Menjejakkan Kaki di Pasir Pantai Seminyak, Bali

Tidak lengkap rasanya kalau tidak bermain-main dan menikmati deburan ombak di pantai manapun di Bali. Begitu juga dengan kami. Pagi itu, kami luangkan waktu berjalan menuju Pantai Seminyak. Maklum, jaraknya hanya beberapa ratus meter dari tempat kami menginap.

img_4665img_4652

Sesampainya di sana, mata dimanjakan oleh hamparan pasir dan pantai yang luas.

img_4668

Pantai Seminyak memiliki pasir yang sangat halus. Pantainya pun bersih dan terbilang sepi. Sementara Pantai Kuta ataupun Pantai Sanur yang sudah terkenal seantero dunia ramai dikunjungi sehingga terkadang terlihat agak kotor.

img_4658img_4671-2img_4653

Advertisements

Menyantap Hidangan Seafood di Jimbaran, Bali

Jimbaran terkenal akan deretan restoran di sepanjang jalannya. Kawasan ini ramai dikunjungi terutama di malam hari. Ada yang sekadar makan malam bersama keluarga, bersama kolega, hingga bersama pasangan tercinta.

img_4638

Menikmati makan malam serba seafood di Legong Restaurant, tepat di pinggir pantai. Diterangi nyala lilin, ditemani alunan musik khas Bali, dan sesekali diramaikan oleh rentetan kembang api, menjadi pengalaman tersendiri ketika kita berada di Bali.

img_4631img_4627img_4636img_4618

 

Pesona Tari Kecak di Uluwatu

img_20140924_115856

Uluwatu terkenal akan bangunan pura, sunset, dan pertunjukan tari kecaknya. Untuk memasuki kawasan Pura Uluwatu, kita diwajibkan memakai pakaian yang sopan dan pantas.

Bagi para pengunjung yang memakai pakaian mini (rok pendek, dres mini atau celana pendek) diwajibkan untuk memakai kain sarung khas Bali yang sudah disediakan oleh pihak pengelola tepat di pintu masuk.

Bagi pengunjung yang sudah memakai pakaian yang sopan, misalnya yang berhijab semacam saya atau yang memakai celana panjang, juga tetap diwajibkan untuk memakai kain khas bali yang diikat bagaikan sabuk.

Keunikan Pura ini adalah lokasinya yang berada di atas tebing setinggi 70 m, tepat di bibir pantai Lautan Hindia. Untuk menuju Pura Uluwatu, kita harus berjalan mendaki tebing. Namun, jangan khawatir, karena jalan menuju Pura sudah dibangun sedemikian rupa sehingga nyaman bagi kita.

Selama mendaki pun, kita dimanjakan dengan hijaunya pepohonan di kanan kiri jalan dan sesekali melihat monyet bergelantungan atau bahkan di jalan. Ingatlah untuk tidak memakai perhiasan atau mengeluarkan makanan jika tidak mau sang monyet mengambilnya dari kita.

Kelelahan di sepanjang perjalanan sungguh sangat tidak terasa, terlebih lagi sesampainya kita di Pura.

img_4585

Indah.

Luar biasa.

Langit biru yang amat luas, hamparan laut sepanjang mata memandang, dengan deburan ombak yang sesekali menerjang tebing batu tempat saya berpijak. Sungguh pengalaman yang luar biasa tak bisa diungkapkan dengan kata-kata.

img_4584img_4582

Tak berhenti di sana.

Menjelang sunset, kami pun disuguhkan tarian khas Bali, Tari Kecak. Pertunjukan ini memang dilakukan sekali dalam sehari di kala matahari mulai tenggelam. Satu persatu penari memasuki area pertunjukan dilatarbelakangi pemandangan sunset di kejauhan.

img_4596dsc_6479img_4600img_4609

What an amazing show. What an amazing feeling.

Megah dan Gagahnya Garuda Wisnu Kencana

Patung Garuda Wisnu Kencana didesain dan dibangun oleh seorang pematung asal Indonesia bernama Nyoman Nuarta. Patung setinggi 150 m dan lebar 64 m ini menjadi salah satu daya tarik para traveler dan juga para penikmat seni di dunia.

img_4564

Patung itu sendiri merepresentasikan Dewa Wisnu yang sedang mengendarai burung Garuda. Patung ini terletak di dalam kawasan taman budaya seluas 240 hektar.

Sayangnya, hingga saat ini, patung tersebut belum utuh sempurna. Patung Dewa Wisnu, Patung garuda, dan Patung Tangan Dewa Wisnu masih berada di 3 lokasi yang berbeda, namun masih di dalam kawasan Taman Garuda Wisnu kencana.

img_4580img_4576

Di dalam taman ini, kita bisa mengunjungi Kolam Lotus, Taman Festival, Amphiteater, Teater Jalanan, Ruang Pameran, restoran Jendela Bali, dan juga toko souvenir.

img_4573img_45712img_4568img_4575

Percakapan Hangat di Sela-sela Makan Siang

Makan siang kali ini terasa begitu istimewa. Mengapa? Karena ini kali pertama saya mencoba Bebek Betutu Kremes langsung di Bali. Saya memang bukan penggemar olahan bebek, oleh karenanya makan siang kali ini begitu berkesan buat saya.

dsc_6477

Bebek Betutu Kremes ini nikmat tiada tara. Membuat saya bersyukur karena akhirnya semua dugaan negatif saya tentang ‘rasa’ bebek sirna.  Yang berarti, saya tidak trauma dan siap untuk mencoba olahan bebek lainnya.

Dibalik makan siang ini, ada percakapan yang hangat antara saya dengan pelayan di restoran ini. Bermula dari saya yang menanyakan apakah ada ruangan di mana saya bisa sholat. Sang pelayan terlihat sangat  kaget dan tak lama kemudian menjawab “ada.”

Dia meminta saya menunggu sebentar. Ternyata mereka membersihkan salah satu ruangan, yang memang sepertinya merupakan musholla kecil khas restoran.

Dengan terlihat agak malu, dia mempersilakan saya untuk sholat di sana. Dia bahkan meminta maaf karena tempatnya agak kotor. Dia bilang kalau jarang sekali ada tamu sholat atau menanyakan tempat untuk sholat, meskipun mereka berhijab seperti saya.

Entah mengapa, saya merasa ada mata memandang ke arah saya pada saat saya hendak mulai sholat.

Benar dugaan saya, para pelayan di restoran tersebut memperhatikan saya ketika sedang sholat. Saat saya kembali duduk di dalam restoran, pelayan yang tadi tiba-tiba minta izin untuk duduk. Dia bilang ada hal yang ingin ditanyakannya.

Pada akhirnya, berawal dari satu pertanyaan lanjut menjadi obrolan yang cukup panjang. Rupanya pelayan di restoran tersebut, yang hampir seluruhnya beragama Hindu sangat penasaran dengan agama saya, Islam.

Berbagai pertanyaan pun diajukan, mulai dari hijab saya, mengapa memakai hijab, bagaimana saya beribadah, berapa kali saya sholat dan lainnya. Dia pun mebandingkannya dengan agamanya, Hindu dan sedikit banyak menceritakan mengenai agamanya tersebut.

Waktu pun semakin siang. Obrolan hangat kami terpaksa berhenti setelah supir mengingatkan untuk segera menuju lokasi selanjutnya. Kami pun mengucap selamat tinggal dan janji untuk kembali, suatu saat nanti.

Monumen Bom Bali (Ground Zero)

Jl. Legian, Kuta, Bali – salah satu destinasi wisata, terutama bagi para traveler mancanegara untuk sekadar window shopping atau bersenda gurau di banyak kafe yang tersebar di sana. Menjadi terkenal di seantero jagad raya setelah bom yang cukup besar meledak dan meluluhlantakkan dua café (Sari Club dan Paddy’s Cafe) di kawasan tersebut pada 12 Oktober 2002. Peristiwa memilukan ini dikenal dengan nama peristiwa Bom Bali.

Setelah peristiwa Bom Bali yang merenggut 202 korban, baik penduduk lokal maupun wisatawan asing, dibangunlah Monumen yang didedikasikan untuk para korban. Awalnya, Monumen ini dikenal dengan nama Monumen Panca benua, namun lama-kelamaan masyarakat lebih mengenalnya dengan nama Monumen Ground Zero. Di Monumen ini tertulis nama-nama korban Bom Bali.

img_4563

Selama ini, saya hanya mengetahui peristiwa tersebut melalui media online ataupun berita di televisi. Namun kali ini, saya mendengar langsung dari orang terdekat korban. Supir kami, mengisahkan kekasihnya, yang menjadi korban Bom Bali tersebut. Dengan mata berkaca-kaca, beliau menceritakan kembali pahitnya kejadian saat itu.

Semoga tidak ada lagi peristiwa teror di bumi Indonesia, bahkan di dunia sekalipun.

Teror apapun alasannya, tetaplah teror. Tidak ada satupun agama di dunia ini yang membenarkannya.

Padusi, Story of Three Strong Women

That day, I got a rare chance to watch a remarkable musical theater titled “Padusi.” The story is about a women legend in Minang (Padang), Indonesia.

Padusi itself, means woman in Minang language.  It was a story about tradition that still live in there until today. It is about 3 different story, 3 women, 1 fight.

So it was all about the power of women. Women are not that weak, we are a strong person, not differ than men. But we do realize our destiny as woman.

Padusi

Just like Puti Bungsu who live her life as human as best as she can as Malin Deman wife, but not gave up her dream to go back to the place where she was coming from, as a fairy.

Or like Siti Jamilan who really respect her husband (Lareh Simawang), trust him, and loyal to him until the very end of her life.

Or just like Sabai Nan Aluih who strongly  refused to be married to some old man named Rajo nan Panjang, eventhough he had a great power and feared by others (somehow it reminds me of the story Siti Nurbaya and Datuk Maringgih).

Even in the end, Sabai is bravely confronted him and took revenge on him for the death of his father Rajo Babandiang.

IMG-20130511-WA0003What impress me is the show was awesomely beautiful and simply touching. A simple decoration, a colorful songket (a traditional fabric from Padang), a meaningful dance, and a very touching music were completed by a strong performance from the actors, actresses, and dancers.

My feeling is being like on a rollercoaster throughout the show. I felt lots of emotion in the same time. All the cast and crew were doing great for turned me like that.

Padusi made me want to watch some more.

This is one of short review which I like from The Jakarta Post:

In the story, the titular character Padusi arrives in Padang on a plane from Jakarta. She is recently widowed and wants to rediscover her cultural heritage in the land of her ancestors.

During her visit, she encounters legends from local folktales, which are represented by three vignettes in the play.

 

The first is about Puti Bungsu, a fairy who is stranded after her wings are stolen and hidden by Malin Deman, while she bathes at a pond with her sisters.

 

Puti Bungsu is later forced into marriage with Malin Deman, a man dependent on his mother. Even after giving birth to her son, Malin Duano, Puti Bungsu never stops looking for her stolen wings.

 

The second story, which is related to the first, follows Malin Deman, who leaves his village to look for Puti Bungsu. He meets the womanizing Lareh Simawang, who intends to marry another woman despite already having an expectant wife, Siti Jamilan, and two children.

 

After discovering that her husband wishes to marry a younger woman, the pregnant Siti Jamilan decides to kill herself and her two children. Lareh Simawang is deeply shocked by his wife’s actions and loses his mind.

 

In the third and final encounter with the legends, Padusi observes the story of the beautiful and kindhearted Sabai Nan Aluih, who refuses to be betrothed to an elderly aristocrat, Rajo Nan Panjang. Her betrothal was demanded as a payment for the debts of her father, Rajo Babandiang.

 

In the final scene, Padusi talks with Malin Deman and Lareh Simawang. She imparts the lesson she has learned from the women.

 

I am not a woman that can be bought with wealth and power, or can be judged,” Padusi says, both to herself and the men.

 

dsc_6601dsc_6603There is a well said from Tom Ibnur (Padusi choreographer) which I strongly agreed,

We, as artist can not walk alone.

We need partner and support…

So, rather than being angry when our culture is claimed by others,

lets support each other to conserve our culture.

If it’s not us, who else?

If It’s not now, when will?

 

 

Stories from Minangkabau Through the Ages

Padusi, Tiga Kisah Legenda Ranah Minang