Pagi yang Memilukan

Ketika itu, jam tangan kesayangan saya menunjukkan pukul 6.30 pagi, waktu Indonesia Bagian Barat.
Tidak terbayang sebelumnya, kalo ini akan menjadi salah satu pagi yang memilukan, yang tak terlupakan.

Di dalam terowongan yang cukup terang, sekilas terlihat pemandangan memilukan dari dalam angkot yang saya tumpangi. Helm yang hancur berantakan, motor yang sudah di parkir di pinggir jalan. Dan, seorang anak laki-laki, terbungkus seragam SMA bersimbah darah di sekujur tubuhnya. Jelas terlihat darah merah yang masih hangat, mengalir deras dari kepalanya * Innalillahi…*

Tampaknya, belum lama ia terbaring di aspal yang keras itu. Tapi, warna merah yang mewarnai seluruh seragamnya berkata lain, entah berapa lama sudah ia terbaring kaku di sana. Sementara tepat di sisi sang anak, seorang wanita paruh baya menangis dan berteriak. Sambil terus megguncangkan tubuh sang anak * siapa dia? gw bertanya dalam hati. Mungkinkah ibunya? *

Suara sang wanita sangat memilukan, sampai-sampai membuat saya merinding. Entah apa yang coba ia sampaikan pada tubuh yang mulai dingin dan kaku itu. Sesaat, angkot kami pun berhenti, seakan hendak menjadi saksi kejadian tragis itu. Saya yang bisa dibilang snapshot junkie * sebutan saya untuk orang yang demen jeprat sana jepret sini untuk menabadikan peristiwa apapun juga * kali ini, ga sanggup untuk mengabadikan apa yang saya saksikan di depan mata.

Ingin rasanya loncat keluar angkot dan menolong mereka. Tapi, sepertinya sudah terlalu terlambat, melihat raut muka beberapa orang yang ada di sekitar mereka. Saya masih tertegun, sampe akhirnya sopir angkot menginjak gas dan melanjutkan perjalanan ke Terminal Kampung Rambutan.

Mata saya ga lepas dari sosok anak SMA tadi. Saya terus melihat dari balik kaca angkot hingga akhirnya ia menjauh dan menghilang dari pandangan, hilang tergantikan pemandangan mobil-mobil di belakang angkot yang saya tumpangi. Saya masih terdiam, ketika tiba-tiba lilik * panggilan sayang saya untuk tante saya, yang untuk sesaat tadi saya lupa keberadaannya di hadapan saya * membangunkan saya dari pikiran yang entah kemana.

“Mel, ya Allah, merinding lilik. Ini masih gemeteran,” sambil nyodorin tangannya untuk saya pegang. Saya tersenyum dan bilang, “ah lilik, begitu aja. Nyebuut lik, nyebut, dzikir aja,” dengan nada yang amat sangat cool dan pura-pura ga kepengaruh sama apa yang baru aja kita liat tadi * padahal saya sama aja ama lilik. Jaim kayanya saya di depan beliau. * Setelah itu, spontan kita berdua diem-dieman kaya orang marahan * kayanya sama-sama menahan perasaan ‘ngeri’. Kebayang kalo yang terbaring tadi adalah sodara atau orang yang kita kenal, atau bahkan kita sendiri. *

Ga lama, nyampe juga di terminal. Sang supir langsung saja mendekati petugas DepHub yang memang selalu menjaga pintu depan terminal. “Pak, tolong pak hubungi polisi. Ada kecelakaan di kolong,” teriak si abang sopir * padahal tadi udah ada 2 polisi di sana. Yah mungkin si abang sopir sama kepengaruhnya kaya saya. jadi ga bisa mikir juga. * Lalu, turunlah saya, sambil celingak-celinguk nyari bis koantas bima. “ah itu dia, daah lik,” saya pun ambil langkah kaki seribu mengejar itu bis dan loncat ke dalamnya. Alhamdulillah dapet duduk * maklum, dah beberapa kali pingsan kalo naik bis ini dalam keadaan berdiri. Saking penuhnya *

Ah, siapin ongkos. Kata saya ke diri sendiri. Saya ambil ongkos terus pasang earphone hape kesayangan. Mulailah saya bikin playlist buat didengerin di sepanjang perjalanan. Kali ini, lagu yang beruntung kepilih buat masuk di playlist antara lain,

  1. Speechless (Alicia Keys)
  2. Too Little Too Late (Jojo)
  3. Need You Now (Lady Antebellum)
  4. The Beginning versi akustik (One OK Rock)
  5. Trying to be Cool (Phoenix)
  6. Crying Again (Moon Myung Jin, The Heirs OST)
  7. Details in Fabric (Jason Mraz ft. James Morisson)
  8. Kidarim (Bang Jun Soek, Ing… OST)
  9. On Rainy Days (BEAST)

ternyata saya baru nyadar, kalo lagu yg kepilih rada mellow semua. * Langsung saya pencet play and shuffle all.

Aishhh… Yang pertama main adalah Kidarim * ini soundtrack pelem korea yang judulnya Ing.. Pelem tragis yang diakhiri kematian sang pemeran utama wanita * Bis akhirnya jalan, saya pun mengarahkan pandangan ke luar jendela * maklum kalo liat ke samping kiri, ada tas orang guedeee banget hampir nyium muka. Saya kawatir muka saya yang cantik ini jadi lecet-lecet ga keruan. * Kalau liat ke depan, disambut sama pantat orang. * Entah cwe ato cwo, ga tau dan ga pengen tau lagian ga ngaruh juga, tetep aja pantat. * Sedangkan kalau liat ke belakang, kaga mungkin kaleee.

Tiba-tiba, bayangan anak SMA tadi melintas lagi di kepala saya. Nyesek. Tiba-tiba. Saat itu, sekelebat bayangan almarhum kaka ada di depan mata. Pikiran saya melayang jauh ke belakang saat saya masih duduk di bangku kelas 3 SMA.

“Mel, ayo ikut Ibu. Sepupu kamu, Mas Tono jemput dan sekarang ada di bawah.” panggil guru kimia saya saat itu.

Nyesek.

Tiba-tiba.

Entah kenapa saya ga bisa berkata apa-apa. Seakan-akan hati saya ini sudah tahu apa yang telah dan akan terjadi. Saya terus diam sambil terus beresin buku kimia saya. Saya bahkan tetap diam seribu bahasa saat Mas Tono bilang, “tadi mas disuruh jemput kamu, suruh ke RS Fatmawati katanya.”

Saya tetap diam seribu bahasa. Ada apa ini? Pasti berita buruk. Ga pernah seumur-umur, ada yang jemput saya dari sekolah ke RS. Apalagi dijemput seorang mas Tono. Tiba-tiba, saya ngerasa pengen nangis, tapi saya tahan di depan mas Tono. Kita pun naik metromini ke RS, ndilalahnya ko ya dapet duduk misah sama mas Tono.

Saat itulah, ga kerasa, air mata mulai mengalir. Saat itu saya benar-benar ga tau kenapa, tapi seakan-akan hati ini udah tau apa yang terjadi.

Sebagian hati ini sakit.

Sakit banget.

Berkali-kali saya usap mata berusaha menahan derasnya air mata * apalagi orang di sebelah dan depan saya udah mulai ngeliatin saya dengan tampang aneh.” Sampe akhirnya sang kenek berteriak, “Ayo rumah sakit rumah sakit, siap-siap.” Saya spontan ngapus air mata dan turun secepatnya.

Saya ikutin langkah kaki mas Tono dari belakang. Saya rasa, mas Tono pun saat itu ga sanggup ngeliat saya. Saya yakin dia udah tau apa yang terjadi, tapi mencoba menutupinya. Entah karena ga tega atau karena suruhan orang tua saya. Saya tiba-tiba berhenti ketika liat pintu bertuliskan UGD yang ada di hadapan. Rasanya enggan memasuki pintu itu. Kalo boleh, saat itu juga pengan lari jauh-jauh dari sana. Seperti pengen lari dari kenyataan. Ga pengen tau apa yang ada di dalem sana.

Karena saya tetap diam tak bergerak, tiba-tiba pintu terbuka terdenger suara manggil, “melly, ayo, yang sabar ya.” Kontan tangis saya meledak * padahal saya belum liat apa-apa. * Sampai akhirnya, saya liat sesosok tubuh bersimbah darah di atas tempat tidur. Dengan segala peralatan melekat di tubuhnya. Saya ngerasa, saat itu cuma ada saya dan dia * bahkan sampe sekarang saya ga inget siapa aja orang yang ada di sana. *

Saya jalan mendekat.

Rasanya berat.

Selangkah demi selangkah sampe akhirnya saya berada di samping dia.

Dia.

Kakak saya satu-satunya.

Partner in crime saya setiap kali ngisengin or jahilin ade.

Partner in crime saya setiap kali ngeles biar ga diomelin mama bapak kita.

Tempat saya berlindung dari segala masalah * dia itu kaya tameng saya. Sebagai kakak tertua, pasti dia yang disuruh duluan, diomelin duluan, pokonya apa-apa serba duluan. *

Sekarang, dia terbaring tak berdaya. Pandangan saya yang blur karena air mata, ga bisa nutupin pemandangan memilukan yang ada di hadapan mata. Saya nangis sejadi-jadinya. Saya teriak sekenceng-kencengnya. Saya guncang tubuhnya sekuat tenaga. “Bangun A, bangun A. ini Melly. A eka ga boleh pergi. Melly ga mau A eka pergi” teriak saya.

Saat itu, saya udah mikir yang terburuk. Dia udah ga bisa berbicara apalagi bergerak. Dia bahkan ga bisa membuka mata sepenuhnya. Satu-satunya yang bisa dia lakukan hanya menitikkan air mata. Air mata mengalir dari kedua matanya. Dia menangis, saya pun makin ga terkontrol nangisnya.

Ga lama, terdengar suara yang biasanya cuma saya denger di pelem tragis. Tak ada lagi suara degup jantung. “Aaaaaa…..” ratap saya tak henti-hentinya. Dan pikiran itu pun, perlahan menghilang.

Fade out.

Bak musik yang saya denger lewat earphone, fade out pas udah mau selesai.

Saya, masih melihat ke luar jendela. Menatap kosong barisan mobil-mobil yang bermacet ria di dalam jalan tol. Ga terasa, air mata mengalir * saya ga nangis, kenapa air mata ga ijin dulu ama saya kalo mau keluar. * Secepat kilat saya usap sebelum ada yang ngeliat dan mikir kalo saya ini orang aneh. Bener aja, saat itu abang kenek nagih ongkosnya. Sayup-sayup saya denger suaranya Taka dari earphone.

Just give me a reason
To keep my heart beating
Don’t worry it’s safe right here in my arms
As the world falls apart around us
All we can do is hold on, hold on
Take my hand

Seakan-akan Taka lagi nyadarin saya, “bangun mel! yang kuat!”  * Yeee, emangnya gw lagi tidur apah. * Anyway, Taka berhasil bikin saya kembali ke dunia nyata * ceilee, emang abis dari mana mel. Pake dibangunin segala * Saya, yang sekarang ada di bis yang penuh sesek sampe kaya ikan pepes.

Balik lagi ke ingatan saya di pagi tadi, ke anak SMA.

Nyesek.

Tiba-tiba.

Karena apa yang saya saksikan pagi itu mirip apa yang pernah saya alami. Saya mikir, betapa sakitnya keluarga si anak, ditinggalkan dengan cara seperti itu.

Terlalu mendadak.

Terlalu muda.

Too soon, bahasa kerennya. Mungkin mereka masih banyak menaruh harapan ke si anak. Mungkin si anak masih banyak mimpi yang pengen diwujudkannya. Malaikat di sebelah saya bisikin kalo itu emang takdir si anak SMA. Udah digarisin begitu dari sononya. Tuhan tahu yang terbaik bagi hambanya. Setan di sebelah saya bisikin kalo Tuhan ga adil. Kenapa harus si anak SMA, yang notabene masih panjang jalan hidupnya harus pergi dengan cara kaya gitu. Menyuruh saya dan mungkin keluarga si anak SMA untuk membenci Tuhan dan terus meratap.

Alhamdulillah, Allah masih senantiasa menjaga saya. Saya yang sempet terbujuk bisikan si setan kala itu, * ampuni saya ya Allah * sekarang sudah tidak lagi, 1 bilyun % percaya kalo ini semua takdir. * Allah knows the best. * Ga akan ngasi cobaan yang ga sanggup kita lalui.

Takdir emang takdir.

Kita ga bisa ngapa-ngapain selain tawakkal dan sabar. Tapi kita bisa terus berusaha untuk menjadi lebih baik sebelum takdir datang menghampiri. Mencegah apa yang bisa kita cegah * dengan izin Allah tentunya. * Berhati-hati ketika membawa kendaraan. Mematuhi peraturan lalu-lintas. Mengenakan perlengkapan yang menjaga keselamatan kita saat berkendara * pake helm contohnya, kalo perlu yang mahal sekalian, kaya helm Valentino Rossi. * Dan yang paling penting, berdoa sebelum berkegiatan di luar rumah.

Ingat bahwa ada keluarga yang menanti di rumah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s