terlibat dalam “Peristiwa Kapal Tujuh” (Zeven Provincien).

Tahun 1940, Onrust dijadikan tempat tawanan orang-orang Jerman yang ada di Indonesia, diantaranya Stenfurt, mantan Kepala Administrasi Pulau Onrust.

Tahun 1942, setelah Jepang menguasai Batavia, Onrust dijadikan penjara bagi para penjahat kriminal kelas berat.

Tahun 1945, Pada masa Indonesia merdeka, pulau ini dimanfaatkan sebagai Rumah Sakit Karantina terutama bagi penderita penyakit menular di bawah pengawasan Departemen Kesehatan RI hingga awal 1960-an.

Tahun 1960–1965, Onrust dimanfaatkan untuk penampungan para gelandangan dan pengemis, selain itu juga dimanfaatkan untuk latihan militer.

Kemudian, Pulau ini terbengkalai, dianggap tak bertuan. Pada tahun 1968 terjadi pembongkaran dan pengambilan material bangunan secara besar-besaran oleh penduduk atas ijin kepolisian setempat.

Tahun 1972, Gubernur KDKI Jakarta mengeluarkan SK yang menyatakan Pulau Onrust sebagai pulau bersejarah.

What an interesting and hurtful stories of Onrust.

Di pulau Onrust, fasilitas yang disediakan sangat lengkap. Mulai dari Musholla, toilet, restoran, hingga museum dimana kita bisa melihat kisah pulau onrust.

Kepulauan Seribu: Benteng Martello di Pulau Kelor

Kali ini kami mencoba ikut Open Trip untuk pertama kalinya. Instagram telah mengenalkan kami dengan Airis Project, yang membanggakan dirinya sebagai perintis EO yang melakukan pelepasan lampion pada saat sunset di kepulauan seribu.

Pulau pertama yang kami sambangi adalah Pulau Kelor yang dahulu dikenal dengan nama Pulau Kherkof . Pulau ini merupakan 1 dari 3 pulau di Kepulauan seribu yang menjadi benteng pertahanan kolonial Belanda pada masa penjajahan di Indonesia.

Pulau Kelor juga disebut sebagai Pulau Kuburan. Pada masa itu, banyak tahanan politik ataupun pribumi yang dihukum mati atau sakit dan dikubur di pulau ini.

Sesuai dengan namanya, Kelor, pulau ini luasnya terbilang kecil, persis seperti daun pohon kelor yang memang berukuran kecil.

Di pulau ini terdapat reruntuhan benteng Martello yang dibangun pada tahun 1849. Martello itu sendiri merupakan menara untuk tujuan militer yang biasanya dilengkapi dengan senjata yang bisa bermanuver 360 derajat. Martello ini sebenarnya bagian dalam dari benteng yg didirikan di Pulau Kelor.

Benteng ini digunakan Belanda untuk menahan serangan Portugis di abad ke-17. Bata merah yang menyusun benteng ini batanya berasal dari Tangerang dan bahannya lebih kuat dari bata sekarang. Bahkan benteng ini disebut sebagai benteng anti meriam.

Luas pulau kelor ini semakin hari semakin menyusut karena abrasi laut. Oleh karena itu, pemerintah membangun tanggul di sebagian sisi pulau dan juga menaruh pilar-pilar pemecah ombak untuk menjaga kelestarian pulau ini.

Fasilitas di pulau kelor ini terbilang cukup lengkap dan bersih. Musholla dan Toilet atau kamar mandi bilas tersedia di sini dan cukup bersih. Next time coming here, I’ll make sure to swim in the beach.

Menikmati Wisata Malam di Monas

Monumen Nasional atau yang lebih dikenal dengan nama Monas kini telah dibuka hingga malam hari. Bahkan, para pengunjung bisa menikmati keindahan dan gemerlap kota Jakarta di malam hari dari Puncak maupun Cawan Monas.

Wisata malam di Monas resmi dibuka pada tanggal 5 April 2016 oleh Gubernur DKI, Basuki Tjahaya Purnama atau Ahok. Harapannya, agar Monas bisa setenar Empire State Building di New York, Amerika yang ramai dikunjungi oleh wisatawan hingga dini hari.

Untuk wisata Monas ini, pihak pengelola menjual 1.800 tiket untuk siang hari (pukul 08.00–16.00) dan 700 tiket untuk malam hari (pukul 19.00–22.00). Khusus untuk malam hari, loket tiket tutup pukul 21.00 dan dibuka setiap hari dari Senin hingga Minggu.

Mengingat wisata malam monas ini baru pertama kali diadakan, saya dan keluarga pun tertarik untuk mencobanya. Penasaran untuk menikmati Monas di malam hari, terutama melihat Jakarta dari ketinggian puncak monas.

Jadi, malam itu, tepatnya di salah satu malam di Long Weekend, kami meluncur ke lokasi. Pasti ramai sekali, pikir saya dalam hati. Benar saja, lahan parker pun menjadi penuh sesak oleh kendaraan, baik motor maupun mobil. Kami bahkan harus berkeliling 2 kali untuk mendapatkan parkir mobil.

Langsung saja kami menuju Monas. Ramai. Super ramai. Monas dipenuhi ribuan orang. Sayangnya sesampainya di loket tiket, tiket untuk menuju puncak monas sudah habis terjual, padahal saat itu jam baru menunjukkan pukul 19.30. Saya rasa antusiasme masyarakat untuk menikmati Monas di malam hari, apalagi di long weekend ini begitu tinggi. Alhasil, kami hanya mendapat tiket masuk hingga ke cawan Monas.

Monas ini begitu indah, setidaknya Monas yang sekarang. Dengan permainan lampu berwarna-warni, Monas kini tampak jauh lebih hidup dan indah.

Kami pun bergegas menuju cawan Monas. Betapa kagetnya saya melihat antrian super panjang bak ular. Ternyata antrian itu adalah antrian untuk menuju puncak Monas. Well, setidaknya, mereka mengantri di malam hari dalam keadaan tidak panas * coba saja kalau mengantri di siang hari seperti yang pernah saya alami *

Samapailah kami di cawan Monas. Subhanallah. Indahnya kota di mana saya dibesarkan ini. Kota Jakarta, kota yang tak pernah tidur. bahkan hingga malam selarut ini, masih terlihat mobil, motor, kereta, dan manusia berlalu-lalang. Suara klakson, suara deru mobil, dan suara kereta pun masih terdengar jelas di telinga saya.

IMG-20160507-WA0051 Setelah puas menikmati pemandangan dari Cawan Monas, kami pun menyempatkan diri untuk melihat diorama-diorama di Museum Sejarah Nasional. Wow, menikmati museum di malam hari entah kenapa memberikan sensasi tersendiri bagi saya * saya jadi teringat film Ben Stiller yang judulnya Night At Museum. *

IMG-20160507-WA0046 Entah mengapa, ketika melihat diorama dan membaca penjelasannya, lebih berasa. Saya seakan dibawa kembali ke masa itu. Rasa pedih pun mendadak muncul mengingat menderitanya bangsa kami saat penjajahan dahulu. Saya pun membuat catatan tersendiri. Lain kali kami mengunjungi Monas di malam hari, pastikan untuk melihat kembali semua diorama di museum ini.

Waktu sudah menunjukkan pukul 21.30 yang berarti tanda untuk kami beranjak pergi. Wisata malam kali ini sungguh berkesan sekali. Meskipun ada ketidakpuasan karena tidak bisa sampai ke puncak Monas dan menikmati kota Jakarta dari ketinggian.

Tips untuk wisata malam Monas:

  • Jika memang berniat untuk naik hingga ke Puncak Monas, lebih baik datang sebelum jam 19.00 sehingga begitu loket tiket untuk wisata malam dibuka, kita sudah di depan loket. Mengingat hanya tersedia 700 tiket. Apalagi jika di weekend atau musim liburan. Belum lagi waktu yang dibutuhkan untuk mencari tempat parkir dan jalan menuju loket tiket * kayanya bisa sejam-an *
  • Jika sudah mendapatkan tiket untuk ke Puncak Monas, sesegera mungkin menuju antrian lift agar tidak terjebak dalam antrian panjang yang mengular. Kalau untuk melihat bagian lain monas, bisa dilakukan setelah menikmati Puncak Monas. Maklum saja, hanya ada 1 lift ke dan dari Puncak Monas.
  • Bawa tissue basah or kering dan masker kalau perlu. Jika terpaksa ingin ke belakang. Maklum saja, toilet yang tersedia hanya beberapa dan di malam hari di musim liburan, bayangkan saja berapa ribu manusia yang sudah menggunakan toilet tersebut.
  • Pastikan sudah makan dan minum, karena jelas di dalam Monas tidak ada jualan makanan. Kalaupun ada, mahal. Tapi jangan khawatir, di sekitaran monas, dan dekat tempat parkir ada food court. Info tambahan, untuk membeli makanan di sini diutamakan penggunaan e-money dari Bank mandiri.
  • Bagi yang membawa anak-anak, siapkan uang lebih. Karena banyak permainan, jajanan, souvenir, dan mainan yang dijamin bakal menarik perhatian anak-anak.

Ekowisata Hutan Mangrove: Taman Wisata Alam Angke Kapuk

Taman Wisata Alam (TWA) Angke Kapuk merupakan salah satu objek ekowisata yang cukup ngehits di kalangan warga Jakarta. Puluhan bahkan ratusan foto-foto selfie, preWedding dan lainnya beredar di dunia maya dengan berlatang belakang pemandangan nan indah di TWA ini.

Saya pribadi menganggap bahwa tempat wisata ini sangat cocok untuk bernarsis ria dan sangat instagramable. Selain tentunya, sangat cocok untuk menambah pengetahuan kita yang dangkal ini mengenai hutan mangrove.

Taman Wisata Alam Angke menjadi satu-satunya kawasan hutan mangrove terluas di Jakarta. Pepohonan mangrove yang rimbun, jalan setapak yang tersusun rapi dari batang pohon mangrove dan juga bambu, ditambah lagi dengan pemandangan pantai serta hembusan angin laut yang sepoi-sepoi membuat tempat ini cukup tepat untuk sekadar melepas lelah dan penat akibat kesibukan dan kemacetan Kota Jakarta.

Tempat wisata ini berada di ujung utara Jakarta, tepatnya di Pantai Indah Kapuk. Berdasarkan data dari Direktorat Pemanfaatan Jasa Lingkungan Hutan Konservasi, diketahui kalau Taman Wisata Angke Kapuk ini seluas 99.82 Ha.

Taman ini dipenuhi oleh berbagai jenis tanaman mangrove, diantaranya adalah Api-api (Avicenia sp), Bidara (Sonneratia caseolaris), Bakau (Rhizophora mucronata, Rzhizophora stylosa), dll.

Lokasi

Untuk mencapai lokasi, bisa dengan kendaraan pribadi maupun transportasi umum. Saran saya, jika menggunakan transportasi umum, lebih baik naik Taxi, Gojek, Grab, Ojek, Bajaj, atau Bus Kota Terintegrasi Busway (BKTB) dari halte Monas (rute Monas – PIK), jadi tidak perlu naik turun angkot yang berarti hemat ongkos dan tenaga. BKTB akan mengantarkan kita tepat hingga depan Yayasan Budha Tzu Chi. Kemudian, cukup berjalan menyusuri Yayasan tersebut (ke arah belakang) dan sampailah kita ke lokasi.

Kesan pertama saya dalam perjalanan menuju TWA ini adalah, wow… miris! Betapa tidak, TWA ini dikelilingi perumahan mewah, bahkan bisa dibilang sangat mewah. Saya seakan berada di dunia lain (setelah sebelumnya melewati lorong-lorong sempit dan kumuh di kawasan Duri dan Tanah Abang).

Belum lagi tampilan kompleks Yayasan Budha Tzu Chi yang sangat teramat luas dan indah, tidak bisa saya jelaskan dengan kata-kata. Seakan-akan saya sedang berada di negeri Cina.

Wow, sekali lagi wow… takjub! Pintu gerbang TWA tepat di depan gedung Yayasan ini. Mereka hanya dipisahkan oleh sebuah jalan raya.

Kok bisa ya? Untuk sesaat, ingatan saya melayang mundur ke belakang saat kawasan PIK belum dipenuhi bata, beton, dan baja.

Tiket

  • Dewasa: IDR 25.000
  • Anak-anak: IDR 10.000
  • Wisatawan Asing: IDR 250.000
  • Mobil: IDR 10.000
  • Motor: IDR 5000
  • Bus: IDR 50.000

Setelah membayar tiket, kita harus berjalan menuju pos pemeriksaan. Kemudian, kita bebas mengeksplorasi Taman Wisata Alam ini. Selain kita dapat dengan puas mengamati pohon mangrove, kalau beruntung, kita juga bisa mengamati biawak, burung, bahkan kera.

Yang paling membekas bagi saya adalah ketika berjalan di sepanjang titian kayu-kayu ditengah desahan daun-daun pohon mangrove yang saling bergesekan. Sesekali, terpaan angin laut menyentuh kulit saya. Sementara sinar mentari dengan malu-malu mencoba menyelusup dan mengintip di antara dedaunan.

Taman Wisata Alam Agke kapuk (12)Fasilitas

  • Wisata Air. Disini kita bisa mengelilingi perairan di dalam Taman Wisata Air dengan menggunakan kano, perahu dayung, ataupun perahu motor dengan harga mulai dari IDR 100.000/ orang
  • Wisata Hutan. Untuk wisata hutan, kita bisa berkemah, outbound, pemotretan, wisata alam, dan juga penelitian.
  • Penginapan. Bagi yang ingin menikmati taman wisata ini lebih dari satu hari, bisa menginap di Pondok Alam, berkemah dengan tenda, ataupun berkemah dengan Pondok Permanen yang berbentuk mirip tenda.
  • Konservasi. Bagi yang ingin berperan serta dalam konservasi hutan Mangrove, kita dapat menanam pohon mangrove dengan membayar IDR 150.000/orang dan IDR 500.000/orang jika ingin tanaman mangrove diberi papan nama.

Penting untuk diketahui sebelum berkunjung:

  1. Tidak diperbolehkan membawa kamera selain kamera dari handphone, ipad, smartphone dan kawan-kawan sejenisnya. Akan ada pemeriksaan di pos setelah pintu masuk. Jika terpaksa harus membawa kamera digital atau DSLR, maka kita harus membayar IDR 1.000.000.
  2. Tidak diperbolehkan membawa makanan dan minuman dari luar. Jangan khawatir, di dalam TWA terdapat kantin dengan suasana alam dan harga kuliner yang terjangkau. Kalau terlanjur membawa, harus dititipkan di pos atau ‘disimpan’ di dalam tas. * saya memaklumi hal ini, mengingat kesadaran masyarakat untuk tidak membuang sampah sembarangan masih sangat minim. Terbayanglah oleh saya, jika diijinkan membawa makan dan minum, pasti banyak sampah di mana-mana *
  3. Membawa kantong untuk sampah. Yuk, kita menjadi traveler yang cerdas. Dilarang keras untuk membuang sampah sembarangan. Kita bisa menyimpan sampah kita kemudian membuangnya di tempat sampah yang memang tersedia di beberapa area. *saya malah kepengen membawa trash bag rasanya ketika melihat perakaran pohon mangrove yang terbelit tumpukan sampah. Ingin rasanya memunguti sampah-sampah tersebut. Miris *
  4. Sebaiknya datang di pagi hari atau di sore hari menjelang matahari undur diri. Selain menghindari teriknya sengatan matahari, juga menghindari ramainya pengunjung taman wisata ini * saat saya menulis ‘ramai,’ percayalahbahwa itu benar-benar ramai, terutama di saat hari libur * Saya pribadi datang di pagi hari, sehingga saya nyaman dan puas berjalan menyusuri rimbunnya hutan layaknya menikmati hutan pribadi. btw, TWA ini buka jam 8.00-18.00.
  5. Jangan sampai salah kostum. Sangat tidak disarankan memakai high heels, wedges, platform ataupun sandal jepit mengingat akses alias jalanan untuk menyusuri TWA ini terbuat dari bambu atau kayu gelondongan yang berjajar rapi. Jangan memaksakan mengenakan pakaian yang ‘super kece yang lagi ngehits’ hanya demi mode dan foto OOTD kalau tidak ingin menderita karena kepanasan dan kegerahan. Pakailah pakaian yang nyaman dan mudah menyerap keringat * misalnya yang terbuat dari bahan katun dan linen *
  6. Membawa peralatan tempur guna melawan teriknya matahari. Topi atau scarf, handuk kecil atau sapu tangan, tissue, tabir surya alias sun lotion * ini wajib hukumnya *
  7. Memakai minyak atau lotion anti nyamuk bagi yang sensitive terhadap gigitan nyamuk. Maklum, namanya hutan Mangrove, lebat, lembab, berair yang berarti tempat yang cukup disukai para nyamuk.
  8. Bagi solo traveler, wajib hukumnya membawa tongsis agar tidak merepotkan orang lain, selain juga karena mungkin tidak bertemu dengan orang lain.

Taman Wisata Alam Agke kapuk (7)

Museum Nasional: “Untuk Kepentingan Masyarakat Umum”

Museum Nasional atau yang juga dikenal dengan nama Museum Gajah ini menyimpan dan memamerkan ratusan koleksi sejarah Indonesia, yaitu benda-benda yang mengandung nilai sejarah Indonesia dan benda-benda peninggalan dari masa pendudukan bangsa Eropa di Indonesia, antara abad ke-16 Masehi hingga abad ke-19 Masehi.

Koleksi tersebut meliputi benda-benda berupa perabot, meriam, gelas, keramik, textil dan aksesoris. Textil, ukiran, pola, dan aksesoris inilah yang cukup menarik rasa ingin tahu saya mengingat passion terhadap fashion.

Museum Nasional terletak di Jalan Medan Merdeka Barat No. 12. Museum ini merupakan salah satu ikon kota Jakarta, jadi tidak ada salahnya kalau kita menyempatkan diri untuk berkunjung ke Museum ini.

Selain arsitekturnya yang indah, koleksi sejarah yang tertata rapi, tiketnya pun terbilang murah, hanya . Kita bisa belajar sejarah Indonesia secara lengkap. Sesuai dengan tagline Museum, “Ten Nutte Van Het Algeemen” yang artinya, “Untuk Kepentingan Masyarakat Umum.”

Sebelum ke Museum, sebaiknya kita melihat website resmi Museum ini di www.museumnasional.or.id. Di website resminya, terpapar dengan jelas dan lengkap berbagai informasi mengenai Museum ini.

Mulai dari harga tiket, peta lokasi, peta area pameran, rute transportasi menuju lokasi hingga penjelasan mengenai koleksi sejarah yang disimpan dan dipamerkan Museum Nasional.

Saya pribadi, sudah lama sekali sejak kunjungan terakhir saya ke Museum ini. Betapa takjub melihat museum yang kini lebih lengkap dan lebih bagus menurut ingatan saya.

Terlebih lagi dengan ditambahnya satu bangunan lagi di kompleks museum ini untuk menambah koleksi yang dipamerkan, membuat saya makin terpana. Karena saya dan dwi pergi di hari Sabtu, pengunjung yang datang pun cukup banyak, termasuk turis mancanegara.

?

?

A Well Spent Saturday at Dea Club: Sport, Business, & Leisure

Finally, holiday is coming. Since it is term break in our school, I got a chance to finally do whatever I plan during holiday.

Jadi, ceritanya saya ingin sekali berenang. Sejak operasi sinus, saya belum pernah ‘benar-benar’ berenang. Jadi, semangat sekali rasanya waktu geng Bugar (bukan bundar) menawarkan ide untuk berenang.

FYI, geng ini didirikan karena saya dan teman-teman berniat kurus dan bugar. Biasanya, kegiatan kami sekadar jalan or lari ketka CFD (Car Free Day). Sesekali menyambangi gym, sauna, or swimming pool. Lalu diakhiri dengan wisata kuliner alias makan yang emmbuat olahraga kami tidak berpengaruh tampaknya.

Akhirnya weekend ini saya join mereka buat berenang. Kami memutuskan ke Menara Dea (Dea Tower) di Mega Kuningan. Di lantai 16, ada Dea Club dengan slogannya; Sports, Business & Leisure.

Cukup bermodalkan Rp 50.000 kita bisa sepuasnya berenang di rooftop, berjemur, nge-Gym, bersauna ria, dan mencicipi makanan di Dea café.

Ukuran kolam renangnya memang tidak besar, tapi karena tidak terlalu ramai, cukuplah buat memenuhi hasrat berenang saya dan teman-teman. Selain itu, fasilitas penunjang yang tersedia pun cukup memuaskan.

Tempat bilas yang cukup nyaman, loker yang berukuran besar, kamar ganti dan toilet yang bersih, serta Air hangat untuk bilas juga hairdryer.

Ah, how refreshing. Swimming in a rooftop with the sky as our view. 3 hours of swimming dengan mencoba berbagai gaya, mulai dari gaya bebas, gaya katak, gaya punggung, sampai gaya batu.

Practice how to duck dive teach by our master Dini who already have a diving license. Which is still unsuccessful. For almost 3 hours of swimming, without feeling tired at all.

Continue being in the sauna sambil rumpi ngalor-ngidul about our life and ended with filling our tummy in Domino’s Pizza, Bellagio.

It was definitely a well spent Saturday. Will be coming again to DEA club or even trying other rooftop swimming pool in Jakarta.

Operation Hours:

Sport club :
monday – friday : 06.30 a.m – 08.00 p.m
saturday : 06.30 a.m – 04.00 p.m
Cafe :
monday – friday : 08.00 a.m – 08.00 p.m
saturday : 08.00 a.m – 04.00 p.m

 

 

 

Nikmatnya Mie Ayam Fatmawati

Ini dia penampakan Mie Ayam Fatmawati. Mie ayam yang konon katanya ngehitz banget dikalangan pecinta mie ayam sedunia.

Sebagai salah satu pecinta mie ayam dan bakso. Kurang lengkap rasanya kalau belum mencoba mie ayam yang satu ini. Makanya, pas banget ketika saya sedang lapar tingkat dewa, pas banget si Candy mengajak makan mie ayam yang tidak lain dan tidak bukan adalah Mie Ayam Fatmawati.

Pertama kali melihat tempatnya, ah saya suka. Ada parkirannya, hehe. Secara saya ini biker jadi-jadian yang beum canggih parkir di sembarang tempat. Ketika masuk ke dalam, lumayan lega dan bersih. Dan yang terpenting, lumayan banyak kipas anginnya yang berarti adem.

Dari segi harga, tidak jauh berbeda dengan mie ayam lainnya, bisa dibilang cukup bersaing.

Yang menarik di sini adalah jenis mie yang disajikan. Pelanggan bias memilih jenis mie kecil dan keriting yang disebut Mie Ayam Kecil (Rp 11.000 tanpa bakso) atau jenis mie lebar semacam mie kwe tiaw yang disebut Mie Ayam Lebar (Rp 12.000 tanpa bakso). Saya pribadi lebih memilih Mie Ayam Kecil.

Tidak lama berselang, datanglah pesanan kami, Mie Ayam kecil + Bakso. Enaknya di sini, kita bisa menambahkan lagi irisan daun bawang semau kita. I love it! Saya ini pecinta sayuran, so I really love it.

Saos sambal yang disediakan pun ada yang berupa saos ‘biasa’ yang you know lah, saos tidak sehat yang entah terbuat dari cabe segar atau tidak lalu dicampur ubi atau singkong, tapi terkadang malah bikin mie ayam tambah maknyus. Ada juga saos sambal Belibis.

Setelah dicicipi, nyam nyam nyam, nikmatnya. Entah karena sedang efek kelaparan atau karena memang enak sekali. Mie ayam ini hampir mirip Bakmi Gang Kelinci atau Es teller 77. Nikmat dimakan tanpa saos maupun dengan saos. Cuma 1 yang agak kurang, baksonya kurang ‘menggigit.’

Anyway, just try it out and taste it by yourself. Afterall, each person have different preference.

Dpopos Glassware: Pusatnya Glassware Lucu-lucu

[Photo credit: gogirlmagz]

Dpopos merupakan nama sebuah toko di kawasan Muara Karang R4 Timur No. 14, Jakarta. Lokasinya tidak jauh dari Pluit Village. Dari Pluit Village kita tinggal lurus saja ke arah PIK (pondok Indah Kapuk). Setelah melewati Jembatan, disebelah kanan jalan, terdapat bakery Sun Merry. Kita tinggal belok kanan, masuk ke dalam gang di sebelah Sun Merry itu. Lalu terus saja, masuk gerbang perumahan. Tidak jauh dari gerbang, di sebelah kiri, disitulah toko Dpopos berada.

Toko Dpopos bisa dibilang merupakan toko glassware terlengkap di Jakarta. Mereka menjual mulai dari berbagai macam drinking jar, toples (jar), sedotan, tutup jar, perlengkapan pesta, dan berbagai pernak-pernik lucu bertema vintage, shabby chic, dan warna-warni.

Jar-nya pun mulai dari yang merk-nya Mason Jar (Ball) sampai yang biasa saja. Harganya sangat bersaing, mulai dari Rp 10.000 sampai ratusan ribu rupiah. Mereka pun menawarkan harga yang jauh lebih murah untuk para reseller atau pelanggan yang membeli dalam jumlah besar.

5Vhx-njd10802736_1545212692362095_535984399_nBnwVEG_IMAA16ha1389953_1474672499480801_183838260_n

Pertama kali saya mengenal Dpopos ketika saya mencari toko yang menjual mason jar, drinking jar, daisy lid, dan paper straw. Saat itu saya sedang gemar-gemarnya membuat infused water  dan salad in a jar, sementara penjual jar semacam itu belum banyak dikala itu.

Sampai akhirnya saya search diinstagram dan menemukan Dpopos. Sejak itu saya menjadi followernya dan membeli beberapa produknya. Saat itu, Dpopos belum ada toko offline-nya. Sejak mereka resmi mebuka toko di daerah Muara Karang, saya senang bukan main.

Jadi, hari itu, setelah sekian lama berniat menyambangi toko Dpopos, akhirnya kesampaian juga. Dengan berbekal google maps, GPS, dan no telp Dpopos, sampailah kami di lokasi.

My first impression was “oh My God, sooo cuteee. So many cute stuff in here. Aaaaa, I want it, I want this, I want that, Oh that one too… Accck… Control yourself will you Mel!”  It is true, barangnya bener-bener lucu-lucu.

Harganya pun masih terjangkau kantong. Belum lagi, bentuk jar yang sungguh lucu dan unik serta tersedia dalam berbagai macam dan ukuran, bener-bener bikin lapar mata. Rasanya mau borong itu semua.

But, I really have to control myself. Just buy things that we really need at this moment. Akhirnya, setelah puas mengelilingi toko * sayangnya ukuran toko ini sangat kecil. Semoga nantinya bisa sebesar ACE Hardware, biar puas ngelilinginnya heheheh… * Kami putuskan untuk membeli beberapa jar, daisy lid, colorful lid, paper straw, cute plastic straw, and some party supplier. Dalam hati pun saya berjanji, ” I’ll Be Back! “

Mama di depan toko Dpopos.

Bagi kalian yang tertarik, Dpoposlah tempat yang tepat untuk hunting glassware dan party supplier yang kalian cari:

Alamat: Muara Karang Blok R4 Timur No. 14 (Buka 8 am – 7 pm)

No telp toko: 021 6678594

Instagram: @Dpopos atau @Dpoposgift

Twitter: @dpopos

Line: Dpopos

Whatsapp: 08170042498

Restoran DEMENU

One day, we went to this restaurant in Lotte Mall Bintaro called Demenu Restaurant. We, actually I, was attracted on its interior design. There is some ‘vintage’ feels when we get inside the restaurant. While the menu were handwritten on the blackboard in front of the ‘door’.

Intinya, restoran ini comfy  banget sampai-sampai mengundang saya sekeluarga untuk masuk dan mencoba masakan di restoran ini. Setelah bolak-balik menu dan mutusin mau makan apa, ga lupa buat selfie * narsis tetep on walopun lagi laper berat*

Ga lama menanti, datanglah pesanan yang ditunggu-tunggu. Saking lapernya kita semua, sampai-sampai ritual memfoto makanan sebelum dimakan lewat sudah alias dah ga kepikiran * perasaan harusnya ritual berdoa dulu ya, ngapa jadi malah ritual foto, ck ck ck, jaman emang udah berubah * Lihat saja mama yang sudah dengan lahapnya menikmati nasi merah dengan iga bakarnya * yummy *

Sepertinya restoran ini bakal jadi salah satu favorit keluarga. Why? because they served red rice. Nasi merah yang emang udah jadi makanan harian kita di rumah. So, mama pastinya berbunga-bunga kalo makan di sini. Ga perlu cerewet ngingetin anaknya untuk mengurangi makan nasi putihnya.

Menu yang kami pilih antara lain, Jeruk kelapa, Lemon squash, Jus jeruk segar, teh tawar hangat, Iga panggang demenu, Nasi goreng kambing ala demenu, Tahu gejrot, Tumis kailan saus tiram, Sop buntut, daging sapi cabe ijo, dan tentunya nasi merah. Untuk menu lengkap beserta harganya bisa dilihat di https://www.foodpanda.co.id/restaurant/i5bq/demenu-cafe-and-resto.

Bisa dibilang, restoran ini menawarkan banyak pilihan makanan berbau Indonesia * well, they did called themselves as an Authentic Indonesian Bistro *. Dan jujur, bagi kami, masakan di restoran Demenu ini sesuai banget sama lidah kami yang memang senang dengan makanan yang ‘berani bumbu.’ Makan masakan di sini seakan memakan masakan di rumah sendiri.

Bahkan mama kami, dengan semangat dan inisiatifnya, menyapa sang pelayan dan memberikan 2 jempol sambil berkata, “mas, masakannya enak banget, pas.” Whoaaaaa, baru kali ini beliau seperti itu di restoran. Gawat juga nih kalo sering-sering main ke mall yang ada restoran Demenu, bisa-bisa mama langsung ajak melipir kesitu.

Alamat:

Lotte Mall, Ground Floor. Bintaro (021) 293 10806

Grand Indonesia Shopping Town East Mall. Jakarta (021) 235 80488

facebook: https://www.facebook.com/demenu.resto

twitter: https://twitter.com/demenuresto

instagram: http://instagram.com/demenuresto

 

Mengenal Jenis Layang-layang di Museum Layang-layang Indonesia

Kala itu, liburan telah tiba. Waktunya kami mengeksplorasi dan memperkaya pengetahuan mengenai Indonesia.

Teringat akan permainan tradisional yang sering kami mainkan saat masih kanak-kanak, yaitu layang-layang. Kamipun beranjak menuju Museum Layang-layang Indonesia di daerah Pondok labu, Jakarta Selatan.

img_3074

Begitu masuk gerbang Museum, kami disambut dengan pemandangan yang sangat asri. Lanjut memasuki ruang dalam museum, kamipun terkagum-kagum.

img_3055

Meskipun ruangannya tidak terlalu besar, namun ruangan tersebut dimanfaatkan dengan sangat baik. Banyak sekali layang-layang super besar yang tergantung di dinding maupun di langit-langit. Ada juga layang-layang dalam kotak kaca ataupun yang diletakkan di lantai.

img_2996

img_3013

Kami semakin tidak sabar untuk mengetahui lebih lanjut mengenai museum ini. Pemandu wisata museum pun mulai menjelaskan asal muasal museum ini.

img_2952

Museum layang-layang didirikan oleh seorang pakar kecantikan bernama Endang W. Puspoyo yang memiliki passion terhadap dunia layang-layang. Beliau menekuni dunia layang-layang sejak tahun 1985 yang diawali dengan membentuk merindo Kites & Gallery. Sejak itu, beliau secara aktif mengikuti berbagai festival layang-layang baik di dalam maupun di luar negeri. Karena cintanya itu, maka beliau mendirikan Museum layang-layang pada tanggal 21 Maret 2003 untuk memperkenalkan layang-layang dari seluruh daerah di Indonesia.

Kami mendapat pengetahuan baru. Bahwa salah satu permainan tradisional Indonesia ini sudah ada sejak zaman prasejarah. Bahwa setiap daerah di Indonesia memiliki layang-layang khas daerahnya masing-masing.

Koleksi Layang-layang Purba

Layang-layang sudah ada sejak zaman prasejarah. Hal ini dibuktikan dengan ditemukannya Lukisan layang-layang dalam gua di Kabupaten Muna, Sulawesi Tenggara. yang dilukis dengan menggunakan getah daun.

img_3030

Layang-layang purba umumnya terbuat dari daun ubi hutan atau gadung. Kerangkanya terbuat dari bamboo dan benangnya terbuat dari serat daun pandan duri.

img_3008

Koleksi layang-layang 2 dimensi (2D) dari berbagai daerah di Indonesia

img_3001

img_3017

img_3011

img_3031

img_3045

img_3047

Koleksi layang-layang 3 dimensi (3D) yang ada di museum ini

Layang-layang berbentuk rangkaian lingkaran merupakan bagian dari tubuh layang-layang berbentuk naga yang panjangnya bisa mencapai 15-250 meter.  Sekilas mirip naga kecil (liong) kalau dalam pertunjukan barongsai. Jika diterbangkan, layang-layang naga biasanya dilengkapi alat yang bisa mengeluarkan asap merah dari mulutnya.

img_3040

img_2998

Sang pemandu juga bercerita kalau layang-layang yang terkenal dari Indonesia, terutama buatan workshop museum adalah layang-layang berbentuk ikan Koi.

img_2999

Layang-layang ini harganya mencapai 15 juta rupiah. Namun akhir-akhir ini, layang-layang bentuk koi tersebut sering diklaim asli buatan Malaysia.

img_2953

img_2978

img_2955

Berikut ini adalah alat yang digunakan pelayang jika mereka menerbangkan layang-layang berukuran sangat besar, seperti layang-layang 3D. Mereka akan duduk di alat tersebut sembari menerbangkan layang-layang.

img_3043

Koleksi layang-layang berukuran kecil

img_3000

 

Masih ingat rasanya bermain layang-layang?

Ingatkah sensasi keberhasilan menerbangkan layang-layang?

 

Operasional

Buka setiap hari, kecuali hari libur nasional
Buka: 09:00 – 16:00 WIB
HTM:  Rp. 15.000

Alamat

Jl H Kamang No.38, Pondok Labu, Jakarta Selatan 12450,
No. Tlp 021.7658075 –  021. 7505112
Fax. 021. 75904863

Serunya Membuat Layang-layang di Museum Layang-layang Indonesia

Generasi 90an mungkin tidak ada yang tidak mengenal layang-layang. Permainan tradisional yang umumnya dimainkan disiang hari hingga sore hari, kala angin sedang berhembus kencang. Selain bantuan angin, diperlukan juga keahlian serta teknik untuk menerbangkannya.

img_3057

Kalau biasanya kita membeli layang-layang. Sekarang saatnya membuat layang-layang sendiri. Museum layang-layang Indonesia memberikan kesempatan bagi pengunjung untuk dapat pengalaman membuat layang-layangnya sendiri yang nantinya bisa dibawa pulang.

Tahapan membuat layang-layang:

Mengelem rangka layang-layang untuk ditempel di kertas

Menggunting kertas sesuai ukuran rangka

Mengelem sisi pinggir kertas ke rangka layang-layang

Menghias, melukis, atau menggambar di atas layang-layang

Layang-layang siap diterbangkan

img_2993

 

Sebelum kita menerbangkannya, pemandu wisata museum akan menempelkan ekor layang-layang dan memasangkan tali. Lalu, layang-layangpun siap mengudara.

img_3060img_3061img_3072

Menarik bukan?

Pernahkah Anda membuat layang-layang sendiri daripada membelinya?

Seperti apa layang-layang yang Anda buat?

Puaskah Anda?

Jelajah Museum Bank Indonesia

Kali ini, saya dan partner in crime saya, which is my mom, meneguhkan diri untuk menjelajahi museum Bank Indonesia. Museum yang selalu digadang-gadang teman saya Dwi sebagai salah satu museum terkeren dan tercanggih di Jakarta. So, kami putuskan untuk angkat kaki seribu, naik KRL commuter line dari stasiun tanjung barat.

Untuk menuju museum Bank Indonesia, seterusnya saya tulis museum BI, naik kereta  menuju stasiun kota, lalu kita tinggal berjalan kaki saja menuju lokasi. Maka sampailah kami di museum BI.

Alamat museum:

Jl. Pintu Besar Utara No. 3
Jakarta Barat – Indonesia
Telp. 62-21-2600158
Fax.62-21-2601730
Email: museum@bi.go.id

Sesampainya disana, kami disambut oleh sekuriti yang mengecek barang bawaan kita. Serasa berada di bandara atau di mall Senayan City. Kita diwajibkan melalui metal detector.

Setelah itu, naik satu lantai untuk menitipkan barang bawaan. Saya sarankan untuk membawa tas kecil, karena hanya HP, dompet dan kamera yang diperbolehkan dibawa pengunjung museum.

Setelah beres masalah penitipan, kita tinggal memasuki area museum, mengisi buku tamu dan menerima tiket masuk. Tapi jangan khawatir, tiket ini GRATIS alias FREE.

Selanjutnya, mulailah kami menjelajahi museum tua yang indah nan megah ini.

Museum BI - 3

Seragam para penguasa Jakarta dahulu kala.

Seragam para penguasa Jakarta dahulu kala.

Alat tansportasi bank zaman dulu. I really love this old red bike.

Alat tansportasi bank zaman dulu. I really love this old red bike.

Mama serius banget melihat dan membaca setiap koleksi museum BI.

Mama serius banget melihat dan membaca setiap koleksi museum BI.

Tokoh favorit saya. man who inspired me since I was young till now.

Tokoh favorit saya. The man who inspired me since I was young till now. BJ. Habibie.

Ada pohon ditengah museum.

Ada pohon ditengah museum.

Museum BI - 18

Museum BI - 19

Gambar di tengah adalah gambar dewa Hermes dalam mitologi Yunani kuno. Hermes adalah dewa perdagangan, God of Trade.

Museum BI - 21

Gedung tua yang megah.

Gedung tua yang megah.

Suka banget sama koridor menuju ruang penyimpanan emas batanga.

Suka banget sama koridor menuju ruang penyimpanan emas batangan.

Mengamati Peninggalan Maskapai Dagang Belanda (NHM Batavia) di Museum Bank Mandiri

Dalam rangka memenuhi keinginan untuk menjelajahi museum-museum yang ada di Jakarta, maka kami pun manyambangi Museum Bank Mandiri di dekat Kota Tua jakarta.

Bangunan museum pada mulanya adalah kantor Nederlandsch Handel-Maatschappij (NHM) atau Netherlands Trading Corporation alias Maskapai Dagang Belanda. Kantor pusat NHM berada di Amsterdam, sedangkan Batavia (nama Jakarta tempo dulu) merupakan kantor cabangnya.

NHM Batavia dikenal dengan sebutan Factorij atau factory dalam bahasa Inggris yang berarti agen dagang di negara asing. Setelah Indonesia merdeka, NHM dinasionalisasi (1960), lalu berkembang menjadi Bank Exim yang berpusat di Gedung Factorij. Bank Exim kemudian bergabung ke dalam Bank Mandiri (1999). Sejak 2005 Gedung Factorij difungsikan sebagai Museum Bank Mandiri.

img-20131012-wa0033

Di lantai satu terdapat kantor inspektur gula (Suiker Bergcultuur Inspecteur) di sebelah kiri dan kantor direksi di sebelah kanan.

Di lantai dasar terdapat Pelayanan effecten (efek atau surat berharga) dan safe deposit di sebelah kiri sementara Ruang Treasury (Kas Afdeeling), Ruang Pembukuan (kamar khusus untuk buku besar), dan Ruang Kasir China (Chineesche Kas) di sebelah kanan.

 

museum-bank-mandiri-20

Di sayap selatan terdapat Ruang Perlengkapan Bank, Ruang Kearsipan dan Komunikasi, serta Ruang ATM.

museum-bank-mandiri-27

Buku besar di bawah ini disebut Groot Boek Nederlandsche Handel Maatschappij NV (NHM) 1833-1837img_6429

Beberapa koleksi museum ini.

img-20131012-wa0029img-20131012-wa0030dsc_8091dsc_8050dsc_8073dsc_8075

Arsitektur Museum Bank Mandiri

img_6530img_6520museum-bank-mandiri-15img_6531img_6524

Bakmi Gang Kelinci Favorit Keluarga

Jalan Kelinci Raya, Pasar Baru, Jakarta Pusat

Jalan Kelinci Raya, Pasar Baru, Jakarta Pusat (Photo credit: Wikipedia)

Siapa orang Jakarta yang tidak mengenal bakmi gang kelinci. Jangankan bakminya, gang Kelinci nya pun sudah sangat terkenal, sampai-sampai ada lagunya (tante Titik Puspa kalo ga salah yang nyanyiin). Anyway, Bakmi gang kelinci ini salah satu restoran favorit keluarga saya. Terlebih lagi adik saya yang motto makannya kebetulan sama dengan motto Bakmi Gang Kelinci yaitu, ENAK, MURAH, dan BANYAK.

Bersama sepupu, menikmati es longan yang nikmat

Awalnya, saya makan bakmi ini di salah satu cabangnya yang sudah tersebar di mall-mall besar di Jakarta. Tapi, karena penasaran, akhirnya saya kesampaian juga mencicipi bakmi ini di tempat asalnya bermula, yaitu di gang kelinci, Pasar Baru. Sekali makan keenakan, dua kali makan, ketagihan. Jadilah, saya googling si Bakmi Gang Kelinci ini karena rasa penasaran yang amat sangat.

Ternyata, Pada tahun 1957, Bapak Hadi Sukiman menjual bakmi dengan menggunakan sebuah gerobak sederhana di Jl. Pintu Besi Pasar Baru, di depan Globe Theater (Moyen).

Pada tahun 1962, gerobak itu dipindahkan ke Jl. Belakang Kongsi No. 16 Pasar Baru. Saat itu, bakmi Bapak Hadi ini lebih dikenal dengan nama Bakmi Gang Kelinci (BGK) atau Bakmi si Jangkung (mungkin Bapak Hadi Sukiman itu tinggi alias jangkung yah)

Pada tahun 1978, BGK pindah ke lokasi baru yang berjarak 15 meter dari lokasi sebelumnya. HAl ini dikarenakan, pelanggan BGK sudah banyak, sehingga dibutuhkan tempat yang luas dan nyaman untuk para pelanggan setia BGK.

Pada tahun 1987, BGK mulai mengembangkan sayapnya dengan cabang pertama di Jl. Wijaya, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Sekarang, sudah ada 8 cabang Bakmi Gang Kelinci yang tersebar di seluruh Jakarta.

Es Longan: jelly + biji selasih + buah leci

Nasi goreng omelet (atas) dan mie ayam pangsit kuah (bawah). Yummy!!!

Jadi seperti itulah kira-kira sedikit sejarah BGK. Nah, dari semua makanan dan minuman di BGK. Yang menjadi favorit saya dan keluarga tidak lain dan tidak bukan, ya bakmi ayam. Selain itu, ada juga nasi goreng omelet, ayam kuluyuk, udang goreng asam manis dan es longan. Mama saya bilang, mie ayam BGK sangat enak, bahkan lebih nikmat jika dimakan tanpa tambahan saos atau sambal. Intinya, sedap banget deh mie ayamnya. Recommended banget.

Mie ayam jawara Gang Kelinci favorit mama.

Mie ayam jawara Gang Kelinci favorit mama.

Es Kacang Merah Mr. Bakso

Kacang merah dijadikan es? bukannya kacang merah itu sayuran ya? Mungkin itu sedikit dari banyak pertanyaan yang muncul ketika pertama kali mendengar tentang es kacang merah.

Awalny, saya juga agak takut untuk mencoba es ini. Hmmm… apa ya rasanya? takut sekaligus penasaran. “Kalau es ini berani dijual, maka seharusnya es ini rasanya enak,” pikir saya. Jadilah saya memberanikan diri memesannya. Ternyata, es ini enak sekali. Maknyusss!!! kalau kata Pak Bondan mah.

Kacang merah yang lembut dipadukan dengan gula jawa yang manis, nikmat sekali. Alhasil, saya selalu memesan es ini setiap kali menyambangi restoran cepat saji bernama Mister Baso ini.

Mengenal Eksistensi Suku Tionghoa di Indonesia melalui Taman Tionghoa

Kali ini saya ingin memperkenalkan Taman budaya Tionghoa yang berada di Taman Mini Indonesia Indah. Mungkin belum banyak pengunjung yang mengetahui keberadaan taman ini. Terlebih lagi letaknya yang berada di bagian belakang kompleks taman mini.

Bagi saya yang biasanya jalan kaki menjelajahi taman mini, bisa dibilang jarang sekali saya mencapai bagian belakang taman ini. Hingga suatu hari, saya memanfaatkan penyewaan sepeda dengan maksud mengelilingi seluruh bagian dalam kompleks taman mini. Dan berhentilah saya, di sebuah taman yang khas sekali dengan budaya Tionghoa.

dsc05474dsc05493

Tujuan dibangunnya taman ini sebenarnya agar masyarakat luas menyadari bahwa suku Tionghoa merupakan bagian dalam sejarah dan budaya bangsa Indonesia. Taman ini memamerkan berbagai artefak, foto-foto, arsitektur, taman, dan lain-lain yang berkaitan dengan eksistensi suku Tionghoa di Indonesia.

dsc05475dsc05481dsc05479dsc05486dsc05489

Baca juga:
Taman budaya tionghoa
Perkembangan taman Budaya Tionghoa di TMII
Taman Budaya Tionghoa Indonesia

One Stop Holiday di Taman Mini Indonesia Indah

Taman Mini Indonesia Indah. Sesuai dengan namanya, taman ini merupakan bentuk mini atau miniatur Indonesia yang kaya budaya dan indah alamnya.

Taman ini merupakan lokasi wisata wajib dikalangan pelajar Indonesia. Bahkan, taman ini menjadi salah satu destinasi utama para wisatawan lokal dan mancanegara.

dsc055232september07cimg1240

Kalau kita mengenal jargon one stop shopping untuk beberapa mall yang ada di Jakarta, maka TMII saya tetapkan sebagai one stop holiday. Alasan utamanya adalah, di TMII, kita bisa menemukan banyak pilihan untuk rekreasi atau sekadar memanjakan mata dengan kekayaan rumah adat yang ada di setiap provinsi di Indonesia.

dsc05517

Di tengah-tengah taman, terdapat miniatur kepulauan yang ada di Indonesia. Ada juga anjungan yang mewakili setiap provinsi di Indonesia. Bagi penyuka permainan air, ada Snowbay. Bagi petualang museum, di TMII-lah tempatnya berdiri sebagian besar museum. Bagi anak-anak, terdapat Istana anak-anak dan juga Taman Legenda.

dsc05460dsc05453dsc05466

Bagi yang suka nonton film, ada teater keong mas dan teater untuk menonton film 4 dimensi. Bagi penyuka hewan, ada taman burung dan reptil. Bagi penyuka tanaman dan bunga, ada taman anggrek dan taman keong mas.

dsc05501

Bagi yang senang menonton pertunjukan budaya, di beberapa pengelola anjungan hampir setiap minggunya mengadakan pertunjukan budaya. Bagi yang suka olahraga, setiap minggu pagi ada yang namanya minggu ria. Bagi yang ingin beribadah sesuai dengan agamanya masing-masing, TMII pun menyediakan rumah ibadahnya.

Terakhir, bagi pengunjung yang hendak menikmati pemandangan Taman Mini Indonesia Indah bisa memanfaatkan kereta aeromovel, kereta biasa, mobil keliling, skylift, ataupun berbagai jenis sepeda.

dsc05447
dsc05450dsc05521

Tidak lupa, puluhan toko souvenir yang menjajakan cendera mata khas Taman Mini Indonesia Indah dan juga setiap provinsi di Indonesia bisa dengan mudah kita temui di sini.

Untuk lebih jelasnya, ini dia tempat yang bisa kita kunjungi di TMII. Meskipun sebagian besar tempat tersebut belum semuanya saya jelajahi.

Bangunan keagamaan 

  • Masjid Pangeran Diponegoro
  • Gereja Katolik Santa Catharina
  • Gereja Protestan Haleluya
  • Pura Penataran Agung Kertabhumi
  • Wihara Arya Dwipa Arama
  • Sasana Adirasa Pangeran Samber Nyawa
  • Kuil Konghucu Kong Miao

Sarana rekreasi

  • Istana Anak-anak Indonesia
  • Kereta gantung
  • Perahu Angsa Arsipel Indonesia
  • Taman Among Putro
  • Taman Ria Atmaja
  • Desa Wisata
  • Kolam renang Snow Bay

Taman

  • Taman Anggrek
  • Taman Apotek Hidup
  • Taman Kaktus
  • Taman Melati
  • Taman Bunga Keong Emas
  • Akuarium Ikan Air Tawar
  • Taman Bekisar
  • Taman Burung
  • Taman Ria Atmaja Park, panggung pagelaran musik
  • Taman Budaya Tionghoa Indonesia
  • Taman Legenda

Museum

  • Museum Purna Bhakti Pertiwi
  • Museum Indonesia
  • Museum Purna Bhakti Pertiwi
  • Museum Keprajuritan Indonesia
  • Museum Perangko Indonesia
  • Museum Pusaka
  • Museum Transportasi
  • Museum Listrik dan Energi Baru
  • Museum Telekomunikasi
  • Museum Penerangan
  • Museum Olahraga
  • Museum Asmat
  • Museum Komodo dan Taman Reptil
  • Museum Serangga dan Taman Kupu-Kupu
  • Museum Pusat Peragaan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
  • Museum Minyak dan Gas Bumi
  • Museum Timor Timur (bekas Anjungan Timor Timur)
  • Museum Peranakan Tionghoa

Teater atau bioskop

  • Teater IMAX Keong Emas
  • Teater Tanah Airku
  • Teater 4D

Jadi, sudahkah Anda mengunjungi TMII? Butuh berapa lama bagi Anda untuk menjelajahi seluruh bagian di dalam TMII?

Baca juga:
Excursion to Taman Mini Indonesia Indah – Week 11 (aisyear2.wordpress.com)
Miniatures In Jakarta Land: A Dream-Within-A-Dream (igneousbomb.wordpress.com)
Taman Mini: I held a snake edition (teachingtravelingwriting.wordpress.com)

Menyambangi Konservasi Penyu Sisik di Pulau Pramuka, Kepulauan Seribu

dsc00037dsc00036dsc00045

Berawal dari Muara Angke, kami naik perahu menuju Pulau Pramuka. Di pulau ini, kami mengunjungi tempat konservasi penyu.

Kala itu, beberapa penyu dewasa sedang dalam perawatan, ada juga penyu yang mengalami cacat sehingga tidak dapat dilepas lagi ke lautan. Petugas konservasi mengatakan kalau penyu ini tidak akan bisa bertahan hidup jika dilepas ke laut terbuka.

dsc00059

Selain penyu dewasa, disini juga ada banyak bayi-bayi penyu atau biasa disebut tukik. Tukik-tukik ini dipersiapkan untuk nantinya dilepas ke lautan. Mengapa penyu dikonservasi? Karena penyu merupakan salah satu hewan yang terancam punah.

dsc00051

Mendengar penjelasan dari petugas konservasi dan memandangi penyu-penyu yang kian sulit ditemui di lautan ternyata telah memakan waktu cukup lama. Kami pun segera beranjak dan berjalan-jalan di Pulau Pramuka ini.

Pulau Pramuka merupakan pusat administratif (Ibukota) Kabupaten Kepulauan Seribu. Jadi jangan heran jika di pulau ini kita bisa menemukan gedung pemerintahan, sekolah, masjid, rumah makan, serta fasilitas umum lainnya.

dsc00092

Di Pulau Pramuka, kami juga mengunjungi rumah salah satu penjaga taman nasional kepulauan seribu. Bagaimana kami mengenal beliau? Rupanya teman-teman seperjalanan saya ini yang mengenal beliau.

Pembicaraan pun menjadi panjang, terlebih lagi sembari menikmati hidangan seafood. Mulai dari cerita pengalaman beliau sebagai penjaga taman nasional, apa saja yang dikonservasi, kesulitan yang dihadapi, sampai kisah-kisah mistis yang beredar di kepulaun seribu. Semua dibahas habis. Sampai-sampai tak terasa waktu menunjukkan pukul 12 malam.

What a nice visit. Terima kasih sudah menjaga dan mengawasi kelestarian lingkungan di daerah kepulauan seribu ya pak. Respect!

Bagaimana dengan Anda?

Sudahkah menjaga kelestarian lingkungan dengan cara Anda sendiri?

Berlabuh Sejenak di Nusa Keramba, Kepulauan Seribu

dsc00204

Selain mengunjungi berbagai pulau yang ada di Kepulauan Seribu dan memuaskan diri snorkeling di sekitaran kepulauan seribu, tidak ada salahnya jika kita berlabuh sejenak di suatu tempat bernama keramba.

snorkeling di pulau seribu4-001Keramba ini berada di tengah laut dan sebagian bahkan mengapung di laut. Tidak jauh dari lokasi konservasi dan budidaya terumbu karang. Di kawasan ini, kita bisa menikmati indahnya lautan luas, karena sejauh mata memandang, ke manapun kita memandang, birunya laut menjadi perhatian.

dsc00185

snorkeling di pulau seribu6-001Di keramba ini kita bisa santai sejenak di restoran Nusa Keramba dan menikmati hidangan seafood yang disajikan sebagai menu utama. Kita juga bisa mencoba bermain jetski. Atau sekadar berkeliling keramba untuk melihat berbagai jenis ikan yang memang diternakkan di sini.

img_20130519_141613

Ikan yang menarik perhatian saya adalah ikan yang saya lihat di film finding nemo yang bersama-sama membentuk panah demi menunjukkan arah jalan bagi Dori dan Marlin. Lalu, yang menjadi favorit pengunjung, yaitu ikan hiu, atau tepatnya, bayi ikan hiu. Puluhan bayi ikan hiu memang berada ditangkar di keramba ini.

Meskipun tergolong bayi, hiu tetap saja hiu, sebagai carnivora yang paling ditakuti di sejagad lautan luas, memiliki gigi yang super tajam yang siap memangsa siapapun yang mengusik ketenangannya. Lihat saja kondisi ikan yang menjadi makan siang mereka saat itu, dagingnya bersih tak bersisa, hanya menyisakan tulang belulang saja.

snorkeling di pulau seribu5-001Pernahkah Anda berlabuh di Nusa keramba?
Berenang bersama bayi-bayi hiu?
Beranikah Anda?

Mengelilingi Pulau Semak Daun, Kepulauan Seribu

dsc00065

Pulau Semak Daun menjadi salah satu destinasi wisata di Kepulauan Seribu. Terakhir kali saya menginjakkan kaki di sini, tidak ada dermaga indah yang menyambut saya, terlebih lagi warung makanan. Pulau ini bisa dibilang tak berpenghuni.

dsc00064

Akan tetapi, sekarang telah dibangun dermaga yang rapi dan terdapat pula warung penjaja makan dan minum.  Pulau ini jadi terlihat ‘terawat.’ Penasaran dengan kondisi pulau semak daun terkini, saya pun mengelilingi pulau mengikuti garis pantai.

Kaget bukan main, di salah satu sudut pulau ini, terdapat tumpukan bahkan bisa dibilang gunungan sampah yang sebagian besar berisi sampah kardus makanan dan minuman. Sungguh amat disayangkan, pulau yang indah ini ternodai dengan keberadaan sampah.

Hal ini mengingatkan saya untuk menjadi wanderer yang bertanggung jawab. Wanderer yang tidak meninggalkan ‘jejak’ yang memberikan dampak negatif terhadap lingkungan yang dikunjunginya.

Salah satu caranya adalah dengan tidak membuang sampah di tempat yang saya kunjungi terutama tempat yang tidak mempunyai tempat pembuangan sampah akhir atau pengolahan sampah. Solusinya adalah bawa kembali sampahmu!

Menyusuri Kota Tua-Pasar Asemka-Masjid Istiqlal

Kali ini, libur akhir pekan kami habiskan dengan menyusuri Kota TuaPasar AsemkaMasjid Istiqlal. Saat itu, cuaca cukup bersahabat, panas berawan, panas yang tidak terlalu menyengat di kulit.

img_20130209_105120img_20130209_104944

Akan tetapi, suasana di Kota Tua sungguh tidak bersahabat. Di sana pengunjung memenuhi setiap sudut Kota Tua, hingga agak sulit rasanya untuk menikmati atau sekadar bernostalgia  dengan bangunan kuno khas Belanda yang ada di sana.

img_20130209_105321dsc05434Pasar Asemka

Puas berjalan-jalan di Kota Tua, kamipun melanjutkan perjalanan menuju Pasar Asemka. Pasar ini sangat terkenal dikalangan masyarakat luas. Di pasar ini kita bisa membeli alat tulis dan kantor (ATK), tas, souvenir, mainan anak-anak, serta aksesoris dengan harga yang jauh lebih murah daripada di toko atau tempat lainnya. Modelnya pun sangat beragam.

[credit: gogirlmagz.com]

[credit: gogirlmagz.com]

Terlebih lagi kalau kita membelinya dalam jumlah grosiran, harga yang ditawarkan benar-benar miring. Hanya saja, kondisi pasar ini memprihatinkan. Jangan berharap kalau kondisi pasarnya bakal nyaman. Apalagi kalau pasar ini diguyur hujan. Selain becek, macet pula.

Masjid Istiqlal

Selesai berkeliling dan berbelanja di pasar Asemka, kamipun memanfaatkan Busway untuk menuju perhentian terakhir kami, yaitu Masjid Istiqlal (Istiqlal = Kemerdekaan).

[credit: indonesiakaya.com]

[credit: indonesiakaya.com]

Selain memang sudah waktunya beribadah, kamipun hendak mengingat kembali sejarah Masjid yang menjadi salah satu ikon di ibukota Jakarta.

Masjid Istiqlal berdiri di atas lahan seluas 9,5 Hektar yang meliputi bangunan masjid, taman, tempat parkir, dan kolam air mancur.

Bangunan masjid sendiri terdiri dari beberapa bagian, antara lain gedung utama, gedung pendahuluan, teras raksasa, menara, dan lantai dasar.

2013-05-10-00-02-20_deco dsc05853

Lantai utama Masjid Istiqlal mampu menampung jamaah hingga 16.000 orang. Sementara, pada sisi kanan, kiri, dan belakang terdapat lantai bertingkat 5 yang mampu menampung jamaah hingga 61.000 orang.

[credit: indonesiakaya.com]

[credit: indonesiakaya.com]

Pempek Palembang 88

Pempek, siapa sih yang tidak mengenal pempek. Makanan khas dari Palembang yang sudah terkenal seantero jagad raya.

Berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi ke-4, pempek berarti makanan khas daerah Palembang dari adonan tepung terigu dan ikan, dimakan dengan kuah yang bercuka.

Saking terkenalnya, pempek ini sudah menjadi makanan favorit hampir semua orang di bumi Indonesia. Rasanya kalau sudah mendengar kata pempek, perut mulai meronta, air liur seakan mau menetes, dan lidah mulai merasakan nikmatnya.

Khusus untuk pempek, Saya pernah mencoba pempek musi raya, pempek pak raden, pempek pak jenggot, pempek di food court, pempek di kondangan, pempek dari tetangga, sampai pempek abang-abang gerobak dorong juga pernah saya cicipi.

Jujur, tidak ada yang sangat berkesan dari semua pempek itu Sampai akhirnya, saya menemukan pempek tambatan hati. Pempek yang mengalahkan semuanya. Dan pempek itu, tidak lain dan tidak bukan adalah Pempek Palembang 88 yang berlokasi di Seberang Kramat Jati Indah Plaza.

Alamat tepatnya: Gang Batu Pirus, Kramat Jati, Jakarta Timur (telp: 0218001621)

Tempat jualannya memang tidak seindah restoran pada umumnya. Terlebih lagi dulu ketika tempatnya masih di pinggir jalan. Sangat tidak eye catching, bahkan bisa dibilang terlihat sedikit kumuh. Suwer deh, itu kesan pertama saya ketika pertama masuk ke tempat ini. Tapi, meskipun begitu, tempatnya bersih dan rapi.

Bahkan banner tulisan Pempek 88-nya pun kecil. Yang menarik perhatian justru dari tempat parkirannya yang selalu penuh dan terlihat orang mengantri hingga ke pinggir jalan.

Saya pikir, itulah sebabnya, mengapa mereka tidak terlalu memerhatikan “keindahan” tempat jualannya. Bagi mereka, kualitas pempek yang mereka jual adalah yang paling utama. Sekali orang datang membeli,  kebanyakan dari mereka pasti akan kembali lagi.

Sekarang, meskipun lokasi tempat jualannya sudah pindah, namun dari segi penampilan hampir tidak berbeda dengan tempat yang sebelumnya. Tempat ini lebih menyerupai rumah yang difungsikan juga sebagai tempat berjualan.

Untuk masalah harga, bisa dibilang cukup bersaing. Standar untuk harga pempek pada umumnya. Jadi, kalo kalian belum pernah coba pempek ini, ga ada salahnya menyempatkan diri mampir dan menyantap nikmatnya Pempek Palembang 88.