I Admit, I am a Huge Fans of Anime and Manga

background manga blog

Some of my fav.

Who don’t know Anime and Manga, Right? But, liking them, that is another question. In Indonesia, during my old days, manga was called as comic. Actually, it is very different with the real ‘comics.’  It usually published from Japan or Korea. The readers are wide range, from children to granny or grandpa. Why? Because sometimes, they started to read and watched it since they were a child an continued until they get older. There is no age limit for this kind of “fans” Take me for example.

Strawhat Pirates (3)Even though there are some people out there who look down on us. Just because they thought that manga or anime is a childish things, made people forget reality, induced laziness and other and other.

Even I’ve encountered such people. All I need is proved them that they were wrong. And they will kept silence. For instance, be a person who love manga and anime but still had good grades at school and still had lots of friends out there.

Anyway, I think it depends on the person. For me, manga and anime is a symbol of hard work and art. Can you imagine how many people involved during the making of anime? How much talent needed just to make it into one. Or even how many efforts to be made to make them published or on air.

So, how come, some people think shallow about manga and anime? I guess, it is just because they yet to understand it or yet to try like it.

I, myself, love manga and anime because I always got some good lesson it. I could learn the language (Japanese language), learn history I had not known before because sometimes, there are anime or manga based on real history, found great quotes (from the character), or even other positive things such as friendship, hard work, self confidence, dare to dreams, and etc.

qa7kiz8aSo, how come I’ve become one of the anime and manga “fans”? Well, have you ever heard about Doraemon or his ‘immortal’ friend Nobita? I said immortal because he never aged since it was first aired on TV.

You can say that Doraemon is the first manga and anime in my life. Back then, I was amazed with Doraemon pocket. I mean, you can get all you want from there, and for me as a child, it was pretty amazing.

Since then, I don’t know how many mangas I’ve been read and how many animes I’ve been watched.
anim09For manga, I have a little history with it. It started during my school days. At first, I borrowed it from friends, which I usually read it during school hours. I put it inside the textbook or read it under the table… hehehe… please don’t imitate me.

Then, I asked my dad (RIP) to buy it every time we went monthly shopping. When once a month is not enough, I decided to save my pocket money and bought it.

Later on, when there was a manga rent shop, I just kept going there. Until finally, technology understand me. Ups, I mean I understand technology.

Now, I just need an internet connection and bam! It’s all there to read and watch.

The famous Hana Yori Dango

The famous Hana Yori Dango

Oh, by the way, from manga, sometimes they turned it into anime or vice versa. Next on, from anime or manga, they turned them into drama or movie.

Remember Hana Yori Dango? Just named it. Start from manga to anime to Taiwanese drama (Meteor Garden). Followed by Dorama/ Japanese drama (Hana Yori Dango). Also, K-Drama (Boys Before flowers).

As far as I remember, here, in Indonesia, there was also a drama adapted from it, but I totally forgot what the title of the drama is. And it’s all started from a MANGA! WOW! Just WOW!

So, if you like manga and anime, it is absoulutely okay to continue liking it and admit it. Just don’t forget, there are many kinds of manga and anime. Read and watch appropriately as your age.

Just for reminiscence, these are some of manga and anime I’ve been read and watched and the list still continued on till now.

  1. Air Gear
  2. Antique Bakery
  3. Bartender
  4. Beck
  5. Blank Slate
  6. Blassreiter
  7. Bleach
  8. Brain Powerd
  9. Buzzer Beater
  10. Code Geass
  11. Conan
  12. Death Note
  13. Devil may Cry
  14. D-Gray Man
  15. DN Angel
  16. Eyeshield 21
  17. Fullmetal Alchemist
  18. Fullmetal Panic
  19. Get Backers
  20. Glass Mask
  21. Gokusen
  22. GTO (great Teacher Onizuka)
  23. Gundam (almost all series of it)
  24. Hana Kimi
  25. Hana Yori dango
  26. Heroic Age
  27. Hunter X Hunter
  28. Initial D
  29. Inuyasha
  30. Itazura Na Kiss
  31. Kaze no Stigma
  32. Kazoku Kamisama
  33. Kungfu Boy
  34. Kyou Kara Maouh
  35. La Corda de Oro
  36. Lovely Complex
  37. Midori no Hibi
  38. Mirage
  39. Naruto
  40. Neon Genesis Evangelion
  41. Nodame Contabile
  42. One Piece
  43. Ouran High School
  44. Perfect Girl Evolution
  45. Prince of Tennis
  46. Rave
  47. Sailor Moon
  48. Saint Seiya
  49. Samurai Deeper Kyo
  50. Samurai X
  51. Shining Tears
  52. Skip Beat
  53. Slam Dunk
  54. Special A
  55. Suzuka
  56. The Girl Who Leap the Time
  57. The Law of Ueki
  58. Toradora
  59. Trinity Blood
  60. Tsubasa Chronicle
  61. Utawarerumono
  62. Valkyria
  63. Vampire Knight
  64. Yakitate Japan
  65. Gakuen alice
  66. One outs
  67. Kuroko no basket
Advertisements

Cinta Mistik Rabiah Al-adawiyah: Sebuah Memoar Spiritual

rabiah

The book cover

Melihat judul buku ini, sepertinya akan terasa berat membacanya. Cinta Mistik. Apalagi melihat judul kecilnya, ‘Sebuah Memoar Spiritual’ * Wow, kebayang deh isinya * Makanya, ketika saya mau membacanya, ada sedikit rasa deg-degan. Saya pikir, akan membutuhkan waktu lama untuk  membacanya dan butuh berulang-ulang kali untuk memahami isinya. Bisa dikatakan, saya maju mundur untuk membaca buku ini.

Mistik, menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI)  edisi ke-4, Mistik berarti subsistem yang ada di hampir semua agama dan sistem religi untuk memenuhi hasrat manusia mengalami dan merasakan emosi bersatu dengan Tuhan, tasawuf. Berat kan definisinya. akan tetapi, ada lagi satu definisi yang mungkin lebih dimengerti, mistik adalah hal gaib yang tidak terjangkau dengan akal manusia biasa * Ck ck ck, begitu tahu definisinya, semakin saya yakin, buku ini ‘berat’ sekaligus menantang saya untuk membacanya * Karena apa? Karena itu berarti Rabiah Al-adawiyah bukanlah manusia biasa. Lihat saja lagi judulnya.

Pada akhirnya, saya memberanikan diri untuk membuka selembar demi selembar halaman dari buku ini. Dari setiap lembar, saya bisa mengikuti perjalanan spiritual Rabiah, yang bagi saya tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata. Sempat terbersit, “gila ya, ada ya perempuan kaya Rabiah, yang menyerahkan seluruh hati, jiwa, dan pikirannya hanya kepada Sang Khalik“. Ia mencintai Allah melebihi segalanya. Mengesampingkan urusan dunia yang bersifat sementara dan fana. Semua itu karena cintanya yang luar biasa kepada Allah sang penguasa jagad raya.

Buku ini hanya menggambarkan sepenggal perjalanan spiritual Rabiah. Meskipun begitu, cukup bagi orang awam seperti saya untuk mengenal sosok Rabiah yang luar biasa. Bahkan membuat saya searching mengenai Siapa sebenarnya Rabiah ini.

Rabiah Al-adawiyah dikenal juga sebagai Rabiah Basri atau rabiah Al Adawiyah Al Basriyah. Ia lahir pada tahun 713 M di kota Basrah, Irak. Rabiah adalah anak keempat dari keluarga yang hina dina. Ia dilahirkan dari orang tua yang hidupnya sangat sengsara, meskipun saat itu kota Basrah bergelimang dengan kekayaan dan kemewahan. Tidak ada seorangpun yang berada di samping ibunya ketika ia dilahirkan.

Tak lama kemudian, orang tua Rabiah meninggal ketika Rabiah masih kecil. Begitu pula ketiga kakaknya, meninggal ketika wabah kelaparan melanda kota Basrah. Dalam kesendirian itu, akhirnya Rabiah jatuh ke tangan orang yang kejam, yang lalu menjualnya sebagai budak belian. Ketika akhirnya ia bebas, Rabiah pergi ke tempat tempat sunyi untuk menjalani hidup dengan bermeditasi, dan akhirnya sampailah ia di sebuah gubuk dekat Basra. Di sini ia hidup bertapa. Sebuah tikar butut, sebuah kendi dari tanah, dan sebuah batu bata, merupakan harta sekalligus teman dalam menjalani hidupnya.

Sejak saat itu, ia abdikan seluruh hidupnya hanya kepada Allah SWT. Berdoa dan berzikir menjadi rutinas kehidupannya. ia melepas semua urusan duniawi, termasuk memberikan hatinya kepada seorang pria dan membangun rumah tangga. Meski banyak pinangan datang, termasuk dari gubernur Basra dan seorang suci mistis terkenal, Hasan Basri, hati Rabiah tetap tak tergoyahkan. Cintanya tidak diperuntukkan manusia, melainkan hanya untuk Allah SWT semata. Begitulah ia menjalani hidupnya hingga akhir hayatnya (801 M). Kelak, dunia mengenal Rabiah sebagai “Ibu para sufi besar” yang memperkenalkan konsep mahabbah (‘agama cinta’). Satu-satunya perempuan yang bisa mencapai level tertinggi dalam tasawuf.

Setelah membaca buku ini, ada beberapa doa Rabiah yang terus-menerus saya ingat. Mungkin karena doanya sangat mendalam dan dituturkan dengan bahasa yang amat indah, seperti berikut ini.

“Tuhanku , kalau aku mengabdi kepada-Mu karena takut akan api neraka, masukkanlah aku ke dalam neraka itu, dan besarkanlah tubuhku dalam neraka itu, dan besarkanlah tubuhku dalam neraka itu, sehingga tidak ada tempat lagi di neraka itu buat hamba-hamba-Mu yang lain. Kalau aku menyembah-Mu karena berharap mendapatkan surga maka berikanlah surga itu kepada hamba-hamba-Mu yang lain sebab bagiku Engkau saja sudah cukup.”

atau pendapatnya mengenai cinta

” Cinta berbicara dengan kerinduan dan perasaan.

Mereka yang merasakan cinta saja yang dapat mengenal apa itu cinta.

Cinta tak dapat dijelaskan dengan kata-kata.

Tak mungkin orang dapat menjelaskan sesuatu yang belum dikenalnya, atau mengenali sesuatu yang belum pernah digaulinya.

Cinta tak mungkin dikenal lewat hawa nafsu, terlebih bila tuntutan cinta itu dikesampingkan.

Cinta bisa membuat orang jadi bingung, akan menutup untuk menyatakan sesuatu.

Cinta mampu menguasai hati.”

  • Jumlah Halaman: 342
  • ISBN: 979-96338-2-8
  • Judul: Cinta Mistik Rabiah Al-adawiyah
  • Pengarang: Abdul Mun’im Qandil
  • Penerbit: Mujadalah
  • Tahun Terbit: 2002
  • Bahasa: Indonesia

Life is Always about Making Choices

Hidup adalah Pilihan.

Sering kali dalam hidup ini, kita dihadapkan pada suatu pilihan. Mulai dari pilihan yang amat sangat sederhana hingga pilihan yang kelak bisa menentukan arah hidup kita. Sulit memang untuk memastikan, pilihan mana yang terbaik bagi kita.

Namun, berapa pun pilihan yang terbentang di hadapan kita. Pada akhirnya, hanya akan ada dua pilihan saja. Pilihan yang sulit dan pilihan yang mudah.

Pilihan yang sulit memang susah untuk dijalani, dilakukan, dimengerti, dan ditindaklanjuti. Tapi, sebagai imbalannya, kita akan memperoleh banyak sekali pelajaran dan pengalaman selama menjalani pilihan tersebut, dan percaya tidak percaya, pilihan yang sulit itu sering kali menghasilkan ending yang membahagiakan.

Sementara itu, pilihan yang mudah hanya memberikan imbalan bahwa pilihan itu mudah. Mudah untuk dijalani, dimengerti, dan ditindaklanjuti. Dalam sekejap saja, kita sudah bisa memperoleh hasil akhir yang membahagiakan dari pilihan kita itu.

Lalu, manakah yang akan kita pilih?

Semua bergantung pada situasi dan kondisi saat pilihan itu ada di hadapan kita. Tidak penting pilihan mana yang kita pilih, keduanya pasti akan selalu dibarengi dengan konsekuensi. Baik itu konsekuensi yang baik maupun yang buruk.

Ingat saja bahwa pilihan apa pun yang akan kita pilih, pastikan bahwa kita tidak akan menyesalinya. Kita tidak boleh menyesalinya.

Yakinlah pada pilihan kita, berdoalah bahwa itu yang terbaik, dan bahwasanya Tuhan turut andil dalam menentukan pilihan yang terbaik bagi kita, lalu ikhlaskan hati kita, maka niscaya pilihan apa pun itu pastilah yang terbaik bagi kita dan pada akhirnya menghasilkan yang terindah bagi kehidupan kita.

Bijaklah dalam menentukan pilihan dalam hidup kita. Karena diri kita sekarang merupakan hasil akumulasi dari pilihan-pilihan kita di masa lalu, dan pilihan-pilihan kita saat ini akan menentukan diri kita di masa yang akan datang.

Life is a choice

Life is always about making choices

And choices specify our quality of life

Your Job is Not Your Career

which one will you choose?

Your job is not your career. Rasanya, kalimat semacam itu sering kali kita temui atau kita dengar dari orang lain. Terutama akhir-akhir ini, di mana orang merasa pekerjaan hanya sebagai alat. Alat pemenuh kebutuhan.

Setidaknya, itulah yang dirasakan sebagian besar orang-orang di lingkungan saya berada. Mereka bekerja hanya sekadar untuk mendapatkan gaji bulanan yang kelak dipakai untuk membayar tagihan-tagihan setiap bulannya.

Tidak ada lagi rasa enjoy dalam pekerjaan mereka, tidak ada lagi antusiasme ketika berangkat bekerja. Tidak ada lagi kreativitas yang bisa dipersembahkan untuk tempatnya bekerja.

Jika kita sudah merasakan hal semacam itu, maka patutlah kita berpikir untuk mencari pekerjaan lain di luar sana. Yang jauh dari tempat kita bekerja, yang berlawanan dengan pekerjaan kita, yang sesuai dengan hati dan passion kita.

Dengan begitu, kita tidak lagi hidup hanya untuk bekerja, melainkan hidup untuk mendapatkan achievement dalam hidup kita. Ketika pekerjaan kita memenuhi kebutuhan duniawi, maka karier kita seharusnya memenuhi kebutuhan spiritual dan akhirat. Dan pada akhirnya, tidak akan ada lagi rasa ‘kurang’ dalam kehidupan kita ataupun rasa tertekan karena pekerjaan kita semata.

Namun, banyak orang yang masih belum sadar bahwa kesuksesan dan pencapaian dalam hidup bukan hanya dilihat dari karier di pekerjaan kita. Bukan dari seberapa tinggi jabatan yang dapat kita raih di perusahaan tempat kita bekerja, bukan dari seberapa banyak uang dalam tabungan kita, ataupun dari seberapa mewah hidup kita dibandingkan dengan yang lainnya.

Pencapaian yang sesungguhnya adalah seberapa bermanfaatnya kita bagi orang-orang di sekitar kita.  Mulailah bertanya pada diri kita sendiri, apakah ada orang lain yang kehidupannya menjadi lebih baik karena kehadiran kita? Jika jawabannya adalah “Ya”, maka patutlah kita berbahagia, karena itulah achievement kita dalam kehidupan.

Sekarang, tengok diri kita atau bercerminlah. Sudahkah kita mendapatkannya? Achievement in life. Jika belum, carilah… karena tidak pernah ada kata terlambat untuk mendapatkannya.

We are never too old to learn. Never too old to try something new. Never too old to face up challenges. Furthermore, we are never too old to chase our dreams.

It doesn’t Hurt To be Optimistic

Life is a Journey.

Hidup ini adalah sebuah perjalanan. Perjalanan kita menuju rumah yang sejati. Pastinya, disetiap perjalanan tidak ada yang mudah. Ada berbagai jalan untuk dipilih, ada banyak kendaraan yang bisa kita gunakan, ada banyak lampu merah, kuning, dan hijau yang harus dilewati. Selain itu, ada jalan yang rata, berlubang, macet, atau bebas hambatan. Semuanya itu adalah pilihan yang selalu berbuah konsekuensi.

Tetapi ada satu hal yang bisa membuat perjalanan kita senantiasa lancar dan terasa dimudahkan. Optimis. Ya, optimis menjadi kunci bagi kita untuk terus merasa bahagia di sepanjang perjalanan.

Orang yang optimis senantiasa akan berpikir positif. Tidak ada kesedihan di matanya, tidak ada kesepian sepanjang hidupnya, dan tidak ada sedikit pun rasa putus asa dalam dirinya. Ia akan senantiasa mensyukuri kehidupannya, dan berusaha yang terbaik untuk segala apa yang dilakukannya.

Orang yang optimis akan melihat gelas setengah terisi. Sementara orang yang pesimis akan melihat gelas setengah kosong. Di malam tahun baru, orang yang optimis akan terjaga hingga tengah malam untuk memastikan bahwa tahun baru telah tiba. Sedangkan orang yang pesimis akan terjaga hingga tengah malam untuk memastikan bahwa tahun ini sudah terlewati.

Namun, tidak mudah untuk menjadi optimis. Setidaknya, tidak semudah kita mengatakannya, menuliskannya, atau merasakannya. Sulit sekali menjadi optimis bila kita terus-menerus didera kesulitan dan ujian yang tak pernah ada habisnya.

Tapi memang seperti itulah adanya, tidak ada sesuatu yang instan. Optimis tidak bisa dimunculkan dalam diri kita dalam sekejap, seperti indomie yang bisa dimasak secara instan hanya dalam 3 atau 5 menit. Optimis harus ditanam dalam-dalam, dipatri hingga ke relung jiwa, disugesti setiap hari ke dalam hati kita.

Lalu, apakah lantas kita menjadi orang yang optimis. Tidak. Kata kunci lainnya adalah “iman”. Keimanan kita menunjukkan rasa optimis kita. Semakin kuat iman kita, maka semakin kuat pula rasa optimis kita. Karena dengan iman yang kuat, kita senantiasa selalu berprasangka baik terhadap takdir yang digariskan untuk kita.

Kita akan optimis, bahwasanya esok pasti akan menjadi lebih baik, dan kalau tidak sesuai harapan, kita masih akan tetap optimis bahwa itu demi kebaikan kita.

Maka mulai sekarang, tumbuhkembangkanlah rasa optimis dalam diri kita. Kuatkan iman kita dan senantiasa bersahabatlah kita dengan orang-orang yang optimis. Mengapa? Karena mereka akan menyebarkan rasa optimis mereka ke orang-orang disekitarnya.

It doesn’t hurt to be optimistic.  You can always cry later. But at least, you will cry without regrets, for you already tried your best.

Love is Reckless, Not Reason

This is one of many love poems by Jalaludin Rumi. I love this one a lot, for it describe ‘love’ as something reckless. You don’t need reasons to love someone or to be loved by one. Because Love is reckless, not reason.

What will happened with your love if the reason for loving someone already gone. Will you stop loving them or will you love them even more….

Love is reckless; not reason.

Reason seeks a profit.

Love comes on strong,

consuming herself, unabashed.

Yet, in the midst of suffering,

Love proceeds like a millstone,

hard surfaced and straightforward.

Having died of self-interest,

she risks everything and asks for nothing.

Love gambles away every gift God bestows.

Without cause God gave us Being;

without cause, give it back again.

Mathnawi VI, 1967-1974

How to Educate Young Learners to Love Our Nature

Nature is part of life that couldn’t be forgotten. Since we were born to this world, we already live with it. There should be balance between nature and modernization. Which, it seems, some of us might have been forgotten or perhaps, just ignore it.

I, myself, could not imagine how my life would be without natural things surround me. How my life would be, with only buildings, vehicle, machine, and else surrounds. I don’t even want to imagine it, because nature is part of me. Breathe fresh air, while looking at the clear sky, surrounds by the green trees, and feel the wind breeze is such a luxury. These kind of feeling which I want to past down to my great great great grandchild in the future.

So, the most important things to do now is, educate young learners about how to love and take care our nature. And how will I ever do that? Will they understand if I teach them? Well, I hardly believe that they will. The word ‘nature’ itself is not quite understandable for them. But, I do remember that they learn using their five senses. They see, hear, smell, touch, and taste it. They might not understand it yet, but they unconsciously construct knowledge about it inside their mind. Hopefully, later, they will love our nature and took care of it.

So, I think, I just need to expose them with natural things as much as possible. Let them engage with it during their everyday life. I did it, most of the time with my student during our play in outside. We observe the plant, watering the plant, look at the sky, the clouds, touch the sand, soil, feel the wind, and smell leaves or flower.

We also expose them with animals, lot kinds of animals. From the tiny caterpillars, pets,  snakes to baby crocodiles. What do you think they would react to all these animals? Scared, doesn’t want to get near of it even touch it? Nope, that is not the way they would react, not for my student. Although they was a bit afraid at first (which that is the time for me to encourage them to not be scared), at the end, they love it, and keep talking about it on the next day.

They explore the morphology by touch the skin, feel the texture of it, and observe the body parts. They also listen to our explanation about how they live, what they eat, and where could we find them. At the end of the day, lets hope that these memory and knowledge will last forever. That someday in the future, they will show more respect  and love to nature more than their former does.

We do not inherit the earth from our ancestors, but we borrow it from our children. So, it’s time for us to keep reminding ourselves to love and take care of our earth for our children’s sake.

 

Rafting: Nothing To Be Afraid Of

Rafting. It’s been such a long time since I want to try this kind of experience. Before, I just watched it from TV or vids, but now, it’s my chance to feel it by myself. How excited that will be. On the other hand, A little bit scary. There is some fear creep through my mind.

That day, we gathered in Bogor. For someone who live in Jakarta, I should take the train to get there. Then, I leave the rest to others who knew the route.

It was arrange by my friend, Tari. She is very familiar with adventurous things like this. She loves outdoor activities and engages with nature. It really nice to befriend with someone like her.

Anyway, we went to the site… got our gear, put them on, and brought it to the river downhill. Since it was a first time for me, guides were there to explain some things that we need to know and do it during rafting. We listened well, and be ready for whatever ahead of us in the river.

 

After the brief explanation, I kept things in mind for next rafting. In the future, I have to wore a comfortable outfit, sport shoes, swimming cap, for I wore hijab, and physical preparation before the D-Day. Because that time, I missed all that.

rafting2

Enjoy every moment of it!

Once I got on board, I just can’t wait. Rafted along the river, waited for big stream, avoided some big rocks or crashed between team and enjoyed the surrounding view

It was sooo thrilled and full of excitement. Couldn’t describe how I felt that day. The view is so beautiful. The cliffs, the trees, the rocks, and the waterfall. I just couldn’t ask for more. During this kind of excitement and admiration, I felt very grateful to GOD, for giving me such amazing view in the world where I live in.

29663_1385061399320_1615568976_899599_5756457_n

The waterfall…

Before going home, last but not least, trying to raft using banana boat. Wow, it was so hard to handle it. I felt like I was going to fall to the river. And yes, I did.

The banana boat was upside down, I was afraid, and I was like just lying there on the surface of the river, drifted by the stream while avoiding branches and rocks around me. Waiting for someone to rescue me.

But, it was not as scary as I thought it will be. If I got another chance to try it again, I am  definitely gladly said YES, off course!

Rafting in a banana boat. Sooooo fun!

Rafting in a banana boat *me, in front * Sooooo fun!

There is nothing to be afraid of. There is no fear that can’t be resolved. As long as I have positive mindset. And take challenge as a new way to learn new things.

Menyambangi Konservasi Penyu Sisik di Pulau Pramuka, Kepulauan Seribu

dsc00037dsc00036dsc00045

Berawal dari Muara Angke, kami naik perahu menuju Pulau Pramuka. Di pulau ini, kami mengunjungi tempat konservasi penyu.

Kala itu, beberapa penyu dewasa sedang dalam perawatan, ada juga penyu yang mengalami cacat sehingga tidak dapat dilepas lagi ke lautan. Petugas konservasi mengatakan kalau penyu ini tidak akan bisa bertahan hidup jika dilepas ke laut terbuka.

dsc00059

Selain penyu dewasa, disini juga ada banyak bayi-bayi penyu atau biasa disebut tukik. Tukik-tukik ini dipersiapkan untuk nantinya dilepas ke lautan. Mengapa penyu dikonservasi? Karena penyu merupakan salah satu hewan yang terancam punah.

dsc00051

Mendengar penjelasan dari petugas konservasi dan memandangi penyu-penyu yang kian sulit ditemui di lautan ternyata telah memakan waktu cukup lama. Kami pun segera beranjak dan berjalan-jalan di Pulau Pramuka ini.

Pulau Pramuka merupakan pusat administratif (Ibukota) Kabupaten Kepulauan Seribu. Jadi jangan heran jika di pulau ini kita bisa menemukan gedung pemerintahan, sekolah, masjid, rumah makan, serta fasilitas umum lainnya.

dsc00092

Di Pulau Pramuka, kami juga mengunjungi rumah salah satu penjaga taman nasional kepulauan seribu. Bagaimana kami mengenal beliau? Rupanya teman-teman seperjalanan saya ini yang mengenal beliau.

Pembicaraan pun menjadi panjang, terlebih lagi sembari menikmati hidangan seafood. Mulai dari cerita pengalaman beliau sebagai penjaga taman nasional, apa saja yang dikonservasi, kesulitan yang dihadapi, sampai kisah-kisah mistis yang beredar di kepulaun seribu. Semua dibahas habis. Sampai-sampai tak terasa waktu menunjukkan pukul 12 malam.

What a nice visit. Terima kasih sudah menjaga dan mengawasi kelestarian lingkungan di daerah kepulauan seribu ya pak. Respect!

Bagaimana dengan Anda?

Sudahkah menjaga kelestarian lingkungan dengan cara Anda sendiri?

Berlabuh Sejenak di Nusa Keramba, Kepulauan Seribu

dsc00204

Selain mengunjungi berbagai pulau yang ada di Kepulauan Seribu dan memuaskan diri snorkeling di sekitaran kepulauan seribu, tidak ada salahnya jika kita berlabuh sejenak di suatu tempat bernama keramba.

snorkeling di pulau seribu4-001Keramba ini berada di tengah laut dan sebagian bahkan mengapung di laut. Tidak jauh dari lokasi konservasi dan budidaya terumbu karang. Di kawasan ini, kita bisa menikmati indahnya lautan luas, karena sejauh mata memandang, ke manapun kita memandang, birunya laut menjadi perhatian.

dsc00185

snorkeling di pulau seribu6-001Di keramba ini kita bisa santai sejenak di restoran Nusa Keramba dan menikmati hidangan seafood yang disajikan sebagai menu utama. Kita juga bisa mencoba bermain jetski. Atau sekadar berkeliling keramba untuk melihat berbagai jenis ikan yang memang diternakkan di sini.

img_20130519_141613

Ikan yang menarik perhatian saya adalah ikan yang saya lihat di film finding nemo yang bersama-sama membentuk panah demi menunjukkan arah jalan bagi Dori dan Marlin. Lalu, yang menjadi favorit pengunjung, yaitu ikan hiu, atau tepatnya, bayi ikan hiu. Puluhan bayi ikan hiu memang berada ditangkar di keramba ini.

Meskipun tergolong bayi, hiu tetap saja hiu, sebagai carnivora yang paling ditakuti di sejagad lautan luas, memiliki gigi yang super tajam yang siap memangsa siapapun yang mengusik ketenangannya. Lihat saja kondisi ikan yang menjadi makan siang mereka saat itu, dagingnya bersih tak bersisa, hanya menyisakan tulang belulang saja.

snorkeling di pulau seribu5-001Pernahkah Anda berlabuh di Nusa keramba?
Berenang bersama bayi-bayi hiu?
Beranikah Anda?

Mengelilingi Pulau Semak Daun, Kepulauan Seribu

dsc00065

Pulau Semak Daun menjadi salah satu destinasi wisata di Kepulauan Seribu. Terakhir kali saya menginjakkan kaki di sini, tidak ada dermaga indah yang menyambut saya, terlebih lagi warung makanan. Pulau ini bisa dibilang tak berpenghuni.

dsc00064

Akan tetapi, sekarang telah dibangun dermaga yang rapi dan terdapat pula warung penjaja makan dan minum.  Pulau ini jadi terlihat ‘terawat.’ Penasaran dengan kondisi pulau semak daun terkini, saya pun mengelilingi pulau mengikuti garis pantai.

Kaget bukan main, di salah satu sudut pulau ini, terdapat tumpukan bahkan bisa dibilang gunungan sampah yang sebagian besar berisi sampah kardus makanan dan minuman. Sungguh amat disayangkan, pulau yang indah ini ternodai dengan keberadaan sampah.

Hal ini mengingatkan saya untuk menjadi wanderer yang bertanggung jawab. Wanderer yang tidak meninggalkan ‘jejak’ yang memberikan dampak negatif terhadap lingkungan yang dikunjunginya.

Salah satu caranya adalah dengan tidak membuang sampah di tempat yang saya kunjungi terutama tempat yang tidak mempunyai tempat pembuangan sampah akhir atau pengolahan sampah. Solusinya adalah bawa kembali sampahmu!

Hari Gajian, Saatnya Memberikan Kepada Yang Berhak

Finally, payment day.

Gajian sudah tiba. Mulailah saya budgeting untuk 1 bulan ke depan. Pertama, yang harus saya ingat adalah ada hak orang lain dalam gaji saya. Kedua, nabung. Ketiga, nabung. Keempat, nabung lagi.

Apa maksudnya tentang hak orang lain? Bagi saya, ada 5 hak di dalam gaji saya.

Naik Haji jika mampu.

1. Hak Allah

Berarti menggunakan sebagian rezeki saya untuk mendekatkan diri saya kepada Allah. Misalnya saja menabung untuk pergi Haji, membeli hewan kurban, atau aqiqah.

2. Hak fakir miskin

Berarti menyisihkan sebagian rezeki saya untuk membantu orang lain yang hidupnya lebih susah dari saya. Bisa dalam bentuk menyumbang ke yayasan-yayasan sosial, membeli buku untuk taman bacaan, memberi makan pengemis, memberikan susu ke pengamen anak-anak atau anak jalanan, dan banyak cara lainnya.

3. Hak orang tua

Berarti menyisihkan sebagian rezeki saya untuk orang paling penting di dunia, orangtua. Walaupun saya merasa, seberapa banyak pun yang sudah saya berikan ke mereka,  tidak akan bisa membalas semua yang mereka sudah berikan kepada saya. Tetapi, bahagia rasanya kalau saya bisa memberikan uang kepada mereka. Kan selama ini biasanya saya yang meminta uang kepada mereka.

Sayangnya, sekarang ini saya cuma bisa membahagiakan mama. Sedangkan sudah terlambat bagi saya untuk membahagiakan bapa (RIP). Oleh karena itu, apapun rasanya ingin saya berikan ke mama. Want to make her as happy as it could be.

4. Hak saya pribadi

Untuk yang satu ini, tidak perlu dibahas lebih panjang. Intinya, Anything that I, me, myself want to do, just do it. Asal sesuai budget. Tapi tetap, harus ingat untuk menggunakannya secara bijak alias wisely. Ditabung pun boleh, wajib malah hukumnya. Anggap saja tabungan untuk merealisasikan wishlist saya.

 5. Hak negara

Kalau gaji kita sudah memenuhi kriteria untuk kena pajak ya. Kalau kata iklannya sih, “Hari gini tidak bayar pajak! Apa kata dunia!”

Walaupun akhir-akhir ini banyak oknum perpajakan yang membuat kita tidak rela dan malas untuk membayar pajak, namun saya berprasangka baik saja dengan tetap membayarkannya.

Kalau memang kita sudah termasuk wajib pajak, maka bayarlah, masalah dikorupsi atau tidak oleh para oknum yang tidak bertanggung-jawab, biarlah menjadi urusan mereka dengan Tuhan.

Kalau sudah memenuhi kelima hak tersebut, maka tenanglah saya. Nikmati dan bersyukurlah.

Just enjoy and grateful for every rupiah that I get so far. 😉

Meskipun terlambat datangnya, namun Cinta tetaplah Cinta

Cinta yang terlambat. Buku ini adalah salah satu buku favorit saya. Bahkan, sampai sekarang, saya masih mengingat beberapa bagian dalam buku ini. Pertama kali saya membaca buku ini, karena kebaikan seorang teman yang telah meminjamkan bukunya kepada saya.

Kesan pertama saya terhadap buku ini tidak terlalu mendalam. Saya pikir, buku ini pastilah mengisahkan masalah percintaan. Tidak jauh berbeda dengan novel-novel bertemakan cinta (yang islami) lainnya. Akan tetapi, setelah saya membacanya secara menyeluruh, barulah saya menyadari bahwa buku ini tidak sekadar novel percintaan belaka.
Sang penulis mengemas cerita cinta dengan sangat menarik dan dituturkan dengan bahasa yang sangat indah. Ia juga membubuhi tulisannya dengan rangkaian puisi-puisi yang tidak kalah indahnya. Semakin saya membaca buku ini, saya semakin terhanyut ke dalam jalan ceritanya.
Betapa saya merasa sedih, kesal, dan marah ketika Aariz memperlakukan Zeest dengan sangat kasar. Betapa saya mengharu-biru melihat ketabahan dan kesabaran Zeest dalam menghadapi perlakuan Aariz. Betapa saya merasa sangat bahagia, ketika pada akhirnya, Aariz menyadari bahwa cintanya hanya untuk Zeest. Bagi saya, membaca buku ini layaknya menaiki rollercoaster emosi. Benar-benar menguras emosi.

Bagian yang paling saya ingat adalah pada saat Zeest berdoa. Isi dari doa itulah yang selalu terngiang-ngiang dalam benak saya. Lalu saya berpikir, “masih adakah sosok wanita seperti Zeest Zahra, pasti ada, namun entah di mana mereka berada.”

“Aku hanya inginkan beberapa saat dalam hidupkuSaat-saat, yang aku dapat bersembunyi dari diriku,Dia…Yang memiliki hubungan tanpa nama dengankuYang memberiku pemikiran, kala aku tidak mampu memikirkan apapun!Dia… yang membuatku merasakan diriku kala aku tidak merasa apa-apaDia, yang bukan milikku, tapi ada dalam diriku”“Sebagian orang berharap agar dapat menikah dengan laki-laki yang mereka cintai, Doaku sedikit berbeda:  aku dengan rendah hati memohon kepada Tuhan agar aku mencintai laki-laki yang aku nikahi.”

Sinopsis:

Aariz Ali adalah seorang pemuda Pakistan berusia 26 tahun, tampan, kaya dan terdidik. Dia anak tunggal sebuah keluarga terhormat. Ayahnya pengusaha terkenal di Karachi. Aariz rupanya tengah jatuh cinta pada seorang gadis Pakistan yang telah lama tinggal di London, Komal namanya. Komal memang cantik, pintar, modern dan, sebagaimana Aariz, ia berasal dari keluarga pengusaha yang kaya pula. Sayangnya, Komal berasal dari “sekte” alias mazhab yang berbeda dengan keluarga Aariz. Itulah yang menyebabkan keluarga Aariz, terutama ibunya, menentang keras hubungan mereka. Sebagai reaksi atas ketidaksetujuannya atas hubungan itu, Sa’dia, ibunda Aariz, memaksa anaknya untuk menikah dengan seorang gadis desa yang masih memiliki kaitan keluarga dengannya. Pernikahan memang akhirnya terlaksana, meski secara praktis Aariz tidak pernah menganggap Zeest, gadis desa itu, sebagai istrinya. Setelah pernikahan ini, Aariz masih berharap bahwa hubungannya dengan Komal, gadis pujaannya, terus berlanjut.

Namun, karena peristiwa tertentu yang membuat Komal cemburu, gadis modern yang amat emosional itu pun lari meninggalkan Aariz dan tidak pernah kembali lagi. Ini membuat Aariz menderita tekanan batin yang kuat, mengingat beberapa waktu sebelum itu ia baru saja kehilangan kedua orangtuanya dalam suatu musibah yang merenggut nyawa keduanya. Tragis!
Stres yang begitu berat itu akhirnya mengantar Aariz ke rumah sakit jiwa. Selama dua tahun ia menjalani rehabilitas kejiwaan di sana, sebelum akhirnya ia dinyatakan sembuh total. Dan itu tidak lepas dari jasa seorang laki-laki yang amat dihormatinya, Paman Maulana. Setelah kesembuhan yang menakjubkan itu, Aariz mulai menyadari bahwa orang yang paling cocok dan didambakannya adalah Zeest, gadis desa itu, yang dipilihkan ibunya untuknya. Ia adalah gadis yang tabah, suci, dan siap memberikan cinta sepenuhnya kepada suaminya. Namun, di manakah Aariz harus mencarinya? Bukankah ia sendiri yang telah mengusirnya dua tahun yang lalu? (credit: penerbit pustaka hidayah)
  • Jumlah Halaman: 524
  • ISBN: 978-979-1096-85-0
  • Judul: Cinta yang Terlambat
  • Pengarang: Dr. Ikram Abidi
  • Penerbit: Pustaka Hidayah
  • Tahun terbit: 2000
  • Bahasa: Arab – Indonesia