Syar’i For Urban by Si.Se.Sa

sisesa (anak Merry Pramono)

Si.Se.Sa = Siriz, Senaz, Sansa (putri desainer Merry Pramono)

Kali ini Si.Se.Sa, salah satu brand favorit saya, mengeluarkan koleksi terbarunya di tahun 2016. Bertempat di Segara Ballroom, Dharmawangsa Hotel pada Rabu, 10 Februari 2016. Satu hal yang saya suka, Si.Se.Sa menawarkan puluhan busana muslim Syar’i namun tetap fashionable.

syar'i for urban by sisesa (6)syar'i for urban by sisesa (3)Mereka tetap menjaga kaidah islami dalam setiap rancangannya. Busana yang tidak menerawang dan longgar (tidak pas badan), khimar yang menutup bagian dada, gaun yang menjuntai hingga menutup pergelangan tangan. Itulah mengapa tagline mereka, “Syar’i for Urban” bukan sekadar tagline semata. Ditambah lagi dengan taburan kristal swarovsi yang semakin membuat koleksi mereka tampak ekslusif.

syar'i for urban by sisesa (11)Tidak salah rasanya, jika Si.Se.Sa menjadi salah satu pilihan bagi kita, wanita muslim, yang ingin fashionable namun tetap Syar’i.

syar'i for urban by sisesa (4)syar'i for urban by sisesa (7)syar'i for urban by sisesa (15)syar'i for urban by sisesa (1)syar'i for urban by sisesa (14)syar'i for urban by sisesa (2)syar'i for urban by sisesa (13)syar'i for urban by sisesa (12)

Disclaimer: semua foto credit to Indonesia.style, tribunnews, and detik.com

 

 

 

Advertisements

Museum Nasional: “Untuk Kepentingan Masyarakat Umum”

Museum Nasional atau yang juga dikenal dengan nama Museum Gajah ini menyimpan dan memamerkan ratusan koleksi sejarah Indonesia, yaitu benda-benda yang mengandung nilai sejarah Indonesia dan benda-benda peninggalan dari masa pendudukan bangsa Eropa di Indonesia, antara abad ke-16 Masehi hingga abad ke-19 Masehi.

Koleksi tersebut meliputi benda-benda berupa perabot, meriam, gelas, keramik, textil dan aksesoris. Textil, ukiran, pola, dan aksesoris inilah yang cukup menarik rasa ingin tahu saya mengingat passion terhadap fashion.

Museum Nasional terletak di Jalan Medan Merdeka Barat No. 12. Museum ini merupakan salah satu ikon kota Jakarta, jadi tidak ada salahnya kalau kita menyempatkan diri untuk berkunjung ke Museum ini.

Selain arsitekturnya yang indah, koleksi sejarah yang tertata rapi, tiketnya pun terbilang murah, hanya . Kita bisa belajar sejarah Indonesia secara lengkap. Sesuai dengan tagline Museum, “Ten Nutte Van Het Algeemen” yang artinya, “Untuk Kepentingan Masyarakat Umum.”

Sebelum ke Museum, sebaiknya kita melihat website resmi Museum ini di www.museumnasional.or.id. Di website resminya, terpapar dengan jelas dan lengkap berbagai informasi mengenai Museum ini.

Mulai dari harga tiket, peta lokasi, peta area pameran, rute transportasi menuju lokasi hingga penjelasan mengenai koleksi sejarah yang disimpan dan dipamerkan Museum Nasional.

Saya pribadi, sudah lama sekali sejak kunjungan terakhir saya ke Museum ini. Betapa takjub melihat museum yang kini lebih lengkap dan lebih bagus menurut ingatan saya.

Terlebih lagi dengan ditambahnya satu bangunan lagi di kompleks museum ini untuk menambah koleksi yang dipamerkan, membuat saya makin terpana. Karena saya dan dwi pergi di hari Sabtu, pengunjung yang datang pun cukup banyak, termasuk turis mancanegara.

?

?

Descendants of the Sun OST List

Descendants-of-the-Sun

Another kdramas in my waiting list for 2016 is finally airing, Descendants of the Sun. Really curious of how it will be since the writer is the great Kim Eun Sook. Not to mention the lead cast is our Song Joong Ki and Song Hye Kyo.

Both of them are my favorites. Love Song Hye Kyo since Autumn Tales era till now. While Song Joong Ki, well, first time I saw him was in Triple. And this is his new drama after serving his nation in Military. So, who is not gonna be excited to watch him again after 2 years, right.

One more thing, this drama shooting is already ended aka pre-produced, which is I believe, just like Cheese in The Trap, the cinematography and the editing or the scene showing will be just perfect since they have time to make it the best they can. Furthermore, from what I saw, we will be spoiled by many topless soldier scene, Oh dear…

After watching their first 2 episodes, I know I have been fallen in love. And fortunately, it aired during the time when I felt down because of the lack of JungSeol moment in Cheese In The Trap. Somehow, it lifted my kdramas spirit up.

But hey, it just been 2 episode, don’t know about the rest. But I like what I’ve seen so far. The drama kinda reminds me of “Tour of Duty” (a drama aired back in the eighties. beside about war, friendship, military, it also about love between a Liutenant and a doctor. What a memories).

Ah, I also like the OST, so here it is… another long list OST to add to my playlist.

1. Chen (EXO) and Punch – Everytime [OST Part 2] (episode 1, when Mo Yeon treated Shi Jin wound at the Hospital)

2. Chen (EXO) and Punch – Everytime [OST Part 2] – Instrumental

3. Yoon Mirae – Always [OST Part 1 – (episode 1, when Shi Jin left Mo Yeon in the rooftop)

4. Yoon Mirae – Always [OST Part 1] – Instrumental

5. Puff Daddy feat. faith Evans – I’ll Be Missing You (episode 1, when Shi Jin and Dae Young in the cafe with their stuffed doll)

6. Viktor Tsoi (rock band “Kino”) – Red and yellow Days (episode 2, when Shi Jin and Dae Young in some kind of bar)

7. Davichi – This Love [OST Part 3]

8. Davichi – This Love [OST Part 3] – Instrumental

9. Gummy – You Are My Everything (English version) [OST Part 4] 

10. Gummy – You Are My Everything (Korean version) – [OST Part 4]

11. Gummy – You Are My Everything – [OST Part 4] – Instrumental

12. Kim Na young ft. Mad Clown – Once Again [OST Part 5] (episode 6, when Myeong Joo is on a phone with Dae Young and Shi Jin on the bus)

13. Kim Na young ft. Mad Clown – Once Again [OST Part 5] – instrumental

14. K.Will – Talk Love [OST Part 6]

15. K.Will – Talk Love [OST Part 6] – instrumental

16. Lyn – With You [OST Part 7]

17. Lyn – With You [OST Part 7] – instrumental

18. SG. Wannabe – By My Side [OST Part 8]

18. SG. Wannabe – By My Side [OST Part 8] – instrumental

19. Epik High – Love Love Love (episode 4, when Myeong Joo confront Dae Young about the ‘rumor’)

20. WHAM! – last Christmas (episode 4, when Myeong Joo confront Dae Young about the ‘rumor’)

21. Виктор Цой – Печаль (episode 5, when Mo Yeon and Shi Jin at the restaurant)

22. Junsu ft. Song Joong Ki – How Can I Love You (unreleased OST, cut from the drama, episode 8, from Mo Yeon phone during broadcast before her confession)

23. Maroon 5 – Sugar (episode 13, at Subway Sandwich)

24. MC THE MAX – Wind Beneath Your Wings [OST Part 9] – (preview episode 14)

25. Ellie Goulding – How Long Will I Love You (episode 15, at cafe when they both share their mutual feeling)

26. XIA Junsu [JYJ] – How Can I Love You  [OST Part 9]

26. XIA Junsu [JYJ] – How Can I Love You  [OST Part 9] – instrumental

27. Various Artists – Mission Part 2 [OST Vol 01 – Track 14] – instrumental – (episode 6, after Urk’s earthquake when the doctors embark to save victims and episode 2 at cafe when Shi Jin and Mo Yeon separate)

27. Various Artists –  I Love You [OST Vol 01 – Track 15] – instrumental

28. Various Artists –  Mission Part 1 [OST Vol 01 – Track 7] – instrumental – (episode 6, when Shi Jin met his father to take a picture and when Onew cried)

29. Various Artists –  Aroma [OST Vol 01 – Track 16] – instrumental

30. Various Artists –  The Lover [OST Vol 01 – Track 15] – instrumental

31. Various Artists –  My Everything [OST Vol 01 – Track 11] – instrumental

32. Various Artists –  Save The Day  [OST Vol 01 – Track 6] – instrumental – (episode 1, at the helicopter and landed in Afghanistan)

33. Various Artists –  Time Is Running Out [OST Vol 01 – Track 8] – instrumental

33. Various Artists –  Hidden Genius [OST Vol 01 – Track 9] – instrumental

33. Various Artists –  Endless War [OST Vol 01 – Track 10] – instrumental

33. Various Artists –  Heart Break [OST Vol 01 – Track 12] – instrumental

33. Various Artists –  Military Dignity [OST Vol 01 – Track 13] – instrumental

33. Various Artists –  War of Tomorrow [OST Vol 01 – Track 17] – instrumental

34. Various Artists –  No More War [OST Vol 02 – Track 6] – instrumental

35. Various Artists –  Always I Love You [OST Vol 02 – Track 7] – instrumental

36. Various Artists –  Fighter [OST Vol 02 – Track8] – instrumental

37. Various Artists –  Mission 2 Epic Tension [OST Vol 02 – Track 9] – instrumental

38. Various Artists –  Lonely Road [OST Vol 02 – Track 10] – instrumental

39. Various Artists –  Vital Fantasy [OST Vol 02 – Track 11] – instrumental

40. Various Artists –  Love You 2 [OST Vol 02 – Track 12] – instrumental

41. Various Artists –  Don’t Forget Me [OST Vol 02 – Track 13] – instrumental

42. Various Artists –  Time Is Running Out (Ver.2) [OST Vol 02 – Track 14] – instrumental

43. Various Artists –  Attention Mission Ver. [OST Vol 02 – Track 15] – instrumental

44. Various Artists –  Move Forward [OST Vol 02 – Track 16] – instrumental

45. Various Artists –  Freedom  [OST Vol 02 – Track 17] – instrumental

46. Various Artists –  Attention O.R.I [OST Vol 02 – Track 18] – instrumental

47. Korean Army Song – Mochin Sanain

48. Red Velvet – Dumb Dumb Dumb

Gerakan Indonesia Bebas Sampah 2020

21 Februari 2005 pukul 02.00. Timbunan sampah di TPA Leuwigajah, Cimahi, Jawa Barat, longsor dan mengubur 2 kampung dari peta, yaitu Kampung Cilimus dan Kampung Pojok. 157 orang terkubur sementara ratusan lainnya kehilangan keluarga juga harta bendanya.

Oleh karena itu, pada hari Bumi, 5 Juni 2005, Kementerian lingkungan Hidup menetapkan 21 Februari sebagai Hari Peduli Sampah Nasional.

21 Februari 2016, 11 tahun kemudian, terbersitlah sebuah gerakan yang bertajuk “Indonesia bebas sampah 2020” untuk menyebarkan dan meningkatkan kepedulian masyarakat terkait masalah sampah di negeri ini. Harapannya adalah terwujudnya Indonesia yang bebas dari sampah di tahun 2020.

Berbekal rasa peduli kami terhadap masalah sampah di Indonesia, pagi itu, sekitar pukul 6 pagi, saya, Dwi, dan mama bergabung dengan ratusan orang lainnya di Taman Untung Suropati di kawasan menteng untuk ambil bagian dalam gerakan tersebut.

Bersama relawan Turun Tangan, kami melakukan operasi semut memungut sampah, memilahnya, kemudian menukarkan sampah yang berhasil dikumpulkan dengan bibit pohon.

Kemudian, kami bersama-sama bergerak menuju Bundaran Hotel Indonesia untuk menaruh sampah di truk-truk sampah yang sudah disiapkan.

kemudian, kami semua berkumpul untuk mendeklarasikan Indonesia Bebas Sampah 2020 bersama ribuan orang lainnya yang berasal dari hampir semua lapisan masyarakat, secara serentak di Seluruh Indonesia.

Deklarasi Indonesia Bebas Sampah 2020

 

Sebagai upaya menjaga lingkungan demi generasi mendatang yang lebih baik, Kami, masyarakat Indonesia bertekad mewujudkan Indonesia Bebas Sampah 2020.

Kami siap untuk bersama-sama:

 

  1. Mengurangi, memilah, dan meletakkan sampah pada tempatnya.
  2. Mengelola sampah secara bertanggung-jawab.
  3. Aktif berperan serta dalam kegiatan pengelolaan sampah yang diselenggarakan oleh pemerintah.

Rakyat Indonesia, 21 Februari 2016.

 

Mengingat Indonesia sudah darurat sampah, semoga deklarasi ini tidak hanya menjadi deklarasi yang hanya berakhir di bibir saja atau sekadar euforia trending topik di berbagai media sosial belaka. Indonesia bebas sampah 2020 memerlukan aksi nyata dari setiap masyarakat, termasuk saya, agar bisa terwujud.

Saat ini, Indonesia merupakan negara penyumbang sampah plastik ke laut terbanyak kedua di dunia setelah Cina.Kita menghasilkan sampah plastik sebanyak 1 juta plastik per menitnya.

Bayangkan apa jadinya lingkungan hidup bagi anak cucu kita ke depannya jika kita membiarkan permasalahan sampah ini berlalu begitu saja.

Jadi, mari mulai dari diri kita sendiri dengan hal-hal yang terlihat kecil namun bayangkan jika setiap orang melakukannya. Misalnya dengan cara:

  1. Buang sampah pada tempatnya. Kalau tempatnya tidak ada, simpan dululah sampahnya di tas atau kantong pakaian kita. Kalo memang sampahnya basah atau lengket, ya bisa lah diakalin dibungkus pakai tisu baru dibuang kalau sudah menemukan tempat sampah. Terutama kalau naik kendaraan, plis jangan buang sampah dengan cara membuka kaca mobil dan melempar sampahnya ke jalanan.
  2. Tidak usah menggunakan kantong plastik jika barang belanjaan yang kita beli masih bisa masuk di dalam tas atau kantong pakaian. Masa beli coklat 1 masih minta kantong plastik. Pliss deh.
  3. Bawa kantong belanja sendiri dari rumah, misal tas kain atau tas kanvas atau taruh di dalam kardus bekas jika belanja bulanan.
  4. Kurangi minum dari botol kemasan, mulailah bawa botol minum sendiri, kan sekarang banyak tumblr yang kece-kece model dan size nya.
  5. Mulai pilah sampah kita, at least sampah di rumah. Plastik sama plastik, sisa makanan, sayuran dll jadi satu, kertas sama kertas, dll. Abang-abang yang suka mengambil sampah di rumah juga pasti seneng deh ngambilnya.
  6. Tegur orang-orang disekitar kita yang membuang sampah sembarangan.
  7. Ajarkan anak-anak di sekitar kita budaya menjaga kebersihan.
  8. Konsistensi. Ya, harus konsisten. Kuatkan niat. Semua pasti bisa. jangan lengah, “ga papa deh, sekali aja buang sampah di sini, dikit ini.” buang jauh-jauh pikiran itu dari dalam kepala kita. Sekali kita ga konsisten, bakalan tergoda untuk melakukannya lagi.
  9. dan lain sebagainya (isi saja sendiri ya…)

Menerima Anak Apa Adanya

Entah sudah berapa kali kisah ini direblog, dishare melalui mailing list, twitter, wa, bbm, line, tumblr, facebook, reddit, linkedin, path, instagram, dan jutaan sosmed lainnya. Satu lagi tambahan dari saya rasanya akan menambah panjang daftar yang memang sudah panjang itu.

Sebagai salah satu dari jutaan pendidik di Indonesia, seringkali saya menemukan banyak orangtua yang menaruh harapan besar terhadap anak-anak mereka. Orangtua cenderung membangun ekspektasi yang tinggi terhadap pencapaian anak mereka, terutama dalam hal akademis.

Padahal, setiap anak adalah individu yang berbeda. Mereka mempunyai bakat dan kemampuannya masing-masing. Mereka mempunyai keunikan masing-masing. Ketidakmampuan di bidang akademis tidak lantas membuat mereka menjadi orang yang tidak berguna dan patut dipandang sebelah mata.

Berapa banyak orang sukses di luar sana, yang tidak bergantung kepada kemampuan akademis mereka? Namun, bukan berarti pula kita lantas melupakan sisi akademis dalam pendidikan kita.

Saya suka sekali kisah ini. Kisah ini menginspirasi kita untuk menerima anak apa adanya. Membiarkan mereka menjalani hidup dan pilihan mereka. Membiarkan mereka bahagia.

Beginilah kisahnya…..

Di kelasnya terdapat 50 orang murid, setiap kali ujian, anak perempuanku tetap mendapat ranking ke-23. Lambat laun membuat dia mendapatkan nama panggilan dengan nomor ini, dia juga menjadi murid kualitas menengah yang sesungguhnya. Sebagai orangtua, kami merasa nama panggilan ini kurang enak didengar, namun ternyata anak kami  menerimanya dengan senang hati.

Suamiku mengeluhkan ke padaku, setiap kali ada kegiatan di perusahaannya atau pertemuan alumni sekolahnya, setiap orang selalu memuji-muji “Superman cilik” di rumah masing-masing, sedangkan dia hanya bisa menjadi pendengar saja. Anak keluarga orang, bukan saja memiliki nilai sekolah yang menonjol, juga memiliki banyak keahlian khusus. Sedangkan anak kami rangking nomor 23 dan tidak memiliki sesuatu pun untuk ditonjolkan. Dari itu, setiap kali suamiku menonton penampilan anak-anak berbakat luar biasa dalam acara televisi, timbul keirian dalam hatinya sampai matanya begitu bersinar-sinar.

Kemudian ketika dia membaca sebuah berita tentang seorang anak berusia 9 tahun yang masuk perguruan tinggi, dia bertanya dengan hati kepada anak kami: “Anakku, kenapa kamu tidak terlahir sebagai anak dengan kepandaian luar biasa?”

Anak kami menjawab: “Itu karena ayah juga bukan seorang ayah dengan kepandaian yang luar biasa”. Suamiku menjadi tidak bisa berkata apa-apa lagi, saya tanpa tertahankan tertawa sendiri.

Pada pertengahan musim, semua sanak keluarga berkumpul bersama untuk merayakannya, sehingga memenuhi satu ruangan besar di sebuah restoran. Topik pembicaraan semua orang perlahan-lahan mulai beralih kepada anak masing-masing. Dalam kemeriahan suasana, anak-anak ditanyakan apakah cita-cita mereka di masa mendatang? Ada yang menjawab akan menjadi pemain piano, bintang film atau politikus, tiada seorang pun yang terlihat takut mengutarakannya di depan orang banyak, bahkan anak perempuan berusia 4½ tahun juga menyatakan bahwa kelak akan menjadi seorang pembawa acara di televisi, semua orang bertepuk tangan mendengarnya. Sementar, anak perempuan kami yang berusia 15 tahun terlihat sangat sibuk sekali sedang membantu anak-anak kecil lainnya makan. Semua orang mendadak teringat kalau hanya dia yang belum mengutarakan cita-citanya kelak.

Di bawah desakan orang banyak, akhirnya dia menjawab dengan sungguh-sungguh: Kelak ketika aku dewasa, cita-cita pertamaku adalah menjadi seorang guru TK, memandu anak-anak menyanyi, menari lalu bermain-main * hehehe, bagi orang awam, begitulah pandangan mereka terhadap guru TK. Padahal, guru TK itu lebiiih daripada itu * Demi menunjukkan kesopanan, semua orang tetap memberikan pujian, kemudian menanyakan akan cita-cita keduanya. Dia menjawab dengan besar hati: “Saya ingin menjadi seorang ibu, mengenakan kain celemek bergambar Doraemon dan memasak di dapur, kemudian membacakan cerita untuk anak-anakku dan membawa mereka ke teras rumah untuk melihat bintang”. Semua sanak keluarga tertegun dibuatnya, saling pandang tanpa tahu akan berkata apa lagi. Raut muka suamiku menjadi canggung sekali.

Sepulangnya kami kembali ke rumah, suamiku mengeluhkan kepadaku, apakah aku akan membiarkan anak perempuan kami kelak menjadi guru TK? * apa salahnya jadi guru TK. sighed! sebagai guru TK, emosi saya membaca ini *

Apakah kami tetap akan membiarkannya menjadi murid kualitas menengah?

Sebetulnya, kami juga telah berusaha banyak. Demi meningkatkan nilai sekolahnya, kami pernah mencarikan guru les pribadi dan mendaftarkannya di tempat bimbingan belajar, juga membelikan berbagai materi belajar untuknya.
Anak kami juga sangat penurut, dia tidak lagi membaca komik lagi, tidak ikut kelas origami lagi, tidur bermalas-malasan di akhir minggu tidak dilakukan lagi.

Bagai seekor burung kecil yang kelelahan, dia ikut les belajar sambung menyambung, buku pelajaran dan buku latihan dikerjakan terus tanpa henti. Namun biar bagaimana pun dia tetap seorang anak-anak, tubuhnya tidak bisa bertahan lagi dan terserang flu berat. Biar sedang diinfus dan terbaring di ranjang, dia tetap bersikeras mengerjakan tugas pelajaran, akhirnya dia terserang radang paru-paru. Setelah sembuh, wajahnya terlihat semakin kurus. Akan tetapi ternyata hasil ujian semesternya membuat kami tidak tahu mau tertawa atau menangis, tetap saja rangking 23. Kemudian, kami juga mencoba untuk memberikan penambah gizi dan rangsangan hadiah, setelah berulang-ulang menjalaninya, ternyata wajah anak perempuanku kondisinya semakin pucat saja.

Apalagi, setiap kali akan menghadapi ujian, dia mulai tidak bisa makan dan tidak bisa tidur, terus mencucurkan keringat dingin, terakhir hasil ujiannya malah menjadi nomor 33 yang mengejutkan kami. Aku dan suamiku secara diam-diam melepaskan aksi tekanan, dan membantunya tumbuh normal.

Dia kembali pada jam belajar dan istirahatnya yang normal, kami mengembalikan haknya untuk membaca komik, mengijinkannya untuk berlangganan majalah “Humor anak-anak” dan sejenisnya, sehingga rumah kami menjadi tenteram damai kembali. Kami memang sangat sayang pada anak kami ini, namun kami sungguh tidak memahami akan nilai sekolahnya.

Pada akhir minggu, teman-teman sekerja pergi rekreasi bersama. Semua orang mempersiapkan lauk terbaik dari masing-masing, dengan membawa serta suami dan anak untuk piknik. Sepanjang perjalanan penuh dengan tawa dan guyonan, ada anak yang bernyanyi, ada juga yang memperagakan karya seni pendek. Anak kami tiada keahlian khusus, hanya terus bertepuk tangan dengan sangat gembira.

Dia sering kali lari ke belakang untuk mengawasi bahan makanan. Merapikan kembali kotak makanan yang terlihat sedikit miring, mengetatkan tutup botol yang longgar atau mengelap wadah sayuran yang bocor ke luar. Dia sibuk sekali bagaikan seorang pengurus rumah tangga cilik.

Ketika makan terjadi satu kejadian di luar dugaan. Ada dua orang anak lelaki, satunya adalah bakat matematika, satunya lagi adalah ahli bahasa Inggris. Kedua anak ini secara bersamaan berebut sebuah kue beras yang di atas piring, tiada seorang pun yang mau melepaskannya, juga tidak mau saling membaginya. Walau banyak makanan enak terus dihidangkan, mereka sama sekali tidak mau peduli. Orang dewasa terus membujuk mereka, namun tidak ada hasilnya. Terakhir anak kami yang menyelesaikan masalah sulit ini dengan cara yang sederhana yaitu lempar koin untuk menentukan siapa yang menang.

Ketika pulang, jalanan macet dan anak-anak mulai terlihat gelisah. Anakku membuat guyonan dan terus membuat orang-orang semobil tertawa tanpa henti. Tangannya juga tidak pernah berhenti, dia mengguntingkan banyak bentuk binatang kecil dari kotak bekas tempat makanan, membuat anak-anak ini terus memberi pujian. Sampai ketika turun dari mobil bus, setiap orang mendapatkan guntingan kertas hewan shio-nya masing-masing. Ketika mendengar anak-anak terus berterima kasih, tanpa tertahankan pada wajah suamiku timbul senyum bangga.

Selepas ujian semester, aku menerima telpon dari wali kelas anakku.

Pertama-tama mendapatkan kabar kalau nilai sekolah anakku tetap kualitas menengah. Namun dia mengatakan ada satu hal aneh yang hendak diberitahukannya, hal yang pertama kali ditemukannya selama lebih dari 30 tahun mengajar. Dalam ujian bahasa ada sebuah soal tambahan, yaitu siapa teman sekelas yang paling kamu kagumi dan alasannya. Selain anakku, semua teman sekelasnya menuliskan nama anakku. Alasannya pun sangat beragam: antusias membantu orang, sangat memegang janji, tidak mudah marah, enak berteman, dan lain-lain, paling banyak ditulis adalah optimis dan humoris. Wali kelasnya mengatakan, banyak yang emngusulkan agar dia dijadikan ketua kelas saja. Dia memberi pujian: “Anak anda ini, walau nilai sekolahnya biasa-biasa saja, namun kalau bertingkah laku terhadap orang, benar-benar nomor satu”.

Saya bercanda pada anakku, kamu sudah mau jadi pahlawan. Anakku yang sedang merajut selendang leher terlebih menundukkan kepalanya dan berpikir sebentar, dia lalu menjawab dengan sungguh-sungguh: “Guru pernah mengatakan sebuah pepatah, ketika pahlawan lewat, harus ada orang yang bertepuk tangan di tepi jalan.” Dia pun pelan-pelan melanjutkan: “Ibu, aku tidak mau jadi Pahlawan aku mau jadi orang yang bertepuk tangan di tepi jalan.” Aku terkejut mendengarnya dan mengamatinya dengan seksama. Dia tetap diam sambil merajut benang wolnya, benang warna merah muda dipilinnya bolak balik di jarum, sepertinya waktu yang berjalan di tangannya mengeluarkan kuncup bunga.

Dalam hatiku pun terasa hangat seketika.

Pada ketika itu, hatiku tergugah oleh anak perempuan yang tidak ingin menjadi pahlawan ini. Di dunia ini ada berapa banyak orang yang bercita-cita ingin menjadi seorang pahlawan, namun akhirnya menjadi seorang biasa di dunia fana ini. Jika berada dalam kondisi sehat, jika hidup dengan bahagia, jika tidak ada rasa bersalah dalam hati, mengapa anak-anak kita tidak boleh menjadi seorang biasa yang baik hati dan jujur.

Jika anakku besar nanti, dia pasti menjadi seorang isteri yang berbudi luhur, seorang ibu yang lemah lembut, bahkan menjadi seorang teman kerja yang gemar membantu, tetangga yang ramah dan baik. Apalagi dia mendapatkan ranking 23 dari 50 orang murid di kelasnya, kenapa kami masih tidak merasa senang dan tidak merasa puas?

Masih ingin dirinya lebih hebat dari orang lain dan lebih menonjol lagi?

Lalu bagaimana dengan sisa 27 orang anak-anak di belakang anakku? Jika kami adalah orangtua mereka, bagaimana perasaan kami?

Anakmu bukan milikmu.
Mereka putra putri sang Hidup yang rindu pada diri sendiri,
Lewat engkau mereka lahir, namun tidak dari engkau,
Mereka ada padamu, tapi bukan hakmu.
Berikan mereka kasih sayangmu, tapi jangan sodorkan bentuk pikiranmu,
Sebab mereka ada alam pikiran tersendiri.
Patut kau berikan rumah untuk raganya,
Tapi tidak untuk jiwanya,
Sebab jiwa mereka adalah penghuni rumah masa depan, yang tiada dapat kau kunjungi meski dalam mimpi.
Kau boleh berusaha menyerupai mereka,
Namun jangan membuat mereka menyerupaimu
Sebab kehidupan tidak pernah berjalan mundur,
Pun tidak tenggelam di masa lampau.
Kaulah busur, dan anak-anakmulah
Anak panah yang meluncur.
Sang Pemanah Maha Tahu sasaran bidikan keabadian.
Dia merentangmu dengan kekuasaan-Nya,
Hingga anak panah itu melesat, jauh serta cepat.
Meliuklah dengan suka cita dalam rentangan tangan Sang Pemanah,
Sebab Dia mengasihi anak-anak panah yang melesat laksana kilat
Sebagaimana pula dikasihiNya busur yang mantap.
[ Khalil Gibran ]

Belajar Itu Tidak Mudah!

Dulu, ketika saya masih sekolah, seringkali saya mendengar orangtua bilang kalau belajar itu mudah alias gampang. Masalahnya cuma kita ingin belajar atau tidak dan bagaimana usaha kita untuk belajar.

Yang susah itu, menghasilkan uang untuk membiayai kita sekolah. Intinya, bekerja lebih susah ketimbang cuma belajar.

Dari sudut pandang orangtua, tentu saja hal itu benar.

Tapi, pernahkah kita menempatkan diri sebagai anak-anak (usia dini terutama). Bagi mereka,

Belajar jelas bukan hal yang mudah.

dscn2979Bayangkan ketika kita pertama kali masuk sekolah. Entah itu TK, SD, SMP, SMA, bahkan Universitas. Pasti ada perasaan takut tersembunyi di dalam hati kita.

Sekarang, bayangkan kita adalah seorang anak berusia 1,5 – 2,5 tahun di hari pertama kita masuk sekolah.

Kita datang ke tempat yang baru, gedung yang baru pertama kali kita datangi, penuh oleh anak-anak dan orang dewasa yang asing bagi kita.

Kemudian masuk ke dalam ruangan yang penuh mainan, buku, dan fasilitas lain yang jelas bukan milik kita. Banyak sekali yang harus kita pelajari.

Bagaimana caranya supaya bisa kenal semua orang ini?

Bagaimana bergaul dengan mereka?

Bagaimana cara memainkan semua mainan ini?

Bagaimana cara membaca buku itu?

Bagaimana cara memakai semua fasilitas itu?

Bisakah kita melakukan semua itu?

Dan jutaan pertanyaan lain yang berkeliaran bebas di kepala kita, persis di hari pertama kita menginjakkan kaki di sekolah.

Untuk menjawab semua pertanyaan di atas. Cuma satu jawabannya.

Belajar.

Kita harus belajar.

Bagaimana caranya? Untuk belajar, kita harus memberanikan diri untuk masuk sekolah dan mencoba segala sesuatu yang baru di sepanjang perjalanan sekolah kita.

Belajar adalah kerja keras, dan mengambil resiko… akan kemungkinan untuk ditertawakan, disalahkan, tidak diacuhkan, atau ditolak. (Hyson, 2004)

Sekarang, siapa sih yang dengan sengaja berani untuk ditertawakan, disalahkan, tidak diacuhkan dan ditolak. Saya rasa tidak ada.

Selama kita tidak memiliki fondasi emosional yang kuat maka kita semua pasti akan menghindari hal tersebut. Yang berarti, kita tidak akan bisa mempelajari apapun juga.

Jadi, siapa bilang kalau belajar itu mudah?

Ya, belajar itu mudah. Belajar bisa dilakukan di mana saja dan kapan saja. Belajar tidak dibatasi oleh umur, kekayaan, ataupun jarak.

Akan tetapi, belajar itu juga tidak mudah. Belajar membutuhkan usaha dan kerja keras. Belajar juga membutuhkan keberanian, bahkan hanya untuk sekadar memulainya.

Dan bagi saya, bahkan untuk punya keberanian saja bukanlah perkara yang mudah.

Meskipun belajar bukan hal yang mudah, lantas bukan berarti kita jadi berhenti belajar atau malas belajar. Ini berarti kita harus menghargai sekecil apapun pengetahuan dan keahlian yang kita dapat melalui proses belajar.

Kita harus bersyukur bahwasanya kita masih diberi kesempatan untuk belajar sesulit apapun itu. Karena, percayalah, kalau banyak orang di luar sana, yang ingin belajar namun tidak punya kesempatan untuk belajar, melainkan hanya menjadi sebatas impian.