Operasi Sinus (Fess), Koreksi Pembengkokan Tulang Hidung (Septum Deviasi), dan Reduksi Konka: D-Day

Jadi, postingan ini kelanjutan dari postingan saya

A perfect start in Desember dan

A day at Premier Bintaro hospital, case: Sinusitis dan

Operasi Sinus (Fess), Koreksi Pembengkokan Tulang Hidung (Koreksi Septum Deviasi), dan Reduksi Konka: Pra-Operasi.

Senin, 15 Desember 2015

 

Subuh, saya sudah terbangun. Saya selesaikan rapor dan packing barang pribadi sebagai persiapan untuk rawat inap. Dokter memperkirakan saya bakal stay di RS paling lama 4 hari. Karena rumah saya tidak terlalu jauh dari RS, saya tidak terlalu ribet packing, toh saya bisa minta tolong orang rumah untuk mengambilkan barang kalau saja ada yang tertinggal. Yang pasti, saya bawa rapor anak-anak yang sudah saya kerjakan dan yang baru setengah jalan pengerjaannya. Berhubung jadwal check in saya jam 8 pagi, langsung saya meluncur ke RS.

8.30 pagi saya tiba di RS. Rencana saya, check in dulu terus langsung ke bagian rehabilitasi medis untuk terapi inhalasi sebelum operasi. Jadi, pas datang saya langsung Check in untuk rawat inap. Lanjut ke laboratorium untuk Cek Darah dan urine. Terus ke bagian radiologi untuk Rontgen dan CT scan. Karena saya dijadwalkan operasi hari itu juga, semua rasanya dipermudah. Hasil pemeriksaan pun nantinya akan langsung di antar ke dokter, jadi saya tidak perlu lama menunggu hasilnya keluar.

Setelah selesai, saya kembali ke bagian ACS untuk rawat inap. Dari sana, saya ditemani mas-mas yang berseragam abang betawi menuju ke kamar inap saya di Ruang Cendrawasih. Alhamdulillah saya dapat kamar kelas I. Lumayan nyaman lah.

Rencana awal untuk terapi inhalasi batal sudah, mengingat waktu operasi yang sudah semakin dekat. Saya diingatkan untuk puasa makan dan minum. Tapi, alhamdulillah, saya masih boleh minum sampai jam 12 siang nanti. Sembari menunggu, perawat datang silih berganti. Ada yang menjelaskan tentang menu, tentang fasilitas di kelas I, tentang perawat yang menjaga dll.

Wow, oke, begini toh rasanya di RS * maklum, seumur-umur saya belom pernah yang namanya dirawat di RS * Pengalaman RS sakit saya sebatas menemani alm kakak dan alm bapak saya ketika mereka di rawat di RS sebelum mereka meninggal * nota quite pleasant memories if I may say. * Itupun di RS Fatmawati yang jelas-jelas bedaaaa banget pelayanannya sama di Premier Bintaro.

Setelah itu, datanglah dokter Pre-Op anastesi, Dr. Irvan * aish, dokternya masih muda mana ganteng lagi. Aih aih, berdebar jantungku. Lebay * menjelaskan tentang anastesi nanti pas operasi * tapi dia bilang, bukan dia dokter anastesi saya nanti * tidak lama, datang dokter internis yang memastikan kondisi saya siap atau tidak untuk operasi. Akhirnya, datanglah dokter Dini untuk mengecek kondisi terakhir saya. Penantian pun tiba.

15.00, Perawat datang menyuruh saya mandi dengan sabun antiseptik dari RS dan memakai kostum operasi. Tidak lama berselang, perawat datang untuk memasang alat infus * perawatnya agak kesulitan mencari pembuluh darah saya yang katanya kecil dan halus, alhasil dia berkali-kali minta maaf karena khawatir akan menyakitkan *

Kemudian, datang lagi perawat untuk  mengecek suhu, tekanan darah, detak jantung dll. Tidak lama datang lagi perawat untuk menyuntik tangan saya di bagian lengan * sumpah sakit boooo! soalnya nyuntik langsung di daging *  katanya untuk mengecek alergi tidaknya saya terhadap antibiotik yang nanti akan diberikan pasca operasi. Setelah semua selesai, alhamdulillah, kondisi saya memungkinkan alias lolos untuk operasi.

16.00, Perawat mengabari kalau operasi saya ditunda selama 1 jam.

17.00, Perawat datang dan membawa saya ke ruang operasi. Waktu itu, sumpah saya sama sekali tidak merasa takut ataupun deg-degan. Saya cuma merasa malu. Masa masih sehat begini didorong pakai tempat tidur ke ruang operasi.

Sumpah malu, mana jarak ke ruang operasi lumayan jauh. Saya dengan polosnya bilang donk, “sus, ga boleh ya jalan aja ke ruang operasi?” perawatnya ketawa terus bilang, “iya sekarang bisa jalan, nanti abis operasi kan ga bisa. Ayo dipake penutup kepalanya.

Aish, akhirnya saya pura-pura tidur aja deh. Secara ya, saat itu memang bersamaan dengan jam jenguk pasien, jadi ya banyak orang-orang yang sedang menunggu atau menjenguk di depan ruang cendrawasih. Dan, secara serentak mereka semua melihat ke arah saya ketika tempat tidur saya melewati mereka * saya sempat mengitip, heheh.. *.

Masuk ruang operasi, saya ditempatkan di ruang persiapan. Hm… mulai perasaan rada aneh. Mama kelihatan sekali gelisah, untung aja ada Om dan Tante yang mendampingi beliau. Maklum, mama pernah kehilangan ayah, anak, dan suami di ranjang RS. Saya ngerti banget gimana perasaan beliau ngeliat saya seperti ini.

Di ruang persiapan, datang lagi perawat cowo yang menanyakan saya akan operasi apa * sepertinya mereka mau memastikan kalau saya tahu pasti operasi apa yang akan saya jalani * Tidak lama, datang dokter anastesi saya, Dr. Bambang Wiro * udah tua bo, tapi masih ganteng ko. Tetep ya salah fokus hehe. Apa karena mao operasi jadi semua orang keliatan ganteng ya?  error. * beliau menenangkan saya dengan mengajak bercanda. Setelah itu beliau menyalami mama, om, dan tante saya, meminta doa mereka.

17.20, 2 perawat cowo nan muda dan ganteng * sumpah beneran cakep mereka. fokus mel fokus, udah mao operasi ini. Sempet-sempetnya merhatiin perawat. * keluar dari ruang operasi dan bersiap-siap mendorong tempat tidur saya ke dalam ruang operasi. Mama yang tadinya mengira bisa melihat proses operasi melalui monitor/ TV * yang ternyata tidak bisa, * matanya mulai berkaca-kaca. Beliau tiba-tiba menciumi kening saya sambil bilang ke perawat cowo agar menjaga saya di dalam * ya elah mah, dikata anak-anak apa ya saya perlu dijagain *

Nah.. Mulailah saya berasa galau tidak karuan. Didorong di atas tempat tidur melalui lorong RS yang entah mengapa terasa jauh dan panjang * padahal tidak jauh juga * dengan pandangan tepat ke langit-langit melihat lampu RS bukan pemandangan yang indah * tiba-tiba muncul bayangan film-film yang pernah saya tonton, terutama yang ada scene di RS atau operasi * ternyata begini ya rasanya. Sebelum masuk ruang operasi, saya di tempatkan lagi di ruangan tepat di depan kamar operasi * menunggu lagi *  Tidak lama, terbukalah pintu kamar operasi, OH MY GOD.

17.30, Saya dipindahkan ke atas meja operasi. Perawat cowo tadi menjelaskan kalau kita masih menunggu Dr. Dini menyelesaikan operasi di kamar sebelah sekaligus mempersiapkan semua kebutuhan operasi. Mereka sepertinya berusaha membuat saya rileks dengan mencoba mengajak saya mengobrol * keliatan kenceng kali ya ini muka. Gimana engga. Saya, di atas meja operasi, mellihat semua alat-alat operasi di sekeliling saya ditambah lampu operasi yang jadi signature kamar operasi, plus suhu kamar operasi yang dingiiiiin bener. Gimana ga kenceng coba semua otot di tubuh saya, terlebih muka saya. *

Akhirnya, salah satu perawat membawa radio tape dan menyalakan radio kenceng-kenceng. Dia bilang, kita dengerin sekalian nyanyi aja ya biar ga bosen dan tegang. Alhasil, saya sedikit bergoyang di atas meja operasi sambil ikutan nyanyi * agak berasa kaya clubbing. Suara musik kenceng dengan lampu besar dan banyak di atas kepala. *

Ya Allah, saya mulai kepikiran, saya mau diapain ini ya? Nanti saya bangun tidak ya setelah di bius? Banyak ga ya darahnya? Rasanya nanti hidung saya kaya apa ya? Pertanyaan mulai bergelayut di otak saya.

17.50, Dua perawat cowo tadi mulai memakai masker dan mensterilisasi alat * kayanya sih, saya melihat alat-alat bedah lagi dicuci gitu. * Tidak lama, datang 2 perawat lagi menyiapkan alat-alat elektronik di sekitar saya. Terus, datanglah Dr. Bambang menyarankan saya melepas bra * ack, saya lupa, seharusnya kalau mau operasi memang tidak usah dipakai. Malu banget euy, masa diingetinnya sama dokter cowo *

Mulailah mereka sibuk sementara saya pasrah berbaring di meja operasi. Di tubuh saya mulai dipasang alat-alat. Di dada dipasangi pendeteksi detak jantung, di jari juga, belum lagi ditempat infus tadi, mulailah perawat dan Dr. Bambang menyuntikkan cairan bius. Kemudian lampu pun dinyalakan.

Dr. Dini akhirnya datang dan menyalami saya, “hai melly, gimana, udah siap? pasti laper ya?” * iya bener banget dok, lapeeeer, teriak saya dalam hati * yang ternyata hanya sanggup saya jawab dengan senyuman. Beliau lalu mempelajari hasil rontgen dan CT Scan yang sudah ditempel di salah satu lampu di sekat saya. Mereka semua pun bersiap memakai kostum operasi dan mencuci tangan mereka.

18.00, Mereka semua bersiap disekeliling saya. Menyuruh saya berdoa. Tiba-tiba mulai terasa sakit di tangan saya * ternyata lagi disuntik obat bius sama perawat * yang lama-kelamaan terasa dingin mengaliri pembuluh darah saya. Dr. Bambang bilang, “Tahan ya. Agak sakit ya?” Saya mengangguk dan hal terakhir yang saya ingat sebelum akhirnya saya tertidur dengan lelapnya adalah, Dr. Bambang sambil tersenyum bilang, “selamat tidur melly?”

20.30-21.00, Well, kata mama sih sekitar jam segitu.

Mama POV:

Saya keluar dari kamar operasi dan ditempatkan di ruang pemulihan dalam keadaan tidak sadar. Mama yang tadinya menunggu di luar bersama Om, Tante dan sepupu di panggil ke dalam ruang operasi. Mereka semua masuk untuk melihat keadaan saya. Dr. Dini dan Dr. Bambang menyalami keluarga saya dan menyatakan kalau operasi berjalan lancar.

Mama mencium kening saya dan mencoba untuk membangunkan saya. Om, tante, dan sepupu juga berkali-kali memanggil nama saya. Dokter juga mencoba menyadarkan saya. Sampai akhirnya saya bergerak dan sedikit membuka mata. Mama bilang, kalau saya babling, menggumam sesuatu tapi tidak jelas * maklum masih dalam pengaruh bius * tidak lama, perawat datang dan meminta keluarga menunggu di luar supaya saya bisa istirahat. Semua keluar kecuali mama.

Melly POV:

Sayup-sayup saya mendengar seseorang memanggil nama saya. Saya juga merasa ada menepuk badan saya. Saya merasa sudah membuka mata selebar-lebarnya, tetapi anehnya tidak ada yang kelihatan ya * padahal ternyata saya masih merem total * Saya merasa ngantuk sekali, sumpah ngantuk bener sampai-sampai kesel juga ada yang menepuk badan saya.

Gimana sih, orang ngantuk pengen tidur malah digangguin, kaya gitulah rasanya. Lama-lama, saya melihat bayangan-bayangan buram, tidak jelas siapa, yang pasti saya menebak, salah satunya pasti mama.

Saya merasa, mereka semua memaksa saya untuk bangun. Akhirnya saya paksa untuk membuka mata * perasaan udah ngebuka lebar banget * tapi tetap saja, hanya bayangan kabur terlihat. Hanya saja, kali ini, saya sudah bisa mendengar dengan jelas suara yang memanggil saya. Ada suara Dr. Bambang dan suara mama.

Dokter tanya, “melly, udah bangun, liat ini ada siapa?”

Saya jawab, “mama” padahal saya belum jelas itu siapa? cuma yakin aja kalau itu mama.

Jujur, saya tidak ingat kalau ada Dr. Dini dan keluarga yang lain di situ. Saya rasa pengaruh biusnya masih kuat. Saya saja tidak inget sedang berada di mana. Yang saya inget, saya tanya mama, “ma, ini di mana? jam berapa?” Lucunya, sehari setelahnya, mama bilang, omongan saya tidak jelas ketika menanyakan hal itu. Aish, padahal saya merasa dah jelas banget ngomongnya.

21.00-21.30, Saya masih di ruang pemulihan, menunggu untuk diantarkan kembali ke kamar inap. Saya sudah mulai sadar walaupun masih berat sekali rasanya kelopak mata untuk dibuka. Jadi, saya tertidur lagi selama menunggu.

21.40, Saya pun diantarkan ke kamar inap. Samar-samar, saya ingat ketika saya didorong keluar runag operasi, di samping saya ada mama, om, dan tante. Mama bilang, sepanjang perjalanan, orang-orang terpana melihat saya * penasaran kali ya, itu anak sakit apa, dikerumunin keluarganya keluar dari ruang operasi, abis dioperasi apa ya. * Sementara saya, dengan tenangnya meneruskan tidur lelap saya.

Entah berapa lama saya tertidur. Ketika saya terbangun dan bener-bener bisa melihat dengan jelas, saya cuma lihat mama disamping saya. Hal pertama yang saya rasakan bukanlah rasa sakit, melainkan haus dahaga dan lapar tingkat dewa. Baru kemudian saya sadar, saya tidak bisa bernapas lewat hidung. akibatnya, saya seperti ikan dikeluarkan dari dalam air, mulutnya megap-megap hanya untuk bernapas.

Karena dokter mengatakan kalau saya belum bisa makan, jadilah mama meneteskan air ke dalam mulut hanya demi menghilangkan sedikit rasa haus saya. Sementara itu, ditubuh saya masih dipasangi infus untuk obat, obat bius * untuk ngilangin rasa sakit * dan pendeteksi tekanan darah dan detak jantung.

Tiba-tiba, datanglah panggilan alam. Karena saya baru saja dioperasi dengan bius total, jadi perawat belum membolehkan saya untuk bangun apalagi berjalan ke kamar mandi. Akhirnya sodara-sodara, hal yang paling saya takutkan terjadi. Saya harus memakai pispot * oh my god *

Saya yang masih polos ini, sama sekali tidak tahu kalau bentuk pispot cewe beda dengan pispot cowo, ketakutan setengah mati. Masalahnya, saya taunya pispot cowo. Gila, gimana makenya coba, orang bentuknya aja begitu, gimana kalo nanti malah berantakan kemana-mana. Sumprit saya panik setengah mati. Sampai akhirnya perawat membawakan pispot cewe * Ooh, kaya gitu, kiraiin. Tapi tetep aja. OMG. Gimana caranya coba. * Bener aja, panik, rasanya ga karuan.

Perawat akhirnya ngebantu saya. OMG. Malu. Sumpah * rasanya pengen ambil sekop, gali lubang yang dalem, terus loncat ke dalem lubang saking malunya * ga lagi-lagi dah, cukup sekali seumur hidup.

00.00, Saya yang sudah 100 persen sadar, tapi ya masih ngantuk-ngantuk gitu. Aneh, Saya tidak merasa nyeri, sakit, ataupun pusing seperti yang diceritain orang-orang kalau habis operasi. Ternyata, karena saya masih dialiri obat bius * dari botol yang terbaring manis di samping saya * saat itu, saya cuma lapar… mama pun akhirnya membeli bolu kukus dan pelan-pelan memasukkan remah-remah bolu kukus ke dalam mulut.

Rasanya nikmaaaaaat benerrr… * memang ya, ketika kita sakit, baru terasa bahwa ada hal-hal yang sepatutnya selalu kita syukuri, sekecil apapun itu di saat kita sehat. * Maklum seharian tidak makan buat orang yang demen makan dan nyemil seperti saya, itu sama saja penyiksaan yang berat. Setelah itu, saya tidur – bangun – tidur – bangun – tidur – bangun karena perawat bolak-balik masih mengobservasi kondisi saya pasca operasi.

Lanjut ke postingan:

Operasi Sinus (Fess) dan Pembengkokan Tulang Hidung (Septum Deviasi): Pasca-Operasi

 

Advertisements

15 thoughts on “Operasi Sinus (Fess), Koreksi Pembengkokan Tulang Hidung (Septum Deviasi), dan Reduksi Konka: D-Day

  1. mba maaf bisa minta contact person yg dihub? saya mau bertanya soal operasi deviasi septum yg mba jalani beberapa tahun lalu. terimakasih:)

    Like

  2. Ijin tanya mbak…saya disuruh operasi karena sinusitis dan tulang hidung bengkok..jdi disuruh operasi..aku mw tanya biusnyaa itu disuntikkk melalui punggung atau infus yg ditangan?? Terus rasany gimna mbak??

    Like

    • Biusnya lewat infus… Rasanya sakit nyeri2 gitu pas di awal Pas disuntikkin biusnya. Kaya dingin dingin mengalir di penbuluh darah. Bentar doank kp

      Like

  3. Pingback: A Well Spent Saturday at Dea Club: Sport, Business,& Leisure | my30uplife

    • @moe kalo saya bilang ga sakit, boong banget kayanya. Setiap operasi, pasca operasinya pasti sakit. Tapi Alhamdulillah, setelah itu saya sehaaaaat sekali. bahkan sekarang bisa dengan bebas berenang, makan es, dan berdingin-dingin ria tanpa harus megap-megap karena ga bisa napas ^_^ yang penting, kita harus sugesti diri sendir “ga sakit ga sakit, percaya sama Tuhan, percaya sama dokter, sehaaat.” hehe

      Like

  4. Pingback: Operasi Sinus (Fess), Koreksi Pembengkokan Tulang Hidung (Koreksi Septum Deviasi), dan Reduksi Konka: Pasca-Operasi. | my30uplife

  5. Salam kenal mba,

    Saya juga mengalami hal yang hampir sama, diagnosa awal sinusitis n kepala sering pusing seperti Vertigo kemudian dokter menganjurkan operasi setelah CTscan ternyata saya mengalami pembengkokan tulang / sekat hidung bahasa kedokterannya (Septum Deviasi)…ducch mba denger harus dioprasi rasanya takut bgiiiiiit …….
    saya bilang sama dokter nanti aja ya dok pikir pikir dulu….

    Ada yang saya tanyakan ke mba apakah pasca oprasi berpengaruh pada indra penciuma..?
    n dan meninggalkan bekas luka sayat oprasi pada hidung…?,

    makasih ya mba untuk jshare awababnya dan klo boleh saya minta pin BB atu no hp saya pingin dech share langsung dengan mba megenai oprasi tulang hidung yang bengkok…please mba email

    Pian_Numus@yahoo.com

    Like

    • salam kenal…

      Waktu awal denger saya juga ngeriii… apalagi saya denger dari sana-sini banyak yang reaksinya negative. katanya, kalo sinus usahain ga perlu lah di operasi. Ada yang nyaranin alternative ada yang terapi aja dll. Sebelum memutuskan di operasi saya juga panjaaaaang banget pemikirannya.

      Akhirnya ada beberapa hal yang bikin saya akhirnya siap operasi:
      – untuk memastikan, saya sudah ke dua dokter dan keduanya menyarankan operasi.
      – sebelumnya, saya mencoba melalui obat saja. Hasilnya, sembuh tapi ya kambuh lagi. Terapi juga, tapi ya kambuh lagi.
      – saya jadi terserang batuk yang parah, dokter mengatakan ini salah satu akibat dari sinusitis saya yang parah.
      – hasil endoskopi, Rontgen dan CT scan saya memperlihatkan sinus sudah hampir menutup jalan pernapasan saya ditambah septum deviasi.
      – saya bosen sekali dengan flu yang tak kunjung sembuh dan berkepanjangan.
      – Semua biaya operasi ditanggung asuransi
      – keluarga mendukung

      Jadilah saya mendapat ketetapan hati untuk operasi. Saya serahkan semuanya sama Allah dan percaya sepenuhnya sama DR. Dini. Walaupun pastinya, hati agak menciut ketika baca Risiko Tindakan (sebelum TTD operasi).

      Pasca operasi kayanya berbeda-beda untuk setiap orang dan setiap kasus. Untuk saya pribadi, pengaruhnya positif. Indra penciuman saya jadi lebih sensitif. Kalau ada bau apaaaa gitu, jadi lebih kecium. Sejauh ini sih ga mengganggu aktifitas sehari-hari.

      kalau bekas luka sayat, jelas engga ada. prosedurnya namanya bedah endoskopi sinus (operasi dilakukan dibawah pengamatan teleskop yang dimasukkan lewat hidung untuk membuka rongga sinus). jadi ga ada bekas sayatan kaya jaman dulu kali ya.

      cuma karena saya selain operasi sinus, juga koreksi septum dan reduksi konka, jadi ya ada jahitan di dalam hidung. Tapi jahitannya itu seminggu juga udah lepas ko. Malah sebenernya, beberapa jaitannya itu ada yang ga perlu dicabut, alias nantinya jadi daging * cuma saya ga betah, jadi dicabut juga akhirnya * walaupun sebenernya agak nyesel juga minta dicabut, kayanya pas masih ada jaitannya, banyak yang bilang hidung saya jadi tambah mancung * hehehehehe*

      kalau mau tau tentang pasca-operasi boleh baca https://my30uplife.wordpress.com/2015/05/08/operasi-sinus-fess-koreksi-pembengkokan-tulang-hidung-koreksi-septum-deviasi-dan-reduksi-konka-pasca-operasi/

      silakan kalau ada yang mau ditanyakan lagi ^_^

      Like

      • Saya ucapakan terimakasih ya mba atas sharenya, i

        Ini sangat membantu bgt saya agar tetap selalu optimis menuju Sehat

        Mba saat ini telinga saya berdesing terus n kepala pusing seperti vertigo ya kaya kehilangan keseimbangan tubuh mba…., mata n hidung terasa tertekan..

        apa mba mengalami itu sebelumnya..? duuuch mba ni ganggu aktivitas bgt..
        Kebetulan saya tinggal sekitar Graha Raya Bintaro saya mo juga tuch b’r robat di RS Primer Bintaro n ditangani Dr.Dini yang baik itu. Mba kira kira di
        menerima BPJS ga ya mba..? dan klo memang tidak menerima BPJS kisaran biaya Operasi Septum Deviasi berapa ya mba..di RS Primer Bintaro.

        Ooh iya mba kira 2 sampai berapa lama mba bener2 sembuh total dari pasca operasi.

        Dah dulu ya mba mohon untuk jawabanya sekali lagi mba n sy ucapin makasih banyak ya mba..

        Like

        • Kalo gejala, ya hampir mirip kali ya. Cuma paling bedanya tergantung sinusnya yg parah di mana. Sering, Sekilas, berasa mau pingsan, kadang tiba-tiba gelap. Kalau pusing ga usah ditanya lagi, apalagi kalau lagi kambuh. Kalo saya bagian dekat dahi, mata dan pipi yang rasanya nyut2an.

          Nah, enaknya di Premier Bintaro, sebelum kita menyetujui tindakan operasi, kita bisa minta dokternya ngasi semacam surat supaya kita bisa minta perkiraan biaya. Jadi kalo pake biaya pribadi, kita bisa kumpulin dulu tuh uangnya. Dan, perinciannya biaya dikasi dengan sangat detail. Mba-mbanya pun ramah banget jelasinnya. Saya Tanya biaya, mulai dari kelas yang paling bawah sampai yang VVIP, dijelasin loh sama mbanya. Dengan bertanya biaya ini, bukan berarti kita setuju di operasi.

          Kalo di Premier Bintaro kurang tahu ya terima BPJS atau engga. Lebih baik langsung telp ke RS saja untuk informasi tersebut. Kalau biaya pribadi, biaya operasinya saja plus minus 15an (itu untuk Kelas 1 ya) belum sama biaya rawat inap, obat, periksa dokter dll (beda kelas beda biaya). Saya waktu itu habis sekitar 30an lebih. Belum termasuk biaya orang yang nungguin tuh (kan butuh makan, transport, minum juga, belum lagi saya kadang jajan, hehehe…)

          Kalau untuk sembuh total, sebenarnya seminggu setelah operasi sudah bisa beraktifitas seperti biasa. Cuma kalau saya agak-agak ngeri ya, jadi ya, aktivitas biasa tapi tetap selalu pakai masker kalau keluar rumah (tau sendiri udara Jakarta ‘bersih’ nya kaya apa. Setelah 2 minggu udah lupa kali operasi kaya apa. Ga berasa lagi. Kurang dari sebulan dah sembuh total dan saya sudah berenang malahan. Yang penting ikutin saran dokter, minum obat sesuai aturan, jangan bandel, sama makan n minum yang banyak plus doa yang banyak.

          Semoga membantu ya infonya ^_^

          Like

      • hai..salam kenal..kalo boleh tahu operasi sinusitisnya di RS mana? putra saya juga mengalami hal yang sama..
        boleh minta no WA?

        Like

  6. Pingback: Operasi Sinus (Fess) dan Pembengkokan Tulang Hidung (Septum Deviasi): Pra-Operasi | my30uplife

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s