Meskipun terlambat datangnya, namun Cinta tetaplah Cinta

Cinta yang terlambat. Buku ini adalah salah satu buku favorit saya. Bahkan, sampai sekarang, saya masih mengingat beberapa bagian dalam buku ini. Pertama kali saya membaca buku ini, karena kebaikan seorang teman yang telah meminjamkan bukunya kepada saya.

Kesan pertama saya terhadap buku ini tidak terlalu mendalam. Saya pikir, buku ini pastilah mengisahkan masalah percintaan. Tidak jauh berbeda dengan novel-novel bertemakan cinta (yang islami) lainnya. Akan tetapi, setelah saya membacanya secara menyeluruh, barulah saya menyadari bahwa buku ini tidak sekadar novel percintaan belaka.
Sang penulis mengemas cerita cinta dengan sangat menarik dan dituturkan dengan bahasa yang sangat indah. Ia juga membubuhi tulisannya dengan rangkaian puisi-puisi yang tidak kalah indahnya. Semakin saya membaca buku ini, saya semakin terhanyut ke dalam jalan ceritanya.
Betapa saya merasa sedih, kesal, dan marah ketika Aariz memperlakukan Zeest dengan sangat kasar. Betapa saya mengharu-biru melihat ketabahan dan kesabaran Zeest dalam menghadapi perlakuan Aariz. Betapa saya merasa sangat bahagia, ketika pada akhirnya, Aariz menyadari bahwa cintanya hanya untuk Zeest. Bagi saya, membaca buku ini layaknya menaiki rollercoaster emosi. Benar-benar menguras emosi.

Bagian yang paling saya ingat adalah pada saat Zeest berdoa. Isi dari doa itulah yang selalu terngiang-ngiang dalam benak saya. Lalu saya berpikir, “masih adakah sosok wanita seperti Zeest Zahra, pasti ada, namun entah di mana mereka berada.”

“Aku hanya inginkan beberapa saat dalam hidupkuSaat-saat, yang aku dapat bersembunyi dari diriku,Dia…Yang memiliki hubungan tanpa nama dengankuYang memberiku pemikiran, kala aku tidak mampu memikirkan apapun!Dia… yang membuatku merasakan diriku kala aku tidak merasa apa-apaDia, yang bukan milikku, tapi ada dalam diriku”“Sebagian orang berharap agar dapat menikah dengan laki-laki yang mereka cintai, Doaku sedikit berbeda:  aku dengan rendah hati memohon kepada Tuhan agar aku mencintai laki-laki yang aku nikahi.”

Sinopsis:

Aariz Ali adalah seorang pemuda Pakistan berusia 26 tahun, tampan, kaya dan terdidik. Dia anak tunggal sebuah keluarga terhormat. Ayahnya pengusaha terkenal di Karachi. Aariz rupanya tengah jatuh cinta pada seorang gadis Pakistan yang telah lama tinggal di London, Komal namanya. Komal memang cantik, pintar, modern dan, sebagaimana Aariz, ia berasal dari keluarga pengusaha yang kaya pula. Sayangnya, Komal berasal dari “sekte” alias mazhab yang berbeda dengan keluarga Aariz. Itulah yang menyebabkan keluarga Aariz, terutama ibunya, menentang keras hubungan mereka. Sebagai reaksi atas ketidaksetujuannya atas hubungan itu, Sa’dia, ibunda Aariz, memaksa anaknya untuk menikah dengan seorang gadis desa yang masih memiliki kaitan keluarga dengannya. Pernikahan memang akhirnya terlaksana, meski secara praktis Aariz tidak pernah menganggap Zeest, gadis desa itu, sebagai istrinya. Setelah pernikahan ini, Aariz masih berharap bahwa hubungannya dengan Komal, gadis pujaannya, terus berlanjut.

Namun, karena peristiwa tertentu yang membuat Komal cemburu, gadis modern yang amat emosional itu pun lari meninggalkan Aariz dan tidak pernah kembali lagi. Ini membuat Aariz menderita tekanan batin yang kuat, mengingat beberapa waktu sebelum itu ia baru saja kehilangan kedua orangtuanya dalam suatu musibah yang merenggut nyawa keduanya. Tragis!
Stres yang begitu berat itu akhirnya mengantar Aariz ke rumah sakit jiwa. Selama dua tahun ia menjalani rehabilitas kejiwaan di sana, sebelum akhirnya ia dinyatakan sembuh total. Dan itu tidak lepas dari jasa seorang laki-laki yang amat dihormatinya, Paman Maulana. Setelah kesembuhan yang menakjubkan itu, Aariz mulai menyadari bahwa orang yang paling cocok dan didambakannya adalah Zeest, gadis desa itu, yang dipilihkan ibunya untuknya. Ia adalah gadis yang tabah, suci, dan siap memberikan cinta sepenuhnya kepada suaminya. Namun, di manakah Aariz harus mencarinya? Bukankah ia sendiri yang telah mengusirnya dua tahun yang lalu? (credit: penerbit pustaka hidayah)
  • Jumlah Halaman: 524
  • ISBN: 978-979-1096-85-0
  • Judul: Cinta yang Terlambat
  • Pengarang: Dr. Ikram Abidi
  • Penerbit: Pustaka Hidayah
  • Tahun terbit: 2000
  • Bahasa: Arab – Indonesia

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s