I Admit, I am a Huge Fans of Anime and Manga

background manga blog

Some of my fav.

Who don’t know Anime and Manga, Right? But, liking them, that is another question. In Indonesia, during my old days, manga was called as comic. Actually, it is very different with the real ‘comics.’  It usually published from Japan or Korea. The readers are wide range, from children to granny or grandpa. Why? Because sometimes, they started to read and watched it since they were a child an continued until they get older. There is no age limit for this kind of “fans” Take me for example.

Strawhat Pirates (3)Even though there are some people out there who look down on us. Just because they thought that manga or anime is a childish things, made people forget reality, induced laziness and other and other.

Even I’ve encountered such people. All I need is proved them that they were wrong. And they will kept silence. For instance, be a person who love manga and anime but still had good grades at school and still had lots of friends out there.

Anyway, I think it depends on the person. For me, manga and anime is a symbol of hard work and art. Can you imagine how many people involved during the making of anime? How much talent needed just to make it into one. Or even how many efforts to be made to make them published or on air.

So, how come, some people think shallow about manga and anime? I guess, it is just because they yet to understand it or yet to try like it.

I, myself, love manga and anime because I always got some good lesson it. I could learn the language (Japanese language), learn history I had not known before because sometimes, there are anime or manga based on real history, found great quotes (from the character), or even other positive things such as friendship, hard work, self confidence, dare to dreams, and etc.

qa7kiz8aSo, how come I’ve become one of the anime and manga “fans”? Well, have you ever heard about Doraemon or his ‘immortal’ friend Nobita? I said immortal because he never aged since it was first aired on TV.

You can say that Doraemon is the first manga and anime in my life. Back then, I was amazed with Doraemon pocket. I mean, you can get all you want from there, and for me as a child, it was pretty amazing.

Since then, I don’t know how many mangas I’ve been read and how many animes I’ve been watched.
anim09For manga, I have a little history with it. It started during my school days. At first, I borrowed it from friends, which I usually read it during school hours. I put it inside the textbook or read it under the table… hehehe… please don’t imitate me.

Then, I asked my dad (RIP) to buy it every time we went monthly shopping. When once a month is not enough, I decided to save my pocket money and bought it.

Later on, when there was a manga rent shop, I just kept going there. Until finally, technology understand me. Ups, I mean I understand technology.

Now, I just need an internet connection and bam! It’s all there to read and watch.

The famous Hana Yori Dango

The famous Hana Yori Dango

Oh, by the way, from manga, sometimes they turned it into anime or vice versa. Next on, from anime or manga, they turned them into drama or movie.

Remember Hana Yori Dango? Just named it. Start from manga to anime to Taiwanese drama (Meteor Garden). Followed by Dorama/ Japanese drama (Hana Yori Dango). Also, K-Drama (Boys Before flowers).

As far as I remember, here, in Indonesia, there was also a drama adapted from it, but I totally forgot what the title of the drama is. And it’s all started from a MANGA! WOW! Just WOW!

So, if you like manga and anime, it is absoulutely okay to continue liking it and admit it. Just don’t forget, there are many kinds of manga and anime. Read and watch appropriately as your age.

Just for reminiscence, these are some of manga and anime I’ve been read and watched and the list still continued on till now.

  1. Air Gear
  2. Antique Bakery
  3. Bartender
  4. Beck
  5. Blank Slate
  6. Blassreiter
  7. Bleach
  8. Brain Powerd
  9. Buzzer Beater
  10. Code Geass
  11. Conan
  12. Death Note
  13. Devil may Cry
  14. D-Gray Man
  15. DN Angel
  16. Eyeshield 21
  17. Fullmetal Alchemist
  18. Fullmetal Panic
  19. Get Backers
  20. Glass Mask
  21. Gokusen
  22. GTO (great Teacher Onizuka)
  23. Gundam (almost all series of it)
  24. Hana Kimi
  25. Hana Yori dango
  26. Heroic Age
  27. Hunter X Hunter
  28. Initial D
  29. Inuyasha
  30. Itazura Na Kiss
  31. Kaze no Stigma
  32. Kazoku Kamisama
  33. Kungfu Boy
  34. Kyou Kara Maouh
  35. La Corda de Oro
  36. Lovely Complex
  37. Midori no Hibi
  38. Mirage
  39. Naruto
  40. Neon Genesis Evangelion
  41. Nodame Contabile
  42. One Piece
  43. Ouran High School
  44. Perfect Girl Evolution
  45. Prince of Tennis
  46. Rave
  47. Sailor Moon
  48. Saint Seiya
  49. Samurai Deeper Kyo
  50. Samurai X
  51. Shining Tears
  52. Skip Beat
  53. Slam Dunk
  54. Special A
  55. Suzuka
  56. The Girl Who Leap the Time
  57. The Law of Ueki
  58. Toradora
  59. Trinity Blood
  60. Tsubasa Chronicle
  61. Utawarerumono
  62. Valkyria
  63. Vampire Knight
  64. Yakitate Japan
  65. Gakuen alice
  66. One outs
  67. Kuroko no basket
Advertisements

What is The Meaning of Life?

Life is cruel, you know?

Because you think so

Life is beautiful, you know?

If you can get all that you ever wanted

Life is a mystery, you know?

Cause no one ever know how your life’s gonna be

 

That’s why we should live our life to the fullest. Embrace it, enjoy it. Our life will exactly as our minds think. So think positively. And in the end you’ll live happily.

 

Cinta Mistik Rabiah Al-adawiyah: Sebuah Memoar Spiritual

rabiah

The book cover

Melihat judul buku ini, sepertinya akan terasa berat membacanya. Cinta Mistik. Apalagi melihat judul kecilnya, ‘Sebuah Memoar Spiritual’ * Wow, kebayang deh isinya * Makanya, ketika saya mau membacanya, ada sedikit rasa deg-degan. Saya pikir, akan membutuhkan waktu lama untuk  membacanya dan butuh berulang-ulang kali untuk memahami isinya. Bisa dikatakan, saya maju mundur untuk membaca buku ini.

Mistik, menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI)  edisi ke-4, Mistik berarti subsistem yang ada di hampir semua agama dan sistem religi untuk memenuhi hasrat manusia mengalami dan merasakan emosi bersatu dengan Tuhan, tasawuf. Berat kan definisinya. akan tetapi, ada lagi satu definisi yang mungkin lebih dimengerti, mistik adalah hal gaib yang tidak terjangkau dengan akal manusia biasa * Ck ck ck, begitu tahu definisinya, semakin saya yakin, buku ini ‘berat’ sekaligus menantang saya untuk membacanya * Karena apa? Karena itu berarti Rabiah Al-adawiyah bukanlah manusia biasa. Lihat saja lagi judulnya.

Pada akhirnya, saya memberanikan diri untuk membuka selembar demi selembar halaman dari buku ini. Dari setiap lembar, saya bisa mengikuti perjalanan spiritual Rabiah, yang bagi saya tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata. Sempat terbersit, “gila ya, ada ya perempuan kaya Rabiah, yang menyerahkan seluruh hati, jiwa, dan pikirannya hanya kepada Sang Khalik“. Ia mencintai Allah melebihi segalanya. Mengesampingkan urusan dunia yang bersifat sementara dan fana. Semua itu karena cintanya yang luar biasa kepada Allah sang penguasa jagad raya.

Buku ini hanya menggambarkan sepenggal perjalanan spiritual Rabiah. Meskipun begitu, cukup bagi orang awam seperti saya untuk mengenal sosok Rabiah yang luar biasa. Bahkan membuat saya searching mengenai Siapa sebenarnya Rabiah ini.

Rabiah Al-adawiyah dikenal juga sebagai Rabiah Basri atau rabiah Al Adawiyah Al Basriyah. Ia lahir pada tahun 713 M di kota Basrah, Irak. Rabiah adalah anak keempat dari keluarga yang hina dina. Ia dilahirkan dari orang tua yang hidupnya sangat sengsara, meskipun saat itu kota Basrah bergelimang dengan kekayaan dan kemewahan. Tidak ada seorangpun yang berada di samping ibunya ketika ia dilahirkan.

Tak lama kemudian, orang tua Rabiah meninggal ketika Rabiah masih kecil. Begitu pula ketiga kakaknya, meninggal ketika wabah kelaparan melanda kota Basrah. Dalam kesendirian itu, akhirnya Rabiah jatuh ke tangan orang yang kejam, yang lalu menjualnya sebagai budak belian. Ketika akhirnya ia bebas, Rabiah pergi ke tempat tempat sunyi untuk menjalani hidup dengan bermeditasi, dan akhirnya sampailah ia di sebuah gubuk dekat Basra. Di sini ia hidup bertapa. Sebuah tikar butut, sebuah kendi dari tanah, dan sebuah batu bata, merupakan harta sekalligus teman dalam menjalani hidupnya.

Sejak saat itu, ia abdikan seluruh hidupnya hanya kepada Allah SWT. Berdoa dan berzikir menjadi rutinas kehidupannya. ia melepas semua urusan duniawi, termasuk memberikan hatinya kepada seorang pria dan membangun rumah tangga. Meski banyak pinangan datang, termasuk dari gubernur Basra dan seorang suci mistis terkenal, Hasan Basri, hati Rabiah tetap tak tergoyahkan. Cintanya tidak diperuntukkan manusia, melainkan hanya untuk Allah SWT semata. Begitulah ia menjalani hidupnya hingga akhir hayatnya (801 M). Kelak, dunia mengenal Rabiah sebagai “Ibu para sufi besar” yang memperkenalkan konsep mahabbah (‘agama cinta’). Satu-satunya perempuan yang bisa mencapai level tertinggi dalam tasawuf.

Setelah membaca buku ini, ada beberapa doa Rabiah yang terus-menerus saya ingat. Mungkin karena doanya sangat mendalam dan dituturkan dengan bahasa yang amat indah, seperti berikut ini.

“Tuhanku , kalau aku mengabdi kepada-Mu karena takut akan api neraka, masukkanlah aku ke dalam neraka itu, dan besarkanlah tubuhku dalam neraka itu, dan besarkanlah tubuhku dalam neraka itu, sehingga tidak ada tempat lagi di neraka itu buat hamba-hamba-Mu yang lain. Kalau aku menyembah-Mu karena berharap mendapatkan surga maka berikanlah surga itu kepada hamba-hamba-Mu yang lain sebab bagiku Engkau saja sudah cukup.”

atau pendapatnya mengenai cinta

” Cinta berbicara dengan kerinduan dan perasaan.

Mereka yang merasakan cinta saja yang dapat mengenal apa itu cinta.

Cinta tak dapat dijelaskan dengan kata-kata.

Tak mungkin orang dapat menjelaskan sesuatu yang belum dikenalnya, atau mengenali sesuatu yang belum pernah digaulinya.

Cinta tak mungkin dikenal lewat hawa nafsu, terlebih bila tuntutan cinta itu dikesampingkan.

Cinta bisa membuat orang jadi bingung, akan menutup untuk menyatakan sesuatu.

Cinta mampu menguasai hati.”

  • Jumlah Halaman: 342
  • ISBN: 979-96338-2-8
  • Judul: Cinta Mistik Rabiah Al-adawiyah
  • Pengarang: Abdul Mun’im Qandil
  • Penerbit: Mujadalah
  • Tahun Terbit: 2002
  • Bahasa: Indonesia

Life is Always about Making Choices

Hidup adalah Pilihan.

Sering kali dalam hidup ini, kita dihadapkan pada suatu pilihan. Mulai dari pilihan yang amat sangat sederhana hingga pilihan yang kelak bisa menentukan arah hidup kita. Sulit memang untuk memastikan, pilihan mana yang terbaik bagi kita.

Namun, berapa pun pilihan yang terbentang di hadapan kita. Pada akhirnya, hanya akan ada dua pilihan saja. Pilihan yang sulit dan pilihan yang mudah.

Pilihan yang sulit memang susah untuk dijalani, dilakukan, dimengerti, dan ditindaklanjuti. Tapi, sebagai imbalannya, kita akan memperoleh banyak sekali pelajaran dan pengalaman selama menjalani pilihan tersebut, dan percaya tidak percaya, pilihan yang sulit itu sering kali menghasilkan ending yang membahagiakan.

Sementara itu, pilihan yang mudah hanya memberikan imbalan bahwa pilihan itu mudah. Mudah untuk dijalani, dimengerti, dan ditindaklanjuti. Dalam sekejap saja, kita sudah bisa memperoleh hasil akhir yang membahagiakan dari pilihan kita itu.

Lalu, manakah yang akan kita pilih?

Semua bergantung pada situasi dan kondisi saat pilihan itu ada di hadapan kita. Tidak penting pilihan mana yang kita pilih, keduanya pasti akan selalu dibarengi dengan konsekuensi. Baik itu konsekuensi yang baik maupun yang buruk.

Ingat saja bahwa pilihan apa pun yang akan kita pilih, pastikan bahwa kita tidak akan menyesalinya. Kita tidak boleh menyesalinya.

Yakinlah pada pilihan kita, berdoalah bahwa itu yang terbaik, dan bahwasanya Tuhan turut andil dalam menentukan pilihan yang terbaik bagi kita, lalu ikhlaskan hati kita, maka niscaya pilihan apa pun itu pastilah yang terbaik bagi kita dan pada akhirnya menghasilkan yang terindah bagi kehidupan kita.

Bijaklah dalam menentukan pilihan dalam hidup kita. Karena diri kita sekarang merupakan hasil akumulasi dari pilihan-pilihan kita di masa lalu, dan pilihan-pilihan kita saat ini akan menentukan diri kita di masa yang akan datang.

Life is a choice

Life is always about making choices

And choices specify our quality of life

Your Job is Not Your Career

which one will you choose?

Your job is not your career. Rasanya, kalimat semacam itu sering kali kita temui atau kita dengar dari orang lain. Terutama akhir-akhir ini, di mana orang merasa pekerjaan hanya sebagai alat. Alat pemenuh kebutuhan.

Setidaknya, itulah yang dirasakan sebagian besar orang-orang di lingkungan saya berada. Mereka bekerja hanya sekadar untuk mendapatkan gaji bulanan yang kelak dipakai untuk membayar tagihan-tagihan setiap bulannya.

Tidak ada lagi rasa enjoy dalam pekerjaan mereka, tidak ada lagi antusiasme ketika berangkat bekerja. Tidak ada lagi kreativitas yang bisa dipersembahkan untuk tempatnya bekerja.

Jika kita sudah merasakan hal semacam itu, maka patutlah kita berpikir untuk mencari pekerjaan lain di luar sana. Yang jauh dari tempat kita bekerja, yang berlawanan dengan pekerjaan kita, yang sesuai dengan hati dan passion kita.

Dengan begitu, kita tidak lagi hidup hanya untuk bekerja, melainkan hidup untuk mendapatkan achievement dalam hidup kita. Ketika pekerjaan kita memenuhi kebutuhan duniawi, maka karier kita seharusnya memenuhi kebutuhan spiritual dan akhirat. Dan pada akhirnya, tidak akan ada lagi rasa ‘kurang’ dalam kehidupan kita ataupun rasa tertekan karena pekerjaan kita semata.

Namun, banyak orang yang masih belum sadar bahwa kesuksesan dan pencapaian dalam hidup bukan hanya dilihat dari karier di pekerjaan kita. Bukan dari seberapa tinggi jabatan yang dapat kita raih di perusahaan tempat kita bekerja, bukan dari seberapa banyak uang dalam tabungan kita, ataupun dari seberapa mewah hidup kita dibandingkan dengan yang lainnya.

Pencapaian yang sesungguhnya adalah seberapa bermanfaatnya kita bagi orang-orang di sekitar kita.  Mulailah bertanya pada diri kita sendiri, apakah ada orang lain yang kehidupannya menjadi lebih baik karena kehadiran kita? Jika jawabannya adalah “Ya”, maka patutlah kita berbahagia, karena itulah achievement kita dalam kehidupan.

Sekarang, tengok diri kita atau bercerminlah. Sudahkah kita mendapatkannya? Achievement in life. Jika belum, carilah… karena tidak pernah ada kata terlambat untuk mendapatkannya.

We are never too old to learn. Never too old to try something new. Never too old to face up challenges. Furthermore, we are never too old to chase our dreams.

It doesn’t Hurt To be Optimistic

Life is a Journey.

Hidup ini adalah sebuah perjalanan. Perjalanan kita menuju rumah yang sejati. Pastinya, disetiap perjalanan tidak ada yang mudah. Ada berbagai jalan untuk dipilih, ada banyak kendaraan yang bisa kita gunakan, ada banyak lampu merah, kuning, dan hijau yang harus dilewati. Selain itu, ada jalan yang rata, berlubang, macet, atau bebas hambatan. Semuanya itu adalah pilihan yang selalu berbuah konsekuensi.

Tetapi ada satu hal yang bisa membuat perjalanan kita senantiasa lancar dan terasa dimudahkan. Optimis. Ya, optimis menjadi kunci bagi kita untuk terus merasa bahagia di sepanjang perjalanan.

Orang yang optimis senantiasa akan berpikir positif. Tidak ada kesedihan di matanya, tidak ada kesepian sepanjang hidupnya, dan tidak ada sedikit pun rasa putus asa dalam dirinya. Ia akan senantiasa mensyukuri kehidupannya, dan berusaha yang terbaik untuk segala apa yang dilakukannya.

Orang yang optimis akan melihat gelas setengah terisi. Sementara orang yang pesimis akan melihat gelas setengah kosong. Di malam tahun baru, orang yang optimis akan terjaga hingga tengah malam untuk memastikan bahwa tahun baru telah tiba. Sedangkan orang yang pesimis akan terjaga hingga tengah malam untuk memastikan bahwa tahun ini sudah terlewati.

Namun, tidak mudah untuk menjadi optimis. Setidaknya, tidak semudah kita mengatakannya, menuliskannya, atau merasakannya. Sulit sekali menjadi optimis bila kita terus-menerus didera kesulitan dan ujian yang tak pernah ada habisnya.

Tapi memang seperti itulah adanya, tidak ada sesuatu yang instan. Optimis tidak bisa dimunculkan dalam diri kita dalam sekejap, seperti indomie yang bisa dimasak secara instan hanya dalam 3 atau 5 menit. Optimis harus ditanam dalam-dalam, dipatri hingga ke relung jiwa, disugesti setiap hari ke dalam hati kita.

Lalu, apakah lantas kita menjadi orang yang optimis. Tidak. Kata kunci lainnya adalah “iman”. Keimanan kita menunjukkan rasa optimis kita. Semakin kuat iman kita, maka semakin kuat pula rasa optimis kita. Karena dengan iman yang kuat, kita senantiasa selalu berprasangka baik terhadap takdir yang digariskan untuk kita.

Kita akan optimis, bahwasanya esok pasti akan menjadi lebih baik, dan kalau tidak sesuai harapan, kita masih akan tetap optimis bahwa itu demi kebaikan kita.

Maka mulai sekarang, tumbuhkembangkanlah rasa optimis dalam diri kita. Kuatkan iman kita dan senantiasa bersahabatlah kita dengan orang-orang yang optimis. Mengapa? Karena mereka akan menyebarkan rasa optimis mereka ke orang-orang disekitarnya.

It doesn’t hurt to be optimistic.  You can always cry later. But at least, you will cry without regrets, for you already tried your best.

Love is Reckless, Not Reason

This is one of many love poems by Jalaludin Rumi. I love this one a lot, for it describe ‘love’ as something reckless. You don’t need reasons to love someone or to be loved by one. Because Love is reckless, not reason.

What will happened with your love if the reason for loving someone already gone. Will you stop loving them or will you love them even more….

Love is reckless; not reason.

Reason seeks a profit.

Love comes on strong,

consuming herself, unabashed.

Yet, in the midst of suffering,

Love proceeds like a millstone,

hard surfaced and straightforward.

Having died of self-interest,

she risks everything and asks for nothing.

Love gambles away every gift God bestows.

Without cause God gave us Being;

without cause, give it back again.

Mathnawi VI, 1967-1974