Lumba-lumba Teluk kiluan, Dimanakah kalian?

Masih dalam rangkaian petualangan kami di Lampung, tepatnya di Teluk Kiluan. Setelah seharian kemarin ke Pantai Pegadungan Gigi Hiu atau Batu Layar dan Snorkeling serta eksplor Pulau Kiluan, esoknya kami pun bersiap menjelang petualangan kami selanjutnya.

Pagi itu, cuaca masih tidak juga bersahabat. Mendung yang diikuti dengan gerimis seakan membujuk kami untuk tetap bersemedi di dalam pondok penginapan atau homestay. Menggoda kami untuk setidaknya menambah 1 hari lagi di Teluk Kiluan.

Dengan enggan, kami bersiap-siap dan packing perlengkapan untuk melanjutkan perjalanan ke Pulau Pahawang dan Pulau Kelagian.

Setelah sarapan habis kami santap, tiba-tiba Pak Khairil menginfokan kami untuk segera bersiap-siap menuju Samudera Hindia untuk berjumpa dengan sang lumba-lumba. Jujur, kami agak meragukan pertemuan ini. Entah mengapa di dalam hati kecil saya, rasanya kami belum berjodoh dengan sang lumba-lumba.

Bagaimana tidak, saat itu waktu sudah menunjukkan pukul 8 lewat. Sementara umumnya, kawanan lumba-lumba terlihat sekitar pukul 6 pagi. Ditambah lagi dengan hujan dan angin yang membuat ombak menjadi tidak tenang, rasanya akan sulit menemukan mereka. Saya saja, kalau jadi lumba-lumba mungkin akan tetap berdiam di rumah dan menghabiskan waktu dengan keluarga atau teman.

Namun, rasanya memang tidak lengkap jika kami tidak mencoba menemui mereka. Setidaknya kami sudah berusaha dan tidak lagi penasaran. Karena Teluk Kiluan memang terkenal akan lumba-lumbanya. Bayangkan saja, lumba-lumba yang hidup di habitat liar atau habitat aslinya hanya bisa di lihat di Pulau Tangalooma Moreton di Australia dan di Teluk Kiluan, dari seluruh laut yang ada di dunia.

Akhirnya kami pun berangkat menuju laut lepas, Samudera Hindia. Jukung yang kami gunakan kini hanya ditumpangi oleh 4 orang saja. Jaket pelampung pun dengan senang hati saya kenakan mengingat ombak yang akan kami hadapi nanti dan cuaca yang tidak bersahabat.

20161004_103356Another challenging and high adrenalin trip.

Satu lagi perjalanan yang sepertinya akan terpatri kuat di memori saya. Kalau Gigi Hiu mewakili perjalanan darat, maka kali ini, pertemuan dengan lumba-lumba mewakili perjalanan laut.

20161004_07503120161004_075632 Bismillah.

Jukung mulai melaju dengan cepat menembus hujan dan menerjang ombak yang masih tenang.

20161004_084708Hingga tiba satnya kami meninggalkan kawasan Teluk Kiluan dan masuk ke laut lepas. Sungguh perjalananan yang sekali lagi memacu adrenalin. Sepanjang mata memandang, 360 derajat jarak pandang, yang terlihat hanyalah lautan luas.

20161004_083752Ombak yang besar dan tinggi (akibat hujan dan angin kencang) sesekali membuat Jukung melambung tinggi dan air laut menerjang kami, terlebih saya yang posisinya tepat di paling depan. Saya berasa seperti sedang arung jeram di Dufan, hanya saja kali ini 1000x lipat dahsyatnya.

Disinilah saya merasa sangat kecil. Kecil sekali dibandingkan dunia ini. Apalagi di hadapan Sang Pencipta dunia ini.

Highly respect for all the fisherman.

Respek banget buat para nelayan. Meskipun profesi nelayan adalah pilihan mereka dan sudah mendarah daging bagi mereka, tetap saja dibutuhkan keberanian dan nyali yang besar.

Terlebih lagi untuk nelayan seperti di teluk Kiluan ini yang perahunya kecil, tanpa atap, dan umumnya hanya digunakan oleh 1 orang nelayan. Membayangkan terombang-ambing di tengah lautan lepas, sendiri, di malam atau pagi hari, membuat saya takjub setengah mati.

Saya pernah menaiki kapal betok ketika di Pangandaran atau kepulauan seribu. Menaikinya di pagi hari, siang, bahkan malam hari. Tapi sungguh, belum pernah merasakan yang seperti ini. Di laut lepas. Mengerikan sekaligus membuat saya penasaran.

Lumba-lumba Teluk Kiluan, dimanakah kalian?

Setelah beberapa jam berputar-putar mencoba peruntungan, kami pun menyerah. Kami pun ikhlas menyatakan kalau kami belum berjodoh dengan sang lumba-lumba. Suatu hari, ya, mungkin suatu hari nanti. Kami akan bertemu. Seperti kata pepatah, kalau sudah jodoh tak akan kemana.

Matahari mulai menampakkan batang hidungnya meskipun masih malu-malu. Menandakan bahwa kami harus segera kembali dan melanjutkan perjalanan ke Pahawang.

20161004_102844 20161004_102811 20161004_102747-1Jadi, selamat tinggal lumba-lumba, selamat tinggal Teluk Kiluan.

We see you when we see you.

Baca Juga:
Kiluan Bay

One thought on “Lumba-lumba Teluk kiluan, Dimanakah kalian?

  1. Pingback: Melepas Kepenatan di Pulau Kelagian Lunik | A Transient Wanderer

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s