Momen in Prau Day 3: Sunrise di Puncak Gunung Prau

Minggu Pagi

Allahu akbar allahu akbar… Sayup-sayup bergema suara azan dari kejauhan. Alhamdulillah, pagi datang menjelang. Tapi sayangnya, dingin tak berkurang, masih dengan setia menusuk-nusuk kulit mencoba masuk lebih ke dalam.

Selesai sholat subuh, kami pun tertawa bersama, mengingat bagaimana kami menghabiskan malam ditenda yang unik ini. Bergelut dengan dingin, kesempitan, dan kemiringan

Semangat pun menggelora, tak sabar keluar memburu fajar. Sunrise bahasa kerennya. Betapa kagetnya, ternyata suara keramaian semalam, berasal dari para hiker lain yang sekarang tendanya bermunculan dimana-mana. Kapan datangnya ya, tanya saya dalam hati.

Belum hilang rasa kaget saya, panggilan alam tiba-tiba datang. Cepat-cepatlah kami (bukan saya saja ya) mencari semak-semak sebelum semuanya terlambat. Berbekal tisu basah, keberanian, doa semoga tidak ada orang yang melihat, dan putusnya urat malu, berserah dirilah kami kepada alam. Lega.

Sekarang, waktunya menanti sang mentari muncul dikejauhan. Berdiri melihat pemandangan yang indahnya tak terkira.

Dengan mentari yang malu-malu tapi mau mulai memperlihatkan sinarnya yang masih bercampur dengan kegelapan. Sungguh membuat hati dan seluruh jiwa, berteriak… Subhanallah, Allahu Akbar.

Betapa Allah menciptakan segala sesuatu sangatlah indah melebihi apa yang bisa dibayangkan manusia. Teramat indahnya, sampai-sampai rasa dingin yang merasuk sejak semalam, berangsur-angsur menghilang.

Padahal, suhu pagi ini mencapai 5 derajat celcius. Waduh, pantas saja dingin banget.  Membuat saya mengira-ngira, berapa suhu semalam. Mengingat malam pasti jauh lebih dingin daripada pagi ini.

Tibalah saatnya, mentari tersenyum jauh di timur sana. Para pemburu sunrise, riang gembira menyambutnya.

Ada yang jepret sana-jepret sini.

Ada yang terdiam seribu bahasa,

Banyak pula yang bertepuk tangan sambil berteriak kegirangan.

Yang terakhir ini agak bikin saya bingung juga sih. Memangnya konser apa ya, diberi tepuk tangan segala.

Kalau saya, tergolong yang tersenyum bahagia diam seribu bahasa. Bersyukur bisa menyaksikan pemandangan seindah ini, yang tidak mungkin saya temukan di Jakarta. Setidaknya, tidak pernah seindah ini.

Photocredit: Komplotan 13 (mega, fira, ika, melly, dwi, anda, fajar, ponco, amri, eko, engkong, ilham, arif)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s