Terima Kasih,

Terima Kasih. Mulailah ucapkan kata-kata itu kepada orang yang kita sayangi, sebelum semuanya terlambat…

Jika Terlampau Sulit Untuk Diucapkan, maka Tuangkanlah dalam Tulisan…

Saya pikir, setiap orang memiliki caranya sendiri untuk berterima kasih. Ada yang hanya menganggukkan kepala, membungkukkan badan, menatap orang yang dituju, memberikan senyuman, memberikan tetesan air matanya, atau dengan berucap secara langsung. “terima kasih.” Entah dengan apapun caranya, rasa terima kasih itu akan sampai kepada sang penerimanya. Meskipun ada sebagian orang  mengatakan, terima kasih tidak hanya cukup dengan kata-kata. Mungkin benar, tidak hanya cukup dengan ‘sekadar’ kata terima kasih.

Tetapi juga harus dibarengi dengan ketulusan dari sang pemberi ucapan. Lalu, bagaimana dengan puisi, syair, essai, atau sepenggal tulisan yang menggambarkan rasa terima kasih? Saya pikir rasa terima kasih semacam itu akan memberikan efek yang mendalam bagi sang penerimanya * saya saja yang notabene bukan penerima rasa terima kasih itu, yang notabene hanya seorang pembaca saja sampai tersentuh dan terharu hingga lubuk hati yang terdalam *

Contohnya adalah syair berikut ini. Saya kutip * dan entah mengapa selalu saya ingat * dari Buku ‘Cinta yang terlambat karya Dr. Ikram Abidi. Syair ini menggambarkan rasa terima kasih sang tokoh utama dalam cerita (Aariz) yang diperuntukkan bagi wanita yang, baru saja disadari, paling dicintainya (Zeest Zahra). 

TERIMA KASIH

Kasihku….

Aku menjadi orang yang berbeda

Orang yang lebih baik,

Semenjak kita bertemu pertama kali

Kejujuranmu membantuku

Melihat kelemahan-kelemahanku

Dan dukunganmu membantuku

Mengubahnya menjadi kekuatan

Terima kasih,

Terima kasih karena telah menjadi teman sejatiku

Karena tidak menyatakan hal-hal

Yang kau anggap aku ingin mendengar,

Melainkan karena menyatakan hal-hal yang harus ku kuketahui

Kaulah salah satu dari segelintir orang

Yang kupercaya kala kau menyatakan kepadaku

Bahwa aku telah melakukan dengan baik,

Sebab kaulah seorang dari segelintir

Yang akan menyatakan kepadaku

Kala aku dapat melakukan lebih baik

Kau menantangku

Agar menjadi yang terbaik semampuku….

Dengan menerima dan mengapresiasiku,

Kau membantuku

Belajar menerima

Dan mengapresiasi diriku

Terima kasih telah menjadi guruku!

Aku tiada berdaya, kau mendukungku

Aku gelisah, kau menenangkanku

Aku bodoh, kau menerimaku

Terima kasih……

Dan sekarang, sadarlah aku, kau tidak bersamaku,

Namun ketahuilah, kau masih dalam diriku

Terima kasih telah menjadi “segalanya” bagiku.

Source: Buku ‘Cinta yang terlambat’

Credits: Dr. Ikram Abidi, Pustaka Hidayah

 

3 thoughts on “Terima Kasih,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s