Cemburunya Al Qur’an

June 29, 2015

(Photo credit: www.islamic-research.org)

Dua belas hari sudah saya berpuasa, tapi rasanya, belum jua membaca Al Qur’an sesuai dengan apa yang saya rencanakan. Bahkan, bisa dibilang, persentase saya membuka Al Qur’an jauh lebih sedikit dibandingkan persentase saya membuka novel, majalah, koran, handphone, bahkan laptop ataupun komputer * apalagi handphone, bisa 24 jam kalau saya tidak ingat tidur mah. *

Sungguh malu rasanya.

Terlebih lagi setelah saya mendapat sebuah tulisan di bawah ini dari saudari seiman. Astagfirullah, itulah kata pertama yang terucap dari mulut saya.

Cemburunya Al Qur’an

Kalau saja Al Qur’an punya rasa cemburu, ia mungkin iri dengan handphone yang setiap saat hamper selalu dalam genggaman. Begitu ada pesan, langsung dilihat. begitu ada telepon langsung di angkat. Begitu ada notifikasi langsung dicek dan dibaca.

Atau ia iri dengan twitter, facebook, path, instagram, pinterest, tumblr, line, wa yang notifikasinya mampu mengalihkan perhatian * tiap saat ngerefresh buat liat siapa yang ngelike, komen, follow atau unfollow. Ayo ngaku! * Yang beritanya dilihat berkali-kali dalam sehari. Yang statusnya bolak-balik dikomentari. Yang kalimatnya dicermati. Bahkan balasannya selalu dinanti.

Atau ia iri dengan teman sejenisnya macam Buku pelajaran, Majalah, Koran, Pamflet, Brosur, Katalog, dan Novel yang tebalnya berkali-kali lipat Al Qur’an bahkan hingga berseri * ingat Harry Potter atau twilight donk ya, * tapi mampu dilahap habis dalam waktu singkat.

Kalau saja Al Qur’an punya rasa cemburu, ia bisa saja marah dan memutuskan hubungan dengan pemiliknya karena mereka lalai membacanya dan tidak memprioritaskannya * hayo coba siapa yang ga marah kalao ga diperhatiin sama ortu, temen, atau bahkan pacarnya. *

Tapi kawan, cemburunya Al Qur’an itu unik. Bukan sekadar cemburu karena egois tak diperhatikan. Ia tak pernah sedih apalagi marah. Ia tak berontak apalagi merengek minta diperhatikan.

Cukup baginya memberi kita pelajaran dengan membuat kita jauh darinya dan lupa padanya. Membuat bagian darinya yang telah melekat dalam ingatan kita, meluap, menguap, satu per satu. * hiiiy Mengerikan bukan? * Cemburunya Al Qur’an lebih menyedihkan dibanding marahnya pihak lain yang cemburu.

Karena saat pihak lain cemburu, bisa jadi mereka hanya marah sesaat dan segera membaik saat kita kembali.

Tapi saat Al Qur’an cemburu, ia akan meluapkan ingatan kita tentangnya, yang membuat kita tertatih dan terbata-bata, saat ingin kembali padanya.

Ia terlalu special.

Ya, Al Qur’an terlalu special untuk dibandingkan dengan apapun, terlalu mahal untuk disejajarkan dengan apapun.

Astagfirullah…

Menangis saya berurai air mata, bahkan setelah kesekian kali membacanya. Saya takut, sungguh takut kalau sampai ia cemburu. Walaupun sepertinya, ia sudah cemburu untuk sekian lamanya. Setiap kali saya tertatih dan terbata-bata membaca Al Qur’an, saya langsung teringat cerita ini. Betapa mengerikan… jika sampai semua ingatan saya tentang Al Qur’an meluap begitu saja. Semoga Allah SWT senantiasa menjaga saya dan mengingatkan saya untuk tidak melupakan Al Qur’an.

Aamiin.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s