Menapaki Lantai Masjid Kubah Mas (Masjid Dian Al Mahri)

Akhirnya, saya bisa menapakkan kaki di lantai masjid Kubah Mas. Sejak terdengar gegap gempita pembangunan masjid ini, rasa ingin tahu sudah timbul di dalam diri saya. Kelak, saya pasti akan melihatnya dan merasakan bersujud di masjid yang terkenal megah ini.

Yang membuat saya bersemangat hari ini, bukan hanya karena Masjid Kubah Mas, tapi karena saya mengunjunginya dengan orang-orang terkasih, Mama dan Mbah Putri. Dua sosok wanita terhebat dalam kehidupan saya. Saya sisakan kisah keduanya untuk diceritakan nanti dalam tulisan tersendiri.

 

 

Sesampainya di Masjid Kubah Mas (Masjid Dian Al-Mahri) Jarak yang harus kita tempuh dari gerbang utama menuju Masjid itu sendiri terbilang cukup jauh. Terlebih lagi jika kita berjalan kaki.

Beruntung bagi saya, karena keluarga kami membawa kendaraan pribadi. Ketidakberuntungan saya adalah saltum alias salah kostum. Maklum saja, kunjungan ke Masjid Kubah Mas merupakan hasil spontanitas alias tidak terencana.

Saltum. Mas ke masjid pakai kostum bola T_T

Sebelum mencapai masjid Kubah Mas, ada baiknya mampir sejenak di sebuah gedung yang tampak seperti aula. Gedung ini merupakan tempat berisitirahat, makan, dan minum para pengunjung masjid Kubah mas. Mengingat di dalam masjid, pengunjung tidak diperbolehkan membawa makanan dan minuman.

Gedung ini sangat luas dengan pengamanan yang cukup terjaga. Sayangnya, banyak sekali sampah berserakan atau ‘bersembunyi’ di setiap pojokan.

 

Lanjut menuju Masjid Kubah Mas. Kami pun memasuki masjid melalui pintu khusus wanita. Harap diingat bahwa tempat masuk ke dalam masjid, terpisah untuk pria dan wanita. Ikuti saja petunjuk yang ada di masjid.

Sementara itu, alas kaki, makanan, dan minuman harus dititipkan di tempat penitipan. Jangan coba-coba untuk berpura-pura lupa menitipkannya, karena di pintu masuk ada beberapa wanita penjaga yang senantiasa mengingatkan dan mengecek pengunjung.

 

Lolos dari pemeriksaan, kami pun akhirnya menapaki lantai masjid Kubah Mas. Entah karena matahari begitu terik atau lantainya yang terbuat dari batu khusus penyerap panas, sehingga lantainya terasa begitu menyengat.

Bahkan mbah putri yang biasanya berjalan perlahan dan terkadang harus dituntun, dalam sekejap berlari terbirit-birit menuju dalam masjid. Aksi mbah saya ini membuat kami kalang kabut mengejar beliau karena khawatir dan was-was.

 

Ketika kami semua mengingatkan beliau, dengan santai dan singkat beliau membalas, “panas koh.” Sontak saja kami tertawa saat itu juga, yang langsung terhenti karena di “stttttt…” wanita penjaga masjid. Mbah, mbah, kau telah berhasil membuat kami spot jantung.

Berhubung tidak boleh berfoto di dalam masjid, maka saya memfotonya dari luar saja. Saya pun memaklumi peraturan ini. Demi menjaga kedamaian dan kekhusyuan beribadah. Bukankah itu hakikat dari rumah ibadah? Tidak terkecuali Masjid Kubah Mas ini.

Terbayang oleh saya jikalau tidak ada peraturan tersebut, akan penuhlah masjid dengan pengunjung yang sibuk ber-selfie or ber-wefie ria sebelum dan sesudah beribadah lengkap dengan balutan mukena.

Selesai sholat dan berdoa, kami sedikit mengabadikan momen kami di Masjid yang megah ini sekaligus mengagumi arsitekturnya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s