Homemade Salad in The Jar

Siapa yang suka salad? hayoo ngacung? * saya * Nah, sekarang kan lagi booming-boomingnya hidup sehat dengan cara jadi vegan, vegetarian, eat raw, even eat fully raw * jujur saya belom bisa kalo kaya gitu * Tapi, kalo untuk hidup sehat dengan cara banyak makan sayur sama buah emang udah dari kecil ditanamin di keluarga saya * thank you mom * Kalo makan kemana-mana, bisa ditebak dengan mudah kalo saya pasti pilih yang ada sayurnya atao buah. Bahkan saya beruntung, banyak dari temen saya ga suka ama yang namanya sayuran, jadinya ya, sayur yang ada di makanan mereka langsung dilemparkanlah ke saya * yippie, alhamdulillah *

Nah * lagi * berhubung saya sukaaaa bingiiit sama yang namanya sayur. Saya cari cara gimana supaya bisa makan tiap hari tanpa selalu bikin tiap saat. Ternyata, setelah saya nanya mbah gugel, saya temuin metode terbaik buat nyimpen salad * setidaknya terbaik buat sekarang ya * Which is… put them into a jar. In my case, it will be a mason jar.

So, for starts, I tried made my own salad in  a jar. Chopped lettuce, purple cabbage, bombay onion, and red paprika * apa ya bahasa inggrisnya paprika, lupa :p * and add some mini tomatoes. Then, put them inside the jar. Arrange as you like, close the lid, and we’re done! As simple and easy as it is. Last, keep them in the fridge and get them out whenever you want to eat it.

Buat saya pribadi, biasanya engga mencampur dressing-nya ke dalam jar. Kecuali, saya mau bawa itu salad buat makan di jalan, baru deh tuang dressingnya atau dressing duluan di bagian paling bawah baru saladnya, terus dikocok deh * ditutup dulu botolnya tapi ya * And the salad ready to fill my stomach. Yummy!

Untuk dressing, sesuai selera masing-masing. Kalo saya biasanya pake Hellman’s caesar atau cuma pake minyak zaitun sama air perasan jeruk lemon. Terusss, terakhirnya di taburin pake biji wijen, mmmm… * jadi laper pas nulis ini * Sekarang lagi mau coba, bikin dressing sendiri pake buah-buahan sama sayuran, tapi belom kesampean. I’ll let you know when I done it. Will it be delicious or not? I’ll see then.

Advertisements

25 Worth to Try Infused Water

Since I am a fruit lover, I am very much excited when this “infused water” things booming in social media. Back then, my mom occasionally did put some fruits inside the water and keep it for some time. But, we don’t called it infused water at the time.

Suka suka suka bingiit * ikutan bahasa gaul anak sekarang * sama yang namanya buah. Apalagi yang namanya infused water. Segeeeer…. * glek glek glek * Nah, apaan sih infused water? Sebenernya, itu cuma potongan buah yang dimasukin ke dalam air dan dibiarkan beberapa lama. jadi, sari buahnya bisa keluar dan bercampur dengan air.

Buat yang males makan buah, cara ini efektif banget. Secara, kita bisa minum aja airnya, sama kaya kalo kita minum air putih biasa. Sambil ngilangin haus, sekalian dapet asupan vitamin dari si buah. Saik kan? dapet 2 manfaat sekaligus dari sekali tenggak * tenggak, dikata miras ato racun kali yee *

Eniwey, Ini dia TOP 25 Infused Water yang pastinya worth to try

1. Lemon + Mint leaves

2014-08-24-08-56-06_deco

2. Lemon +  Orange + Lime + Mint leaves

IMG_20140803_193807

3. Lemon + Strawberry + Mint leaves

444

4. Lemon + Cucumber + Mint leaves

2014-09-12-15-35-18_deco

5. Lemon + Pomegranate + Mint Leaves

2014-09-11-18-40-48_deco

6. Mango + Lemon + Mint leaves

7. Lemon + Strawberry + Kiwi + Mint leaves

2014-08-03-10-32-44_deco

8. Strawberries + Blackberries + Lime

 

9. Lemon + Blueberries + Mint leaves

 

10. Pineapple + Mint leaves

11. Strawberry + Raspberry + Lemon

12. Grapefruit + Cucumber + Basil/ Mint leaves

13. Orange + Blueberries + Blackberries

111

14. Lemon + Cucumber + Mint leaves + Rosemary

15. Strawberry + Cantaloupe

16. Lime + Raspberry + Cucumber

222

17. Lemon + Pear

18. Blackberries + Mint

19. Strawberry + Blueberries + Pineapple

20. Pomegranate + Blueberries

21. Cucumber + Cherry + Mint leaves

22. Raspberry + Lemon + Mint leaves

333

23. Watermelon + Rosemary

24. Lime/ lemon + Mango

25. Apple + Cinnamon

 

Momen in Prau Day 3: Kembali ke Jakarta

Minggu Sore

Time to go back.

gunung prau (64)

Komplotan pun berkurang 3 orang. Mereka melanjutkan perjalanan ke PUNCAK SIKUNIR. Aaah, I wish I had more holiday so I can join them.

Sisanya, terpaksa memantapkan hati kembali ke realita, kerja dan kerja lagi. Kami pun melaju bersama bis Sinar Jaya menuju ke ibukota tercinta, Jakarta.

Sayangnya, tiket bis Sinar Jaya jurusan Wonosobo-Lebak Bulus-Pasar Minggu sebesar IDR 97.000 terbilang cukup mahal, mengingat kondisi bis tidak senyaman ketika kami berangkat. But hey, ceritanya kan kita backpackeran, so it doesn’t matter.

Lelah, kami pun kerap tertidur, terbangun, dan tertidur lagi.

Senin Pagi

Jam 5 pagi, kami pun tiba di pool bis Sinar Jaya Lebak Bulus. Kami pun resmi berpisah dengan anggota komplotan lainnya dan  langsung menuju tempat kerja. Mendaki gunung Prau serasa bak mimpi.

Dan kini, kami sudah terbangun dari mimpi yang indah itu. Siap berhadapan dengan segala pekerjaan dihadapan kami.

Photocredit: Komplotan 13 (mega, fira, ika, melly, dwi, anda, fajar, ponco, amri, eko, engkong, ilham, arif)

Momen in Prau Day 3: Sejenak Menghampiri Dieng

Minggu Siang

Sesekali beristirahat untuk sekadar menikmati sop buah dan ngemil disana-sini. Ternyata enak banget minum sop buah dijalur. Nge-boost energi, 4 jempol buat Anda yang sudah meracik sop buah dan menaruhnya digelas.

Tak lama, sampai juga di Dieng.

Sayang sekali kami tidak punya banyak waktu untuk menjelajahi Dieng. Mengingat besok pagi, sebagian dari kami harus kembali bekerja, kami pun harus mengejar bis ke Jakarta yang bisa sampai di pagi harinya.

Jadi, akhirnya kami menyewa bis yang bisa membawa kami ke telaga warna kemudian langsung menuju terminal Wonosobo dengan biaya 25 ribu per orang, I think it’s worth it.

So, here are our pictures in telaga warna.

Savana Dieng

Photocredit: Komplotan 13 (mega, fira, ika, melly, dwi, anda, fajar, ponco, amri, eko, engkong, ilham, arif)

 

Momen in Prau Day 3: Turun Gunung

Sekali lagi, kami mengangkat ransel. Menuruni perbukitan dan menjauhi puncak Gunung Prau. Kali ini jalur yang kami ambil, bukan jalur ketika kami mendaki. Why? Karena tujuan selanjutnya adalah telaga warna Dieng.

Jalur kali ini jauh lebih bersahabat. Ditemani hamparan bukit dan pepohonan. Indah. Terlebih lagi saat kami berjalan dibawah dan diantara pohon-pohon cemara.

Gosh, the air is sooooo damn fresh.

Ingin rasanya menghirup sebanyak-banyaknya. Dimasukkan kedalam botol kalau saja bisa. Sebagai bekal tuk di Jakarta ketika macet dan asap kendaraan mendera.

Here, life feels so good.

Being in Nature, feels so good.

Photocredit: Komplotan 13 (mega, fira, ika, melly, dwi, anda, fajar, ponco, amri, eko, engkong, ilham, arif)

Momen in Prau Day 3: Bersiap Turun Gunung

Sunrise sudah.

Waktunya masak lagi untuk sarapan sebelum turun gunung. Menu sarapan, ajaibnya adalah pisang goreng, cilok goreng, tempe mendoan, mie rebus, sarden dan nasi putih. Ditambah, sop buah buat di perjalanan pulang (untuk di jalur kalau kata para hiker expert ini).

Fira in action. Goreng pisang di puncak gunung Prau. A.m.a.z.i.n.g!

Dalam hati saya tersenyum penuh makna. Kapan lagi masak pisang goreng sama sop buah di ketinggian lebih dari 2500 mdpl.

Selesai makan, waktunya say goodbye sama puncak Gunung Prau. Antara mau tak mau. Segan tak segan.

Membayangkan Jakarta dengan segala kesibukannya, membuat enggan untuk melangkah. But hey, that’s my life. And this is some kind of weekend getaway to recharge my soul so I can live my  routine life to the fullest.

So, good bye Prau. Nice to see you. Gonna see you again, even though not in the near future. See you when we see you.

Photocredit: Komplotan 13 (mega, fira, ika, melly, dwi, anda, fajar, ponco, amri, eko, engkong, ilham, arif)

Momen in Prau Day 3: Sunrise di Puncak Gunung Prau

Minggu Pagi

Allahu akbar allahu akbar… Sayup-sayup bergema suara azan dari kejauhan. Alhamdulillah, pagi datang menjelang. Tapi sayangnya, dingin tak berkurang, masih dengan setia menusuk-nusuk kulit mencoba masuk lebih ke dalam.

Selesai sholat subuh, kami pun tertawa bersama, mengingat bagaimana kami menghabiskan malam ditenda yang unik ini. Bergelut dengan dingin, kesempitan, dan kemiringan

Semangat pun menggelora, tak sabar keluar memburu fajar. Sunrise bahasa kerennya. Betapa kagetnya, ternyata suara keramaian semalam, berasal dari para hiker lain yang sekarang tendanya bermunculan dimana-mana. Kapan datangnya ya, tanya saya dalam hati.

Belum hilang rasa kaget saya, panggilan alam tiba-tiba datang. Cepat-cepatlah kami (bukan saya saja ya) mencari semak-semak sebelum semuanya terlambat. Berbekal tisu basah, keberanian, doa semoga tidak ada orang yang melihat, dan putusnya urat malu, berserah dirilah kami kepada alam. Lega.

Sekarang, waktunya menanti sang mentari muncul dikejauhan. Berdiri melihat pemandangan yang indahnya tak terkira.

Dengan mentari yang malu-malu tapi mau mulai memperlihatkan sinarnya yang masih bercampur dengan kegelapan. Sungguh membuat hati dan seluruh jiwa, berteriak… Subhanallah, Allahu Akbar.

Betapa Allah menciptakan segala sesuatu sangatlah indah melebihi apa yang bisa dibayangkan manusia. Teramat indahnya, sampai-sampai rasa dingin yang merasuk sejak semalam, berangsur-angsur menghilang.

Padahal, suhu pagi ini mencapai 5 derajat celcius. Waduh, pantas saja dingin banget.  Membuat saya mengira-ngira, berapa suhu semalam. Mengingat malam pasti jauh lebih dingin daripada pagi ini.

Tibalah saatnya, mentari tersenyum jauh di timur sana. Para pemburu sunrise, riang gembira menyambutnya.

Ada yang jepret sana-jepret sini.

Ada yang terdiam seribu bahasa,

Banyak pula yang bertepuk tangan sambil berteriak kegirangan.

Yang terakhir ini agak bikin saya bingung juga sih. Memangnya konser apa ya, diberi tepuk tangan segala.

Kalau saya, tergolong yang tersenyum bahagia diam seribu bahasa. Bersyukur bisa menyaksikan pemandangan seindah ini, yang tidak mungkin saya temukan di Jakarta. Setidaknya, tidak pernah seindah ini.

Photocredit: Komplotan 13 (mega, fira, ika, melly, dwi, anda, fajar, ponco, amri, eko, engkong, ilham, arif)

Momen in Prau Day 2: Sunset di Puncak Gunung Prau

Sabtu Sore hingga Malam

Selesai masak, saatnya menyeruput kopi dan energen. Lalu memburu sunset. Jepret sana-jepret sini. Pose sana pose sini. Bersyukur banget saya, ternyata ada Mega dan Eko yang memotret dengan canggih bak potograper profesional. Memang pro sih bagi saya, lihat saja hasil jepretannya kalo tidak percaya.

Puas berpose, waktunya makan. Apa daya, makanan mulai mendingin, sebenarnya sih bisa dibilang mulai membeku. Entah berapa derajat suhu kala itu.

Angin dingin yang berhembus semakin menambah dinginnya udara malam. Saya, yang jelas-jelas dirumah tidak sanggup tidur dengan AC bersuhu 22 derajat, jelas amatlah kedinginan.

Teramat dinginnya, makan pun di dalam tenda dengan kostum lengkap bak orang bule di musim dingin. Pakaian yang tak akan pernah mungkin saya pakai di Jakarta.

Jaket tebal, sarung tangan, legging didalam celana panjang, kaos panjang, syal leher, kaos kaki dobel 2.  Itu saja saya masih menggigil kedinginan. Brrrrr…

Tapi, sebisa mungkin saya tahan. Betapa tidak, mimpi saya adalah mengelilingi Eropa di musim dingin, terutama ke Italia, Turin tepatnya, markas Juventus tercinta. Bagaimana survive di sana kalau dingin macam ini saja saya tidak bisa tahan. Pikir saya menyugesti diri sendiri.

Sayangnya, itu cuma ada dipikiran, kenyataannya saya tetep kedinginan. Untungnya saya tidak sendirian. 5 wanita cantik, semuanya tidak tahan, langsung merangsek masuk ke dalam sleeping bag.

Laksana ulat yang hendak menjadi kepompong. Tiba-tiba, datang kehangatan. masuk ke dalam sleeping bag itu rasanya seperti berada di dalam pelukan erat seseorang.

Semua bisikan dan godaan yang jelas dan nyaring terdengar dari luar, dimuntahkan begitu saja mental jauh, diluar tenda.

Para pria: “Energen nih anget.”

Para wanita: Diam, “Ga peduli.”

Para pria: “Wuiih bintangnya banyaaak, cakeep. Nyesel lo ga liat.”

Para wanita: Masih diam tak bergerak, “Bodo amat, di Jakarta juga ada bintang.”

Para pria: “Gila, pemandangannya ajiiib.”

Para wanita: tetap diam tak bergerak, “Nikmatin aja gih sendiri.”

Lalu, terlelaplah kami diam-diam diiringi suara tenda yang berkibar-kibar diterpa angin malam. Berusaha tidur melewati malam, malam terpanjang yang pernah saya rasakan sepanjang hidup saya.

Ah, for your info, our tent is very unique. Miring, kalau kata Mega mah, serasa tidur diperosotan.

Untung saya dipinggiran, agak cekung ke dalam, jadi tidak perlu tiba-tiba turun ditengah malam, seperti yang dialami Mega dan Fira. Yang sebentar-bentar merayap naik bak ulat beneran.

Sementara Dwi mengigau dan Ika yang diam tak bergerak, membuat kami khawatir tapi tak bisa berbuat apa-apa untuk dirinya saking dingin membatasi kemampuan kami untuk bergerak.

“Malam kian terasa, larut dan dingin… ” Ihiy, persis seperti lagu java Jive. Tapi bukan semakin sepi, saya merasa suasana di luar tenda sepertinya semakin ramai.

Entah ada apa di luar sana. Penasaran, tapi tak cukup kuat menggoda saya untuk bangun dan melihat ada apa gerangan.

Berulangkali saya mengintip jam tangan, “Kapan paginya ya?” Pikir saya. Yang berharap, mentari pagi segera muncul dan menghangatkan. Baru kali ini, saya berharap malam cepat berlalu. Biasanya berharap malam lebih panjang supaya bisa tidur lebih lama.

Photocredit: Komplotan 13 (mega, fira, ika, melly, dwi, anda, fajar, ponco, amri, eko, engkong, ilham, arif)

Momen in Prau Day 2: Puncak Gunung Prau

We made it! Really can’t believe we made it! Khususon buat saya dan Dwi.

Tidak lama berselang, para lelaki memasang tenda sementara para wanita memasak. Nah ini dia nih.

Still, amazed. Intinya, menu yang bakal dimasak selama di puncak adalah sayur sop, tumis kornet, sarden, tempe goreng, ikan cuek goreng, mie rebus, pisang goreng, telor dadar goreng, cilok goreng, sama sop buah.

Gilaaaa. Takjub saya, setakjub-takjubnya. Seakan-akan saya belum cukup takjub saja, ketika tenda selesai didirikan, para lelaki itu hendak mengulek sambel.

OMG. Di puncak Gunung mau ngulek sambel. A trully hiker, a trully backpacker. Sempat bertanya juga sih dalam hati, “Iya ga sih hiker backpacker kaya begini?”

gunung prau (20)

Photocredit: Komplotan 13 (mega, fira, ika, melly, dwi, anda, fajar, ponco, amri, eko, engkong, ilham, arif)

Momen in Paru Day 2: Mendaki Gunung Prau

Siap dengan ransum alias perbekalan alias logistik. Kami lanjut mendaki. Akhirnya kali ini beneran mendaki. Suwer, diawal-awal, pas jalanan masih mulus rata, saya dan Dwi yang pemula dan sudah berusia (kalau sudah begini, baru deh bawa-bawa usia) ngos-ngosan parah. Ketawan dah ga pernah olah raga.

Untungnya, saya lebih mendingan daripada Dwi. Intinya, kami berjanji (dengan semangat berapi-api) bahwa kami akan rutin berolah raga sekembalinya kami dari pendakian bersejarah ini. Untungnya, anggota komplotan yang lain sangat pengertian, gentleman banget dah (ehm ehm) mau ngertiin kita yang anak bawang ini.

Limpahan semangat dan kekuatan dari mereka yang membuat kami bisa sampai ke tujuan, PUNCAK GUNUNG PRAU. Salut banget sama mereka, yang pada kurus kering kerempeng, dengan carier yang beratnya kiloan, ditambah jadi porter dadakan tapi tidak ada masalah untuk mencapai PUNCAK. Respek!

img_0888img_0891Belum juga separuh jalan, kami sudah berhenti tuk sekedar manarik napas dan meluruskan kaki. Sepertinya, para hiker expert ini memaklumi kami atau terpaksa selalu berhenti demi kami (saya, dwi, dan Fira).

Perjalanan pun berlanjut, target kami adalah sampai di Puncak Gunung Prau ketika Ashar. Supaya bisa mendirikan tenda dan memasak sebelum sunset tiba.

Lallu pendakian yang sesungguhnya pun dimulai. Trek yang kami lalui mulai membutuhkan ekstra perhatian dan tenaga.

Sampai juga di Pos III Cacingan. Kenapa cacingan ya namanya? Perlukah kutanyakan pada semak-semak disekitar? Yang jelas, bawaannya mau pose kaya orang cacingan.

Ini dia trek yang paling menantang. Sudah hampir menuju puncak. Saking licinnya Sampai-sampai kami harus memanjat ke atas sambil pegangan tali. Untung kemarin tujuh belasan sempat ikutan lomba tarik tali tambang alias tug of war. Lumayan buat pemanasan jadi tidak kaget-kaget amat.

Finally, after a looong hours, sekitar 3 jam-an, itupun karena kami sering berhenti, sampai juga di PUNCAK. Yippieee yeye!!! Istirahat sejenak, sholat dzuhur lalu merebahkan diri, melonjorkan kaki. Alhamdulillah…

We made it! Really can’t believe we made it!

Photocredit: Komplotan 13 (mega, fira, ika, melly, dwi, anda, fajar, ponco, amri, eko, engkong, ilham, arif)

 

Momen in Prau Day 2: Menuju Patak Banteng, Dieng

Sabtu Pagi

Waktu di bis, kami habiskan buat tidur-bangun-ngemil-tidur-bangun-ngemil dan seterusnya, berulang-ulang dah kaya patterns. Alhamdulillah perjalanan lancar, dan kita sampai di alun-alun Wonosobo lebih kurang jam 6-an pagi.

Disini, komplotan kami jadi 13 orang. Nah loh, dari mana yang 2 lagi ya? Satu ketemu di pool Sinar Jaya, satu lagi ketemu di alun-alun wonosobo.

Maka, dilanjutkanlah perjalanan kami ke Dieng. Ternyata masih jauh dari Wonosobo. Saya lupa-lupa inget, padahal dulu banget pernah ke Dieng sama orangtua.

Dengan membayar 10.000, supir bis mengantar kami ke Dieng, tepatnya ke spot pendakian Gunung Prau di Patak banteng, Dieng. Lumayan jauh juga ternyata, hampir 2 jam-an kami baru sampai disana. Pas turun, udara dingin mulai merangsek menusuk ke dalam kulit. Brrr…

img_0877

Setelah lapor ke pihak yang berwajib. Siaplah kami mengangkat ransel. Baru berapa langkah, eh terhenti. Ternyata, sarapan menanti. Hanya dengan membayar 3000, perut sudah terisi penuh, lengkap dengan nasi, oseng kacang, mie goreng, dan tempe goreng. Alhamdulillah.

Abis itu, dimulailah pendakian. Well sort of. Baru beberapa langkah, eh, terhenti lagi. Eh, ada apalagi ini? Ternyata, kepala komplotan mau belanja dulu. Belanja apa hayooo tebak! Belanja sayur booo.

img_0885Mulai dari sayuran sop-sopan, ikan cuek, telor, melon, dan pisang. Nah loh. Mau ngapain coba di atas? Ini mau piknik apa kemping ya?

Saya bertanya-tanya keheranan dan penuh takjub dalam hati. Maklum aja, selama saya pergi ke alam, sama siapa pun itu, jarang banget yang namanya masak. Kalaupun masak, ya paling masak mie instan.

Lauk bawa yang kering-kering aja, macam tempe orek, kentang kering, kornet, atau sarden. Kornet sama sarden pun kaga dimasak, langsung “glek” dari tempatnya. So, don’t blame me if I was really surprised back then.

Ditambah lagi ngeliat ikan cuek, melon, ama pisang. Mau diapain itu mereka di atas sana? Amazing memang para expert ini alias hiker propecional inih.

img_0883

Zulfah. dede imut yang tidak sengaja ketemu di tukang sayur. Btw, kerupuk yang jadi latar belakang de Zulfah juga dibawa ke Puncak loh.

Photocredit: Komplotan 13 (mega, fira, ika, melly, dwi, anda, fajar, ponco, amri, eko, engkong, ilham, arif)

Momen in Prau Day 1: Menuju Wonosobo

Setelah lama tidak kembali ke alam. Akhirnya, kesempatan datang juga. Tidak dinyana tidak diduga, dengan modal nekat dan seadanya. Saya dan Dwi memutuskan ikut melanglang buana ke gunung Prau di daerah Dieng.

Kenapa dibilang nekat, karena ini kali pertama kami pergi ke suatu tempat, yang jauh pula, tanpa perencanaan jauh-jauh hari. Maklum, kami ini termasuk orang yang terstruktur. Setidaknya, akhir-akhir ini.

Jumat Sore

Sebelum berangkat, kami berkumpul di basecamp. Disinilah saya ketemu para expert yang suwer belum pernah saya kenal sebelumnya. Mereka ini tidak lain dan tidak bukan adalah teman masa kecil Dwi. Kesan pertama saya, “wow, hikers sejati, backpacker sejati.” Ada yang lagi packing carier, ada yang lagi makan, ada yang ga pake baju. Nah loh.

Dan waktu itu, saya bertanya-tanya dalam hati, “ngapa belon pada siap inih, katanya jam setengah 4 dah berangkat. Napa masi pada nyantai begini ya?” Usut punya usut, ternyata bisnya berangkat jam setengah 5.

Aisshh, kalo tau kan kami bisa leyeh-leyeh dikit di sekolah. Tapi saya ngerti sih, secara di Jakarta, di Indonesia, biasanya kan jam karet. Jadi, untuk mengantisipasi hal-hal yang mustahil, dimajukanlah jamnya.

img_0876

Setelah selang berapa waktu, lengkaplah komplotan kami. Total 11 orang, 5 cewe cantik sisanya kayanya si cowo tulen. Perjalanan dimulai dengan menaiki bis menuju Wonosobo. Berhubung saya dan Dwi hanya pengikut alias pemula alias anak bawang, kami pun menyerahkan segala urusan transportasi dan akomodasi kepada pihak-pihak yang sudah expert.

Siapakah para expert ini? Roghi, Mega, Arif, Amri, Anda, Ponco, dan komplotannya. Kami pun berangkat naik bis Sinar Jaya AC Ekonomi, kursi 2-3 dari terminal Depok. Ajaibnya, kami memiliki jam yang berbeda dengan bis Sinar Jaya.

Di awal, kami diberitahu bahwa keberangkatan tepat pukul setengah 5. Tapi pas udah setengah 5 kok ya ini bis tidak jalan-jalan juga. Dengan manisnya diam di tempat. Tidak tahunya, jam didalam bis terlambat setengah jam dari jam di pergelangan tangan kami.

Alhasil, kami memang berangkat jam setengah 5 Waktu Indonesia Bagian barat melainkan setengah 5 Waktu Bis Sinar Jaya. Baru tahu saya kalau ada pembagian waktu juga didalam bis. Jangan-jangan beda bis beda jamnya. Sumpah, lucu.

Photocredit: Komplotan 13 (mega, fira, ika, melly, dwi, anda, fajar, ponco, amri, eko, engkong, ilham, arif)