Homemade Salad in The Jar

Siapa yang suka salad? hayoo ngacung? * saya * Nah, sekarang kan lagi booming-boomingnya hidup sehat dengan cara jadi vegan, vegetarian, eat raw, even eat fully raw * jujur saya belom bisa kalo kaya gitu * Tapi, kalo untuk hidup sehat dengan cara banyak makan sayur sama buah emang udah dari kecil ditanamin di keluarga saya * thank you mom * Kalo makan kemana-mana, bisa ditebak dengan mudah kalo saya pasti pilih yang ada sayurnya atao buah. Bahkan saya beruntung, banyak dari temen saya ga suka ama yang namanya sayuran, jadinya ya, sayur yang ada di makanan mereka langsung dilemparkanlah ke saya * yippie, alhamdulillah *

Nah * lagi * berhubung saya sukaaaa bingiiit sama yang namanya sayur. Saya cari cara gimana supaya bisa makan tiap hari tanpa selalu bikin tiap saat. Ternyata, setelah saya nanya mbah gugel, saya temuin metode terbaik buat nyimpen salad * setidaknya terbaik buat sekarang ya * Which is… put them into a jar. In my case, it will be a mason jar.

So, for starts, I tried made my own salad in  a jar. Chopped lettuce, purple cabbage, bombay onion, and red paprika * apa ya bahasa inggrisnya paprika, lupa :p * and add some mini tomatoes. Then, put them inside the jar. Arrange as you like, close the lid, and we’re done! As simple and easy as it is. Last, keep them in the fridge and get them out whenever you want to eat it.

Buat saya pribadi, biasanya engga mencampur dressing-nya ke dalam jar. Kecuali, saya mau bawa itu salad buat makan di jalan, baru deh tuang dressingnya atau dressing duluan di bagian paling bawah baru saladnya, terus dikocok deh * ditutup dulu botolnya tapi ya * And the salad ready to fill my stomach. Yummy!

Untuk dressing, sesuai selera masing-masing. Kalo saya biasanya pake Hellman’s caesar atau cuma pake minyak zaitun sama air perasan jeruk lemon. Terusss, terakhirnya di taburin pake biji wijen, mmmm… * jadi laper pas nulis ini * Sekarang lagi mau coba, bikin dressing sendiri pake buah-buahan sama sayuran, tapi belom kesampean. I’ll let you know when I done it. Will it be delicious or not? I’ll see then.

Advertisements

25 Worth to Try Infused Water

Since I am a fruit lover, I am very much excited when this “infused water” things booming in social media. Back then, my mom occasionally did put some fruits inside the water and keep it for some time. But, we don’t called it infused water at the time.

Suka suka suka bingiit * ikutan bahasa gaul anak sekarang * sama yang namanya buah. Apalagi yang namanya infused water. Segeeeer…. * glek glek glek * Nah, apaan sih infused water? Sebenernya, itu cuma potongan buah yang dimasukin ke dalam air dan dibiarkan beberapa lama. jadi, sari buahnya bisa keluar dan bercampur dengan air.

Buat yang males makan buah, cara ini efektif banget. Secara, kita bisa minum aja airnya, sama kaya kalo kita minum air putih biasa. Sambil ngilangin haus, sekalian dapet asupan vitamin dari si buah. Saik kan? dapet 2 manfaat sekaligus dari sekali tenggak * tenggak, dikata miras ato racun kali yee *

Eniwey, Ini dia TOP 25 Infused Water yang pastinya worth to try

1. Lemon + Mint leaves

2014-08-24-08-56-06_deco

2. Lemon +  Orange + Lime + Mint leaves

IMG_20140803_193807

3. Lemon + Strawberry + Mint leaves

444

4. Lemon + Cucumber + Mint leaves

2014-09-12-15-35-18_deco

5. Lemon + Pomegranate + Mint Leaves

2014-09-11-18-40-48_deco

6. Mango + Lemon + Mint leaves

7. Lemon + Strawberry + Kiwi + Mint leaves

2014-08-03-10-32-44_deco

8. Strawberries + Blackberries + Lime

 

9. Lemon + Blueberries + Mint leaves

 

10. Pineapple + Mint leaves

11. Strawberry + Raspberry + Lemon

12. Grapefruit + Cucumber + Basil/ Mint leaves

13. Orange + Blueberries + Blackberries

111

14. Lemon + Cucumber + Mint leaves + Rosemary

15. Strawberry + Cantaloupe

16. Lime + Raspberry + Cucumber

222

17. Lemon + Pear

18. Blackberries + Mint

19. Strawberry + Blueberries + Pineapple

20. Pomegranate + Blueberries

21. Cucumber + Cherry + Mint leaves

22. Raspberry + Lemon + Mint leaves

333

23. Watermelon + Rosemary

24. Lime/ lemon + Mango

25. Apple + Cinnamon

 

Momen in Prau Day 3: Kembali ke Jakarta

Minggu Sore

Time to go back.

gunung prau (64)

Komplotan pun berkurang 3 orang. Mereka melanjutkan perjalanan ke PUNCAK SIKUNIR. Aaah, I wish I had more holiday so I can join them.

Sisanya, terpaksa memantapkan hati kembali ke realita, kerja dan kerja lagi. Kami pun melaju bersama bis Sinar Jaya menuju ke ibukota tercinta, Jakarta.

Sayangnya, tiket bis Sinar Jaya jurusan Wonosobo-Lebak Bulus-Pasar Minggu sebesar IDR 97.000 terbilang cukup mahal, mengingat kondisi bis tidak senyaman ketika kami berangkat. But hey, ceritanya kan kita backpackeran, so it doesn’t matter.

Lelah, kami pun kerap tertidur, terbangun, dan tertidur lagi.

Senin Pagi

Jam 5 pagi, kami pun tiba di pool bis Sinar Jaya Lebak Bulus. Kami pun resmi berpisah dengan anggota komplotan lainnya dan  langsung menuju tempat kerja. Mendaki gunung Prau serasa bak mimpi.

Dan kini, kami sudah terbangun dari mimpi yang indah itu. Siap berhadapan dengan segala pekerjaan dihadapan kami.

Photocredit: Komplotan 13 (mega, fira, ika, melly, dwi, anda, fajar, ponco, amri, eko, engkong, ilham, arif)

Momen in Prau Day 3: Sejenak Menghampiri Dieng

Minggu Siang

Sesekali beristirahat untuk sekadar menikmati sop buah dan ngemil disana-sini. Ternyata enak banget minum sop buah dijalur. Nge-boost energi, 4 jempol buat Anda yang sudah meracik sop buah dan menaruhnya digelas.

Tak lama, sampai juga di Dieng.

Sayang sekali kami tidak punya banyak waktu untuk menjelajahi Dieng. Mengingat besok pagi, sebagian dari kami harus kembali bekerja, kami pun harus mengejar bis ke Jakarta yang bisa sampai di pagi harinya.

Jadi, akhirnya kami menyewa bis yang bisa membawa kami ke telaga warna kemudian langsung menuju terminal Wonosobo dengan biaya 25 ribu per orang, I think it’s worth it.

So, here are our pictures in telaga warna.

Savana Dieng

Photocredit: Komplotan 13 (mega, fira, ika, melly, dwi, anda, fajar, ponco, amri, eko, engkong, ilham, arif)

 

Momen in Prau Day 3: Turun Gunung

Sekali lagi, kami mengangkat ransel. Menuruni perbukitan dan menjauhi puncak Gunung Prau. Kali ini jalur yang kami ambil, bukan jalur ketika kami mendaki. Why? Karena tujuan selanjutnya adalah telaga warna Dieng.

Jalur kali ini jauh lebih bersahabat. Ditemani hamparan bukit dan pepohonan. Indah. Terlebih lagi saat kami berjalan dibawah dan diantara pohon-pohon cemara.

Gosh, the air is sooooo damn fresh.

Ingin rasanya menghirup sebanyak-banyaknya. Dimasukkan kedalam botol kalau saja bisa. Sebagai bekal tuk di Jakarta ketika macet dan asap kendaraan mendera.

Here, life feels so good.

Being in Nature, feels so good.

Photocredit: Komplotan 13 (mega, fira, ika, melly, dwi, anda, fajar, ponco, amri, eko, engkong, ilham, arif)

Momen in Prau Day 3: Bersiap Turun Gunung

Sunrise sudah.

Waktunya masak lagi untuk sarapan sebelum turun gunung. Menu sarapan, ajaibnya adalah pisang goreng, cilok goreng, tempe mendoan, mie rebus, sarden dan nasi putih. Ditambah, sop buah buat di perjalanan pulang (untuk di jalur kalau kata para hiker expert ini).

Fira in action. Goreng pisang di puncak gunung Prau. A.m.a.z.i.n.g!

Dalam hati saya tersenyum penuh makna. Kapan lagi masak pisang goreng sama sop buah di ketinggian lebih dari 2500 mdpl.

Selesai makan, waktunya say goodbye sama puncak Gunung Prau. Antara mau tak mau. Segan tak segan.

Membayangkan Jakarta dengan segala kesibukannya, membuat enggan untuk melangkah. But hey, that’s my life. And this is some kind of weekend getaway to recharge my soul so I can live my  routine life to the fullest.

So, good bye Prau. Nice to see you. Gonna see you again, even though not in the near future. See you when we see you.

Photocredit: Komplotan 13 (mega, fira, ika, melly, dwi, anda, fajar, ponco, amri, eko, engkong, ilham, arif)

Momen in Prau Day 3: Sunrise di Puncak Gunung Prau

Minggu Pagi

Allahu akbar allahu akbar… Sayup-sayup bergema suara azan dari kejauhan. Alhamdulillah, pagi datang menjelang. Tapi sayangnya, dingin tak berkurang, masih dengan setia menusuk-nusuk kulit mencoba masuk lebih ke dalam.

Selesai sholat subuh, kami pun tertawa bersama, mengingat bagaimana kami menghabiskan malam ditenda yang unik ini. Bergelut dengan dingin, kesempitan, dan kemiringan

Semangat pun menggelora, tak sabar keluar memburu fajar. Sunrise bahasa kerennya. Betapa kagetnya, ternyata suara keramaian semalam, berasal dari para hiker lain yang sekarang tendanya bermunculan dimana-mana. Kapan datangnya ya, tanya saya dalam hati.

Belum hilang rasa kaget saya, panggilan alam tiba-tiba datang. Cepat-cepatlah kami (bukan saya saja ya) mencari semak-semak sebelum semuanya terlambat. Berbekal tisu basah, keberanian, doa semoga tidak ada orang yang melihat, dan putusnya urat malu, berserah dirilah kami kepada alam. Lega.

Sekarang, waktunya menanti sang mentari muncul dikejauhan. Berdiri melihat pemandangan yang indahnya tak terkira.

Dengan mentari yang malu-malu tapi mau mulai memperlihatkan sinarnya yang masih bercampur dengan kegelapan. Sungguh membuat hati dan seluruh jiwa, berteriak… Subhanallah, Allahu Akbar.

Betapa Allah menciptakan segala sesuatu sangatlah indah melebihi apa yang bisa dibayangkan manusia. Teramat indahnya, sampai-sampai rasa dingin yang merasuk sejak semalam, berangsur-angsur menghilang.

Padahal, suhu pagi ini mencapai 5 derajat celcius. Waduh, pantas saja dingin banget.  Membuat saya mengira-ngira, berapa suhu semalam. Mengingat malam pasti jauh lebih dingin daripada pagi ini.

Tibalah saatnya, mentari tersenyum jauh di timur sana. Para pemburu sunrise, riang gembira menyambutnya.

Ada yang jepret sana-jepret sini.

Ada yang terdiam seribu bahasa,

Banyak pula yang bertepuk tangan sambil berteriak kegirangan.

Yang terakhir ini agak bikin saya bingung juga sih. Memangnya konser apa ya, diberi tepuk tangan segala.

Kalau saya, tergolong yang tersenyum bahagia diam seribu bahasa. Bersyukur bisa menyaksikan pemandangan seindah ini, yang tidak mungkin saya temukan di Jakarta. Setidaknya, tidak pernah seindah ini.

Photocredit: Komplotan 13 (mega, fira, ika, melly, dwi, anda, fajar, ponco, amri, eko, engkong, ilham, arif)