A Day At Premier Bintaro Hospital, Case: Sinusitis

Akhirnya setelah perjuangan batuk pilek yang tak biasa bahkan bisa dibilang luar biasa serta demam selama seminggu, saya menyerah juga dan segera beranjak ke Rumah Sakit Premier Bintaro (RSPB).

Bermodalkan niat baik dan niat sembuh, daftarlah saya ke dokter THT, DR.dr. Dini Widiarni, SpTHT. Setelah lamaaaa sekali penantian, * ternyata emang lagi musim sakit yang berhubungan ama THT ya. Sumpeh ye banyak banget pasiennya terus 1 pasien lamaaa bener. Eh tapi, emang harus begitu kalo ke dokter, 1 pasien lama berarti dokternya enak dan detail meriksa and jelasinnya *

Maklum, saya dapat nomor 35, jadi rada khawatir kapan giliran saya tiba. Untungnya, banyak pasien bernomor di atas saya yang belum datang. Jadilah saya menyelak antrian mereka * hehehehe alhamdulillah *

Bismillah…

Sambil terbatuk-batuk dan dengan suara sengau, saya jelasin keluhan saya. Cuus, langsung aja saya diperiksa. Sang dokter langsung cek tenggorokan saya. Langsung saja dia berkata, “kamu ada sinusitis ya?” * Jlebb, darimana dia tau ya? Liat idung gw aja belum. Saya aja baru mangap sekali doang. * Dengan terbata-bata saya jawab, “hehe, iya dok. Ko dokter tau” * ya iyalah dia tau mellyyyy makanya dia jadi dokter THT, plisss deeh mel mel *

For your info,

Sinusitis adalah peradangan, atau pembengkakan, dari jaringan yang melapisi sinus. Biasanya sinus berisi udara, tetapi ketika sinus tersumbat dan berisi cairan, maka bakteri, virus, dan jamur dapat berkembang dan menyebabkan infeksi. Nah, kondisi yang dapat menyebabkan penyumbatan sinus antara lain flu, alergi rhinitis (pembengkakan pada lapisan hidung), polip hidung (pertumbuhan kecil di lapisan hidung), atau septum yang menyimpang (pergeseran di rongga hidung).

Lanjut deh sang dokter menginterogasi, “udah pernah dirontgen belum?” Saya bales, ” udah dok, ini dia.” Sambil deg-degan ngasihnya, takut nanti ngeliat reaksi dokter.

Apakah tambah parah atao malah…

* Ternyata tambah parah, hehehe. *

Langsung si dokter berkata, “kita endoskopi ya” Tiba-tiba sang dokter mengeluarkan sebuah alat sebelum saya sempat mencerna apa itu endoskopi. Masalahnya saya cuman denger ‘kopi’ nya aja. Sampai akhirnya saya melihat alat yang seperti solder itu digenggaman sang dokter * bak pilem horror *

* Oh My God omg omg mao diapain idung saya *

Saya juga sempet ngelirik ada jarum suntik dan kapas. Terus itu cairan yang dijarum suntik, disemprot ke kapas. Terus itu kapas di masukin ke lubang idung saya, dua-duanya.

* Oh My God omg omg mao diapain idung saya *

Ga lama, ditariklah kapas tadi. Daaaan, eng ing eng, masuklah tuh alat ke lubang idung saya. Kanan… dan Kiri…

Kelakuan si alat di dalem idung gw.

Ternyata, eh ternyata, idung saya mau diperiksa lebih jelas lagi. Jadi alat yang kaya solder tadi, di ujungnya ada kaya lampunya gitu * dan ternyata itu kamera bow *  Nah, tuh alat masuk ke dalam idung dan kita bisa liat melalui layar monitor di depan * Pfiiiuuuh… *

Reaksi saya pas liat ke monitor * udah ga berasa tuh ada alat di dalem idung saya*

Hey, that’s my nose. Grosss, Oooh, So, that is what inside my nose looks like.

Udah mampet pet, hampir rapat. Sang dokter sambil menjelaskan kalau anatomi tulang rawan di hidung saya agak bengkok sehingga mempersempit ruang hidung. Ditambah sinusitis, jadilah semakin terhambat aliran pernapasannya.

Selidik punya selidik, setelah berguru sama mbah google, ternyata endoskopi hidung adalah instrumen seperti tabung khusus, dilengkapi dengan lampu kecil dan kamera yang digunakan untuk memeriksa bagian dalam hidung dan daerah drainase sinus.

Endoskopi hidung memungkinkan dokter untuk melihat tempat yang dapat diakses jalur drainase sinus. Rongga hidung mungkin pertama kali dibuat mati rasa dengan menggunakan anestesi lokal (beberapa kasus tidak memerlukan anestesi). Kemudian endoskopi yang kaku atau fleksibel ditempatkan dalam posisi untuk melihat struktur tulang tengah rongga hidung.

Okey. Sekarang saya siap denger yang terburuk. Pengobatannya.

Eng ing eng.

Sang dokter menyarankan operasi perbaikan tulang rawan, pembersihan sinus, dan pembuangan konka * saya emang pernah ditawarin operasi, tapi perbaikan tulang rawan belom. Langsung mikir deh saya, eeeh bisa ga ya hidung saya sekalian dibikin tambah mancung bak artis hollywood or bak artis arab. hahahaha. *

Saya, terbatuk-batuk * makin parah kali ini setelah denger kata ‘operasi’ * berkata, “tapi saya ga bisa operasi dalam waktu dekat dok. Gimana ya supaya batuk-batuk dan hidung mampet saya membaik sementara nunggu operasi?” Alhamdulillah, masih ada jalan. Dokter bilang, fisioterapi aja dulu. * aiiih, apaan lagi ini * Setelah fisioterapi, kontrol lagi ke beliau.

But, I have no choice. I want to get better as soon as possible.

Jadilah saya dirujuk ke dokter fisioterapi, dan dari sana, saya dianjurkan untuk Inhalation Physiotherapy alias Terapi  Inhalasi. Pada teknik inhalasi, pengobatan dilakukan dengan menggunakan obat cair melalui wadah yang sudah tersedia dalam alat yang disebut nebulizer. Selama 10 hingga 20 menit, masker akan dikenakan di seputar area hidung.

 

Jadi, saya dianjurkan untuk 4x terapi secara berturut turut alias setiap hari * kepikiran setiap hari ke rumah sakit. aaah, nasib nasib. untung rumah sakitnya deket rumah, sangat nyaman, dan keren *

Pertama, saya diterapi panas di bagian pipi hingga hidung kiri dan kanan. Kedua, saya di inhalasi sambil dada saya diterapi panas * liat aja foto di atas. Itulah tampakan saya saat diinhalasi * Ketiga, bagian punggung saya dimassage gitu * lebih kaya ditepuk-tepuk sih * sambil saya dilatih pernapasan sama latihan batuk yang benar * ada loh cara batuk yang benar. Baru tau saya * Dan, selesailah terapi hari ini. * Yippiee… *

Keluar dari tempat terapi, saya langsung…

AHA! aku bisa bernapas lagi… Legaaaa…

So, finally,  my day at Premier Bintaro Hospital aka sehari di Rumah Sakit Bintaro kelar sudah. Dari pagi sampe sore, baru bisa menginjakkan kaki di rumah. Semoga niat baik dan niat sembuh bisa jadi kenyataan. Aamiin.

Bagi yang suka ataupun sering pilek dan batuk, cuma satu kata dari saya. WASPADALAH! WASPADALAH! Sinusitis mengancam anda.

Lanjut ke postingan: Operasi Sinus (Fess), Koreksi Pembengkokan Tulang Hidung (Septum Deviasi), dan Reduksi Konka: Pra-Operasi

 

Ga ada salahnya nambah ilmu dari:
http://putripandanwangi.blogspot.com/2010/05/penyakit-dan-gangguan-pada-mulut-hidung.html
http://lifestyle.okezone.com/read/2010/03/26/27/316560/inhalasi-ketika-batuk-tak-jua-pergi
http://www.dunia-ibu.org/artikel/kesehatan/nebulizer.html
https://www.mail-archive.com/milis-nakita@news.gramedia-majalah.com/msg01966.html

Advertisements

5 thoughts on “A Day At Premier Bintaro Hospital, Case: Sinusitis

  1. halo mbak.. tulisannya inspiratif bgt. kebetulan saya juga mengidap penyakit yang sama, tapi saya belum cek ke dokter. alasannya sederhana; takut operasi dan khawatir biaya operasi yang mahal. tapi setelah baca tulisan mbak diatas saya jadi berniat cek ke dokter THT. tapi sebelum itu, saya boleh konsultasi sama mbak gak? kalo boleh tinggalkan alamat email mbak ya. terimakasi

    Like

  2. Pingback: A Perfect Start in December | my30uplife

  3. Pingback: Operasi Sinus (Fess), Koreksi Pembengkokan Tulang Hidung (Koreksi Septum Deviasi), dan Reduksi Konka: Pasca-Operasi. | my30uplife

  4. Pingback: Operasi Sinus (Fess) dan Pembengkokan Tulang Hidung (Septum Deviasi): D-Day | my30uplife

  5. Pingback: Operasi Sinus (Fess) dan Pembengkokan Tulang Hidung (Septum Deviasi): Pra-Operasi | my30uplife

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s