After Sunrise: Bayangan, Kopi item, dan Gorengan

Setelah mengagumi sunrise di puncak bukit Punthuk setumbu, kami berniat untuk melanjutkan ke Gereja Ayam yang sedang nge-Hits akibat kisah asmara Rangga dan Cinta di Film Ada Apa Dengan Cinta 2.

Apa mau dikata, kostum dan waktu tidak mengijinkan. Kostum yang kami pakai tidak memungkinkan untuk melalui trek terpendek ke Gereja Ayam via Puncak Punthuk Setumbu.

Kami dihadapkan dengan 2 pilihan, yaitu lanjut ke Gereja Ayam melalui trek yang lebih ramah tapi memakan waktu lama atau segera turun bukit dan menuju candi Borobudur. Sepakat, kami memilih candi Borobudur dan mengambil langkah seribu menuruni bukit.

Bayangan kami ketika berjalan pun menjadi pemandangan yang tak kalah indahnya dengan sunrise.

Melihat ke kanan kiri, sebuah warung kecil di pinggir jalan menarik perhatian kami. Terbayanglah oleh kami untuk sebentar saja beristirahat.

Duduk, menyeruput kopi item berteman pisang goreng, tahu, dan mendoan sembari dihujani hangatnya sinar mentari.

Nikmat.

Tak terasa, puluhan gorengan habis dilahap lengkap beserta cabe rawitnya.

Kenyang? Tidak juga. Tapi kami harus segera menuju destinasi selanjutnya, Candi Borobudur.

 

 

Advertisements

Mengagumi Sunrise di Bukit Punthuk Setumbu

Setelah hanya kurang dari 3 jam kami tertidur lelap di The Packer Lodge Yogyakarta, dengan tampilan muka bantal, kami bersiap untuk mengejar sunrise di bukit Punthuk Setumbu. Meskipun lebih enak kalau mengejar jodoh. eeeaaa.

Rencana awal yang hendak berangkat jam 3-an pun mundur menjadi setelah Subuh. Bagus juga sih, jadi kami sempat sholat subuh di hostel.

Perjalanan menuju bukit punthuk setumbu yang kesohor itupun kami lalui dengan tertidur, separuh perjalanan maksud saya (menolak dibilang pelor).

Saat kami tiba di lokasi, pagi sudah menjelang. Kami bersegera ‘mendaki’ bukit menuju titik pengamatan sunrise terbaik di puncak bukit Punthuk Setumbu.

Tiba di puncak, kawasan ini sudah dipenuhi puluhan orang. Sang mentari pun sudah menunjukkan dirinya di kejauhan.

Indah. Sangat indah.

Sunrise, dengan pemandangan hijaunya hutan dan backsound suara burung serta owa di kejauhan membuatnya semakin terasa indah. Terlebih lagi ketika candi Borobudur masih terlihat nun jauh di sana.

Kagum.

Selama mentari perlahan bergerak naik semakin ke atas, saya dan entah berapa puluh pasang mata disana menganguminya.

The best sunrise I’ve seen it so far. Better than the feeling of watched sunrise from Puncak Prau, Bromo Mountain, Banjar Negara, or other places I’ve been visited before.

Di satu spot, saya dan Mega sibuk mengunci keindahan sunrise dengan mata dan video handphone ala kadarnya (dikarenakan cita-cita terpendam untuk membuat video timelapse sunrise).

Sementara Dwi, Shirley, Mitha, Irin, dan Nisa mengeksplor keindahan bukit Punthuk Setumbu dari spot yang berbeda.

Dan cerita pun berlanjut ke “After Sunrise: Bayangan, Kopi Item, dan Gorengan.”

The Packer Lodge Yogyakarta

Sesampainya di Stasiun Tugu, Yogyakarta dari Stasiun Solo Balapan, kami langsung mengandalkan google maps untuk mencapai lokasi The Packer Lodge Yogyakarta (Terima kasih Mitha sudah booking hostel ini untuk kami).

Konon katanya, hostel ini (The Packer Lodge Yogyakarta) merupakan salah satu hostel terbaik pilihan backpacker lokal dan internasional. Jadi, kami sedikit penasaran bagaimana rasanya menginap di hostel ini.

Beruntungnya kami, hostel ini dekat dari stasiun dan bisa dijangkau hanya dengan berjalan kaki. Ditambah lagi, lokasinya yang dekat dengan Jl. Malioboro yang terkenal seantero jagad raya itu. Jalan kaki pun menjadi pilihan yang terbaik, sambil menikmati pemandangan malam di sepanjang jalan Malioboro.

Dan saya pun tertegun. Entah sudah berapa lama sejak terakhir kali saya berada di jalan ini. Dan sungguh sangat amat berubah. Sangat padat dan ramai dengan lalu-lalang orang.(untung saya pernah merasakan Malioboro yang tidak terlalu ramai dan masih terasa sekali nuansa tradisionalnya).

Tak lama kemudian, The Packer Lodge Yogyakarta tepat berada di hadapan kami. Tampak sederhana dan minimalis. Benar-benar mencirikan hostel para backpacker.

Memasuki hostel, saya langsung jatuh cinta dengan tempat ini. Tampak minimalis dan sangat bersih disertai pelayanan yang sangat ramah.

Mengingat malam yang semakin larut dan mata yang sudah mulai meredup, ingin rasanya saya segera menuju ke kamar dan merebahkan diri untuk sekadar meluruskan badan.

Dan, inilah kamar kami. And I must say, I love it!!!

Hanya saja, berhati-hatilah kalau kita dapat tempat tidur yang posisinya di atas.  Pastikan kalau kita sudah benar-benar segar dan melek 100% baru turun ke bawah. Salah-salah atau lupa atau masih mengantuk sekali, kita bisa terjatuh.

Hostel ini patut saya acungi jempol 2. Karena apa? Karena membuat saya merasa seperti di rumah sendiri atau seperti anak kos.

Ditambah lagi dengan bersihnya area hostel, mulai dari front office, dapur, kamar, hingga kamar mandi (padahal ini kamar mandinya bareng-bareng dengan tamu lainnya). Sangat bersih. Dan bagi saya, kebersihan adalah yang paling utama, terutama kebersihan kamar mandi.

Jadi, saya pasti tidak segan untuk kembali menginap di hostel ini suatu saat nanti.

A very recommended one.

Sayangnya, kami hanya sempat menginap satu malam. Bahkan tidak bisa disebut satu malam juga, karena kami baru tidur jam 12 malam dan bangun jam 3 pagi untuk mengejar sunrise di Punthuk Setumbu.

 

 

 

Sejenak di Stasiun Solo Balapan

Salah satu stasiun yang paling terkenal seantero Indonesia adalah Stasiun Solo Balapan. Nama stasiun ini semakin terkenal ketika Didi Kempot menyanyikan lagu campur sari berjudul setasiun balapan.

Saya pun, ketika menjejakkan kaki di stasiun ini, spontan bersenandung, “Nang setasiun balapan, kuto solo sing dadi kenangan… kowe karo aku…” Ah… mendadak darah Jawa saya membuncah dan kemampuan berbahasa Jawa saya yang pas-pasan ini menjadi kebanggaan tersendiri.

Sambil menunggu kereta yang akan membawa kami ke Yogyakarta, saya pun sempat berkeliling dan mengagumi stasiun ini.

Lama kemudian, kereta kami tiba di stasiun dan siap membawa kami ke perjalanan selanjutnya.

Dan bahagianya kami, karena kereta kami tampak lengang alias kosong. Serasa 1 gerbong milik sendiri. Tetapi sungguh disayangkan, durasi perjalanan dengan kereta ini sangatlah singkat (kurang dari 2 jam).

Yogyakarta! Here we come!

Air Terjun Jumog

Perjalanan 7 kurcaci ini pun terus berlanjut. Setelah melihat jejak peninggalan jaman dahulu melalu Candi Sukuh dan Candi Cetho, kami pun berhenti di sebuah lokasi yang konon katanya terdapat air terjun bernama Jumog.

Masih berada di daerah Karanganyar, Jawa Tengah, air terjun ini belum seterkenal air terjun lainnya di seputaran Jawa Tengah.Untuk mencapai air terjun ini, kami tidak perlu mendaki ratusan tangga atau menyusuri jauhnya jalan setapak maupun menembus hutan. Cukup berjalan beberapa langkah, indahnya air terjun Jumog dan derasnya suara jatuhnya air pun telah terdengar. Segar…

Indah bukan? Ingin rasanya berlama-lama berada di sini dan menikmati rindangnya pepohonan disertai gemericik suara air mengalir.

Di tempat ini juga, kita bisa berenang di kolam yang sudah disediakan pengelola. rasanya sangat tepat jika anak-anak diajak ikut serta dan berenang di tempat ini.

Dan saatnya kami berpisah dengan air terjun Jumog.

Dan perjalanan 7 kurcaci ini pun terus berlanjut menuju Yogyakarta melalui Stasiun Solo Balapan.

 

 

Candi Cetho: Serasa di Atas Awan

Usai mengeksplorasi candi sukuh, kami segera menuju candi Cetho. Untuk mencapai lokasi candi, kami harus melalui perjalanan yang lebih berkelok-kelok, mendaki, dan cukup curam. Bahkan di kiri jalan tampak jurang yang dalam siap menyambut, kalau saja supir tidak berhati-hati.

Dari kejauhan, tampak gerbang candi Cetho menjulang tinggi. Kami pun terpaksa meninggalkan Mitha dan Shirley kemudian menuju loket pembelian tiket serta memakai kain khas kotak hitam putih yang biasa kita pakai saat memasuki kawasan candi Hindu.

Bentuk utama candi Cetho tidak terlihat dari depan. Hal ini dikarenakan bagian utama candi terletak dibagian paling tinggi dan paling belakang (mendekat ke puncak gunung). Klik di http://candi.perpusnas.go.id untuk mengetahui lebih detail mengenai sejarah candi Cetho.

Gerbang candi Cetho ini mengingatkan saya pada candi-candi yang kerap saya lihat di pulau Bali.

Memasuki komplek candi, semakin ke dalam, saya pun semakin kagum. Mengapa? Arsitektur candi sungguh memukau, tingkat presisi dan simetri setiap gerbang candi membuat saya terpana. Lurus sekali.

Sejenak mengingat kembali bahwasanya candi ini dibangun pada jaman Kerajaan Majapahit dan di daerah pegunungan pula. Bagaimana mereka mengukur serta membangunnya, pikir saya.

Kami pun menikmati setiap sudut, arca, dan relief dari candi ini. Sesekali berpikir kembali mengenai kisah yang ada dibalik sejarah candi ini.

Sampai kami dikejutkan dengan susunan bebatuan yang sekilas tampak seperti kelamin pria dan wanita, tepat dihadapan kami. Sontak saya pun kaget campur penasaran, ketika Mega membawa topik ‘itu.’ Ternyata oh ternyata, memang benar adanya, apa yang kami lihat adalah lambang kelamin pria dan wanita.

Menurut candi.perpusnas.go.id, susunan bebatuan tersebut melambangkan kesatuan wanita dan pria, dua makhluk yang berlawanan sifatnya namun tidak dapat dipisahkan satu sama lain sebagai perlambang jagad kecil (mikrokosmos) dalam diri manusia.

Semakin ke dalam dan ke atas, suasana mulai terasa ‘hening dan senyap.’ Sekelebat bau kemenyan pun merangsek kedalam hidung kami.

Maklum saja, candi ini masih aktif digunakan sebagai sarana beribadah umat beragama Hindu. Jadi, diharapkan para pengunjunh untuk menjaga penampilan, sikap, serta ucapan selama berada di lokasi.

Sebelum kami menuju tempat Shirley dan Mitha (yang dengan sangat terpaksa kami tinggal duluan),  kami pun menyempatkan diri untuk sekadar berfoto di hadapan gerbang yang menjulang tinggi berlatar belakang kabut (yang menutupi pemandangan di bawahnya). Suasana yang membuat candi ini serasa di atas awan.

So, bye-bye candi Cetho. One of a must-visit temples in Indonesia. Would love to comeback here again, after learning the history behind you.

Dan kami pun beranjak turun, bersegera menemui Shirley dan Mitha yang tampak sedang berisitirahat.

 

 

Melihat “Jejak Peradaban Inca dan Maya” di Candi Sukuh

Setelah menghabiskan semangkuk soto gading khas Solo (yang akan saya ceritakan nanti), dan dibuat terkejut dengan keberadaan sate brutu, kami pun segera meluncur menuju Karanganyar, tepatnya ke kewasan Candi Sukuh.

Perjalanan yang berkelok-kelok dan penuh tantangan disertai pemandangan yang tampak hijau membuat kami seakan lupa dengan segala penat di ibukota Jakarta.

Sampai di lokasi, loket penjualan tiket pun masih tutup — maklum kami tiba terlalu pagi. Tidak lama kemudian, kami pun diijinkan memasuki kawasan Candi yang tidak terlalu luas itu.

Di dalamnya, terlihat candi sukuh yang entah mengapa tampak mirip luar biasa dengan bangunan-bangunan peninggalan peradaban suku Inca dan Maya yang kerap saya lihat di TV maupun di buku-buku sejarah. Tetiba, saya ingin belajar sejarah lagi.

Berdasarkan apa yang saya baca, sampai saat ini belum diketahui apakah keberadaan candi sukuh ada hubungannya dengan peradaban Inca dan Maya. Jika ingin mengetahui lebih lanjut mengenai candi ini, silakan klik http://candi.perpusnas.go.id

Berikut penampakan kompleks candi sukuh yang berhasil kami abadikan.

Kami pun sempat menaiki candi sukuh dan menikmati indahnya pemandangan sekitar dari ketinggian.

Dan inilah aksi 7 kurcaci di sekitaran kompleks candi.

Dan kami pun dengan berat hati meninggalkan keindahan sebuah mahakarya peninggalan peradaban yang hadir jauh di masa lalu menuju mahakarya lainnya yang dikenal dengan nama candi Cetho.