Cara Mengurus NPWP yang hilang

29 Desember 2015,

Masih melanjutkan mengurus kartu yang hilang, saya pun segera meluncur ke Kantor Pelayanan Pajak Pratama Pondok Aren untuk mengurus kartu NPWP (Nomor Pokok Wajib Pajak) saya yang hilang.

Alamat:

Jl. Bintaro Utama Sektor V

Kampus Stan Bintaro Jaya

Sehari sebelumnya, saya menyempatkan diri mendatangi kantor tersebut setelah mengurus SIM di Serpong. Tapi sesampaiya disana, petugas menyampaikan kalau untuk layanan pembuatan NPWP sudah tutup. Mereka hanya membatasi 100 kartu yang diterbitkan setiap harinya.

Hari ini, saya sengaja datang pagi sekitar jam 7 agar bisa mendapat nomor antrian paling awal. Pelayanan memang dimulai pukul 08.00 pagi, namun pengambilan nomor antrian sudah dibuka sejak jam 07.00 pagi.

Jadilah saya mendapat nomor urut 8. Setelah itu, cukup banyak orang yang datang untuk mendapatkan layanan dari Kantor Pajak Ini. Belum tepat jam 8, seluruh bangku tunggu sudah dipenuhi manusia.

Kantor ini cukup nyaman, bersih dan dingin * karena masih baru kali ya. * Interior dan furniturnya pun masih bagus. Ditambah lagi disediakan Aqua gelas gratis bagi kami yang menunggu.

Sabar menunggu, akhirnya tiba giliran saya. Loket 1, 2, dan 3 membuka layanan untuk NPWP.

Dokumen yang harus dibawa:

  1. Surat Keterangan Kehilangan dari kepolisian.
  2. Fotokopi KTP atau surat keterangan KTP.
  3. Fotokopi NPWP yang hilang.
  4. Formulir Permohonan Cetak Ulang yang sudah diisi (bisa diambil dilokasi).
  5. Formulir Perubahan Data Wajib Pajak * karena alamat saya sudah berubah alias pindah alamat * yang sudah diisi (bisa diambil di lokasi).

Semua dokumen sudah lengkap, petugas pun mengecek dan siap mencetak kartu saya. Hingga tiba-tiba…

Petugas: “maaf, tapi NPWP yang ibu berikan, di dalam data kami, statusnya telah dihapus.”

Saya: “maaf, kenapa mas? ” masih mencerna kata ‘hapus’

Petugas: “iya, jadi, kartu NPWP ibu yang hilang itu sudah dihapus, sudah tidak berlaku lagi.”

Saya: “apa!!! sejak kapan dihapusnya mas. Saya masih pakai NPWP saya itu loh mas.”

Petugas: “O gitu ya bu. Ibu pernah lapor-lapor pajak ga selama ini.”

Saya: *dalam hati saya, hellloooow* “Saya masih bayar pajak dan lapor SPT tahunan dengan nomor itu loh mas. Gimana cara, Kok bisa dihapus,”

Petugas: “iya bu, statusnya terhapus. Jadi kalau ibu mau, ibu jadinya buat kartu NPWP baru. Jadi ibu mengajukan pembuatan NPWP baru.”

Saya: “lah, gimana ceritanya mas. Nanti laporan pajak saya gimana? Pajak saya yang kemarin-kemarin kemana?”

Petugas: dia terdiam. “iya bu, tidak apa-apa ko bu. Cuma ibu jadinya harus bikin yang baru saja”

Wajar sih, dia mana tahu soal beginian, dia kan hanya petugas yang barusan mengecek data saya di computer.

Saya: menghela napas panjang. “ya sudah mas, apa yang saya butuhkan untuk buat yang baru.”

Petugas: mengambilkan formulir permohonan pembuatan KTP dan Surat keterangan bekerja. “Ibu hanya perlu mengisi ini, disertakan materai 6000. dan fotokopi KTP. nanti ibu langsung saja ke sini.”

Saya: “kalau gitu nanti saya kembali mas. makasi.”

Saya pun kembali mengambil nomor antrian dan hendak membeli materai. Sampai di luar. Entah kenapa kesalnya tak tertahan. Bagaimana bisa terhapus, selama saya kerja saya bayar pajak dan lapor pajak dengan nomor NPWP tersebut. Lantas, kemana semua uang pajak saya.

Akhirnya, saya batalkan niat untuk membuat NPWP baru. Saya akan konsultasikan dulu ke HRD tempat saya bekerja mengenai perubahan ini.

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s