Honesty (Kejujuran)

June 28, 2015

Saat itu, laju kereta perlahan-lahan terhenti. Setiap orang bertanya-tanya dalam hati, ada apakah gerangan kali ini. Tiba-tiba, beberapa orang sekuriti memasuki gerbong yang kami duduki. Mereka dengan tegasnya meminta semua penumpang untuk mengeluarkan kartu kereta * semacam operasi dadakan * Mereka juga menanyakan setiap bungkusan yang dibawa oleh para penumpang * takut bawa bom kali ya. *

Sontak semua orang kaget, tentu saja dengan alasannya masing-masing. Ada yang kaget karena ia mendadak terbangun dari tidur lelapnya * termasuk saya. * Ada yang kaget karena kartunya dititipkan di saudara atau temannya yang posisinya tidak segerbong dengannya. Ada yang kaget karena takut dengan pembawaan para sekuriti tersebut. Ada juga yang kaget karena mungkin mereka tidak mempunyai kartu * alias naik secara ilegal. *

Satu persatu penumpang menyerahkan kartu untuk kemudian dicek dengan alat yang sekuriti itu bawa. Sampai tiba gilirannya seorang pria muda yang sepertinya tertidur pulas.  Setelah dibangunkan, dengan wajah ngantuk dan kaget, dia merogoh setiap kantong di pakaiannya. Hingga kantong terakhir ia tidak menemukan apa-apa, panik mulai menghiasi wajahnya. sementara 4 sekuriti sudah mengelilinginya * malu pasti perasaan dia saat itu. * Tapi, tidak sedikitpun perasaan takut saya lihat tampak diwajahnya. Hanya panik dan bingung.

Tidak jauh dari tempat kejadian, ada seorang cleaner kereta berdiri dan tak henti menatap sang pria muda. Entah kenapa saya merasa, dia menyembunyikan sesuatu. Ada ketakutan dan keraguan di wajahnya. Sementara tangannya tersimpan rapi di dalam saku celananya.

Sementara pria muda tadi masih saja terus dipojokkan oleh para sekuriti, tiba-tiba, sang cleaner menelan ludah, menarik napas panjang, bersiap membuka mulut dan meraih sesuatu dari saku celananya. Dengan suara yang bergetar, dia berjalan mendekati ang pria muda dan menyerahkan sesuatu yang tampak seperti kartu bagi saya. Benar saja, itu adalah kartu kereta.

Tentu saja semua kejadian itu disaksikan oleh seluruh penumpang yang ada di gerbong. Sang cleaner menghela napas panjang, sepertinya bersiap menerima yang terburuk. Tentu saja, semua orang bertanya-tanya, kenapa tidak ia segera berikan kartu itu ke pemiliknya ketika ia menemukannya * ternyata ia menemukannya di dekat kaki si pria muda tadi pada saat ia menyapu. * Saya pikir saat itu, semua orang berpikiran negatif terhadap dirinya, termasuk para sekuriti yang kemudian menegurnya dengan keras.

Entah apa yang ada di dalam pikiran sang cleaner. Apakah ia memang sengaja mengambil tanpa berniat mengembalikan kartu itu. Lalu apa tujuannya? agar bisa menukarkan kartu dan mendapat uang jaminan 10 ribu rupiah? Wallahua’lam. Hanya Allah yang tahu.

Yang jelas, Allah masih melindungi dia. Membuka hatinya untuk bersikap jujur (honest) dengan mengembalikan kartu itu ke pemiliknya. Tidak peduli bagaimana akhirnya penumpang akan memandangnya. Padahal, bisa saja ia berbohong dan menyimpan kartu itu untuk dirinya sendiri. saya pikir, kejujuran masih ada di dalam dirinya. Satu hal yang semakin hari semakin sulit kita jumpai di dalam kehidupan sehari-hari.

That is why, I do really respect the cleaner. For him telling the truth no matter how hard it is.

There is this saying:

Honest heart produce honest actions.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s