Cinta Mistik Rabiah Al-adawiyah: Sebuah Memoar Spiritual

rabiah

The book cover

Melihat judul buku ini, sepertinya akan terasa berat membacanya. Cinta Mistik. Apalagi melihat judul kecilnya, ‘Sebuah Memoar Spiritual’ * Wow, kebayang deh isinya * Makanya, ketika saya mau membacanya, ada sedikit rasa deg-degan. Saya pikir, akan membutuhkan waktu lama untuk  membacanya dan butuh berulang-ulang kali untuk memahami isinya. Bisa dikatakan, saya maju mundur untuk membaca buku ini.

Mistik, menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI)  edisi ke-4, Mistik berarti subsistem yang ada di hampir semua agama dan sistem religi untuk memenuhi hasrat manusia mengalami dan merasakan emosi bersatu dengan Tuhan, tasawuf. Berat kan definisinya. akan tetapi, ada lagi satu definisi yang mungkin lebih dimengerti, mistik adalah hal gaib yang tidak terjangkau dengan akal manusia biasa * Ck ck ck, begitu tahu definisinya, semakin saya yakin, buku ini ‘berat’ sekaligus menantang saya untuk membacanya * Karena apa? Karena itu berarti Rabiah Al-adawiyah bukanlah manusia biasa. Lihat saja lagi judulnya.

Pada akhirnya, saya memberanikan diri untuk membuka selembar demi selembar halaman dari buku ini. Dari setiap lembar, saya bisa mengikuti perjalanan spiritual Rabiah, yang bagi saya tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata. Sempat terbersit, “gila ya, ada ya perempuan kaya Rabiah, yang menyerahkan seluruh hati, jiwa, dan pikirannya hanya kepada Sang Khalik“. Ia mencintai Allah melebihi segalanya. Mengesampingkan urusan dunia yang bersifat sementara dan fana. Semua itu karena cintanya yang luar biasa kepada Allah sang penguasa jagad raya.

Buku ini hanya menggambarkan sepenggal perjalanan spiritual Rabiah. Meskipun begitu, cukup bagi orang awam seperti saya untuk mengenal sosok Rabiah yang luar biasa. Bahkan membuat saya searching mengenai Siapa sebenarnya Rabiah ini.

Rabiah Al-adawiyah dikenal juga sebagai Rabiah Basri atau rabiah Al Adawiyah Al Basriyah. Ia lahir pada tahun 713 M di kota Basrah, Irak. Rabiah adalah anak keempat dari keluarga yang hina dina. Ia dilahirkan dari orang tua yang hidupnya sangat sengsara, meskipun saat itu kota Basrah bergelimang dengan kekayaan dan kemewahan. Tidak ada seorangpun yang berada di samping ibunya ketika ia dilahirkan.

Tak lama kemudian, orang tua Rabiah meninggal ketika Rabiah masih kecil. Begitu pula ketiga kakaknya, meninggal ketika wabah kelaparan melanda kota Basrah. Dalam kesendirian itu, akhirnya Rabiah jatuh ke tangan orang yang kejam, yang lalu menjualnya sebagai budak belian. Ketika akhirnya ia bebas, Rabiah pergi ke tempat tempat sunyi untuk menjalani hidup dengan bermeditasi, dan akhirnya sampailah ia di sebuah gubuk dekat Basra. Di sini ia hidup bertapa. Sebuah tikar butut, sebuah kendi dari tanah, dan sebuah batu bata, merupakan harta sekalligus teman dalam menjalani hidupnya.

Sejak saat itu, ia abdikan seluruh hidupnya hanya kepada Allah SWT. Berdoa dan berzikir menjadi rutinas kehidupannya. ia melepas semua urusan duniawi, termasuk memberikan hatinya kepada seorang pria dan membangun rumah tangga. Meski banyak pinangan datang, termasuk dari gubernur Basra dan seorang suci mistis terkenal, Hasan Basri, hati Rabiah tetap tak tergoyahkan. Cintanya tidak diperuntukkan manusia, melainkan hanya untuk Allah SWT semata. Begitulah ia menjalani hidupnya hingga akhir hayatnya (801 M). Kelak, dunia mengenal Rabiah sebagai “Ibu para sufi besar” yang memperkenalkan konsep mahabbah (‘agama cinta’). Satu-satunya perempuan yang bisa mencapai level tertinggi dalam tasawuf.

Setelah membaca buku ini, ada beberapa doa Rabiah yang terus-menerus saya ingat. Mungkin karena doanya sangat mendalam dan dituturkan dengan bahasa yang amat indah, seperti berikut ini.

“Tuhanku , kalau aku mengabdi kepada-Mu karena takut akan api neraka, masukkanlah aku ke dalam neraka itu, dan besarkanlah tubuhku dalam neraka itu, dan besarkanlah tubuhku dalam neraka itu, sehingga tidak ada tempat lagi di neraka itu buat hamba-hamba-Mu yang lain. Kalau aku menyembah-Mu karena berharap mendapatkan surga maka berikanlah surga itu kepada hamba-hamba-Mu yang lain sebab bagiku Engkau saja sudah cukup.”

atau pendapatnya mengenai cinta

” Cinta berbicara dengan kerinduan dan perasaan.

Mereka yang merasakan cinta saja yang dapat mengenal apa itu cinta.

Cinta tak dapat dijelaskan dengan kata-kata.

Tak mungkin orang dapat menjelaskan sesuatu yang belum dikenalnya, atau mengenali sesuatu yang belum pernah digaulinya.

Cinta tak mungkin dikenal lewat hawa nafsu, terlebih bila tuntutan cinta itu dikesampingkan.

Cinta bisa membuat orang jadi bingung, akan menutup untuk menyatakan sesuatu.

Cinta mampu menguasai hati.”

  • Jumlah Halaman: 342
  • ISBN: 979-96338-2-8
  • Judul: Cinta Mistik Rabiah Al-adawiyah
  • Pengarang: Abdul Mun’im Qandil
  • Penerbit: Mujadalah
  • Tahun Terbit: 2002
  • Bahasa: Indonesia
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s