Ekowisata Hutan Mangrove: Taman Wisata Alam Angke Kapuk

Taman Wisata Alam (TWA) Angke Kapuk merupakan salah satu objek ekowisata yang cukup ngehits di kalangan warga Jakarta. Puluhan bahkan ratusan foto-foto selfie, preWedding dan lainnya beredar di dunia maya dengan berlatang belakang pemandangan nan indah di TWA ini.

Saya pribadi menganggap bahwa tempat wisata ini sangat cocok untuk bernarsis ria dan sangat instagramable. Selain tentunya, sangat cocok untuk menambah pengetahuan kita yang dangkal ini mengenai hutan mangrove.

Taman Wisata Alam Angke menjadi satu-satunya kawasan hutan mangrove terluas di Jakarta. Pepohonan mangrove yang rimbun, jalan setapak yang tersusun rapi dari batang pohon mangrove dan juga bambu, ditambah lagi dengan pemandangan pantai serta hembusan angin laut yang sepoi-sepoi membuat tempat ini cukup tepat untuk sekadar melepas lelah dan penat akibat kesibukan dan kemacetan Kota Jakarta.

Tempat wisata ini berada di ujung utara Jakarta, tepatnya di Pantai Indah Kapuk. Berdasarkan data dari Direktorat Pemanfaatan Jasa Lingkungan Hutan Konservasi, diketahui kalau Taman Wisata Angke Kapuk ini seluas 99.82 Ha.

Taman ini dipenuhi oleh berbagai jenis tanaman mangrove, diantaranya adalah Api-api (Avicenia sp), Bidara (Sonneratia caseolaris), Bakau (Rhizophora mucronata, Rzhizophora stylosa), dll.

Lokasi

Untuk mencapai lokasi, bisa dengan kendaraan pribadi maupun transportasi umum. Saran saya, jika menggunakan transportasi umum, lebih baik naik Taxi, Gojek, Grab, Ojek, Bajaj, atau Bus Kota Terintegrasi Busway (BKTB) dari halte Monas (rute Monas – PIK), jadi tidak perlu naik turun angkot yang berarti hemat ongkos dan tenaga. BKTB akan mengantarkan kita tepat hingga depan Yayasan Budha Tzu Chi. Kemudian, cukup berjalan menyusuri Yayasan tersebut (ke arah belakang) dan sampailah kita ke lokasi.

Kesan pertama saya dalam perjalanan menuju TWA ini adalah, wow… miris! Betapa tidak, TWA ini dikelilingi perumahan mewah, bahkan bisa dibilang sangat mewah. Saya seakan berada di dunia lain (setelah sebelumnya melewati lorong-lorong sempit dan kumuh di kawasan Duri dan Tanah Abang).

Belum lagi tampilan kompleks Yayasan Budha Tzu Chi yang sangat teramat luas dan indah, tidak bisa saya jelaskan dengan kata-kata. Seakan-akan saya sedang berada di negeri Cina.

Wow, sekali lagi wow… takjub! Pintu gerbang TWA tepat di depan gedung Yayasan ini. Mereka hanya dipisahkan oleh sebuah jalan raya.

Kok bisa ya? Untuk sesaat, ingatan saya melayang mundur ke belakang saat kawasan PIK belum dipenuhi bata, beton, dan baja.

Tiket

  • Dewasa: IDR 25.000
  • Anak-anak: IDR 10.000
  • Wisatawan Asing: IDR 250.000
  • Mobil: IDR 10.000
  • Motor: IDR 5000
  • Bus: IDR 50.000

Setelah membayar tiket, kita harus berjalan menuju pos pemeriksaan. Kemudian, kita bebas mengeksplorasi Taman Wisata Alam ini. Selain kita dapat dengan puas mengamati pohon mangrove, kalau beruntung, kita juga bisa mengamati biawak, burung, bahkan kera.

Yang paling membekas bagi saya adalah ketika berjalan di sepanjang titian kayu-kayu ditengah desahan daun-daun pohon mangrove yang saling bergesekan. Sesekali, terpaan angin laut menyentuh kulit saya. Sementara sinar mentari dengan malu-malu mencoba menyelusup dan mengintip di antara dedaunan.

Taman Wisata Alam Agke kapuk (12)Fasilitas

  • Wisata Air. Disini kita bisa mengelilingi perairan di dalam Taman Wisata Air dengan menggunakan kano, perahu dayung, ataupun perahu motor dengan harga mulai dari IDR 100.000/ orang
  • Wisata Hutan. Untuk wisata hutan, kita bisa berkemah, outbound, pemotretan, wisata alam, dan juga penelitian.
  • Penginapan. Bagi yang ingin menikmati taman wisata ini lebih dari satu hari, bisa menginap di Pondok Alam, berkemah dengan tenda, ataupun berkemah dengan Pondok Permanen yang berbentuk mirip tenda.
  • Konservasi. Bagi yang ingin berperan serta dalam konservasi hutan Mangrove, kita dapat menanam pohon mangrove dengan membayar IDR 150.000/orang dan IDR 500.000/orang jika ingin tanaman mangrove diberi papan nama.

Penting untuk diketahui sebelum berkunjung:

  1. Tidak diperbolehkan membawa kamera selain kamera dari handphone, ipad, smartphone dan kawan-kawan sejenisnya. Akan ada pemeriksaan di pos setelah pintu masuk. Jika terpaksa harus membawa kamera digital atau DSLR, maka kita harus membayar IDR 1.000.000.
  2. Tidak diperbolehkan membawa makanan dan minuman dari luar. Jangan khawatir, di dalam TWA terdapat kantin dengan suasana alam dan harga kuliner yang terjangkau. Kalau terlanjur membawa, harus dititipkan di pos atau ‘disimpan’ di dalam tas. * saya memaklumi hal ini, mengingat kesadaran masyarakat untuk tidak membuang sampah sembarangan masih sangat minim. Terbayanglah oleh saya, jika diijinkan membawa makan dan minum, pasti banyak sampah di mana-mana *
  3. Membawa kantong untuk sampah. Yuk, kita menjadi traveler yang cerdas. Dilarang keras untuk membuang sampah sembarangan. Kita bisa menyimpan sampah kita kemudian membuangnya di tempat sampah yang memang tersedia di beberapa area. *saya malah kepengen membawa trash bag rasanya ketika melihat perakaran pohon mangrove yang terbelit tumpukan sampah. Ingin rasanya memunguti sampah-sampah tersebut. Miris *
  4. Sebaiknya datang di pagi hari atau di sore hari menjelang matahari undur diri. Selain menghindari teriknya sengatan matahari, juga menghindari ramainya pengunjung taman wisata ini * saat saya menulis ‘ramai,’ percayalahbahwa itu benar-benar ramai, terutama di saat hari libur * Saya pribadi datang di pagi hari, sehingga saya nyaman dan puas berjalan menyusuri rimbunnya hutan layaknya menikmati hutan pribadi. btw, TWA ini buka jam 8.00-18.00.
  5. Jangan sampai salah kostum. Sangat tidak disarankan memakai high heels, wedges, platform ataupun sandal jepit mengingat akses alias jalanan untuk menyusuri TWA ini terbuat dari bambu atau kayu gelondongan yang berjajar rapi. Jangan memaksakan mengenakan pakaian yang ‘super kece yang lagi ngehits’ hanya demi mode dan foto OOTD kalau tidak ingin menderita karena kepanasan dan kegerahan. Pakailah pakaian yang nyaman dan mudah menyerap keringat * misalnya yang terbuat dari bahan katun dan linen *
  6. Membawa peralatan tempur guna melawan teriknya matahari. Topi atau scarf, handuk kecil atau sapu tangan, tissue, tabir surya alias sun lotion * ini wajib hukumnya *
  7. Memakai minyak atau lotion anti nyamuk bagi yang sensitive terhadap gigitan nyamuk. Maklum, namanya hutan Mangrove, lebat, lembab, berair yang berarti tempat yang cukup disukai para nyamuk.
  8. Bagi solo traveler, wajib hukumnya membawa tongsis agar tidak merepotkan orang lain, selain juga karena mungkin tidak bertemu dengan orang lain.

Taman Wisata Alam Agke kapuk (7)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s