Momen in Prau, Day 2 (Memburu Sunset di Puncak Gunung Prau)

Sabtu Sore hingga Malam

Selesai masak, saatnya menyeruput kopi dan energen. Lalu memburu sunset. Jepret sana-jepret sini. Pose sana pose sini. Bersyukur banget saya, ternyata ada Mega dan Eko yang memotret dengan canggih bak potograper profesional. Memang pro sih bagi saya, lihat saja hasil jepretannya kalo tidak percaya.

Puas berpose, waktunya makan. Apa daya, makanan mulai mendingin, sebenarnya sih bisa dibilang mulai membeku. Entah berapa derajat suhu kala itu.

Angin dingin yang berhembus semakin menambah dinginnya udara malam. Saya, yang jelas-jelas dirumah tidak sanggup tidur dengan AC bersuhu 22 derajat, jelas amatlah kedinginan.

Teramat dinginnya, makan pun di dalam tenda dengan kostum lengkap bak orang bule di musim dingin. Pakaian yang tak akan pernah mungkin saya pakai di Jakarta.

Jaket tebal, sarung tangan, legging didalam celana panjang, kaos panjang, syal leher, kaos kaki dobel 2.  Itu saja saya masih menggigil kedinginan. Brrrrr…

Tapi, sebisa mungkin saya tahan. Betapa tidak, mimpi saya adalah mengelilingi Eropa di musim dingin, terutama ke Italia, Turin tepatnya, markas Juventus tercinta. Bagaimana survive di sana kalau dingin macam ini saja saya tidak bisa tahan. Pikir saya menyugesti diri sendiri.

Sayangnya, itu cuma ada dipikiran, kenyataannya saya tetep kedinginan. Untungnya saya tidak sendirian. 5 wanita cantik, semuanya tidak tahan, langsung merangsek masuk ke dalam sleeping bag.

Laksana ulat yang hendak menjadi kepompong. Tiba-tiba, datang kehangatan. masuk ke dalam sleeping bag itu rasanya seperti berada di dalam pelukan erat seseorang.

Semua bisikan dan godaan yang jelas dan nyaring terdengar dari luar, dimuntahkan begitu saja mental jauh, diluar tenda.

Para pria: “Energen nih anget.”

Para wanita: Diam, “Ga peduli.”

Para pria: “Wuiih bintangnya banyaaak, cakeep. Nyesel lo ga liat.”

Para wanita: Masih diam tak bergerak, “Bodo amat, di Jakarta juga ada bintang.”

Para pria: “Gila, pemandangannya ajiiib.”

Para wanita: tetap diam tak bergerak, “Nikmatin aja gih sendiri.”

Lalu, terlelaplah kami diam-diam diiringi suara tenda yang berkibar-kibar diterpa angin malam. Berusaha tidur melewati malam, malam terpanjang yang pernah saya rasakan sepanjang hidup saya.

Ah, for your info, our tent is very unique. Miring, kalau kata Mega mah, serasa tidur diperosotan.

Untung saya dipinggiran, agak cekung ke dalam, jadi tidak perlu tiba-tiba turun ditengah malam, seperti yang dialami Mega dan Fira. Yang sebentar-bentar merayap naik bak ulat beneran.

Sementara Dwi mengigau dan Ika yang diam tak bergerak, membuat kami khawatir tapi tak bisa berbuat apa-apa untuk dirinya saking dingin membatasi kemampuan kami untuk bergerak.

“Malam kian terasa, larut dan dingin… ” Ihiy, persis seperti lagu java Jive. Tapi bukan semakin sepi, saya merasa suasana di luar tenda sepertinya semakin ramai.

Entah ada apa di luar sana. Penasaran, tapi tak cukup kuat menggoda saya untuk bangun dan melihat ada apa gerangan.

Berulangkali saya mengintip jam tangan, “Kapan paginya ya?” Pikir saya. Yang berharap, mentari pagi segera muncul dan menghangatkan. Baru kali ini, saya berharap malam cepat berlalu. Biasanya berharap malam lebih panjang supaya bisa tidur lebih lama.

Photocredit: Komplotan 13 (mega, fira, ika, melly, dwi, anda, fajar, ponco, amri, eko, engkong, ilham, arif)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s