A Very Rare and Unforgettable Moment with Cheryl Polk, PhD. (President of HighScope Educational Research Foundation, USA)

20160816-cheryl polk (2)These past two days (August 15-16, 2016) was quite days for us, Highscope teacher in Sekolah Highscope Indonesia, TB. Simatupang. Why is it so? Because we have been visited by the one and only, Cheryl Polk, PhD. or as we called her Dr. Polk also Marianne. Dr. Polk is the President of Highscope Educational Research Foundation in Ypsilanti, Michigan, USA. While Marianne is one of the Director in the foundation.

Dr. Polk has a long record of success in translating research knowledge about the first five years of life into programs that address the continuum of young children’s needs, from high-quality childcare to mental health consultation and treatment. Most recently she served as the executive director of the Lisa and John Pritzker Family Fund where her dual expertise in early childhood development and philanthropy advanced the creation of groundbreaking intervention programs for children exposed to community and interpersonal trauma. Dr. Polk was president of the board of directors of Zero to Three: National Center for Infants, Toddlers, and Families and has been a board member of that organization for more than 10 years. [source: highscope.org]

We were so nervous but excited at the same time. Well, who won’t. It might be a chance once in a lifetime, to meet such a great and amazing person, even though I only knew her from the internet.

On the first day, I didn’t get a chance to meet them during our school hours. But after school, I had a chance to Meet and Greet with Marianne, Ibu Antarina SF. Amir, some owner of Sekolah Highscope in Indonesia, parents also some of colleagues from Preschool to Highschool level. What a very rare chance to be in there, especially for a preschool teacher like me.

On the second day, unpredictable of me, Dr. Polk, Marianne and also our ECEP team principal took a glimpse of our classroom, Grey Room.

Surprise. Nervous. Excited. Speechless. Worried.

All were my feeling at that time. Even though it only for a very short time. I really appreciated of her being in our classroom. Being in the same room and breathe the same air as her, lastly being in one frame with her, with them. How lucky I am.

Thank you for your visit. Hopefully, me and my partner will become as great as you, well, almost as great as you. Well, at least, being a great preschool teacher more than today.

Advertisements

Unique Necklaces by Schonmoi

Jatuh cinta sama aksesoris atau perhiasan dari merk local bernama Schonmoi or schon. Produk yang mereka tawarkan sangat unik. Pertama, sebagian besar terbuat dari kayu. kedua, model dan bentuknya bisa dibilang vintage atau retro. Jadi, kalau memang ingin bergaya oldies, retro or vintage, Schonmoi ini bisa jadi pilihan utama.

I like jewelry. But as a woman wearing veil, I can not wear as much or all kind of jewelry I want. Most of the time, I add jewelry such as long necklace, rings or bracelet that have uniqueness.

One of them is necklaces from a brand called Schon or Schonmoi. They focuses on the products of home décor, jewelry, accesories, and other fashion products. What I really love about their necklaces are almost all of them made of wood. So it can pretty much called as part of ecofashion.

Next, the design are unique. A little bit retro or vintage. So when you wanted to add some vintage or retro style on your daily wear or style, Schonmoi is one of the best choices out there.

IMG-20160712-WA0082

Warna-Warni Lampion di Langit Pulau Cipir, Kepulauan Seribu

Perjalanan kami di kepulauan seribu tidak hanya berakhir sampai belajar sejarah di Pulau Cipir. Airis project menawarkan paket di mana kami bisa mendapat pengalaman menerbangkan lampion ke langit Pulau Cipir. Seperti yang kami tuliskan sebelumnya di postingan Kepulauan Seribu: Benteng Martello di Pulau Kelor bahwa Airis membanggakan dirinya sebagai perintis EO yang melakukan pelepasan lampion pada saat sunset di kepulauan seribu.

Sunset pun mulai terlihat di kejauhan dari dermaga kecil Pulau Cipir.

Kami pun bersiap-siap menyalakan lampion dan melepaskannya ke udara. Tapi ternyata, tidak semudah yang ada di bayangan. Kegagalan pun terjadi, 2 lampion gagal kami terbangkan. Dibutuhkan 2-3 orang untuk menyalakan lampion hingga ia siap dilepas ke udara. belum lagi kesabaran untuk menunggu hingga udara panas memenuhi bagian dalam lampion.

Dan lampion pun dilepaskan terbang menjauh terbawa angin. Warna-warni lampion seketika memnuhi langit Pulau Cipir di atas lautan.

Dan berakhirlah perjalanan kami di kepulauan seribu untuk hari itu. Until next time, in another island.

Kepulauan Seribu: Pulau Cipir

Pulau ke-3 atau pulau terakhir yang kami kunjungi setalah Pulau Kelor dan Pulau Onrust adalah Pulau Cipir.

Pulau ini dikenal juga dengan nama Pulau Kahyangan atau Pulau Kuyfer merupakan 1 dari 3 pulau yang menjadi benteng pertahanan Belanda.

Selain itu, pulau ini juga difungsikan sebagai tempat perawatan dan karantina penyakit menular bagi para jemaah haji. Sebelum berangkat haji mereka dikarantina untuk cek kesehatan dan setelah pulang dari ibadah haji pun dikarantina kembali untuk cek kesehatan lagi.

Pada zaman kolonial, Belanda-lah yang memberi gelar Haji. Orang-orang yang pulang dari ibadah haji, dikarantina, dan jika kemudian lulus cek kesehatan maka mereka akan mendapat gelar Haji dari kolonial Belanda. Oleh karena itu, gelar Haji hanya ada di Indonesia. * Baru tahu kalau ternyata sebutan Haji merupakan warisan penjajahan belanda *

Di pulau ini banyak sisa reruntuhan Rumah Sakit dan kamar-kamar rawat pasien.

Selain itu, telah dibangun dermaga dan menara pengamatan di pulau ini.

Kepulauan Seribu: Sejarah Panjang Pulau Onrust

Pulau ke-2 yang kami sambangi setelah Pulau Kelor adalah Pulau Onrust.

Penjajahan terhadap Indonesia selama 350 tahun dimulai di Pulau yang kecil ini. Pada tahun 1619 armada dan tentara VOC berkumpul di sini untuk mempersiapkan penyerangan kota Jayakarta. Sejak itulah satu persatu kerajaan di nusantara jatuh oleh Belanda.

[Tulisan yang tertera di depan kantor pengelola Pulau Onrust]

Pulau ini memiliki sejarah yang amat panjang. Dikenal dengan sebutan Pulau Unrest atau Pulau Sibuk pada masanya dulu karena kondisi pulau ini tak pernah berhenti membongkar muat barang-barang komoditi dan kegiatan perbaikan kapal-kapal.

Memasuki Pulau Onrust, kami mendapat kesempatan belajar sejarah dari guide yang ada di Pulau Onrust. Ia mengajak kami berkeliling Pulau Onrust dan menceritakan kembali kejayaan dan kejatuhan Pulau Onrust.

Setelah mendengar sepenggal kisah sejarah tersebut, muncullah rasa ingin tahu saya hingga saya menemukan rentetan sejarah Pulau Onrust di website Jakarta.go.id

Pada zaman dahulu Pulau Onrust pernah menjadi tempat peristirahatan keluarga raja-raja Banten. Namun kemudian terjadi sengketa antara Kerajaan Banten dan Jayakarta hingga tidak pernah ada upaya penyelesaian. Jayakarta merasa memiliki pulau ini karena lokasinya dekat (di hadapan Kota Jayakarta), sedangkan Banten mempunyai hak atas pulau tersebut sebab seluruh Kepulauan Seribu merupakan bagian dari teritorial kekuasaannya. Saat Belanda datang dan gagal memonopoli perdagangan di Banten kemudian mengalihkan perhatiannya ke Jayakarta dengan menggunakan salah satu pulau di Teluk Jakarta, yakni Pulau Onrust.

Tahun 1610, terjadi perjanjian antara Belanda (diwakili L. Hermit) dan Jayakarta (diwakili Pangeran Jayakarta) yang isinya memperbolehkan orang-orang Belanda mengambil kayu untuk pembuatan kapal-kapalnya di Teluk Jakarta. Melihat banyak kapal yang berlayar ke Asia terutama Asia Tenggara dan tinggal beberapa lama, sering memerlukan perbaikan kapal akibat perjalanan panjang, maka VOC berniat untuk membangun sebuah galangan kapal di Teluk Jakarta. Niat tersebut diijinkan oleh pangeran dengan menggunakan Pulau Onrust.

Tahun 1613, VOC mulai membangun Pulau Onrust.

Tahun 1615, VOC mendirikan sebuah galangan kapal dan sebuah gudang kecil. Selain sebagai galangan kapal, Jan Pieterzoon Coen mengharapkan Onrust menjadi koloni sehingga VOC mengirim keluarga Cina ke Onrust dengan segala fasilitasnya.

Tahun 1618, Coen menjadikan Onrust sebagai pulau pertahanan terhadap akibat memuncaknya ancaman Banten dan Inggris. Pembangunan sarana fisik terus dilakukan.

Tahun 1656, dibangun sebuah benteng kecil bersegi empat dengan 2 bastion (bangunan yang menjorok keluar berfungsi sebagai pos pengintai).

Tahun 1671, diperluas menjadi benteng persegi lima dengan bastion pada tiap tahap sudutnya namun tidak simetris yang semuanya terbuat dari bata dan karang.

Tahun 1674 dibangun gudang-gudang penyimpanan barang, gudang penyimpanan besi dan dok tancap yang semuanya dikerjakan oleh 74 tukang kayu dan 6 tukang lainnya. Pada tahun yang sama dibangun sebuah kincir angin untuk keperluan penggergajian kayu.

Tahun 1691–1695, dibangun sebuah kincir angin yang kedua, terdapat 148 abdi kompeni dan 200 budak.

Tahun 1800, Inggris melakukan blokade terhadap Batavia, dan pertama kali mengepung Onrust dan sekitarnya. Semua bangunan yang terdapat dipermukaan Onrust tersebut dimusnahkan.

Tahun 1803–1810, Belanda merencanakan pembangunan kembali atas Onrust sesuai dengan rencana DM. Barbier.

Tahun 1810, selesai dibangun, Pulau Onrust dihancurkan lagi oleh Inggris dan menduduki Onrust sampai 1816.

Tahun 1827, Pulau Onrust baru mendapat perhatian lagi dan pada tahun 1828 pembangunan dimulai dengan mempekerjakan orang-orang Cina, dan tahanan. Dan 1848 kegiatan berjalan kembali.

Tahun 1856 arena pelabuhan ditambah lagi dengan sebuah dok terapung yang memungkinkan perbaikan kapal laut. Setelah Pelabuhan Tanjung Priok dibangun tahun 1883, Onrust hilang perannya dalam dunia perkapalan dan pelayaran.

Tahun 1905, Onrust mendapat perhatian lagi dengan didirikannya stasiun cuaca di pulau ini dan Pulau Kuyper (Cipir).

Tahun 1911–1933, Onrust diubah fungsinya menjadi karantina Haji bagi orang-orang yang hendak berangkat ke mekah dan kembali dari Mekah.

Tahun 1933–1940, Onrust dijadikan tempat tawanan para pemberontak yang terlibat dalam “Peristiwa Kapal Tujuh” (Zeven Provincien).

Tahun 1940, Onrust dijadikan tempat tawanan orang-orang Jerman yang ada di Indonesia, diantaranya Stenfurt, mantan Kepala Administrasi Pulau Onrust.

Tahun 1942, setelah Jepang menguasai Batavia, Onrust dijadikan penjara bagi para penjahat kriminal kelas berat.

Tahun 1945, Pada masa Indonesia merdeka, pulau ini dimanfaatkan sebagai Rumah Sakit Karantina terutama bagi penderita penyakit menular di bawah pengawasan Departemen Kesehatan RI hingga awal 1960-an.

Tahun 1960–1965, Onrust dimanfaatkan untuk penampungan para gelandangan dan pengemis, selain itu juga dimanfaatkan untuk latihan militer.

Kemudian, Pulau ini terbengkalai, dianggap tak bertuan. Pada tahun 1968 terjadi pembongkaran dan pengambilan material bangunan secara besar-besaran oleh penduduk atas ijin kepolisian setempat.

Tahun 1972, Gubernur KDKI Jakarta mengeluarkan SK yang menyatakan Pulau Onrust sebagai pulau bersejarah.

What an interesting and hurtful stories of Onrust.

Di pulau Onrust, fasilitas yang disediakan sangat lengkap. Mulai dari Musholla, toilet, restoran, hingga museum dimana kita bisa melihat kisah pulau onrust.

Kepulauan Seribu: Benteng Martello di Pulau Kelor

Kali ini kami mencoba ikut Open Trip untuk pertama kalinya. Instagram telah mengenalkan kami dengan Airis Project, yang membanggakan dirinya sebagai perintis EO yang melakukan pelepasan lampion pada saat sunset di kepulauan seribu.

Pulau pertama yang kami sambangi adalah Pulau Kelor yang dahulu dikenal dengan nama Pulau Kherkof . Pulau ini merupakan 1 dari 3 pulau di Kepulauan seribu yang menjadi benteng pertahanan kolonial Belanda pada masa penjajahan di Indonesia.

Pulau Kelor juga disebut sebagai Pulau Kuburan. Pada masa itu, banyak tahanan politik ataupun pribumi yang dihukum mati atau sakit dan dikubur di pulau ini.

Sesuai dengan namanya, Kelor, pulau ini luasnya terbilang kecil, persis seperti daun pohon kelor yang memang berukuran kecil.

Di pulau ini terdapat reruntuhan benteng Martello yang dibangun pada tahun 1849. Martello itu sendiri merupakan menara untuk tujuan militer yang biasanya dilengkapi dengan senjata yang bisa bermanuver 360 derajat. Martello ini sebenarnya bagian dalam dari benteng yg didirikan di Pulau Kelor.

Benteng ini digunakan Belanda untuk menahan serangan Portugis di abad ke-17. Bata merah yang menyusun benteng ini batanya berasal dari Tangerang dan bahannya lebih kuat dari bata sekarang. Bahkan benteng ini disebut sebagai benteng anti meriam.

Luas pulau kelor ini semakin hari semakin menyusut karena abrasi laut. Oleh karena itu, pemerintah membangun tanggul di sebagian sisi pulau dan juga menaruh pilar-pilar pemecah ombak untuk menjaga kelestarian pulau ini.

Fasilitas di pulau kelor ini terbilang cukup lengkap dan bersih. Musholla dan Toilet atau kamar mandi bilas tersedia di sini dan cukup bersih. Next time coming here, I’ll make sure to swim in the beach.

Places to Stay in Danau Toba: Sentosa Lake Resort

Saying goodbye doesn’t always mean the end. It is definitely the beginning of another adventure. Thank you #sentosalakeresort for the hospitality, comfort, great background view, and satisfying service. Would love to come back soon in the near future * my thought before leaving lake Toba *

Selama liburan kami di Danau Toba, Sumatera Utara, kami menginap di hotel di daerah Muara, Danau Toba. Hotel ini dikenal dengan mana Sentosa Lake Resort atau Hotel Sentosa. Hotel ini berada di Jl. Sisingamangaraja No.12, Muara Nauli, Tapanuli Utara, Sumatera Utara.

Hotel ini menyediakan fasilitas yang cukup lengkap. Mulai dari mobil yang bisa mengantar jemput kita dari bandara silangit hingga berbagai permainan air yang bisa kita coba tepat di halaman belakang hotel ini.

Sebagai info, sebagian danau toba terutama yang terletak dekat Tomok atau Parapat dan juga dekat tambak ikan Nila, kondisi airnya sangat memprihatinkan. Tidak jernih, terdapat banyak pakan ikan, beberapa sampah dan bau amis. * saya melihat sendiri dan mencium sendiri bau amis tersebut dalam perjalanan menuju tomok *  Nakhoda kapal feri yang kami tumpangi mengisahkan kalau sebagian besar keramba tersebut milik PT Aqua Farm Nusantara yang dimiliki pengusaha asal Swiss.

Di satu sisi, hal itu membawa nilai positif karena meningkatkan daya hidup masyarakat tapi di sisi lain membawa kerugian bagi ekosistem danau toba dan industri pariwisata danau toba karena mencemari danau. Semoga Pemerintah bisa segera menangani masalah ini sebelum pencemaran meluas ke seluruh danau toba.

Oleh karenanya saya merasa sangat beruntung bisa menginap di hotel di daerah Muara yang notabene airnya masih sangat jernih, jauh dari budidaya ikan keramba.

Kamar hotel yang disediakan juga beragam, mulai dari yang standar hingga VIP yang pemandangannya tepat mengarah keindahan Danau Toba.

Untuk makan, tidak perlu khawatir karena di hotel ini juga ada restorannya. Makanan yang disediakan pun beragam, tapi akan lebih baik kalau kita mencoba menu khas Sumatera Utara seperti sambal tombur,berbagai ikan bakar dan lainnya.

Lokasi hotel ini pun sangat strategis, tidak jauh dari bandara Silangit, berada tepat di bibir danau toba, dekat dengan pasar desa Muara sehingga ada ATM BRI di sini * maklum, agak sulit untuk menemukan ATM di sekitar danau toba kecuali di pasar atau kota yang ramai penduduk. *

Pemandangan indah yang tampak dari halaman belakang hotel ini yang paling membuat saya terkesan. Selain itu, air Danau Toba yang masih sangat jernih juga menarik perhatian saya.

Air Terjun Situmurun atau Air Terjun Binangalom

Setelah makan siang dan puas berbelanja oleh-oleh di Tomok, Pulau Samosir. Kami pun melanjutkan perjalanan menggunakan kapal motor ke salah satu air terjun terunik di Danau Toba. Disebut unik karena air terjun ini jatuh langsung ke Danau Toba, sementara air terjun lainnya hanya bermuara di Danau Toba. Untuk menikmati keindahan air terjun ini pun, kita hanya bisa menggunakan kapal alias tidak bisa melalui jalur darat.

Air Terjun Situmurun berada di Kecamatan Lumban Julu, Pulau Samosir, Sumatera Utara. Air terjun setinggi lebih kurang 70 meter dan memiliki 7 tingkatan ini juga dikenal sebagai air terjun Binangalom karena airnya berasal dari sungai di desa Binangalom.

Saat ini, pemerintah telah membangun dermaga kecil di dekat air terjun sehingga kapal bisa berlabuh dan para pengunjung bisa puas menikmati air terjun dari dekat atau bahkan berenang di bawah aliran air terjun * sayangnya kami tidak bawa perlengkapan berenang, well next time. *

IMG-20160713-WA0024

Sejarah Huta Siallagan dan Boneka Sigale-gale di Pulau Samosir

Hari kedua kami di Danau Toba, Tulang pun membawa kami mengunjungi salah satu destinasi wisata paling terkenal di Pulau Samosir, yaitu Huta Siallagan.

Huta Siallagan berada di Kampung Siallagan, Desa Ambarita, Kecamatan Simanindo, Pulau Samosir, Provinsi Sumatera Utara. Untuk memasuki objek wisata ini dikenakan tarif idr 2000/orang.

Menurut penuturan guide kami dari Sentosa Lake Resort, Huta Siallagan ini menyimpan sejarah kelam di masa lampau. mengapa kelam? Karena hukum adat-istiadat Batak pada masa itu terbilang cukup sadis.

Memasuki Huta Siallagan, kita akan disambut oleh sederetan rumah adat Batak yang konon katanya sudah berusia ratusan tahun. Semakin kita berjalan ke dalam kampong ini, terlihatlah sebuah rumah Raja batak, Pohon besar yang disebut Hau Habonaran, dan Batu Kursi (persidangan dan eksekusi) Pertama.

Batu kursi pertama, di bawah pohon kayu Habonaran, tepat di tengah Huta Siallagan  sebagai tempat rapat atau pertemuan Raja dan tetua adat membicarakan berbagai peristiwa di huta Siallagan dan sekitarnya, juga menjadi tempat persidangan atau tempat mengadili sebuah perkara kejahatan. Jenis hukuman yang diberikan oleh Raja Siallagan adalah Hukuman denda, penjara (pasung) dan hukuman mati (dipancung).

Lanjut berjalan ke bagian luar Huta Siallagan, kita bisa melihat Batu Kursi Kedua. Disini terdapat Kursi untuk Raja, para Penasehat Raja dan tokoh adat, dan masyarakat yang ingin menyaksikan pelaksanaan hukuman mati.

Penjahat dibawa oleh hulubalang raja ke tempat eksekusi dengan mata tertutup menggunakan Ulos, kemudian ia ditempatkan diatas meja batu besar setelah bajunya ditanggalkan. Kemudian, tubuhnya disayat dengan pisau tajam sampai darah keluar dari tubuhnya. 

Selanjutnya Sang Datu (eksekutor), sambil membacakan mantra-mantra, ia mengambil pedang dan dengan sekali tebas, kepala penjahat dipenggal hingga terpisah dari tubuhnya. Untuk memastikan penjahat sudah mati, sang Datu kemudian menancapkan kayu Tunggal Panaluan ke jantung penjahat. Jantung dan hati dikeluarkan dari tubuh penjahat dan darahnya ditampung dengan cawan lalu diminum bersama. Hati dan jantung penjahat dicincang dan kemudian dimakan oleh Raja dan semua yang hadir. MEnurut keprcayaan mereka dahulu, memakan bagian tubuh penjahat akan menambah kekuatan mereka.

Bagian Kepala dibungkus dan dikubur di tempat yang jauh dari Huta, sementara bagian tubuhnya dibuang ke danau. Raja kemudian memerintahkan warganya untuk tidak menyentuh air danau selama 1-2 minggu karena air masih dianggap berisi setan atau kekuatan gaib.

Selain batu kursi atau batu persidangan, di dalam hutta siallagan juga kita bisa melihat dan menari tor-tor bersama boneka sigale-gale.

Menurut sejarah, boneka sigale-gale dibuat ketika seorang raja kehilangan anaknya. Boneka kayu ini merupakan perwujudan anak sang raja. Boneka tersebut menemani sang raja hingga akhir hidupnya, dan pada saat kematiannya, boneka sigale-gale menari di samping jenazah sang raja.

Seiring waktu, boneka sigale-gale menari ketika ada anak laki-laki yang meninggal atau keluarga yang berduka karena tidak punya anak laki-laki. Mereka percaya bahwa arwah yang meninggal akan bersemayam di dalam sigale-gale.

Konon katanya, setiap orang yang membuat boneka sigale-gale harus menyerahkan seluruh jiwanya agar boneka itu bisa bergerak layaknya manusia hidup. Karena itu, siapapun yang membuat boneka sigale-gale akan meninggal sebagai tumbal setelah pembuatannya selesai.

Serunya Bermain Banana Boat di Danau Toba

Bermain banana boat mungkin terbilang biasa jika kita melancong ke destinasi wisata yang dipenuhi air, macam pantai, danau maupun waduk. Namun, akan menjadi luar biasa bila bermainnya di Danau Toba, salah satu danau terbesar dan terdalam di dunia * Tulang bilang kedalaman danau toba lebih kurang 1000 meter. *

Beruntungnya, hotel tempat kami menginap, Sentosa Lake Resort, menyediakan fasilitas permainan air. Mulai dari banana boat, donut boat, bebek-bebekan, speed boat dll.

Sore itu, setelah kami puas menikmati Air Terjun Janji kami pun bersemangat main banana boat. Pelampung pun segera dikenakan. Speedboat bernama GNB * singkatan dari Grace Ben Nuel yang merupakan murid kami di Sekolah Highscope Indonesia * pun sudah siap untuk menarik banana boat kami menyusuri  indahnya danau toba.

Pengalaman yang benar-benar indah. Berada di tengah-tengah danau toba, dimanjakan dengan pemandangan perbukitan yang hijau, sejuknya udara yang kami hirup, dinginnya air yang sesekali membasahi kami…

Meskipun Tulang sengaja melakukan manuver-manuver ajaib sehingga menyebabkan kami jatuh terhempas ke dalam danau toba, sebanyak 3 kali * 3x cukup yaaa Tulang, pleaseee… Jatuhnya si enak, usaha naik ke speed botany itu yang butuh perjuangan * Kami sangat menikmati permainan ini. Ingin rasanya terus bermain air. Ingin rasanya mencoba semua fasilitas permainan air yang ada, namun apa daya, sunset pun mulai terlihat di kejauhan.

Mau tidak mau, rela tidak rela, kami pun harus keluar dari sejuknya mengapung di danau toba.

 

Sejuknya Air Terjun Janji (Waterfall of Janji)

Salah satu destinasi wisata yang wajib dikunjungi di Danau Toba adalah Air terjun janji atau Waterfall of Janji.  Air terjun ini merupakan satu dari banyak sekali air terjun di kawasan danau Toba.

Air terjun ini berada di Desa Marbun Toruan, Kecamatan Baktiraja, Kabupaten Humbang Hasundutan (Humbahas), Provinsi Sumatera Utara

Air terjun setinggi lebih kurang 30 meter ini bermuara langsung ke Danau Toba. Pada saat kami menginjakkan kaki di dermaga, kami sudah disambut dengan aliran air terjun ini. * kebetulan saya dan teman-teman sudah disewakan kapal untuk menuju lokasi ini. meskipun jalur darat juga bisa dilalui untuk sampai di sini. *

Untuk menikmati air terjun janji tidak dipungut biaya alias gratis. Namun, di air terjun ini tidak diperbolehkan untuk mandi atau bermain air langsung di bawah air terjun. Bagi pengunjung yang ingin mandi atau bermain air, disediakan bilik khusus untuk pria dan wanita tepat di bagian bawah aliran air terjun.

Baca ini juga:

 

Menikmati Keindahan Danau Toba dari Tugu Toga Aritonang

Selagi kami menikmati perjalanan menuju Danau Toba, Tulang pun mengajak kami untuk berhenti sejenak di kawasan Tugu Toga Aritonang. Sebuah tugu yang Nampak dari kejauhan dan dengan gagahnya berdiri tegak menjulang hingga seakan-akan mencapai langit. 

Tugu ini berada di Desa Dolok Ambar atau Desa Aritonang, Kecamatan Muara, Kabupaten Tapanuli Utara, Provinsi Sumatera Utara. Tugu ini dibangun atas gagasan dan kesepakatan keturunan Toga Aritonang di Bona Pasogit (di Sumatera Utara) maupun di perantauan.

Toga Aritonang adalah salah satu anak dari Raja Lontung. Mereka tujuh bersaudara; Toga Sinaga, Tuan Situmorang, Toga Pandiangan, Toga Nainggolan, Toga Simatupang, Toga Aritonang dan Toga Siregar. Toga Aritonang ini memiliki tiga anak yakni Simaremare, Rajagukguk dan Ompusungguh (ketiga anak ini yang kemudian dibuatkan patungnya dan diletakkan di dalam tugu Toga Aritonang). Turunan Toga Aritonang ini kemudian memakai ketiga marga itu.

Raja Lontung sendiri adalah anaknya Guru Tatea Bulan, yang tinggal di Sianjurmulamula di bagian barat (hasundutan) Pussubuhit (gunung Toba yang meletus 78 ribu tahun lalu) sebagai anak pertama si Raja Batak.

Tugu ini diresmikan pada bulan Maret 2016. Tugu berbiaya 5 Miliar dan setinggi 33 meter ini bisa dibilang merupakan ikon Tapanuli Utara. Tugu ini juga diharapkan bisa mempererat persatuan antara sesama marga Aritonang dan sebagai salah satu upaya melestarikan budaya Tapanuli Utara.

Berikut adalah pemandangan Danau Toba dilihat dari kawasan Tugu Toga Aritonang * what a sight! *

danau toba trip 2016 (69) danau toba trip 2016 (70)

 

Menarik untuk dibaca:

 

 

Dari Silangit ke Danau Toba, Sumatera Utara

It was one of many unforgettable moment in life. When I can see how beautiful my country is. North Sumatra, one of province in Indonesia which have lots of places to visit with their uniqueness and amazing view.

danau toba trip 2016 (63)Tujuan kami kali ini adalah Danau Toba dengan Pulau Samosirnya. Perjalanan dimulai dengan menaiki pesawat Sriwijaya Air dengan rute Soekarno Hatta (CGK) – Silangit (DTB). Bandara Silangit terletak di Siborong-borong, Tapanuli Utara, Sumatera Utara.  Jarak dari pusat kota sekitar 7 km.danau toba trip 2016 (51)

Bandara Silangit dibangun pada masa penjajahan Jepang. Pembangunan kembali bandara ini mulai dilakukan sejak tahun 1995 dengan menambah landas pacu sepanjang 900 meter menjadi 1.400 meter. Pada Maret 2005, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono meresmikan pengoperasian Bandara Silangit. Sejak saat itu pembangunan Bandara pun mulai dilakukan dengan gencar. Pada tahun 2011, Bandara Silangit akhirnya memiliki landas pacu sepanjang 2.400 meter. Pada tanggal 18 Januari 2011, Bandara Silangit didatangi oleh Presiden RI beserta rombongan yang menggunakan pesawat Boeing 737-500. Dengan kedatangan Presiden tersebut, dinyatakanlah bahwa Bandara SIlangit telah sanggup melayani pesawat sekelas B737. [Sumber: Silangit-airport.co.id]

Sebagai info tambahan, pesawat Sriwijaya Air yang kami naiki memberikan makan pagi di pesawat, * which is amaze me since we only have to fly for 2 hours. Well, good service if I may say.

Sesuai dengan namanya, Silangit, berada di bandara ini serasa kita dekat dengan langit. Udara yang amat dingin menyusup ke dalam kulit esaat kita menapakkan kaki di bandara ini. Hampir seperti dinginnya Dataran Tinggi Dieng di pagi hari atau Gunung Prau di siang hari.

Untuk menuju Danau Toba, tepatnya Kecamatan Muara, kami pun harus menempuh perjalanan lebih kurang 1 jam. Perjalanan yang dipenuhi dengan pemandangan indah di kanan kiri atas dan bawah. Sesekali, kami pun berhenti untuk mengabadikan momen ini.

See!

What a beautiful view, eventhough we taking it from the side road on our way to danau Toba.

Perjalanannya seharusnya memakan waktu lebih kurang 1 jam, terpaksa menjadi lebih lama karena saya terkagum-kagum dengan apa yang ada di depan mata saya * maklum, biasa lihat kemacetan dan gedung-gedung kaca beton menjulang ke langit *