Pantai Pegadungan Gigi Hiu yang Tak Akan Pernah Terlupakan

Pertama kali mengetahui tentang “surga tersembunyi” ini dari sebuah majalah keluaran maskapai Sriwijaya rute Silangit (DTB)—Jakarta CGK). Saat itu, spontan kami (saya dan Dwi) terkesima dengan foto penampakan Pantai Pegadungan Gigi Hiu berlatarbelakang matahari tenggelam alias sunset.

Indah. Begitu pikir kami.

Sangat Indah.

Sangat teramat indah dan memesona. Hingga akhirnya kami meniatkan diri untuk mengunjungi pantai itu di trip kami selanjutnya.

Senin, mentari pagi pun menjelang namun enggan menunjukkan batang hidungnya. Teluk Kiluan diguyur hujan. Langit pun menghitam. Deburan ombak pun semakin keras terdengar karena angin yang cukup kencang.

Sedih. Kecewa.

Setelah menghabiskan hari Minggu di lokasi homestay karena cuaca yang sama, kami pun berandai-andai akankah hari Senin ini berakhir sama. Tapi apa mau dikata, cuaca bukanlah perkara manusia. Maka, doa menjadi satu-satunya pilihan kami saat itu.

20161003_061315

Menanti redanya sang hujan

Setelah menikmati sarapan pagi ditemani dengan kopi item khas Lampung hasil gilingan sendiri dan dibumbui dengan obrolan bersama pak Khairil (pemilik homestay dan orang yang membantu trip kami di Teluk Kiluan), hujan pun mereda. Dan tibalah saatnya kami menuju Pantai Pegadungan Gigi Hiu atau Batu layar yang kami impi-impikan dahulu.

Untuk menuju pantai ini, Pak Khairil menyarankan kami untuk naik ‘ojek.’ Saat itu, kami ber-5 sama sekali tidak membayangkan jalur seperti apa yang akan kami tempuh. Yang kami tahu hanyalah lokasinya cukup jauh, terpencil dan jalannya berbatu.  Dibutuhkan sekitar 1,5–2 jam untuk mencapai lokasi. Maka, bersemangatlah kami.

Selama ini, para traveler, para fotografer, para blogger, dan para jurnalis yang mengangkat cerita mengenai Keindahan Pantai Pegadungan Gigi Hiu ini luput dari menjelaskan bagaimana perjuangan mereka hingga akhirnya bisa menikmati keindahannya.

Awalnya, rute yang kami lalui sama seperti rute ketika kami datang ke teluk Kiluan. Setelah keluar dari gapura teluk Kiluan, dimulailah perjuangan kami. Awal dari perjalanan yang sungguh tak terbayangkan, menantang, dan mamacu adrenalin, sekaligus memacu jiwa religious saya. Bagaimana tidak, sepanjang perjalanan, tak henti-hentinya saya berdoa atau berdzikir dalam hati.

Sungguh tak terbayangkan. Speechless.

img-20161004-wa0263-1Jalan yang semestinya untuk didaki. Jalan yang semestinya diperuntukkan bagi motor-motor off road atau mobil-mobil off road. Kali ini kami lalui bersama pengendara motor yang sebagian masih anak SMU beralaskan sandal jepit, sandal gunung, dan sepatu bot dengan motor andalan mereka yang sangat amat jelas adalah motor biasa, bukan motor off road.

20161003_125307Berbagai jenis jalan kami lalui. Mulai dari yang penuh batu besar, batu kecil, jalanan aspal, beton, tanah, lumpur, rumput, sebut saja. Semua jalanan ada di sini. Mulai dari yang di tengah-tengah perkampungan, di pinggir pantai, ditengah hutan hingga menyeberang jembatan pun kami lalui.

20161003_131414Ditambah kondisi cuaca yang tidak bersahabat. Alhasil, kami pun ditemani hujan, kabut, dan angin dingin.

Jalanan mendaki, menurun, dan berliku-liku terus berulang hingga kami sampai di lokasi. Dan ketika saya tuliskan mendaki juga menurun, bayangkan dengan sudut kemiringan lebih dari 45 derajat dengan kondisi jalan yang saya sebutkan di atas. Menegangkan dan melelahkan.

Berkali-kali kami tergelincir, ada yang terjatuh, saling mendorong, hingga terpaksa kami ‘minta atau diminta’ turun dari motor karena sulitnya medan yang kami tempuh.

Bahkan bagi Mega, yang notabene saya nobatkan sebagai anak gunung sejati (entah sudah berapa banyak gunung di Indonesia yang ia daki) merasa ‘sangat terkesan dan seru’ dengan perjalanan ini. Padahal ia sudah pernah menjejakkan kaki di trek Semeru dan Rinjani.

Ketika akhirnya kami diyakinkan oleh para bikers bahwa kami sudah tiba di lokasi, rasa lega dan haru pun membuncah dihati. Kami selamat sampai di sini.

Namun tampaknya perjuangan belum usai. Kami masih harus berjalan kaki melalui pinggir pantai. Melewati karang, bebatuan, dan pinggir hutan.

20161003_103334 20161003_103822 20161003_104454 20161003_105301Hingga akhirnya, dihadapan kami, terpapar dengan jelasnya, susunan batu karang yang Nampak layaknya Batu Layar atau Gigi Hiu. Sesekali dihantam keras oleh deburan ombak.

20161003_110146 img-20161005-wa003620161003_115356Indah. Begitu pikir kami.

Sangat Indah.

Sangat teramat indah dan mempesona. Sampai-sampai kami lupa sejenak perjalanan menegangkan tadi.

img-20161004-wa026720161003_110434Tak mau kembali, pikir kami.

Mengingat kami harus melalui jalan yang sama tadi.

Dan kami pun, menikmati hasil perjuangan hari ini, dari puncak salah satu karang di gugusan karang Gigi Hiu atau batu Layar ini. Mencoba mensyukuri dan merekam semua keindahan di sejauh mata memandang untuk kemudian diawetkan menjadi memori Pantai Pegadungan Gigi Hiu yang Tak Akan Pernah Terlupakan.

img-20161004-wa026520161003_113605img-20161005-wa003420161003_115749

 

Terima kasih saya ucapkan untuk biker yang terpaksa saya percayakan keselamatan saya selama perjalanan, yaitu Wawan. Cerita mengenai Wawan akan ada di lain kesempatan. Respect saya buat kamu. Pelajar kelas 2 SMUN bertubuh kecil namun sekuat dan setangguh baja. terima kasih tidak membuat saya jatuh, meskipun lebam biru biru tak terhindarkan di sekitaran telapak kaki saya.

Advertisements

6 thoughts on “Pantai Pegadungan Gigi Hiu yang Tak Akan Pernah Terlupakan

  1. Pingback: Mengunjungi Desa Tlaga Kecamatan Punggelan, Banjar Negara | A Transient Wanderer

  2. Pingback: Menjejakkan Kaki di Pulau Kiluan | A Transient Wanderer

  3. Pingback: Melepas Kepenatan di Pulau Kelagian Lunik | A Transient Wanderer

  4. Pingback: Lumba-lumba Teluk kiluan, Dimanakah kalian? | "A Transient Wanderer"

  5. Pingback: Menjejakkan Kaki di Pulau Kiluan | "A Transient Wanderer"

  6. Pingback: Dari Merak ke Kiluan | "A Transient Wanderer"

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s